Anda di halaman 1dari 31

`

LAPORAN KASUS
NEURITIS OPTIK & PAPIL EDEMA

Oleh:
Muhammad Hamzah Asadullah
(201510401011024)

Pembimbing:
dr. Kartini Hidayati, Sp. M

SMF ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2016
BAB I

PENDAHULUAN

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Mata merupakan organ yang
mengandung reseptor penglihatan pada salah satu bagiannnya yang disebut retina. Retina
merupakan reseptor permukaan untuk informasi visual dan merupakan bagian mata yang
mengubah cahaya menjadi sinyal syaraf. Sebagaimana ditunjukan oleh asal embriologis umum,
retina dan jaras-jaras penglihatan anterior (nervus optikus, kiasma optikus dan traktus optikus)
merupakan bagian dari kesatuan otak yang utuh, yang menyediakan sebagian besar input
sensoris total.
Retina dan jaras-jaras penglihatan anterior sering memberi petunjuk diagnostik penting
untuk berbagai gangguan sistem saraf pusat. Penyakit intrakranial sering menyebabkan gangguan
penglihatan karena adanya kerusakan atau tekanan pada salah satu bagian dari jaras-jaras
optikus.
Jika satu ataupun semua serabut saraf mengalami peradangan dan tak berfungsi
sebagaimana mestinya maka penglihatan akan menjadi kabur. Jika terjadi inflamasi ataupun
demielinisasi nervus optikus, keadaan ini disebut dengan neuritis optikus.
Neuritis optik adalah peradangan atau demielinisasi saraf optikus akibat berbagai macam
penyakit. Neuritis optik diklasifikasikan menjadi dua yaitu papilitis dan neuritis retrobulbar.
Papilitis adalah pembengkakan diskus yang disebabkan oleh peradangan lokal di nervus saraf
optik intraokular dan dapat terlihat dengan pemeriksaan funduskopi. Pada neuritis optikus,
serabut saraf menjadi bengkak dan tak berfungsi sebagaimana mestinya. Penglihatan dapat saja
normal atau menjadi berkurang, tergantung pada jumlah saraf yang mengalami peradangan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan lapang pandang,
pemeriksaan oftalmoskop, pemeriksaan respon reflex pupil, CT scan, atau MRI mata. Diagnosa
yang tepat dan terapi yang sesuai sangat diperlukan untuk menyelamatkan fungsi penglihatan.

BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama
Pekerjaan
Agama

: Ny. M
-Umur
: 40 tahun
: Ibu Rumah Tangga
-Alamat
: Manduran
: Islam
-Tanggal pemeriksaan : 24 Februari 2016

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pandangan kabur
RPS: Pasien datang dengan keluhan pandangannya gelap pada mata kiri sejak 3 hari yang lalu
secara mendadak. Tidak disertai nyeri kepala, tidak didapatkan pusing.
RPD: pasien tidak pernah sakit mata sebelumnya, Riwayat HT dan DM disangkal, tidak pernah
memakai kacamata sebelumnya.
RPK: Riwayat sakit mata atau kacamata disangkal
RPSos : -

III.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

: cukup

Kesadaran: Komposmentis

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi: 84 kali/menit

Nafas: 20 kali/menit

Suhu: 36,6 Celcius

K/L : aicd -/-/-/Tho: sim, ret -/P: ves/ves, rh -/-, wh -/C: S1S2 tunggal, murmur -, gallop
Abd: flat, BU + N, supel, nyeri tekan -, H/L ttb, timpani
3

GCS: 456

Ext: akral HKM, aie -/-/Status Ophtamologi


Pemeriksaan

OD

OS

Visus

3/30

1/60

TIO

SEGMEN ANTERIOR
Posisi bola mata

Ortoforia

Pergerakan bola mata

OD Normal, OS Normal disertai rasa nyeri

Palpebra

Edema (-), hiperemi (-), benjolan (-),

Edema (-), hiperemi (-), benjolan (-),

(Superior & Inferior)

ptosis (-), entropion (-), ektropion (-),

ptosis (-), entropion (-), ektropion (-),

pseudoptosis

pseudoptosis (-), trikiasis (-),

(-),

trikiasis

(-),

xantelasma (-)

xantelasma (-)

Lebar rima okuli

Simetris

Silia

Normal

Konjungtiva

Perdarahan (-), injeksi konjungtiva

Perdarahan (-), injeksi konjungtiva

(-), injeksi siliar (-), sekret (-)

(-), injeksi siliar (-), sekret (-)

Jernih, edema (-), abrasi (-), sikatrik

Jernih, edema (-), abrasi (-), sikatrik

(-), ulkus (+), arkus senilis (-),

(-), ulkus (-), arkus senilis (-),

pericorneal vascular injeksi (-)

pericorneal vascular injeksi (-)

Kedalaman (N) , hifema (-), hipopion

Kedalaman (N), hifema (-), hipopion

(-), flare (-)

(-), flare (-)

Iris

Warna kecoklatan, kripte baik

Warna kecoklatan, kripte baik

Pupil

Bulat, diameter 3mm, tepi reguler

Bulat, diameter 3 mm, tepi reguler

Lensa

Jernih, dislokasi lensa (-), afakia (-), Jernih, dislokasi lensa (-), afakia (-),

Kornea

COA

pseudoafakia (-)
Segmen posterior

pseudoafakia (-)

OD dalam batas normal, OS terdapat Cup and disk rasio 0,9 dengan batas
4

tidak jelas, tampak sekitar kemerahan


Tes Fluoresensi

IV.

