Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN

APRIL 2016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

STROK NON HEMORAGIK

Pembimbing :
dr. A. Weri Sompa, M.Kes, Sp.S

Disusun Oleh :
Nurul Ariefah, S.Ked
10542 0314 11

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR


2016
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama

: Nurul Ariefah

Stambuk

: 10542 0314 11

Judul Laporan Kasus : STROK NON HEMORAGIK

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, april 2016


Pembimbing

dr. A. Weri Sompa, M.Kes, Sp.S

Strok Non Hemoragik

A. PENDAHULUAN
Stroke didefinisiakan sebagai suatu manifestasi klinis gangguan peredaran darah di otak
yang menyebabkan defisit neurologis. Menurut World Health Organization (WHO) stroke
adalah manifestasi klinis dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh
(global) yang berlangsung dengan cepat, lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa
ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskular.
Stroke atau serangan otak adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak,
progresif, cepat, berupa defisit neurologis fokal dan atau global, yang berlangsung 24 jam
atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan sematamata di sebabkan oleh gangguan
peredaran darah otak non traumatik. Stroke non hemoragik didefinisikan sebagai sekumpulan
tanda klinik yang berkembang oleh sebab vaskular. Gejala ini berlangsung 24 jam atau lebih
pada umumnya terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke otak, yang menyebabkan cacat
atau kematian (PERDOSSI, 2007).
Stroke merupakan penyebab kematian tersering ketiga di Amerika dan merupakan
penyebab utama disabilitas serius jangka panjang. Delapan puluh lima persen stroke adalah
non-hemoragik yang terdiri dari 25% akibat small vessel disease (stroke lakunar), 25% akibat
emboli dari jantung (stroke tromboemboli) dan sisanya akibat large vessel disease. Riset
kesehatan dasar tahun 2007 mendapatkan prevalensi stroke nasional sebesar 0.8%. Stroke
juga menjadi penyebab kematian paling tinggi yaitu mencapai 15.9% pada kelompok umur
45 sampai 54 tahun dan meningkat jadi 26.8% pada kelompok umur 55 sampai 64 tahun.
Berdasarkan patofisiologinya stroke terdiri dari stroke non hemoragik dan stroke
hemoragik. Stroke non hemoragik adalah tipe stroke yang paling sering terjadi, hampir 80%
dari semua stroke. Disebabkan oleh gumpalan atau sumbatan lain pada arteri yang mengalir
ke otak. Pada pasien terdapat kelemahan anggota gerak, dan parese nervus VII dan XII yang
mengarah pada stroke non hemoragik. Sehingga diperlukan penaganan segera untuk
menghindari komplikasi lebih lanjut. Terdapat beberapa faktor resiko terjadinya stroke non
hemoragik, antara lain usia lanjut, hipertensi, DM, penyakit jantung, hiperkolesterolemia,
merokok dan kelainan pembuluh darah otak.

Laporan Kasus
I.

Identitas Pasien
Nama

: Ny. I

Umur

: 42 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: IRT

Alamat

: Permata Sudiang 1

Tanggal Pemeriksaan : 06-04-2016

II.

Oleh C0-ass

: Nurul Ariefah

Bangsal

: Anyelir

Tanggal MRS

: 01-04-2016

No. CM

: 21.84.81

Anamnesis
a) Keluhan Utama : kesadaran menurun
b) Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang pasien perempuan, umur 42 tahun dibawa oleh keluarganya ke
UGD RS Pelamonia dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 3 jam
yang lalu. Penurunan kesadaran secara tiba-tiba setelah pasien berkegiatan
didapur. Awalnya pasien mengeluh kram pada tangan sebelah kanan,
diikuti dengan kelemahan pada kaki kanan. Nyeri kepala (-), mual (-),
muntah (-), pusing (-), demam (-), trauma kepala (-).
c) Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami stroke tahun 2013

Hipertensi, tidak minum obat teratur

DM

Hiperkolestrolemia

d) Riwayat penyakit keluarga

DM

e) Riwayat sosial, ekonomi, dan pribadi

Pasien seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama 3 anaknya, selain
sebagai ibu rumah tangga pasien aktif dalam kegiatan PERSIT. Merokok (-),
alkohol (-), penggunaan obat-obatan (-).
III. Pemeriksaan Fisik
a) Status Generalis :
Kesadaran

