Anda di halaman 1dari 27

Sumber :

http://desentralisasi-kesehatan.net/index.php?
option=com_content&view=article&id=985:01-april-2013-tugas-dokter-puskesmas-makinberat&catid=39:diskusi-2013
Apr 1, 2013 1:57 pm

"Billy N." <billy@mediator.web.id>;

http://www.pikiran-rakyat.com/node/229209
Tugas Dokter Puskesmas Makin Berat
Dokter di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) tugasnya diperluas dan makin berat. Mereka
tidak sebatas melayani pemeriksaan kesehatan warga, juga ditugaskan untuk mengubah perilaku
warga. Tugas sosial tersebut sebagai ikhtiar lebih menciptakan kesehatan masyarakat dari sisi
perilaku sehat sehari-hari.
Utusan Khusus Presiden RI bidang Millennium Development Goals (MDGs) Prof Dr Nila F
Moeloek mengatakan perluasan cakupan tugas dokter dan Puskesmas masuk Program Pencerah
Nusantara, difokuskan pada daerah prioritas yang memiliki karakter khusus di bidang kesehatan
warga dan kependudukan, misalnya warga hidup berpindah-pindah atau nomaden, minim
fasilitas penunjang kesehatan keluarga dan sejenisnya.
Menurut dia pemerintah melalui Departemen Kesehatan menunjuk tujuh puskesmas sebagai
percobaan dan percontohan pencerah nusantara, yaitu Puskesmas di Mentawai, Karawang
Barat, Pasaman Timur, Berau, Lindu, Ogotua, Pulau Ende. Sebagai contoh, tugas puskesmas
mengubah pola hidup warga yang nomaden di Berau menjadi hidup menetap. Saat pidato pada
milad ke-40 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Senin
(1/4/2013), dia menyatakan peran sosial dokter dan puskesmas sebagai tuntuntan peningkatan
kesehatan wara maupun problem sosial dan penyakit yang makin rumit.
Dia mengungkapkan, dari 240 juta penduduk Indonesia, sebanyak 26,73 persen usia anak-anak
yang bermasalah gizi kesehatan, 5,63 persen lansia memerlukan pelayanan kesehatan, 67,64

persen penduduk membutuhkan lapangan kerja, pencegahan HIV/AIDS dan penyakit nondegeneratif lain. Dengan terjadinya perluasan jangkauan kerja dokter dan puskesmas, menurut
Nila F Moeloek, maka visi pendidikan kedokteran bukan sebatas meluluskan dokter. Para
mahasiswa kedokteran harus dididik masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Calon dokter
juga diajarkan bagaimana menjadi dokter yang tidak sepenuhnya berorientasi kepentingan
kapitalisasi profesi, bagaimana kepedulian sosial menjadi sangat penting sejalan perubahan
tantangan dalam masyarakat sejalan dengan meningkatnya penduduk, jenis penyakit dan
problem sosial, misalnya, pengendalikan populasi penduduk, pendidikan warga, ekonomi warga.
Peran ini penting untuk perwujudan target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) 2015, yang
targetnya antara lain tingkat pendidikan tinggi, kemiskinan menurun, perempuan makin besar
perannya, baik dalam tugas memberantas kemiskinan maupun menciptakan kepemimpinan.

PDF PEMEKARAN : http://www.undp.or.id/pubs/docs/pemekaran_id.pdf

Oleh : Oden Mahyudin


Sumber : http://asromedika.blogspot.com/2011/07/skenario.html

Rabu, 27 Juli 2011


SKENARIO

SKENARIO
Setelah melakukan Rakorbang di Kecamatan Melati, dr. Indah mengadakan
pertemuan di Puskesmas Putih-putih yang dipimpinnya sejak 3 tahun terakhir ini.
Pertemuan di Puskesmas ini dikhususkan utnuk membahas keluhan camat pimpinan
wilayah kecamatan Melati tentang banyakknya warga yang terkena Demam
Berdarah Dengue, bahkan 2 hari yang lalu telah ada warga yang meninggal dunia di
RSUD karena DBD ini. Dr. Indah yang merasa telah melakukan tugas dengan baik,
tidak pernah absen, dan semua pasien yang dtang dilayani sendiri bersama 2
dokter lainnya di puskesmas putih-putih tersebut, sangat tidak menerima teguran
dari Camat Melati yang mengesankan dia tidak bekerja dengan baik sehingga DBD
bisa menjadi endemic di wilayah kerja Puskesmasnya.
Dr. Indah merasa telah menjaga nama baik fungsi Puskesmas Putih-putih,
mulai dari obat-obatan, alat-alat kesehatan, dan laboratorium canggih pun sudah
disiapkan. Dr. Indah pun telah mengajukan penambahan staf medis untuk
emmbantu melayani warganya yang semakin lama semakin banyak yang berobat di
Puskesmas Putih-putih tersebut.
Tidak pernah terpikirkan oleh dr. Indah sebagai penanggung jawab kesehatan
pada

wilayah

Puskesmasnya

tentnag

pentingnya

upaya

kesehatan

secara

keseluruhan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative) serta konsep pendidikan


kesehatan dalam mempercepat penurunan mortalitas dan morbiditas DBD di
Kecamatan Melati tersebut. Dr. Indah pun lupa bahwa dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku (behavior
causes) dan faktor si luar perilaku (non behavior causes). Dan dr. Indah pun lupa
bahwa dia diharapkan bukan hanya sebagai dokter pelayan kesehatan yang mampu
mengobati penyakit tapi juga sebagai Dokter Masa Depan 5 star doctor yang

harus memiliki keahlian sebagai Care Provider, Decision Maker, Communicator,


Community Leader, Manager.

