Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Laba menjadi salah satu parameter pengukuran kinerja perusahaan.
Pencapaian laba yang optimal bagi suatu perusahaan berguna untuk
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Laba
mencerminkan kinerja perusahaan, dari ukuran laba dapat dilihat apakah
perusahaan mempunyai kinerja yang bagus atau tidak. Kecenderungannya,
pencapaian tersebut menjadi ladang subur bagi tindak pelaku oportunistik,
karena manajer diukur berdasarkan informasi laba, sehingga terdapat
kecenderungan untuk lebih memperhatikan laba. Laba tidak dapat
menggambarkan kinerja perusahaan karena adanya perilaku akuntansi yang
lebih oportunistik. 1
Koonce dan Lipe (2010) menyatakan laba yang berkelanjutan
(persisten) berguna bagi pengambilan keputusan investasi. Laba yang
berkelanjutan direspon oleh investor sama baiknya dengan hasil perkiraan
dari analisis keuangan. Laba yang sifatnya fluktuatif dapat menurunkan
relevansi nilai dari laba dan mengindikasikan terjadinya manajemen laba.
Dasar persistensi tersebut memperlihatkan bahwa laba yang berkualitas
merujuk pada laba yang persisten yaitu laba yang berkelanjutan, lebih bersifat
permanen dan tidak bersifat transitori. Beberapa skandal perusahaan yang
1 Oportunistik merupakan tindakan yang dilakukan untuk menghasilkan angka laba lebih
tinggi daripada laba yang sesungguhnya, hal ini dapat dilakukan dengan cara
memperbaiki laporan keuangan melalui angka-angka akuntansi yang mengarah pada
kualitas laba (Sunarto, 2008).

berskala besar telah menarik perhatian publik ke isu-isu tentang pengelolaan


perusahaan untuk pencapaian laba yang diinginkan. Perusahaan WorldCom
yang terkait adanya skandal akuntansi dalam menciptakan miliaran laba ilusi,2
hal ini merupakan pengajuan kebangkrutan terbesar dalam sejarah Amerika
Serikat. Negara Indonesia juga terdapat beberapa kasus yang serupa dengan
melibatkan persoalan laporan keuangan yang diterbitkan, seperti PT Lippo
Tbk dan PT Kimia Farma Tbk (Herwidayatmo, 2002).
Pihak-pihak yang berkepentingan seperti halnya manajemen,
menyadari bahwa kenyataannya tidak ada Undang-Undang yang mengatur
setiap permasalahan secara sempurna, sehingga pelaksanaannya selalu diikuti
oleh ketentuan-ketentuan lain (Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden,
Keputusan Menteri Keuangan dan Direktur Jendral Pajak). Ketentuan
pelaksanaan tersebut tidak jarang bertentangan dengan Undang-Undang itu
sendiri, karena disesuaikan dengan kepentingan pembuat kebijaksanaan
dalam mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Meskipun berbagai peraturan
telah direvisi sebagai upaya meminimalisir praktik manajemen laba, tidak
dipungkiri lingkungan bisnis masih menstimulisasi insentif kecurangan.
Informasi tentang laba yang dilaporkan juga menjadi dasar dalam
pengambilan keputusan dalam penentuan besarnya pengenaan pajak.
Manajemen menghitung laba perusahaan untuk tujuan pelaporan keuangan
berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum (PABU) dan pelaporan pajak
2Menurut KBBI, Kata ilusi bermakna sesuatu yang hanya angan-angan dan tidak dapat
dipercaya. Laba ilusi merupakan pencapaian laba karena adanya angan-angan (KBBI)
untuk meraih tujuan tertentu. Pencapaian tersebut diperoleh karena ada tindakan yang
lebih memuaskan keinginan individualis (Sunarto, 2008).

berdasarkan peraturan pajak untuk menentukan besarnya penghasilan kena


pajak (taxable income) atau laba fiskal. Perbedaan antara laba akuntansi
dengan laba fiskal sering terjadi. Perbedaan ini disebabkan perbedaan tujuan
masing-masing dalam pelaporan laba. Perbedaan antara laba akuntansi dan
laba fiskal dapat memberikan informasi mengenai kualitas laba yang
diperoleh. Hal ini karena adanya fleksibilitas dalam implementasi prinsip
dalam memilih kebijakan akuntansi (Pindiharti, 2011). Melihat hai ini,
prosedur yang dilakukan oleh perusahaan terkadang melebihi kewajaran,
hingga berarah pada tindakan oportunistik.
Beban pajak yang besar akan berdampak pada laba yang diperoleh,
apalagi perbedaan aturan akuntansi dan perpajakan yang didasari pada prinsip
yang dianutnya, menjadikan peran manajer sebagai pengelola perusahaan
cenderung melakukan tindakan yang dapat mengubah angka laba yang
diperoleh dengan memanfaatkan celah dari perbedaan aturan akuntansi dan
perpajakan. Apabila publik menduga bahwa angka laba yang diperoleh adalah
hasil rekayasa manajemen, maka angka laba tersebut mempunyai kualitas
laba yang rendah, yang mengakibatkan negatifnya respon publik terhadap
angka laba yang dilaporkan.
Fenomena yang terjadi, tindakan penggelapan pajak yang dilakukan
oleh wajib pajak sebagai upaya agar jumlah beban dapat ditekan demi
mencapai tujuan yang diinginkan, hingga saat ini masih menjadi hal yang
sulit untuk dihindari. Tindakan oportunistik yang menjadi primadona saat ini
bukan lagi hal yang sulit untuk disembunyikan. Kasus-kasus yang telah

membawa perhatian publik tentang tindakan penggelapan pajak seperti Grup


Asian Agri, Grup Bakrie, Makindo dan Grup Ramayana merupakan salah
satu isu penting yang sering dibahas di Indonesia saat ini (Syanthi et. al.,
2012) yang memperlihatkan tentang pentingnya pencapaian laba yang
maksimal untuk kelangsungan hidup suatu perusahaan dengan melakukan
tindakan yang keliru.
Manajer selalu berupaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaannya, melalui berbagai tindakan yang dilakukan agar dapat
mencapai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan uraian di atas, motivasi dari
penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh perencanaan pajak dan beban
pajak tangguhan terhadap kualitas laba pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah perencanaan pajak dan beban pajak tangguhan berpengaruh secara
simultan terhadap kualitas laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar
di BEI.
2. Apakah perencanaan pajak berpengaruh secara parsial terhadap kualitas
laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
3. Apakah beban pajak tangguhan berpengaruh secara parsial terhadap
kualitas laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