: GCS E3M5Vx ( sewaktu masuk RS),


GCS E4M6Vx (perawatan hari ke 6)

Tekanan Darah

: 170/100 mmHg

Nadi

: 86x/menit

Pernapasan

: 27x/menit

Suhu

: 36,4C

Anemia

: Tidak ada

Sianosis

: Tidak ada

Ikterus

: Tidak ada

b) Status Internus :
Toraks

: Paru dan jantung dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Corpus Vertebrae

: dalam batas normal

c) Status Psikiatri
Perasaan hati

: sulit dinilai

Perasaan berfikir

: sulit dinilai

Kecerdasan

: sulit dinilai

Memori

: sulit dinilai

Psikomotor

: gelisah

d) Status Neurologis
GCS 10: E4M6Vx (perawatan hari ke 6)
GCS 8: E3M6Vx (sewaktu masuk rumah sakit)
1.

Kepala : - Bentuk : Normocephal

-Posisi: -

-Penonjolan: -

-Pulsasi: -

2.

Leher : -Sikap
-Pergerakan

: berbaring
: terbatas

-Kaku kuduk : 3. Urat Saraf Kranial (Nervus Kranialis) :


- Nervus I (Nervus Olfaktorius)

1. Subyektif

: sulit dinilai

2. Obyektif

: sulit dinilai

- N II ( Nervus Optikus )

1. Ketajaman Penglihatan

: SDN

SDN

2. Lapangan Penglihatan

: SDN

SDN

3. Melihat Warna

: TDE

TDE

- Nervus III, IV, VI (Nervus Okulomotorius, Trokhlearis, Abdusens) :


1. Celah kelopak mata :

Kanan

Kiri

- Ptosis

:-

- Exoftalmus

:-

- Nistagmus

:-

- Bentuk/ukuran

: Bulat

Bulat

-Isokor/anisokor

: Isokor

Isokor

2. Pupil :

- Refleks Cahaya Langsung : +

- Refleks konsensuil

:+

- Refleks akomodasi

:+

:-

3. Gerakan Bola mata


- Paresis ke arah
- Nervus V (Nervus Trigeminus) :
1. Sensibilitas wajah

: sulit dinilai

2. Menggigit

: terganggu

3. Menguyah

: terganggu

4. Refleks masseter

: dalam batas normal

5. Refleks kornea

: dalam batas normal

- Nervus VII (Nervus Facialis) :


1. Mengerutkan dahi

: sulit dinilai

2. Menutup mata

: menurun pada kedua mata

3. Sulcus Nasolabialis

: Dangkal disebelah kanan

4. Bersiul

:-

5. Pengecapan 2/3 lidah bagian depan

:tidak dievaluasi

- NervusVIII (Nervus Vestibulocochlearis):


1. Suara berbisik

: sulit dinilai

2. Test rinner

: tidak dievaluasi

3. Test weber

: tidak dievaluasi

- Nervus IX (Nervus Glosofaringeus) :


1. Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang : tidak dievaluasi
2. Sensibilitas faring

: tidak dievaluasi

- Nervus X (Nervus Vagus) :


1. Arcus faring

: tidak dievaluasi

2. Berbicara

:-

3. Menelan

:-

4. Nadi

: Reguler

- Nervus XI (Nervus Aksesorius) :


1. Memalingkan kepala

:-

2. Mengangkat bahu

:-

- Nervus XII (Nervus Hipoglosus) :


1. Pergerakan lidah

: sulit dinilai

2. Tremor lidah

:-

3. Atrofi lidah

:-

4. Fasikulasi

:-

5. Artikulasi

:-

4. Badan dan Anggota Gerak


a. Badan
Bentuk kolumna vertebralis

: tidak dievaluasi

Pergerakan kolumna vertebralis : tidak dievaluasi

Refleks kulit perut atas

: dalam batas normal dalam batas normal

Refleks kulit perut tengah

: dalam batas normal dalam batas normal

Refleks kulit perut bawah

: dalam batas normal dalam batas normal

Refleks kremaster

: tidak dievaluasi

tidak dievaluasi

Sensibilitas
- Taktil

: sulit dinilai

sulit dinilai (kesan menurun)

