Anda di halaman 1dari 21

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak,
memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest
(hama) yang diberi akhiran -cide (pembasmi). Sasarannya bermacam-macam,
seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang
dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa
sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun".
pestisida

piretrin memegang peranan penting dalam pengendalian

organism pengganggu tanaman, dan serangga pengganggu rumah tangga .


penggunaan dengan bahan aktif sinetik meninggalkan residu yang berbahaya bagi
manusia, ternak dan lingkungan hidup. oleh karena itu penggunanaan pestisida
dengan pilihan yang bijaksana perlu dikembangkan terus demi menjaga residu
yang berbahaya bagi manusia terutama.
Keracunan akibat peptisida tidah hanya bisa terjadi pada tanaman maupun
hewan, namun sangat dimungkinkan keracunan tersebut terjadi pada amanusia,
karena setiap hari manusia inilah yang berkutat dengan peptisida tersebut. Maka
dari itu penting untuk mengetahui konsep dasar peptisida dan cara penanganan
apabila terjadi keracunan tersebut. Terutama bagi para petani ataupun orang yang
selalu terpapar pada peptisida setiap hari karena memiliki resiko tinggi untuk
terjadinya keracunan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut.
1.2.1 apa definisi peptisida piretrin?
1.2.2 apa penyebab keracunan piretrin?
1.2.3 apa saja klasifikasi piretrin?
1.2.4 bagaimana patofisiologi keracunan piretrin?
1.2.5 apa saja manifestasi klinis keracunan piretrin?
1.2.6 apa saja faktor yang menyebabkan keracunan piretrin?
1.2.7 bagaimana penatalaksanaan keracunan piretrin?

1.2.8

apa saja pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk keracunan

piretrin?
1.2.9 bagaimana pengobatan pada pasien keracunan piretrin?
1.2.10 bagaimana clinical pathway keracunan piretrin?
1.2.11 bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan keracunan
piretrin?
1.3 Tujuan Pembahasan
Adapun tujuam pembahasan adalah untuk mengetahui konsep dasar peptisida
dan cara penanganan apabila terjadi keracunan, mulai dari pengertian sampai
asuhan keperawatan pada pasien dengan keracunan.
1.4 Manfaat Pembahasan
Adapuan manfaat pembahasan adalah sebagai pedoman terutama bagi para
perawat untuk dapat mengaplikasikan layanan asuhan keperawatan pada pasien,
terutama petani ataupun orang yang selalu terpapar pada peptisida setiap hari
karena memiliki resiko tinggi untuk terjadinya keracunan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Piretrin
Piretrin adalah suatu bahan aktif yang terdapat pada bunga krisan
chysanthenum cineraariaeliom dimana mempunyai daya racun.
Piretrin merupakan isatilah untuk enam 6 senyawa yang bersifat insektisida
yang dikandung oleh piretrum, piretrin merupakan hasil ekstraksi dari bubuk
mentah piretrum sebagai resin yang dapat dipakai untuk insektisida komersial.
senyawa piretrin bekerja dengan menganggu jaringan saraf serangga atau hama.
dan langsung membuat pusing dan pingsan, namun sebagian besar serangga dapat

bangkit kembali setelah beberapa saat sempoyongan. hal ini disebabakan banyak
jenis serangga yang mampu mengurangi dan menetrealisir piretrin dengan proses
metabolism yang terjadi dalam tubuhnya.
Piretrin mempunyai daya racun rendah pada manusia dan mamalia tetapi
piretrin akan lebih beracun bagi mamalia jika tercium (inhalasi) karena proses
ininhalasi akan menyediakan lebih banyak jalur bagi piretrrin untuk mencapai
alitran darah dan akan menuju otak. adan jika termakan oleh manusia akan , daya
racun yang dihalkan lebih rendah karna akan dinetlalisir oleh asam lambuung.
piretrin adalah racun kontak yang tidak meninggalkan residu, sehingga
pestisida golongan ini paling aman digunakan bagi lingkungan. piretrin akan cepat
terurai oleh sinar matahari

dan kelembapan udara. piretrin digunakan intuk

mengendalikan hama dengan spectrum luas.


2.4 Etiologi Keracunan Piretrin
Pada dasarnya tidak ada batas yang tegas tentang penyebab dari keracunan
berbagai

zat kimia, karena praktis setiap zat kimia mungkin menjadi

penyebabnya, keracunan biasanya terjadi akibat kehirup bahan racun, sengaja


mengkonsumsi zat racun, penggunaan dosis zat yang terlalu berlebih.

