Anda di halaman 1dari 14

PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR, BANGUNAN PELENGKAP DAN PERLENGKAPAN

JALAN SIMPANG 3 BALITRA JALAN GOLF STA.2+800 S/D STA.4+800 (LINGKAR UTARA)
KOTA MADYA BANJARBARU
Bahrul Amin
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

ABSTRAK
Jaringan jalan raya merupakan sarana transportasi yang sangat penting. Jalan Sp. 3 Balitra Jalan Golf Kotamadya
Banjarbaru merupakan rencana Jalan Lingkar Utara yang menjadi akses jalan alternatif bagi warga Banjarbaru yang ingin
menempuh jalur luar perkotaan tanpa harus terjebak kemacetan pada ruas jalan Jendral.
Perencanaan jalan ini bertujuan untuk mendapatkan tebal perkerasan lentur dengan berpedoman pada Perancangan
Tebal Perkerasan Lentur Nomor 02/M/BM/2013 yang dikontrol menggunakan Pedoman Perkerasan Lentur Pt.T-01-2002-B
serta merencanakan bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan Simpang 3 Balitra Jalan Golf.
Pada perencanaan tebal struktur perkerasan lentur dengan menggunakan pedoman Perancangan Tebal Perkerasan
Lentur Nomor 02/M/BM/2013 didapat lapis permukaan = 4 cm (AC-WC); lapis sub permukaan 1 = 6 cm (AC-BC); lapis
sub permukaan 2 = 18 cm (AC-BC); lapis pondasi = 30 cm (Agr. A). Dengan menggunakan pedoman Perkerasan Lentur
Pt.T-01-2002-B didapat lapis permukaan = 4 cm (AC-WC); lapis sub permukaan 1 = 6 cm (AC-BC); lapis sub permukaan
2 = 6 cm (AC Base); lapis pondasi = 10 cm (Agr. A) dan lapis pondasi bawah = 15 cm (Agr. B) lalu diambil tebal
perkerasan yang efisien dengan Pedoman Perancangan Tebal Perkerasan Lentur Pt. T-01-2002-B. Selain itu dalam
penulisan tugas akhir ini juga membahas tentang perencanaan bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan simpang 3
Balitra jalan Golf.

Kata kunci : Perkerasan Jalan Lentur 02/M/BM/2013, Pedoman Perkerasan Lentur Pt T-01-2002-B.

PENDAHULUAN

I. Jenis Perkerasan Jalan

Seringnya terjadi tundaan pada ruas jalan

Perkerasan jalan adalah lapisan atau badan

utama Banjarbaru (Jalan Jendral Ahmad Yani),

jalan

sehingga

campuran antara agregat dan bahan ikat. Perkerasan

memerlukan

sarana

dan

prasarana

transportasi alternatif yang dapat menghubungkan

yang

menggunakan

bahan

khusus,

yaitu

jalan dibedakan menjadi empat bagian, yaitu :

menuju ke pusat kota. Salah satu kawasan atau daerah

1.

Perkerasan Lentur (Flexible Pavement),

yang diperlukan peningkatan infrastruktur jalan yaitu

2.

Perkerasan Kaku (Rigid Pavement),

ruas jalan Sp. 3 Balitra Jalan Golf Kotamadya

3.

Perkerasan Komposit (Composite Pavement),

Banjarbaru.

4.

Perkerasan Paving Block (Concrete Pavement).

Jalan Sp. 3 Balitra Jalan Golf Kotamadya

II.

Banjarbaru merupakan rencana Jalan Lingkar Utara

1.

yang menjadi akses jalan alternatif bagi warga yang

Struktur Perkerasan Jalan


Perkerasan Berbutir dan Perkerasan Beton Semen
terdiri dari :

ingin menempuh jalur luar perkotaan tanpa harus

a.

Lapis Pondasi Agregat,

terjebak kemacetan pada ruas jalan Jendral. Ahmad

b.

Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal,

Yani. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan

c.

Perkerasan Beton Semen,

perkerasan serta desain sarana dan prasarana pada ruas

d.

Lapis Pondasi Semen Tanah, dan

jalan Sp. 3 Balitra Jalan Golf demi memudahkan

e.

Lapis Pondasi Atas Bersemen dan Lapis

akses jalan dan mengurangi kemacetan pada ruas jalan


Jendral Ahmad Yani.

Pondasi Bawah Bersemen (CTB & CTSB).


2.

a. Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat,

TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

b. Laburan Aspal Satu Lapis (Burtu) dan

Tujuan dari perencanaan ini adalah:


1.

2.

Laburan Aspal Dua Lapis (Burda),

Merencanakan tebal perkerasan lentur (flexible

c. Campuran Beraspal Panas,

pavement) pada ruas Sp. 3 Balitra Jalan Golf

d. Lasbutag dan Latasbusir,

(STA.02+800 STA04+800) dengan metode

e. Lapis Penetrasi Macadam, dan

No.02/M/BM/2013.

f. Pemeliharaan dengan Laburan Aspal.

