Anda di halaman 1dari 7

TAFSIR, TAWIL & TERJEMAH[1]

Al-Quran merupakan kitab suci yang lengkap dan sempurna. Al


Quran adalah sebuah kalam Allah yang mengatasi dan melampaui teksteks yang lain dalam sejarah. Hal itu disebabkan Al-Quran merupakan
wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat jibril kepada umat
manusia. Ruh ke-Ilahian Al-Quranlah yang membuatnya tahan dari
berbagai kritik dan gempuran.[2]
Sebagai sebuah teks, Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi
umat Islam. Semua hal yang ada pada aspek kehidupan telah diatur
di dalamnya. Walaupun begitu, di samping berbahasa Arab tidak
dipungkiri dari ayat-ayatnya masih banyak yang besifat global. Sehingga
tidak bisa dipahami secara tekstual, untuk itu bagi orang awam untuk
memahaminya perlu penerjemahan dan penafsiran terlebih dahulu.
Dalam kaitan ini lahirlah sebuah desain ilmu yang secara khusus
menelaah dan mempelajari tentang cara penafsiran Al-Quran yang
sesuai dengan tata-aturan tafsir, di samping itu selain lahirnya tafsir, juga
dikenal adanya terjemah serta tawil Al-Quran. Nah, sebenarnya tiga kata
tersebut meskipun bertujuan sama menjelaskan Al-Quran dalam bahasa
yang bisa dipahami maknanya, tapi secara subtansi memiliki
perbedaannya.
A. Pengertian Tafsir, Tawil dan Terjemah
1. Pengertian Tafsir
Secara etimologi tafsir ialah keterangan (Al-idhah) dan penjelas
(Al-bayan). Tafsir adalah mashdar dari kata kerja (fiil) fassara.Kata itu
berasal dari akar kata kata Al-fasr kemudian diubah menjadi
bentuk tafilyaitu menjadi Al Taftsir yang seperti penjelas atau
keterangan. Dalam kitab Lisanul Arab disebutkan tafsir adalah Al Faslul
bayan, yakni keterangan yang memberikan penjelasan (Fassara As-syai
a- ) berarti (abanahu- ) , menjelaskan ( tafsir
adalah mashdar dari kata fassara ).
Ada pula yang mengatakan, penafsiran (Al-Fasr) adalah usaha untuk
menyingkapkan suatu yang tertutup. Ada pula yang mengatakan Kasyful
Muradi anil lafdzil musykili, (mengungkapkan arti yang dimaksud dari

lafal yang pelik). Juga dikatakan bahwa kata tafsir itu diambil dari
kata mashdar tafsirah yaitu sebuah sebuah nama bagi suatu yang
dipergunakan dokter untuk mengetahui suatu penyakit.[3]
Menurut Al-Kilaby dalam At-Tas-hiel Tafsir



Artinya: Tafsir adalah mensyarahkan Al-Quran, menerangkan maknanya dan
menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan
isyaratnya dengan tujuanya.[4]
Menurut Az-Zarkasyi, tafsir adalah menerangkan makna-makna AlQuran dan mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.
[5] Jadi kesimpulannya tafsir ialah semacam ilmu yang membahas cara
mengucapkan lafal Al-Quran dan kandungannya, hukumnya yang
mengandung keterangan tentang halihwal susunannya. Dengan definisi
yang ringkas tafsir ialah ilmu yang membahas tentang hal-ihwal AlQuranul karim, dari segi indikasinya apa yang dimaksud oleh Allah.[6]
Para ulama telah bersepakat bahwa mempelajari ilmu tafsir itu
hukumnya fardhu kifayah dan ini termasuk salah satu dari sekian banyak
ilmu agama. Al-Ishbahani berkata, karya yang paling mulia yang
dipersembahkan oleh manusia adalah tafsir Al-Quran. Keistimewaan
suatu karya itu dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu aspek materinya,
aspek tujuannya, dan tingkat kebutuhan terhadapnya. Karya tafsir sudah
mencakup ketiga aspek ini.[7]
2. Pengertian Tawil
Menurut bahasa Tawil diambil dari kata Awwala Yuawwilu
Tawilan : kembali kepada asalnya.[8]Ada pula yang mengatakan bahwa
tawil berasal dari akar kata Al Aulu - yang berarti kembali.
Dikatakan pula bahwa ia diambil dari kata Al-Ayalah - , yang berarti AsSiya sah, yakni mengatur, seakan-akan mengatur-atur kalimat,
menimbang-nimbangnya, membolak-balikannya untuk memperoleh arti
dan maksudnya.
Adapun Tawil menurut istilah ulama salaf yaitu menegaskan yang
dimaksud ada dua macam, yaitu:
1. Tawil adalah menafsirkan kalimat dan menerangkan artinya, baik arti
tersebut sama dengan bunyi lahiriah kalimat tersebut ataupun
berlawanan.
2. Tawil adalah Esensi dari apa yang dikehendaki oleh suatu kalimat.
Maka apabila kalimat itu berupa tuntutan, maka tawilnya adalah esensi
dari perbuatan yang dituntut, dan jika berupa rangkaian kalimat berita
maka tawilnya adalah esensi dari suatu yang diberitakan. [9]

