Anda di halaman 1dari 18

PENGGUNAAN BUKU SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN

PENDEKATAN SCIENTIFIK SEBAGAI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


DI SMPN 13 BANDUNG

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Kurikulum IPA

Oleh :
Agustina Nur Herawati
1302923

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2013

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmnanirrahiim
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Rabbi yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan individual analisis kurikulum 2013 pada pelajaran IPA di SMPN 13
Bandung.
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai tugas untuk memnuhi
kewajiban pada mata kuliah analisis kurikulum 2013 pada mata pelajaran IPA.
Dalam penulisan larporan ini masih terdapat banyak kekurangan yang
penulis buat. Akan tetapi penulis berusaha semaksimal mungkin agar penyusunan
laporan ini mendekati kebenaran. Oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya
membangun sangat penulis harapkan.
Semoga laporan ini bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya dan
sebagai bahan masukan yang berharga bagi penulis untuk memperbaikinya di
masa yang akan datang.
Bandung, 2013
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
1
DAFTAR ISI
2
BAB I
PENDAHULUAN
4
1.1. Latar Belakang Masalah............................................................................4
1.2. Rumusan Masalah......................................................................................6
1.3. Batasan Masalah........................................................................................6
1

1.4. Tujuan Penelitian.......................................................................................7


1.5. Manfaat Penelitian.....................................................................................8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
8
2.1. Analisis......................................................................................................8
2.2. ProsesPenampilan......................................................................................8
2.3. Bimbingan Belajar/Ekstrakulikuler...........................................................8
2.4. Partisipasi dalam kehidupan sekolah/tempat latihan.................................8
BAB III
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
9
3.1. Definisi Oprasional....................................................................................9
3.2. Lokasi dan Subjek Penelitian.....................................................................9
3.3. Prosedur Pelaksanaan Penelitian...............................................................9
3.4. Alat dan Cara Pengumpul Data.................................................................9
3.5. Analisa Data...............................................................................................9
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
10
4.1. Hasil Penelitian........................................................................................10
4.2. Pembahasan.............................................................................................10
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
11
5.1. Kesimpulan..............................................................................................11
5.2. Saran........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA

12
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pada tahun ajaran 2013/2014 ini, pemerintah mulai menerapkan pembelajaran

dengan kurikulum 2013 pada sekolah-sekolah tertentu yang telah ditunjuk sebagai
pilot project. Dengan adanya kurikulum 2013 diharapkan dapat memperkuat
kompetensi siswa dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara utuh.
Dalam kurikulum 2013 terdapat beberapa elemen yang mengalami perubahan
mulai dari kompetensi lulusan, pendekatan, standar isi, dan lain-lain. pendekatan
2

saintifik. Untuk menunjang hal tersebut, Permendikbud No. 65 Tahun 2013


tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan
tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah
pendekatan saintifik/ilmiah.
Salah satu elemen yang mengalami perubahan adalah penggunaan buku guru
dan buku siswa yang kontennya telah disusun oleh Kemendibud. Buku siswa
sebagai salah satu elemen penting dalam pembelajaran IPA. Buku pelajaran/buku
siswa berisi media pembelajaran dan media assesmen pembelajaran di kelas yang
dapat digunakan langsung oleh siswa. Selain itu, buku siswa yang disusun untuk
menunjang keterlaksanaan kurikulum 2013 memiliki perbedaan yang cukup
mencolok jika dibandingkan dengan buku IPA pada kurikulum KTSP, perbedaan
tersebut mencakup perbedaan dari segi konten materi karena memuat kontent
pembelajaran IPA yang terpadu, sehingga berisi langkah-langkah belajar IPA saat
digunakan agar konsep pendekatan saintifik/ilmiah dapat berjalan baik saat proses
pembelajaran. Hal ini tentunya menarik untuk dipelajari dan dielaborasi lebih
lanjut.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah

dalam observasi ini adalah :


1. Bagaimana penggunaan buku siswa dalam pembelajaran IPA di kelas?
2. Bagaimana penerapan pendekatan scientifik dalam pembelajaran IPA?
3. Bagaimana kontent dalam buku siswa yang menunjang penerapan pendekatan
scientifik pada pembelajaran?
1.3.