- Nyeri

: sulit dinilai

sulit dinilai (kesan menurun)

- Suhu

: tidak dievaluasi

tidak dievaluasi

b. Anggota Gerak
motorik
- Pergerakan

-Kekuatan

N
- Tonus

N
N

- Refleks fisiologik
- Biceps

Menurun

KPR : Menurun

- Triceps

Menurun

APR : Menurun

- Radius

Menurun

- Ulna

Menurun

- Refleks Patologik
- Hoffmann-Tromner +/-

Babinski

Chaddock

Gordon

Schaeffer

Openheim
- Tes Lasegue

- Tes Kernig

- Pentrik

- Kontrapetrik

Sensorik (Sensibilitas) :
-

Eksteroseptif
- Taktil

: sulit dinilai (kesan menurun)

sulit dinilai

- Nyeri

: sulit dinilai (kesan menurun)

sulit dinilai

- Suhu

: tidak dievaluasi

tidak dievaluasi

- Proprioseptif :
- Rasa Sikap

: sulit dinilai

sulit dinilai

- Rasa nyeri dalam : dalam batas normal dalam batas normal


Fungsi kortikal
- Rasa diskriminasi : sulit dinilai

sulit dinilai

- Stereognosis

sulit dinilai

: sulit dinilai

Kordinasi, Giat dan Keseimbangan :


- Cara berjalan

: tidak dievaluasi

- Tes romberg

: tidak dievaluasi

- Disdiadokokinesis

: tidak dievaluasi

- Ataksia

: tidak dievaluasi

- Rebound phenomena

: tidak dievaluasi

- Dismetri

: tidak dievaluasi

Gerakan-gerakan abnormal :
- tremor

:-

- athetosis

:-

- mioklonus

:-

- khorea

:-

Alat vegetatif :
- Miksi

: Lancar

- Defekasi

: 5 hari belum BAB

- Ereksi

: tidak dievaluasi

5. Fungsi Luhur :
- Memori

: sulit dinilai

- fungsi bahasa

: terganggu

- Visuospasial

: sulit dinilai

- praksia

: sulit dinilai

- kalkulasi

: sulit dinilai

RESUME
S:

Seorang pasien perempuan, umur 42 tahun dibawa oleh keluarganya ke RS

dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 3 jam yang lalu. Penurunan kesadaran secara
tiba-tiba setelah pasien berkegiatan didapur. Awalnya pasien mengeluh kram pada tangan
sebelah kanan, diikuti dengan kelemahan pada kaki kanan. Nyeri kepala (-),mual (-),
muntah (-),pusing (-), demam (-).
O:

GCS E3M5Vx (saat masuk RS), E4M6Vx ( perawatan hari ke 6)


FKL: sulit dinilai
RM: KK-/-, KS -/Nn. Cranial : pupil bulat, isokor diameter 2,5 mm, RCL +/+, RCTL +/+

Motorik :
P:

K:

2 5
2 5

Reflex fisiologi
Biceps

KPR

T:

N
N

Triceps

APR

Reflex patologik
Hoffmann-tromner : + /-

Gordon : - / -

Babinski : +/-

Openhim : - / -

Chaddock : -/ -

Schaefer : - / -

Sensorik : Eksteroproprioseptif : sulit dinilai (kesan menurun)


Proprioseptif

: sulit dinilai (kesan menurun)

Otonom : BAB : 5 hari belum BAB


BAK : lancar
IV. ASSESSMENT (DIAGNOSA KERJA)

Diagnosis Klinis

: Hemiparese dextra

Diagnosis Topis

: Hemisfer cerebri sinistra

Diagnosis Etiologi

: suspek Non Hemoragik Stroke

DIAGNOSA BANDING
Hemoragik stroke
V. PLANNING
A. Terapi :
Umum :

Brething
-Memperbaiki jalan napas

Blood (tekanan darah)


Brain
-Posisi kepala 20-300

Bladder
-Bila ada retensio urine dipasangi cateter.

