Anda di halaman 1dari 28

PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA

GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN


Sebagian besar penyakit endokrin mudah dikenali. Akan tetapi pengobatan pada stadium lanjut
tidak mudah dibandingkan bila penyakit ditemukan lebih dini. Manifestasi dini penyakit
endokrin kadang sulit dinilai baik dalam riwayat, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Tubuh
berkompensasi terhadap defisiensi hormonal sedemikian rupa sehingga penyakit berada pada
stadium yang sangat lanjut ketika ditemukan. Di samping itu, gambaran klinis untuk suatu
keadaan tertentu dapat berbeda tergantung pada berat ringannya penyakit dan sifat kronisitasnya,
dan pada beberapa kasus suatu keadaan defisiensi berat kemungkinan tidak berkembang sebagai
suatu manifestasi yang nyata.
Karena alasan ini, maka merupakan hal penting untuk menggunakan berbagai cara yang ada
untuk mengoptilkan ketepatan diagnostik dan pengobatan. Klinisi harus membuat keputusan
apakah pengobatan harus diberikan dengan segera sebelum uji yang memakan waktu untuk
diagnosis yang pasti telah selesai. Pada gangguan kronis, kadang-kadang dimungkinkan untuk
menunggu hingga terkumpul informasi yang lengkap untuk memudahkan diagnosisi ; pada
kasuskasus lain, cara ini mungkin akan memperburuk keadaan .
Pengkajian Diagnostik Sistem Endokrin
Pemeriksaan diagnostik merupakan hal penting dalam perawatan klien di rumah sakit. Tidak
dapat dipisahkan dari rangkaian pengobatan dan perawatan. Validitas dari hasil pemeriksaan
diagnostik sangat ditentukan oleh bahan pemeriksaan, persiapan klien, alat dan bahan yang
digunakan serta pemeriksaannya sendiri. Dua hal pertama menjadi tugas dan tanggung jawab
perawat. Oleh karena itu pemahaman perawat terhadap berbagai pemeriksaan diagnostik yang
dilakukan pada klien sangatlah menentukan keberhasilannya. Begitu halnya pada klien yang
diduga atau yang menderita gangguan sistem endokrin, pemahaman perawat yang lebih baik
tentang berbagai prosedur diagnostik yang lazim sangatlah diharapkan.
Pemeriksaan Laboratorium dan Pencitraan
Evaluasi laboratorium merupakan hal yang penting untuk menegakkan dan memperkuat
diagnosis endokrin dan untuk membantu menyingkirkan diagnosis spesifik. Kecanggihan yang
semakin meningkat telah menyebabkan ahli endokrinologi semakin mengandalkan uji ini.
Namun, uji ini tidak dapat menggantikan keputusan klinik yang baik yang menggunakan semua
informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik. Uji laboratorium biasanya mengukur kadar
hormon dalam cairan tubuh, gejala sisa dari hormon, ataupun gejala sisa dari proses yang
menyebabkan 3kelainan hormon. Uji ini dapat dilakukan di bawah keadaan acak atau basal,
keadaan yang ditentukan dengan tepat, ataupun sebagai respon terhadap beberapa rangsangan
provokatif. Dalam mengukur kadar hormon, sensitivitas mengacu pada konsentrasi terendah dari
hormon yang dapat dideteksi secara tepat, dan spesifisitas mengacu pada sifat spesies tertentu
yang bereaksi dengan uji hormon ini.

Pengukuran kadar Hormon : Kadar Basal


Assay imunologik telah menjadi teknologi dominan yang digunakan untuk mengukur kadar dari
hormon dalam cairan tubuh . Sebagian besar pengukuran dilakukan pada sampel darah atau urin.
Hormon diukur secara langsung dari sampel atau setelah ekstraksi dan pemurnian. Sebagian
besar pengukuran adalah terhadap hormon aktif, walaupun pengukuran dari metabolit atau
prekursor hormon ataupun zat yang dilepaskan secara serentak kadang-kadang memberikan
informasi yang terbaik. Dengan demikian, pada umumnya, dalam menilai status vitamin D,
akan lebih informatif untuk mengukur hormon prekursor, 25-(OH)D3 walaupun hormon aktif
yang utama adalah 1,25-(OH)2D3. Pada sindroma 21-hidroksilase, masalah klinik adalah
defisiensi dari kortisol, sementara pengukuran yang paling peka adalah kadar
-hidroksiprogesteron plasma, suatu prekursor dari hormon. Dalam 17 memeriksa
feokromositoma, kadar dari metabolit epinefrin kadang-kadang lebih informatif ketimbang kadar
hormon aktifnya, yaitu epinefrin
Assay Plasma dan Urin
Assay hormon dalam sampel darah, plasma atau serum, akan memberikan suatu indikasi dari
kadar hormon pada saat itu. Untuk hormon dengan waktuparuh yang panjang yang kadarnya
tidak berubah dengan cepat (contohnya, tiroksin), pengukuran sampel yang diambil secara acak
memberikan suatu penilaian dari status hormon. Untuk hormon dengan paruh-hidup yang lebih
pendek, seperti epinefrin atau kortisol, assay ini hanya akan memberikan informasi untuk saat
pengumpulan sampel. Dengan demikian, pada suatu feokromositoma yang secara episodik
melepaskan epinefrin, peningkatan kadar epinefrin plasma akan ditemukan hanya selama periode
pelepasan dan tidak di antaranya.Penyakit Cushing yang spontan dapat dikaitkan dengan suatu
peningkatan jumlah pelepasan kortisol dengan kadar kortisol plasma normal diantara pulsa. Pada
stadium awal dari perkembangan penyakit Addison, jumlah pulsa pelepasan kortisol dapat
menurun, tetapi sewaktu-waktu dapat terjadi pelepasan di mana setelah itu kortisol plasma dapat
dalam rentang yang normal.
Assay urin mengukur kadar hormon atau metabolitnya, dan periode pengumpulan dapat berupa
suatu sampel acak atau, lebih sering, suatu pengumpulan berkala (biasanya 24 jam). Interpretasi
pengukuran urin harus memperhitungkan kenyataan bahwa kadar urin mencerminkan
penanganan hormon oleh ginjal. Pada masa lalu malah pengukuran urin digunakan secara lebih
sering karena pada banyak kasus bisa diperoleh jumlah hormon yang lebih besar. Namun, dengan
sensitivitas yang tinggi dari immunoassay dewasa ini, keuntungan dari urin hilang. Dengan
demikian biasanya lebih dipilih pengukuran darah. Suatu keuntungan dari assay urin adalah
bahwa pada beberapa kasus dapat memberikan suatu penilaian yang terpadu dari status hormon.
Contohnya, pada kortisol, hanya sekitar 1-3% dari hormon yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal
ditemukan dalam urin, tetapi pengukuran dari kortisol urin dalam sampel kortisol bebas urin
24-jam memberikan penilaian yang baik sekali dari produksi kortisol terpadu. Hal ini penting,
karena kortisol dilepaskan secara episodik, dan suatu kortisol plasma yang acak dapat berada
dalam rentang normal pada keadaan penyakit Cushing yang ringan hingga sedang. Uji urin
sering digunakan untuk mendokumentasi kelebihan aldosteron pada aldosteronisme primer dan
kelebihan epinefrin pada feokromositoma.

Kadar Hormon Bebas


Banyak hormon beredar terikat dengan protein plasma, dan umumnya merupakan fraksi hormon
bebas yang secara biologik relevan. Dengan demikian, penilaian dari kadar hormon bebas lebih
penting ketimbang penilaian dari kadar hormon total. Sejumlah uji untuk mengukur kadar
hormon bebas tersedia saat ini. Assay ini dapat menggunakan dialisis keseimbangan, ultrafiltrasi,
pengikatan kompetisi, dan cara-cara lain. Namun, uji seperti ini tidak biasa digunakan. Salah
satu dari uji yang sering digunakan adalah indeks tiroksin bebas, yang digunakan untuk
mengukur hormon bebas secara tak langsung dengan menilai kemampuan dari plasma untuk
mengambil T4; hal ini berbanding terbalik dengan penjenuhan dari ikatan protein oleh hormon
endogen dan berbanding langsung dengan fraksi hormon total yang bebas . Pengukuran kalsium
bebas daripada konsentrasi ion kalsium total juga semakin banyak digunakan. Ada kemungkinan
bahwa pada masa selanjutnya akan terdapat peningkatan penggunaan pengukuran konsentrasi
hormon bebas. Seperti disebutkan di atas, pada beberapa kasus-contohnya kortisol-kadar urin
dari hormon dapat memberikan suatu penilaian langsung mengenai konsentrasihormon plasma
bebas (1,3)
Immunoassay
Immunoassay hormon menggunakan antibodi dengan afinitas yang tinggi terhadap hormon.
Antibodi bisa poliklonal atau monoklonal. Jika hormon manusia akan dihasilkan antibodi cukup
berbeda dari pada hormon pada hewan, maka hormon yang tidak dimodifikasi dapat digunakan
untuk menghasilkan antibodi.
Namun, untuk hormon yang mempunyai struktur tertentu dan homologi tinggi dengan horman
hewan, dan khususnya dengan hormon yang sangat kecil seperti steroid atau faktor pelepas yang
tidak begitu imunogenik, maka hormon digunakan sebagai hapten dan dihubungkan dengan
molekul yang sangat imunogenik atau dengan cara lain dimasukkan ke dalam suatu molekul
besar untuk menghasilkan antibodi (1,2) Antibodi poliklonal yang digunakan biasanya
didapatkan dari hewan yang menghasilkan sejumlah antibodi yang berbeda. Kelinci, marmut,
domba, dan kambing populer untuk tujuan ini. Pada populasi antibodi poliklonal, bisa terdapat
banyak antibodi dengan afinitas yang sangat tinggi terhadap hormon yang dengan demikian akan
memberikan suatu tingkat kepekaan yang tinggi. Namun, dalam keseluruhan populasi poliklonal
pada hewan, antibodi terhadap antigen merupakan proporsi yang sangat rendah dari populasi
antibodi total.Antibodi monoklonal didapatkan melalui beberapa cara; biasanya didapatkan
melalui penyuntikan antigen ke dalam tikus atau dengan menginkubasi antigen dengan sel in
vitro. Sel hewan atau sel yang diinkubasi in vitro kemudian digabungkan melalui fusi dengan
sel mieloma atau mentransformasi mereka dengan virus tumor. Hal ini menghasilkan sejumlah
klon sel penghasil-antibodi. Klon ini kemudian disaring dengan antigen hormon hingga
ditemukan suatu klon penghasil-antibodi yang cocok. Suatu kerugian utama dari antibodi
monoklonal adalah bahwa banyak dari antibodi memiliki suatu afinitas yang rendah terhadap
hormon, dan diperiukan banyak penyaringan untuk mendapatkan suatu antibodi berafinitastinggi. Di samping itu, setiap antibodi bereaksi dengan hanya satu epitop pada antigen, dan
antibodi ini tidak berguna untuk uji tradisional terbatasreagen.
Dalam praktek, pengukuran dari kadar hormon melalui radioimmunoassay melibatkan inkubasi
dari sampel urin atau plasma atau suatu ekstrak dengan antibodi dan kemudian mengukur kadar
dari kompleks antigen-antibodi dengan beberapa cara. Radioimmunoassay klasik menggunakan
antibodi berafinitas-tinggi yang tak diimobilisasi (pada konsentrasi rendah untuk memungkinkan
kepekaan maksimal) pada permukaan dari suatu tabung uji, atau partikei paramagnetik. Antigen

