Anda di halaman 1dari 20

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran
Makna pembelajaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah
proses, cara perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Lebih
lanjut, Wina Sanjaya (2008:51) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan
kegiatan yang bertujuan membelajarkan siswa.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses
interaksi peserta didik dengan pegajar dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar. Setiap pengajar penting untuk memahami sistem pembelajaran, karena
dengan pemahaman sistem ini, setiap pengajar akan memahami tentang tujuan
pembelajaran atau hasil yang diharapkan, proses kegiatan pembelajaran yang
harus dilakukan, pemanfaatan setiap komponen dalam proses kegiatan untuk
mencapai tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana mengetahui keberhasilan
pencapaian tersebut.
Tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan
yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik setelah mereka melakukan
proses pembelajaran tertentu (Wina Sanjaya, 2008:86). Lebih lanjut, Wina
Sanjaya (2008:88) mengemukakan bahwa rumusan tujuan pembelajaran harus
mengandung unsur ABCD, yaitu Audience (siapa yang harus memiliki
kemampuan), Behaviour (perilaku yang bagaimana yang diharapkan dapat

dimiliki), Condition (dalam kondisi dan situasi yang bagaimana subjek dapat
menunjukkan kemampuan sebagai hasil belajar yang telah diperolehnya), dan
Degree (kualitas atau kuantitas tingkah laku yang diharapkan dicapai sebagai
batas minimal).
2. Media Pembelajaran
Media adalah saluran komunikasi, berasal dari Bahasa Latin yang berarti
"antara". Istilah ini mengacu pada sesuatu yang membawa informasi antara
sumber dan penerima. Definisi media yang berfokus pada penggunaan teknologi
ditambah konsep dan konteks (Dewdney & Ride, 2006, Flew, 2004, Heinich,
1996, dalam Naz dan Akbar, 2012). Media merupakan sarana untuk transmisi atau
menyampaikan pesan dan dalam perspektif pembelajaran pengiriman konten
kepada peserta didik, untuk mencapai instruksi yang efektif (Naz dan Akbar,
2012).
Media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam
pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar
yang dicapainya. Ada beberapa alasaan, mengapa media pengajaran dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat
media pengajaran dalam proses belajar siswa. Alasan kedua adalah taraf berpikir
manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir konkret ke berpikir
abstrak, dimulai dari berpikir sederhana ke berpikir kompleks (Sudjana & Rivai,
2009). Adapun kajian yang terkait dengan media pembelajaran, adalah sebagai
berikut:

a. Pembelajaran Berbantuan Komputer

Pembelajaran berbantuan komputer (PBK) merupakan satu alat bantu


untuk meringangkan beban pengajar, sehingga mempunyai kesempatan untuk
lebih memperhatikan peserta didik secara individual. Kendati penggunaan
komputer tidak dapat mengganti peran pengajar secara keseluruhan, karena peran
pengajar tidak dapat digantikan oleh apapun termasuk komputer. Penelitian
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan komputer dengan pengajar lebih
efektif daripada pembelajaran dengan komputer saja atau dengan pengajar saja
(Wihardjo, 2008).
Menurut Wahyudiono(2011), pembelajaran berbantuan komputer adalah
aplikasi komputer sebagai bagian integral dalam sistem pembelajaran terhadap
proses belajar dan mengajar yang bertujuan membantu siswa dalam belajarnya
bisa melalui pola interaksi dua arah melalui terminal komputer maupun multi arah
yang diperluas melalui jaringan komputer (baik lokal maupun global) dan juga
diperluas fungsinya melalui interface (tatap muka).
Kelebihan

media

pembelajaran

berbantuan

komputer,

yaitu:

1)

Meningkatkan perhatian dan konsentrasi peserta didik, 2) Meningkatkan motivasi


siswa, 3) Menyesuaikan materi dengan kemampuan peserta didik, 4) Mereduksi
penggunaan waktu penyampaian materi, 5) Membuat pengalaman belajar lebih
menyenangkan,

memuaskan,

dan

menguatkan

peserta

didik,

6)