1.3 Tujuan Penelitian


Berkaitan dengan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, maka
tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh perencanaan pajak dan beban pajak
tangguhan terhadap kualitas laba pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI.
2. Untuk menganalisis pengaruh perencanaan pajak terhadap kualitas laba
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
3. Untuk menganalisis pengaruh beban pajak tangguhan terhadap kualitas
laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat utama sebagai
berikut:
1. Aspek Teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran pada disiplin
ilmu akuntansi, khususnya dalam ilmu perpajakan terhadap pemahaman
mengenai perencanaan pajak dan beban pajak tangguhan dalam
meningkatkan kualitas laba.
2. Aspek Praktisi
Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi dunia dalam perpajakan
khususnya ilmu perencanaan pajak dan beban pajak tangguhan dalam
meningkatkan kualitas laba dan sebagai bahan referensi selanjutnya bagi
penelitian di masa depan.
1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab yang saling
terkait antara satu dan lainnya. Adapun deskripsi masing-masing bab adalah
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab pertama berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian dan manfaat penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab kedua berisi telaah literatur penelitian-penelitian sebelumnya
yang akan digunakan sebagai dasar peneliti dalam
mengembangkan hipotesis penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ketiga berisi metode penelitian yang menjabarkan data yang
digunakan dalam penelitian, pengukuran variabel, model
penelitian, dan teknik analisis data yang akan digunakan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab keempat berisi hasil analisis data yang didapatkan dari
pengujian hipotesis.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab kelima menguraikan simpulan dari hasil temuan penelitian,
keterbatasan penelitian dan saran bagi peneliti selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Faktor yang penting dalam melakukan suatu penelitian adalah adanya
kajian-kajian penelitian-penelitian terdahulu, yang memiliki kaitan dan
relevansi untuk dijadikan sebagai bahan referensi dan perbandingan atas
penelitian yang akan dilakukan. Syanthi et. al., (2012) yang melakukan
pengujian dan menemuka bahwa baik manajemen laba riil maupun
manajemen laba akrual dapat meningkatkan persistensi laba, sedangkan
perencanaan pajak tidak mempengaruhi persistensi laba. Hal ini menunjukkan
adanya perbedaan tujuan pelaporan keuangan dan pelaporan pajak, karena
manajemen laba dilakukan untuk memberi sinyal kemakmuran kepada
stakeholders, sedangkan perencanaan pajak cenderung bertujuan untuk
meminimalisasi beban pajak dalam jangka pendek.
Wijayanti (2006) menguji apakah book-tax differences berpengaruh
secara negatif terhadap persistensi laba. Semakin besar perbedaan antara laba
akuntansi dan laba fiskal, persistensi laba akan semakin rendah. Hasil
penelitian ini menyebutkan bahwa book-tax differences secara negatif
berpengaruh signifikan secara statistik terhadap persistensi laba akuntansi
satu periode ke depan, perusahaan dengan large (negatif) positif book tax
differences signifikan secara statistik mempunyai persistensi laba lebih rendah
yang disebabkan oleh komponen akrualnya daripada perusahaan dengan
small book-tax differences dan harga saham tidak mencerminkan informasi
yang digunakan dalam model ekspektasi. Hal ini memperlihatkan bahwa

investor belum mampu membedakan komponen laba dalam menentukan


persistensi laba.
Afriyanto (2013) yang menunjukkan bahwa laba akuntansi periode
berjalan dan selisih negatif berpengaruh positif signifikan terhadap laba
akuntansi periode mendatang, sementara itu laba akuntansi periode berjalan
dan selisih positif berpengaruh negatif signifikan terhadap laba akuntansi
periode mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara laba
akuntansi dan laba fiskal yang diwakili oleh selisih positif berpengaruh
negatif signifikan dan selisih negatif berpengaruh positif signifikan terhadap
persistensi laba.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya seperti Syanthi
et. al., (2012) terletak pada kajian lebih lanjut mengenai perencanaan pajak
terhadap persistensi laba dan tidak menjelaskan dampak pendeteksian
terhadap persistensi laba. Penelitian Wijayanti (2006) dan Afriyanto (2013)
hanya menggunakan waktu pengamatan yang cukup singkat sehingga
informasi laba yang diperoleh belum menunjukan persistensi yang predictive.
sementara, perbedaan penelitian ini dengan penelitian Syanthi et. al., (2012)
adalah
Persamaan dan perbedaan yang terdapat pada ketiga penelitian
terdahulu dengan penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1
Matriks Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu

N
o
1.

Peneliti Terdahulu

Persamaan

Perbedaan

Dampak manajemen laba 1. Menggunakan


1. Menggunakan
terhadap perencanaan pajak
perencanaan pajak
manajemen laba
dan persistensi laba.
sebagai variabel
sebagai variabel
Syanthi et. al., 2012
independen.
independen.
2. Menggunakan
persistensi laba
sebagai variabel
dependen.

2..

Analisis pengaruh
perbedaan antara laba
akuntansi dan laba fiskal
terhadap persistensi laba,
akrual, dan arus kas.
Wijayanti (2006)

1. Menggunakan
1. Menggunakan
perbedaan antara
akrul dan arus
laba akuntansi dan
kas sebagai
laba fiskal sebagai
dependen.
variabel
independen.
2. Menggunakan
persistensi laba
sebagai variabel
dependen.

3.

Pengaruh perbedaan antara 1. Menggunakan


laba akuntansi dan laba
perbedaan antara
fiskal terhadap persistensi
laba akuntansi
laba (Studi empiris pada
dan laba fiskal
perusahaan manufaktur
sebagai variabel
yang terdaftar di Bursa
independen.
Efek Indonesia).
2. Menggunakan
Afriyanto (2013)
persistensi laba
sebagai variabel
dependen.

1. Menggunakan
periode
pengamatan
selama 3 tahun.

Sumber: Data diolah, Desember 2014

2.2 Teori Keagenan

Teori keagenan yang dikembangkan Jensen dan Meckling (1976)


mengkategorikan pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan, yaitu manajer,
pemegang saham dan kreditor yang terdapat interaksi antar pihak yang
berkepentingan dalam suatu perusahaan. Masing-masing pihak memiliki
kepentingan yang menyebabkan terjadinya agency problem dan berpengaruh
dalam menentukan pengambilan keputusan. Teori agensi (agency theory)
menekankan pentingnya penyerahan operasi perusahaan dari pemilik
(principals) kepada pihak lain yang mempunyai kemampuan untuk mengelola
perusahaan dengan lebih baik (agents). Pihak-pihak tersebut mempunyai hak
dan tanggung jawab dalam pengelolaan perusahaan di mana hubungan
tersebut diharapkan saling menguntungkan kedua belah pihak. Perusahaan
yang memisahkan fungsi pengelolaan dan kepemilikan akan rentan terhadap
konflik keagenan.
Model keagenan dirancang sebuah sistem yang melibatkan kedua
belah pihak, sehingga diperlukan kontrak kerja antara pemilik (principal) dan
manajemen (agent). Kesepakatan tersebut diharapkan dapat memaksimalkan
utilitas principal dan dapat memuaskan serta menjamin agen untuk menerima
reward dari hasil aktivitas pengelolaan perusahaan. Perbedaan kepentingan
antara pemilik dan manajemen terletak pada maksimalisasi manfaat (utility)
pemilik (principal) dengan kendala (constraint) manfaat (utility) dan insentif
yang akan diterima oleh manajemen (agent), karena kepentingan yang
berbeda sering muncul konflik kepentingan antara pemegang saham/pemilik
(principal) dengan manajemen (agent).

