Anda di halaman 1dari 18

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

A. DEFINISI
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever
DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabakan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis
demam, nyeri otot dan/ atau nyeri sendi yang disertai leucopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang
ditandai dengan hemokosentrasi (peningkatan hematokrit) penumpukan cairan di rongga
tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah Dengue
yang ditandai oleh renjatan/syok.1
B. EPIDEMIOLOGI
Demam berdarah dengue di Indonesia pertama kali dicurigai terjangkit di Surabaya pada
tahun 1968, tetapi kepastian virologiknya baru diperoleh pada tahun 1970. Demam berdarah
dengue pada orang dewasa dilaporkan pertama kali oleh Swandana (1970) yang kemudian
secara drastis meningkat dan menyebar ke seluruh Dati I di Indonesia 2.
mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus

Faktor yang

Demam Berdarah Dengue sangat

kompleks, yaitu (1) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (2) Urbanisasi yang tidak terencana
dan tidak terkendali (3) Tidak ada kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis dan
(4) Peningkatan sarana transportasi.
Di Indonesia, karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola
terjadinya penyakit agak berbeda untuk setipa tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus
dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada
sekitar bulan April Mei setiap tahun2,3.
C. ETIOLOGI
1

Virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arbovirus) yang
sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, familio flavivisidae dan mempunyai 4 jenis
serotipe, yaitu : DEN 1 , DEN 2 , DEN 3, DEN 4 2,3. Keempat serotype di temukan di
Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara
serotype dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow fever, Japanese encehphalitis dan west
Nile virus.1
D. CARA PENULARAN
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue,
yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
nyamuk Aedes Aegypti. Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis dan beberapa spesies yang
lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan. Aedes
tersebut mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami
viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8 10
hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat di tularkan kembali pada manusia pada saat
gigitan berikutnya. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk
tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif)3.
Ditubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4 6 hari (intrinsic
incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk
dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari
sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul3.
E. PATOGENESIS
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama
mungkin memberi gejala sebagai demam dengue. Reaksi yang amat berbeda akan tampak
bila seseorang mendapat infeksi yang berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan.2,3
Hipotesis infeksi sekunder (the secamdary heterologous infection/ the sequential
infection hypothesis) menyatakan bahwa demam berdarah dengue dapat terjadi bila
2

seseorang setelah terinfeksi dengue pertama kali mendapat infeksi berulang dengue lainnya.
Re infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi amnestif antibodi yang akan terjadi dalam
beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limsofit dengan menghasilkan titik
tinggi antibodi Ig G antidengue.2,3
Disamping itu replikasi virus dengue terjadi juga dalam limsofit yang bertransformasi
dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan
terbentuknya virus kompleks antigen antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya
akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3
dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitis dinding pembuluh darah dan merembesnya
plasing dari ruang intravascular ke ruang ekstravascular2,3.
F. GAMBARAN KLINIS
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik, atau dapat berupa
demam yang tidak khas, demam dengue, demam berdarah dengue atau sindrom syok dengue
(SSD)
Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari, yang dilakukan oleh fase
kritis selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai
resiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan adekuat1.
Gejala Utama :
1. Demam
Demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung selama 2 7 hari, naik
turun (demam bifosik). Kadang kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 40 C dan dapat
terjadi kejan demam. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada demam berdarah dengue.
Pada saat fase demam sudah mulai menurun dan pasien seajan sembuh hati hati karena fase
tersebut sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari demam.
2. Tanda tanda perdarahan
Penyebab perdarahan pada pasien demam berdarah adalah vaskulopati, trombosipunio
gangguan fungsi trombosit serta koasulasi intravasculer yang menyeluruh. Jenis perdarahan
terbanyak adalah perdarahan bawah kulit seperti retekia, purpura, ekimosis dan perdarahan
3

conjuctiva. Retekia merupakan tanda perdarahan yang sering ditemukan. Muncul pada hari
pertama demam tetepai dapat pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam. Perdarahan lain yaitu,
epitaxis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis.
3. Hepatomegali
Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit bervariasi dari haya sekedar
diraba sampai 2 4 cm di bawah arcus costa kanan. Derajat hepatomegali tidak sejajar
dengan beratnya penyakit, namun nyeri tekan pada daerah tepi hepar berhubungan dengan
adanya perdarahan.
4. Syok
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang setelah demam
turun disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, akral teraba
dingin disertai dengan kongesti kulit. Perubahan ini memperlihatkan gejala gangguan
sirkulasi, sebagai akibat dari perembasan plasma yang dapat bersifat ringan atau sementara.
Pada kasus berat, keadaan umum pasien mendadak menjadi buruk setelah beberapa hari
demam pada saat atau beberapa saat setelah suhu turun, antara 3 7, terdapat tanda
kegagalan sirkulasi, kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki,
sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi gelisah, nadi cepat, lemah kecil sampai tidak teraba.
Pada saat akan terjadi syok pasien mengeluh nyeri perut3,4,5.
G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Darah
Pada demam berdarah dengue umum dijumpai trobositopenia (<100.000) dan
hemokonsentrasi uji tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan penting. Masa
pembekuan masih dalam batas normal, tetapi masa perdarahan biasanya memanjang. Pada
analisis