I.
1.
2.

KLARIFIKASI ISTILAH
Rakorbang
: Rapat koordinasi pembangunan
Demam Berdarah Dengue
: Penyakit virus di daerah tropis dengan infeksi,
erupsi, demam, ditularkan oleh nyamuk Aedes, dan ditandai dengan nyeri hebat
pada kepala, mata, otot, dan sendi, sakit tenggorokan serta kadang-kadang disertai

erupsi kulit.
3.
Endemic
: Penyakit yang selalu ada di dalam komunitas tertentu.
4.
Promotif
: Promosi kesehatan
5.
Preventif
: Bersifat mencegah
6.
Kuratif
: Bersifat mengobati
7.
Rehabilitatif
: Tahap pemulihan dari kondisi sakit
8.
Mortalitas
: Angka kematian
9.
Morbiditas
: Angka Kesakitan
10. Five star doctor
: dokter bintang lima menurut kriteria WHO
II.
1.

IDENTIFIKASI MASALAH
dr. Indah dianggap tidak professional sebagai pimpinan puskesmas.

III.
1.
2.
3.
4.

ANALISIS MASALAH
Apa peran dan fungsi pimpinan puskesmas?
Apa peran dan fungsi dokter puskesmas?
Bagaimana standar pelayanan puskesmas?
Mengapa terjadi kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue? Bagaimana

5.
6.

mengatasinya?
Bagaimana siklus hidup nyamuk vektor DBD?
Bagaimana hubungan konsep pendidikan kesehatan dengan derajat kesehatan

7.

masyarakat?
Apa saja faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat?

IV.

HIPOTESIS
Derajat kesehatan masyarakat (tingginya angka kejadian DBD) dipengaruhi oleh
profesionalitas seluruh jajaran dan pimpinan puskesmas.

V.

SINTESIS
1. Puskesmas

Definisi
Puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat
pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang
kesehatan

serta

pusat

menyelenggarakan

pelayanan

kegiatannya

kesehatan

secara

tingkat

menyeluruh,

pertama

yang

terpadu,

dan

berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu


wilayah tertentu.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau
kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di datu
atau sebagian wilayah kecamatan.
Visi:
Tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya indonesia sehat 2010.
Misi:
-

Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.


Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah

kerjanya.
Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan

kesehatan yang diselenggarakan.


Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat
beserta lingkungannya.
Tujuan:
Mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang
bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas.
Fungsi:

a.
-

Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan


Berupaya menggrakkan lintas sector dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap
program pembangunan di wilayah kerjanya.

b.

Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa


mengabaikan penyembuhan dan pemulihan.
Pusat pemberdayaan masyarakat
Berupaya agar perorangan terutama pemuka

masyarakat,

keluarga,

dan

masyarakat:
Memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan

masyarakat untuk hidup sehat.


Berperan aktif dalam memperjuangkan

pembiayaan.
Ikut menetapkan, menyelenggarakan, dan memantau pelaksanaan program

c.

kepentingan

kesehatan

termasuk

kesehatan.
Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh,
terpadu, dan berkesinambungan.
Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan masyarakat
Upaya Kesehatan
Puskesmas bertangung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan
masyarakat. Ada 2 Upaya :

a.

Upaya kesehatan Wajib


Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmern nasional,regional dan global
serta mempunyai daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyrakat. Upaya ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di

b.

Indonesia, meliputi:
Upaya Promosi Kesehatan
Upaya Kesehatan Lingkungan
Upaya Kesehatan Ibu & Anak Serta Kb
Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit Menular
Upaya Pengobatan
Upaya Kesehatan Pengembangan
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan

kesehatan

yang

ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas.


-

Upaya kesehatan ini meliputi:


UpayaKesehatanSekolah
UpayaKesehatanOlahraga
UpayaKesehatanKesehatanMasyarakat
UpayaKesehatanKerja
UpayaKesehatanGigidanMulut
UpayaKesehatanJiwa

UpayaKesehatanMata
UpayaKesehatanusialanjut
UpayaPembinaanPengobatanTradisional
Asas Pengelolaan
Asas pertanggungjawaban wilayah
Artinya, puskesmas bertanggung jawab atas semua masalah kesehatan yang terjadi
di wilayah kerjanya.
Asas peran serta masyarakat
Artinya, puskesmas berupaya melibatkan masyarakat dalam menyelenggarakan

program kerjanya.
Asas keterpaduan
lintas program
lintas sektoral
Asas rujukan
rujukan medis
rujukan kesehatan masyarakat
-

Stuktur Organisasi Puskesmas


-

Kepala Puskesmas

Unit Tata Usaha

Unit Pelaksana Teknis Fungsional

Upaya Kesehatan Masyarakat


Upaya Kesehatan perorangan
-

Jaringan Pelayanan

Puskesmas pembantu
Puskesmas Keliling
Bidan di Desa/Komunitas

Fungsi Petugas Puskesmas


1. Petugas Medis :
a. Dokter Umum : Melakukan pelayanan medis di poli umum, puskel, pustu, posyandu.
b. Dokter Gigi :Melaksanakan pelayanan medis di poli gigi, puskel, pustu.

c. Dokter Spesialis
Khusus untuk puskesmas rawat inap bagus juga adakunjungan dokter spesialis
sebagai dokter konsultan, misalnya : dokter ahli anak, kandungan dan penyakit
dalam.
2. Petugas Para Medis :
a. Bidan : Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), pelaksana asuhan kebidanan.
b.