CLUE AND CUE


OS pandangan kabur dan gelap mendadak

V. PROBLEM LIST
OS pandangan kabur dan gelap secara mendadak
VI.

INITIAL DIAGNOSIS
OS Neuritis Optik
VII. PLANNING DIAGNOSIS
MRI KEPALA
VIII. PLANNING THERAPY
- Metyl Prednisolone 1 mg/kgbb selama 3 hari awal
- Matovit ax
IX.
PLANNING MONITORING
- Vital sign
- Visus
- Perbaikan dan perburukan keluhan pasien
- Efek samping obat

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Papilitis adalah inflamasi diskus optikus. Papilitis disebut juga neuritis optik, ditandai
dengan peradangan dan kerusakan di bagian saraf optik yang dikenal dengan diskus optikus yang
juga disebut dengan bintik buta. Diskus optikus adalah bagian dari saraf optik yang memasuki
mata dan bergabung dengan membran saraf yang kaya lapisan mata (retina). Dengan kata lain,
papilitis merupakan radang pada serabut retina saraf optik yang masuk pada papil saraf optik
yang yang berada dalam bola mata. 1, 2, 3
3.2 Epidemiologi
Neuritis opik dilaporkan memiliki insiden 1 5 kasus per 100.000/tahun, dengan
insidensi tertinggi pada populasi yang tinggal di dataran tinggi, seperti Amerika Serikat dan
Inggris, dan terendah pada daerah ekuator. Prevalensi di Amerika Serikat dan Inggris masing
masing adalah 46 per 100.000 dan 93 per 100.000.4
Pada predileksi umur dewasa muda 20-45 tahun, neuritis optikus biasanya bersifat
unilateral dan lebih banyak pada wanita (3:1). Sedangkan neuritis optik pada anak lebih jarang
terjadi, yaitu hanya kurang lebih 5% kasus, biasanya bersifat bilateral, timbul palpitis, dan
mempunyai kecenderungan menjadi sklerosis multipel lebih rendah. 5, 6
3.3 Anatomi dan Fisiologi
3.3.1 Retina
Anatomi
Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan yang
melapisi bagian dalam 2/3 posterior dinding bola mata. Retina membentang ke anterior hampir
6

sejauh korpus siliare dan berakhir pada ora serrata dengan tepi yang tidak rata. Ketebalan retina
kira-kira 0,1 mm pada ora serata dan 0,56 mm pada kutub posterior. Di tengah-tengah retina
posterior terdapat makula lutea yang berdiameter 5,5 sampai 6 mm, yang secara klinis
dinyatakan sebagai daerah yang dibatasi oleh cabang-cabang pembuluh darah retina temporal.

Gambar 1. Bola Mata


Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut :
1. Membran limitans interna, merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca
2. Lapisan serat saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. Di
dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina
3. Lapisan sel ganglion, merupakan lapisan badan sel dari neuron kedua
4. Lapisan pleksiformis dalam, merupakan lapisan aseluler tempat sinaps sel bipolar, sel
amakrin dengan sel ganglion
5. Lapisan inti dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal, dan sel Muller. Lapis ini
mendapat metabolisme dari arteri retina sentral
6. Lapisan pleksiformis luar, merupakan lapisan aseluler dan tempat sinaps sel fotoreseptor
dengan sel bipolar dan sel horizontal
7. Lapisan inti luar, merupakan susunan lapis inti sel batang dan sel kerucut
8. Membran limitans eksterna, merupakan membran ilusi
9. Lapisan sel kerucut dan sel batang (fotoreseptor), merupakan lapisan terluar retina,
terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut
10. Epitelium pigmen retina, merupakan lapisan kubik tunggal dari sel epithelial berpigmen.

Gambar 2. Lapisan Retina


Secara klinis, makula dapat didefinisikan sebagai daerah pigmentasi kekuningan yang
disebabkan oleh pigmen luteal atau xantofil. Definisi alternatif secara histologis adalah bagian
retina yang lapisan ganglionnya mempunyai lebih dari satu lapis sel. Di tengah makula sekitar
3,5 mm disebelah lateral diskus optikus, terdapat fovea yang secara klinis merupakan suatu
cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan oftalmoskop. Fovea merupakan
zona avaskuler di retina. Foveola adalah bagian paling tengah pada fovea, disini fotoreseptornya
adalah kerucut, dan bagian retina yang paling tipis.
Substrat metabolisme dan oksigen dikirim ke retina dicapai melalui 2 sistem vaskuler
terpisah, yaitu : sistem retina dan koroid. Metabolisme retina secara menyeluruh tergantung pada
sirkulasi koroid. Pembuluh darah retina dan koroid semuanya berasal dari arteri oftalmik yang
merupakan cabang dari arteri karotis interna.
Sirkulasi retina adalah sebuah sistem end-arteri tanpa anostomose. Arteri sentralis retina
keluar pada optic disk yang dibagi menjadi dua cabang besar. Arteri ini berbelok dan terbagi
menjadi arteriole di sepanjang sisi luar optic disk. Arteriol ini terdiri dari cabang yang banyak
pada retina perifer.
Sistem vena ditemukan banyak kesamaan dengan susunan arteriol. Vena retina sentralis
meninggalkan mata melalui nervus optikus yang mengalirkan darah vena ke sistem kavernosus.
8

Retina menerima darah dari dua sumber : khoriokapilaris yang berada tepat di luar membrana
Bruch, yang mendarahi sepertiga luar retina, termasuk lapisan fleksiformis luar dan lapisan inti
luar, fotoresptor, dan lapisan epitel pigmen retina; serta cabang-cabang dari sentralis retina, yang
mendarahi 2/3 sebelah dalam. Fovea sepenuhnya diperdarahi oleh khoriokapilaria dan mudah
terkena kerusakan yang tak dapat diperbaiki bila retina mengalami ablasi. Pembuluh darah retina
mempunyai lapisan endotel yang tidak berlubang, yang membentuk sawar darah-retina. Lapisan
endotel pembuluh koroid dapat ditembus. Sawar darah retina sebelah luar terletak setinggi
lapisan epitel pigmen retina.