a.

b.

c.
1)
2)
d.

Takwil mengunggulkan sebagian makna ayat yang memiliki


beberapa makna. Imam Suyuti membahas masalah ini secara panjang
lebar dalam kitabnya al Itqan fi Ulum Al-Quran . Dimana beliau banyak
menukilkandari beberapa pendapat para ulama yang hampir mendekati
kebenaran.[10]
Adapun mengenai arti takwil menurut istilah banyak para ulama lain
memberikan pendapatnya antara lain sebagai berikut ini :
Menurut Al-Jurzzani
Memalingkan suatu lafazh dari makna dzamirnya terhadap makna yang
dikandungnya apabila makna alternative yang dipandang sesuai dengan
ketentuan Al-Quran dan Sunnah.
Menurut defenisi lain
Takwil adalah mengenbalikan sesuatu kepada ghayahnya (tujuannya)
yakni menerangkan apa yang dimaksud.
Menurut Ulama Salaf
Menafsirkan dan mejelaskan makna suatu ungkapan baik yang
bersesuaian dengan makna ataupun bertentangan
Hakekat yang sebenarnya yang dikehendaki suatu ungkapan.
Menurut Khalaf
Mengalihkan suatu lafazh dari maknanya yang rajin kepada makna yang
marjun karena ada indikasi untuk itu.
Jadi Pengertian takwil menurut istilah adalah suatu usaha untuk
memahami lafazh-lafazh (ayat-ayat) Al-Quran melalui pendekatan
pemahaman arti yang dikandung oleh lafazh itu.
Untuk perbedaan tafsir dengan takwil, dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Menurut Al-Raghib, Tafsir lebih umum dari pada Tawil, tafsir lebih
banyak digunakan untuk kata-kata dan padanannya. Tawil lebih banyak
digunakan dalam makna dan kalimat, juga Tawil paling sering
digunakan dalam hubungannya dalam kitab Illahi, sedangkan Tafsir
digunakan baik pada kitab-kitab Illahi maupun lainnya.
2. Menurut Al-Maturidi, Tafsir adalah mematikan bahwa yang dimaksud
dengan lafadz adalah ini, dan kesaksian kepada Allah bahwa artinya
kata itu begini. Jika tegak dalil yang pasti, maka tafsir itu benar, jika
tidak itulah Tafsir bil al-ray. karena itu dilarang. Tawil berarti mentarjih
(menganggap lebih kuat) satu makna diantara berbagai makna tanpa
dan kepastian kesaksian kepada Allah.
3. Menurut Abu Thalib At-Taghlibi, Tafsir itu menjelaskan posisi makna
kata, apakah arti sebenarnya atau kiasan. Haqiqat atau Majaz. Seperti
tafsir Shirath sebagai jalan, al-shaybsebagai hujan. Tawil adalah
tafsir batin dari kata; diambil dari kata awwal. Tawil mwnjadi upaya
mengembalikan untuk mencapai tujuan. Jadi Tawil menginformasikan

hakikat yang dimaksud dan tafsir menginformasikan petunjuk yang


dimaksud.
Kita tidak akan melanjutkan polemik para ulama tentang perbedaan
tafsir dan tawil. Tetapi, sebagai pengantar singkat, penjelasan keduanya
(tafsir dan takwil) merujuk Jalaluddin al-Suyuthi, pakar besar dalam ilmuilmu Al-Quran dan Hadits membuat definisi yang paling singkat tentang
tafsir: Mengungkap makna Al-Quran dan menerangkan maksudnya.[11]