standar yang berikatan dengan antibodi diradiolabel,sedemikian rupa sehingga peradiolabelan


tidak menyekat ikatannya dengan antibodi.
Sampel yang tidak diketahui dan antibodi diinkubasi, dan antigen yang berradiolabel
ditambahkan pada saat nol atau kemudian. Disiapkan suatu kurva standar dengan menggunakan
antibodi dan suatu konsentrasi hormon yang diketahui. Dari kurva ini, luasnya inhibisi oleh
hormon yang ditambahkan dari ikatan hormon berlabel diplot, biasanya sebagai jumlah label
terikat sebagai sustu fungsi dari log,konsentrasi antigen total, yang biasanya memberikan suatu
kurva sigmoid . Sebagai alternatif, suatu plot log dapat digunakan untuk melinierkan data . Kadar
dari hormon dalam sampel didapatkan dengan cara menghubungkan nilai dengan kurva
standar.Secara tradisional imunoassay menggunakan hormon beradiolabel sebagai antigen.
Paling sering digunakan adalah iodium beradiolabel yang bisa didapatkan dengan suatu aktivitas
spesifik sangat tinggi.
Namun, kerugian dari radioaktivitas dari segi shelf-life dan pengeluaran yang semakin
meningkat untuk pembuangan telah menyebabkan peningkatan penggunaan cara-cara
nonisotopik untuk melakukan imunoassay di mana antigen dihubungkan dengan suatu enzim,
label9fluoresen, atau partikel lateks yang dapat diaglutinasi dengan antigen, atau dengan
beberapa cara lain, sehingga hal ini dapat terdeteksi. Enzyme-linked immunosorbentassay
(ELISA) yang menggunakan lempeng titer mikro berlapisantibodi dan reporter antibodi berlabel
enzim kadang-kadang peka seperti radioimmunoassay.
Suatu modifikasi mutakhir dari imunoassay adalah teknik sandwich, yang menggunakan dua
antibodi monoklonal yang berbeda masing-masing mengenali 10suatu bagian terpisah dari
hormon. Aspek ini merupakan keterbatasan utama dari teknik ini, karena sukar untuk
menggunakan hal ini untuk molekul kecil untuk mana tidak bisa didapatkan bidang reaktif yang
dapat dipisahkan. Assay ini dilakukan dengan menggunakan antibodi pertama, sebaiknya
dilekatkan secara berlebihan relatif terhadap jumlah hormon dalam sampel, pada suatu matriks
pendukung padat untuk mengadsorbsi hormon yang akan diuji. Setelah pengangkatan dari
plasma dan pembilasan, antibodi kedua (berlabel) kemudian diinkubasi dengan hormon yang
terikat, kompleks antibodi pertama. Jumlah pengikatan dari antibodi kedua kemudian sebanding
dengan konsentrasi hormon dalam sampel. Penggunaan dari dua antibodi menghasilkan suatu
penurunan yang besar, dengan demikian memperbaiki kepekaan maupun spesifisitas dari uji ini.
Assay Nonimunologik
Assay nonimunologik termasuk assay kimiawi, yang mengambil manfaat dari gugusan yang
secara kimiawi reaktif dalam molekul; bioassay, yang menilai aktivitas dari hormon yang
diinkubasi dengan sel atau jaringan in vitro atau disuntikkan ke dalam seekor hewan; dan assay
pengikatan-reseptor dan assay lain, yang memanfaatkan afinitas tinggi hormon untuk reseptor
atau molekul lain seperti protein pengikat-plasma. Uji ini jarang digunakan. Immunoassay
umumnya unggul daripada assay reseptor karena memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap
hormon ketimbang reseptor. Suatu contoh dari uji reseptor adalah uji yang menggunakan biakan
sel dari suatu tumor tiroid (sel FRTL-5) yang mengandung reseptor TSH, untk mendeteksi
antibodi terhadap reseptor ini yang ditemukan pada penyakit Graves.
Pengukuran Tak Langsung Status Hormon
Pengukuran dari status hormon dapat lebih penting daripada pengukuran kadar hormon dan pada
banyak situasi memberikan informasi pelengkap yang penting. Walaupun dilakukan pengukuran
dari kadar hormon, biasa untuk mendapatkan paling tidak satu indeks dari efek hormon dalam
mendiagnosis suatu penyakit endokrin. Kadar glukosa darah lebih berguna ketimbang kadar
insulin 11plasma dalam mendiagnosis dan mengobati diabetes melitus. Kadar insulin plasma

dapat tinggi pada keadaan hiperglikemia nyata pada diabetes melitus noninsulin-dependen, dan
pada diabetes melitus dependen-insulin kadar insulin merupakan suatu indeks yang kurang dapat
diandalkan dari status diabetes ketimbang glukosa darah. Pengukuran dari kadar kalsium serum
merupakan hal yang kritis untuk mengevaluasi aldosteronisme primer. Penyebab yang paling
sering dari peningkatan kadar aldosteron adalah dehidrasi, latihan, terapi diuretika, dan keadaan
lain yang menghasilkan aldosteronisme sekunder; pada keadaan ini, kadar renin plasma
cenderung lebih tinggi.
Uji Provokatif
Pada banyak kasus, kadar hormon diinterpretasi dengan baik setelah dilakukan tantangan
provokatif, walaupun sedang dikembangkan cara yang lebih maju untuk memintas kebutuhan
akan uji seperti ini. Misalnya , pada penyakit tiroid, uji provokatif jarang diperlukan, sementara
pada insufisiensi adrenal atau kelebihan glukokortikoid, dilakukan uji seperti ini. Pada penyakit
tiroid, bersihan yang lambat dari hormon menghasilkan kadar basal hormon yang sangat
informatif, sementara sifat pulsasi dari pelepasan kortisol menghasilkan suatu kadar kortisol
plasma yang berfluktuasi. Masalah ini dipintas dalam evaluasi dari insufisiensi adrenal dengan
memberikan suatu analog ACTH yang merangsang adrenal secara maksimal. Penentuan
diagnosis penyakit Cushing mempunyai masalah tersendiri . Pada kasus ini jelas terdapat suatu
hipersekresi kortisol. Klinisi mengambil manfaat dari kenyataan bahwa mikroadenoma
glukokortikoid lebih banyak ditekan oleh glukokortikoid deksametason dari pada tumor adrenal
atau tumor ektopik penghasil-ACTH. Demikian pula, analog GnRH (yang merangsang pelepasan
FSH dan LH), TRH (yang merangsang pelepasan prolaktin maupun TSH), dan hipoglikemia
insulin (yang merangsang pelepasan ACTH dan GH) dapat digunakan untuk mengevaluasi
cadangan hipofisis . Dalam mengevaluasi aldosteronisme primer, rangsangan provokatif
(diuresis, sikap, inhibisi dari enzim pengkonversi) kadang-kadang digunakan untuk
meningkatkan pelepasan renin.12.
Pemeriksaan Pencitraan
Pemeriksaan pencitraan semakin banyak digunakan dalam diagnosis dan tindak lanjut dari
penyakit endokrin. Magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography (CT)
khususnya penting dalam hal ini. Prosedur-prosedur ini memungkinkan visualisasi dari kelenjar
endokrin pada suatu resolusi yang besar ketimbang dimasa yang talu. Hal ini khususnya untuk
hipofisis dan adrenal. Ahli endokrinologi juga dapat menggunakan prosedur canggih lain yang
melibatkan sampling selektif dari tempat tertentu. Contohnya, katerisasi vena selektif dari sinus
petrosus terutama berguna dalam mendeteksi hipersekresi ACTH pada penyakit Cushing, dan
sampling selektif dari vena renalis dapat membantu dalam diagnosis dari hipertensi
renovaskular.
Interpretasi Klinik Uji Laboratorium
Pokok-pokok penting dalam interpretasi uji laboratorium dapat diringkaskan sebagai berikut:
(1) Setiap hasil harus diinterpretasi dari segi pengetahuan klinik pasien dengan menggunakan
data dari riwayat dan pemeriksaan fisik.
(2) Kadar basal dari hormon atau efek perifer dari hormon harus diinterpretasi dari segi cara
hormon dilepaskan dan dikendalikan.
(3) Kadar hormon pada sebagian besar kasus harus diinterpretasi bersamaan dengan informasi
dari uji lain yang mencerminkan status pasien ;kadar PTH serum dalam segi kalsium serum;