Gambar 3. Normal fundus


Fisiologi
Retina adalah jaringan mata yang paling kompleks. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan
fotoreseptor mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi impuls saraf yang dihantarkan oleh
lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya ke korteks penglihatan. Makula
bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan
sebagian besar selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir 1:1 antara
fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang keluar, dan hal ini menjamin
penglihatan yang paling panjang. Di retina perifer, banyak fotoreseptor dihubungkan ke sel
ganglion yang sama, dan diperlukan system pemancar yang lebih kompleks. Akibat dari susunan
seperti itu adalah makula digunakan terutama untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan
fotopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang,
digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik).

Fotoreseptor kerucut dan batang terletak di lapisan terluar yang avaskuler pada retina
sensorik dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang mencetuskan proses
penglihatan. Setiap sel fotoreseptor kerucut mengandung rhodopsin, yang merupakan suatu
pigmen penglihatan fotosensitif. Rhodopsin merupakan suatu glikolipid membran yang separuh
terbenam di lempeng membrane lapis ganda pada segmen paling luar fotoreseptor. Penglihatan
skotopik diperantarai oleh fotoreseptor sel batang. Pada bentuk penglihatan adaptasi gelap ini,
terlihat bermacam-macam nuansa abu-abu, tetapi warna ini tidak dapat dibedakan. Penglihatan
siang hari terutama diperantarai oleh fotoreseptor kerucut, senjakala oleh kombinasi sel kerucut
dan batang, dan penglihatan malam oleh fotoreseptor batang.
3.3.2 Nervus Optikus
Nervus optikus bermula dari optik disk dan berlanjut sampai ke kiasma optikum, dimana
ke dua nervus tersebut menyatu. Lebih awal lagi merupakan kelanjutan dari lapisan neuron
retina, yang terdiri dari axon-axon dari sel ganglion. Serat ini juga mengandung serat aferen
untuk reflex pupil. Secara morfologi dan embriologi, neuritis optikus merupakan saraf sensorik.
Tidak seperti saraf perifer nervus optikus tidak dilapisi oleh neurilema sehingga tidak dapat
beregenerasi jika terpotong. Serat nervus optikus mengandung 1,0-1,2 juta serat saraf. 7

Gambar 4. Jaras Nervus Opticus


10

Bagian nervus optikus


Nervus optikus memiliki panjang sekitar 47-50 mm, dan dapat dibagi mejadi 4 bagian :

Intraocular (1 mm) : menembus sclera (lamina kribrosa), koroid dan masuk ke mata

sebagai papil disk.


Intraorbital (30 mm) : memanjang dari belakang mata sampai ke foramen optic. Lebih ke
posterior, dekat dengan foramen optic, dikelilingi oleh annulus zinn dan origo dari ke
empat otot rektus. Sebagian serat otot rektus superior berhubungan dengan selubung saraf
nervus optikus dan berhubungan dengan sensasi nyeri saat menggerakkan mata pada
neuritis retrobulbar. Secara anterior, nervus ini dipidahkan dari otot mata oleh lemak

orbital.
Intrakanalikular (6-9 mm) : sangat dekat dengan arteri oftalmika yang berjalan
inferolateral dan melintasi secara obliq, dan ketika memasuki mata dari sebelah medial.

Ini juga menjelaskan kaitan sinusitis dengan neuritis retrobulbar.


Intracranial (10 mm) : melintas di atas sinus kavernosus kemudian menyatu membentuk
kiasma optikum.7

Vaskularisasi nervus optikus

Permukaan optic disk didarahi oleh kapiler-kapiler dari arteri retina


Daerah prelaminar terutama di suplai dari sentripetal cabang cabang dari peripailari

koroid dan sebagian kontibusi dari pembuluh darah dari lamina cribrosa.
Lamina kribrosa disuplai dari cabang arteri siliaris posterior dan arteri circle of zinn
Bagian retrolaminar nervus optikus di suplai dari sentirfugal cabang-cabang arteri retina
sentral dan sentripetal cabang-cabang pleksus yang dibentuk dari arteri koroidal, circle of
zinn, arteri retina sentral, dan arteri oftalmika.

11

Gambar 5. Vaskularisasi nervus optikus


Lintasan nervus optikus
Nervus optikus memasuki ruang intrakranial melalui foramen optikum. Di depan
tuber sinerium (tangkai hipofisis) nervus optikus kiri dan kanan bergabung menjadi satu
berkas membentuk kiasma optikum. Di depan tuber sinerium nervus optikus kanan dan kiri
bergabung menjadi satu berkas membentuk kiasma optikum, dimana serabut bagian nasal
dari masing- masing mata akan bersilangan dan kemudian menyatu dengan serabut temporal
mata yang lain membentuk traktus optikus dan melanjutkan perjalanan untuk ke korpus
genikulatum lateral dan kolikulus superior. Kiasma optikum terletak di tengah anterior dari
sirkulus Willisi. Serabut saraf yang bersinaps di korpus genikulatum lateral merupakan jaras
visual sedangkan serabut saraf yang berakhir di kolikulus superior menghantarkan impuls
visual yang membangkitkan refleks opsomatik seperti refleks pupil.