Batasan Masalah
Agar materi lebih terarah, maka ruang lingkup penelitian dibatasi sebagai

berikut :
3

1. Materi yang akan diobservasi adalah mengenai klasifikasi makhluk hidup


2. Hasil pengamatan hanya untuk pembelaaran di kelas 7-D di SMPN 13
Bandung
1.4.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan observasi

ini adalah untuk :


1. Mengetahui penggunaan buku siswa dalam implementasi kurikulum 2013
2. Mengetahui penggunaan pendekatan saintifik dalam implementasi
kurikulum 2013 di SMPN 13 Bandung
1.5.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat berupa :


1. Bagi peneliti:
Mengetahui strategi penggunaan buku siswa dan konsep pendekatan
saintifik pada pembelajaran klasifikasi makhluk hidup
2. Bagi pengajar:
Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari startegi yang telah diterapkan
dalam pembelajaran di kelas

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Kurikulum dan Pengembangannya


Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,

dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan
pendidikan
Pengembangan kurikulum
2.2.

Kurikulum 2013

2.3.

Pendekatan Scientifik

Pendekatan saintifik (scientific) disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Proses


pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Karena itu
Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran.
Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau
proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan
pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive
reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik
simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena
atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan.
Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi
idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik
dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.

Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa
fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan
memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode
pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang
dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang
spesifik.Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas
pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau
data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.
Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan
dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada
pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15
menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada
pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar
lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual
sebesar 50-70 persen.
Kaidah-kaidah Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Penggunaan Pendekatan saintifik dalam pembelajaran harus dipandu dengan
kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi
pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu
kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan
dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran
disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.
Pertama: Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena
yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kirakira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta


didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau
penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis,


dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.

Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik


dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari
substansi atau materi pembelajaran.

Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami,


menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif
dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.

Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapatdipertanggungjawabkan.

Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik


sistem penyajiannya.

Kedua: Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai


nonilmiah yang meliputi intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan melalui cobacoba, dan asal berpikir kritis.

Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang


kemunculannya bersifat irasional dan individual. Intuisi juga bermakna
kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar
pengalaman dan kecakapannya. Istilah ini sering juga dipahami sebagai
penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara cepat dan
berjalan dengan sendirinya. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat
secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Namun
demikian, intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik.

Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama
proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah
sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika
guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat
pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan
pembelajaran.
7

Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh sematamata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu
kepentingan seseorang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi
pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan
pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi
terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah
menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka
itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah
menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh
kepentingan subjektif guru dan peserta didik.

Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali


melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian,
keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba
selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak
bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya
bahkan mampu mendorong kreatifitas.Karena itu, kalau memang tindakan
coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap
tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya,
seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah
komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta
didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu
menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada
kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa
memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.

Asal Berpikir Kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua
orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik
diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang
bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya
benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak
semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan
reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis
semata.

Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menuntut adanya


perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan
pembelajaran konvensional. Beberapa metode pembelajaran yang dipandang
sejalan dengan prinsip-prinsip pendekatan saintifik/ilmiah, antara lain metode: (1)
Problem Based Learning; (2) Project Based Learning; (3) Inkuiri/Inkuiri
Sosial; dan (4) Group Investigation. Metode-metode ini berusaha
membelajarkan siswa untuk mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari
solusi atau menguji jawaban sementara atas suatu masalah/pertanyaan dengan
melakukan penyelidikan (menemukan fakta-fakta melalui penginderaan), pada
8

akhirnya dapat menarik kesimpulan dan menyajikannya secara lisan maupun


tulisan.

Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget


yang mengatakan bahwa mulai usia 11 tahun hingga dewasa (tahap formaloperasional), seorang individu telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan
baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu: (1)
Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu
khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar
yang relevan dengan lingkungan yang dia respons; dan (2) Kapasitas
menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materimateri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.
Dengan

demikian,

tampaknya

pendekatan

saintifik/ilmiah

dalam

pembelajaran sangat mungkin untuk diberikan mulai pada usia tahapan ini. Tentu
saja, harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari penggunaan hipotesis dan
berfikir abstrak yang sederhana, kemudian seiring dengan perkembangan
kemampuan berfikirnya dapat ditingkatkan dengan menggunakan hipotesis dan
berfikir abstrak yang lebih kompleks.
Sementara itu, Kemendikbud (2013) memberikan konsepsi tersendiri bahwa
pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran didalamnya
mencakup

komponen:

mengamati,

menanya,

mencoba,

mengolah,

menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut


9

seyogyanya dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran, tetapi


bukanlah sebuah siklus pembelajaran
Kriteria:
1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat
dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira,
khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas
dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang
menyimpang dari alur berpikir logis.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan
tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan materi pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam
melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi
pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan
mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon
materi pembelajaran.
6. Berbasis

pada

konsep,

teori,

dan

fakta

empiris

yang

dapat

dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun
menarik sistem penyajiannya.

10

Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan


keterampilan

Sikap
(Tahu Mengapa)
Produktif
Inovatif
Kreatif
KeterampilanAfektifPengetahuan
(Tahu Bagaimana)
(Tahu Apa)

Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar


peserta didik tahu mengapa.
Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar
agar peserta didik tahu bagaimana.
Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar
agar peserta didik tahu apa.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan
untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki
kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari
peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
11

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam


pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.
Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana
dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk
jejaring untuk semua mata pelajaran.

Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran

2.4.

Buku Guru dan Buku Siswa

12

BAB III
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
3.1.

Model Evaluasi Kurikulum


Dalam melakukan observasi ini, digunakan adalah model CIPP (Context,
Input, Process, Product Model)

3.2.

Lokasi dan Subjek


Observasi mengenai implementasi kurikulum 2013 mata pelajaran IPA hanya

dapat dilakukan pada SMP atau SMK yang telah ditunjuk pemerintah kota
Bandung. SMPN 13 Bandung sebagai salah satu dari lima SMP yang dijadikan
sebagai sekolah pilot project dalam implementasi kurikulum 2013. Olehkarena
itu, proses observasi dilakukan di SMPN 13 Bandung.
Subjek dalam observasi yang dilakukan adalah siswa dan guru SMPN 13
Bandung. Siswa yang diobservasi adalah siswa kelas 7-B dan Guru yang
diobservasi adalah Dra.Ida.
3.3.

Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan observasi dilakukan dengan pembuatan surat perijinan

observasi oleh dari SPS UPI, kemudian diberikan pada sekolah. Setelah
dikeluarkan surat izin observasi oleh sekolah, kegiatan observasi dapat dilakukan
pada pembelajaran IPA dengan guru yang ditunjuk sekolah adalah Ibu Ida.
Pelaksanaan observasi dilakukan sebanyak tiga kali tatap muka yaitu pada tanggal
21, 22, dan 28 Oktober 2013. Proses observasi mencakup merekam dan

13

mengamati proses pembelajaran, wawancara, pengisian angket oleh siswa dan


guru, dan analisis angket oleh anggota kelompok.

3.4.

Alat dan Cara Pengumpul Data


Alat pengumpulan data berupa angket dan pedoman wawancara. Selain itu,

data rekaman kegiatan belajar mengajar juga dijadikan bahan pengumpulan data
hasil observasi.

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
4.2.

Hasil Penelitian
Pembahasan

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.
5.2.

Kesimpulan
Saran

15

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Mulyati dkk. (2000). Strategi Belajar Mengajar Kimia. Jurusan


Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.
Direktorat Akademik UPI. (2005). Panduan Praktek Kependidikan (PPK). UPI

16