Anda di halaman 1dari 3

Faktor Cara Perawatan Tali Pusat

Terdapat sebagian masyarakat di negara-negara berkembang


masih menggunakan ramuan untuk menutup luka tali pusat seperti
kunyit dan abu dapur. Seterusnya, tali pusat tersebut akan dibalut
dengan menggunakan kain pembalut yang tidak steril sebagai
salah satu ritual untuk menyambut bayi yang baru lahir. Cara
perawatan tali pusat yang tidak benar ini akan meningkatkan lagi
risiko terjadinya kejadian tetanus neonatorum (Chin, 2000).
d. Faktor Kebersihan Tempat Pelayanan Persalinan
Kebersihan suatu tempat pelayanan persalinan adalah sangat
penting. Tempat pelayanan persalinan yang tidak bersih bukan
sahaja berisiko untuk menimbulkan penyakit pada bayi yang akan
dilahirkan, malah pada ibu yang melahirkan. Tempat pelayanan
persalinan yang ideal sebaiknya dalam keadaan bersih dan steril
(Abrutyn, 2008).
Universitas Sumatera Utara

e. Faktor Kekebalan Ibu Hamil


Ibu hamil yang mempunyai faktor kekebalan terhadap tetanus
dapat membantu mencegah kejadian tetanus neonatorum pada
bayi baru lahir. Antibodi terhadap tetanus dari ibu hamil dapat
disalurkan pada bayi melalui darah, seterusnya menurunkan risiko
infeksi Clostridium tetani. Sebagian besar bayi yang terkena
tetanus neonatorum biasanya lahir dari ibu yang tidak pernah
mendapatkan imunisasi TT (Chin, 2000).
2.1.4. Patogenesis
Pertolongan persalinan dan pemotongan tali pusat yang tidak
steril akan memudahkan spora Clostridium tetani masuk dari luka
tali pusat dan melepaskan tetanospamin. Tetanospamin akan
berikatan dengan reseptor di membran prasinaps pada motor
neuron. Kemudian bergerak melalui sistem transpor aksonal
retrograd melalui sel-sel neuron hingga ke medula spinalis dan
batang otak, seterusnya menyebabkan gangguan sistim saraf pusat
(SSP) dan sistim saraf perifer (Arnon, 2007). Gangguan tersebut
berupa

gangguan

terhadap

inhibisi

presinaptik

sehingga

mencegah keluarnya neurotransmiter inhibisi, yaitu asam


aminobutirat gama (GABA) dan glisin, sehingga terjadi epilepsi,
yaitu lepasan muatan listrik yang berlebihan dan berterusan,
sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke

bagian-bagian tubuh terganggu (Abrutyn, 2008). Ketegangan otot


dapat bermula dari tempat masuk kuman atau pada otot rahang
dan leher. Pada saat toksin masuk ke sumsum tulang belakang,
kekakuan otot yang lebih berat dapat terjadi. Dijumpai kekakuan
ekstremitas, otot-otot dada, perut dan mulai timbul kejang. Sebaik
sahaja toksin mencapai korteks serebri, penderita akan mengalami
kejang spontan. Pada sistim saraf otonom yang diserang
tetanospasmin akan menyebabkan gangguan proses pernafasan,
metabolisme, hemodinamika, hormonal, pencernaan, perkemihan,
dan pergerakan otot. Kekakuan laring, hipertensi, gangguan irama
jantung, berkeringat secara berlebihan
Universitas Sumatera Utara
(hiperhidrosis) merupakan penyulit akibat gangguan
saraf otonom. Kejadian gejala penyulit ini jarang
dilaporkan karena penderita sudah meninggal