Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS

Oleh : Hj. Nur Hidayati Skep, Ns


Pendahuluan
Kasus AIDS ditemukan di Indonesia pertamakali pada tahun 1987 pada seorang
WNA di Bali
Saat ini ditemukan hampir di semua propinsi kecuali Sulawesi Tenggara
Empat tahun terakhir Indonesia dinyatakan dalam kondisi Consentrated level
epidemic
Tingkat prevalensi tertinggi didaerah prop. Papua, DKI Jaya, Riau, Jawa Barat,
Jawa Timur dan Bali
Konsep Dasar
I.

Pengertian
AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang
tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya
defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi
yang sudah dikenal dan sebagainya.

II.

Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency
virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan
disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang
diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan
dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada
gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes
illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, BB menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi
mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai
system tubuh, dan manifestasi neurologist.

2
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun
wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
1. Lelaki homoseksual atau biseks.

5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.

2. Orang yang ketagian obat intravena


3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi )
IBU DENGAN HIV AIDS
Ibu dengan infeksi HIV dapat menular pada bayi yang dikandungnya
Tidak ada tanda-tanda spesifik pada bayi saat baru lahir

Gejala klinis dapat ditemukan saat bayi berusia 2 6 minggu, tetapi tes
antibody baru dapat terdeteksi pada umur 18 bulan

Gejala klinik
Tidak spesifik, hanya seperti infeksi virus pada umumnya
Bila defisiensi immun berat maka yang terlihat adalah gejala infeksi skunder
sesuai penyebabnya
Tes diagnostik pada bayi HIV
HIV Antibody pada anak umur >18 bulan dengan Elisa HIV
IgG anti HIV ab melalui plasenta pada trimester III
Bila haasil positif sebelum umur 18 bulan ,mungkin antibody dari ibunya
Virus: HIV PCR DNA dari darah perifer pada waktu lahir dan umur 3-4 bulan
bila negatif berarti bayi bebas HIV
CD4 count rendah ( normal 2500-3500/ml pada anak, dewasa 700-1000/ml )
Penanganan bayi dari ibu dengan HIV positif
Hormati kerahasiaan ibu dan keluarga, lakukan konseling pada keluarga
Rawat bayi seperti bayi yang lain, perhatikan pencagahan infeksi
Bayi tetap diberi immunisasi rutin , kecuali ada tanda defisiensi immun yang
berat, jangan diberi vaksin hidup ( BCG, Campak )

3
Pada waktu bayi paulang periksa DL, Hitung limposit T, Serologi anti HIV,
PCR DNA, RNA HIV
Beri dukungan mental pada orangtua
Anjurkan suami memakai kondom untuk mencegah penularan
Penatalaksanaan
Ibu dengan HIV positif tanpa obat Antiretroviral,25% akan tertular sebelum
atau waktu lahir
15% bayi tertular melalui ASI
Obat Antiretroviral untuk menekan HIV viral load sampai tidak terdeteksi, dan
mempertahankan CD4 dan sel mencapai > 25%
Kelola bayi dan ibu untuk profilaksis sesuai protokol yang ada
Bayi yang terkena HIV diberikan AZT 2mg/kg BB tiap 6jam atau IV
1,5mg/kgBB
Untuk bayi kurang bulan 1,5mg/kgBB tiap 12jam sampai 2minggu kemudian
22mg/kgBB tiap 8jam
Nevirapin diberikan pada neonatus sampai umur 2bulan, 14 hari pertama 2x
5mg/kgBB, 14 berikutnya 2x 120mg/kgBB, berikutnya 2x 200mg/kgBB
sampai usia 2bulan
Pemberian minum
Beri petunjuk pada ibu bahwa menyusui dapat beresiko penularan HIV
Apabila diberikan susu formula maka ibu harus menyediakan selama 2 tahun
disamping makanan pendamping Asi
Bila tidak dapat menyediakan susu formula maka diberikan Asi sampai ibu
dapat menyediakan susu formula
Jangan memberi minuman kombinasi ASI dan formula karena resiko infeksi
Alternatif lain ,pemberian ASI oleh ibu susuan yang sehat
Ajarkan pada ibu menyiapkan susu formula dengan benar, dan jumlah yang
tepat
Dukung keputusan ibu bila tetap menyusui anaknya
Beri HE tentang menyusui yang benar
Nasehati ibu untuk kunjungan ulang dan konseling lanjutan