10

Permasalahan agensi (agency problem) muncul akibat ada pihak yang


hanya mementingkan kepentingan pribadinya dengan merugikan pihak lain.
Hal ini dikarenakan adanya asimetri informasi, yaitu suatu kondisi di mana
salah satu pihak memiliki banyak informasi dibandingkan dengan pihak lain
yang memiliki sedikit informasi. Keberadaan asimetri informasi
memungkinkan salah satu pihak untuk melakukan manipulasi yang akan
menguntungkan dirinya sendiri, seperti manajemen melakukan manajemen
laba untuk menyesatkan pemilik mengenai kinerja ekonomi perusahaan.
Kinerja perusahaan yang telah dicapai oleh pihak manajemen
diinformasikan kepada pihak pemilik (principal) dalam bentuk laporan
keuangan. Sistem desentralisasi yang memerankan manajemen mempunyai
informasi superior dibandingkan dengan pemilik, karena manajemen telah
menerima pendelegasian untuk pengambilan keputusan/kebijakan
perusahaan. Ketika pemilik tidak dapat memonitor secara sempurna
aktivitas manajemen, maka secara potensial manajemen dapat menentukan
kebijakan yang mengarah pada peningkatan level kompensasinya. Model
hubungan principal-agent menekankan seluruh tindakan (actions) telah
didelegasikan oleh pemilik (principal) kepada manajer (agent).
Model hubungan principal-agent diharapkan dapat memaksimumkan
utilitas principal dan dapat memuaskan serta menjamin agen untuk menerima
reward dari hasil aktivitas pengelolaan perusahaan. Ketika pemilik tidak
dapat memonitor secara sempurna aktivitas manajemen, secara potensial
manajemen dapat menentukan kebijakan yang mengarah pada peningkatan

11

level kompensasinya. Rajan dan Saouma (2006) dalam Sunarto (2008)


menyatakan bahwa besarnya kompensasi yang diterima oleh pihak
manajemen (agent) tergantung pada besarnya laba/profit yang dihasilkan
sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dengan pihak pemilik (owner).
Besarnya laba yang diinformasikan melalui laporan keuangan, tidak terlepas
dari kebijakan akuntansi yang dibuat oleh manajemen. Berdasarkan uraian
tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa besarnya kompensasi yang diterima
oleh pihak manajemen (agent) tergantung pada besarnya laba/profit yang
dihasilkan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dengan pihak pemilik.
2.3 Kualitas Laba suatu Persistensi Laba
Kualitas laba sering digunakan dalam analisis keuangan, tetapi sulit
didefinisikan. Laba sebagai bagian dari laporan keuangan yang tidak
menyajikan fakta yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan
dapat diragukan kualitasnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang
sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna
laporan.
Laba dikatakan persisten ketika aliran kas dan laba akrual
berpengaruh terhadap laba tahun depan dan perusahaan dapat
mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa yang akan
datang (Irfan, 2013). Persistensi laba merupakan laba yang mempunyai
kemampuan sebagai indikator laba periode mendatang (future earnings) yang
dihasilkan oleh perusahaan secara berulang-ulang (repetitive) dalam jangka
panjang (sustainable) (Syanthi, et. al. 2012). Laba tersebut akan memberikan

12

dampak untuk kemajuan suatu perusahaan dengan menampilkan performa


laba yang konsisten disetiap periode.
Persistensi laba memberikan informasi tentang tindakan atau peristiwa
yang terjadi dalam suatu perusahaan, karena persistensi laba memperlihatkan
performa laba perusahaan dari waktu ke waktu sehingga laba yang diperoleh
memiliki kualitas yang baik. Persistensi laba telah digunakan secara luas
dalam penelitian-penelitian akuntansi, baik digunakan oleh investor dalam
mengestimasi nilai perusahaan maupun dalam pengukuran kinerja
perusahaan. Subramanyam dan Wild (1996) berpendapat bahwa jika
persistensi laba dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan nilai
perusahaan di mata investor, maka persistensi laba juga dapat menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kinerjanya.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 menyatakan
bahwa tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi tentang posisi
keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian
besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusankeputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas
penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Hal lain
dinyatakan bahwa perusahaan harus menyusun laporan keuangan atas dasar
akrual, kecuali laporan arus kas (paragraf 25). Berdasarkan PSAK tersebut,
nampak bahwa sebagian besar laporan keuangan yang disajikan oleh pihak
manajemen kepada para pengguna (termasuk investor) didasarkan pada
akrual.

13

Kebijakan akrual diskresi yang dilakukan oleh manajemen membawa


dua konsekuensi. Pertama, jika kebijakan tersebut membawa keinformasian
laba, maka kebijakan tersebut akan meningkatkan kualitas laba, maka laba
semakin persisten. Kedua, jika kebijakan tersebut tidak membawa
keinformasian laba (uninformative earnings), maka kebijakan tersebut akan
menurunkan kualitas laba, sehingga laba menjadi kabur (opaque) (Sunarto,
2008). Melihat hal tersebut, jika laba seperti ini digunakan oleh investor
untuk membentuk nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan
nilai pasar perusahaan yang sebenarnya (Boediono, 2005).
Manajemen laba secara oportunis dapat mempengaruhi informasi laba
yang diperoleh. Kebijakan akrual yang menghasilkan kekaburan laba akan
mengurangi kualitas laba dan menyebabkan rendahnya persistensi laba
(Sunarto, 2010). Laba yang dilaporkan bisa menjadi kabur (opaque) karena
adanya interaksi yang kompleks, yang disebabkan oleh motivasi manajerial,
standar akuntansi dan penegakkan standar akuntansi (Tucker dan Zarowin,
2006).
Discretionary accrual adalah akrual yang dapat berubah sesuai dengan
kebijakan manajemen, seperti pertimbangan tentang penentuan umur
ekonomis asset tetap atau pertimbangan pemilihan metode depresiasi
(Sulistiawan et. al., 2011:51). Akrual yang muncul akibat diskresi manajemen
atau berada di bawah kebijakan manajemen. Hal ini biasanya digunakan
sebagai pengukur manajemen laba dan besarnya merupakan hasil modifikasi
angka-angka pada laporan keuangan untuk memenuhi tujuan manajemen