Dapat

mengakomodasikan banyak peserta dan menjalankan fungsinya dengan sedikit


kesalahan, 7) Materi dapat didesain lebih menarik, dan 8) dapat mendorong

pengajar untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman mengenai komputer


(Wihardjo, 2008).
Adapun kekurangan media pembelajaran berbantuan komputer, yaitu:
1) diembangkan dalam dialog terbatas sehingga tidak dapat mejawab semua
permasalahan peserta didik, 2) masih relatif mahal, 3) tidak dapat melihat teknik
peserta didik dalam menjawab soal, 4) Pengembangan PBK memerlukan biaya,
waktu, dan tenaga yang tidak sedikit, 5) keceptan perkembangan teknologi
komputer

memerlukan

upgrade

terus

menerus,

6)

Penilaian

tidak

mempertimbangkan apakah peserta didik sedang lelah, mengantuk, atau sakit, dan
7) pada umumnya hanya menilai hasil akhir,bukan proses belajar (Wihardjo,
2008).
Secara garis besar PBK dikategorikan menjadi dua yaitu Computer-Based
Training (CBT) dan Web-Based Training (WBT). Computer-Based Training (CBT)
merupakan proses pendidikan berbasis komputer dengan memanfaatkan media
CDROM dan disk-based sebagai media pendidikan (Hartono, 2000). Dengan
media ini proses pedidikan melalui classroom tetap dapat terlaksana sehingga
interaksi dalam proses pendidikan dapat terus berlangsung, yang dibantu oleh
kemandirian peserta didik dalam memanfaatkan CBT. Sedangakan web-based
training (WBT) sering diidentikkan dengan e-learning, dalam metode ini selain
menggunakan komputer sebagai sarana pendidikan, juga memanfaatkan jaringan
Internet sehingga seorang yang akan belajar bisa mengakses materi pelajarannya
dimanapun dan kapanpun selagi terhubung dengan jaringan Internet (Rossett,
2002).

10

b. E-learning
E-learning adalah pembelajaran berbasis elektronik, pembelajaran yang
banyak menggunakan jaringan internet. Berdasarkan hasil penelitian, e-learning
semakin banyak digunakan dalam dunia pendidikan. E-learning dapat pula
didefenisikan sebagai kegiatan belajar asynchronous (tak serempak) melalui
perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai
dengan kebutuhannya. E-learning dapat memperluas pemahaman peserta didik,
menambah pengalaman peserta didik, lebih efektif jika dibandingkan dengan
pembelajaran tradisional yang terbatas dalam pertemuan, e-learning dapat
mengubah paradigma pembelajaran. Persyaratan kegiatan belajar elektronik (elearning) yaitu: (1) kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan
jaringan. Jaringan dalam uraian ini dibatasi pada penggunaan internet. Jaringan
dapat saja mencakup LAN atau WAN; (2) tersedianya dukungan layanan belajar
yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar; dan (3) tersedianya dukungan
layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan
(Walker, 2007: 56-57).
Menurut Heinich (1996: 12-13), Kelebihan dari media e-learning antara
lain: (1) mengurangi biaya, walaupun pada awal pemasangan infrastruktur elearning yaitu jaringan internet agak mahal, tetapi selanjutnya akan mengurangi
biaya akomodasi karena informasi didapatkan dari berbagai tempat tanpa harus
datang ke tempat tersebut; (2) pesan/ isi e-learning dapat tetap (konsisten), dan
juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik; (3) materi pembelajaran
lebih up to date dan dapat diandalkan. E-learning yang berbasis internet (web)