Bowel

Defekasi pada pasien

Khusus :

IVFD RL 20 tts/menit
piracetam 1 amp /12 jam /IV
Aspilet 80 mg 1 x 1 tab
Mecobalamin 500 mg 1x1

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium : Darah rutin, GDS, kolesterol, HDL,LDL, Trigliserida
2. Pemeriksaan radiologi dan lain-lain :
- EKG
- CT-Scan
- MRI

Dari pemeriksaan CT-Scan kepala didapatkan hasil: Infark Cerebri sinistra


VI.

Diagnosis keluar
Strok non hemoragik

VII.

PROGNOSIS
Quo ad sanationem

: dubia ad malam

B. DISKUSI
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya stroke iskemik, salah satunya adalah
aterosklerosis, dengan mekanisme thrombosis yang menyumbat arteri besar dan arteri kecil,
dan juga melalui mekanisme emboli. Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di
sepanjang jalur arteri yang menuju ke otak. Aterosklerosis dapat menimbulkan bermacammacam manifestasi klinik dengan cara:
1. Menyempitkan lumen pembuluh darah dan mengakibatkan insufisiensi aliran darah.
2. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya trombus atau perdarahan aterom.
3. Merupakan terbentuknya trombus yang kemudian terlepas sebagai emboli.
Menyebabkan dinding pembuluh menjadi lemah dan terjadi aneurisma yang
kemudian dapat robek.
Suatu penyumbatan total dari aliran darah pada sebagian otak akan menyebabkan
hilangnya fungsi neuron yang bersangkutan pada saat itu juga. Bila anoksia ini berlanjut
sampai 5 menit maka sel tersebut dengan sel penyangganya yaitu sel glia akan mengalami
kerusakan ireversibel sampai nekrosis beberapa jam kemudian yang diikuti perubahan
permeabilitas vaskular disekitarnya dan masuknya cairan serta sel-sel radang.
Di sekitar daerah iskemi timbul edem glia, akibat berlebihannya H+ dari asidosis
laktat. K+ dari neuron yang rusak diserap oleh sel glia disertai retensi air yang timbul dalam
empat hari pertama sesudah stroke. Edem ini menyebabkan daerah sekitar nekrosis
mengalami gangguan perfusi dan timbul iskemi ringan tetapi jaringan otak masih hidup.
Daerah ini adalah iskemik penumbra. Bila terjadi stroke, maka di suatu daerah tertentu dari
otak akan terjadi kerusakan (baik karena infark maupun perdarahan). Neuron-neuron di
daerah tersebut tentu akan mati, dan neuron yang rusak ini akan mengeluarkan glutamat,
yang selanjutnya akan membanjiri sel-sel disekitarnya. Glutamat ini akan menempel pada
membran sel neuron di sekitar daerah primer yang terserang. Glutamat akan merusak
membran sel neuron dan membuka kanal kalsium (calcium channels). Kemudian terjadilah
influks kalsium yang mengakibatkan kematian sel. Sebelumnya, sel yang mati ini akan
mengeluarkan glutamat, yang selanjutnya akan membanjiri lagi neuron-neuron disekitarnya.
Terjadilah lingkaran setan. Neuron-neuron yang rusak juga akan melepaskan radikal bebas,
yaitu charged oxygen molecules (seperti nitric acida atau NO), yang akan merombak molekul
lemak didalam membran sel, sehingga membran sel akan bocor dan terjadilah influks