12

Gambar 6. Perjalanan Serabut Saraf Nervus Optikus (tampak basal)


Setelah sampai di korpus genikulatum lateral, serabut saraf yang membawa
impuls penglihatan akan berlanjut melalui radiatio optika

(optic

radiation)

atau

traktus genikulokalkarina ke korteks penglihatan primer di girus kalkarina. Korteks


penglihatan primer tersebut mendapat vaskularisasi dari a. kalkarina yang merupakan
cabang

dari

a.

serebri posterior. Serabut yang berasal dari bagian medial korpus

genikulatum lateral membawa impuls lapang pandang bawah sedangkan serabut yang berasal
dari lateral membawa impuls dari lapang pandang atas (gambar 7).

Gambar 7. Radiatio Optica


P

ada refleks pupil, setelah serabut saraf berlanjut ke arah kolikulus superior, saraf

akan berakhir pada nukleus area pretektal. Neuron interkalasi yang berhubungan dengan
nukleus Eidinger-Westphal (parasimpatik) dari kedua sisi menyebabkan refleks cahaya
13

menjadi bersifat konsensual. Saraf eferen motorik berasal dari nukleus Eidinger-Westphal dan
menyertai nervus okulomotorius (N.III) ke dalam rongga orbita untuk mengkonstriksikan
otot sfingter pupil.

Gambar 8. Jaras Refleks Pupil

Lesi Jalur Penglihatan


Lesi Saraf Optik
Ditandai dengan hilangnya penglihatan atau kebutaan lengkap pada sisi yang terkena
dengan hilang nya refleks cahaya langsung pada sisi ipsilateral dan reflek tidak langsung pada
sisi kontralateral.7
Penyebab umum dari lesi saraf optik adalah: optik atrofi, trauma pada saraf optik,
neuropati optik, dan neuritis optikus akut.

14

Gambar 9. Defek Visual


Lesi melalui bagian proksimal saraf optik
Gambaran penting dari lesi tersebut yaitu hemianopsia ipsilateral dan kontralateral,
hilangnya refleks cahaya langsung pada sisi yang terkena dan reflek cahaya tidak langsung pada
sisi kontralateral.7
Lesi kiasma sentral
Dicirikan oleh hemianopsia bitemporal dan kelumpuhan refleks pupil. Biasanya diahului
oleh atrofi optik pada sebagian akhir nervus optikus. Penyebab umum lesi kiasma pusat adalah
suprasellar aneurisma, tumor kelenjar hipofise, kraniofaringioma, meningioma suprasellar,
glioma ventrikel ketiga, hidrosefalus akibat obstruktif ventrikel tiga, dan kiasma arachnoiditis
kronis.7
Lesi kiasma lateral
Gambaran menonjol pada lesi ini yaitu hemianopia binasal dengan kelumpuhan refleks
pupil. Penyebab umum dari lesi tersebut diantaranya penggelembungan dari ventrikel ketiga
yang menyebabkan tekanan pada setiap sisi kiasma dan ateroma dari carotis atau arteri
communican posterior.7
Lesi saluran optik
Ditandai dengan hemianopia homonim terkait dengan reaksi pupil kontralateral (Reaksi
Wernicke). Lesi ini biasanya diahului oleh atrofi optik pada sebagian akhir nervus optikus dan
mungkin berhubungan dengan kelumpuhan saraf ketiga kontralateral serta hemiplegik ipsilateral.
15

Penyebab umum lesi ini diantaranya lesi sifilis, tuberkulosis, dan aneurisma dari serebeli atas
atau arteri serebral posterior.7
Lesi badan genikulatam lateral
Lesi ini mengakibatkan hemianopia homonim dengan refleks pupil minimal, dan
mungkin berakhir dengan atrofi optik parsial.7
Lesi radiasi optik
Gambaran berbeda-beda tergantung pada lokasi lesi. Keterlibatan radiasi optik total
mengakibatkan hemianopsia homonim total. Hemianopia kuadrantik inferior (pie on the floor)
terjadi pada lesi lobus parietal (mengandung serat unggul radiasi optik). Hemianopia kuadrantik
superior (pie on the sky) dapat terjadi setelah lesi dari lobus temporal (mengandung serat radiasi
optik inferior). Biasanya lesi dari radiasi optik terjadi akibat oklusi pembuluh darah, tumor
primer dan sekunder, serta trauma.7
Lesi korteks visual
Kerusakan makula homonim pada lesi ujung korteks oksipital yang dapat terjadi sebagai
akibat cedera kepala atau cedera ditembak senapan. Refleks cahaya pupil normal dan atrofi optik
tidak diikuti lesi korteks visual.7
Lesi jalur visual
Kerusakan makula homonim pada lesi ujung korteks oksipital yang dapat terjadi sebagai
akibat cedera kepala atau cedera ditembak senapan. Refleks cahaya pupil normal dan atrofi optik
tidak diikuti lesi korteks visual.7

3.4 Etiologi 8
a. Demielinatif
- Idiopatik
- Sklerosis multiple
- Neuromielitis optika (penyakit Delvic)
b. Diperantarai imun
- Neuritis optik pascainfeksi virus (morbili, mumps, cacar air, influenza, mononukleosis
c.
-

infeksiosa)
Neuritis optik pascaimunisasi
Ensefalomielitis diseminata akut
Polineuropati idiopatik akut (sindrom Guillain-Barre)
Infeksi langsung
Herpes zoster, sifilis, tuberkulosis, crytococcosis, cytomegalovirus
16

d.
e.
f.