11

dapat memperbaharui materi secara cepat, sehingga membuat informasi lebih


akurat dan berguna untuk jangka waktu tertentu; (4) Pembelajaran 24 jam sehari,
7 hari dalam seminggu. Pendidik dan peserta didik dapat mengakses kapan saja
dan dimana saja; (5) universal, setiap orang dapat melihat atau menerima materi
yang sama dan dengan cara yang sama; (6) membangun komunitas, e-learning
memungkinkan peserta didik maupun pendidik membangun sebuah komunitas
yang berkelanjutan, untuk saling berbagi pengetahuan selama dan setelah
pembelajaran; (7) daya tampung yang besar, e-learning tidak hanya dapat
menampung 10 sampai 100 partisipan, tetapi juga dapat menampung ribuan
partisipan.
Kelemahan dari media e-learning lebih banyak dipengaruhi oleh faktor
peserta didik dan pendidik. Kelemahan e-learning yang dirasakan oleh pendidik
umumnya adalah memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan materi
pembelajaran serta memperbaharui materi pembelajaran yang telah disajikan di
dalam media elektronik. Adapun kelemahan e-learning dipandang dari segi
peserta didik antara lain: (1) merasa kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian
karena tidak adanya interaksi fisik dengan pendidik dan teman-temannya,
terutama untuk model fully online e-learning format; (2) keterampilan
menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan
peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga
mempengaruhi hasil akhir pembelajaran; (3) Peserta pendidik yang tidak disiplin
dan mempunyai motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti tahap-tahap proses
pembelajaran; (4) Ada beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk

12

dipelajari tanpa bimbingan pendidik; (5) Adanya permasalahan saat menentukan


format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya peserta pendidik di dalam
mengikuti pembelajaran e-learning (Lin, 2012: 15).
c. Website Udemy
Weibsite udemy adalah website gratis berbasis e-learning platform dengan
social media future yang memungkinkan pengguna untuk menulis, berbagi,
mempublikasikan, menjual dan bergabung dengan pembelajaran online. Udemy
diluncurkan oleh Eren Bali, Oktay Caglar, dan Gagan Biyani pada tahun 2010.
Dengan udemy pengguna bisa melakukan beberapa aktivitas seperti: (1) pengguna
bisa menulis, mempublikasikan dan sebagai pemilik (host) dalam pembelajaran
online; (2) pembelajaran online yang dibuat bisa mendatangkan uang jika
pengunjung registrasi atau enroll di pembelajaran online yang dibuat oleh
pengguna;

(3)

udemy

dilengkapi

dengan

fasilitas

sosial

media

yang

memungkinkan pengguna untuk share, like, comment, dan follow (Udemy


elearning platform overview, 2014: 6).
Udemy adalah web berbasis e-learning platform yang didukung dengan
course authoring dan Social Networking features yang bisa digunakan dalam
pembelajaran online. Pengguna Udemy dapat melakukan create, share, publish,
sell and syndicate online courses hanya dengan registrasi secara free
menggunakan akun facebook. User Udemy bisa sebagai instructur, student, dan
teacher. Persentase aktivitas peserta didik terekam di analytics. Halaman utama
udemy terdiri atas: (1) Viewer promote video agar peserta didik tertarik untuk
mengakses lebih lanjut; (2) Authoring profile (profil pemilik online course); (3)

13

Curriculum (memungkinkan user untuk mengapload pdf file, PPT file, zip file,
video, dan quiz ke dalam online course); dan (4) Start learning (log in) dengan
akun facebook, google, dan membuat akun udemy (Udemy elearning platform
overview, 2014: 9).
Halaman setelah user log in terdiri atas: (1) User profile (terdiri atas edit,
send massage, my course, my wish, and log out); (2) Manage course ( menu untuk
mengedit online course); (3) Analytics (laporan aktivitas siswa dalam bentuk
percentage); (4) Curriculum (berisi file pdf, video, dan quiz yang dapat dibagikan
atau share via facebook or twitter); (5) Discussions (forum diskusi yang
memungkinkan user untuk like, post dan reply comment); (6) Announcemnets
(berisi pengumuman yang diposting oleh pemilik online course); dan (7) Students
(memperlihatkan jumlah siswa yang enroll online course beserta percentage (%)
aktivitas seperti view dan download materi). Apabila percentase mencapai 100%
artinya peserta didik mengikuti online course dari awal hingga akhir pembelajaran
dan begitu pula sebaliknya (create online course on udemy, 2014: 16).
3. Hasil belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Sebelum dipaparkan lebih lanjut mengenai hasil belajar, terlebih dahulu
akan dijelaskan tentang defenisi belajar. Menurut Burton dalam Aunurrahman
(2009), merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri
individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu

14

dengan

lingkungannya

sehingga

mereka

mampu

berinteraksi

dengan

lingkungannya.
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui
interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku yang dimaksud dari
peernyataan diatas, dapat berupa dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti
menjadi mengerti, dan tidak dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan
sesuatu. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan belajar itu sama prinsipnya
dengan perubahan tingkah laku. Perubahan-perubahan tersebut pada diri sesorang
dapat terjadi secara sadar, dalam artian bahwa perubahab itu diperoleh setelah
sesorang melakukan perbuatan belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa pada diri
seseorang tersebut terjadi perubahan perilaku (Hamalik, 2004).
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi setelah mengikuti
proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam usaha
memudahkan memahami dan mengukur perubahan perilaku maka

perilaku

kejiwaan manusia dibagi menjadi tiga domain atau ranah antara lain kognitif
(berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan,
pengertian, dan keterampilan berpikir), afektif (berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri), dan psikomotorik (berisi perilaku-perilaku yang menekankan
aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin) (Purwanto, 2008).
Hasil belajar mencakup dimensi pengetahuan dalam taksonomi bloom
yang telah direvisi, yaitu: (1) pengetahuan factual, yaitu pengetahuanyang berupa
potongan-potongan informasi yang telah terpisah-pisah atau unsur dasar yang ada

15

dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang mencakup pengetahuan tentang


terminology dan pengetahuan tentang bagian detail, (2) pengetahuan konseptual,
yaitu pengetahuan yang menunjukkan saling berkaitan antara unsur dasar dalam
struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi sama-sama, yang mencakup
semua skema, model pemikiran dan teori, (3) pengetahuan procedural, yaitu
pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin
maupun yang baru. Dan (4) pengetahuan metakognitif, yaitu mencakup
pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Sementara menurut lindgreen dalam (Suprijono, 2009:7) hasil belajar meliputi
kecakapan, informasi, pengetahuan dan sikap.
Revisi taksonomi Bloom oleh Anderson membagi dimensi proses kognitif
berisikan enam kategori: mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasikan
(C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Mengingat
berarti mengambil pengetahuan tertentu dari memori jangka panjang. Memahami
adalah mengkonstruksi makna dari materi pembelajaran, termasuk apa yang
diucapkan, ditulis dan digambar oleh guru. Mengaplikasikan berarti menerapkan
atau menggunakan suatu prosedur dalam keadaan tertentu. Menganalisis berarti
memecah-mecah materi jadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan
hubungan-hubungan antar bagian itu dan hubungan antara bagian-bagian tersebut
dan keseluruhan struktur atau tujuan. Mengevaluasi ialah mengambil keputusan
berdasarkan kriteria dan/ atau standar. Mencipta adalah memadukan bagianbagian untuk membentuk sesuatu yang baru atau produk orisinal (Anderson dan
Krathwol, 2010).