2.5 Klasifikasi Piretrin


Adapun klasifikasi piretrin adalah sebagai berikut.
A. Berdasarkan cara terjadinya
Adapun berdasarkan cara terjadinya adalah sebagai berikut.
1. Self poisoning
Pada keadaan ini seseorang menggunakan pestisida dengan dosis yang
berlebihan tanpa memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahaya yang
dapat ditimbulkan dari pestisida tersebut. Self poisoning biasanya terjadi
karena kekurang hati-hatian dalam penggunaan, sehingga tanpa disadari
bahwa tindakannya dapat membahayakan dirinya.
2. Attempted poisoning
Dalam kasus ini, seseorang memang ingin bunuh diri dengan dengan
pestisida, tetapi bisa berakhir dengan kematian atau seseorang sembuh
kembali karena salah tafsir dalam penggunaan dosis.
3. Accidental poisoning

Kondisi ini jelas merupakan suatu kecelakaan tanpa adanya unsur


kesengajaan sama sekali. Kasus ini banyak terjadi pada anak di bawah 5
tahun, karena kebiasaannya memasukkan segala benda ke dalam mulut dan
kebetutan benda tersebut sudah tercemar pestisida.
4. Homicidal poisoning
Keracunan ini terjadi akibat tindak kriminal yaitu seseorang dengan sengaja
meracuni seseorang. Masuknya pestisida dalam tubuh akan mengakibatkan
aksi antara molekul dalam pestisida molekul dari sel yang bereaksi secara
spesifik dan non spesifik. Formulasi dalam penyemprotan pestisida dapat
mengakibatkan efek bagi penggunanya yaitu efek sistemik dan efek lokal.
Efek Sistemik, terjadi apabila pestisida tersebut masuk keseluruh tubuh
melalui peredaran darah sedangkan efek lokal terjadi terjadi dimana senyawa
pestisida terkena dibagian tubuh.

B. Berdasarkan waktu terjadinya


Berdasarkan waktu terjainya adalah sebagai berikut.
1. Keracunan akut
Keracunan jenis ini lebih mudah dipahami, karena biasanya terjadi secara
mendadak setelah terkena sesuatuatau saat terpapar racun. Selain itu
keracunan jenis ini biasanya terjadi pada banyak orang (misal keracunan
makanan, dapat mengenai seluruh anggota keluarga atau bahkan seluruh
warga kampung). Pada keracunan akut biasanya mempunyai gejala hampir
sama dengan sindrom penyakit, oleh karena itu harus diingat adanya
kemungkinan keracunan pada sakit mendadak.
2. Sub Akut
Keracunan sub akut terjadi bila seseorang berulang kali terpapar racun
dalam dosis kecil,
3. Keracunan kronis
Diagnosis keracunan ini sulit dibuat, karena gejala timbul perlahan dan
lama sesudah pajanan. Gejala dapat timbul secara akut setelah pemajanan
berkali-kali dalam dosis yang relatif kecil
C. Menurut alat tubuh yang terkena
Keracunan digolongkan menurut organ tubuh yang terkena, misal racun
pada SSP, racun jantung, racun hati, racun ginjal dan sebagainya. Suatu

organ cenderung dipengaruhi oleh banyak obat, sebaliknya jarang terjadi


keracunan yang mempengaruhi atau mengenai satu organ saja.
2.6 Patofisiologi Keracunan Piretrin
Terjadinya keracunan adalah akibat bahan-bahan racun pestisida masuk ke
dalam tubuh organisme (jasad hidup) berbeda-beda menurut situasi paparan.
Mekanisme masuknya racun pertisida tersebut dapat melalui melalui kulit luar,
mulut dan saluran makanan, serta melalui saluran pernapasan. Melalui kulit,
bahan racun dapat memasuki pori-pori atau terserap langsung ke dalam sistem
tubuh, terutama bahan yang larut minyak (polar). Tanda dan gejala awal
keracunan organofosfat adalah stimulasi berlebihan kolinergenik pada otot polos
dan reseptor eksokrin muskarinik yang meliputi miosis, gangguan perkemihan,
diare, defekasi, eksitasi, dan salivasi. Keracunan organofosfat pada sistem
respirasi mengakibatkan bronkokonstriksi dengan sesak nafas dan peningkatan
sekresi bronkus. Pada umumnya gejala ini timbul dengan cepat dalam waktu 6-8
jam, tetapi bila pajanan berlebihan daapt menimbulkan kematian dalam beberapa
menit. Ingesti atau pajanan subkutan umumnya membutuhkan waktu lebih lama
untuk menimbulkan tanda dan gejala. Adapun beberapa efek yang ditimbulkan
adalah sebagai berikut.
a. Efek pestisida pada sistem tubuh
Bahan kimia dari kandungan pestisida dapat meracuni sel-sel tubuh atau
mempengaruhi organ tertentu yang mungkin berkaitan dengan sifat bahan
kimia atau berhubungan dengan tempat bahan kimia memasuki tubuh atau
disebut juga organ sasaran.
b. Paru-paru dan sistem pernafasan
Efek jangka panjang terutama disebabkan iritasi (menyebabkan bronkhitis
atau pneumonitis). Pada kejadian luka bakar, bahan kimia dalam paru-paru
yang dapat menyebabkan udema pulmoner (paru-paru berisi air), dan dapat
berakibat fatal. Sebagian bahan kimia dapat mensensitisasi atau menimbulkan
reaksi alergik dalam saluran nafas yang selanjutnya dapat menimbulkan bunyi
sewaktu menarik nafas, dan nafas pendek. Kondisi jangka panjang (kronis)
akan terjadi penimbunan debu bahan kimia pada jaringan paru-paru sehingga
akan terjadi fibrosis atau pneumokoniosis.
c. Hati