Herediter
Penyakit Leber
Penyakit peradangan sekitar
Peradangan intraocular
Penyakit orbita
Penyakit sinus, termasuk mukormikosis
Penyakit intracranial: meningitis, ensefalitis
Intoksikasi racun eksogen
- tobacco, etil alkohol, metil alkohol
g. penyakit metabolic
- diabetes, anemia, kehamilan, avitaminosis

Gbr 10. a). Demielinisasi; pembengkakan non spesifik tanpa perdarahan atau exsudat. b). Infektif
neuroretinitis; pembengkakan diskus disertai perdarahan dan eksudat macular (macular star). c).
Neuritis optik viral; pembengkakan keseluruhan diskus non spesifik. d). Neuritis optik sifilis;
pembengkakan kepala/pangkal nervus optikus, hiperemia dan perdarahan. e). Neuritis optik
terhubung HIV; pembengkakan kepala/pangkal nervus optikus masif, exudat yang luas dan
perdarahan. f). Neuritis optik toxocara; dengan infiltrat, pembengkakan dan distorsi masif pada
yang kepala/pangkal nervus optikus normal.

3.5 Patofisiologi
17

Dasar patologi penyebab neuritis optikus paling sering adalah inflamasi demielinisasi dari
saraf optik. Patologi yang terjadi sama dengan yang terjadi pada multipel sklerosis (MS) akut,
yaitu adanya plak di otak dengan perivascular cuffing, edema pada selubung saraf yang
bermielin, dan pemecahan mielin.
Inflamasi pada endotel pembuluh darah retina dapat mendahului demielinisasi dan
terkadang terlihat sebagai retinal vein sheathing. Kehilangan mielin dapat melebihi hilangnya
akson.
Dipercaya bahwa demielinisasi yang terjadi pada Neuritis optikus diperantarai oleh imun,
tetapi mekanisme spesifik dan antigen targetnya belum diketahui. Aktivasi sistemik sel T
diidentifikasi pada awal gejala dan mendahului perubahan yang terjadi didalam cairan
serebrospinal. Perubahan sistemik kembali menjadi normal mendahului perubahan sentral (dalam
2-4 minggu). Aktivasi sel T menyebabkan pelepasan sitokin dan agen-agen inflamasi yang lain.
Aktivasi sel B melawan protein dasar mielin tidak terlihat di darah perifer namun dapat terlihat
di cairan serebrospinal pasien dengan Neuritis optikus. Neuritis optikus juga berkaitan dengan
kerentanan genetik, sama seperti MS. Terdapat ekspresi tipe HLA tertentu diantara pasien
neuritis optikus. 9
3.6 Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala klinis:
Keluhan utama pada neutiris optikus adalah sama, baik pada papilitis, dimana saraf yang
terkena terletak intraokular, maupun pada neuritis retrobulbar yang mengenai saraf ekstra okular.
5

Gambaran akut
-

Gejala neuritis optik biasanya monokular, namun dapat mengenai kedua mata terutama

pada anak-anak.
Hilangnya penglihatan tiba-tiba selama beberapa jam sampai beberapa hari
Nyeri pada mata
Nyeri ringan di dalam atau sekitar mata terdapat pada lebih dari 90% pasien. Nyeri
tersebut dapat terjadi sebelum atau bersama-sama dengan hilangnya penglihatan dan
berlangsung selama beberapa hari. Rasa sakit akan bertambah bila bola mata ditekan dan
disertai sakit kepala. Pergerakan okular terutama gerakan ke atas dan ke bawah juga dapat
18

memperberat nyeri ini karena perlekatan sejumlah serat otot rektus superior dengan
duramater. 2
-

Defek pupil aferen (afferent pupillary defect)

Gambar 11. Defek pupil aferen


Selalu terjadi pada neuritis optik bila mata yang lain tidak ikut terlibat. Adanya defek
pupil aferen ini ditunjukkan dengan pemeriksaan swinging light test (Marcus-Gunn
pupil). Marcus-Gunn positif ialah apabila pada mata yang sehat diberi cahaya, maka
terjadi miosis pada kedua mata. Namun bila cahaya dipindahkan pada mata yang sakit,
maka kedua pupil akan melebar. 2
-

Defek lapang pandang


Pada neuritis optik, lapang penglihatan perifer menyempit secara konsentris, terdapat
skotoma sentral dengan bermacam tebal dan besarnya. Dapat pula berbentuk sekosentral
atau para sentral. 2

Buta warna pada mata yang terkena. 2


Papilitis dengan hiperemia dan edema diskus optik sehingga membuat batas diskus tidak

jelas.
Enam puluh persen pasien memiliki neuritis retrobulbar dengan pemeriksaan funduskopi

yang normal.
Perdarahan peripapil, sering menyertai papilitis karena neuropati optik iskemik anterior.
Tanda lain adanya inflamasi pada mata yang terdeteksi pada pemeriksaan funduskopi atau
slit lamp, yaitu: perivenous sheathing, periflebitis retina (risiko tinggi terkena MS),
uveitis, sel di bilik mata depan, atau pars planitis menandakan adanya infeksi atau
penyakit autoimun yang lain.