14

sehingga keberadaan discretionary accrual menandakan rendahnya kualitas


laba (Pindiharti, 2011). Kualitas laba yang dihasilkan kurang baik bisa terjadi
karena kebohongan yang sengaja dilakukan oleh penyaji untuk menyesatkan
para pengguna laporan keuangan tersebut.
Kualitas laba yang diproksi dengan discretionary accruals
menggambarkan bahwa semakin besar nilai discretionary accruals maka
semakin besar pula praktik manajemen laba (earnings management).
Penelitian Rahmawati dan Triatmoko (2007) dan Herwiyanti dan Baridwan
(2008) yang menggunakan discretionary accrual untuk menghitung kualitas
laba. Efek dari kualitas laba yang rendah adalah tidak adanya prediktif value
dari laba, yang berarti informasi mengenai laba perusahaan tidaklah
menggambarkan keadaan yang sebenarnya sehingga informasi laba bisa
menjadi bias bagi penggunanya (Pindiharti, 2011).
2.4 Perencanaan Pajak terhadap Kualitas Laba
Perencanaan pajak (tax planning) merupakan upaya wajib pajak untuk
meminimalkan pajak yang terutang melalui skema yang memang telah jelas
diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan dan sifatnya tidak
menimbulkan perdebatan antara wajib pajak dan otoritas pajak (Syanthi et.
al., 2012). Tindakan perencanaan pajak oleh suatu perusahan merujuk kepada
usaha yang dilakukan agar besarnya beban usaha dapat ditekan, sehingga
terlihat pada besarnya laba yang diperoleh.
Asumsi pajak sebagai biaya akan memengaruhi laba, sedangkan
asumsi pajak sebagai distribusi laba akan memengaruhi tingkat pengembalian

15

atas investasi. Status perusahaan yang go public atau belum akan


memengaruhi kebijakan pembagian dividen, agar harga pasar sahamnya
meningkat, manajer perusahaan go public akan berusaha tampil sebaik
mungkin, sukses dan membagi dividen yang besar. Hal lain memperlihatkan
pembayaran pajaknya akan diusahakan sebaik mungkin, namun apapun
asumsinya, secara ekonomis pajak merupakan unsur pengurang laba yang
tersedia untuk dibagi atau diinvestasikan kembali oleh perusahaan (Suandy,
2011:5).
Pengusaha umumnya mengidentifikasi pembayaran pajak sebagai
beban sehingga akan berusaha untuk meminimalkan beban guna
mengoptimalkan laba (Suandy, 2011:5). Perencanaan pajak dilakukan dengan
memanfaatkan celah dalam peraturan perpajakan untuk meminimalkan pajak
yang harus dibayar. Perencanaan pajak yang dilakukan dapat terlihat dari
penggunaan Current Effective Tax Rates Calculated (CashETR) (Ayers et. al.,
2008, Dyreng et. al., 2008 dan Cahyadi dan Sumiyana, 2013) yang berfokus
pada rasio kas yang dibayarkan pajak perusahaan dengan laba bersih sebelum
pajak. Perhitungan ini dilakukan, karena perhitungan beban pajak kini
menggunakan akuntansi berbasis akrual yang kemungkinan memiliki
kesalahan dalam mengukur beban pajak aktual yang harus dibayar oleh
perusahaan kepada pemerintah (Ayers et. al., 2008).
Perusahaan cenderung melaporkan laba yang rendah untuk keperluan
pajak, karena sesuai dengan prinsip perencanaan pajak yang dilakukan oleh
perusahaan sedangkan perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba yang

16

meningkat untuk pelaporan kepada publik (Philips et. al., 2003). Perencanaan
pajak yang dilakukan akan bermuara pada laba yang diperoleh, karena
perencanaan pajak dapat mengurangi jumlah beban pajak yang akan
dibayarkan, sehingga laba yang dihasilkan akan terlihat berbeda dari yang
seharusnya. Perencanaan pajak bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, karena
perencanaan pajak yang baik bersumber dari aturan yang
memperbolehkannya dilakukan perencanaan tersebut, namun jika penggunaan
perencanaan yang terlalu liberal, maka memungkinkan perusahaan berusaha
melakukan pengelolaan laba untuk tindakan oportunistik.
2.5 Beban Pajak Tangguhan terhadap Kualitas Laba
Masalah beban pajak tangguhan tentu akan dihadapkan pada peran
laba perusahaan untuk tujuan yang berbeda, yakni laba akuntansi dan laba
perpajakan. SAK memiliki tujuan dalam sebuah pelaporan keuangan bersifat
umum (general purposes) untuk diberikan kepada pihak investor, kreditor,
manajemen, pemilik dan pihak lain yang berkepentingan. Aturan perpajakan
memiliki tujuan pelaporan bersifat khusus yaitu untuk menghitung pajak yang
harus dibayar.
Philips et. al. 2003 mengatakan bahwa deferred tax expense adalah
beban yang timbul akibat perbedaan temporer antara laba akuntansi (laba
dalam laporan keuangan untuk pihak eksternal) dengan laba fiskal (laba yang
digunakan sebagai dasar perhitungan pajak). Perbedaan yang tak bisa
dihindari dari kedua pihak tersebut dalam perbedaan tujuan dan dasar
hukumnya menyebabkan kandungan nilai laba yang diperoleh. SAK sekarang

17

berlaku dan bersifat principle base di mana dalam pengukurannya lebih


banyak menggunakan nilai wajar (fair value), sementara peraturan perpajakan
lebih menata ke hal-hal yang rule base yang dihitung berdasarkan biaya
perolehan (historical cost) (Sinaga, 2014:34).
Hanlon (2005) menyatakan bahwa semakin besar perbedaan antara
laba akuntansi dan fiskal akan menunjukkan red flag bagi pengguna
laporan keuangan. Hanlon (2005) juga menyatakan bahwa perusahaan yang
memiliki book tax difference baik positif maupun negatif akan cenderung
mengalami persistensi laba yang lebih rendah dibanding perusahaan yang
memiliki book tax difference yang kecil. Phillips et. al. (2003) dan Yulianti
(2004) menambahkan bahwa perbedaan antara laporan keuangan akuntansi
dan perpajakan disebabkan karena dalam penyusunan laporan keuangan,
standar akuntansi lebih memberikan keleluasaan bagi manajemen dalam
menentukan prinsip dan estimasi akuntansi dibandingkan yang diperbolehkan
menurut peraturan perpajakan.
Kebebasan yang diperbolehkan dalam prinsip akuntansi,
menyebabkan manajemen dapat memilih kebijakan dari berbagai pilihan
kebijakan yang ada dalam penentuan laba akuntansi. Penggunaan kebijakan
semakin liberal, memungkinkan dilakukannya pengelolaan laba dan
memperpanjang jurang pemisah antara laba menurut akuntansi dan
perpajakan. Apabila angka laba diduga oleh publik sebagai hasil rekayasa
manajemen, angka laba tersebut dinilai mempunyai kualitas rendah dan