Bahan kimia yang dapat mempengaruhi hati disebut hipotoksik. Kebanyakan


bahan kimia menggalami metabolisme dalam hati dan oleh karenanya maka
banyak bahan kimia yang berpotensi merusak sel-sel hati. Efek bahan kimia
jangka pendek terhadap hati dapat menyebabkan inflamasi sel-sel (hepatitis
kimia), nekrosis (kematian sel), dan penyakit kuning. Sedangkan efek jangka
panjang berupa sirosis hati dari kanker hati.
d. Ginjal dan saluran kencing
Bahan kimia yang dapat merusak ginjal disebut nefrotoksin. Efek bahan
kimia terhadap ginjal meliputi gagal ginjal sekonyong-konyong (gagal ginjal
akut), gagal ginjal kronik dan kanker ginjal atau kanker kandung kemih.
e. Sistem syaraf
Bahan kimia yang dapat menyerang syaraf disebut neurotoksin. Pemaparan
terhadap bahan kimia tertentu dapat memperlambat fungsi otak. Gejala-gejala
yang diperoleh adalah mengantuk dari hilangnya kewaspadaan yang akhirnya
diikuti oleh hilangnya kesadaran karena bahan kimia tersebut menekan sistem
syaraf pusat. Bahan kimia yang dapat meracuni sistem enzim yang menuju ke
syaraf adalah pestisida. Akibat dari efek toksik pestisida ini dapat
menimbulkan kejang otot dan paralisis (lurnpuh). Di samping itu ada bahan
kimia lain yang dapat secara perlahan meracuni syaraf yang menuju tangan
dan kaki serta mengakibatkan mati rasa dan kelelahan.
f. Darah dan sumsum tulang
Sejumlah bahan kimia seperti arsin, benzen dapat merusak sel-sel darah
merah yang menyebabkan anemia hemolitik. Bahan kimia lain dapat merusak
sumsum tulang dan organ lain tempat pembuatan sel-sel darah atau dapat
menimbulkan kanker darah.
g. Jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler)
Sejumlah pelarut seperti trikloroetilena dan gas yang dapat menyebabkan
gangguan fatal terhadap ritme jantung. Bahan kimia lain seperti karbon
disulfida dapat menyebabkan peningkatan penyakit pembuluh darah yang
dapat menimbulkan serangan jantung.
h. Kulit
Banyak bahan kimia bersifat iritan yang dapat menyebabkan dermatitis atau
dapat menyebabkan sensitisasi kulit dan alergi. Bahan kimia lain dapat

menimbulkan jerawat, hilangnya pigmen (vitiligo), mengakibatkan kepekaan


terhadap sinar matahari atau kanker kulit.
i. Sistem reproduksi
Banyak bahan kimia bersifat teratogenik dan mutagenik terhadap sel kuman
dalam percobaan. Disamping itu ada beberapa bahan kimia yang secara
langsung dapat mempengaruhi ovarium dan testis yang mengakibatkan
gangguan menstruasi dan fungsi seksual.
j. Sistem yang lain
Bahan kimia dapat pula menyerang sistem kekebalan, tulang, otot dan
kelenjar tertentu seperti kelenjar tiroid. Petani yang terpapar pestisida akan
mengakibatkan peningkatan fungsi hati sebagai salah satu tanda toksisitas,
terjadinya kelainan hematologik, meningkatkan kadar SGOT dan SGPT
dalam darah juga dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah.
k. Manifestasi Klinis Keracunan Piretrin
Adapun manifestasi klinis yang dapat terjadi adalah sebagai berikut.
1. Efek muskarinik (DUMBELS) berguna untuk mengingat karena gejala dan
tanda ini berkembang lebih awal, 12-24 jam setelah ingestion.
D Diare
U Urinasi
M Miosis (absent pada 10% kasus)
B Bronchorrhoe/bronkospasme/bradikardi
E Emesis
L lacrimasi
S salivation dan Hipotensi
2. Efek Nikotinik
a. Diaforesis, hipoventilasi, dan takikardi
b. Fasikulasi otot, kram dan kelemahan yang menyebabkan flaccid muscle
paralysis
c. Efek CNS
- ansietas dan insomnia
- depresi nafas
- kejang dan koma
l. Faktor yang Menyebabkan Keracunan Piretrin
Adapun faktor penyebab keracunan adalah sebagai berikut.
Keracunan pestisida terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau
masuk kedalam tubuh dalam jumlah tertentu. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi keracunan pestisida antara lain:

a. Dosis.
Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan pestisida,
karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida untuk penyemprotan
petani hendaknya memperhatikan takaran atau dosis yang tertera pada label.
Dosis atau takaran yang melebihi aturan akan membahayakan penyemprot itu
sendiri. Setiap zat kimia pada dasarnya bersifat racun dan terjadinya
keracunan ditentukan oleh dosis dan cara pemberian. Paracelsus pada tahun
1564 telah meletakkan dasar penilaian toksikoligis dengan mengatakan
dosis sola facit venenum, (dosis menentukan suatu zat kimia adalah racun).
Untuk setiap zat kimia, termasuk air, dapat ditentukan dosis kecil yang tidak
berefek sama sekali, atau dosis besar sekali yang dapat menimbulkan
keracunan atau kematian.
b. Toksisitas senyawa pestisida
Merupakan kesanggupan pestisida untuk membunuh sasarannya. Pestisida
yang mempunyai daya bunuh tinggi dalam penggunaan dengan kadar yang
rendah menimbulkan gangguan lebih sedikit bila dibandingkan dengan
pestisida dengan daya bunuh rendah tetapi dengan kadar tinggi. Toksisitas
pestisida dapat diketahui dari LD 50 oral dan dermal yaitu dosis yang
diberikan dalam makanan hewan-hewan percobaan yang menyebabkan 50%
dari hewan-hewan tersebut mati.
c. Jangka waktu atau lamanya terpapar pestisida
Pada keracunan pestisida, kadang-kadang blokade masih terjadi sampai 2-6
minggu. Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada
paparan yang terputus-putus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan yang
telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi resiko pemaparan baru. Karena itu
penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung lama dapat
menimbulkan keracunan kronik.
d. Jalan masuk pestisida dalam tubuh
Pestisida dapat masuk melalui kulit, mulut dan pernafasan. Keracunan
pestisida terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau masuk ke
dalam tubuh dalam jumlah tertentu. Keracunan akut atau kronik akibat kontak
dengan pestisida dapat melalui mulut, penyerapan melalui kulit dan saluran
pernafasan. Pada petani pengguna pestisida keracunan yang terjadi lebih

banyak terpapar melalui kulit dibandingkan dengan paparan melalui saluran


pencernaan dan pernafasan.
e. Rute/jalan masuk pestisida
1. Dermal
absorpsi melalui kulit atau mata. Absorpsi akan berlangsung terus, selama
pestisida masih ada di kulit.
2. Oral
absorpsi melalui mulut (tertelan) karena kecelakaan, kecerobohan atau
sengaja (bunuh diri), akan mengakibatkan keracunan berat hingga
kematian. Di USA yg paling sering terjadi karena pestisida dipindahkan
ke wadah lain tanpa label.
3. Inhalasi
melalui pernafasan, dapat menyebabkan kerusakan serius pd hidung,
tenggorokan jika terhisap cukup banyak. Pestisida yg masuk secara
inhalasi dapat berupa bubuk, droplet atau uap.
4. Toksikologi
Senyawa-senyawa
organokhlorin
(organoklorin,

chlorinated

hydrocarbons) sebagian besar menyebabkan kerusakan pada komponenkomponen selubung sel syaraf (Schwann cells) sehingga fungsi syaraf
terganggu. Peracunan dapat menyebabkan kematian atau pulih kembali.
Kepulihan bukan disebabkan karena senyawa organokhlorin telah keluar
dari tubuh tetapi karena disimpan dalam lemak tubuh. Semua insektisida
organokhlorin sukar terurai oleh faktor-faktor lingkungan dan bersifat
persisten, Mereka cenderung menempel pada lemak dan partikel tanah
sehingga dalam tubuh jasad hidup dapat terjadi akumulasi, demikian pula
di dalam tanah. Akibat peracunan biasanya terasa setelah waktu yang
lama, terutama bila dose kematian (lethal dose) telah tercapai. Hal inilah
yang menyebabkan sehingga penggunaan organokhlorin pada saat ini
semakin berkurang dan dibatasi. Efek lain adalah biomagnifikasi, yaitu
peningkatan