3. Pengertian Terjemah
Arti terjemah menurut bahasa adalah salinan dari suatu bahasa ke
bahasa lainnya.[12] Atau juga mengandung arti menyalin, menganti
suatu kalimat dari suatu bahasa ke bahasa lain. Terjemah berasal dari
bahasa Arab yang berarti memindahkan makna lafal ke dalam bahasa
lain. Menurut pengertian istilah ialah memindahkan pembicaraan dari satu
bahasa ke dalam bahasa lain, dengan kata lain terjemah memindahkan
makna kata bahasa pertama kepada kedua.
Sedangkan pengertian terjemah secara terminologis, sebagaimana
didefinisikan oleh Ali Ashabuni, terjemah adalah memindahkan Al-Quran
kepada bahasa yang lain yang bukan bahasa Arab dan mencetak
terjemah ini dalam beberapa naskah agar ia dibaca oleh orang yang tidak
mengerti bahasa Arab sehingga ia dapat memahami kitab Allah dengan
perantaraan terjemah ini.[13]
Kata terjemah dapat dipergunakan pada dua arti:
1. Terjemah harfiyah, yaitu mengalihkan lafaz-lafaz dari satu bahasa ke
dalam lafaz-lafaz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa
sehingga susunan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan
tertib bahasa pertama.Dalam terjemah Harfiyah dikenal dua corak yaitu,
Terjemah harfiyah bil Mistsli (penerjemahan lafal sebanding kata) dan
terjemah Harfiyah bi Dzuni al-Mistli (penerjemahan lafal di bawah
bandingan kata)
2. Terjemah
Tafsiriyah
Maknawiyah,yaitu
menjelaskan
makna
pembicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib kata-kata
bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya. Mereka yang
mempunyai pengetahuan tentang bahasa-bahasa tentu mengetahui
bahwa terjemah harfiyah dengan pengertian sebagaimana di atas tidak
mungkin dapat dicapai dengan baik jika konteks bahasa asli dan
cakupan semua maknanya tetap dipertahankan.Sebab karakteristik
setiap bahasa berbeda satu dengan yang lain dalam hal tertib bagianbagian kalimatnya.[14]
Dalam menerjemahkan Al-Quran, Secara umum, syarat-syarat yang
harus dipenuhi dalam terjemah, baik terjemah harfiyah maupun
terjemah tafsiriyah adalah:

1.

Penerjemah memahami tema yang terdapat dalam kedua bahasa, baik


bahasa pertama maupun bahasa terjemahnya.
2. Penerjemah memahami gaya bahasa (uslub) dan ciri-ciri khusus atau
karakteristik dari kedua bahasa tersebut.
3. Hendaknya dalam terjemahan terpenuhi semua makna dan maksud
yang dikehendaki oleh bahasa pertama.
4. Hendaknya bentuk (sighat) terjemahan lepas dari bahasa pertama
(ashl). Seolah-olah tidak ada lagi bahasa pertama melekat dalam
bahasa terjemah tersebut.[15]

B.

Perbedaan Tafsir, Tafsir dan Terjemah


Perbedaan tafsir, dan tawil di satu pihak dan terjemah di pihak lain
adalah bahwa yang pertama berupaya menjelaskan makna-makna setiap
kata dalam Al-Quran sedangkan yang kedua (terjemah) hanya
mengalihkan bahasa Al-Quran yang berbahasa Arab ke dalam bahasa
selain bahasa Arab. Sedangkan antara tafsir dan takwil perbedaannya
adalah sebagai berikut :
TAFSIR

TAWIL

Pemakaiannya banyak dalam lafazh-lafazh dan


mufradat

Pemakaiannya lebih banyak pada makna-makna


dan susunan kalimat

Jelas diterangkan dalam Al-Quran dan haditshadits sahih

Kebanyakan diistinbath oleh para ulama

Banyak berhubungan dengan riwayat

Banyak berhubungan dengan dirayat

Digunakan dalam ayat-ayat muhkamat (jelas)

Digunakan dalam ayat-ayat mutasyabihat (tidak


jelas)