Perawat

Umum

Pendamping

tugas

dokter

umum,

pelaksana asuhan

keperawatan umum.
c. Perawat Gigi : Pendamping tugas dokter gigi, pelaksana asuhan keperawatan gigi.
d. Perawat Gizi: Pelayanan penimbangan dan pelacakan masalah gizi masyarakat.
e. Sanitarian : Pelayanan kesehatan lingkungan pemukiman dan institusi lainnya.
f. Sarjana Farmasi: Pelayanan kesehatan obat dan perlengkapan kesehatan.
g. Sarjana Kesehatan Masyarakat :Pelayanan administrasi, penyuluhan, pencegahan
dan pelacakan masalah kesehatan masyarakat.

3. Petugas Non Medis :


a.

Administrasi

:Pelayanan

administrasi pencatatan dan pelaporan kegiatan

puskesmas.
b. Petugas Dapur :Menyiapkan menu masakan dan makanan pasien puskesmas
perawatan.
c. Petugas Kebersihan: Melakukan kegiatan kebersihan ruangan dan lingkungan
puskesmas.
d. Petugas Keamanan: Menjaga keamanan pelayanan khususnya ruangan rawat
inap.

e. Sopir: Mengantar, membantu seluruh kegiatan pelayanan puskesmas keliling di


luar gedung puskesmas.

Peran Dan Fungsi Kepala Puskesmas


Kepala Puskesmas merupakan seorang dokter atau sarjana bidang Kesehatan.
Kepala Puskesmas mempunyai tugas memimpin, mengawasi, mengkoordinasikan
pelaksanaan pelayanan upaya kesehatan secara paripurna kepada masyarakat dalam
wi1ayah kerjanya.
Peranan Kepala Puskesmas
a.
Dokter Kepala Puskesmas sebagai Seorang Dokter.
b.
Dokter Kepala Puskesmas Sebagai Seorang Manajer
Organisasi Tatalaksana
Bimbingan Teknis dan Supervisi
Hubungan Kerja antar Instansi Tingkat Kecamatan
Dokter puskesmas sebagai penggerak pembangunan di wilayah kerjanya.
c.
Dokter kepala puskesmas sebagai tenaga ahli pendamping camat
Tugas Kepala Puskesmas:
a.

Membuat perencanaan puskesmas


Menganalisa kondisi, situasi dan kinerja puskesmas, apakah sudah baik, masih
kurang ataukah banyak yang belum beres, kemudian menentukan perencanaan
kegiatannya.

b.

Mengatur pelayanan puskesmas


Menata apa saja jenis kegiatan program pelayanan, siapa saja yang akan
menjalankannya bersama seluruh staf puskesmas

c.

Menggerakkan pegawai puskesmas


Mendorong segenap komponen pelayanan puskesmas untuk melaksanakan tugas
pokok sesuai fungsinya dalam pelayanan kepada masyarakat

d.

Mengevaluasi kinerja puskesmas


Menelaah hasil pencapaian program puskesmas secara terpadu dengan instansi
terkait, sebagai pedoman untuk menentukan perencanaan pelayanan puskesmas.

e.

Menggalang kerjasama pelayanan puskesmas

Menjalin kerjasama internal puskesmas dan eksternal puskesmas, antara staf,


pegawai, petugas, aparat, pejabat, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan yang
lainnya, khususnya diwilayah kerja puskesmas

Peranan Dokter di Puskesmas


Tugas Pokok
Mengusahakan agar fungsi Puskesmas dapat diselenggarakan dengan baik dan

dapat memberi manfaat kepada masyarakat di wilayah kerjanya.


Fungsi
Sebagai seorang dokter
Sebagai seorang manajer
Kegiatan Pokok
Melaksanakan Fungsi Manajerial
Melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita. Menerima rujukan dan
konsultasi.
Mengkoordinir pembinaan peran serta masyarakat melalui pendekatan PKMD
Kegiatan Lain: Menerima konsultasi dari semua kegiatan Puskesmas
Tabel 1 Kemampuan Manajerial Kepala Puskesmas

Lima tugas utama seorang manajer atau kepala puskesmas, untuk menjalankan
prinsip manajemen puskesmas berikut ini:
1.

Membuat perencanaan Puskesmas :menganalisa kondisi, situasi dan kinerja


puskesmas, apakah sudah baik, masih kurang ataukah banyak yang belum beres,
kemudian menentukan perencanaan kegiatannya.

2.

Mengatur pelayanan Puskesmas : menata apa saja jenis kegiatan program


pelayanan, siapa saja yang akan menjalankannya bersama seluruh staf puskesmas

3.

Menggerakkan pegawai Puskesmas : mendorong segenap komponen pelayanan


puskesmas untuk melaksanakan tugas pokok sesuai fungsinya dalam pelayanan
kepada masyarakat

4.

Mengevaluasi kinerja Puskesmas :menelaah hasil pencapaian program puskesmas


secara terpadu dengan instansi terkait, sebagai pedoman untuk menentukan
perencanaan pelayanan puskesmas.

5.

Menggalang kerjasasam pelayanan Puskesmas: menjalin kerjasama internal


puskesmas dan eksternal puskesmas, antara staf, pegawai, petugas, aparat,
pejabat, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan yang lainnya, khususnya
diwilayah kerja puskesmas
Five star doctor
WHO menerapkan batasan bahwa dokter masa depan wajib memenuhi criteria

sebagai berikut:
Care Provider
Dalam memberikan pelayanan medis, seorang dokter hendaknya:
Memperlakukan pasien secara holistic
Memandang individu sebagai bagian integral dari keluarga dan komunitas
Memberikan pelayanan yangbermutu, menyeluruh, berkelanjutan, dan manusiawi
Dilandasi hubungan jangka panjang dan saling percaya
b.
Decision Maker
Seorang dokter diharapkan memiliki:
Kemampuan memilih teknologi
Penerapan teknologi penunjang secara etik
Cost effectiveness
c.
Communicator
Seorang dokter dimanapun ia berada dan bertugas, hendaknya:
Mampu mempromosikan gaya hidup sehat
Mampu memberikan penjelasan dan edukasi yang efektif
Mampu memberdayakan individu dan kelompok untuk dapat tetap sehat
d.
Community leader
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang dokter hendaknya:
Dapat menempatkan diri sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat
Mampu menemukan kebutuhan kesehatan bersama individu serta masyarakat
Mampu melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat
e.
Manager
Dalam manajerial, seorang dokter hendaknya:
Mampu bekerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di luar dan di
a.

