Anda di halaman 1dari 1

PENANGANAN PASIEN

PERDARAHAN AKIBAT RETENSIO PLASENTA


RSUD AMBARAWA
Jl. Kartini No 101
AMBARAWA - 50611
Telp (0298) 591022
Fax (0298) 591866
Email : ambarawa_rsud@yahoo.co.id

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Dokumen :
020/MDGs/I/2016

No. Revisi :
00

Halaman :
1/1

Ditetapkan,
Direktur RSUD Ambarawa
Tanggal Terbit :
2 Januari 2016
dr. Rini Susilowati, M.Kes, MM
NIP. 19610506 198910 2 001

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

Perdarahan yang terjadi segera sesudah proses persalinan, akibat


retensio plasenta, yaitu tertahannya plasenta hingga lebih dari 30
menit setelah bayi lahir.
Sebagai acuan dalam penanganan pasien dengan perdarahan
akibat retensio plasenta, untuk menghindari perdarahan lebih lanjut
dan timbulnya komplikasi seperti syok hipovolemik atau kematian
ibu.
SK Direktur RSUD Ambarawa, No. 800/937/2010 tentang
Pemberlakuan
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Keperawatan RSUD Ambarawa untuk meningkatkan mutu dan
keselamatan pasien dan mencegah komplikasi ibu dan bayi.
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.
2. Jelaskan tindakan dan tujuan yang akan dilakukan.
3. Jaga privasi pasien.
4. Lakukan identifikasi pasien dan pemeriksaan meliputi keadaan
umum, riwayat persalinan sebelumnya, riwayat kuretase, riwayat
SC.
5. Lakukan PTT.
6. Pasang infus RL atau NaCl 0,9 % drip oksitosin 20 iu, 40 tetes
per menit.
7. Lakukan PTT lagi. Bila plasenta belum lahir, lakukan manual
plasenta.
8. Jika perdarahan banyak dan plasenta belum lahir, lakukan
restorasi cairan (infus RL atau NaCl 0,9 % 1500 cc).
9. Pasang dower kateter untuk memonitor balance cairan.
10. Jika plasenta masih belum lahir, maka kolaborasi dengan
dokter penanggung jawab.
11. Sampaikan pada ibu dan keluarga tentang hasil tindakan atau
tindakan yang akan dilakukan.
12. Lakukan pengawasan perdarahan secara berkala sesuai
kondisi pasien.
13. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
IRI, IGD, ICU.