18

konsekuensinya adalah publik akan merespon negatif angka laba yang


dilaporkan tersebut (Wijayanti, 2006).
Perhitungan book tax difference dilakukan dengan membobot beban
pajak tangguhan terhadap total asset (Philips et. at., 2003). Hal ini dilakukan
agar diperoleh nilai yang terhitung dengan proporsional dari beban pajak
tangguhan yang berasal dari dampak perbedaan temporer yang menyebabkan
jumlah pajak terpulihkan atau pajak penghasilan terutang pada periode masa
depan. Misalnya perbedaan masa manfaat aset tetap antara ketentuan
perpajakan dan akuntansi dalam melakukan penyusutan. Akibat perbedaan
masa manfaat, nilai penyusutan berbeda, sehingga nilai buku aset dalam
laporan posisi keuangan dengan dasar pengenaan pajaknya menjadi berbeda.
Selisih tersebut akan menghasilkan kewajiban pajak tangguhan. Pengakuan
kewajiban pajak tangguhan didasarkan pada fakta adanya kemungkinan
pelunasan kewajiban yang mengakibatkan pembayaran pajak pada periode
mendatang menjadi lebih besar sebagai akibat pelunasan pajak (Suandy,
2011:99).
2.6 Kerangka Pemikiran
Mengingat pentingnya informasi yang dihasilkan dalam laporan
keuangan, maka laporan keuangan yang disajikan haruslah andal, agar
laporan keuangan yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi pemakai. Laporan
keuangan dapat dikatakan andal apabila informasi tersebut bebas dari
pengertian menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan
pemakainya.

19

Adanya dorongan dalam melakukan perencanaan pajak untuk tindak


pengelolaan laba, menjadikan manajer berupaya untuk membuat perencanaan
dengan baik, yakni tidak bertentang dengan aturan yang berlaku. Standar
akuntansi keuangan memberikan keleluasaan memilih metode dan kebijakan
keuangan sehingga manajemen mempunyai keleluasaan untuk mengelola
labanya. Berbeda dengan peraturan dalam pajak fiskal, tidak ada keleluasaan
memilih metode dan kebijakan keuangan karena sifatnya berdasarkan
peraturan perundang-undangan pajak.
Selisih laba akuntansi fiskal yang menyebabkan adanya indikasi
persistensi laba. Selisih laba akuntansi fiskal yang semakin kecil
memperlihatkan kualitas laba yang baik dan selisih laba akuntansi fiskal
semakin besar maka bisa diindikasikan bahwa kualitas laba yang diperoleh
tidak baik.
Dechow et. al. (2008) mendefinisikan laba berkualitas tinggi sebagai
laba yang menyediakan informasi lebih tentang fitur kinerja keuangan
perusahaan yang relevan dengan tertentu keputusan yang dibuat oleh pembuat
keputusan tertentu. Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan, maka
dapat disusun kerangka konseptual penelitian yang tergambar sebagai berikut:

Perencanaan Pajak
(X1)

20

Kualitas Laba
(Y)
Beban Pajak Tangguhan
(X2)

Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Penelitian
Ketarangan

Pengaruh secara Simultan


Pengaruh secara Parsial
2.7 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran yang telah
diuraikan sebelumnya dapat dikemukakan hipotesis penelitian sebagai
berikut:
H1: Perencanaan pajak dan beban pajak tangguhan berpengaruh secara
simultan terhadap kualitas laba.
H2:

Perencanaan pajak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba.

H3:

Beban pajak tangguhan berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba.

21

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Variabel independen atau variabel bebas (X1) adalah perencanaan
pajak dan (X2) pada penelitian ini adalah beban pajak tangguhan. Variabel
dependen atau variabel tidak bebas (Y) pada penelitian ini adalah kualitas
laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2013.
3.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian survey yaitu penelitian
yang menggunakan urutan sampel dari suatu populasi. Penelitian survey
adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi
data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi
tersebut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang
bersifat verifikatif yaitu penelitian yang menggunakan penyajian jawaban dari
hasil pemikiran yang kebenarannya bersifat sementara (hipotesis). Studi
verifikatif pada penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab

22

akibat antara variabel independen (variabel X) terhadap variabel dependen


(variabel Y).
3.3 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif. Penelitian ini
menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur
dari tahun 2010-2013 yang dipublikasikan dan terdaftar di BEI. Data tersebut
dapat diunduh melalui website www.idx.co.id maupun website resmi
perusahaan terkait.
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode amatan 20102013.
3.4.2 Sampel Penelitian
Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive
sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu
(Sugiyono, 2013:122). Kriteria-kriteria yang akan digunakan dalam
pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan manufaktur yang mempublikasi laporan keuangan tahunan
pada tahun 2010-2013.
2. Perusahaan mengalami laba terus-menerus pada periode pengamatan.
3. Menggunakan mata uang rupiah dalam laporan keuangan.
4. Semua komponen yang dibutuhkan terdapat dalam laporan keuangan.
Adapun prosedur pemilihan sampel dan daftar sampel dalam penelitian ini
dapat disajikan dalam tabel 3.1 dan tabel 3.2 berikut ini:

23

Tabel 3.1
Prosedur Pemilihan Sampel
Jumlah
Kriteria Pemilihan Sampel

Perusahaa

Jumlah Populasi

n
144

1. Delisting dari BEI selama periode pengamatan

(2)

2. Mengalami kerugian selama periode pengamatan

(42)

3. Tidak menggunakan mata uang rupiah

(12)

4. Tidak tersedia data yang diperlukan selama tahun

(27)

pengamatan
Sampel Penelitian
Total sampel selama tahun pengamatan

61
244

Tabel 3.2
Daftar Sampel Penelitian
No
1
2
3
4

Nama Perusahaan
Holcim Indonesia Tbk
Indocement Tunggal Prakasa
Tbk
Semen Indonesia
Arwana Citramulia Tbk

Asahimas Flat Glass Tbk

Surya Toto Indonesia Tbk

Betonjaya Manunggal Tbk

Sektor/Sub sektor
Industri Dasar dan Kimia/Semen
Industri Dasar dan Kimia/Semen
Industri Dasar dan Kimia/Semen
Industri Dasar dan Kimia/Keramik,
Porselen dan Kaca
Industri Dasar dan Kimia/Keramik,
Porselen dan Kaca
Industri Dasar dan Kimia/Keramik,
Porselen dan Kaca
Industri Dasar dan Kimia/Logam dan

24

Indal Aluminium Industry Tbk

Jaya Pari Steel Tbk

10

Lion Metal Works Tbk

Sambungan..
11 Lionmesh Prima Tbk
12

Pelangi Indah Canindo Tbk

13
14
15
16
17

Budi Starch & Sweetener Tbk


Ekadharma Internasional Tbk
Eterindo Wahanatama Tbk
Indo Acidatama Tbk
Asiaplast Industries Tbk