Mengoreksi desain tebal perkerasan lentur dengan

III. Klasifikasi Jalan

Metode PT T-01-2002-B.
3.

Perkerasan Aspal terdiri dari :

Pengelompokkan

jalan

menurut

muatan

Mendesain bangunan pelengkap dan perlengkapan

sumbu yang disebut juga kelas jalan, terdiri dari:

jalan pada ruas jalan Sp.3 Balitra Jalan Golf

1.

(STA.02+800 STA04+800).

sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10


ton.

TINJAUAN PUSTAKA
Manual Desain Perkerasan Jalan Nomor
02/M/BM/2013

merupakan

Jalan Kelas I, yaitu jalan arteri dengan muatan

2.

pelengkap pedoman

perkerasan Pd T-01-2002-B. Manual desain perkerasan

Jalan Kelas II, yaitu jalan arteri dengan muatan


sumbu terberat yang diizinkan 10 ton.

3.

Jalan Kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor

ini digunakan untuk menghasilkan desain awal

dengan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8

(berdasarkan bagan desain) yang kemudian hasil

ton.

tersebut diperiksa terhadap pedoman desain perkerasan


Pd T-01-2002-B.

4.

Jalan Kelas III B, yaitu jalan kolektor dengan


muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

5.

Jalan Kelas III C, yaitu jalan lokal dan jalan

tema penulisan tugas akhir ini, baik melalui buku-

lingkungan dengan muatan sumbu terberat yang

buku, makalah-makalah hasil seminar, jurnal, karya

diizinkan 8 ton.

tulis lainnya maupun bahan-bahan yang didapatkan


dari bangku kuliah.

IV. Penampang Melintang Jalan


Penampang

melintang

jalan

merupakan

2.

Survey Pendahuluan

potongan melintang tegak lurus sumbu jalan. Pada

Merupakan kegiatan survey dilapangan dalam

potongan melintang jalan dapat terlihat bagian-bagian

skala

jalan.

menghimpun data-data lapangan secara visual di lokasi

V.

tempat pekerjaan akan dilakukan.

Perhitungan Tebal Perkerasan dengan Manual

kecil

sebelum

pengumpulan

data

untuk

a.

Melihat langsung kondisi jalan secara umum

Berdasarkan Pedoman Perancangan Tebal

b.

Menentukan titik awal dan akhir lokasi penelitian

Perkerasan Lentur Manual Desain Perkerasan Jalan

c.

Mengambil foto-foto keadaan jalan dan lingkungan

Desain Perkerasan Jalan No. 02/M/BM/2013

Nomor 02/M/BM/2013 Kementrian Pekerjaan Umum


Direktorat Jenderal Bina Marga tahun 2013.
VI. Check Kecukupan Struktur Relatif

di sekitar lokasi penelitian.


II.

dan

Pengumpulan Data

1. Data Primer
Data primer adalah data-data yang diperoleh

Prosedur Perancangan Pedoman Desain

langsung dilapangan melalui hubungan langsung

Pd T-01-2002-B
Adapun langkah-langkah perhitungan dengan
menggunakan pedoman desain perkerasan Pd T-012002-B, pertama kita tentukan susunan konstruksi

dengan objek penelitian, yaitu berupa kondisi awal


dilapangan.
2. Data Sekunder

perkerasan, pengumpulan data lalu-lintas, beban

Data sekunder adalah data yang didapat dari

sumbu, tetapkan Ipo, IPt, R dan So, Pengumpulan data

studi pustaka, karya tulis,dan badan atau instansi

CBR, kemudian penentuan faktor ekuivalen, percobaan

pemerintah.

nilai SN, dilanjutkan dengan penentuan tebal lapis

III. Bagan Alir

perkerasan dengan menentukan SN 1,2 dan 3, yaitu

Bagan Alir (flowchart) adalah bagan (chart)

penentuan tebal lapis permukaan, tebal lapis fondasi,

yang menunjukkan alir (flow) di dalam suatu program

dan tebal lapis fondasi bawah.

atau prosedur sistem secara logika.

VII. Desain

Bangunan

Pelengkap

dan

Perlengkapan Jalan
Adapun bangunan pelengkap dan perlengkapan
jalan yang akan didesain adalah desain median,
trotoar, sistem drainase, marka, LPJU, U-Turn
dan kereb jalan.
METODE PENELITIAN
I.

Tahapan Persiapan

Tahapan persiapan yang dilakukan meliputi:


1.