16

Hasil belajar afektif oleh Krathwoll dibagi menjadi lima tingkat yaitu
penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi dan internalalisasi. Sedangkan hasil
belajar psikomotorik oleh Harrow, dapat diklasifikasikan menjadi enam: gerak
reflex, gerak fundamental dasar, kemampuan perceptual, kemampuan fisis,
gerakan keterampilan, dan komunikasi tanpa kata. Namun taksonomi yang paling
banyak digunakan adalah taksonomi hasil belajar dari Simpson yang
mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam: persepsi, kesiapan,
gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas
(Purwanto, 2008).
Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud dengan hasil belajar
adalah hasil yang dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti proses belajar
mengajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam
penelitian ini, orientasi tes hasil belajar lebih diarahkan pada aspek kognitif.
Dengan demikian, hasil belajar K3 dalam penelitian ini adalah skor total yang
menggambarkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran
K3 pada ranah kognitif. Skor tersebut dapat diperoleh dari hasil pemberian tes
hasil belajar K3.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan
atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah
faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor
eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Kedua faktor tersebut saling
mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil
belajar.

17

Menurut Slameto (2003), faktor-faktor internal terdiri atas faktor


jasmaniah, faktor psikologi, dan faktor kelelahan. Faktor psikologi, yaitu faktor
inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang
sama, peserta didik yang memiliki inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil
dibanding dengan inteligensi yang rendah. Meski demikian belajar adalah suatu
proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Disamping
faktor inteligensi yang dimiliki peserta didik, juga ada faktor lain seperti motivasi,
minat, bakat, perhatian, motif, kematangan, sikap, kesiapan, faktor fisik, dan
psikis.
Adapun faktor-faktor yang berada di luar dirinya (eksternal) juga dapat
menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Faktor eksternal yang
berpengaruh terhadap belajar dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu faktor
keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor sekolah yang
mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru
dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu
sekolah, standar pengajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
Metode mengajar mempengaruhi belajar seseorang. Mengajar guru yang kurang
baik akan mempengaruhi belajar peserta didik yang tidak baik pula. Agar peserta
didik dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus diusahakan yang
setepat, efisien, dan efektif mungkin (Slameto, 2003). Meskipun demikian faktor
eksternal yang lain seperti faktor keluarga dan faktor lingkungan juga turut
mempengaruhi proses belajar seseorang.
c. Cara mengukur hasil belajar

18

Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar mengajar sesuai
dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapain
tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
Mengukur hasil belajar dapat dilakukan dengan evaluasi atau tes hasil belajar.
Dalam mengukur hasil belajar, peserta didik di dorong untuk menunjukkan
penampilan maksimalnya. Dari jawaban atas tes hasil belajar dapat diketahui
penguasaan

terhadap

materi

yang

diajarkan

dan

dipelajari (Purwanto,

2008).
Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik maka
harus memiliki informasi mengenai siswa yang diperoleh melalui evaluasi yang
dilakukan oleh guru. Evaluasi memberikan infromasi mengenai hasil belajar siswa
sehingga guru dapat menentukan apakah tujuan yang telah ditetapkan telah
tercapai atau belum. Dengan makna demikian, evaluasi disusun berdasarkan
tujuan (Sahabuddin, 2007).
Evaluasi hasil belajar merupakan suatu tindakan atau proses untuk
menentukan nilai keberhasilan peserta didik setelah melakukan proses
pembelajaran pada waktu tertentu. Tujuan umum dari evaluasi hasil belajar adalah
untuk menghimpun data tentang taraf kemajuan dan perkembangan peserta didik
setelah mengikuti proses pembelajaran. Menurut Hamdani (2010), evaluasi belajar
di sekolah dibagi menjadi empat jenis.
1) Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang ditujukan untuk memperbaiki
proses belajar mengajar, dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok

19

bahasan atau topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu proses
pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan.
2) Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang ditujukan untuk keperluan penetuan
angka kemajuan atau hasil belajar. Jenis evaluasi ini dilaksanakan setelah pengajar
menyelesaikan pengajaran yang diprogramkan untuk satu semester. Kawasan
bahannya sama dengan kawasan bahan yang terkandung di dalam satuan program
semester.
3) Evaluasi Penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang ditujukan untuk menempatkan
peserta didik dalam situasi belajar atau program pendidikan yang sesuai dengan
kemampuannya.
4) Evaluasi Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk membantu
memecahkan kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik. Evaluasi
diagnostik merupakan evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan dan
kelemahan sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat.
Teknik evaluasi digolongkan menjadi dua, yaitu teknik tes dan teknik non
tes. Dalam evaluasi pendidikan terdapat beberapa macam tes. Menurut Arikunto
(2010), bentuk-bentuk tes ada dua yaitu tes subjektif dan tes objektif.
1) Tes subjektif