18

Champion Pacific Indonesia Tbk

19

Trias Sentosa Tbk

20

Yanaprima Hastapersada Tbk

21
22

Charoen Pokphand Indonesia


Tbk
JAPFA Comfeed Indonesia Tbk

23

Malindo Feedmill Tbk

24

Sierad Produce Tbk

25

Gajah Tunggal Tbk

26

Indospring Tbk

27

Multi Prima Sejahtera Tbk

28

Nipress Tbk

29

Selamat Sempurna Tbk

30
31
32
33
34
35

Nusantara Inti Corpora Tbk


Ricky Putra Globalindo Tbk
Sepatu Bata Tbk
Kabelindo Murni Tbk
KMI Wire and Cable Tbk
Supreme Cable Manufacturing &
Commerce Tbk

sejenisnya
Industri Dasar dan Kimia/Logam dan
sejenisnya
Industri Dasar dan Kimia/Logam dan
sejenisnya
Industri Dasar dan Kimia/Logam dan
sejenisnya
Industri Dasar dan Kimia/Logam dan
sejenisnya
Industri Dasar dan Kimia/Logam dan
sejenisnya
Industri Dasar dan Kimia/Kimia
Industri Dasar dan Kimia/Kimia
Industri Dasar dan Kimia/Kimia
Industri Dasar dan Kimia/Kimia
Industri Dasar dan Kimia/Plastik dan
Kemasan
Industri Dasar dan Kimia/Plastik dan
Kemasan
Industri Dasar dan Kimia/Plastik dan
Kemasan
Industri Dasar dan Kimia/Plastik dan
Kemasan
Industri Dasar dan Kimia/Pakan
Ternak
Industri Dasar dan Kimia/Pakan
Ternak
Industri Dasar dan Kimia/Pakan
Ternak
Industri Dasar dan Kimia/Pakan
Ternak
Aneka Industri/Otomotif dan
Komponen
Aneka Industri/Otomotif dan
Komponen
Aneka Industri/Otomotif dan
Komponen
Aneka Industri/Otomotif dan
Komponen
Aneka Industri/Otomotif dan
Komponen
Aneka Industri/Tekstil dan Garmen
Aneka Industri/Tekstil dan Garmen
Aneka Industri/Alas Kaki
Aneka Industri/Kabel
Aneka Industri/Kabel
Aneka Industri/Kabel

25

36
37

Voksel Elevtric Tbk


Akasha Wira Internasional Tbk

38

Delta Djakarta Tbk

39

Indofood CBP Sukses Makmur


Tbk
Sambungan..
40 Indofood Sukses Makmur Tbk
41

Mayora Indah Tbk

42

Multi Bintang Indonesia Tbk

43

Nippon Indosari Corpindo Tbk

44

Prasidha Aneka Niaga Tbk

45

Sekar Laut Tbk

46

Siantar Top Tbk

47

Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk

48

57
58

Ultra Jaya Industry & Trading


Co. Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Darya-Varia Laboratoria Tbk
Kalbe Farma Tbk
Kimia Farma (Persero) Tbk
Merck Tbk
Pyridam Farma Tbk
Taisho Pharmaceutical Indonesia
Tbk
Tempo Scan Pacific Tbk
Mandom Indonesia Tbk

59

Martina Berto Tbk

60

Unilever Indonesia Tbk

61

Kedawung Setia Industrial Tbk

49
50
51
52
53
54
55
56

Aneka Industri/Kabel
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Makanan
dan Minuman
Industri Barang Konsumsi/Rokok
Industri Barang Konsumsi/Rokok
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Farmasi
Industri Barang Konsumsi/Kosmetik
dan Barang Keperluan Rumah
Tangga
Industri Barang Konsumsi/Kosmetik
dan Barang Keperluan Rumah
Tangga
Industri Barang Konsumsi/Kosmetik
dan Barang Keperluan Rumah
Tangga
Industri Barang Konsumsi/Peralatan
Rumah Tangga

Sumber: www.idx.co.id (diolah), 2014

26

3.5 Operasionalisasi Variabel


Operasionalisasi variabel diawali dengan menentukan data yang
diperlukan dalam penelitian ini, yaitu dengan mengoperasionalkan variabelvariabel seperti yang telah dirumuskan dalam kerangka pemikiran untuk
menentukan indikator-indikator variabel yang bersangkutan. Adapun variabel
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel independen diberi simbol
X dan untuk variabel dependen diberi simbol Y, yang diuraikan sebagai
berikut.
1. Variabel Independen (X)
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel independen yaitu:
a. Perencanaan Pajak (X1)
Perencanaan pajak adalah hasil dari tindakan penghematan pajak (tax
saving) dan penghindaran pajak (tax avoidance) (Cahyadi dan Sumiyana,
2013). Dalam mengidentifikasi perusahaan yang melakukan perencanaan
pajak, penelitian ini menggunakan tarif pajak efektif kas (CashETR) yang
dikembangkan oleh Dyreng et. al., (2008). Tarif pajak efektif kas
(CashETR) tersebut dihitung dengan persamaan:
N

CTP it
CashETRi=

t1

( PTI itSIit )
t1

Keterangan:
CashETRi
CTPit
PTIit
SIit

: Tarif pajak efektif kas perusahaan i


: Kas yang dibayarkan pajak perusahaan i pada tahun t
: Laba sebelum pajak perusahaan i pada tahun t
: Item khusus perusahaan i pada tahun t

27

Dari perhitungan dengan menggunakan persamaan tersebut maka akan


didapatkan tarif pajak efektif kas (CashETR) masing-masing perusahaan
yang selanjutnya diurutkan berdasarkan besarannya.

b. Beban pajak tangguhan (X2)


Beban pajak tangguhan pada penelitian ini mengacu pada book-tax
differences (BTD) atau perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal. Jika
semakin besar perbedaan tersebut, maka semakin besar jurang pemisah antara
laba akuntansi dan laba fiskal. Indikator variabel berdasarkan pengukuran ini
sesuai yang dilakukan oleh Philips et. al., (2003) dan Juliati dan Tjaraka
(2013) adalah sebagai berikut:
BTD it =

DTE it
A it1

Keterangan:
BTDit
DTEit
Ait

= Perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal


= Deferred tax expense perusahaan i pada tahun t
= Total Asset pada tahun t-1

2. Variabel Dependen (Y)


Kualitas laba dalam penelitian ini diukur melalui discretionary accruals,
dengan menggunakan Modified Jones Model. Model ini dianggap lebih
baik diantara model lain untuk mengukur secara langsung kualitas laba
(Dechow et. al. 1995) dalam Rahmawati dan Triatmoko (2007) dan
Herwiyanti dan Baridwan (2008). Model perhitungannya sebagai berikut:

28

1. Menghitung total akrual.


TA = NI - CFO
Keterangan:
TA
NI
CFO

: Total Akrual
: Laba bersih
: Arus Kas dari Operasi

2. Nilai total akrual diestimasi dengan analisis regresi (OLS).


TA it
PPEit
( REV it ARit )
1
= 1
+ 2
+ 3
+
Assetsit1
Assets it1
Assets it1
Assets it1 it

3. Mengestimasi non discretionary accrual (NDA).


Dengan menggunakan estimasi koefisien pada persamaan OLS, maka nilai
non discretionary accrual (NDA) dihitung dengan persamaan berikut:
NDAit = 1