kuantitatif ditemukan masa perdarahan biasanya memanjang. Pada analisis

kuantitatif ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX, dan X. Pada pemeriksaan kimia darah
hipoproteinemia, hiponatremia, dan hipokloremia.
2. Urine : Ditemukan albuminuria ringan
3. Sumsum Tulang: Gangguan maturasi
4

4. Serologi
a. Uji serologi memakai serum ganda. Serum yang diambil pada masa akut dan masa
konvalegen menaikkan antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali termasuk dalam uji
ini pengikatan komplemen (PK), uji neutralisasi (NT) dan uji dengue blot.
b. Uji serologi memakai serum tunggal. Ada tidaknya atau titer tertentu antibodi
antidengue uji dengue yang mengukur antibodi antidengue tanpa memandang kelas
antibodinya uji Ig M antidengue yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas
IgM2,3,4.
H. DIAGNOSIS
Diagnosis demam berdarah ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis
menurut WHO tahun 1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris.
A. Kriteria Klinis
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2 7 hari.
2. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :
Uji tourniquet positif
Retekia, ekomosis, epitaksis, perdarahan gusi.
Hemetamesis dan atau melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.
B. Kriteria Laboratoris
1. Trombositopenia (100.000 sel/ mm3 atau kurang)
2. Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih (1)
Dua kriteria pertama ditambah trombositopemia dan hemokonsentrasi atau peningkatan
hematokrit cukup untuk menegakkan diagnosis klinis demam berdarah dengue3.
I. DERAJAT PENYAKIT INFEKSI VIRUS DENGUE
Derajat Penyakit (WHO, 1997)
Derajat I Demam disertai gejala tidak khas dan satu satunya manifestasi ialah uji tourniquet
positif.
Derajat II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
Derajat III Didapatkan kegagalan sirekulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan mulut, kulit
dingin atau lembab dan penderita tampak gelisah. Derajat IV Syok berat, nadi tidak teraba
dan tekanan darah tidak terukur3,6.
J. PENATALAKSANAAN
5

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi suportif.
Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat ditururnkan hingga kurang dari
1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam
penanganan kasus DBD. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu di pertahankan, maka
dibutuhkan

suplemen

cairan

melalui

intravena

untuk

mencegah

dehidrasi

dan

hemokonsentrasi secara bermakna.


Medikamentosa yang bersifat simptomatis :
Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es dikepala, ketiak,
inguinal.
Antipiretik sebaiknya dari asetaminofen, eukinin atau dipiron.
Antibiotik diberikan jika ada infeksi sekunder.
Cairan pengganti :
Larutan fisiologis NaCl
Larutan Isotonis ringer laktat
Ringer asetat Glukosa 5% 2,3,6

Protokol terbagi dalam 5 kategori:1,7


PROTOKOL 1 : Penanganan tersangka DBD dewasa tanpa syok
Penderita yang dicurigai DBD dilakukan pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit. Bila jumlah
trombosit antara 100.000-150.000 pasien dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol ke
poliklinik penyakit dalam dan dilakukan kontrol Hb, Ht, dan trombosit 24 jam berikutnya.
Bila Hb, Ht normal tetapi trombosit < 100.000 dianjurkan dirawat Hb, Ht meningkat dan
trombosit normal atau turun dianjurkan dirawat .

PROTOKOL 2 : Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat


Pasien tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan tanpa syok di ruang rawat diberikan
infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus berikut :

1500 + (20 x (BB dalam kg 20)

Contoh: volume untuk BB 55 kg : 1500 + (20 x (55-20) = 2200 ml Bila Hb, Ht meningkat
10-20% dan trombosit <100.000 jumlah cairan seperti rumus diatas tetapi kontrol Hb, Ht,
trombosit tiap 12 jam .

PROTOKOL 3 : Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht > 20% Pemberian cairan


kristaloid 6-7 ml/kgBB/jam, pasien dipantau tiap 3-4 jam setelah pemberian cairan. Bila
terjadi perbaikan yang ditandai Ht menurun, nadi normal, tekanan darah stabil, produksi
urine meningkat maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam dua jam
kemudian dipantau kembali bila keadaan stabil jumlah cairan dikurang menjadi 3
ml/kgBB/jam. Bila terapi cairan awal gagal kita tingkatkan cairan infus 10 ml/kgBB/jam, bila
dalam dua jam tidak ada perbaikan dinaikkan menjadi 15 ml/kgBB/jam dan bila gagal
penatalaksanaan sesuai protokol 5 .