peracunan

lingkungan

yang

terjadi

karena

efek

biomagnifikasi (peningkatan biologis) yaitu peningkatan daya racun suatu


zat terjadi dalam tubuh jasad hidup, karena reaksi hayati tertentu.10
Semua senyawa organofosfat (organofosfat, organophospates) dan
karbamat (karbamat, carbamates) bersifat perintang ChE (enzim choline

esterase), ensim yang berperan dalam penerusan rangsangan syaraf.


Peracunan dapat terjadi karena gangguan dalam fungsi susunan syaraf
yang akan menyebabkan kematian atau dapat pulih kembali. Umur residu
dari organofosfat dan karbamat ini tidak berlangsung lama sehingga
peracunan kronis terhadap lingkungan cenderung tidak terjadi karena
faktor-faktor

lingkungan

mudah

menguraikan

senyawa-senyawa

organofosfat dan karbamat menjadi komponen yang tidak beracun.


Walaupun demikian senyawa ini merupakan racun akut sehingga dalam
penggunaannya faktor-faktor keamanan sangat perlu diperhatikan. Karena
bahaya yang ditimbulkannya dalam lingkungan hidup tidak berlangsung
lama, sebagian besar insektisida dan sebagian fungisida yang digunakan
saat ini adalah dari golongan organofosfat dan karbamat. Parameter yang
digunakan untuk menilai efek peracunan pestisida terhadap mamalia dan
manusia adalah nilai LD50 (lethal dose 50 %) yang menunjukkan
banyaknya pestisida dalam miligram (mg) untuk tiap kilogram (kg) berat
seekor binatang-uji, yang dapat membunuh 50 ekor binatang sejenis dari
antara 100 ekor yang diberi dose tersebut. Yang perlu diketahui dalam
praktek adalah LD50 akut oral (termakan) dan LD50 akut dermal
(terserap kulit). Nilai-nilai LD50 diperoleh dari percobaan-percobaan
dengan tikus putih. Nilai LD50 yang tinggi (di atas 1000) menunjukkan
bahwa pestisida yang bersangkutan tidak begitu berbahaya bagi manusia.
LD50 yang rendah (di bawah 100) menunjukkan hal sebaliknya.
5. Pencemaran Lingkungan
Pestisida yang diaplikasikan untuk memberantas suatu hama tanaman atau
serangga penyebar penyakit tidak semuanya mengenai tanaman. Sebagian
akan jatuh ke tanaman, atua perairan disekitarnya, sebagian lagi akan
menguap ke udara, yang mengenai tanaman akan diserap tanaman
tersebut ke dalam jaringan kemudian mengalami metabolisme, karena
pengaruh enzim tanaman. Pestisida yang diserap oleh tanah atau perairan
akan terurai karena pengaruh suhu, kelembaban, jasad renik dan
sebagainya. Sedangkan yang menguap ke udara akan terurai karena
pengaruh suhu, kelembaban dan sinar matahari khususnya sinar ultra

violet. Penguraian bahan pestisida tersebut tidak terjadi seketika itu juga,
melainkan sedikit demi sedikit. Sisa yang tertinggal inilah yang kemudian
diserap sebagai residu. Jumlah residu pestisida dipengaruhi oleh suhu,
kelembaban, jasad renik, sinar matahari dan jenis dari pestisida tersebut.
Peningkatan

kegiatan

agroindustri

selain

meningkatkan

produksi

pertanian juga menghasilkan limbah dari kegiatan tersebut. Penggunaan


pestisida, disamping bermanfaat untuk meningkatkan produksi pertanian
tapi juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan pertanian dan
juga terhadap kesehatan manusia. Pada masa sekarang ini dan masa
mendatang, orang lebih menyukai produk pertanian yang alami dan bebas
dari pengaruh pestisida walaupun produk pertanian tersebut di dapat
dengan harga yang lebih mahal dari produk pertanian yang menggunakan
pestisida. Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan
lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida sintetik,
yaitu golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh
senyawa organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena
senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan tidak mudah terurai. Karena
pestisida adalah racun, yang dapat mematikan jasad hidup, maka dalam
penggunannya dapat memberikan pengaruh yang tidak diinginkan
terhadap kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. Pestisida
yang disemprotkan segera bercampur dengan udara dan langsung terkena
sinar matahari. Dalam udara pestisida dapat ikut terbang menurut aliran
angin. Makin halus butiran larut makin besar kemungkinan ia ikut
terbawa angin, makin jauh diterbangkan oleh aliran angin. Kita tahu
bahwa lebih dari 75 persen aplikasi pestisida dilakukan dengan cara
disemprotkan, sehingga memungkinkan butir-butir cairan tersebut
melayang, menyimpang dari aplikasi. Jarak yang ditempuh oleh butrianbutiran cairan tersebut tergantung pada ukuran butiran. Butiran dengan
radius lebih kecil dari satu mikron, dapat dianggap sebagai gas yang
kecepatan mengendapnya tak terhingga, sedang butiran dengan radius
yang lebih besar akan lebih cepat mengendap. Akumulasi residu pestisida

tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke


dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan
berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS
(Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya. Dilaporkan
bahwa 60 99 persen pestisida yang diaplikasikan akan tertinggal pada
target atau sasaran, sedang apabila digunakan dalam bentuk serbuk, hanya
10-40 persen yang mencapai target, sedang sisanya melayang bersama
aliran angin atau segera mencapai tanah. Telah dilakukan penelitian
terhadap residu pestisida dalam komoditi cabe merah besar dan cabe
merah keriting yang berasal dari pasar di kota Cianjur, Semarang dan
Surabaya. Pengujian dilakukan menggunakan alat KCKT (Kromatografi
Cair Kinerja Tinggi). Hasil pengujian terhadap beberapa golongan
pestisida kemudian dikaji kembali berdasarkan pola konsumsi cabe orang
Indonesia dan dihitung Baku Mutu Residunya dan dibandingkan terhadap
Baku Mutu Residu pustaka. Dari hasil pemeriksaan terdeteksi pestisida
golongan organoklorin seperti lindan, aldrin, heptaklor, endosulfon.
Golongan organofosfat yang terdeteksi adalah paration, klorpirifos,
dimethoat, profenofos, protiofos. Golongan karbamat yang terdeteksi
adalah karbofuran, sedangkan golongan piretrin tidak terdeteksi, hasil
perhitungan lebih kecil dari BMR pustaka. Sehubungan dengan sifatnya
yang demikian, Komisi Pestisida telah mengidentifikasi berbagai
kemungkinan yang timbul sebagai akibat penggunaan pestisida. Dampak
yang mungkin akan timbul adalah : Keracunan terhadap pemakai dan
pekerja, Keracunan terhadap ternak dan hewan piaraan, Keracunan
terhadap ikan, Keracunan terhadap satwa liar, Keracunan terhadap
tanaman, Kematian musuh alami jasad pengganggu,Kenaikan populasi
jasad pangganggu
m. Penatalaksanaan Keracunan Piretrin
n. Pemeriksaan untuk Keracunan Piretrin
Adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan khusus dan
penunjang.

a. Pemeriksaan khusus
PRIMARY SURVEY
Penilaian awal menggunakan teknik ABCD.
A. Airway
1. Adapun yang dinilai adalah sebagai berikut.
- Look
: Ada gerak napas (biasanya ada pernafasan dengan RR:
-

28x/menit)
Listen

: ada suara tambahan, pada kasus ini terdengar suara

snoring (lidah pangkal terjatuh).


Suara tambahan yang terdengar dapat berupa :
Gurgling: sumbatan oleh cairan
Stridor : sumbatan pada plika vokalis
Snoring : sumbatan akibat jatuhnya pangkal lidah ke belakang
- Feel : Ada atau tidaknya ekshalasi
2. Penanganan Airway
Pada kasus ini untuk airway tidak bermasalah, hanya saja harus dipastikan
bahwa tidak ada sumbatan jalan nafas dengan melakukan head till chin lift
ataupun jaw trust. Karna pasien mengeluarkan busa dari mulutnya maka harus
dilakukan pembersihan terlebih dahulu terhadap busa-busa yang mengumpul
di mulut pasien. Jika airway telah dilakukan, maka selanjutnya adalah
pemeriksaan breathing.
B. Breathing
1. Penilaian yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
- Look : terlihat adanya penggunaan otot-otot bantu pernapasan
- Listen : mendengarkan suara nafas pada kedua paru-paru
- Feel : merasakan udara keluar dari mulut dan hidung
2. Penanganan Breathing
Jika terjadi takipneu setelah dilakukan pembebasan jalan napas, mungkin
terdapat masalah pada pernapasannya, saat terlihat retraksi otot-otot
pernapasan tapi kedua gerak dada simetris, penanganan yang dapat diberikan
adalah pemberian terapi oksigen .
Indikasi terapi oksigen jangka pendek:
Hipoksemia akut (PaO2< 60 mmHg: SaO2 < 90%)
Henti jantung dan henti napas
Hipotensi (tekanan darah sistolik < 100 mmHg)