Studi Literatur
Mengumpulkan, membaca, dan menganalisis

sumber-sumber pustaka yang ada kaitannya dengan

ada maka pada Tabel 2 digunakan sebagai nilai

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dalam menyelesaikan tugas akhir ini di

minimum.

dapatkan sejumlah data volume lalu lintas harian rata-

Tabel 2. Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas (i) minimum

rata, data CBR, data curah hujan, data tinggi

untuk desain

pertumbuhan lalu lintas, tabel-tabel, grafik dan


perhitungan yang merupakan data mutlak sebagai data
perencanaan konstruksi jalan raya. Kemudian

akan

disajikan analisis data dan perhitungan perancangan


tebal perkerasan dengan menggunakan pedoman

B. Menghitung faktor pengali pertumbuhan lalu


lintas (R)

perkerasan jalan lentur nomor 02/M/BM/2013 dan


pedoman Pt-T-01-2002-B pada Ruas Jalan Sp. 3

Untuk menghitung pertumbuhan lalu lintas selama

Balitra Jalan Golf (Banjabaru) STA.2+800 s/d

umur rencana dihitung sebagai berikut :

STA.4+800.

Faktor pertumbuhan lalu lintas (i) tahun 2011-2020 =

Selain membahas tentang perhitungan tebal

5%

perkerasan lentur penulis juga mendesain bangunan


pelengkap dan perlengkapan jalan Sp. 3 Balitra Jalan
Golf (Banjarbaru) STA.2+800 s/d STA.4+800.
I. Perancangan

Dengan

Manual

Desain

Perkerasan Jalan 02/M/BM/2013


1. Menetapkan Umur Rencana
Dari ketentuan diambil umur rencana untuk perkerasan
lentur sebesar 20 tahun dan pondasi jalan selama 40
tahun seperti pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Umur Rencana perkerasan jalan baru (UR)

C. Menentukan nilai lalu lintas harian rencana


(LHR) x VDF
Nilai lalu lintas harian rencana (LHR) didapatkan dari
LHR survey selama 1 x 24 jam dikalikan dengan faktor
ekivalen beban (VDF). Hasil perhitungannya seperti
pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. LHR2015 (Awal Umur Rencana)

D. Nilai CESA4
2.

Menentukan Nilai CESA4

Untuk menentukan nilai CESA4 dilakukan langkahlangkah sebagai berikut :


A. Menentukan nilai tingkat pertumbuhan tahunan
(i)

CESA4 = ESA x 365 x R = 1377,4 x 365 x 33,07


= 13,30 x 106
3. Menentukan nilai Traffic Multiplier (TM)
Nilai TM kelelahan lapisan aspal (TM lapisan aspal) untuk
kondisi pembebanan yang berlebih di Indonesia adalah

Faktor pertumbuhan lalu lintas didasarkan pada data-

berkisar 1,8-2. Diambil nilai TM yang terbesar TM =

data pertumbuhan historis atau formulasi korelasi

1,9 karena merupakan jalan dengan lalu lintas sedang.

dengan faktor pertumbuhan lain yang valid, bila tidak

4. Menentukan nilai CESA5

CBR rata-rata =

= 2,04

Nilai CESA tertentu (pangkat 4) untuk desain


Segmen jalan dibagi dalam per 200 m dan

perkerasan lentur harus dikalikan denagn nilai TM


untuk mendapatkan CESA5. Adapun perhitungannya
sebagai berikut:
CESA5

25,27 x 106

5. Menentukan Tipe Perkerasan


Tipe perkerasan untuk pemilihan umur rencana
perkerasan selama 20 tahun dengan nilai ESA = 0,137
x 104 adalah sebagai berikut.

dalam penentuan keseragaman berdasarkan nilai CBR


< 6% dan 6. n pada CBR < 6% = 12, jumlah data
tidak memenuhi ketentuan untuk menggunakan rumus
dalam

menentukan

demikian

nilai

CBR

terkecil

karakteristik,

yang

digunakan

dengan
dalam

menentukan CBR karakteristiknya di ambil nilai CBR


titik yang paling rendah dari data tersebut yaitu:
CBR karekteristik (< 6%) = 1,4%
7. Analisis Data CBR dengan Metode Asphalt
Institute
Nilai CBR diurutkan dari jumlah yang sama atau yang
lebih besar dan di persentasekan seperti pada tabel 5
dan dibuat grafik seperti gambar 3.