PPE it
( REV it ARit )
1
+ 2
+ 3
Assetsit 1
Assetsit 1
Assets it1

4. Menghitung discretionary accrual (DA).


Discretionary accrual dihitung dengan persamaan berikut:
DA it =

TA it
NDAit
Assetsit 1

Keterangan:
TAit
DAit
NDAit
Assetsit-1
Revit

: Total akrual perusahaan i pada tahun t


: Discretionary accrual perusahaan i pada tahun t
: Non discretionary accrual perusahaan i pada tahun t
: Total aset perusahaan i pada tahun t-1
: Perubahan pendapatan perusahaan i pada tahun t

PPEit
: Aset tetap perusahaan i pada tahun t
AR : Perubahan piutang dagang perusahaan i pada tahun t
it
it

: Error term perusahaan i pada tahun t

Matriks operasionalisasi variabel dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel

29

3.3 berikut ini :

Tabel 3.3
Matriks Operasionalisasi Variabel
Variabel
Perencanaan pajak
(X1) (Dyreng et. al.,
2008)
Beban pajak
tangguhan (X2)
Philips et. al. (2003)
dan Juliati dan
Tjaraka (2013)
Kualitas Laba (Y)
(Rahmawati dan
Triatmoko, 2007 dan
Herwiyanti dan
Baridwan (2008)

Indikator
a. Kas yang dibayarkan pajak

Skala
Rasio

perusahaan
b. Laba sebelum pajak perusahaan

a. Deferred tax expense


b. Total asset

a. Menghitung total akrual


b. Nilai total akrual diestimasi dengan
analisis regresi (OLS).
c. Mengestimasi non discretionary
accrual (NDA)
d. Menghitung discretionary accrual
(DA)
Sumber: Data diolah, 2014

Rasio

Rasio

3.6 Metode Analisis Data


3.6.1 Regresi Berganda

30

Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda.


Penggunaan analisis linear berganda ini, dikarenakan variabel independen dan
dependen yang diperoleh dianggap terdapat hubungan linear. Analisis linear
berganda digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel independen
(X) terhadap variabel dependen (Y). Analisis regresi berganda diformulasikan
dengan:
Y = +1X1+ 2X2+ .+kXk +e
Keterangan:
Y
: Variabel Terikat

: Konstanta
1-k
: Koefisien Regresi
X1, X2
: Variabel Bebas
e
: Error
Variabel independen penelitian ini adalah perencanaan pajak (X1) dan
beban pajak tangguan (X2). Variabel dependen (Y) adalah kualitas laba.
Adapun persamaan matematis regresi linear berganda, apabila diaplikasikan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Y = +1X1+ 2X2+ e
Keterangan:
Y
: Kualitas Laba
X1
: Perencanaan Pajak
X2
: Beban pajak tangguhan
a
: Konstanta
b1 - bn
: Parameter yang diberi nama koefisien regresi
e
: Variabel Gangguan (standard error)
3.6.2 Asumsi Klasik
Mengingat data penelitian yang digunakan adalah data sekunder, maka
untuk memenuhi syarat yang ditentukan sebelum uji hipotesis melalui uji-t
dan uji-F serta untuk menentukan ketepatan model maka perlu dilakukan

31

pengujian regresi linear mensyaratkan terpenuhinya uji asumsi klasik. Uji


asumsi klasik merupakan pengujian terhadap asumsi-asumsi penting yang
harus terpenuhi sebagai syarat menggunakan model regresi. Terdapat empat
asumsi penting yang harus terpenuhi yaitu normalitas, heterokedastisitas,
autokorelasi, dan multikolonearitas. Terpenuhi asumsi klasik memperlihatkan
estimasi regresi akan BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) yang
mengindikasikan model regresi tidak bias. Penjelasan setiap uji asumsi klasik
tersebut sebagai berikut:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan menguji apakah dalam sebuah model regresi,
variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.
Uji normalitas akan terpenuhi jika jumlah sampel yang digunakan lebih dari
satu atau sama dengan tiga puluh. Mengetahui normalitas distribusi data dapat
dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogrof Smirnov-Test (nilai
= 5%). Pemilihan Kolmogrof Smirnov-Test sebagai alat ukur normalitas
bertujuan untuk mengetahui nilai signifikannya, jika nilai signifikasi dari
pengujian Kolmogrof Smirnov-Test lebih besar dari 0.05 maka data
mempunyai distribusi normal (Ghozali, 2007:110).
2. Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam sebuah model
regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas tetapi jika varians

32

beda, maka disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak
terjadi heterokedastisitas.
Pendeteksian heterokedastisitas dilakukan dengan melihat ada
tidaknya pola tertentu pada grafik, di mana sumbu X adalah Y yang telah
diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi Y sesungguhnya) yang
telah di-studentized. Dasar pengambilan keputusan:
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik (point-point) yang ada membentuk
suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian
menyempit), maka telah terjadi heterokedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di
bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
3. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam sebuah model
regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Menguji autokorelasi dapat
dilihat dari nilai Durbin Waston (DW), yaitu jika nilai DW terletak antara du
dan (4 dU) atau du DW (4 dU) berarti bebas dari autokorelasi,
sebaliknya jika nilai DW < dL atau DW > (4 dL) berarti terdapat
autokorelasi, jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.
4. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas akan mengakibatkan koefisien regresi tidak pasti
atau mengakibatkan kesalahan standarnya menjadi tidak terhingga sehingga
menimbulkan bias spesifikasi. Uji multikolinearitas bertujuan menguji apakah

33

model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Apabila


terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas
(multiko). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara
variabel independen. Pendeteksian adanya multiko yakni jika besaran VIF
(Variance Inflation Factor) dan tolerance suatu model regresi yang bebas
multiko adalah:
1. Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1 (satu)
2. Mempunyai angka tolerance mendekati 1 (satu)
3.7 Pembuktian Hipotesis
Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menguji hipotesis
dengan menggnakan regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
3.7.1 Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen
(X) secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel
dependen (Y). Mengetahui apakah variabel independen berpengaruh
signifikan terhadap variabel dependen, dilakukan perbandingan antara Fhitung
dengan Ftabel pada tingkat kepercayaan 95% ( 0,05), dengan pedoman
sebagai berikut:
1.

Jika Fhitung > Ftabel dan p< 0,05, maka terbukti semua variabel
bebas yang diamati serempak (simultan) berpengaruh signifikan terhadap
variabel terikat.

2.

Jika Fhitung < Ftabel dan p > 0,05, maka terbukti semua variabel
bebas yang diamati serempak (simultan) tidak memberikan pengaruh
signifikan terhadap variabel terikat.