Curah jantung yang rendah dan asidosis metabolic (bikarbonat <18


mmol/L)

C. Circulation
1. Penilaian sirkulasi
Tanda klinis syok:
Kulit telapak tangan dingin, pucat, basah
Capillary refill time > 2 detik
Nafas cepat
Nadi cepat > 100
Tekanan darah sistole < 90-100
Kesadaran : gelisahsampai koma
D. Disability
1. Penilaian Disability
AVPU Penilaian sederhana ini dapat digunakan secara cepat
- A = Alert/Awake : sadar penuh
- V = Verbal stimulation :ada reaksi terhadap perintah
- P = Pain stimulation : ada reaksi terhadap nyeri
- U = Unresponsive : tidak bereaksi
GCS (Glasgow coma scale)

SECONDARY SURVEY
Anamnesis :
a. A : Alergi
Adapun keracunan dapat disebabkan oleh alergi baik pada obat, makanan,
minuman, cuaca dan sebagainya.
b. M : Medikasi (obat-obat yang biasa digunakan)
Keracunan dapat pula disebabkan oleh obat-obatan yang menyebabkan alergi
pada tubuh. Maka dari itu perlu dilakukannya anamnesia sedetail mungkin
supaya tidak mengaburkan pemeriksaan.
c. P : Past Ilness (Penyakit Penyerta, Pregnancy)
Adanya penyakit penyerta juga dapat dimungkinkan terjadi sebuah
keracunan.
d. L : Last meal
Makanan erat kaitanya dengan adanya bahan-bahan kimia yang terkandung
dalam makanan yang secara umun tidak boleh termakan oleh seseoarang.
e. E : Event atau Environment

Lingkunan ini erat kaitannya dengan paparan radiasi tinggi yang dapat
menyebabkan keracunan, ataupun limbah pabrik disekitar tempattinggal yang
berefek terjadi sebuah keracunan pada manusia.
Pemeriksaan Fisik
b. Pemeriksaan penunjang
Adapun pemeriksaan penunjnag yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Radiologi
2. Pemeriksaan Lab: darah dan urine
Pemeriksaan laboratorium merupakan penelitian untukmengetahui perubahan
yang timbul pada penyakit dalam hal susunan kimia dan mekanisme biokimia
tubuh (perubahan ini bisa penyebab atau akibat).
3. Analisa gas darah
Mengetahui kadar oksigen maupun kadar karbondioksida serta pH dalam
darah.
o. Pengobatan pada Pasien Keracunan Piretrin
Kolaborasi dengan tim dokter terkait pemberian obat dapat diberikan obat
sebagai berikut.
1. Atropin sulfat merupakan obat yang digunakan untuk mencegah adanya
penyebaran

racun

semakinluas

mengingat

bahwa

atropine

bersifat

menghambat asetil kolin sebagai neurotransmitter. Pemberian atropin sulfat


adalah 2 mg iv dan diulangi dengan interval 5-10 menit sampai tercapai
atropinisasi. Teruskan dengan dosis efektif untuk sedikitnya tiga hari. Atropin
jangan diberikan pada pasien yang masih sianosis karena dapat menginduksi
ventrikel. Tidak luar biasa bila diperlukan sampai 50 mg atropin dalam 24
jam pertama dan bahkan diberikan sampai 1,5 g kepada seorang anak dalam
waktu 1 hari. Hal ini mengharuskan tersedianya atropin dalam jumlah
banyak.
2. Pralidoksim adalah suatu reaktivator kolinesterase spesifik dan harus
digunakan di samping atropin. Obat ini memberikan efek untuk tetap menjaga
otot-otot, kelenjar-kelenjar dan sel-sel syaraf bekerja secara terorganisir dan
harmonis. Diberikan dalam suntikan 30 mg/kg BB (yaitu di atas 1-2 g) iv

dengan kecepatan yang tidak melebihi 500 mg per menit dan diulang tiap
setengah jam, bila perlu.
3. Atropin dan obidoksim akan menghasilkan reaksi pengobatan yang baik.
Obidoksim diberikan melalui suntikan im dengan dosis 3 mg/kg BB

BAB IV. ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut.
I. IdentitasKlien
Nama
Umur
JenisKelamin
Agama
Pendidikan
Alamat

:
:
:
:
:
:

II. RiwayatKesehatan

No. RM
Pekerjaan
Status Perkawinan
Tanggal MRS
TanggalPengkajian
SumberInformasi

:
:
:
:
:
:

1. Keluhan utama
Pada pasien keracunan dapat ditemukan keluhan utama berupa mual,
muntah, lemas dan sesak nafas.
2. Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien keracunan dapat ditemukan riwayat penyakit berdasarkan
pada faktor predisposisi.
3. Riwayat kesehatan terdahulu
a. Penyakit yang pernah dialami
b. Alergi (obat, makanan, plester,dll)
c. Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi karena status kesehatan yang buruk
dapat dipengaruhi oleh tingakt imunitas yang kurang
d. Kebiasaan
Menunjukkan adanya kebiasaan yang dapat menyebabkan penyakit
keracunan.
e. Obat-obat yang digunakan
Menunjukkan adanya penyakit terdahulu yang dapat berpengaruh pada
penyakit sekarang.
f. Riwayat penyakit keluarga
Menunjukkan adanya oenyakit yang disebabkan adanya keturunan
ataupun tidak.
g. Genogram
Menunjukkan adanya keterlibatan anatara pasien dengan lingkungan
dirumah yang dapat menyebabkan penyakit
III. PengkajianKeperawatan
1. Persepsi & pemeliharaan kesehatan
Menunjukkan adanya pemeiliharaan dan pengetahuan akan penyakit yang
dideritanya.
2. Pola nutrisi atau metabolik
Menunjukkan adanya asupan nutrisi baik atau buruk.
3. Pola eliminasi
Menunjukkan keadaan eliminasi yang baik atau tidak.
4. Pola aktivitas & latihan
Mengetahui tingkat aktivitas dan kebiasaan pasien sehai-hari yang
memungkinkan dapat terpengaruh oleh penyakit yang dialami.
c.1. Aktivitasharian (Activity Daily Living)
Kemampuanperawatandiri
0
Makan atau minum
Toileting

Berpakaian
Mobilitas di tempattidur
Berpindah
Ambulasi atau ROM
Ket: 0: tergantung total, 1: bantuan petugas dan alat, 2: bantuan petugas,
3: bantuan alat, 4: mandiri
5. Pola tidur & istirahat
Menunjukkan adanya perubahan pola tidur dan istirahat di rumah dengan
dirumah sakit sebagai pengaruh akibat adanya penyakit.
6. Pola kognitif & perceptual
Menujukkan adanya pengetahuan dan pesepsi sehat sakitnya, sehingga
menunjukkan adanya pencegahan atau penanganan terhadap penyakit baik
di rumah ataupun rumah sakit.
7. Pola persepsi diri
Cara pandang mengenai persepsi akan dirinya terhadap penyakit yang
diderita
8. Pola seksualitas & reproduksi
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan seksualitas serta reproduksi pasien.
9. Pola peran & hubungan
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan speran dan hubungan pasien dengan
lingkungan sekitar.
10. Pola manajemen koping-stress
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan tingkat sress menghadapi penyakit.
11. System nilai & keyakinan
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan pemenuhan aktivitas yang erat kaitannya
dengan tuhannya dan nilai-nilai yang dianutnya.
IV. PemeriksaanFisik
a. Keadaan umum
Menunjukkan adanya pengaruh penyakit terhadap tingkat kesadaran pasien.
b. Tanda vital
Tergantung kondisi dan keadaan pasien.
c. Kepala

1. Mata
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, bentuk, kebersihan, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, dan kemampuan untuk menggerakkan bola
mata, adanya benjolan dan nyeri tekan.
2. Telinga
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, dan kemampuan untuk mendengar dengan
baik, adanya benjolan dan nyeri tekan.
3. Hidung
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, dan kemampuan untuk mencium aroma
dengan baik, adanya benjolan dan nyeri tekan.
4. Mulut
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, ada karies, menggunakan gigi pasangan atau
tidak, adanya benjolan dan nyeri tekan.
5. Leher
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, adanya pembesaran kelenjar getah bening,,
adanya benjolan dan nyeri tekan.
6. Dada
Lakukan berdasarkan pemeriksaan jantung dan paru-paru.
7. Abdomen
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, pembesaran hati dan limfe, adanya ascites,
pembesaran vena, adanya benjolan dan nyeri tekan.
8. Urogenital
Terpasang kateter atau tidak.
9. Ekstremitas
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, kemampuan untuk bergerak dengan baik,
kekuatan otot, adanya edema, adanya benjolan dan nyeri tekan.
10. Kulit dan kuku
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, sianosis atau tidak, CRT kurang
atau lebih dari 2 dtik, kebersihan, bentuk, kesimetrisan, ada lesi dan jejeas
atau tidak, adanya benjolan dan nyeri tekan.
11. Keadaan lokal
Terpasang alat invasive atau tidak.