Pemeriksaan lanjutan setelah pulang


Pemeriksaan darah PCR DNA/RNA dilakukan pada umur 1,2,4,6 dan 18 bulan
Diagnosis HIV ditegakkan apabila 2kali berturut-turut positif , kemudianmulai
diberikan pengobatan anti retroviral.

Patofisiologi :
Virus HIV

Menyerang T Limfosit,
sel saraf, makrofag,
monosit, limfosit B

Merusak seluler

HIV- positif ?

Invasi kuman patogen

Reaksi psikologis

Organ target

Gatal, sepsis,
nyeri

Sensori

Gangguan
penglihatan
dan
pendengaran

Gangguan sensori

Infek
si

Gangguan body imageapas

Penyakit
anorektal

Dermatologi

Tidak efektif pol napas

Disfungsi
biliari

Tidak efektfi bersihan


jalan napas

Hepatitis

Respiratori

Gangguan pola BAB

Diare

Cairan berkurang

Ensepalopati akut

hipertermi

Aktivitas intolerans

Kompleks
demensia

Gangguan mobilisasi

Cairan berkurang

Lesi mulut

Gastrointestinal

Gangguan rasa nyaman :


nyeri

Manifestasi saraf

Gangguan rasa nyaman :


nyeri

Manifestasi oral

Nutrisi inadekuat

Immunocompromise

Flora normal patogen

Nutrisi inadekuat

III.

6
IV.

Pemeriksaan Diagnostik
1.

Tes untuk diagnosa infeksi HIV :


-

ELISA

Western blot

P24 antigen test

Kultur HIV

2.

V.

Tes untuk deteksi gangguan system imun.


-

Hematokrit.

LED

CD4 limfosit

Rasio CD4/CD limfosit

Serum mikroglobulin B2

Hemoglobulin
Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan
I.

Pengkajian.
1.

Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi,


menggunakan obat-obat.

2.

Penampilan umum : pucat, kelaparan.

3.

Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil,


keringat malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun,
nyeri, sulit tidur.

4.

Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola


hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis.

5.

Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati,
withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker,
hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi.

6.

HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka,


tinitus, ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia,
epsitaksis.

7.

Neurologis

:gangguan

refleks

pupil,

ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia.

nystagmus,

vertigo,

7
8.

Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan


ADL.

9.

Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.

10.

Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot


Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.

11.

GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun,


diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning.

12.

Gu : lesi atau eksudat pada genital,

13.

Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.

II.

Diagnosa keperawatan
1.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi


dan pola hidup yang beresiko.

2.

Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV,


adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.

3.

Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran


oksigen, malnutrisi, kelelahan.

4.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya
absorbsi zat gizi.

5.

Diare berhubungan dengan infeksi GI

6.

Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang


keadaan yang orang dicintai.

III.

Perencanaan keperawatan.

Diagnosa
Keperawatan
Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan
imunosupresi,
malnutrisi dan pola
hidup yang beresiko.

Tujuan dan criteria hasil


Pasien akan bebas infeksi
oportunistik
dan
komplikasinya dengan kriteria
tak ada tanda-tanda infeksi
baru, lab tidak ada infeksi
oportunis, tanda vital dalam
batas normal, tidak ada luka
atau eksudat.

1.
2.
3.
4.
5.