Gambaran Kronik
Walaupun telah terjadi penyembuhan secara klinis, tanda neuritis optik masih dapat
19

tersisa. Tanda kronik dari neuritis optik yaitu:


-

Kehilangan penglihatan secara persisten. Kebanyakan pasien neuritis optik mengalami

perbaikan penglihatan dalam 1 tahun. 2


Defek pupil aferen relatif tetap bertahan pada 25% pasien dua tahun setelah gejala awal. 2
Desaturasi warna, terutama warna merah. Pasien dengan desaturasi warna merah akan

melihat warna merah sebagai pink, atau orange bila melihat dengan mata yang terkena. 2
Fenomena Uhthoff yaitu terjadinya eksaserbasi temporer dari gangguan penglihatan yang
timbul dengan peningkatan suhu tubuh. Olahraga dan mandi dengan air panas merupakan

pencetus klasik. 2
Diskus optik terlihat mengecil dan pucat, terutama didaerah temporal. Pucatnya diskus
meluas sampai batas diskus ke serat retina peripapil. 2

3.7 Diagnosis
Anamnesis 8
1.
2.
3.
4.
5.

Penglihatan yang kabur (visus turun) mendadak


Adanya bintik buta
Perbedaan subjektif pada terangnya cahaya
Persepsi warna yang terganggu
Kekaburan penglihatan ketika beraktivitas dan meningkatnya suhu dan berkurang jika

beristirahat.
6. Rasa sakit pada mata yang mengganggu terutama ketika mata bergerak dan lebih sering
pada tipe neuritis retrobulbar daripada tipe papilitis.
7. Gejala berlangsung sementara pada salah satu mata (pada pasien dewasa). Sedangkan
pada pasien anak, biasanya mengenai kedua mata. Terdapat riwayat demam atau
imunisasi sebelumnya pada anak akan mendukung diagnosis.
Pemeriksaan Fisik 8
1. Pemeriksaan visus. Hilangnya visus dapat ringan (20/30), sedang (20/60), maupun berat
(20/70).
2. Pemeriksaan lapang pandang, biasanya berupa skotoma sentral atau sentrosekal. Namun
setelah 7 bulan, 51 % kasus memiliki lapangan pandang yang normal.
3. Refleks pupil. Defek aferen pupil terlihat dengan refleks cahaya langsung yang menurun
atau hilang.
4. Penglihatan warna berkurang.
5. Adaptasi gelap mungkin menurun.

20

Pemeriksaan penunjang 8
1. Funduskopi
- Pemeriksaan funduskopi pada papilitis terlihat gambaran hiperemia dan edema diskus
optik sehingga membuat batas diskus tidak jelas. Pada papil terlihat perdarahan,
eksudat star figure yang menyebar dari papil ke makula, dengan perubahan pada
pembuluh darah retina dan arteri menciut dengan vena yang melebar. Kadang-kadang
terlihat edema papil yang besar yang menyebar ke retina. Edema papil tidak melebihi 23 dioptri.

Gambar 12. Edema nervus optikus pada neuritis optikus


-

60% pasien dengan neuritis retrobulbar memiliki gambaran funduskopi yang normal.
Hal ini menyebabkan adanya suatu istilah The patient sees nothing and the doctor sees
nothing. Namun apabila prosesnya sangat destruktif, dapat berakhir sebagai optik

atrofi dan papil menjadi pucat, tak berbatas tegas, dan matanya buta.
Perdarahan peripapil, jarang pada neuritis optik tetapi sering menyertai papilitis karena

neuropati optik iskemik anterior.


Tanda lain adanya inflamasi pada mata yang terdeteksi pada pemeriksaan funduskopi

yaitu: perivenous sheathing.


2. MRI (magnetic resonance imaging)
MRI diperlukan untuk melihat nervus optikus dan korteks serebri. Hal ini dilakukan
terutama pada kasus-kasus yang diduga terdapat sklerosis multipel.
3. Pungsi lumbal dan pemeriksaan darah
Dilakukan untuk melihat adanya proses infeksi atau inflamasi.
4. Slit lamp
Adanya sel radang pada vitreous
5. Visually evoked response (VER) terganggu dan menunjukan penurunan amplitude dan
21

perlambatan waktu transmisi.

3.8 Diagnosis Banding


Diagnosis banding dari neuritis optik dapat berupa:
-

Iskemik optik neuropati


Edema papil
Ablasi retina
Oklusi arteri sentral
Obstruksi vena retina sentral
Toksik neuropati.

Diagnosis banding tersering adalah edem papil dan iskemik optik neuropati, dapat dibedakan
menjadi: (tabel 1)
Neuritis Optik
Gejala Visus

Papila edema

Iskemik

Optik

Neuropati
Visus sentral hilang Visus tidak hilang; Defek
cepat,

progresif; kegelapan transien

jarang

akut

lapangan pandang;
biasanya
altitudinal;
ketajaman
bervariasi-turun

Lain

akut
Bola mata pegal; Sakit kepala, mual, Biasanya
sakit
digerakkan;

Sakit
bilateral

bila muntah, tanda fokal arteritis


sakit neurologik lain.

nihil;
kranial

perlu disingkirkan.

alis atau orbita


bergerak Ada. Jarang pada Tidak ada. Selalu Tidak ada. Khas
orang

dewasa; bilateral

dengan unilateral

pada

sering pada anak- pengecualian yang stadium akut, mata


anak.

sangat jarang; dapat kedua


asimetri.
22

terlibat

subsequently

dengan

gambaran

sindrom

Foster

Kennedy
Penglihatan Warna
Ketajaman Visus

Biasanya menurun

Normal
Normal

Ketajaman
bervariasi;

hilang

hebat/NLP

(no

light

perception)

lazim
Sel

badan kaca Ada.

(vitreus)
Fundus

arteritis.
Tidak ada

Retrobulbar; Tidak ada

normal.
Papilitis;

derajat Derajat

Biasanya

pembengkakan disk pembengkakan disk disk


bervariasi.