PROTOKOL 4 : Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa Perdarahan


spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah: Perdarahan hidung/ epistaksis yang
tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung, hematemesis melena, hematuria,
perdarahan otak. Pada keadaan ini jumlah pemberian cairan seperti DBD tanpa syok lainnya.
Kontrol Hb, Ht, dan trombosit tiap 4-6 jam. Pemberian transfusi trombosit bila trombosit <
100.000 disertai atau tanpa Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID) Pemberian heparin
diberikan apabila ada tanda-tanda KID Transfusi PRC bila Hb kurang dari 10 gr/dl

Fibrinogen Plasma (FFP) diberikan bila defisiensi faktor-faktor pembekuan (PT dan aPTT
yang memanjang).

PROTOKOL 5: Tatalaksana Sindrom syok Dengue pada Dewasa Pada fase awal cairan
kristaloid diguyur sebanyak 10-20 ml/kgBB/jam dan dievaluasi setelah 15-30 menit, bila
renjatan teratasi jumlah cairan dikurangi 7 ml/kgBB/jam, bila dalam waktu 60-120 menit
keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 5 ml/kgBB/jam kemudian 60-120 menit
keadaan tetap stabil jumlah cairan 3 ml/kgBB/jam. Bila dalam 24-48 jam setelah renjatan
teratasi, tanda-tanda vital dan hematokrit tetap stabil serta diuresis cukup maka infus harus
dihentikan karena dapat menyebabkan edema paru. Bila renjatan belum teratasi jumlah cairan
dapat ditingkatkan 20-30 ml/kgBB/jam.

10

11

STATUS PASIEN

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: MNH

Umur

: 1 tahun 2 bulan

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Pattiro

Status

:-

Agama

: Islam

No. Reg

: 41 40 76

Tanggal MRS

: 29 September 2015

ANAMNESIS
Tipe Anamnesis
: Autoanamnesis
a. Keluhan utama
:
Muntah-muntah
b. Riwayat penyakit sekarang :
Seorang pasien anak laki-laki berumur 1 tahun 2 bulan masuk RSUD.Syekh Yusuf
Gowa dengan keluhan muntah-muntah sejak tadi pagi dengan frekuesi 7 kali,
muntah yang keluar susu, air dan lender. BAB encer sejak siang frekuensi 7 kali,
berak berampas dan berlendir, darah (-). Demam sejak siang, batuk (-), flu(-), dan
sesak(-).
12

Selera makan : kurang


Selera minum : baik
c. Riwayat Penyakit Dulu

Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya.


III.

PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Present
1. Keadaan umum
- Sakit Sedang
- Composmentis (GCS 15)
- Gizi Cukup
- Berat Badan
: 9 kg
- Tinggi badan
: 74 cm
- IMT
: Tidak diukur
2. Tanda Vital
- Tekanan Darah
: tidak diukur
- Nadi
: 96 x/menit
- Pernapasan
: 28 x/menit
- Suhu
: 37,7C
b. Status General
1. Kepala
- Bentuk kepala : Normocepali
- Rambut
: Hitam, tidak mudah tercabut
- Simetris
: Kiri-Kanan
- Deformitas
:2. Mata : Cekung (+)
3. Ubun-ubun : menutup (+)
4. Telinga
- Pendengaran : Dalam batas normal
- Nyeri tekan
: (-/-)
5. Hidung
- Bentuk
: Simetris
- Perdarahan
:6. Mulut
- Bibir
: Kering, tidak sianosis (-)
- Lidah kotor
:- Caries gigi
:7. Leher
- Inspeksi
: Simetris
- Palpasi
: Pembesaran KGB (-), Pembesaran tiroid (-)
- DVS
: 1
8. Kulit
- Hiperpigmentasi : 13

- Ikterik
- Petekhie
- Sianosis
- Pucat
9. Thorax
- Inspeksi
-

(-)
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

::+
::: Dada simetris kiri kanan (+), Iktus cordis tidak tampak
: Vocal fremitus sama kiri - kanan
: Sonor pada kedua lapangan paru
: Suara napas bronchovesikuler, tidak ditemukan ronkhi

(-/-) & wheezing (-/-)


10. Cor
- Inspeksi
: Iktus cordis tidak tampak
- Palpasi
: Iktus cordis tidak teraba
- Perkusi
: Batas kanan : ICS IV linea parasternalis kanan
Batas kiri : ICS V linea midclavicularis kiri
Batas atas : ICS II linea parasternalis kanan
- Auskultasi
: Bunyi jantung I dan II murni (+), murmur (-), Gallop (-)
11. Abdomen
- Inspeksi
: Simetris, datar, tidak ada benjolan
- Palpasi
: Nyeri tekan (-)