kadar aldosteron serum dalam segi kadar renin plasma; kadar gonadotropin serum dari segi kadar
estradiol atau testosteron; dll.
(4) Kadang-kadang, pengukuran urin lebih unggul dibandingkan uji plasma untuk menguji
pelepasan terpadu dari hormon.
(5) Rentang nilai normal dapat bervariasi dari satu laboratorium ke laboratorium lainnya . Harus
digunakan nilai normal yang semestinya. 13
(6) Uji laboratorium harus diinterpretasikaan dengan pengetahuan mengenai nilai dari uji.
Rentang normal yang dilaporkan untuk uji tidak dapat digunakan sebagai hal yang absolut dan
harus diinterpretasi dari segi situasi klinik.
(7) Kadang-kadang, hasil uji laboratorium terganggu oleh zat-zat luar atau pencemar. Misalnya ,
pada keadaan sakit, lipid dalam plasma kadang-kadang mengganggu pengukuran dari kapasitas
pengikatan-hormon tiroid.
Heparin dapat melepaskan asam amino bebas ke dalam plasma, menyebabkan pergeseran dari T3
dan T4 dari protein plasma dan pembacaan yang palsu dari kapasitas pengikatan. Pada
kehamilan, CG dapat bereaksi-silang pada uji TSH. Antibodi yang dihasilkan ketika hormon
digunakan dalam terapi (insulin, GH, dll) dapat menyebabkan peningkatan yang besar dari
hormon total yang disebabkan oleh sekuestrasi dari hormon.
(8) Uji provokatif kadang-kadang diperlukan.
(9) Pemeriksaan pencitraan dapat membantu diagnosis, khususnya untuk segi sumber
hipersekresi hormon.
Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Hipofise
a. Foto tengkorak (kranium)
Dilakukan untuk melihat kondisi sella tursika. Dapat terjadi tumor atau juga atropi. Tidak
dibutuhkan persiapan fisik secara khusus, namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan
prosedur sangatlah penting.
b. Foto tulang (osteo)
Dilakukan untuk melihat kondisi tulang. Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai ukuran
tulang yang bertambah besar dari ukuran maupun panjangnya. Pada akromegali akan dijumpai
tulang-tulang perifer yang bertambah ukurannya ke samping. Persiapan fisik secara khusus tidak
ada, pendidikan kesehatan diperlukan.
c. CT scan otak
Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atau hipotalamus melalui
komputerisasi. Tidak ada persiapan fisik secara khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien
dapat diam tidak bergerak selama prosedur.

Pemeriksaan darah dan urine


a. KADAR GROWTH HORMON
Nilai normal 10 p.g ml baik pada anak dan orang dewasa. Pada bayi dibulan-bulan pertama
kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 cc. Persiapan
khusus secara fisik tidak ada.
b. KADAR TIROID STIMULATING HORMON (TSH)
Nilai normal 6-10 1.1.g/ml. Dilakukan untuk menentukan apakah gangguan tiroid bersifat primer
atau sekunder. Dibutuhkan darah lebih kurang 5 cc. Tanpa persiapan secara khusus.
c. KADAR ADRENOKARTIKO TROPIK (ACTH)
Pengukuran dilakukan dengan test supresi deksametason. Spesimen yang diperlukan adalah
darah vena lebih kurang 5 cc dan urine 24 jam.
Persiapan
1. Tidak ada pembatasan makan dan minum
2. Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol atau antagonisnya dihentikan lebih
dahulu 24 jam sebelumnya.
3. Bila obat-obatan harus diberikan, lampirkan jenis obat dan dosisnya pada lembaran
pengiriman specimen
4. Cegah stres fisik dan psikologis
Pelaksanaan
1. Klien diberi deksametason 4 x 0,5 ml/hari selama-lamanya dua hari
2. Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc
3. Urine ditampung selama 24 jam
4. Kirim spesimen (darah dan urine) ke laboratorium.
Hasil Normal bila;
* ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl
* 17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17-OHCS) dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg.
Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametasaon 1 mg per oral tengah
malam, baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urine ditampung selama 5

jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama
dengan 3 mg/dl dan eksresi 17 OHCS dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg.

Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Tiroid


a. Up take Radioaktif (RAI)
Tujuan Pemeriksaan adalah untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap
iodide
Persiapan
* Klien puasa 6-8 jam
* Jelaskan tujuan danm prosedur
Pelaksanaan
* Klien diberi Radioaktoif Jodium (I131) per oral sebanyak 50 microcuri.
Dengan alat pengukur yang ditaruh diatas kelenjar tiroid diukur radio
aktif yang tertahan.
* Juga dapat diukur clearence I131 melalui ginjal dengan mengumpulkan urine selama 24 jam
dan diukur kadar radioaktiof jodiumnya.
Banyaknya I131 yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam persentase sebagai
berikut:
* Normal: 10-35%
* Kurang dari: 10% disebut menurun, dapat terjadi pada hipotiriodisme.
* Lebih dari: 35% disebut meninggi, dapat terjadi pada tirotoxikosis atau pada defisiensi jodium
yang sudah lama dan pada pengobatan lama hipertiroidisme.
b. T3 dan T4 Serum
Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak
5-10 cc.
* Nilai normal pada orang dewasa: Jodium bebas: 0,1-0,6 mg/dl T3: 0,2-0,3 mg/dl
Ta: 6-12 mg/dl
* Nilai normal pada bayi/anak: T3: 180-240 mg/dl
Up take T3 Resin

Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon tiroid (T3) atau tiroid binding globulin (TBG) tak
jenuh. Bila TBG naik berarti hormon tiroid bebas meningkat. Peningkatan TBG terjadi pada
hipertiroidisme dan menurun pada hipotiroidisme. Dibutuhkan spesimen darah vena sebanyak 5
cc. Klien puasa selama 6 8 jam.
* Nilai normal pada:
Dewasa: 25-35% uptake oleh resin Anak: Pada umumnya tidak ada
Protein Bound Iodine (PBI)
Bertujuan mengukur jodium yang terikat dengan protein plasma. Nilai normal 4-8 mg% dalam
100 ml darah. Specimen yang dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuasakan
sebelum pemeriksaan 6-8 jam.
c. Laju Metabolisme Basal (BMR)
Bertujuan untuk mengukur secara tidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan tubuh di
bawah kondisi basal selama beberapa waktu.
Persiapan
* Klien puasa sekitar 12 jam
* Hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress
* Klien harus tidur paling tidak 8 jam
* Tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedative
* Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan dan prosedurnya
* Tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan dilakukan.

Pelaksanaan
* Segera setelah bangun, dilakukan pengukuran tekanan darah dan nadi
* Dihitung dengan rumus: BMR (0,75 x pulse) + (0,74 x Tek Nadi)- 72
* Nilai normal BMR: -10 s/d 15%.
Pertimbangkan faktor umur, jenis kelamin dan ukuran tubuh dengan kebutuhan oksigen jaringan.
Pada klien yang sangat cemas, dapat diberikan fenobarbital yang pengukurannya disebut
Sommolent Metabolisme Rate. Nilai normalnya 8-13% lebih rendah dari BMR.
d. Scanning Tyroid
Dapat digunakan beberapa teknik antara lain:

Radio Iodine Scanning. Digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau majemuk
dan apakah panas atau dingin (berfungsi atau tidak berfungsi). Nodul panas menyebabkan
hipersekresi jarang bersifat ganas. Sedangkan nodul dingin (20%) adalah ganas.
Up take Iodine. Digunakan untuk menentukan pengambilan jodium dari plasma. Nilai normal 10
s/d 30% dalam 24 jam.

Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Paratiroid


a. Percobaan Sulkowitch
Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat diketahui
aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch.
Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium plasma diperkirakan antara 5
mg/dl. Endapan sedikit one white cloud) menunjukkan kadar kalsium darah normal (6 ml/d1).
Bila endapan banyak, kadar kalsium tingg:.
Persiapan
* Urine 24 jam ditampung
* Makanan rendah kalsium 2 hari herturut-turut
Pelaksanaan
* Masukkan urine 3 ml ke dalam tabung (2 tabung)
* Kedalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai
control
Pembacaan hasil secara kwantitatif:
Negatif (-): Tidak terjadi kekeruhan
Positif (+): Terjadi kekeruhan yang halus
Positif (+ +): Kekeruhan sedang
Positif (+ + +): Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik
Positif (+ + + +): Kekeruhan hebat, terjadi seketika
b. Percobaan Ellwort-Howard
Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhi oleh parathormon.
Cara Pemeriksaan
Klien disuntik dengan paratharmon melalui intravena kemudian urine di-tampung dan diukur
kadar pospornya. Pada hipoparatiroid, diuresis pospor bisa mencapai 5-6 x nilai normal.

Pada hiperparatiroid, diuresis pospornya tidak banyak berubah.


c. Percobaan Kalsium intravena
Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan
menekan pembentukan paratharmon. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis
berkurang. Pada hiperparatiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah. Pada
hipoparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami perubahan tetapi pospor diuresis
meningkat.
d. Pemeriksaan radiologi
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya
kalsifikasi tulang, penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi
bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid,
tulang meni-pis, terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang.
e. Pemeriksaan Elektrocardiogram (ECG).
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan
gambaran EKG akibat perubahan kadar kalsium serum terhadap otot jantung. Pada
hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q-T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid
interval Q-T mungkin normal.
f. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan
kadar kalsium serum.
Persiapan khusus tidak ada.

Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Pankreas


a. Pemeriksaan Glukosa
Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah
puasa selama 8-10 jam
Nilai normal:
Dewasa: 70-110 md/d1 Bayi: 50-80 mg/d
Anak-anak: 60-100 mg/dl
Persiapan
* Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan
* Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan

Pelaksanaan
* Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc
* Gunakan anti koagulasi bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera
* Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak
diberikan
* Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obatobatan sesuai program.
Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP (post prandial).
Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan. Dapat dilakukan secara
bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah puasa,
kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian
dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung
pada kondisi klien.
Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu diingat waktu yang tepat untuk
pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bagi klien yang
mendapat obat-obatan sementara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan.
Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Adrenal
a. Pemeriksaan Hemokonsentrasi darah
Nilai normal pada:
Dewasa wanita: 37-47% Pria: 45-54%
Anak-anak: 31-43%
Bayi: 30-40%
Neonatal: 44-62%
Tidak ada persiapan secara khusus. Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari
atau melalui pungsi intravena. Bubuhi antikoagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan.
Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K , CI), dengan nilai normal:
Natrium: 310-335 mg (13,6-14 meq/liter) Kalium: 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter) Chlorida: 350375 mg% (100-106 meq/liter)
Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya terjadi pada
hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremia dan hiperkalemia. Tidak diperlukan persiapan fisik secara
khusus.
b. Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA)

Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai normal 1-5
mg. Tidak ada persiapan khusus.

Stimulasi Test
Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan menedeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan
terhadap kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian
sodium.

Kesimpulan
Diagnosis dari penyakit endokrin memerlukan keterpaduan dari suatu kumpulan data, termasuk
keterpaduan sejak dari riwayat dan pemeriksaan fisik dan dari uji laboratorium. Dengan adanya
kecanggihan dari uji dewasa ini, biasanya diagnosis dapat dibuat dengan pasti. Namun, terdapat
banyak situasi di mana sukar untuk mendapatkan suatu diagnosis yang jelas; dan prosedur untuk
membuat suatu diagnosis pasti lebih banyak mengandung risiko ketimbang penyakit dalam
jangka waktu pendek.
Pada kasus ini harus dibuat suatu keputusan untuk memantau pasien. , hal ini kadang-kadang
terjadi pada sindroma Cushing dependen-ACTH, di mana diferensiasi antara suatu tumor
karsinoid yang nyata dan suatu adenoma hipofisis yang kecil sebagai sumber dari hipersekresi
ACTH akan memerlukan prosedur invasif yang berisiko. Penghematan biaya dan efisiensi
diagnosis harus merupakan prioritas. Uji dewasa ini memungkinkan efisiensi dari diagnosis
maupun pengeluaran biaya pada tingkat yang tak terjadi sebelumnya. Dokter dapat
menghindarkan pengeluaran yang tak diperlukan melalui penggunaan keputusan yang baik.

REFERENSI
Vaitukaitis JL: Hormone assays. In Felig P. Endocrinology and Metabolism, 2nd ed.
McGrawHill,1987; 58-62.
Ekins R: Measurement of free hormones in blood. EndocrRev 1990;11:5

Hipofisis Anterior
Hormon Pertumbuhan Menstimulasi sintesis protein
dan pertumbuhan sebagian
besar sel dan jaringan
Thyroid- stimulating hormone (TSH) Menstimulasi sintesis dan
sekresi hormone tiroid
(tiroksin dan triiodotironin)
Adenocorticotropic hormone (ACTH) Menstimulasi sintesis dan
sekresi hormone adenokortikal
(kortisol, androgen, dan
aldosteron)
Prolaktin Meningktkan pembentukan
payudara wanta dan sekresi
susu
Follicle- stiulating hormone (FSH) Menimbulkan pertumbuhan
folikel di ovarium dan
pematangan sperma
Luteinzing hormone (LH) Menstimulasi sintesis
testosterone, merangsang
ovulasi, pembentukan korpus
luteum dan sintesis
progesterone dan estrogen
Hipofisis Posterior
Hormon antidiuretik (ADH)
(vasopressin)
Meningkatkan reabsorpsi air
oleh ginjal dan menimbulkan
vasokonstriksi dan
peningkatan tekanan darah
Oksitoksin Merangsang ejeksi air susu
dari payudara dan kontraksi
rahim
Kelenjar Tiroid
Tiroksin (T3) dan Triiodotironin (T4) Meningkatkan kecepatan
metabolisme tubuh
Kalsitonin
Menambah deposit kalsium di
tulang dan mengurangi
konsentrasi ion kalsium di
cairan ekstrasel
Kelenjar Paratiroid
Hormon paratiroid (PTH) Megatur konsentrasi ion
kalsium serum dengan cara
meningkatkan absorpsi
kalsium oleh usus dan ginjal
serta melepas kalsium dari
tulang

Pankreas Insulin Meningkatkan ambilan


glukosa
Glucagon Meningkatkan sintesis dan
pelepasan glukosa dari hati ke
dalam cairan tubuh
Korteks adrenal
Kortisol Mengatur metabolisme protein,
karbohidrat dan lemak, juga
memiliki efek antiinflamasi
Aldosteron Meningkatkan reabsoprsi
natrium ginjal, sekresi kalium
dan sekresi ion hidrogen
Medula adrenal Norepinefrin, epinefrin Memiliki efek yang sama
seperti efek perangsangan
simpatis
Ovarium
Estrogen Memacu pertumbuhan dan
perkembangan system
reproduksi wanita, payudara
wanita dan ciri seksual
sekunder wanita
Progesteron Menstimulasi sekresi getah
uterus oleh kelenjar
endometrium uterus dan
perkembangan alat pensekresi
di payudara
Testis Testosteron Memacu perkembangan
system reproduksi pria dan ciri
seksual sekunder pria
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11 ( textbook of medical physiology, 11
th
Edition) by Arthur C.
Guyton & John E. Hal

STATUS ASAM BASA


Adanya asidosis metabolik atau penurunan serum bikarbonat dapat membatu untuk
mendiagnosa syok. Asidosis metabolik dapat timbul karena hilangnya serum
bikarbonat seperti pada diare, yang dapat terjadi bersamaan dengan syok dan
dehidrasi. Dengan dilakukannya pengukuran level serum laktat, maka dapat
diketahui kehilangan bikarbonat akibat asidosis laktat karena syok
MONITORING PADA SYOK
Monitoring yang dilakukan pada syok meliputi monitoring hemodinamik respirasi
dan metabolic. Yang harus di ketahui pada syok: 1.
PaO2 -> diperlukan monitoring terutama pada PaO2 karena oksigenasi jaringan 2.
Asam Laktat -> asam laktat meniggi pada sepsis hiperdinamik dan kelainan enzim
piruvat dehidrogenase. Asam laktat ini meninggi 12 jam setelah terjadinya syok dan
juga indikasi terjadinya MOSF 3.
Indeks transport O2 -> dapat di catat dengan mengetahui kardiak indeks DO2 dan
VO2 yang harus di pertahankan di atas 2,1 l/mnt/m tubuh
STATUS ASAM BASA
Adanya asidosis metabolik atau penurunan serum bikarbonat dapat membatu untuk
mendiagnosa syok. Asidosis metabolik dapat timbul karena hilangnya serum
bikarbonat seperti pada diare, yang dapat terjadi bersamaan dengan syok dan
dehidrasi. Dengan dilakukannya pengukuran level serum laktat, maka dapat
diketahui kehilangan bikarbonat akibat asidosis laktat karena syok
MONITORING PADA SYOK
Monitoring yang dilakukan pada syok meliputi monitoring hemodinamik respirasi
dan metabolic. Yang harus di ketahui pada syok: 1.
PaO2 -> diperlukan monitoring terutama pada PaO2 karena oksigenasi jaringan 2.
Asam Laktat -> asam laktat meniggi pada sepsis hiperdinamik dan kelainan enzim
piruvat dehidrogenase. Asam laktat ini meninggi 12 jam setelah terjadinya syok dan
juga indikasi terjadinya MOSF 3.
Indeks transport O2 -> dapat di catat dengan mengetahui kardiak indeks DO2 dan
VO2 yang harus di pertahankan di atas 2,1 l/mnt/m tubuh
Download Pemeriksaan Laboratorium Pada Kelainan Sistem Endokrin

Transcript
PEMERIKSAAN LABORATORIUM PADA KELAINAN SISTEM ENDOKRIN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM PADA KELAINAN SISTEM ENDOKRIN dr. Tri Ariguntar W, SpPK Organ
Endokrin Diabetes Mellitus DM : penyakit metabolik kronik yang ditandai adanya
peningkatan glukosa dalam darah (hiperglikemia) Etiologi: - Resistensi insulin -

Sekresi insulin yang berkurang/rendah - Keduanya Pemeriksaan Lab Pemeriksaan


Glukosa : - Tes saring - Tes diagnostik - Tes monitoring - Tes mendeteksi komplikasi
Tes Saring Tes-tes saring pada DM adalah : Gula darah puasa (GDP) Gula darah
sewaktu (GDS) Tes urin : - Tes konvensional - Tes carik celup Tujuan : Untuk
mendeteksi kasus DM sedini mungkin shg dapat dicegah terjadinya komplikasi
kronik Indikasi (Faktor resiko) Usia > 45 tahun BB > 110% BB idaman atau IMT > 23
kg/m2 Hipertensi 140/90 mmHg Riwayat DM dalam garis keturunan Riwayat
abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BBL > 4000 gram Kolesterol HDL 35
mg/dl dan atau TG 250 mg/dl Tes Diagnostik GDP GDS Glukosa jam ke-2 TTGO
Tujuan : Untuk memastikan diagnosis DM pada individu dengan keluhan klinis khas
DM atau mereka yang terjaring pada tes saring Indikasi : poliuria, polidipsi,
polifagia, lemah, penurunan BB yang tidak jelas penyebabnya Tes saring dengan
hasil : a. GDS plasma vena = 110 199 mg/dl darah kapiler = 90 199 mg/dl; atau
b. GDP plasma vena = 110 125 mg/dl darah kapiler = 90 109 mg/dl; atau c. Tes
urin glukosa/reduksi positif Indikasi TTGO : a. Keluhan klinis tidak ada dan pada tes
diagnostik pertama : GDS plasma vena =110199 mg/dl GDP plasma vena =110
125 mg/dl b. Tes diagnostik pertama : GDS plasma vena 200 mg/dl GDP plasma
vena 126 mg/dl Setelah diulang : GDS plasma vena 200 Interpretasi hasil TTGO
Kriteria GDP 2 Jam TTGO GDPT 110 serta < 126 < 140 TGT < 126 140 serta <
200 DM 126 200 Tes Glukosa Urine PRAANALITIK Persiapan pasien sama
dengan persiapan pasien pada tes glukosa darah puasa dan tes glukosa darah post
prandial Tes HbA1c Hb A1c (Hb Adult 1c) atau tes A1c merupakan pedoman untuk
memonitor terapi DM karena dapat diperoleh informasi rata-rata kadar glukosa
darah selama 40 60 hari terakhir Frekuensi tes A1c disesuaikan dengan kebutuhan
pasien secara individual diantaranya : Terapi berdsrkan tipe DM Frekuensi yang
direkomendasikan DM tipe 1 dg terapi min./sedang 3 4 kali/tahun DM tipe 1 dg
terapi intensif Setiap 1 2 bulan DM tipe 2 2 kali/tahun utk pasien stabil DM
pregestasi Setiap 1 -2 bulan DM gestasi Setiap 1 -2 bulan PASCA ANALITIK
INTERPRETASI : Kriteria Pengendalian Kriteria A1c (%) Baik < 6,5 Sedang 6,5 - 8
Buruk > 8 Persiapan pemeriksaan HbA1c Tidak perlu puasa Hati-hati: glukosa >
1000mg/dL, bilirubin> 25 mg/dL< lipid > 2000 mg/dL Obat : antibiotik, antiepilepsi,
antidepresi, anti kanker, diuretik antihipertensi Hal yang harus

