Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

BBLR
A. KONSEP DASAR PENYAKIT BERAT BADAN LAHIR RENDAH ( BBLR )
1. DEFINISI
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat
badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus
dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram
disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants ( BBLR).
Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah
dapat dibagi menjadi 2 golongan :
a. Prematuritas murni.
Adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan
mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan
atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan ( NKBSMK).
b. Dismaturitas.
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa kehamilan, dismatu5r dapat terjadi dalam preterm, term, dan post
term. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan Kecil untuk Masa
Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan
( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NLBKMK ).
Semua bayi yang lahir dengan berat badan sama atau kurang dari 2500
gram disebut bayi berat badan lahir rendah (BBLR). Dikelompokkan sebagai
berikut :
a. Bayi berat badan lahir amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 1000 gram.
b. Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 1500 gram.
c. Bayi berat badan lahir cukup rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan 1501-2500 gram.
Berdasarkan umur kehamilan:
a. Kurang bulan/preterm/premature
Umur kehamilan < 37 minggu
b. Cukup bulan/full term/aterm
Umur kehamilan 37-42 minggu
c. Lebih bulan/post term/serotinus
Umur kehamilan > 42 minggu
2. ETIOLOGI BBLR
1

a. Faktor Ibu
Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya
:perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM,toksemia

gravidarum, dan nefritis akut.


Usia ibu
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20 tahun, dan
multi gravida yang jarak kelahiran terlalu dekat.Kejadian terendah ialah

pada usia antara 26 35 tahun.


Keadaan sosial ekonomi
Keadaan ini sangat berperanan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian
tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah.
Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan
pengawasanantenatal yang kurang. Demikian pula kejadian prematuritas
pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi

bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah.
Sebab lain
Ibu perokok, ibu peminum alkohol dan pecandu obat narkotik.

b. Faktor janin
Hidramion
Kehamilan ganda
Kelainan kromosom.
c. Faktor lingkungan
Tempat tinggal didaerah radiasi dan terpapar racun.
3. PATOFISIOLOGI
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada
masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan
asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini
dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar
lerjadi Primary gasping yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.
Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan
persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi
fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan
dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan
lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu
(Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi
akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh
pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak
2

dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada
tingkat

ini

ditemukan

bradikardi

dan

penurunan

tekanan

darah.

Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan


pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan
pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3
berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa
glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan
hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan
menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan
terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan
diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi
fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel
jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan
pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya
resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem
tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler
yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak
yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi
selanjutnya (Medicine and linux.com).
4. MANIFESTASI KLINIS
Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya
lemah :
a. Fisik
bayi kecil
pergerakan kurang dan masih lemah
kepala lebih besar dari pada badan
berat badan < 2500 gram
b. Kulit dan kelamin
kulit tipis dan transparan
lanugo banyak
rambut halus dan tipis
genitalia belum sempurna
c. Sistem syaraf
refleks moro
refleks menghisap, menelan, batuk belum sempurna
d. Sistem muskuloskeletal
axifikasi tengkorak sedikit
ubun-ubun dan satura lebar
tulang rawan elastis kurang
otot-otot masih hipotonik
tungkai abduksi
3

sendi lutut dan kaki fleksi


kepala menghadap satu jurusan
e. Sistem pernafasan
pernafasan belum teratur sering apnoe
frekwensi nafas bervariasi
5. PENATALAKSANAAN
a. Prematuritas murni
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk
pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan
hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan,
pemberian makanan dan bila perlu oksigen, mencegah infeksi serta mencegah
kekurangan vitamin dan zat besi.
Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/ BBLR
Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi
hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan
baik, metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh
karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga
panas badannya mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam
inkubator maka suhu bayi dengan berat badan , 2 kg adalah 35 derajat
celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat
celcius. Bila inkubator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan
disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panan

badannya dapat dipertahankan.


Makanan bayi prematur
Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil,
enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg
BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat.
Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan
menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah,sehingga
pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang
lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling utama,sehingga ASI
lah yang paling dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka
ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau
dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan diberikan
sekitar 50-60 cc/kg BB/ hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar

200 cc/kg BB/ hari.


Menghindari infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh
yang masih lemah,kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan
4

anti bodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah
dilakukan sejak pengawasan antenatal sehinggatidak terjadi persalinan
prematuritas ( BBLR). Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi
prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik.
b. Dismaturitas (KMK)
Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterina serta
menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultra

sonografi.
Memeriksa kadar gula darah ( true glukose ) dengan dextrostix atau

laboratorium kalau hipoglikemia perlu diatasi.


Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.
Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita

aspirasi mekonium
Sebaiknya setiap jam dihitung frekwensi pernafasan dan bila frekwensi
lebih

dari

60

x/ menit dibuat foto thorax.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.00024.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ).
b. Hematokrit ( Ht ) : 43%- 61 % ( peningkatan sampai 65 % atau lebih
menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragic prenatal/perinatal ).
c. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan
anemia atau hemolisis berlebihan ). \Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari
pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl pada 3-5 hari.
d. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran
rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.
e. Pemantauan elektrolit ( Na, K, Cl ) : biasanya dalam batas normal pada
awalnya.
f. Pemeriksaan Analisa gas darah.
7. PROGNOSIS
Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501- 2500 gram adalah 95
%, tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih mempunyai angka kematian
yang tinggi. Kematian diduga karena displasia bronkhopulmonal, enterokolitis
nekrotikans, atau infeksi sekunder.

BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2 tahun pertama akan
mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati bayi cukup bulan dengan berat
sesuai masa gestasi.
Pada BBLR , makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi, makin
besar kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan neurologik.
8. KOMPLIKASI
a. Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi,
penyakit membran hialin
b. Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
c. Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
d. Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan
darah
e. Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
f. Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal
9. BALLARD SCORE
Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini
penggunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang
dan beristirahat, sehingga lebih dapat diandalkan selama beberapa jam pertama
kehidupan. Penilaian menurut Ballard adalah dengan menggabungkan hasil
penilaian maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan
maturitas neuromuskuler diberi skor, demikian pula kriteria pemeriksaan
maturitas fisik. Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas
fisik digabungkan, kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari
masa gestasinya.
a. Maturitas Fisik

b. Maturitas Neuromuskuler

c. Hasil Pemeriksaan
Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik
digabungkan, kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa
gestasinya.

B. KONSEP DASAR ASKEP BERAT BADAN LAHIR RENDAH ( BBLR )


1. PENGKAJIAN DASAR NEONATUS
a. Aktivitas/ istirahat
Bayi sadar mungkin 2-3 jam bebarapa hari pertama tidur sehari rata-rata 20
jam.
b. Pernafasan
Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria atau
persentasi bokong.
Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan
abdomen, perhatikan adanya sekret yang mengganggu pernafasan, mengorok,
pernafasan cuping hidung,
c. Makanan/ cairan
Berat badan rata-rata 2500-4000 gram ; kurang dari 2500 gr menunjukkan
kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan
dehidrasi harus diberi infus. Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena
refleks menelan BBLR belum sempurna,kebutuhan cairan untuk bayi baru
lahir 120-150ml/kg BB/ hari.
d. Berat badan
Kurang dari 2500 gram
e. Suhu
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus
dipertahankan.
f. Integumen

Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan


kering.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan,
keterbatasan

perkembangan

otot,

ketidakseimbangan metabolik
b. Resiko tinggi tidak efektifnya

penurunan

thermoregulasi

energi/kelelahan,

berhubungan

dengan

perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu), penurunan rasio massa


tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak sub kutan.
c. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan immaturitas organ tubuh
d. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler
rapuh dekat permukaan kulit.
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur
3. RENCANA KEPERAWATAN
a. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan,
keterbatasan

perkembangan

otot,

penurunan

energi/kelelahan,

ketidakseimbangan metabolik
Tujuan : Menunjukkan pola nafas yang efektif.
Kriteria : RR normal 40-60 kali/menit, jalan nafas paten, irama reguler.
Intervensi Keperawatan
Mandiri
1. Kaji

Rasional

frekwensi

pernafasan

pola

pernafasan.

dan

1. Membantu dalam
membedakan periode

Perhatikan adanya apnea dan

perputaran pernafasan yang

perubahan frekwensi jantung,

normal dari serangan apnoe,

tonus otot dan warna kulit

yaitu terutama sering terjadi

berkenaan dengan prosedur

sebelum gestasi minggu ke-30.

atau

perawatan,

pemantauan

lakukan

jantung

dan

pernafasan yang kontiniu.


2. Hisap

jalan

nafas

sesuai

kebutuhan.
3. Pertahankan

2. Menghilangkan mukus yang


menyumbat jalan nafas.

suhu

tubuh

optimal

3. Hanya sedikit peningkatan atau


penurunan suhu lingkungan
dapat menimbulkan apnea.