Perkusi
Auskultasi

: tymphani
: peristaltic (+) kesan normal

12. Punggung
- Tampak dalam batas normal
- Tidak terlihat kelainan bentuk tulang belakang
13. Genitalia
Dalam batas normal
14. Ekstremitas atas dan bawah
Dalam batas normal
IV.
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
RESUME
Nama
: MNH
Umur
: 1 tahun 2 bulan
Keluhan utama
: Muntah-Muntah
14

Anamnesis terpimpin
:
Seorang pasien anak laki-laki berumur 1 tahun 2 bulan masuk RSUD.Syekh Yusuf
Gowa dengan keluhan muntah-muntah sejak tadi pagi dengan frekuesi 7 kali,
muntah yang keluar susu, air dan lender. BAB encer sejak siang frekuensi 7 kali,
berak berampas dan berlendir, darah (-). Demam sejak siang, batuk (-), flu(-), dan
sesak(-).
Selera makan : kurang
Selera minum : baik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tampak sakit sedang,
kesadaran composmentis. Pemeriksaan tanda vital : Nadi : 96
Pernapasan : 28

kali/menit,

kali/menit, dan Suhu : 37,7C dan panjang badan 74 cm..

Pemeriksaan fisik yang bermakna yaitu mata cekung, dan ubun-ubun menutup..

FOLLOW UP

15

Tanggal
28/09/2015
N : 96x/menit
P : 28x/menit
S : 37,7C

Perjalanan Penyakit
Muntah-muntah 7 kali
Muntah yang keluar susu,air dan

29/09/2015
N : 106x/menit
P : 30x/menit
S : 35,8C
30/09/2015
N : 110x/menit
P : 30x/menit
S : 35,9C

lender
Berak encer di seratai ampas dan

lender dengan frekuensi 7 kali


Demam
Selera makan : kurang
Selera makan : kurang
BAB encer disertai ampas tadi
malam 4 kali dan subuh 1 kali

Selera makan : kurang


BAB encer diseratai ampas tadi
malam 1 kali dan tadi pagi 1 kali

Instruksi Dokter
IVFD RL 20 tpm
Zink tab 20 mg 1x1
L-Bio 2x1
Paracetamol syr 3x I cth

IVFD RL 20 tpm
Zink tab 20 mg 1x1
L-Bio 1x1
Paracetamol syr 3x I cth
IVFD RL 20 tpm
Zink tab 20 mg 1x1
L-Bio 2x1

berwarna kuning

KESIMPULAN
Seorang pasien anak laki-laki berumur 1 tahun 2 bulan masuk RSUD.Syekh Yusuf
Gowa dengan keluhan muntah-muntah sejak tadi pagi dengan frekuesi 7 kali,
muntah yang keluar susu, air dan lender. BAB encer sejak siang frekuensi 7 kali,
berak berampas dan berlendir, darah (-). Demam sejak siang, batuk (-), flu(-), dan
sesak(-).
Selera makan : kurang
Selera minum : baik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tampak sakit sedang,
kesadaran composmentis. Pemeriksaan tanda vital : Nadi : 96
16

kali/menit,

Pernapasan : 28

kali/menit, dan Suhu : 37,7C dan panjang badan 74 cm..

Pemeriksaan fisik yang bermakna yaitu mata cekung, dan ubun-ubun menutup..

DAFTAR PUSTAKA
1. Suhendro, Nainggolan L,. Demam Berdarah Dengue In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Simadibrata M, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid I, edisi VI. Pusat penerbit Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI, Jakarta: 2014.p.539-48. 2.
2. Hendrawanto. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM Jilid I Edisi Ketiga PERSATUAN
3.

AHLI PENYAKIT DALAM INDONESIA.1996 Hal 417 426.


Hadinegoro, Sri Rezeki H. Soegianto, Soegeng. Suroso, Thomas. Waryadi, Suharyono.
TATA LAKSANA DEMAM BERDARAH DENGUE DI INDONESIA. Depkes &
Kesejahteraan Sosial Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan
Hidup 2001. Hal 1 33.

17

4. Mansjoer, Arif. Triyanti, Kuspuji. Savitri, Rakhmi. Wardani, Wahyu Ika. Setiowulan,
Wiwiek. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Media Aesculapius FK UI Edisi ketiga
Jilid I. 1999. Hal 428 433.
5. Widodo, dr.SPA (K).www. Penyakit Menular info. DEPKES. 4 Januari 2002.
6. Janus, Centrin net.id/ binprog.www.plasa.com.2003.
7. Buku Panduan Pelayanan Medik Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Indonesia (PAPDI). Rani AA, Soegondo S,Nazir ZA, Wijaya IP, Nafrialdi, Mansjoer A.
editors: Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta: 2006.p.137.

18