Anda di halaman 1dari 4

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO GEMELLI

ETIOLOGI gemelli dibagi dua, yaitu:


1. Kembar Monozigotik
Kembar monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum
tunggal yang dibuahi yang kemudian membagi menjadi dua
struktur yang sama, masing-masing dengan potensi untuk
berkembang menjadi suatu individu yang terpisah. Hasil akhir
dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan
pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut:
- Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah
pembuahan, maka dua embrio, dua amnion serta dua chorion
akan terjadi dan kehamilan diamnionik dan di chorionik.
Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau

suatu plasenta tunggal yang menyatu.


Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka
dua embrio akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang
terpisah,

dengan

chorion

bersama,

dengan

demikian

menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monochorionik.


Apabila terjadi sekitar 8 - 13 hari setelah pembuahan dimana
amnion

telah

terbentuk,

maka

pembelahan

akan

menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama,

atau kehamilan kembar monoamnionik, monochorionik.


Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi (setelah hari
ke-13), yaitu setelah lempeng embrionik terbentuk, maka
pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang

menyatu.
2. Kembar Dizigot
Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua
ovum yang terpisah. Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih
sering daripada kembar monozigotik dan insidennya dipengaruhi
oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat keluarga,usia
maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas. Kira-kira 2/3
kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur.
Jenis kehamilan sama atau berbeda, mereka berbeda seperti
anak-anak lain dalam keluarga. Kembar dizigotik mempunyai
2 plasenta, 2 korion, dan 2 amnion, kadang-kadang 2 plasenta

menjadi satu.
FAKTOR RESIKO
1. Faktor ras

Frekuensi kelahiran janin multiple memperlihatkan variasi yang


nyata diantara berbagai ras yang berbeda. Myrianthopoulos
(1970) mengidentifikasi kelahiran ganda terjadi 1 diantara 100
kehamilan kehamilan pada orang kulit putih, sedangkan pada
orang kulit hitam 1 diantara 80 kehamilan. Pada kawasan di
Afrika, frekuensi terjadinya kehamilan ganda sangat tinggi. Knox
dan Morley (1960) dalam suatu survey pada salah satu
masyarakat

pedesaan

di

Nigeria,

mendapatkan

bahwa

kehamilan ganda terjadi sekali pada setiap 20 kelahiran,


kehamilan pada orang Timur atau Oriental tidak begitu sering
terjadi.

Perbedaan

ras

yang

nyata

ini

merupakan

akibat

keragaman pada frekuensi terjadinya kehamilan kembar dizigot.


Perbedaan kehamilan ganda ini disebabkan oleh perbedaan
tingkat Folikel Stimulating Hormone yang akan mengakibatkan
multiple ovulasi.
2. Faktor keturunan
Sebagai penentu kehamilan ganda genotip ibu jauh lebih penting
dari genotip ayah. White dan Wyshak (1964) dalam suatu
penelitian terhadap 4000 catatan mengenai jemaat gereja
kristus orang-orang kudus hari terakhir, menemukan bahwa para
wanita yang dirinya sendiri dizigot dengan frekuensi 1 per 58
kelahiran. Namun, wanita yang bukan kembar tapi mempunyai
suami kembar dizigot, melahirkan bayi kembar dengan frekuensi
1 per 116 kehamilan. Lebih lanjut, dalam analisis Bulmer (1960)
terhadap anak-anak kembar, 1 dari 25 (4%) ibu mereka ternyata
juga kembar, tetapi hanya 1 dari 60 (1,7%) ayah mereka yang
kembar, keterangan didapatkan bahwa salah satu sebabnya
adalah multiple ovuasi yang diturunkan.
3. Faktor umur dan paritas
Untuk peningkatan usia sampai sekitar 40 tahun atau paritas
sampai dengan 7, frekuensi kehamilan ganda akan meningkat.
Kehamilan ganda dapat terjadi kurang dari sepertiga pada
wanita 20 tahun tanpa riwayat kelahiran anak sebleumnya, bila
dibandingkan dengan wanita yang berusia diantara 35 sampai
40 tahun dengan 4 anak atau lebih. Di Swedia, Petterson dkk
(1976), memastikan peningkatan yang nyata pada angka
kehamilan ganda yang berkaitan dengan meningkatnya paritas.