dalam lingkup pelayanan kesehatan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien


-

dan komunitas.
Mampu memanfaatkan data-data kesehatan secara tepat dan berhasil guna.
Standar layanan puskesmas
KONSEP DASAR: SE MENDAGRI NO. 100/756/OTODA
Pengertian Standar Pelayanan Minimal (SPM)
SPM adalah suatu standar dengan batas-batas tertentu untuk mengukur
kinerja penyelenggaraan kewajiban daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar
kepada

masyarakat

(benchmark)

yang

mencakup

jenis

pelayanan,

indikator

dan

nilai

2.
KLB DBD
a. Definisi KLB
KLB (Kejadian Luar Biasa) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia
untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Status
Kejadian

Luar

Biasa

diatur

oleh

Peraturan

Menteri

Kesehatan

RI

No.

949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau


meningkatnya

kejadian

kesakitan

atau

kematian

yang

bermakna

secara

epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.


Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
1.
2.

Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).

3.

Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan


dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).

4.

Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau
lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

b. Mengapa terjadi KLB DBD ?


KLB DBD dapat terjadi akibat ketidakseimbangan antara host, agen, dan
lingkungan. Faktor agen yaitu virus dengue dan nyamuk Ae.aetypti , dipengaruhi
faktor lingkungan yang padat, banyak tempat penampungan air yang terbuka, dan
faktor musim pancaroba yang menyebabkan vektor nyamuk dapat banyak
berkembang biak, serta faktor host yang kurang menjaga kebersihan lingkungan
dan pencegahan terhadap DBD serta imunitas yang rendah.
c.

Tempat perindukan nyamuk


Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi air bersih
yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk, biasanya tidak melebihi jarak
500 meter dari rumah. Tempat perindukan tersebut berupa:

a.

Tempat

perindukan

buatan

manusia,

seperti:

tempayan/gentong

tempat

penyimpanan air minum, bak mandi, jambangan/pot bunga, kaleng, botol, drum,
b.

ban mobil yang terdapat di halaman rumah atau di kebun yang berisi air hujan
Tempat perindukan alamiah seperti kelopak daun tanaman (keladi, pisang),
tempurung kelapa, tonggak bambu, dan lubang pohon yang berisi air hujan.
Selain itu, tempat istirahat Aedes Aegypti berupa semak-semak atau tanaman
rendah termasuk rerumputan yang terdapat di halaman/kebun/pekarangan rumah,
juga berupa benda-benda yang tergantung di dalam rumah seperti pakain, sarung,
dan lain-lain.

d.

Siklus kehidupan Nyamuk Aedes Aegypti


Nyamuk betina meletakkan telurnya diatas permukaan air dalam keadaan
menempel pada dinding tempat perindukannya seekor nyamuk betina dapat
meletakkan rata-rata sebanyak 100 butir telur tiap kali bertelur setelah kira-kira 2
hari telur menetas menjadi larva lalu mengadakan pengelupasan kulit sebanyak 4
kali tumbuh menjadi pupa akhirnya menjadi dewasa.
Telur kering dapat tahan 6 bulan.
Telur akan menjadi jentik setelah sekitar 2 hari
Pertumbuhan dari telur sampai menjadi dewasa memerlukan waktu kira-kira 9 hari.
Diantara telur nyamuk yang menetas, hanya nyamuk betina saja yang dapat
menjadi perantara pembawa

virus Dengue . Sedangkan umur nyamuk betina

tersebut 2-3 bulan.


Karena nyamuk yang menggigit orang yang darahnya mengandung virus dengue,
sepanjang nyamuk tersebut hidup akan tetap mengandung virus dengue dan setiap
saat dapat ditularkan kepada orang lain melalui gigitannya pula (menggigit pada
siang hari).
Apabila terdapat tetangga Anda yang menderita DBD dan lokasi rumahnya berada
tidak jauh dari rumah Anda, maka perlu diwaspadai akan keberadaan nyamuk
Aedes aegypti, hal ini karena kemampuan terbang nyamuk tersebut +40 m, dan
jangkauan terbang maksimal sejauh 100 m.
Nyamuk dewasa betina menghisap darah manusia pada siang hari yang dilakukan
baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Penghisapan darah dilakukan dari pagi
sampi petang dengan dua puncak waktu yaitu setelah matahari terbit (08.00-10.00)
dan sebelum matahari terbenam (15.00-17.00).
Walaupun nyamuk ini berumur pendek yaitu kira-kira sepuluh hari tetapi dapat
menularkan virus dengue yang masa inkubasinya antara 3-10 hari.

Siklus hidup penyebaran virus Dengue dapat terjadi melalui beberapa tahap, yaitu :
1. Nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi dengue menggigit manusia
2. Virus berkembang pada jaringan dekat titik inokulasi atau Lymph node
3. Virus keluar dari jaringan ini dan menyebar melalui darah untuk menginfeksi selsel darah putih
4. Virus keluar dari sel darah putih dan bersirkulasi di darah
5. Nyamuk lain menggigit dan tertular
6. Virus berkembang di perut nyamuk
7. Virus berkembang di kelenjar ludah
8. Sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel yang terinfeksi
Perilaku Nyamuk Aedes Aegypti
Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes Aegypti secara efektif diperlukan
pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut yaitu perilaku mencari darah,
istirahat dan berkembang biak, sehingga diharapkan akan dicapai Pemberantasan
Sarang Nyamuk dan jentik Nyamuk Aedes Aegypti yang tepat.
A. Perilaku mencari darah
1.

Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur

2.

Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 3 hari sekali

3.

Menghisap darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00
12.00 dan jam 15.00 17.00

4.

Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigigt lebih
dari satu orang

5.

Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter

6.

Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan.

B. Perilaku istirahat

Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2 3 hari
untuk mematangkan telur.
Tempat istirahat yang disukai :
1.

Tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur, WC

2.

Di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai


3.

Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah

C. Perilaku berkembang biak


Nyamuk Aedes Aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air
bersih seperti :
1.

Tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari : bak mandi, WC, tempayan,
drum air, bak menara (Tower air) yang tidak tertutup, sumur gali

2.

Wadah yang berisi air bersih atau air hujan : tempat minum burung, vas bunga,
pot bunga, ban bekas, potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol,
tempat pembuangan air di kulkas dan barang bekas lainnya yang dapat
menampung air meskipun dalam volume kecil.

Telur diletakkan menempel pada dinding penampungan air, sedikit di atas


permukaan air.
Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur
dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir.
Telur ini di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan .
Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam air.
Jentik nyamuk setelah 6 8 hari akan tumbuh menjadi pupa nyamuk.
Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak didalam air, tetapi tidak makan dan setelah
1 2 hari akan memunculkan nyamuk Aedes Aegypti yang baru.

e. Bagaimana cara mengatasi DBD?


Kuratif
Promotif dan preventif
Pengendalian spesies nyamuk ini dilakukan dengan berbagai cara:
a.
Perlindungan perseorangan untuk mencegah terjadinya gigitan

Aedes aegypti

yaitu dengan memasang kawat kasa di lubang-lubang angin di atas jendela atau
pintu, tidur dengan kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insektisida dan
b.

penggunaan repellent pada saat berkebun


Pembuangan atau penguburan benda-benda di pekarangan atau di kebun yang
dapat menampung air hujan seperti kaleng, botol, ban mobil, dan tempat-tempat

c.

lain yang menjadi tempat perindukan Ae.aegypti (man made breeding places)
Mengganti air atau membersihkan tempat-tempat air secara teratur tiap minggu

d.

sekali, pot bunga, tempayan dan bak mandi


Pemberian abate ke dalam tempat penampungan air/penyimpanan air bersih

e.

(abatisasi)
Melakukan fogging dengan malathion setidak-tidaknya 2 kali dengan jarak waktu

f.

10 hari di daerah yang terkena wabah di daerah endemi DHF


Pendidikan kesehatan masyarakat melalui ceramah agar rakyat dapat memelihara
kebersihan lingkungan dan turut secara perseorangan memusnahkan tempattempat perlindungan Ae.aaegypti di sekitar rumah.
Sehingga dari itu cara yang untuk menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti
adalah melalui cara yang telah dikenal oleh masyarakat yakni melalui 3 M, yakni :
1. Menutup TPA
2. Menguras TPA seminggu sekali dan terus menerus
3. Mengubur barang-barang bekas yang menjadi TPA
Akhir-akhir ini pencegahan dan pemberantasan DBD tidak hanya dapat ditempuh
melalui 3M, cara terefektif adalah melalui PSJN (Pemberantasan Sarang Jentik dan
Nyamuk). PSJN merupakan cara paling mujarab untuk menekan angka kasus DBD.
Selain karena tempat jentiknya yang jelas, yakni di Tempat Penampungan Air (TPA),

juga karena jentik merupakan awal fase hidup nyamuk. Dan upaya dalam
menerapkan PSJN ini ditempuh dengan beberapa cara diantaranya adalah melalui :
1. Pemberdayaan masyarakat dengan pembinaan ratusan Kader Wamantik
(Siswa Pemantau Jentik) dan Bumantik (Ibu Pemantau Jentik), yang bertugas
memantau 10 rumah di sekitarnya menyangkut keberadaan jentik di rumah
mereka. Tidak lupa juga memberikan penyuluhan
2. Ikanisasi
3. Abatesasi (temephos)
4. Fogging, dengan syarat dan persetujuan dari Rumah Sakit sekitar
Umumnya kebanyakan orang terparadigma dengan pemberantasan DBD melalui
fogging atau penyemprotan. Ketika dilakukan fogging, nyamuk dewasa akan mati
bila terkena asap fogging tersebut tetapi telur, larva atau jentik yang ada di dalam
air tidak mati. Sehingga kalau suatu ketika dilakukan fogging maka nyamuk bisa
jadi akan mati semua ( dengan syarat fogging dilakukan dengan benar) tetapi
selang 1 10 hari kemudian akan muncul nyamuk Aides aegyti yang baru dari hasil
menetasnya telur-telur tadi.
Dari

penjelasan

di

atas

mestinya

sudah

bisa

diambil

penanggulangan demam berdarah dengan cara fogging

kesimpulan

bahwa

memang tidak effektif

apabila tidak diikuti dengan Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) atau dengan
ABATISASI. Selain tidak begitu effektif penanggulangan dengan cara ini juga
membutuhkan biaya yang mahal. Oleh karenanya fogging tidak perlu dilakukan
kalau memang tidak sangat mendesak.
Berdasarkan alasan inilah Dinas Kesehatan memberlakukan persyaratan khusus
untuk wilayah yang akan dilakukan fogging.