SISTEM ENDOKRIN PADA MANUSIA


Sistem Endokrin
PENGERTIAN
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang nengirimkan hasil sekresinya
langsung ke dalam darah ang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran
dan hasil sekresinya disebut hormon.
Beberapa dari organ endokrin ada yang menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal)
disamping itu juga ada yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon atau hormon ganda
misalnya kelenjar hipofise sebagai pengatur kelenjar yang lain.
FUNGSI KELENJAR ENDOKRIN
1. Menghasilkan hormon-hormon yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh
jaringan-jaringan dalam tubuh tertentu.
2. Mengontrol aktifitas kelenjar tubuh.

3. Merangsang aktifitas kelenjar tubuh.


4. Merangsang pertumbuhan jaringan.
5. Mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorpsi glukosa pada usus halus.
6. Mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral dan air.
KELENJAR ENDOKRIN PADA MANUSIA
A. KELENJAR HIPOFISE
Terdiri atas 2 buah lobus yang terletak disebelah kanan dari trakea diikat bersama oleh jaringan
tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Merupakan kelenjar yang terdapat di dalam
leher bagian depan bawah, melekat pada dinding Taring.
Atas pengaruh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar tiroid ini
dapat memproduksi hormon tiroksin.
Adapun fungsi dari hormon tiroksin; mengatur pertukaran zat/metabolisme dalam tubuh dan
mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani.
Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium
silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lekat
yaitu; Koloidae tiroid yang mengandung zat senyawa yodium dan dinamakan hormon tiroksin.
Sekret ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah baik langsung maupun melalui
saluran limfe.
Fungsi kelenjar tiroid, terdiri dari:
1) Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi.
2) Mengatur penggunaan oksidasi.
3) Mengatur pengeluaran karbondioksida.
4) Metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan.
5) Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Hipofungsi dapat menyebabkan penyakit kretinismus dan penyakit miksedema.
Hiperfungsi menyebabkan penyakit eksotalmikgoiter. Sekresi tiroid diatur oleh sebuah hormon
dari lobus anterior kelenjar hipofise yaitu oleh hormon tirotropik.
Fungsi kelenjar tiroid sangat eras bertalian dengan kegiatan metabolik dalam hal pengaturan
susunan kimia dan jaringan bekerja sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan
oksigen dan mengatur pengeluaran karbondioksida
Hiposekresi hipotiroidisme. Bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan sekret pada waktu bayi
mengakibatkan suatu keadaan yang dikenal sebagai kretinisme berupa hambatan pertumbuhan
mental dan fisik, pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan miksedema proses
metabolik mundur dan terdapat kecenderungan untuk, bertambah berat, geraknya lambat, cars
berfikir dan berbicara lamban, kulit menjadi tebal dan keringat, rambut rontok, suhu-badan di
bawah normal dan denyut nadi perlahan.
Hipersekresi penambahan sekresi kelenjar tiroid disebut hipertiroid dimana semua gejalanya
merupakan kebalikan dari miksedema yaitu: kecepatan metabolisme meningkat suhu tubuh
tinggi, berat badan turun, gelisah, mudah marah, denyut nadi naik.
Vaskuler mencakup fibrilasi atrium kegagalan jantung pada keadaan yang dikenal sebagai
penyakit trauma atau gondok eksoptalmus, mata menonjol keluar, efek ini disebabkan terlampau
aktifnya hormon tiroid, ada kalanya tidak hilang dengan pengobatan.
KELENJAR PARATIROID
Terletak disetiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher, kelenjar ini bedumlah 4 buah
yang tersusun berpasangan yang menghasilkan para hormon atau hormon para tiroksin. Kelenjar
paratiroid berjumlah 4 buah.
Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid menghasilkan
hormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh.
Hipoparatiroidisme. Terjadinya kekurangan kalsium di dalam darah atau hipokalsemia
mengakibatkan keadaan yang disebut tetani, dengan gejala khas kejang khususnya pada tangan
dan kaki disebut karpopedal spasmus, gejala-gejala ini dapat diringankan dengan pemberian
kalsium.
Hiperparatiroidisme. Biasanya ada sangkut pautnya dengan pembesaran (tumor) kelenjar.

Keseimbangan distribusi kalsium terganggu, kalsium dikeluarkan kembali dari tulang dan
dimasukkan kembali ke serum darah. Akibatnya terjadi penyakit tulang dengan tanda-tanda khas
beberapa bagian kropos. disebut osteomielitis fibrosa sistika karena terbentuk kristal pada tulang,
kalsiumnya diedarkan di dalam ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal dan kegagalan ginjal.
Fungsi paratiroid;
1. Mengatur metabolisme fospor.
2. Mengatur kadar kalsium darah.
Hipofungsi, mengakibatkan penyakit tetani. Hiperfungsi, mengakibatkan kelainan-kelainan
seperti; Kelemahan pada otot-otot, sakit pada tulang, kadar kalsium dalam darah meningkat
begitu juga dalam urin, dekolsifikasi dan deformitas, dapat juga terjadi patch tulang spontan.
Kelainan-kelainan di atas dapat juga terjadi pada tumor kelenjar paratiroid.
KELENJAR TIMUS
Terletak di dalarn mediastinum di belakang os sternum, kelenjar timus hanya dijumpai pada
anak-anak di bawah 18 tahun.
Kelenjar timus terletak di dalam toraks kira-kira setinggi bifurkasi trakea, warnanya kemerahmerahan dan terdiri atas 2 lobus. Pada bayi baru lahir sangat kecil danberatnya kira-kira 10grarn
atau lebih sedikit. Ukurannya bertambah pada masa remaja dari 30-40 gram kemudian berkerut
lagi.
Adapun hormon yang dihasilkan kelenjar timus berfungsi sebagai berikut;
1. Mengaktifkan pertumbuhan badan.
2. Mengurangi aktifitas kelenjar kelamin.
KELENJAR SUPRA RENALIS / ADRENAL
Kelenjer suprarenal jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan.
Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram. Kelenjar suprarenal ini terbagi atas 2
bagian yaitu:
1. Bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol yang disebut korteks.
2. Bagian medula yang menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan nor adrenalin (nor
epinefrin).
Zat-zat tadi disekresikan dibawah pengendalian sistem persarafan simpatis. Selcresinya
bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan takut Berta dalam keadaan asfiksia dan
kelaparan. Pengeluaran yang bertambah itu menaikkan tekanan darah guna melawan shok.
Noradrenalin menaikan tekanan darah dengan jalan meranigsang serabut otot didalam dinding
pembuluh darah untuk berkontraksi, adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan
menambah pengeluaran glukosa dari hati.
Beberapa hormon terpenting yang disekresikan oleh korteks adrenal adalah; Hidrokortison,
aldosteron dan kortikosteron. Semuanya bertalian eras dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi
ginjal dan kondisi otot.
Pada insufiesiensi adrenal (penyakit addison) pasien menjadi kurus dan nampak sakit paling
lemah, terutama karenatidak adanya hormon ini, sedangkan ginjal gagal menyimpan natrium
dalam jumlah terlampau banyak, penyakit ini diobati dengan kortison.
Fungsi kelenjar supra renalis bagian korteks terdiri dari ;
1. Mengatur keseimbangan air, elektrolit clan garamgaram.
2. Mengatur/mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein.
3. Mempengaruhi aktifitas jafingan limfoid.
Hipofungsi, menyebabkan penyakit addison. Hiperfungsi. Kelainan-kelainan yang timbul akibat
hiperfungsi mirip dengan tumor suprarenal bagian korteks dengan gejala-gejala pada wanita
biasa, terjadinya gangguan pertumbuhan seks sekunder.
Fungsi kelenjar suprarenalis bagian medula terdiri dari :
1. Vaso konstriksi pembuluh darah perifer.
2. Relaksasi bronkus.
Kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi perdarahan
pada operasi kecil.
KELENJAR PIENALIS (EPIFISE)