Prognosis VIsus

Visus

pada

edema
segmental

bervariasi.,

pallid,

dengan

hemoragi.

sedikit

hemoragi

lidah api.
dengan Prognosis

biasanya Baik

kembali

normal menghilangkan

atau

tingkat kausa tekanan intra- mata kedua lama

fungsional.

kranial.

untuk

baik
kembali,

untuk

terlibat

dalam 1/3 kasus


idiopatik.
>55 kasus giant

Usia

cell arteritis 40-60


th nonarter.
Tabel 1. Diagnosis banding papilitis/neuritis optik, papiledema/edema papil dan iskemik optik neuropati 5

Ciri khas

Papilloedema

1.
Pemeriksaan
-Bening
Fundus
(i) Media
-Merah
(ii) Warna diskus

Papilitis

-Keruh pada posterior


vitreous .
-Hiperemia

23

Ischemic
Neuropathy
-Bening
-Pucat

Optic

-Kabur

-Kabur

-Kabur

-2-6 diopter

-Bengkak

-Ada

-Biasanya tidak lebih 3


diopter
-Ada

-Sangat jelas

-Kurang jelas

-Tidak ada

-Biasanya tidak ada

-Jelas

-kurang jelas

-Jelas

Pinggir diskus
Edema diskus
(iii)
Peripapillary

Edema

(iv)
engorgement

Venous -Jelas
-Sangat jelas

(v) Pedarahan
Retina

-Ada

-Macular star bisa -Macular Fan bisa ada


ada

-Tidak ada

-Membesar
-Blind spot

-Central Scotoma

-Central scotoma

-Vertical oval pool zat


kontras akibat
kebocoran

-kebocoran zat kontras


yang sedikit

-ada kebocoran
zat
kontras
peripapillary

(vi) Retinal exudates


(vii) Makula
2. Lapangan
3.
Angiography

Fluorescein

di

3.9 Penatalaksanaan
Pasien tanpa riwayat Multiple Sclerosis atau Neuritis optikus :
1. Dari hasil MRI bila terdapat minimum 1 lesi demielinasi tipikal :
Regimen selama 2 minggu :
a.

3 hari pertama diberikan Methylprednisolone 1mg/kg/hari i.v

b.

11 hari setelahnya dilanjutkan dengan Prednisolone 1mg/kg/hari oral


c.

Tappering off dengan cara 20 mg prednisone oral untuk hari pertama ( hari ke
15 sejak pemberian obat ) dan 10 mg prednisone oral pada hari ke 2 sampai ke
4

d. Dapat diberikan Ranitidine 150 mg oral untuk profilaksis gastritis

24

Menurut Neuritis optikus Treatment Trial (ONTT) pengobatan dengan steroid dapat
menurunkan progresivitas Multiple sclerosis selama 3 tahun. Terapi steroid hanya
mempercepatkan pemulihan visual tapi tidak meningkatkan hasil pemulihan pandangan
visual.
2. Dari hasil MRI bila 2 atau lebih lesi demielinasi :
a. Menggunakan regimen yang sama dengan yang di atas
b. Merujukan pasien ke spesialis neurologi untuk terapi interferon -1 selama 28
hari
c. Tidak menggunakan oral prednisolone sebagai terapi primer karena dapat
meningkatkan resiko rekuren atau kekambuhan

3. Dengan tidak ada lesi demielinasi dari hasil MRI :


a. Risiko terjadi MS rendah, kemungkinan terjadi sekitar 22% setelah 10 tahun
kemudian
b. Intravena steroid dapat digunakan untuk mempercepatkan pemulihan visual
c. Biasanya tidak dianjurkan untuk terapi kecuali muncul gangguan visual pada mata
kontralateral
d. MRI lagi dalam 1 tahun kemudian

Pasien dengan riwayat Multiple sclerosis atau Neuritis optikus :


1. Observasi
2. Memeriksa pasien pada minggu ke 4-6 setelah muncul gejala dan pemeriksaan ulang tiap
3-6 bulan kemudian
3. Pasien yang berisiko tinggi MS atau demielinisasi sistem saraf pusat dari hasil MRI
sebaiknya dirujuk ke spesialis neurologi untuk evaluasi dan terapi lanjutan.
3.10 Komplikasi
Penyulit pailitis yang dapat terjadi yaitu ikut meradangnya retina atau terjadinya neurorenitis.
Kehilangan penglihatan pada neuritis optik dapat terjadi permanen. Neuritis retrobulbar mungkin
terjadi walaupun merupakan suatu neuritis optik yang terjadi cukup jauh di belakang diskus
optikus.5
25

Neuritis optik yang disebabkan oleh sklerosis multipel memiliki ciri khas kekambuhan
dan remisi. Disabilitas yang menetap cenderung meningkat pada setiap kekambuhan.
Peningkatan suhu tubuh dapat memperparah disabilitas (fenomena Uhthoff) khususnya gangguan
penglihatan.10
3.11 Prognosis
Tanpa terapi, penglihatan mulai membaik setelah 2-3 minggu sejak timbulnya gejala,
kadang-kadang dapat membaik dalam beberapa hari. Perbaikan visus biasanya terjadi perlahan
hingga beberapa bulan. Visus yang jelek sewaktu episode akut biasanya akan menunjukkan hasil
perbaikan visus yang jelek.10
Menurut Optic Neuritis Treatment Trial (ONTT), 38% akan berkembang menjadi
multiple sclerosis dalam 10 tahun setelah episode pertama idiopathic demyelinative optic
neuritis, 22% pada pasien dengan hasil MRI otak yang normal dan 56% pada lesi matter putih.
Patient dengan neuritis optikus episode pertama dengan hasil MRI otak abnormal, interferon 1a telah terbukti dapat mengurangi risiko terjadiny multiple sclerosis sebanyak 25%.
Setiap kekambuhan akan menyebabkan pemulihan yang tidak sempurna dan
memperburuk penglihatan.