Gambar 2. Pemilihan Jenis Perkerasan

Tabel 5. Data Persentase CBR Subgrade

Berdasarkan Gambar 2, maka tipe perkerasan yang


terpilih adalah perkerasan AC diatas lapis pondasi
berbutir, maka digunakan Tabel desain 3A perkerasan
lentur.
6. Menentukan Daya Dukung Tanah Dasar
Hasil data lapangan yang didapatkan kemudian diolah
untuk mendapatkan nilai CBR titik pada jalan yang
disurvei. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. CBR Tanah Dasar

Gambar 3. Grafik Hubungan Nilai CBR Subgrade


Dengan Cara Grafis
Dari pembacaan grafik CBR per segmen dan CBR tiap
Dari data Tabel 4 dapat dihitung nilai CBR rata-rata

stasiun, didapat nilai CBR 90% yaitu sebesar 1,5%.

dari data yang didapatkan sebagai berikut :

Tapi ada CBR yang nilainya dibawah 1,5% yaitu pada


STA 2+800 dengan nilai CBR sebesar 1,4%, untuk

daerah ini diadakan penanganan khusus (memperbaiki


dengan tanah pilihan) yaitu dengan menaikkan
CBRnya menjadi atau lebih besar dari 1,5%.
8. Menentukan Struktur Pondasi Jalan
Faktor pertumbuhan lalu lintas (i) tahun 2011-2020 =
5%

CESA4 = ESA x 365 x R


CESA4 = 60732207 = 60,7 x 106
TM

= 1,9

Maka perhitungan untuk CESA5 pondasi adalah


sebagai berikut :

Gambar 4. Koefisien Drainase m untuk Tebal


Lapisan

CESA5 = ( TM x CESA4 )
= 115,39 x 106

Sesuai kondisi lapangan, maka dipilih gambar nomor 2

Setelah didapatkan nilai CESA5 kemudian dimasukkan

yaitu timbunan dengan lapis pondasi bawah menerus

ke dalam tabel 6 sebagai berikut :

sampai bahu (day-lighting) dan didapat nilai m= 1,2.


3

Tabel 6. Solusi Desain Pondasi Jalan Minimum

10. Desain Tebal Perkerasan


Dalam menentukan desain perkerasan menggunakan
desain 3 perkerasan lentur ini berdasarkan pada
Pengulangan beban sumbu desain 20 tahun terkoreksi
di lajur desain (pangkat 5) (106 CESA5). Dari hasil
perhitungan diperoleh (CESA5) = 259,27 x 106, maka
desain perkerasan yang dipilih sebagai berikut.
Tabel 7. Desain Perkerasan Lentur aspal dengan lapis

Dari Tabel 6 didapatkan desain struktur

pondasi berbutir

pondasi jalan dengan CBR Tanah Dasar adalah 1,5%


yaitu Perkerasan lentur diatas tanah lunak, Kelas
Kekuatan Tanah Dasar adalah SG1 aluvial , Prosedur
desain pondasi tipe B dan struktur pondasi jalan
menggunakan Lapis Penopang (capping layer) dengan
tebal minimum peningkatan tanah dasar atau lapis
penopang

dan

geogrid

dengan

tebal

minimum

Hasil dari tabel 7 yaitu jenis lapis pondasi dan lapis

peningkatan tanah dasar. Dalam perencanaan ini

pondasi bawah adalah AC- WC = 40 mm, Lapisan

digunakan Lapis Penopang (capping layer) dengan

beraspal adalah AC-BC = 60 mm, dan AC-BASE =

peningkatan sebesar 1200 mm.

160 mm atau LPA = 300 mm.

9. Menentukan Standar Drainase Bawah Permukaan

2. Menentukan Faktor Distribusi Arah (DD)


Untuk perancangan umumnya diambil nilai DD sama
Gambar 5. Potongan Melintang Jalan

dengan 0,5 kecuali pada kasus khusus dimana


kendaraan berat cenderung menuju satu arah tertentu
atau pada kasus dimana diperoleh data volume
lalulintas untuk masing-masing arah.
3. Menentukan Faktor Distribusi Lajur (DL)
Tabel 10. Faktor Distribusi Lajur (DL)

Gambar 6. Struktur Tebal Perkerasan Manual Desain


II.

Analisis

Data

Perhitungan

Tebal

4.

Perkerasan

Menentukan Nilai Reliabilitas (R), Standar

dengan Menggunakan Pedoman Pt-T-01-2002-B

Deviasi (So), standard normal deviate (ZR), dan

Metode Pt T-01-2002-B mengacu kepada metode

Menghitung Faktor Reliabilitas (FR)

AASHTO 1993 seperti yang telah diuraikan pada bab

a. Reabilitas (R)

sebelumnya. Dari hasil pengumpulan data didapatkan

Tabel 11. Nilai Reliabilitas Sesuai Fungsi Jalan

sejumlah data berupa data primer dan data sekunder


yang kemudian data-data tersebut dianalisis untuk
mendapatkan desain tebal perkerasan ruas Jalan Sp.
Liang Anggang Pelabuhan Trisakti (Banjarmasin)
STA.8+325 s/d STA.10+325 sepanjang 2 Km.