Persyaratan tersebut antara lain;

sebelum dilakukan fogging masyarakat sekitar harus dilakukan penyuluhan dan


Penyelidikan Epidemologi (PE). Penyelidikan epidemilogi adalah kegiatan pencarian
penderita DBD atau tersangka DBD lainya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular
DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/ bangunan sekitarnya. Termasuk
tempat-tempat umum di dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter. Tindaklanjut

hasil PE tersebut bila ditemukan penderita DBD lainya ( 1 atau lebih) atau
ditemukan 3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (>5%) dari rumah/
bangunan yang diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN
DBD, Larvasidasi, Penyuluhan dan pengasapan (Fogging) dengan insektisida di
rumah penderita DBD dan rumah/ bangunan sekitar dengan radius 200 meter, 2
siklus dengan interval 1 minggu. Apabila tidak ditemukan jentik maka yang
dilakukan hanya PSN DBD, Larvasidasi dan penyuluhan.
Pemahaman ini harus tertanam di masyarakat, sehingga tidak salah langkah dalam
melakukan tindakan menanggulangi penyakit yang sudah banyak memakan korban
ini. Satu hal yang perlu ditekankan berulang kali adalah mencegah lebih baik dari
pada mengobati, cara mencegah yang benar adalah gaya hidup bersih dan sehat
dengan PSN teratur di rumah masing-masing. Cara inilah yang paling effektif
menanggulangi DBD bukan dengan melakukan Fogging.
f.

Apakah alat fogging ada?


Jika alat fogging di Puskesmas tidak ada maka untuk pemberantasan nyamuk pun
tidak bisa walaupun peralatan lain yang ada di Puskesmas sudah canggih, sehingga
perlu diusulkan untuk menyediakan alat fogging apalagi daerah itu adalah daerah
endemik DBD.
3.

Hubungan konsep pendidikan kesehatan dengan derajat kesehatan


masyarakat
a.

Definisi Pendidikan

Pendidikan

secara

umum

adalah

segala

upaya

yang

direncanakan

untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga


mereka melakukan apa yang diharapkan pelaku pendidikan.
Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan:
a.

input adalah sasaran pendidikan ( individu, kelompok, masyarakat), dan pendidik


(pelaku pendidkan)

b.

proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain)

c.

output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).

b.

Definisi Pendidikan Kesehatan

pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan di dalam bidang


kesehatan. Hasil atau output yang diharapkan dari suatu pendidikan kesehatan
disini adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan yang kondusif.
Perubahan perilaku yang belum kondusif ke perilaku kondusif mengandung hal-hal
berikut ini:
1.

perubahan perilaku
Perubahan perilaku-perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai
kesehatan menjadi perilaku yang sesuai dengan perilaku kesehatan, atau dari
perilaku negatif menjadi perilaku yang positif.

2.

pembinaan perilaku
Pembinaan disini terutama ditujukan kepada perilaku masyarakat yang sudah sehat
agar dipertahankan, artinya masyarakat yang sudah mempunyai perilaku hidup
sehat (healthy life style) tetap dilanjutkan atau dipertahankan.

3.

pengembangan perilaku
Pengembangan perilaku sehat ini terutama ditujukan untuk membiasakan hidup
sehat bagi anak-anak. Perilaku sehat pada anak seyogyanya dimulai sedini
mungkin, karena kebiasaan perawatan terhadap anak termasuk kesehatan yang
diberikan oleh orang tua akan langsung berpengaruh kepada perilaku sehat anak
selanjutnya.
Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa :

1.

Secara konsep, pendidikan kesehatan adalah upaya yang mempengaruhi, dan atau
mengajak orang lain, baik individu, kelompok masyarakat, agar melaksanakan
perilaku hidup sehat.

2.

Secara

operasional,

pendidikan

kesehatan

adalah

semua

kegiatan

untuk

memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek masyarakat


dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.

Sesuai dengan tiga faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut diatas


(Green 1980), maka seyogyanya kegiatan pendidikan kesehatan juga ditujukan
kepada tiga faktor berikut:
a.

pendidikan kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi dalam hal ini pendidikan


kesehatan

ditujukan

untuk

mengubah

kesadaran

dari

memberikan

atau

meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan kesehatan baik bagi


dirinya sendiri,keluarganya, maupun masyarakatnya. Di samping itu dalam konteks
ini pendidkan kesehatan juga memberikan pengertian-pengertian tentang tradisi,
kepercayaan masyarakat dan sebagainya, baik yang merugikan maupun yang
menguntungkan

kesehatan.

Bentuk

pendidikan

ini

antara

lain:

penyuluhan

kesehatan, pameran kesehatan, iklan-iklan layanan kesehatan, spanduk, billboard,


dsb.
b.

Pendidikan kesehatan dalam faktor-faktor enabling


Karena faktor-faktor pemungkin (enabling) ini berupa fasilitas atau sarana dan
prasarana

kesehatan,

maka

bentuk

pendidikan

kesehatannya

adalah

memberdayakan masyarakat agar mereka mampu mengadakan sarana dan


prasarana kesehatan bagi mereka. Hal ini bukan berarti memberikan sarana dan
prasarana kesehatan dengan cuma-cuma, tetapi memberikan kemampuan dengan
cara bantuan tekhnik (pelatihan dan bimbingan), memberikan arahan, dan caracara mencari dana untuk pengadaan sarana dan prasarana. Pemberian fasilitas ini
dimungkinkan hanya sebagai percontohan (pilot project). Prinsip pendidikan
kesehatan dalam kondisi seperti ini adalah give a man to fish, but not give man a
fish (memberikan pancingnya untuk memperoleh ikan, bukan memberikan
ikannya).