Kelenjar ini terdapat di dalam otak, di dalam ventrikel berbentuk kecil merah seperti sebuah
Gemara. Terletak dekat korpus.
Fungsinya belum diketahui dengan jelas, kelenjar ini menghasilkan sekresi interns dalam
membantu pankreas dan kelenjar kelamin.
KELENJAR PANKREATIKA
Terdapat pada belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alpa dan
beta. Sel alpa menghasilkan hormon glukago
n
sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon
insulin.
Hormon yang diberikan untuk pengobatan diabetes, insulin merupakan sebuah protein yang
dapat turut dicernakan oleh enzim-enzim pencernaan protein.
Fungsi hormon insulin
Insulin mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan sebagai pengobatan, memperbaiki
kemampuan sel tubuh untuk mengobservasi dan menggunakan glukosa dan lemak.
Pulau langerhans
Pulau-pulau langerhans berbentuk oval tersebar di seluruh pankreas dan terbanyak pada bagian
kedua pankreas.
Dalam tubuh manusia terdapat 1-2 juta pulau-pulau langerhans, sel dalam pulau ini dapat
dibedakan atas dasar granulasi dan pewarnaannya separuh dari sel ini mensekresi insulin, yang
lainnya menghasilkan polipeptida dari pankreas diturunkan pada bagian eksokrin pankreas.
Fungsi kepulauan langerhans; Sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatik nutrisi,
rnenghambat sekresi insulin, glikogen dan polipeptida pankreas serta mengnambat sekresi
glikogen.
KELENJAR KELAMIN
Kelenjar testika. Terdapat pada pria terletak pada skrotum menghasilkan hormon testosteron.
Fungsi hormon testosteron. Menentukan sifat kejantanan, misalnya adanya jenggot, kumis,
jakun dan lain-lain, menghasilkan sel mani (spermatozoid) serta mengontrol pekerjaan seks
sekunder pada laki-laki.
Kelenjar ovarika. Terdapat pada wanita, terletak pada ovarium di samping kiri dan kanan
uterus.
Menghasilkan hormon progesteron clan estrogen, hormon ini dapat mempengaruhi pekerjaan
uterus serta memberikan sifat kewanitaan, misalnya pinggul yang besar, bahu sempit dan lainlain.
Sistem Endokrin Dan Kerja Hormon Pada Tubuh Manusia.
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan
hormon yang
tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon
bertindak sebagai
"pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya
akan
menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan
kelenjar eksokrin
seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin
Beberapa organ ini menghasilkan zat-zat yang hanya beraksi di tempat pelepasannya, sedangkan
yang lainnya tidak
melepaskan produknya ke dalam aliran darah.
Contohnya, otak menghasilkan berbagai hormon yang efeknya terutama terbatas pada sistem
saraf.
Sistem Endokrin
HORMON
Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang
mempengaruhi kegiatan

di dalam sel-sel. Sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino
dengan panjang yang
berbeda-beda. Sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari
kolesterol. Hormon dalam
jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas.
Hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. Ikatan antara hormon dan
reseptor akan
mempercepat, memperlambat atau merubah fungsi sel. Pada akhirnya hormon mengendalikan
fungsi dari organ secara
keseluruhan:
# Hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan dan ciri-ciri
seksual
# Hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energi
# Hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam darah.
Beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya
mempengaruhi seluruh tubuh.
Misalnya, TSH dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid.
Sedangkan hormon tiroid
dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Insulin
dihasilkan oleh sel-sel
pulau pankreas dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh.
PENGENDALIAN ENDOKRIN
Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa
menjadi tinggi atau rendah,
sehingga mengganggu fungsi tubuh. Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan
setiap hormon harus diatur
dalam batas-batas yang tepat. Tubuh perlu merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan
lebih banyak atau lebih
sedikit hormon.
Hipotalamus dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika mereka merasakan bahwa kadar
hormon lainnya yang
mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Hormon hipofisa lalu masuk ke dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target.
Jika kadar hormon
kelenjar target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar hipofisa mengetahui
bahwa tidak diperlukan
perangsangan lagi dan mereka berhenti melepaskan hormon.
Sistem umpan balik ini mengatur semua kelenjar yang berada dibawah kendali hipofisa.
Hormon tertentu yang berada dibawah kendali hipofisa memiliki fungsi yang memiliki jadwal
tertentu. Misalnya, suatu
siklus menstruasi wanita melibatkan peningkatan sekresi LH dan FSH oleh kelenjar hipofisa
setiap bulannya. Hormon
estrogen dan progesteron pada indung telur juga kadarnya mengalami turun-naik setiap
bulannya.
Mekanisme pasti dari pengendalian oleh hipotalamus dan hipofisa terhadap bioritmik ini masih
belum dapat dimengerti.
Tetapi jelas terlihat bahwa organ memberikan respon terhadap semacam jam biologis.
Faktor-faktor lainnya juga merangsang pembentukan hormon.
Prolaktin (hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisa) menyebabkan kelenjar susu di
payudara menghasilkan susu.
Isapan bayi pada puting susu merangsang hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak prolaktin.
Isapan bayi juga

meningkatkan pelepasan oksitosin yang menyebabkan mengkerutnya saluran susu sehingga susu
bisa dialirkan ke mulut
bayi.
Kelenjar semacam pulau pakreas dan kelenjar paratiroid, tidak berada dibawah kendali hipofisa.
Mereka memiliki sistem
sendiri untuk merasakan apakah tubuh memerlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.
Misalnya kadar insulin meningkat segera setelah makan karena tubuh harus mengolah gula dari
makanan. Jika kadar
insulin terlalu tinggi, kadar gula darah akan turun sampai sangat rendah.
Sistem Endokrin pada Manusia
Nov 18
1. Pengertian Sistem Endokrin
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan
hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain.
Sistem endokrin disusun oleh kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin mensekresikan
senyawa kimia yang disebut hormon. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa steroid
yang mengatur kerja proses fisiologis tubuh.
Sistem Endokrin disebut juga kelenjar buntu, yaitu kelenjar yang tidak mempunyai saluran
khusus untuk mengeluarkan sekretnya. Sekret dari kelenjar endokrin dinamakan hormon.
Dasar dari sistem endokrin adalah hormon dan kelenjar (glandula), sebagai senyawa kimia
perantara, hormon akan memberikan informasi dan instruksi dari sel satu ke sel lainnya. Banyak
hormon yang berbeda-beda masuk ke aliran darah, tetapi masing-masing tipe hormon tersebut
bekerja dan memberikan pengaruhnya hanya untuk sel tertentu
Apa yang menyebabkan anda merasa haus ketika habis berolahraga? apa yang menyebabkan rasa
haus itu hilang ketika anda meminum air? Atau apa yang menyebabkan pria bisa tertarik kepada
wanita dan juga sebaliknya? Selain itu siapa yang bertanggung jawab mengendalikan
pertumbuhan tubuh hingga tinggi dan berat tubuh manusia beragam? Hormon! Itulah jawaban
dari seluruh pertanyaan di atas
Hormon adalah zat kimiawi yang bias menggerakan tubuh sebagai respon agar stabilitas tubuh
terjaga. Hormon juga berasal dari bahasa yunani, yaitu hormaen yang artinya menggerakkan.
Hormon juga sejatinya adalah zat yang hanya ada sedikit di dalam tubuh namun tak diragukan
lagi fungsi dan kegunannya.
Fungsi Hormon adalah:
1. Memacu pertumbuhan dan metabolisme tubuh
2. Memacu reproduksi
3. Mengatur keseimbangan cairan tubuh/homeostasis
4. Mengatur tingkah laku
2. Karakteristik Sistem Endokrin
Hormon bekerja dalam sistem umpan balik, yang memungkinkan tubuh untuk dipertahankan
dalam situasi lingkungan optimal. Hormon mengontrol laju aktivitas selular. Hormon tidak
mengawali perubahan biokimia, hormon hanya mempengaruhi sel-sel yang mengandung reseptor
yang sesuai, yang melakukan fungsi spesifik.
Hormon mempunyai fungsi dependen dan interdependen. Pelepasan hormon dari satu kelenjar
sering merangsang pelepasan hormon dari kelenjar lainnya. Hormon secara konstan di
reactivated oleh hepar atau mekanisme lain dan diekskresi oleh ginjal.
Hormon disekresi dalam salah satu dari tiga pola berikut:
1. Sekresi diurnal adalah pola yang naik dan turun dalam periode 24 jam. Kortisol adalah contoh
hormon diurnal. Kadar kortisol meningkat pada pagi hari dan turun pada malam hari.
2. Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik turun sepanjang waktu tertentu, seperti bulanan.
Estrogen adalah non siklik dengan puncak dan lembahnya menyebabkan siklus menstruasi.
3. Tipe sekresi hormonal yang ketiga adalah variabel dan tergantung pada kadar subtrat lainnya.
Hormon paratiroid disekresi dalam berespons terhadap kadar kalsium serum.
3. Fungsi Sistem Endokrin secara Umum

Fungsi sistem endokrin antara lain:


1. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang.
2. Menstimulasi urutan perkembangan.
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif.
4. Memelihara lingkungan internal optimal.
5. Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat.
4. Sel-sel Penyusun Organ Sistem Endokrin
Sel-sel penyusun organ sstem endokrin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut
1. Sel Neusekretori, adalah sel yang berbentuk seperti sel saraf, tetapi berfungsi sebagai
penghasil hormon. Contoh sel neusekretori ialah sel saraf pada hipotalamus. Sel tersebut
memperhatikan fungsi endokrin sehingga dapat juga disebut sebagai sel neuroendokrin.
Sesungguhnya, semua sel yang dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori.
Oleh karena itu, sel saraf seperti yang terdapat pada hipotalamus disebut sel neusekretori.
2. Sel endokrin sejati, disebut juga sel endokrin klasik yaitu sel endokrin yang benar-benar
berfungsi sebagai penghasil hormon, tidak memiliki bentuk seperti sel saraf. Kelenjar
endokrin sejati melepaskan hormon yang dihasilkannya secara langsung ke dalam darah
(cairan tubuh).
5. Macam-Macam Kelenjar Endokrin dan Letak Masing-Masing Kelenjar serta
Fungsinya
Dalam tubuh manusia, terdapat beberapa jenis kelenjar endokrin untuk memproduksi hormon,
yaitu:
A. Berdasarkan aktivitasnya :
1. Kelenjar yang bekerja sepanjang masa
Kelenjar golongan ini akan bekerja terus menerus sepanjang kehidupan manusiadan akan
terhenti jika sudah tidak ada kehidupan pada manusia tersebut. Sehinggatidak terbatas pada usia.
Contoh: Hormon metabolisme.
2. Kelenjar yang bekerjanya mulai masa tertentu
Hormon golongan ini tidak akan dapat berfungsi jika belum mencapai prosesperkembangan
dalam diri manusia atau proses pendewasaan sel yang terjadi dalamtubuh manusia. Kedewasaan
sel akan terjadi pada saat usia tertentu seperti pada saatusia pubertas. Contoh: Hormon kelamin.
3. Kelenjar yang bekerja sampai pada masa tertentu
Hormon golongan ini bekerja pada saat manusia itu dilahirkan sampai pada usia tertentu. Pada
usia tersebut terjadi proses pertumbuhan dari seluruh organ-organ tubuh manusia sampai dengan
penyempurnaan organ. Sehingga masing-masing organ tersebut dapat berfungsi sebagaimana
mestinya. Kecuali organ yang membutuhkan persyaratan kedewasaan sel. Hormon ini akan
berhenti dihasilkan pada saat tubuh mulai memperlambat atau menghentikan proses
pertumbuhan. Biasanya hormon ini bekerja pada kisaran usia 0 hari sampai 17 tahun (masa
pertumbuhan). Contoh: Hormon pertumbuhan, kelenjar tymus.
B. Berdasarkan letaknya :
1. Kelenjar Hipofisis/pituitari di dasar cerebrum, di bawah hipotalamus
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus dan hipofisis. Aktivitas endokrin
dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem
persarafan dengan sistem endokrin. Dalam berespons terhadap input dari area lain dalam otak
dan dari hormon dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon realising
dan inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pituitari yang mengatu
pembentukan dan sekresi hormon hipofisis. Hipotalamus dan kelenjar hipofisis dihubungkan
oleh infundibulum. Hormon yang disekresi dari setiap kelenjar endokrin dan kerja dari masingmasing hormon. Perhatikan bahwa setiap hormon yang mempengaruhi organ dan jaringan
terletak jauh dari tempat kelenjar induknya. Misalnya oksitosin, yang dilepaskan dari lobus
posterior kelenjar hipofisis, menyebabkan kontraksi uterus. Hormon hipofisis yang mengatur
sekresi hormon dari kelenjar lain disebut hormon tropik. Kelenjar yang dipengaruhi oleh hormon
disebut kelenjar target.
Kelenjar hipofisis berukuran tidak lebih besar dari kacang tanah terletak terlindung di dasar

tengkorak. Kelenjar ini terbagi atas 2 bagian, bagian depan dan bagian belakang. Bagian
belakang merupakan kelanjutan dari hipotalamus (bagian dari otak). Hormon pertumbuhan
banyak dihasilkan selama masa pertumbuhan, tetapi menurun setelah manusia mencapai usia
dewasa. Jika hormon itu dihasilkan dalam jumlah berlebih selama masa pertumbuhan, akan
didapatkan anak menjadi sangat tinggi.
Kelenjar hipofisis juga disebut dengan kelenjar pituitary, kelenjar ini dikenal sebagai master of
glands (raja dari semua kelenjar) karena pituitari itu dapat mengkontrol kelenjar endokrin
lainnya.
Sekresi hormon dari kelenjar pituitari ini dipengaruhi oleh faktor emosi dan perubahan iklim.
Pituitari dibagi 2 bagian, yaitu anterior dan posterior. Kelenjar pituitari merangsang pengeluaran
hormon pertumbuhan (Growth Hormone/GH). Pengeluaran hormon GH dirangsang oleh hormon
pelepas pertumbuhan (Growth Hormone Relasing Factor/GHRF) yang di reproduksi oleh
hipotalamus. Selain itu terdapat juga hormon yang fungsinya berlawanan dengan GHRF, yaitu
hormon pelepas yang sifatnya menghambat yang juga dihasilkan oleh hipotalamus.
Macam-macam hormon yang dihasilkan oleh kelenjar ini, antara lain:
1. STH (Somatotrof Hormone)/ GH (Growth Hormon)/ Somatotropin. Fungsi Hormon STH
(Somatotrof Hormone)/GH (GrowthHormon)/Somatotropin:
1. Memacu pertumbuhan terutama pada peristiwa osifikasi, pada cakraepifise.
2. Mengatur metabolisme lipid dan karbohidrat.
3. LTH (Luteotropic Hormone)/ Prolactin/ Lactogenic Hormone, Fungsi Hormon
LTH (Luteotropic Hormone)/Prolactin/Lactogenic Hormone yaitu untuk
merangsang kelenjar mammae/kelenjar susu untuk menghasilkan air susu dan
untuk memacu ovarium untuk menghasilan hormon estrogen dan progesterone.
Mempunyai simbol PRL
4. TSH (Thyroid Stimulating Hormone)/TREOTROP/Tirotropin: Hormon ini
berfungsi untuk merangsang sekresi kelenjar tiroid.
5. ACTH (Adrenocorticotropic Hormone)/ADRENOTROPIN/Corticotropin:
Hormon ini berfungsi untuk merangsang kerja kelenjar adrenal.
6. Gonadotropic/Hormon Kelamin
FSH/Folicle Stimulating Hormone: memengaruhi pembentukan folikel selovum dan
proses spermatogenesis.
LH (Luteinizing Hormone) atau ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone): Berfungsi
untuk memacu sekresi hormon testosteron pada sel Leydig dan proses ovulasi sel ovum.
2. Kelenjar pineal/epipisis di cerebrum
Ada dua macam hormon yang ada pada kelenjar ini, yaitu:
Hormon melatonin: warna/pigmen kulit melanin. Hormon ini dapat juga mengaturrasa
kantuk pada diri seseorang. Pada remaja hormon ini dihasilkan lebih banyak
biladibandingkan dengan orang dewasa.
o Hormon vasotocin (Mammalia): mirip fungsinya dengan vasopresin dan
oksitosin
1. Kelenjar tiroid di daerah leher
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yaitu T3, T4 dan sedikit kalsitonin. Hormon T3
dan T4 dihasilkan oleh folikel sedangkan kalsitonin dihasilkan oleh parafolikuler. Bahan dasar
pembentukan hormon-hormon ini adalah yodium yang diperoleh dari makanan dan minuman.
Yodium yang dikomsumsi akan diubah menjadi ion yodium (yodida) yang masuk secara aktif ke
dalam sel kelenjar dan dibutuhkan ATP sebagai sumber energi. Proses ini disebut pompa iodida,
yang dapat dihambat oleh ATP-ase, ion klorat dan ion sianat.
Sel folikel membentuk molekul glikoprotein yang disebut Tiroglobulin yang kemudian
mengalami penguraian menjadi monoiodotironin (MIT) dan Diiodotironin (DIT). Selanjutnya
terjadi reaksi penggabungan antara MIT dan DIT yang akan membentuk Triiodotironin atau T3
dan DIT dengan DIT akan membentuk tetraiodotironin atau tiroksin (T4). Proses penggabungan
ini dirangsang oleh TSH namun dapat dihambat oleh tiourea, tiourasil, sulfonamid, dan metil

kaptoimidazol. Hormon T3 dan T4 berikatan dengan protein plasma dalam bentuk PBI (protein
binding Iodine).
Kelenjar tiroid atau kelenjar gondok berbentuk mirip kupu-kupu yang menempel di bagian depan
batang tenggorok (trachea). Kelenjar ini ikut naik turun pada waktu menelan. Pembesaran
kelenjar tiroid disebut goiter atau struma. Pembesaran ini dapat disebabkan oleh kebanyakan
produksi hormone atau karena kekurangan iodium hingga produksi hormon berkurang, dan pada
kasus lain karena tumor. Produksi hormon yang berlebihan dapat menyebabkan gejala jantung
berdebar, yang bila berlarut-Iarut akan melemahkan jantung, banyak keringat dan berat badan
turun, serta mata menonjol seperti ikan koki. Pembesaran tiroid yang aktif disebut hot nodule dan
yang tidak aktif disebut cold nodule.
4. Kelenjar paratiroid di dekat kelenjar tiroid
Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh
karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah. Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu
chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid,
mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon disingkat PTH.
Kelenjar paratiroid menghasilkan parathormon yang turut mengatur kadar calcium darah.
Kelenjar ini berukuran sebesar beras, berjumlah 4, terletak di sudut-sudut kelenjar tiroid, karena
itu kadang-kadang ikut terpotong pada operasi tiroid. Jika itu terjadi, bagi yang bersangkutan
tidak terlalu menjadi masalah jika masih ada 1-2 kelenjar yang tertinggal. Tanpa kelenjar ini
yang bersangkutan akan mengalami kejang otot karena gangguan kadar calcium darah.
Parathormon mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh. Organ targetnya adalah tulang,
ginjal dan usus kecil (duodenum). Terhadap tulang, PTH mempertahankan absorpsi tulang
sehingga kalsium serum meningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D. Dengan
vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat dari intestin. Selain
itu hormon ini pun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan
pengeluaran Posfat, HCO
3
dan Na. Karena sebagian besar kalsium disimpan di tulang maka efek
PTH lebih besar terhadap tulang. Faktor yang mengontrol sekresi PTH adalah kadar kalsium
serum di samping tentunya PTSH.
5. Kelenjar timus di rongga dada
Merupakan penimbunan dari hormon somatotrof dalam tubuh. Hormon ini dihasilkan selama
masa pertumbuhan sampai dengan masa pubertas, setelah melewati mas pubertas, secara
perlahan hormon ini akan berkurang sedikit demi sedikit.
Hormon ini berfungsi :
1. Mengatur proses pertumbuhan.
2. Kekebalan tubuh/imunitas setelah kelahiran.
3. Memacu pertumbuhan dan pematangan sel Limfosit yang menghasilkan Lymphocyte
cell/T Cell.- Bila kekurangan atau kelebihan, gejalanya hampir mirip dengan hormon
tiroksin.
6. Kelenjar adrenal/suprarenalis
Terletak di kutub atas kedua ginjal. Disebut juga sebagai kelenjar suprarenalis karena letaknya di
atas ginjal. Dan kadang juga disebut sebagai kelenjar anak ginjal karena menempel pada ginjal.
Kelenjar adrenal terdiri dari dua lapis yaitu bagian korteks dan bagian medulla. Keduanya
menunjang dalam ketahanan hidup dan kesejahteraan, namun hanya korteks yang esensial untuk
kehidupan.
Kelenjar suprarenal, bagian pinggir (cortex) dan tengah (medulla). Bagian cortex menghasilkan
hormon pengatur keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh (adrenocorticotrophichormone
ACTH) dan vital untuk kehidupan. Bagian medulla menghasilkan adrenalin dan juga merupakan
bagian dari sistem simpatis. Kelenjar suprarenal juga menghasilkan sex-hormone dalarn jumlah
sedikit.
Bagian-bagian korteks, yaitu:
a. Korteks adrenal esensial untuk bertahan hidup. Kehilangan hormon adrenokortikal dapat