Diambil nilai yaitu 80% untuk perancangan ini karena

1. Menentukan Indeks Permukaan

memastikan struktur perkerasan mampu melayani arus

Tabel 8. Indeks Permukaan pada Awal Umur Rencana

lalu lintas selama umur rencana

(IPo)

b. Standar Deviasi (So)


Dari ketentuan tersebut maka diambil nilai tertinggi 0,5
karena beranggapan kesalahan yang terjadi tinggi.
c.

Standard Normal Deviate (ZR)

Dari nilai R = 80% didapatkan nilai ZR = -0,841


d.

Faktor Reliabilitas (FR)


FR =

Tabel 9. Indeks Permukaan pada Akhir Umur Rencana


(IPt)

Maka, FR = 2,63
5. Menentukan Daya Dukung Tanah Dasar

Analisis Data CBR dengan Metode Analitis Japan

Jadi, diperoleh nilai untuk Modulus Resilient adalah

Road Ass Untuk perhitungan CBR segmen

sebagai berikut:

menggunakan metode analitis Japan Road Ass dengan

MRsubgrade (timbunan)

= 9000 psi.

rumus berikut ini.

MRbase

= 29232 psi.

CBRsegmen = CBRrata-rata (CBRmaks

MRsubbase

= 17648 psi.

CBRmin) / R

8. Mencari Nilai SN Dengan Rumus Log Penentu

Tabel 12. CBR segmen

Nilai SN
Total lalu lintas yang dapat dilayani oleh konstruksi
perkerasan. Dalam analisis lalu lintas yang dapat
dilayani oleh konstruksi perkerasan di gunakan
persamaan log (W18).
Diketahui:

Dari Tabel 12 dapat diketahui semua CBR segmen dan


untuk CBR titik yang tidak memenuhi CBR tanah
dasar yang diharapkan yaitu sebesar 6% maka pada
CBR titik tersebut perlu perbaikan tanah dasar atau
perlu penanganan untuk meningkatan daya dukung
tanah

dasar misalnya

dengan cara penggunaan

6. Menentukan Nilai Modulus Resilient (MR) MasingMasing Lapisan

= 9000 psi
7. Analisis Konstruksi Perkerasan Lentur Jalan Baru
Lapisan

Surface

(Permukaan),

Aspal

Beton

(Laston) (AC-WC, AC-BC dan AC-Base) nilai a1=


0,400 dengan D1 AC-WC minimum adalah 4 cm, D1
AC-BC

minimum adalah 6 cm dan untuk D1

AC-Base

minimum adalah 6 cm.


b.

W18

= 1.743.643,90 ESAL

Log10W18

= 6,241

Dengan menggunakan rumus maka didapat hasil


sebagai berikut
6,241 = (-0,421) + 5,914 + (-0,277) + 1,104
6,241 = 6,321
Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa nilai SN

tidak sama, maka dilakukan perhitungan ulang untuk


SN yang baru.
Perhitungan ulang untuk SN Asumsi = 3,4

= 1500 (CBR), MR dalam psi


= 1500 (6)

a.

= 3,5

asumsi dengan hasil perhitungan menggunakan rumus

timbunan pilihan.

MR

SN asumsi

SN

= 3,4

W18

= 1.799.338,610 ESAL

Log10W18

= 6,255

Maka hasil yang didapatkan adalah 6.255 = 6.246


Nilai SN yang didapatkan menghampiri nilai SN
asumsi. Karena nilai SN belum sama maka digunakan
penentuan nilai SN berdasarkan Nomogram seperti
pada gambar 7 berikut ini.

Lapisan Base (Pondasi), nilai a2 = 0,135 dengan D2


minimum adalah 10 cm.

c.

Lapisan Subbase (Pondasi Bawah), Agregat Kelas


B nilai a3= 0,125 dengan D3 minimum adalah 15
cm.
Gambar 7. Nomogram Penentuan SN

9.

Untuk penggunaan Nomogram seperti pada gambar 7

SN2 = 3,05

didapatkan nilai SN = 3,4. Berdasarkan hasil

SN3 = 3,48

nomogram tersebut maka nilai SN yang dipakai adalah

Tebal minimal masing-masing lapisan perkerasan

3,4.

dapat ditentukan dengan rumus dan perhitunganya

Menentukan Koefisien Drainase

sebagai berikut :

Tabel 13. Koefisien drainase (m)

D1 *

6 inci

Diambil tebal D1 = 6 inci


SN1 *

= a 1 x D1 *
= 0,4 x 6
= 2,4
= SN2 SN1 *

SN2 *

= 3,05 2,4

Berdasarkan tabel 13 ditentukan koefisien drainase


untuk m3 dan m2 sebesar 1.25.
10.