Bentuk

pendidikan

yang

sesuai

dengan

prinsip

ini

antara

lain:

pengembangan dan pengorganisasian masyarakat (PPM), upaya peningkatan


pendapatan keluarga (income generating), bimbingan koperasi dan sebagainya
yang memungkinkan tersedianya polindes, pos obat desa, dana sehat, dsb
c.

pendidikan kesehatan dalam faktor reinforcing karena faktor ini menyangkut


sikap dan perilaku tokoh masyarakat dan tokoh agama serta petugas termasuk
petugas kesehatan maka pendidikan kesehatan yang paling tepat adalah dalam
bentuk pelatihan-pelatihan bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, dan petugas
kesehatan sendiri. Tujuan utama pelatihan ini adalah agar sikap dan perilaku dapat

menjadi teladan, contoh, acuan bagi masyarakat tentang hidup sehat (berperilaku
hidup sehat). Di samping itu upaya-upaya agar pemerintah, baik pusat maupun
daerah (propinsi,kabupaten, kecamatan, kelurahan) mengeluarkan undang-undang
atau peraturan yang dapat menunjang perilaku hidup sehat bagi masyarakat.
d. Upaya Kesehatan Pendidikan
Dari pengalaman bertahun-tahun pelaksanaan pendidikan ini, baik dinegara
maju maupun negara berkembang mengalami berbagai hambatan dalam rangka
pencapaian

tujuannya,

masyarakatnya.

yakni

Hambatan

mewujudkan

yang

paling

perilaku

besar

hidup

dirasakan

sehat
adalah

bagi
faktor

pendukungnya (enabling faktor). Dari penelitian-penelitian yang ada terungkap,


meskipun kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan,
namun praktek (practice) tentang kesehatan atau perilaku hidup sehat masyarakat
masih rendah. Setelah dilakukan pengkajian oleh Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), terutama dinegara-negara berkembang, ternyata faktor pendukung atau
sarana-prasarana tidak mendukung masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.
Misalnya : meskipun kesadaran dan pengetahuan orang atau masyarakat tentang
kesehatan (misalnya : sanitasi lingkungan, gizi, imunisasi, pelayanan kesehatan dan
sebagainya) sudah tinggi, tetapi apabila tidak didukung oleh fasilitas yaitu
tersedianya jamban sehat, air bersih, makanan yang bergizi, fasilitas imunisasi,
pelayanan kesehatan dan sebagainya, maka mereka sulit untuk mewujudkan
perilaku tersebut.
Agar maksud dan tujuan dari pendidikan kesehatan dapat tercapai maka
pendidikan kesehatan harus mencakup upaya perubahan perilaku individu dan
masyarakat serta perubahan perilaku lingkungan (fisik dan sosial budaya, politik,
ekonomi dan sebagainya ) sebagai penunjang atau pendukung perubahan perilaku
tersebut.
Sebagai perwujudan dari perubahan konsep pendidikan kesehatan secara
oganisasi struktural, maka pada tahun 1984, Divisi promosi dan pendidikan
kesehatan (Division on Health Promotion and Education). Sekitar 16 tahun
kemudian,

yakni

awal

tahun

2000

Departemen

Kesehatan

RI

baru

dapat

menyesuaikan konsep WHO ini dengan mengubah Pusat Penyuluhan Kesehatan


Mayarakat (PKM) menjadi direktorat Promosi kesehatan, dan sekarang berubah

menjadi Pusat Promosi Kesehatan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa promosi

kesehatan merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan pada masa lalu. Promosi


kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai
upaya-upaya memfasilitasi perubahan perilaku.
Oleh karena itu, perilaku (50% memepengaruhi status kesehatan seseorang)
seseorang atau masyarakat tentang

kesehatan, salah satunya ditentukan oleh

pengetahuan dan sikap dari seseorang atau masyarakat yang bersangkutan.


Dengan pendidikan kesehatan, diharapkan adanya peningkatan pengetahuan
masyarakat sehingga akan merubah prilaku mereka untuk hidup sehat.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat
J.E. PARK:
1. Keadaan biologis manusia itu sendiri
2. L ingkungan
3. Pandangan Hidup
4. Status Ekonomi
5. Pelayanan Kesehatan
Keadaan biologis
Sangat ditentukan oleh kondisi genetik yang dihasilkan pada saat konsepsi
(bersatunya sifat genetik dari kedua orang tua). Kondisi genetik ini, secara
konservatif, tidak akan dapat dirubah lagi setelah periode konsepsi dilalui.
Lingkungan
1.

Lingkungan internal
Keseluruhan komponen, jaringan, organ dan sistem organ, dengan segala
kondisinya yang harmonis. Terdapat sistem tatanan yang mengatur secara dinamis

agar setiap keadaan menjadi seimbang secara fisiologis. Kondisi ini dikenal sebagai
keadaan keseimbangan fisiologis yang homeostatis.
2.

Lingkungan external
Sekumpulan dan semua kondisi ekstemal yang melingkupi segala aspek
perkembangan dan kehidupan manusia. Tidak ada keraguan sedikitpun yang
menyatakan bahwa lingkungan eksternal ini memainkan peran yang penting untuk
terjadinya keadaan sehat-sakit.
Pandangan Hidup
Kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan pengetahuan akan hidup sehat,
meliputi semua factor faktor perseorangan dapat yang mempengaruhi kondisi
kesehatan.
Setiap kondisi yang merusak keadaan ini, akan menimbulkan pengaruh terhadap
kesehatan individu.
Status Ekonomi
Status ekonomi merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam kesehatan
masyarakat. Negara-negara yang memiliki pendapatan per kapita yang rendah,
biasanya akan diikuti dengan tingginya angka kematian, khususnya kematian anak.
Terdapat korelasi yang erat antara pendapatan per kapita sebuah negara dengan
kalori per hari, dan angka kematian bayi . ini masih harus dibandingkan dengan
hasil diskusi para ahli kesehatan Amerika.
Pelayanan Kesehatan
Tindakan medis dan pelayanan kesehatan dapat mempengaruhi angka prevalensi
dan angka insidensi penyakit-penyakit tertentu.
Melalui pelayanan kesehatan pada seluruh lapisan individu dan masyarakat maka
proteksi dan promosi kesehatan dapat dijalankan.
Ladonde & H. Blum:
1.