34

Nilai F hitung diperoleh dari hasil perhitungan statistik (SPSS) dalam


tabel ANOVA. F tabel diperoleh dengan melihat tabel F (sesuai dengan
tingkat kepercayaan yang ditentukan) dengan cara df1,df2. Nilai df1 = jumlah
dari variabel bebas, df2 =N-K-1, dimana N= jumlah sample, dan K= jumlah
variabel bebas. Tabel ANOVA (hasil uji SPSS) juga diperoleh kofisien
determinasi (R). Nilai koefisien determinasi (R) berada antara 1<R<0
mendekati satu, maka model regresi linear berganda dinilai sangat kuat.
3.7.2 Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara
parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Mengetahui masing-masing variabel independen berpengaruh signifikan
terhadap variabel dependen dilakukan perbandingan antara thitung dengan ttabel
pada tingkat signifikan =0,05 dengan ketentuan sebagai berikut:
1.

Jika thitung> ttabel pada tingkat kepercayaan 95%, maka terbukti


bahwa perencanaan pajak dan beban pajak tangguhan (variabel X) yang
diamati berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laba (variabel Y)
di perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI, dengan kata lain Ho
ditolak dan Ha diterima.

2.

Jika thitung< ttabel pada tingkat kepercayaan 95%, maka terbukti


bahwa perencanaan pajak dan beban pajak tangguhan (variabel X) yang
diamati tidak berpengaruh secara signifikan kualitas laba (variabel Y) di
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI, dengan kata lain Ho diterima
Ha ditolak.

35

DAFTAR PUSTAKA
Afriyanto, Pungki. 2013. Pengaruh Perbedaan Antara Laba Akuntansi dan Laba
Fiskal Terhadap Persistensi Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).
Ayers C. Benjamin, Jiang (Xuefeng) John and Laplante K. Stacie. 2008. Taxable
Income as a Performance Measure: The Effects of Tax Planning and
Earnings Quality. Contemporary Accounting Research, Vol. 26 No. 1
Boediono, Gideon. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate
Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan
Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VIII Solo
Cahyadi, Annas dan Sumiyana. 2013. Peran Perbedaan Laba Yang Berbasis Nilai
Buku Dan Pajak dalam Menjelaskan Persistensi Laba (Studi Pada
Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia). SNA XVI
Manado.
Dechow M. Patricia, Richardson A. Scott and Sloan G. Richard. 2008. The
Persistence and Pricing of the Cash Component of Earnings. Working
Paper SSRN
Dyreng D. S., M. Hanlon, dan L. E. Maydew. 2008. Long-Run Corporate Tax
Avoidance. The Accounting Review. 83. 6182.
Ghozali. 2007. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS Cetakan IV.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hanlon, Michelle. 2005. The Persistence and Pricing of Earnings, Accruals, and
Cash Flows When Firms Have Large Book-Tax Differences. United
States: The Accounting Review
Herwidayatmo. 2002. Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-20/PM/2002
bertanggal 12 november 2002, peraturan No. VIII.A.2 tentang

36

Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa Audit di Pasar Modal.


Jakarta: Bapepam
Herwiyanti Eliada dan Baridwan Zaki. 2008. Pengaruh Kualitas Laba pada Yields
Obligasi dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 10, No. 2
Irfan Haris Fakhtur. 2013. Pengaruh Perbedaan Laba Akuntansi dan Laba Fiskal
Terhadap Persistensi Laba dengan Komponen Akrual dan Aliran Kas
Sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2008-2011). Semarang:
eprints.undip.ac.id
Jensen, M. C dan Meckling, W H. 1976. Theory of the Firm: Managerial
Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Working Paper SSRN
Juliati dan Tjaraka, Heru. 2013. Kemampuan Deferred Tax Expense Dan Current
Tax Expense Dalam Mendeteksi Earnings Management di Saat
Perubahan Tarif Pajak Penghasilan Badan Tahun 2008 2010 (Studi
Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia). SNA XVII
Mataram
Koonce L., dan G. M. Lipe. 2010. Earnings Trend and Performance Relative to
Benchmarks: How Consistency Influences Their Joint Use. Journal
of Accounting Research. Vol. 48 No. 4. 859-884.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).keyword: ilusi. 2015
McGuire, S. T., S. S. Neuman, dan T.C. Omer. 2012. Sustainable Tax Strategies
and Earnings Persistence. Working Paper SSRN
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) NO. 1 (REVISI 2009) tentang
Penyajian Laporan Keuangan
Philips, J., M. Pincus, and S. Rego. 2003. Earnings Management: New Evidence
Based on Deferred Tax Expenses. Working Paper SSRN
Pindiharti, Dewi. 2011. Pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak
Tangguhan dan Akrual Terhadap Earnings Management (Studi empiris
pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia). Jakarta:
repository.uinjkt
Rachmawati, Andri dan Triatmoko Hanung. 2007. Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. SNA X Makassar

37

Sinaga Uli Rosita. 2014. Akuntan Indonesia: Mengawal Demokrasi Akuntan


Sebagai Penjaga Profesionalisme dan Akuntabilitas. Ikatan Akuntan
Indonesia.
Suandy, Erli. 2011. Perencanaan Pajak edisi 5. Jakarta: Salemba empat
Sarjono Haryadi dan Julianita Winda. 2011.SPSS vs LISREL sebuah pengantar,
aplikasi untuk riset. Jakarta: Salemba Empat
Subagyo dan Oktavia. 2010. Manajemen Laba Sebagai Respon Atas Perubahan
Tarif Pajak Penghasilan Badan di Indonesia. SNA XIII Purwokerto.
Subramanyam K. R. dan J. J. Wild. 1996. Going-Concem Status, Earnings
Persistence, and Informativeness of Earnings. Contemporary
Accounting Research. 13. 251-273.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta
Sulistiawan Dedhy, Yeni Januarsi, and Liza Alvia. 2011. Creative Accounting:
Mengungkap Manajemen Laba and Skandal Akuntansi. Jakarta: Salemba
Empat.
Sunarto. 2008. Peran Persistensi Laba Memperlemah Hubungan Antara Earnings
Opacity dengan Cost Of Equity dan Trading Volume Activity (Studi
Empiris pada Perusahaan Go Publicdi Indonesia selain Sektor
Keuangan dan Properti). Semarang: eprints.undip.ac.id
Syanthi Trisna Nila, Sudarma Made dan Saraswati Erwin. 2012. Dampak
Manajemen Laba Terhadap Perencanaan Pajak dan Persistensi Laba.
Malang: Jurnal Ekonomi dan Keuangan
Tucker W. Jennifer and Zarowin Paul. 2006. Does Income Smoothing Improve
Earnings Informativeness?. The Accounting Review Vol. 81 (1)
Umar Husein. 2008. Desain Penelitian Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Wijayanti Tri Handayani. 2006. Analisis Pengaruh Perbedaan Antara Laba
Akuntansi dan Laba Fiskal Terhadap Persistensi Laba, Akrual dan Arus
Kas. SNA XI Padang
Wijaya, M. dan D. Martani. 2011. Praktik Manajemen Laba Perusahaan
dalam Menanggapi Penurunan Tarif Pajak Sesuai UU No. 36 Tahun
2008. SNA XIV Aceh
Yulianti. 2004. Penggunaan Distribusi Laba Dalam Mendeteksi Manajemen
Laba. Jakarta: Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia

38

39

LAMPIRAN

40