= 0,65

D2 *

Menentukan Tebal Minimum Masing Masing

Perkerasan
Untuk mencari nilai SN1 digunakan nilai MR = 29232

3,85 inci

psi, dengan nilai R = 80%, SO = 0,5, W18 =

Maka diambil tebal minimum D2 = 4 inci

1.799.338,610 dan PSI = 1,4 yang mana nilai-nilai ini

SN2 *

= D2* x a2 x m2

sama dengan nilai untuk mencari SN nomogram yang

= 4 x 0,135 x 1,25

dijadikan SN3 namun hanya untuk nlai MR nya saja

= 0,675

yang berbeda, yaitu MR = 17648 psi.

D3 *

2,4 inci
Dari

hasil

perhitungan

di

atas

didapat

tebal

perkerasan,Untuk gambar hasil perencanaan sebagai


Gambar 8. Nomogram Penentuan SN2

berikut:
Tabel 14. Hasil PerhitunganTebal Perkerasan

Gambar 9. Nomogram Penentuan SN1


Dari penggunaan nomogram didapatkan nilai sebagai
berikut :
SN1 = 2,4

2.

Perencanaan Kereb Jalan

Adapun tipe kereb yang akan direncanakan adalah


kereb peninggi (tipe c) dengan dengan tinggi
komponen vertikalnya 200 mm, berfungsi sebagai
kereb yang dapat dinaiki ban kendaraan.
Gambar 10. Potongan Melintang Jalan

Gambar 13 Kereb Peningggi Tipe C


3.

III.

Gambar 11. Struktur Tebal Perkerasan Pt.T 01-

Pada subbab ini penulis akan merencanakan 3 tipe

2002-B

marka jalan. Tipe yang akan dipilih tergantung dari

Desain

Bangunan

Pelengkap

dan

Perlengkapan Jalan
1.

Perencanaan Marka Jalan

Desain Median Jalan


Tabel 15 lebar minimum bukaan median

kondisi perkerasan dan juga lingkungan disekitar ruas


jalan. Adapun 3 tipe marka yang akan direncanakan
antara lain:
a)

Pada perkerasan tepi luar maupun dalam jalan

b) Sebagai pemisah lajur (marka garis putus-putus)


c)

Pada perkerasan jalan di persimpangan, daerah


penyebrang pejalan kaki atau daerah dengan
fungsi khusus (sekolah, kantor dan sebagainya)

dari Tabel 15 didapat lebar minimum median sebesar 5


m, bahu dalam 0,5 m dan jalur tepian 0,25 m, namun
karena lebar median yang tersedia hanya 4 m, maka
diambil tipe median ditinggikan (pada sisi luar median
harus dilengkapi dengan kereb) untuk lebar lahan

Gambar 14 Marka Garis Tepi Perkerasan

kurang dari 5 m dan tinggi median dari permukaan


jalan adalah 18 25 cm, diambil 20 cm (subbab 4.2.2
pasal 2 Pd T-17-2004-B).
Gambar 15 Marka pemisah lajur (V > 60 km/jam

Gambar 12 Tipe Median Ditinggikan

Gambar 16 Marka garis stop, marka lambang stop dan

Jalan Simpang 3 Balitra Jalan Golf (Lingkar

marka lainnya

Utara Banjarbaru) merupakan jalan arteri yang

4.

Perencanaan Putaran Balik (U-Turn)

nantinya akan menjadi jalan dengan lalu lintas

Fungsi jalan ditetapkan yaitu jalan arteri kelas I,

padat. Sesuai dengan SNI 7391, untuk jalan

MST > 10 ton dengan kemiringan medan <3%

lingkar utara Banjarbaru dengan lebar badan

(datar).

jalan 8 m (diluar median jalan), dipilih lampu

Tabel 16 jarak antar bukaan

jenis SON/SON-T 400 W dengan tinggi tiang


11 m, jarak pemasangan 40 m dan panjang
stang ornament 2,8 m. untuk tiang lampu
digunakan stang dengan lengan ganda. Untuk
menentukan sudut kemiringan stang ornament
dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Tabel 17 lebar median ideal untuk putar balik


Maka:

Dari Tabel 17 didapat lebar ideal median ideal

Jadi didapat kemiringan stang ornament sebesar

untuk putaran balik dengan lebar jalur 3 m

14,1o

adalah 19, namun lebar median yang tersedia


hanya sebesar 4 m, Maka median hanya cukup

a.

Menghitung

Intensitas

Cahaya

(I

dalam

candela/cd)

untuk kebutuhan minimum jalan raya, namun


tidak untuk putaran balik.

Dimana:

; sehingga

Besarnya K (efisiensi cahaya) rata-rata lampu


Sodium sebesar 110 lumen/watt, dengan daya (P)
400 Watt, dan besarnya sudut ruang = 4,
Maka:
b.

Menghitung luminasi pada titik ujung jalan


jarak lampu ke ujung jalan (r):

5.