Perilaku (50%)

2.

Lingkungan (20%)

3.

Genetik (20%)

4.

Pelayanan Kesehatan (10%)

Derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perilaku,


lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan. Diantara faktor faktor tersebut
pengaruh perilaku terhadap status kesehatan , baik kesehatan individu maupun
kelompok sangatlah besar. Salah satu usaha yang sangat penting di dalam upaya
merubah perilaku adalah dengan melakukan kegiatan pendidikan kesehatan atau
yang biasa dikenal dengan penyuluhan. Sejauh mana kegiatan tersebut bisa
merubah perilaku masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor lain yang
ikut berperan dan saling berkaitan dalam proses perubahan perilaku itu sendiri.
Bentuk Perilaku
Secara operasional perilaku dapat diartikan sebagai respon organisme terhadap
rangsangan tertentu dari luar subyek. Respon
ini berbentuk dua macam yaitu :
1.

Bentuk pasif atau covert behaviour adalah respon internal yang terjadi di dalam
diri manusia dan tidak secara langsung bisa dilihat orang lain, misalnya berpikir,
tanggapan, sikap atau pengetahuan. Misalnya seorang ibu yang tahu bahwa
membawa anak untuk diimunisasi dapat mencegah penyakit tertentu akan tetapi

2.

dia tidak membawa anaknya ke puskesmas atau posyandu.


Bentuk aktif atau overt behaviour , apabila perilaku ini jelas bisa dilihat. Misalnya
pada contoh di atas si ibu membawa anaknya ke posyandu atau puskesmas untuk
diimunisasi.
Faktor Penentu ( Determinan ) Perilaku
Perilaku kesehatan seperti halnya perilaku pada umumnya melibatkan banyak
faktor. Menurut Lawrence Green ( 1980 )

kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor
perilaku dan di luar perilaku. Selanjutnya
perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
1.

Faktor pembawa ( predisposing factor ) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap,

2.

kepercayaan, keyakinan, nilai nilai dan lain sebagainya


Faktor pendukung ( enabling factor ) yang terwujut dalam lingkungan fisik, sumber

3.

daya, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.


Faktor pendorong ( reinforcing factor ) yang terwujut di dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan maupun petugas lain , teman, tokoh yang semuanya bisa
menjadi kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Dari faktor faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau
masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan,
tradisi dari

orang yang bersangkutan.

Disamping itu ketersediaan

fasilitas

kesehatan dan perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat


terbentuknya perilaku.
Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya , dapat disebabkan karena
dia memang belum tahu manfaat imunisasi ( predisposing factor ),.atau karena
jarak posyandu dan puskesmas yang jauh dari rumahnya ( enabling factor ) sebab
lain bisa jadi karena tokoh masyarakat di wilayahnya tidak mau mengimunisasikan
anaknya ( reinforcing factor ). Model di atas dengan jelas menggambarkan bahwa
terjadinya perilaku secara umum tergantung faktor intern ( dari dalam individu )
dan faktor ekstern ( dari luar individu ) yang saling memperkuat . Maka sudah
selayaknya kalau kita ingin merubah perilaku kita harus memperhatikan faktor
faktor tersebut di atas.
Upaya Perubahan Perilaku Kesehatan
Hal yang penting di dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan
dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari
pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program
kesehatan lainnya. Perubahan yang dimaksud bukan hanya sekedar covert
behaviour tapi juga overt behaviour.

Di dalam program program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku


yang sesuai dengan norma norma kesehatan diperlukan usaha usaha yang
konkrit dan positip. Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa
dikelompokkan menjadi tiga bagian:
1.

Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan


Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga ia mau
melakukan perilaku yang diharapkan. Misalnya dengan peraturan peraturan /
undang undang yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan
perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena
perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya
perubahan di masyarakat untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah
pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba / penilaian selesai banyak
pagar yang kurang terawat.

2.

Pemberian informasi
Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan ,
cara menghindari penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan
masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran
masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai
pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama
tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.

3.

Diskusi partisipatif
Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana penyampaian
informasi kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini
berarti bahwa masyarakat bukan hanya penerima yang pasif tapi juga ikut aktif
berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang diterimanya. Cara ini
memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupun pertama akan
tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebih mantap dan
mendalam sehingga perilaku mereka juga akan lebih mantap.

Daftar pustaka

Djakaria, S. 2006. Vektor Penyakit Virus, Riketsia, Spiroketa, dan Bakteri. Dalam :
Gandalhusada, Srisasi,. Herry D. Ilahude,. Wita Pribadi. (Editor). Parasitologi
Kedokteran. Halaman 235-237. Gaya Baru, Jakarta, Indonesia.
Soedarto. 2004. Sinopsis Virologi Kedokteran. Surabaya : Airlangga University Press.
http://www.lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.11_supardi_01_09.pdf
http://surabaya-eHealth.org
http://www.kaskus.us/images/smilies/s_sm_maho.gif
http://www.surabaya-ehealth.org/dkksurabaya/berita/demam-berdarah-denguecara-mencegah-dan-menanggulanginya
http://puskesmaskarangrejo.blogspot.com/
hukum.jogjakota.go.id/upload/3%201999.doc
http://www.puskel.com/5-tanggung-jawab-utama-tugas-manajer-puskesmas/