Anda di halaman 1dari 3

BAB 5

PEMBAHASAN
5.1 Pengkajian Keperawatan
Data yang ada pada kasus tetapi tidak ada pada teori tidak di temukan pada kasus An.
C karena semua data mengacu pada teori. Pada An. C manifestasi klinis utama yang
ditemukan yaitu Ikterik pada mata dan seluruh tubuh.
Manifestasi ikterik adalah gamaran klinis paling nyata. Pertama kali terlihat pada sclera
kemudian terdapat pada seluruh tubuh. Atresia bilier terjadi karena proses inflamasi
berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan progresif pada duktus bilier ekstrahepatik
sehingga menyebabkan hambatan aliran empedu, dan tidak adanya atau kecilnya lumen pada
sebagian atau keseluruhan traktus bilier ekstrahepatik juga menyebabkan obstruksi aliran
empedu.
Obstruksi pada saluran empedu ekstrahepatik menyebabkan obstruksi aliran normal
empedu dari hati ke kantong empedu dan usus. Akhirnya terbentuk sumbatan dan
menyebabkan cairan empedu balik ke hati ini akan menyebabkan peradangan, edema,
degenerasi hati. Apabila asam empedu tertumpuk dapat merusak hati. Bahkan hati menjadi
fibrosis dan cirrhosis. Kemudian terjadi pembesaran hati yang menekan vena portal sehingga
mengalami hipertensi portal yang akan mengakibatkan gagal hati. Jika cairan empedu
tersebar ke dalam darah dan kulit, akan menyebabkan rasa gatal. Bilirubin yang tertahan
dalam hati juga akan dikeluarkan ke dalam aliran darah, yang dapat mewarnai kulit dan
bagian putih mata sehingga berwarna kuning. Degerasi secara gradual pada hati
menyebabkan joundice, ikterik dan hepatomegali.

5.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus An. C adalah:
1. Pola nafas tidak efektif b.d distensi abdomen
2. Hipertermi b.d proses inflamasi
3. Kelebihan volume cairan b.d peningakatan permeabilitas kapiler pembuluh darah
4. Resiko perdarahan b.d defisiensi vit K, trombositopeni
5. Disfungsi pergerakan gastrointestinal b.d distensi abdomen

6. Resiko gangguan integritas kulit b.d pruritus


7. Stress hospitalisasi b.d tindakan invasive
Penulis mengangkat prioritas masalah keperawatan berdasarkan masalah yang
mengancam kehidupan dan kebutuhan fisiologis berdasarkan hierarki Maslow. Risiko
perdarhan sendiri menjadi prioritas keempat karena merupakan masalah keperawatan risiko
dan perdarahan yang terjadi pada pasien tidak masif.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus Nn. A yang tidak terdapat di teori
adalah Hipertermii. Diagnosa keperawatan ini muncul karena kondisi pasien yang tidak stabil
dan pasca syok yang terjadi saat perjalanan ke rumah sakit.

BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
1. Saat pengkajian keperawatan pada An. C, penulis menemukan data-data yang pada
dasarnya sama dengan data yang diteori. Adapun data-data yang penulis temukan adalah
adanya sclera ikterik dan jaundice pada seluruh tubuh
2. Setelah dilakukan analisa data ditemukan 7 diagnosa keperawatan yaitu Pola nafas tidak
efektif b.d distensi abdomen, Hipertermi b.d proses inflamasi, Kelebihan volume cairan
b.d peningkatan permeabilitas kapiler pembuluh adarah, Resiko perdarahan b.d defisiensi
vitamin K; trombositopeni, Disfungsi pergerakan gastrointestinal b.d distensi abdomen,
Resiko gangguan integritas kulit b.d pruritus, stress hospitalisasi b.d tindakan invasif.
3. Rencana keperawatan yang dirancang terdiri atas observasi keadaan pasien, pemberian
tindakan keperawatan mandiri, pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga serta
kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian terapi.

4. Proses implementasi yang dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan pasien, adapun


implementasi yang sudah dilakukan meliputi observasi keadaan pasien, pemberian
tindakan keperawatan mandiri, pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga serta
kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian terapi yang tepat dapat
mengurangi masalah yang muncul.
5. Pada evaluasi tentang hasil asuhan keperawatan selama 6 hari, tidak ada diganosa
keperawatan yang belum berhasil teratasi.

6.2 Saran
1. Bagi perawat
Sebagai perawat harus memberikan pelayanan yang komprehensif kepada pasien dengan
diagnosa medis Atresia Bilier sesuai norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku, perawat
harus memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan benar, melakukan
pengkajian yang teliti pada pasien untuk menentukan ketepatan diagnosa, menentukan
prioritas masalah, perawat harusnya mendokumentasikan hasil tindakan pada status
pasien setelah selesai melakukan tindakan keperawatan.
2. Bagi penulis lainnya
Penulis lainnya diharapkan memperbarui literatur mengenai asuhan keperawatan pada
pasien dengan diagnosa medis Atresia Bilier sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan
keperawatan pada pasien