menyebabkan kematian. Korteks adrenal mensintesa tiga kelas hormon steroid yaitu
mineralokortikoid, glukokortikoid, dan androgen.
b. Mineralokortikoid (pada manusia terutama adalah aldosteron) dibentuk pada zona glomerulosa
korteks adrenal. Hormon ini mengatur keseimbangan elektrolit dengan meningkatkan retensi
natrium dan ekskresi kalium. Aktivitas fisiologik ini selanjutnya membantu dalam
mempertahankan tekanan darah normal dan curah jantung. Defisiensi mineralokortikoid
mengarah pada hipotensi, hiperkalemia, penurunan curah jantung, dan dalam kasus akut, syok.
Kelebihan mineralokortikoid mengakibatkan hipertensi dan hipokalemia.
c. Glukokortikoid dibentuk dalam zona fasikulata. Kortisol merupakan glukokortikoid utama
pada manusia. Kortisol mempunyai efek pada tubuh antara lain dalam: metabolism glukosa
(glukosaneogenesis) yang meningkatkan kadar glukosa darah; metabolisme protein;
keseimbangan cairan dan elektrolit; inflamasi dan imunitas; dan terhadap stresor.
d. Hormon seks korteks adrenal mensekresi sejumlah kecil steroid seks dari zona retikularis.
Umumnya adrenal mensekresi sedikit androgen dan estrogen dibandingkan dengan sejumlah
besar hormon seks yang disekresi oleh gonad. Namun produksi hormon seks oleh kelenjar
adrenal dapat menimbulkan gejala klinis. Misalnya, kelebihan pelepasan androgen menyebabkan
virilisme. Sementara kelebihan pelepasan estrogen menyebabkan ginekomastia dan retensi
natrium dan air.
7. Kelenjar pulau langerhans/pankreas di rongga perut
Kelenjar pancreas melalui pulau-pulau langerhans yang tersebar di dalamnya menghasilkan
hormon insulin dan glucagon. Kedua hormon ini mengatur kadar dan penggunaan glukosa dalarn
darah. Gangguan produksi hormon insulin mengakibatkan terjadinya penyakit diabetes mellitus.
Pankreas terletak di retroperiotoneal rongga abdomen bagian atas, dan terbentang horizontal dari
cincin duodenal ke lien. Panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 2.5-5 cm. mendapat pasokan darah
dari arteri mensenterika superior dan splenikus.
Pankreas berfungsi sebagai organ endokrin dan eksokrin. Fungsinya sebagai organ endokrin
didukung oleh pulau-pulau Langerhans. Pulau-pulau Langerhans terdiri tiga jenis sel yaitu; sel
alpha yang menghasilkan glukoagon, sel beta yang menghasilkan insulin, dan sel deltha yang
menghasilkan somatostatin namun fungsinya belum jelas diketahui
Organ sasaran kedua hormon ini adalah hepar, otot dan jaringan lemak. Glukagon dan insulin
memegang peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bahkan
keseimbangan kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh kedua hormon ini. Fungsi kedua hormon
ini saling bertolak belakang. Kalau secara umum, insulin menurunkan kadar gula darah
sebaliknya untuk glukagon meningkatkan kadar gula darah. Perangsangan glukagon bila kadar
gula darah rendah, dan asam amino darah meningkat. Efek glukoagon ini juga sama dengan efek
kortisol, GH dan epinefrin. Dalam meningkatkan kadar gula darah, glukagon merangsang
glikogenolisis (pemecahan glikogen menjadi glukosa) dan meningkatkan transportasi asam
amino dari otot serta meningkatkan glukoneogenesis (pemecahan glukosa dari yang bukan
karbohidrat). Dalam metabolisme lemak, glukagon meningkatkan lipolisis (pemecahan lemak).
Dalam menurunkan kadar gula darah, insulin sebagai hormon anabolik terutama akan
meningkatkan difusi glukosa melalui membran sel di jaringan.
Efek anabolik penting lainnya dari hormon insulin adalah sebagai berikut:
a. Efek pada hepar
1) Meningkatkan sintesa dan penyimpanan glukosa
2) Menghambat glikogenolisis, glukoneogenesis dan ketogenesis
3) Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas di hepar
b. Efek pada otot
1) Meningkatkan sintesis protein
2) Meningkatkan transportasi asam amino
3) Meningkatkan glikogenesis
c. Efek pada jaringan lemak
1) Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas
2) Meningkatkan penyimpanan trigliserida

3) Menurunkan lipolisis
8. Kelenjar Usus dan lambung di rongga perut
Terdapat dua hormon pada kelenjar usus, yaitu:
1. Hormon Sekretin, berfungsi memacu sekresi getah usus dan pankreas.
2. Hormon Kolesistokinin, berfungsi memacu sekresi getah empedu dan pankreas.
9. Kelenjar kelamin
Kelenjar kelamin atau kelenjar gonad menghasilkan hormon dan dua sel kelamin. Dua sel
kelamin tersebut, yaitu:
1. Ovarium di rongga perut
Ovarium berfungsi sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Sebagai organ endokrin,
ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Sebagai organ reproduksi, ovarium
menghasilkan ovum (sel telur) setiap bulannya pada masa ovulasi untuk selanjutnya siap untuk
dibuahi sperma. Estrogen dan progesteron akan mempengaruhi perkembangan seks sekunder,
menyiapkan endometrium untuk menerima hasil konsepsi serta mempertahankan proses laktasi.
Estrogen dibentuk di sel-sel granulosa folikel dan sel lutein korpus luteum. Progesteron juga
dibentuk di sel lutein korpus luteum.
1. Testis di rongga perut bawah
Dua buah testes ada dalam skrotum. Testis mempunyai dua fungsi yaitu sebagai organ endokrin
dan organ reproduksi. Menghasilkan hormon testosteron dan estradiol di bawah pengaruh LH.
Testosteron diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis sementara FSH diperlukan
untuk memulai dan mempertahankan spermatogenesis. Estrogen mempunyai efek menurunkan
konsentrasi testosteron melalaui umpan balik negatif terhadap FSH sementara kadar testosteron
dan estradiol menjadi umpan balik negatif terhadap LH. Fungsi testis sebagai organ reproduksi
berlangsung di tubulus seminiferus. Efek testosteron pada fetus merangsang diferensiasi dan
perkembangan genital ke arah pria. Pada masa pubertas hormon ini akan merangsang
perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti perkembangan bentuk tubuh, pertumbuhan dan
perkembangan alat genital, distribusi rambut tubuh, pembesaran laring dan penebalan pita suara
serta perkembangan sifat agresif. Sebagai hormon anabolik, akan merangsang pertumbuhan dan
penutupan epifisis tulang.
6. Sistem Kerja Hormon
Kerja sistem endokrin lebih lambat dibandingkan dengan sistem saraf, sebab untuk mencapai sel
target hormone harus mengikuti aliran sistem transportasi. Hormon bekerja sama dengan sistem
saraf untuk mengatur pertumbuhan dan tingkah keseimbangan internal, reproduksi dan tingkah
laku. Kedua sistem tersebut mengaktifkan sel untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya
dengan menggunakan messenger kimia. Hormon bertindak sebagai pembawa pesan atau
messenger kimia dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, dan mempengaruhi
sel target yang ada di seluruh tubuh, dan selanjutnya sel target akan menerjemahkan pesan
tersebut menjadi suatu tindakan.
Messenger kimia dalam sistem neuron adalah neurotransmitter. Neurotransmitter bergerak
melalui celah sinapsis, hingga mencapai sel target. Sel target memiliki reseptor sebagai alat
untuk mengenali impuls atau rangsangan. Ikatan antara reseptor dengan hormon di dalam atau di
luar sel target, menyebabkan respon pada sel target.
7. Zat-Zat Kimia yang Menyerupai Hormon
Terdapat sejumlah zat kimia yang menyerupai hormon, antara lain
Hormon Timik: Hormon dari kelenjar timus (thymus), berperan untuk mempengaruhi
perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma, yaitu sel penghasil antibodi.
Hormon Brakidin: Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang sedang aktif, bekerja
sebagai vasodilator (yang menyebabkan pembuluh darah membesar) sehingga dapat
meningkatkan aliran darah dan merangsang pengeluaran keringat dan air ludah dalam
jumlah lebih banyak.
Hormon Eritropuitin: Merupakan glikoprotein yang proses sintesisnya melibatkan hati
dan ginjal, hormon ini dapat merangsang pusat pembentukan sal darah di sumsum tulang

sehingga tubuh akan menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang lebih banyak. Hal
ini bermanfaat dalam meningkatkan jumlah oksigen yang dapat diangkut oleh darah.
Hormon Prostaglin, Eritropuitin, Histamin, Kinin, dan Renin dapat disintesis secara luas
oleh berbagai jaringan tua organ yang sebenarnya tidak berfungsi sebagai organ endokrin.
Hormon Feromon: suatu senyawa kimia spesifik yang dilepaskan oleh hewan ke
lingkunganya dan dapat menimbulkan respons perilaku, perkembangan, reproduktif. Dan
untuk memberikan daya tarik seksual, menandai daerah kekuasaan, mengenali individu
lain dalam spesies yang sama dan berperan penting dalam sinkronisasi siklus seksual.