Perencanaan Keperawatan
Intervensi
Rasional
Monitor tanda-tanda infeksi baru.
Untuk pengobatan dini
gunakan teknik aseptik pada setiap Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen
tindakan invasif. Cuci tangan sebelum yang diperoleh di rumah sakit.
meberikan tindakan.
Anjurkan pasien metoda mencegah Mencegah bertambahnya infeksi
terpapar terhadap lingkungan yang
patogen.
Kumpulkan spesimen untuk tes lab Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan
sesuai order.
Atur pemberian antiinfeksi sesuai Mempertahankan kadar darah yang terapeutik
order

Resiko tinggi infeksi


(kontak
pasien)
berhubungan dengan
infeksi HIV, adanya
infeksi
nonopportunisitik
yang
dapat
ditransmisikan.

Infeksi
HIV
tidak
ditransmisikan, tim kesehatan
memperhatikan
universal
precautions dengan kriteriaa
kontak pasien dan tim
kesehatan tidak terpapar HIV,
tidak terinfeksi patogen lain
seperti TBC.

1.

Anjurkan pasien atau orang penting


lainnya metode mencegah transmisi
HIV dan kuman patogen lainnya.
2.
Gunakan darah dan cairan tubuh
precaution bial merawat pasien.
Gunakan masker bila perlu.

Pasien dan keluarga


informasikan ini

Intolerans aktivitas
berhubungan dengan
kelemahan,
pertukaran oksigen,
malnutrisi, kelelahan.

Pasien berpartisipasi dalam


kegiatan, dengan kriteria
bebas dyspnea dan takikardi
selama aktivitas.

1.

Monitor respon fisiologis terhadap


aktivitas
Berikan bantuan perawatan yang
pasien sendiri tidak mampu
Jadwalkan
perawatan
pasien
sehingga tidak mengganggu isitirahat.

Respon bervariasi dari hari ke hari

Perubahan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
tubuh
berhubungan dengan
intake yang kurang,

Pasien mempunyai intake


kalori dan protein yang
adekuat untuk memenuhi
kebutuhan
metaboliknya
dengan kriteria mual dan

Monitor kemampuan mengunyah


dan menelan.
Monitor BB, intake dan ouput
Atur antiemetik sesuai order
Rencanakan diet dengan pasien dan

Intake menurun dihubungkan dengan nyeri


tenggorokan dan mulut
Menentukan data dasar
Mengurangi muntah
Meyakinkan bahwa makanan sesuai dengan

2.
3.
1.
2.
3.
4.

mau

dan

memerlukan

Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain

Mengurangi kebutuhan energi


Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan
kebutuhan metabolik

meningkatnya
kebutuhan metabolic,
dan
menurunnya
absorbsi zat gizi.
Diare berhubungan
dengan infeksi GI

Tidak efektif koping


keluarga
berhubungan dengan
cemas
tentang
keadaan yang orang
dicintai.

muntah dikontrol, pasien


makan TKTP, serum albumin
dan protein dalam batas n
ormal, BB mendekati seperti
sebelum sakit.
Pasien merasa nyaman dan
mengnontrol
diare,
komplikasi minimal dengan
kriteria perut lunak, tidak
tegang, feses lunak dan warna
normal, kram perut hilang,
Keluarga atau orang penting
lain mempertahankan suport
sistem dan adaptasi terhadap
perubahan akan kebutuhannya
dengan kriteria pasien dan
keluarga berinteraksi dengan
cara yang konstruktif

orang penting lainnya.

1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.

Kaji konsistensi dan frekuensi


feses dan adanya darah.
Auskultasi bunyi usus
Atur agen antimotilitas dan psilium
(Metamucil) sesuai order
Berikan ointment A dan D, vaselin
atau zinc oside
Kaji koping keluarga terhadap sakit
pasein dan perawatannya
Biarkan keluarga mengungkapkana
perasaan secara verbal
Ajarkan kepada keluaraga tentang
penyakit dan transmisinya.

keinginan pasien

Mendeteksi adanya darah dalam feses


Hipermotiliti mumnya dengan diare
Mengurangi motilitas usus, yang pelan, emperburuk
perforasi pada intestinal
Untuk menghilangkan distensi
Memulai suatu hubungan dalam bekerja secara
konstruktif dengan keluarga.
Mereka tak menyadari bahwa mereka berbicara
secara bebas
Menghilangkan kecemasan tentang transmisi
melalui kontak sederhana.