20

Pada umumnya tes subjektif berbentuk esai (uraian) yang merupakan


sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan
atau uraian kata-kata.
2) Tes objektif
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara
objektif. Hal ini dimaksudkan untuk megatasi kelemahan dari tes bentuk esai.
Macam-macam tes objektif yaitu (1) Tes benar-salah (true-false test), yaitu tes
yang soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan. Pernyataan tersebut ada yang
benar dan ada yang salah. (2) Tes pilihan ganda (multiple choice test), merupakan
tes yang terdiri atas

suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu

pengertian yang belum lengkap dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari
beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. (3) Tes menjodohkan
(matching test), merupakan tes yang terdiri atas satu pertanyaan dan satu seri
jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam
seri jawaban. Tes ini seringkali disebut mencocokkan atau memasangkan. (4) Tes
isian (completion test), biasa disebut dengan istilah tes menyempurnakan atau
melengkapi. Terdiri atas kalimat-kalimat yang pada beberapa bagian dihilangkan
untuk diisi oleh peserta didik.
Teknik nontes adalah suatu alat penilaian yang dipergunakan untuk
mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes tanpa menggunakan
tes. Teknik nontes bertujuan memperoleh informasi yang berkaitan dengan
evaluasi hasil belaja dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah
keterampilan (psychomotoric domain). Dalam dunia pendidikan, teknik nontes

21

yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi) dan wawancara (Hamdani,


2010).
Penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan dengan tes, tetapi dapat juga
dilakukan melalui alat atau instrument pengukuran bukan tes, seperti pedoman
observasi dan skala sikap untuk mengukur hasil belajar yang mengutamakan
penampilan atau keterampilan dalam pendidikan professional. Instrumen untuk
memperoleh informasi hasil belajar non-tes terutama digunakan untuk mengukur
hasil belajar yang berkenaan dengan soft skills dan vocational skills, terutama
yang berhubungan dengan apa yang dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik
(Widoyoko, 2013).
B. KajianPenelitian yang Relevan
Kajian penelitian yang relevan adalah sebagai berikut:
1. Irwan Christanto Edy(Stie Aub Surakarta), Studi Pemanfaatan Web
Site E-Learning Dan Pengaruhnya Terhadap Motivasi, Kinerja Dan Hasil
Belajar Pada Guru Dan Siswa SMK tujuan dari penelitian ini yaitu untuk
menguji pemanfaatan web e-learning dalam pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah kejuruan Provinsi Jawa
Tengah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima
yaitu e-learning dapat mempengaruhi motivasi belajar, kinerja individu,
dan hasil belajar siswa.
2. Sulihin B. Sjukur (2012), Pengaruh Blended Learning Terhadap Motivasi
Belajar dan Hasil Belajar Siswa di Tingkat SMK. Tujuan dari penelitian
ini yaitu: (1) untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar dan hasil

22

belajar antara siswa yang diajarkan pembelajaran blended learning


dibanding siswa yang diajarkan pembelajaran konvensional, dan (2)
mengetahui peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa akibat
penerapan pembelajaran blended learning. Adapun hasil dari penelitian ini
yaitu: (1) Terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang diajar
pembelajaran