Bersifat menerangkan petunjuk yang dikehendaki

Menerangkan hakikat yang dikehendaki

C. Klasifikasi dan Corak Tafsir


1. Klasifikasi Tafsir dilihat dari Sumber Tafsir
Tafsir merujuk kepada sumber penafsir dibagi 2, yaitu Tafsir BilMatsur dan Bil-Royi
a. Tafsir Bi Al-Matsur, Adalah penafsiran Al-Quran yang mendasarkan pada
penjelasan Al-Quran,penjelasan Rasul, dan penjelasan sahabat melalui
ijtihadnya serta aqwal tabiin.[16]
b. Tafsir Bil-Rayi, Berdasarkan pengertian rayi berarti keyakinan dan ijtihad
sebagaimana dapat didefinisikan tafsir Bir-rayi adalah penjelasan yang
diambil berdasarkan ijtihad dan metodenya dari dalil hukum yang
ditunjukkan.
2. Klasifikasi Tafsir Berdasarkan Metodenya
Pembahagian tafsir dilihat dari metode tafsir yang digunakan, dapat
dibagi kepada :
a. Tafsir Tahlily
b. Tafsir Ijmali

c. Tafsir Muqaaran
d. Tafsir Maudhui
3. Corak tafsir (Pendekatan Tafsir)
Corak tafsir yang dimaksudkan disini adalah model penafsiran
terhadap Al-Quran dilihat dari sisi pendekatan yang digunakan
oleh mufassir, dalam kaitan ini dapat digolongkan kepada :
a. Tafsir Sufistik
b. Tafsir Fiqh/Tafsir Ahkam
c. Tafsir Falsafi
d. Tafsir Ilmi
e. Tafsir Adabi Ijtimai (Sosial budaya)
f. Tafsir Historis (Asbab Nuzul)
g. Tafsir Lughawy (Semantik)

DAFTAR BACAAN
Abd Al Hayy al Farmawi, Metode Tafsir maudhui, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1996.
---------------, al-Bidayah Fi Tafsir Al-Maudhui, Mesir; Maktabah Jumhuriah, tt.
Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Ulumul Quran II, Bandung: Pustaka Setya, 1997.
alaluddin Rakhmat, Tafsir Sufi Al-Fatihah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.
Kahar Masykur, Pokok-Pokok Ulumul Quran, Jakarta: Rineka cipta, 1992.
M.Hasbi As Shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Quran/Tafsir, Jakarta: PT Bulan
Bintang, 1989.
Muhammad Ali Ash-Shabuni, At-Tibyan fi Ulum Al-Quran , Damaskus; Maktabah AlGhazali, 1390H.
Muhammad Qodirun Nur, Ikhtisar Ulumul Quran Praktis, Jakarta: Pustaka Amani, 1988.
Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Quran, Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2002
Poerdawarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
---------------, Ulum Al-Quran , Bandung; Pustaka Setia, 2007.

Materi Pembelajaran ini merupakan materi matakuliah Ilmu Tafsir


Oleh Tgk. Mukhlisuddin, MA
[1]

[2]Nasr

Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Quran, (Yogyakarta: PT. LKiS


Pelangi Aksara, 2002), h. . 1.
[3]Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Ulumul Quran II, (Bandung:
Pustaka Setya, 1997), h. 51.
[4]Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), h.
141.
[5]M.Hasbi As Shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Quran/Tafsir,
(Jakarta: PT Bulan Bintang, 1989) h.178.
[6]Kahar Masykur, Pokok-Pokok Ulumul Quran, (Jakarta: Rineka
cipta, 1992), h. 160.
[7]Abd Al Hayy al Farmawi, Metode Tafsir Maudhui, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo, 1996) h. 6-7.
[8]Kahar Masykur, Pokok-Pokok Ulumul Quran....., h. 160.
[9]Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Ulumul Quran II..., h. 3-4.
[10]Muhammad Qodirun Nur, Ikhtisar Ulumul Quran Praktis, (Jakarta:
Pustaka Amani, 1988), h. 89
[11] Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Sufi Al-Fatihah, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1999), cet. 1, h.. 7-8.
[12] Poerdawarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1984), h. 1062.
[13] Muhammad
Ali
Ash-Shabuni, At-Tibyan
fi
Ulum
AlQuran, (Damaskus; Maktabah Al-Ghazali, 1390H), h. 277.
[14]Rosihon Anwar, Ulum Al-Quran, (Bandung; Pustaka Setia, 2007),
h. 212.
[15]Rosihon Anwar, Ulum Al-Quran,..., h. 213.
[16]Abd Hayy Al-Farmawy, al-Bidayah Fi Tafsir Al-Maudhui, (Mesir; Maktabah

Jumhuriah, tt), h. 25.