Gambar 17 Solusi pembebasan lahan


Perencanaan Lampu
untukPenerangan
putar balik Jalan Umum

Tabel 20 Lebar tambahan

Gambar 18 Iluminasi Diujung Jalan


Tabel 18 Variasi lebar jalan terhadap Iluminasi yang
Tabel 21 Lebar minimum trotoar

dihasilkan

Dari Tabel 18 Iluminasi untuk jalan 8 m adalah 18,31


lux, hasil perhitungan didapat Iluminasi rencana 19,13
lux, maka cukup dipasang penerangan pada daerah
median (tengah jalan).
6.

Perencanaan Trotoar

a.

Ruang bebas trotoar

Hasil Perhitungan Trotoar


Lebar trotoar

= 1,5 m

Kemiringan Trotoar

= 2%

Konstruksi

= Beton K 175

Tinggi bebas trotoar tidak kurang dari 2,5 m dan


kedalaman bebas trotoar tidak kurang dari satu
meter dari permukaan trotoar. Kebebasan samping
trotoar tidak kurang dari 0,3 m.

Gambar 20 Trotoar dengan


konstruksi beton
7. Perencanaan Sistem Drainase
Saluran

Tabel 19 Tingkat pelayanan Trotoar

yang direncanakan

berbentuk trapesium

dengan tipe saluran dasar dari pasangan batu dan sisi


berbatu.
Diketahui:
Qaliran

: 0,450 m3/detik

Qsaluran

= 0,23

Lebar saluran (B) = 3,0

m3/detik
m

Lebar saluran (b) = 1,0

3. Berdasarkan Hasil perhitungan dengan metode Manual

Tinggi jagaan = 0,5

Desain 02/M/BM/2013 didapat:

Luas penampang basah

= 0,5

AC WC : 40 mm = 4,0 cm

m
Keliling = 4,414 m
Jari-jari hidrolis

= 0,227 m

AC BC

: 60 mm = 6 cm

AC BASE

: 160 mm

= 16 cm

LPA

: 300 mm

= 30 cm

Kecepatan saluran = 0,234 m/detik

CBR Tanah Dasar : 1,4 % dengan perbaikan

Kemiringan saluran memanjang = 0,1%

peningkatan tanah dasar tebal minimum 1200 mm.

Gambar penampang saluran drainase dapat


dilihat pada Gambar 21 berikut:

Jalan Pt T-01-2002-B didapat:


Lapis permukaan (Lapis Aus Mod) (AC WC) = 4 cm

3,0 m
0,2 m

4. Berdasarkan Hasil perhitungan Desain Perkerasan

0,2 m

1,0 m

Lapis permukaan (Lapis Antara) (AC-BC) = 6 cm


Lapis permukaan (Lapis Antar Mod) (AC Base) = 6

1,0 m

cm

0,2 m

0,5 m

Lapis pondasi (Agregat A) = 10 cm


Lapis pondasi bawah (Agregat B) = 15 cm
CBR Tanah Dasar Asumsi = 6 %
5. Dari 2 Metode yang telah di uji, didapatkan tebal

Beton K - 125
Galam 10 - 0,5 m
; D = 5m

Gambar 21 Penampang Saluran Drainase

perkerasan yang lebih efisien yaitu pada Metode Pt T01-2002-B dengan asumsi CBR tanah dasar sudah
mencapai nilai 6% yang memenuhi syarat. Adapun
lebih jauh perlu pengujian pada segi anggaran biaya

KESIMPULAN

sehingga diketahui lebih jauh tebal perkerasan mana

Dari hasil perhitungan tebal lapisan perkerasan

yang dapat diambil sebagai acuan desain.

didapatkan hasil sebagai berikut :


1.

6. Adapun untuk Desain Bangunan Pelengkap dan

LHR untuk ruas Jalan Simpang 3 Balitra Jalan

Perlengkapan Jalan adalah sebagai berikut:

Golf (Lingkar Utara Kotamadya Banjarbaru)

a.

STA.2+800 s/d STA.4+800 pada tahun 2016

lebar 4 m (tipe ditinggikan) dengan kereb peninggi

adalah sebanyak 43618 kendaraan/hari.

sebesar 20 cm. Lebar bukaan median sebesar 7 m


dan jarak antar bukaan median sebesar 5 km.

2. Adapun besarnya CBR lapangan (%) untuk Jalan


Simpang 3 Balitra Jalan Golf (Lingkar Utara

b.

Untuk Kereb, diambil tipe kereb peninggi (tipe c)


dengan tinggi komponen vertikalnya 200 mm.

Kotamadya Banjarbaru) yaitu:


a.

Untuk Median Jalan, direncanakan median dengan

Metode Manual Desain 02/M/BM/2013 adalah

struktur kereb dibuat dari beton

= 300 MPa

1,4 % ,

tanpa tulangan dan merupakan beton pre-cast.

b.

Metode Analitis Japan Road Ass adalah 1,4 % ,

c.