blended

learning

dibandingkan

siswa

yang

diajar

pembelajaran konvensional dengan nilai sig. 0,012 dengan rata-rata 4,74


dan terdapat perbedaan hasil belajar dengan nilai sig. 0,000 dengan ratarata 13,39, dan (2) Ada peningkatan motivasi belajar siswa akibat
penerapan pembelajaran blended learning dengan nilai sig. 0,000 rata-rata
peningkatan 13,55 dan ada peningkatan hasil belajar siswa dengan nilai
sig. 0,000 rata-rata peningkatan 38,23.
3. Khasan Bisri, dkk (Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri
Semarang), Jenis penelitian yaitu penelitian eksperimen yang bertujuan
untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pelatihan e-Learning melalui
browser Berbasis di Kompetensi Pemeliharaan / servis Transmisi Manual
dan Komponen. Metode studi Browser ini Berdasarkan pelatihan telah
diuji untuk satu kelas sebagai kelas eksperimen, sedangkan untuk kelas
kontrol menggunakan metode konvensional yang telah diuji untuk satu
kelas dari Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif di SMK Negeri 2
Kendal. Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan adalah peningkatan hasil
belajar siswa pada Kompetensi Pemeliharaan / Servis Transmisi Manual
dan Komponen dengan menggunakan Metode Pelatihan Berbasis

23

Pembelajaran Browser yang lebih baik daripada menerapkan metode


konvensional.
C. Kerangka Pikir
Media pembelajaran yang baik yaitu media pembelajaran yang dapat
meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik. Maka dari itu, pengajar
harus pandai dalam memilih dan menggunakan media dalam pembelajaran karena
pemilihan media yang tepat berpengaruh terhadap hasil belajar. Media
pembelajaran yang banyak digunakan di dunia pendidikan adalah pembelajaran
berbantuan komputer, salah satunya media pembelajaran e-learning. E-learning
merupakan pembelajaran berbasis elektronik, pembelajaran yang banyak
menggunakan jaringan internet. Kita ketahui bahwa internet salah satu sumber
belajar paling luas. Dengan demikian dapat mempermudah peserta didik untuk
mencari referensi, memperluas pemahaman siswa, menambah pengalaman siswa,
lebih efektif jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
Berdasarkan hasil lembar observasi penilitian yang dibagikan kepada
mahasiswa jurusan pendidikan teknik mesin angkatan 2014, diperoleh data bahwa
sarana dan prasarana penunjang penggunaan media e-learning cukup memadai.
Rata-rata mahasiswa mempunyai laptop, smartphone, modem, dan ketersedian
jaringan internet di kampus maupun di sekitar tempat tinggal mahasiswa. Selain
itu, mahasiswa gemar mengakses internet untuk sosial media. Berdasarkan hal
tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengujicobakan media pembelajaran elearning berbasis website udemy.

24

Website udemy merupakan media e-learning berbasis website yang dapat


diakses

secara gratis, menyediakan forum diskusi,

menyediakan quiz,

menyediakan aplikasi sosial media seperti halnya facebook. Website udemy juga
dapat menampung sampai ratusan file didalamnya, file yang sudah ada didalam
juga bisa kita ganti dengan file baru sesuai dengan kebutuhan.
Penggunaan media pembelajaran e-learning berbasis website udemy ini
diharapkan dapat menambah minat mahasiswa untuk belajar secara mandiri,
menambah aktifitas mahasiswa di luar jam pelajaran, menambah ketertarikan
untuk menggunakan internet sebagai penunjang pembelajaran sehingga aktifitasaktifitas tersebut dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa.
Bagan kerangka pikir dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut:
Pembelajaran konvensional menggunakan media
powerpoint
Pembelajaran berpusat pada pengajar
(teacher centered learning)

Hasil belajar rendah

Penggunaan media pembelajaran e-learning


berbasis website udemy
Pembelajaran berpusat pada Mahasiswa
(student centered learning)

Hasil belajar meningkat

Gambar 2.1
Kerangka Pikir

25

D. Hipotesis
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir, maka hipotesis dalam
penelitian ini yaitu terdapat perbedaan hasil belajar mahasiswa melalui
penggunaan

media

pembelajaran

e-learning

berbasis

website

udemy,

dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya belajar menggunakan media


powerpoint secara konvensional.