26

BAB IV
PEMBAHASAN

Ny.M, 40 tahun,datang ke Poli mata dengan keluhan mendadak pandangannya kabur


pada mata kiri sejak 3 hari yang lalu disertai pandangan agak gelap. Pasien pasien tidak
didapatkan pusing ataupun nyeri kepala. Pasien juga tidak mempunyai riwayat diabetes mellitus
dan hipertensi. Riwayat sakit mata sebelumnya ataupun penyakit lain tidak ada.
Dari pemeriksaan fisik terutama pada status oftalmologis OS didapatkan visus 1/60, pada
segmen posterior didapatkan CD ratio 0,9 dengan batas tidak jelas dan sekitar yang berwarna
kemerahan. Hasil dari pemeriksaan lapang pandang pasien masih dalam batas normal sesuai
pemeriksa. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah pada suatu diagnosis yaitu neuritis
optic.

27

Pandangan kabur pada mata kiri pasien kemungkinan terjadi akibat adanya gangguan
pada papil nervus II yang mengalami peradangan sehingga CD ratio pun juga mengalami
peningkatan. Neuritis optic ini masih bersifat idiopatik tetapi banyak kemungkinan lain yang
dapat menyebabkan neuritis optic.
Tujuan dari terapi ulkus kornea adalah untuk mempercepat pemulihan visual pada penderita
agar tidak berlanjut menjadi kronis, terapi ini tidak memperbaiki tetapi hanya mempercepat
pemulihan visual . Terapi medikamentosa pada pasien ini adalah metyl prednisolone 1 mg/kgbb
selama 3 hari secara IV. Dilanjutkan dengan peroral. Ditambah dengan matovit, diberikan secara
peroral
Pemberian metyl prednisolone berfungsi sebagai anti radang yang berfungsi untuk
mempercepat perbaikan visual dari papil N II. Sedangkan pemberian matovit adalah vitamin
sebagai nutrisi mata yang diharapkan dapat membantu metyl prednisolone dan mempercepat
pemulihan visual.
Yang harus dimonitor pada pasien adalah visus, segmen posterior, dan vital sign. Visus
untuk mengevaluasi apakah sudah terjadi perbaikan pada tajam pengelihatan yang diakibatkan
oleh gangguan papilitis, walaupun bersifat irreversible tetapi pemulihan dapat terjadi.
Prognosis pada pasien ini baik jika ditangani dengan cepat dan tepat.

28

BAB V
KESIMPULAN

Ny.M, 40 tahun,datang ke Poli mata dengan keluhan mendadak pandangannya kabur dan
gelap pada mata kiri sejak 3 hari yang lalu. Pasien pasien tidak didapatkan pusing ataupun nyeri
kepala. Pasien juga tidak mempunyai riwayat diabetes mellitus dan hipertensi. Riwayat sakit
mata sebelumnya ataupun penyakit lain tidak ada.
Dari pemeriksaan fisik terutama pada status oftalmologis OS didapatkan visus 1/60, pada
segmen posterior didapatkan CD ratio 0,9 dengan batas tidak jelas dan sekitar yang berwarna
kemerahan. Hasil dari pemeriksaan lapang pandang pasien masih dalam batas normal sesuai
pemeriksa. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah pada suatu diagnosis yaitu neuritis
optic.
Tujuan dari terapi neuritis opticus adalah untuk mempercepat pemulihan visual pada
penderita agar tidak berlanjut menjadi kronis, terapi ini tidak memperbaiki tetapi hanya
mempercepat pemulihan visual

29

DAFTAR PUSTAKA

1. Arif Mansjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek
Setiowulan, Neuritis Optik. Kapita Selekta Kedokteran FKUI. Jilid I. Ed. III. Jakarta,
Penerbit, Media Aesculapius: 2001. hal; 65 66.
2. Prof. dr. H. Sidarta Ilyas, Sp. M, Neuritis Optik. Ilmu Penyakit Mata. Ed. III. Jakarta,
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI: 2009. hal; 180 181.
3. Froetscher M & Baehr M. Duus Topical Diagnosis in Neurology. 4th edition. 2005.
Stuttgart : Thieme. p 130 137.
4. Rodriguez M, Siva A, Cross SA, OBrien PC, Kurland LT. Optic neuritis: A populationbased study in Olmsted County, Minnesota. Neurology. 1995;45:24450. [PubMed]
5. A.K. Khurana. Comprehenship Opthalmology 4th Edition dalam Chapter 12-New Age
International 2007. P 288-96.
6. Erhan
Ergene,
MD.

Adult

Optic

Neuritis.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/1217083.
7. American Academy of Opthalmology. Section 5 Neuro-Opthalmology. San Fransisco :
LEO. 2008-2009. Page 25-26.
8. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Jakarta: Widya Medika, 2000.
9. Perhimpunan Dokter Ahli Mata Indonesia : Neuritis Optik dalam Ilmu Penyakit Mata,
Airlangga Universitas Press, 1984, hal : 108-110.
10. Guyton AC, Hall JE. Neurofisiologi Penglihatan Sentral. Dalam : Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi 9. 1997. Jakarta : EGC. p 825.
30

31