Metode Asphalt Institute adalah 1,5 % dan

pada tepi jalan dan median perkerasan adalah

asumsi sebagai bahan perbandingan berikutnya

marka membujur garis utuh dengan panjang

sebesar 6 %.

minimum 20 m, lebar garis utuh 0,1 m. Adapun

c.

Marka Jalan, desain marka jalan yang diambil

marka pemisah lajur diambil marka tipe garis

pada

putus-putus (marka garis dan pemisah) dengan

perencanaan perkerasan jalan yang efektif dan

panjang garis putus-putus 5,0 m dan celah garis

efisien

putus-putus 8,0 m dan untuk marka tipe peringatan

d.

hasil

Pada perencanaan perkerasan lentur, bangunan

tebal garis melintang 0,3 m, apabila garis berhenti

kepada spesifikasi yang ada sehingga didapat

dilengkapi dengan rambu STOP maka jarak

desain yang optimum. Adapun jika desain tidak

puncak huruf dan garis berhenti adalah 2 m.

memenuhi standar dalam spek maka diperlukan

Putaran Balik (U-turn), lebar median untuk

suatu solusi permasalahan yang benar sehingga

putaran balik adalah 4 m dengan jarak minimum

tidak

antar bukaan 1 km. Adapun perencanaan putaran

pelaksanaan juga anggaran biaya.

yang dapat ditawarkan adalah dengan di buat lajur


khusus pada kanan dan kiri jalan minimal 770 m 2
dan panjang lajur khusus adalah 60 m.
Penerangan Jalan Umum, adapun tipe lampu yang
digunakan dalah jenis SON/SON-T 400 W. Untuk
tiang lampu cukup satu tiang yaitu pada median
jalan. Digunakan stang ganda dengan panjang
stang ornament 2,8 m dan tinggi tiang 11 m,
sedangkan jarak antar lampu sebesar 40 m.
Trotoar Jalan, dari hasil perhitungan didapat lebar
trotoar 1,5 m, kemiringan trotoar 2% dengan
struktur trotoar yaitu beton K-175
Sistem Drainase Jalan, dari hasil perhitungan
didapat lebar saluran 3 m dengan Qsaluran 0,23
m3/dt dan Qaliran 0,4502 m3/dt.
Saran
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang dapat
dipertanggung jawabkan hendaknya memperhatikan
hal-hal berikut ini:
1.

didapat

pelengkap dan perlengkapan jalan harus mengacu

oleh Metode No : 06/BM/2005. Adapun solusi

f.

sehingga

pada wilayah tertentu (pusat pendidikan) diambil

balik ini tidak memenuhi syarat yang diajukan

e.

2.

perencanaan

Pada perencanaan perkerasan jalan, diperlukan


suatu ketelitian dalam menganalisis data yang akan
digunakan terutama dalam perhitungan lalu-lintas
harian rata-rata sebagai kumulasi beban standar
yang

digunakan.

Hendaknya

memperhatikan

teknik pengambilan data yang benar dan justifikasi


yang tepat untuk mengurangi kesalahan (error)

terjadi

kerugian

dari

segi

metode

DAFTAR PUSTAKA
Badan
Standarisasi
Nasional.
2008.
Spesifikasi Kereb Beton untuk jalan, SNI 2442:2008.
Jakarta.
Badan
Standarisasi
Nasional.
2008.
Spesifikasi Penerangan Jalan di Kawasan Perkotaan,
SNI 7391:2008. Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Cara Uji
CBR dengan Dynamic Cone Penetrometer (DCP),
Pedoman Rancangan 3. Bandung
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat
Jenderal Binamarga. 2005. Perencanaan Putaran Balik
(U-Turn), Nomor 06/BM/2005. Jakarta
Departemen
Pekerjaan
Umum.
2006.
Perencanaan Sistem Drainase Jalan, Pd. T-02-2006-B.
Jakarta.
Departemen
Pekerjaan
Umum
Badan
Penelitian dan Pengembangan. 1990. Perencanaan
Trotoar, SK SNI S-03-1990-1. Jakarta.
Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah. 2002. Pedoman Perencanaan Tebal
Perkerasan Lentur, Pt T-01-2002-B. Jakarta.
Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah. 2004. Survai Pencacahan Lalu Lintas dengan
cara Manual, Pd. T-19-2004-B. Jakarta
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.
2004. Perencanaan Median Jalan, Pd T-17-2004-B.
Jakarta.
Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah. 2004. Marka Jalan, Pd T-12-2004-B. Jakarta.
Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat
Jenderal Bina Marga. 2013. Manual Desain Perkerasan
Jalan, Nomor 02/M/BM/2013. Jakarta
Sukirman, Silvia. 2010. Perencanaan Tebal
Struktur Perkerasan lentur, Nova. Bandung