Dalam kehamilan pertama, frekuensi janin kembar adalah 1,3%


dibandingkan dengan kehamilan keempat sebesar 2,7%.
4. Faktor nutrisi
Nylander (1971) mengatakan bahwa peningkatan kehamilan
ganda berkaitan dengan status nutrisi yang direfleksikan dengan
berat badan ibu. Ibu yang lebih tinggi dan berbadan besar
mempunyai resiko hamil ganda sebesar 25-30% dibandingkan
dengan ibu yang lebih pendek dan berbadan kecil. McGillivray
(1986) juga memaparkan bahwa kehamilan dizigotik lebih sering
ditemui pada wanita berbadan besar dan tinggi dibandingkan
pada wanita pendek dan bertubuh kecil.
5. Faktor terapi infertilitas
Induksi ovulasi dengan menggunakan

FSH

plus

chorionic

gonadotropin atau chlomiphene citrate menghasilkan ovulasi


ganda.

Insiden

kehamilan

ganda

seiring

penggunaan

gonadotropin sebesar 16-40%, 75% kehamilan dengan dua janin


(Schenker & co-workers, 1981). Tuppin dkk (1993) melaporkan
dari Prancis, insiden persalinan gemelli dan triplet terjadi karena
induksi ovulasi dengan terapi human menopause gonadotropin
(hMG). Faktor resiko untuk kehamilan ganda setelah ovarium
distimualsi dengan hMG berpengaruh terhadap peningkatan
jumlah estradiol dan injeksi chorionic gonadotropin pada saat
bersamaan akan berpengaruh terhadap karakteristik sperma,
meningkatkan konsenterasi dan motilitas sperma (Dickey, dkk
1992, Pasqualato dkk,1999). Induksi ovulasi meningkatkan
insiden kehamilan ganda dizigotik dan monozigotik.
6. Faktor assisted reproductive technology (ART)
Teknik ART didesain untuk meningkatkan kemungkinan
kehamilan, dan juga meningkatkan kemungkinan kehamilan
ganda. Pasien pada kasus ini, pembuahan dilakukan melalui
teknik fertilisasi in vitro dengan melakukan seleksi terhadap
ovum yang benar-benar berkualitas baik, dan dua dari empat
embrio ditransfer kedalam uterus. Pada umumnya, sejumlah
embrio yang ditransfer kedalam uterus maka sejumlah itulah
akan berisiko kembar dan meningkatkan kehamilan ganda.
7. Usia ibu saat mengandung
Peluang hamil kembar berhubungan dengan usia,

dan

puncaknya pada usia 35 dan 39 tahun. Karena perempuan


berusia di atas 35 tahun menghasilkan follicle stimulating

hormone (FSH) yang lebih banyak dibandingkan dengan usia


muda, dan perempuan dengan FSH tinggi bisa melepaskan lebih
dari satu sel telur dalam sebuah siklus. Namun kehamilan di usia
ini juga meningkatkan risiko komplikasi seperti preeklamsia
(tekanan darah tinggi), terutama jika kehamilan tersebut adalah
yang pertama.
8. Tinggi dan berat badan ibu
Perempuan yang memiliki tubuh tinggi dan agak gemuk
cenderung lebih sering memiliki kehamilan kembar. Hal ini
kemungkinan

karena

ukuran

tubuhnya

memadai

untuk

pertumbuhan lebih dari satu bayi.


9. Pengaruh dari kehamilan sebelumnya
Perempuan yang pernah hamil sebelumnya, setidaknya sudah
memiliki satu anak cenderung lebih mudah untuk memiliki anak
kembar dibandingkan perempuan yang baru pertama kali hamil.
Karena biasanya rahim sudah agak merenggang dan tubuh
perempuan cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dengan
kebutuhan tambahan dari anak kembar.
10.Factor yang lain belum diketahui
Factor bangsa mempengaruhi kehamilan ganda : di AS lebih
banyak dijumpai pada wanita kulit hitam dibandingkan kulit
putih. Angka tertinggi kehamilan ganda dijumpai di Finlandia dan
terendah di Jepang.
11.Terapi kesuburan
Induksi
ovulasi
dengan

menggunakan

obat

hormonal

gonadotropin ( FSH plus gonadotropin korionk ) atau klomifen


secara nyata meningkatkan kemungkinan ovulasi multiple.
Faktor resiko terbentuknya janin multiple setelah stimulasi
ovarium dengan hormon gonadotropin menopause manusia
antara lain meningkatkan kadar estradiol pada hari penyuntikan
gonadotropin korionik dan sifat sperma seperti peningkatan
konsentrasi dan motilitas.
Daftar Pustaka :
Rusda,

M.

2012.

BAB

II

Tinjauan

Teori.

[online].

(http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2d3keperawatan/206301007/bab2.pdf, diakses
tanggal 26 November 2014)