kalsium. Stroke iskemik menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak yang menyebabkan
kematian sel.
Stroke non hemoragik didefinisikan sebagai sekumpulan tanda klinik yang berkembang
oleh sebab vaskular. Gejala ini berlangsung 24 jam atau lebih pada umumnya terjadi akibat
berkurangnya aliran darah ke otak, yang menyebabkan cacat atau kematian.
Dalam kasus ini, pasien mengalami gejala klinis berupa lemah separuh badan dan
kesadaran menurun akibat terjadinya cedera neuron pada tingkat sel diakibatkan karena
ketidakmampuan otak untuk menyimpan glukosa dan melakukan metabolisme secara anaerob
menyebabkan sel otak mengalami hipoksia atau anoksia.
Faktor risiko stroke dibedakan antara yang tidak dapat dirubah (unmodifiable risk faktor)
dan yang dapat dirubah (modifiable risk factors)
1) Faktor yang tidak dapat dirubah:
merokok, alkoholik, penggunaan narkotika, hiperurisemia Umur, jenis kelamin,
genetic, ras.
2) Faktor yang dapat dirubah:
Riwayat stroke, TIA, hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, dislipidemia
(hiperkolesterol), obesitas,
Dari kasus diatas, pasien sudah pernah mengalami stroke pada tahun 2013 lalu, adanya
riwayat hipertensi (minum obat tidak tertatur), DM, dan hiperkolestrolemia juga menjadi faktor
pemberat terjadinya stroke kedua kalinya pada pasien ini.
Afasia adalah gangguan fungsi berbicara, berbeda dengan gangguan aktivitas bicara
secara fisik yang disebut disartria atau anartria. area yang berhubungan dengan ber-bahasa
berlokasi di korteks asosiasi frontal dan temporoparietal dari hemisfer kiri, yang mana biasanya
kontralateral dengan tangan yang dominan (kanan). Pusat utama berbicara terletak pada
region basal dari lobus frontalis kiri (area Broca/area 44) dan bagian posterior dari lobus
temporal (pada daerah

yang berhubungan dengan lobus parietal) (area Wernicke area

22).Berdasarkan hasil pemeriksaan CT-Scan dapat dilihat bahwa infark terjadi pada daerah
temporal yang meluas hingga ke daerah frontalis, dimana pusat bicara utama terdapat di region
basalis lobus frontalis kiri (area broca, area 44). Hal inilah yang menyebabkan pada pasien ini
mengalami afasia motoric/ afasia broca, dimana pasien mengalami penurunan nyata atau
hilangnya pembentukan bahasa tetapi pasien masih dapat mengerti kata-kata dan nama objek
sederhana.

Prinsip penanganan strok adalah membatasi daerah yang rusak, meningkatkan aliran
darah otak, mencegah terjadinya edema otak, dan memperbaiki aliran darah. Pemberian terapi
kombinasi antara antitrombotik ataupun trombolitik dengan obat yang bersifat neuroprotektif
telah terbukti lebih efektif dibandingkan dengan monoterapi. Obat neuroprotektif yang
digunakan yaitu piracetam. Dimana obat-obat golongan neuroprotektif ini bersifat melindungi
otak yang sedang mengalami iskemi. Secara biokimia mecobalamin adalah cyanocobalamin
yang mengandung co-enzym basa metil aktif. Mecobalamin berperan dalam aksi transmetilasi
yang merupakan homolog B12 yang teraktif didalam tubuh yang berpengaruh terhadap
metabolisme asam nukleat, protein, dan lemak. Mecobalamin bekerja memperbaiki jaringan
saraf yang rusak pada gangguan saraf seperti : degenerasi dan demielinasi aksonal, juga
membantu pematangan eritroblast, membantu pembelahan eritroblast dan sintesis heme,
sehingga dapat memperbaiki stats darah pada anemia megaloblastik.

C. KESIMPULAN
Telah dilaporkan seorang pasien perempuan berumur 42 tahun dengan diagnosis klinis
hemiparese sinistra. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa yaitu adanya kelemahan pada
tungkai dan tangan sebelah kanan. Riwayat diabetes mellitus, hipertensi dan hiperkolestrolemia
dalami sejak beberapa tahun yang lalu.
Dari pemeriksaan fisik, didapatkan, pergerakan tungkai dan tangan sebelah kanan
menurun, kekuatan serta tonus yang menurun pada tangan dan kaki sebelah kanan. Ini
menunjukkan bahwa ada kelainan pada hemisfer sinistra. Pada reflex fisiologis didapatkan KPR
dan APR menurun di sebelah kanan sedangkan reflex patologis didapatkan babinski dan
Hoffman tromner di sebelah kanan.
Berdasarkan gejala, tanda klinis, dan hasil pemeriksaan radiologi tersebut pasien ini
didiagnosa sebagai strok non hemoragik.
Penatalaksanaan pasien ini adalah Breathing (memperbaiki jalan napas, tekanan darah,
posisi kepala 20-300 dan bila ada retensio urine dipasangi kateter. Pengobatan spesifiknya
diberikan neuroprotektor, seperti citikolin, anti agregasi platelet (aspilet, clopidogrel), dan
vitamin B12.