Anda di halaman 1dari 6

H.

RESUME
Pasien datang ke IGD RSUD Embung Fatimah diantar oleh kedua
orang tuanya dengan keadaan kejang. Kejang dialami 2x dengan durasi 16
menit. Anak terlihat kaku dan terdapat sentakan yang berulang. Ibu pasien
mengatakan sebelum kejang anaknya sudah 2 hari demam tinggi. Sebelum
kejang anak terlihat sadar, selama kejang anak tidak sadar dan setelah kejang
anak tertidur. Orang tua pasein mengatakan sebelumnya pasien mengalami
sakit pada tenggorokan sudah 2 hari tetapi tidak disertai batuk dan pilek,
tidak ada muntah dan tidak mencret.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit
sedang, kesadaran komposmentis. Dengan Nadi 110x/menit, frekuensi nafas
32x/menit dan suhu 38,6C. Faring hiperemis dan tonsil tidak membesar.
Hasil pemeriksaan Laboratorium ditemukan hasil pemeriksaan darah rutin
didapatkan lekuosit meningkat (31.300 /uL).
Pasien didiagnosis dengan kejang demam komplek, faringitis dan
sepsis karena terjadi peningkatan leukosit 31.300 / uL.
Pasien ditatalaksana di ruangan dengan IVFD D5 NS 40cc/ jam,
Injeksi Cefotaxime 2x400 gr, Injeksi PCT 4x 100 mg, dan Diet : MLTKTP
800 kalori.
I. DISKUSI
Dari anamnesis diketahui bahwa keluhan utama pasien adalah
Kejang dialami 2x dengan durasi 15 menit. Anak terlihat kaku dan terdapat
sentakan yang berulang. Ibu pasien mengatakan sebelum kejang anaknya
sudah 2 hari demam tinggi. Sebelum kejang anak terlihat sadar, selama
kejang anak tidak sadar dan setelah kejang anak tertidur. Sesuai dengan teori
yang mengatakan bahwa kejang demam komplek adalah kejang yang lama >
15 menit, kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului
kejang parsial dan berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam disebabkan
kenaikan suhu tubuh lebih dari 38 C tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat
atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 6 bulan sampai 5
tahun tanpa riwayat kejang sebelumnya.1 Dari anamnesis anak tidak mencret

12

dan tidak muntah sehingga menyingkirkan kejang akibat gangguan elektrolit


dan dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda rangsang meningeal yang
positif sehingga kejang yang disebabkan oleh infeksi SSP dapat disingkirkan.
Dari hasil pemeriksaan lab juga didapatkan glukosa sewaktu dalam batas
normal.1,2
Dari anamnesis orang tua pasien juga mengatakan bahwa anaknya
sakit tenggorokan sejak 2 hari lalu dan dari pemeriksaan fisik didapatkan
faring tampak hiperemis dan tidak ada pembesaran tonsil. Sesuai dengan teori
yang megatakan bahwa faringitis akut adalah infeksi pada faring yang
disebabkan oleh virus atau bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri
tenggorokan, faring eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran kelenjar
getah bening leher dan malaise.3 Untuk membedakan faringitis akibat bakteri,
virus, maupun jamur dapat dilihat dari gejala klinis. Pada pemeriksaan
tampak faring dan tonsil hiperemis pada faringitis viral, faring dan tonsil
hiperemis terdapat eksudat dipermukaannya pada faringits bakterial, dan pada
pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya
hiperemis pada faringits fungal. Akan tetapi untuk memastikan kumannya
harus dilakukan biakan tenggorokan.4
Dari pemeriksaan fisik anak tidak tampak sakit berat dan dari hasil
lab didapatkan penigkatan leukosit 31.300/ uL. Pasien didiagnosis dengan
sepsis. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa sepsis
adalah suatu sindroma respon inflamasi sistemik dengan etiologi mikroba
yang telah terbukti. Empat kriteria dari SIRS ( Systemic Inflamatory
Response Syndrome) yaitu suhu > 38 atau < 36, takikardi, takipnoe, hitung
leukosit > 12.000/mm3. Untuk menegakan diagnosis sepsis pasien harus
memiki 2 atau lebih kriteria SIRS ditambah dengan etiologi mikroba yang
telah diketahui.1
Penatalaksanaan
1.

Anitibiotik
Pasien ini di terapi cefotaxime 2x 400 mg karena diagnosa pasien
sebelum kejang mengalami faringitis dan belum dilakukan kultur untuk
mengetahui kuman penyebabnya. Sesuai dengan teori Cefotaxime adalah
13

golongan sefalosporin generasi ke 3 yang merupakan sangat aktif untuk


berbagai kuman gram positif maupun gram negatif dan bersifat bakterisid
atau membunuh kuman lansung.5
2.

IVFD D5 NS
Cairan D5 NS adalah cairan kristaloidyang mengandung
glukosa, elektrolit dan air. Jenis cairan ini bersifat hipotonik yaitu tekanan
osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan dengan serum. Maka cairan
akan ditarik dari dalam pembuluh darah ke sel yang dituju dan digunakan
untuk cairan rumatan yaitu mengganti cairan yang hilang lewat urine, feses
dan keringat.6

3.

Terapi paracetamol
Dari anamnesis didapatkan pasien dengan keluhan demam. Maka
pasien diterapi dengan pemberian paracetamol. Yang mana menurut teori
cara kerja paracetamol dengan menghambat enzim siklogenase sehingga
konversi asam arakhidonat menjadi PGE2 terganggu.5
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pasien dipulangkan
dengan pengobatan rumat dengan salah satu indikasi yaitu kejang > 15 menit,
adanya kelainan neurologi sebelum atau sesudah kejang, kejang fokal, kejang
berulang 2 kali dalam 24 jam, kejang demam terjadi pada bayi < 12 bulan,
dan kejang demam > 4 pertahun. Pada kasus ini sebaiknya anak diberikan
pengobatan rumatan karena anak memiliki salah satu indikasinya yaitu kejang
> 15 menit dan kejang berulang dalam 24 jam. Obat yang digunakan untuk
rumatan adalah fenobarbital 3-4 mg/kg perhari dalam 1-2 dosis dan asam
valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis.7

14

M. Prognosis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal
pada pasien yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif
melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini
biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik
umum atau fokal. Faktor risiko untuk berkembang menjadi epilepsi seperti
kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam
pertama, kejang demam kompleks dan riwayat epilepsi pada orang tua atau
saudara kandung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan
kejadian epilepsi sampai 4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut
meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%-49%. Kemungkinan
menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada
kejang demam.7

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Nelson KB dan Ellenberg JH. Prognosis in children with febrile seizure.
Pediatric 2007; 61:720-7.
2. Annegers JF, dkk. Factor prognotic of unprovoked seizures after febrile
convulsions. NEJM 1987; 316:493-8.
3. Mansjoer dan Arif (2005). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta :
Media Aesculapius FKUI.
4. Rusmarjono dan Hermani B (2007). Bab IX Nyeri Tenggorok. Dalam: Efiaty
A.S., Nurbaiti I., Jenny B. dan Ratna D.R.. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta, 2007. Edisi ke-6: 212-215; 217218.
5. Syarif A, dkk (2007). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Gaya Baru: Jakarta.
6. Wood EG, Lynce RE (2006). Electrolyte management in pediatriccritical
illness. Elsevier: Mosby. 939-657.
7. Pusponegoro
HD,
dkk

(2006).

Penatalaksanaan

kejang

demam.www.idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Kejang-DemamNeurology
2012.pdf- Diakses Mei 2016.

16

17