4. Posisikan bayi pada abdomen

4. Posisi ini dapat memudahkan

atau posisi terlentang dengan

pernafasan dan menurunkan

gulungan popok di bawah

episode

apnoe,

bahu

adanya

hipoksia,

untuk

menghasilkan

sedikit hiperekstensi.

khususnya
asidosis

metabolik atau hiperkapnea

Kolaborasi
1. Pantau

pemeriksaan

1. Hipoksia,asidosis

laboratorium (GDA, glukosa

hiperkapnea,

serum, elektrolit )

hipopkalsemia,

metabolik,
hipoglikemia,
dan

sepsis

dapat memperberat serangan


apnoe.
2. Berikan

oksigen

sesuai

indikasi

2. Perbaikan kadar oksigen dan


karbondioksida

dapat

meningkatkan

fungsi

pernafasan.
b. Resiko

tinggi

tidak

efektifnya

thermoregulasi

berhubungan

dengan

perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu), penurunan rasio massa


tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak sub kutan.
Tujuan : Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal ( 36,4-37,4)
Intervensi Keperawatan

Rasional

1. Kaji Mandiri
suhu dengan sering,
periksa suhu rektal pada

1. Hipotermia

membuat

bayi

awalnya, selanjutnya periksa

cenderung pada stress dingin,

suhu aksila atau gunakan

penggunaan simpanan lemak

alat termostat dengan dasar

coklat

terbuka

diperbaharui

dan

penyebab

2. Tempatkan
hangat. Ulangibayi
setiappada
15
isolette,
inkubator,

penghangat,
tempat

tidur

yang

tidak
bila

ada

dapat
dan

penurunan sensitivitas untuk


meningkatkan

kadar

CO2

(hiperkapnea) atau penurunan

10

terbuka

dengan penyebar

hangat, atau tempat tidur


terbuka

dengan

kadar O2 ( hipoksia ).
2. Mempertahankan

pakaian

termo

tepat untuk bayi yang lebih

netral

lingkungan
membantu

mencegah stress dingin.

besar atau lebih tua gunakan


bantalan pemanas di bawah
bayi

bila

perlu

dalam

hubungannya dengan tempat


tidur isolette atau terbuka.
3. Ganti pakaian atau linen
tempat tidur bila basah,
pertahankan

kepala

bayi

tetap tertutup.
3. Mencegah kehilangan cairan
melalui evavorasi.
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian D10

dan

1. Pemberian dextrose mungkin

ekspander

perlu

untuk

memperbaiki

volume secara intra vena

hipoglikemia,hipotensi karena

bila diperlukan

vasodilatasi perifer mungkin


memerlukan

tindakan

pada

bayi yang mengalami stress


panas,

hipertermia

menyebabkan

dapat

peningkatan

dehidrasi 3-4 kali lipat.


2. Berikan obat-obatan

2. Membantu mencegah kejang

sesuai indikasi

berkenaan dengan perubahan

fenobarbital, natrium

fungsi SSP yang disebabkan

bikarbonat

oleh hipertermia, memperbaiki


asidosis yang dapat terjadi
pada

hipotermia

dan

hipertermia.

c. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan immaturitas organ tubuh.
11

Tujuan:

Peningkatan berat badan 20-30 gr/hari


Mempertahankan berat badan

12

Intervensi Keperawatan
Mandiri

Rasional

1. Timbang berat badan bayi saat

2. Menetapkan kebutuhan kalori dan

menerima di ruangan perawatan

cairan sesuai dengan BB dasar

dan setelah itu setiap hari.

yang

sesuai/

normal

turun

sebanyak 5%-10 % dalam 3-4 hari


pertama dari kehidupan karena
2. Auskultasi bising usus, perhatikan
adanya distensi abdomen, adanya

keterbatasan masukan oral.


3. Indikator yang menunjukkan
neonatus lapar.

tangisan lemah yang diam bila


dirangsang

oral

diberikan

dan

perilaku menghisap.
3. Lakukan pemberian makan oral
awal dengan 5-15 ml air steril,
kemudian dextrose dan air sesuai
protokol rumah sakit, berlanjut

4. Pemberian

makanan

awal

membantu memenuhi kebutuhan


kalori dan cairan khususnya pada
bayi yang laju metabolismenya
menggunakan 100- 120 kal/ kg
BB setiap 24 jam.

pada formula untuk bayi yang


makan melalui botol.
1. Bayi mungkin memerlukan
Kolaborasi
1. Berikan glukosa dengan segera

suplemen glukosa untuk


meningkatkan kadar serum.

peroral atau intravena bila kadar


dextrostik kurang dari 45 mg/dl.

d. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh
dekat permukaan kulit.
13

Tujuan : Mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal.


Kriteria : Integritas kulit baik
Intervensi Keperawatan
Mandiri

Rasional

1. Inspeksi kulit, perhatikan area


kemerahan atau tekanan.

1. Mengidentifikasi area potensial


kerusakan dermal, yang dapat
mengakibatkan sepsis.

2. Berikan perawatan mulut dengan

2. Membantu

mencegah

menggunakan salin atau gliserin

kekeringan dan pecah pada

scrab.

bibir.

3. Berikan latihan gerak, perubahan

3. Membantu

mencegah

posisi rutin dan bantal bulu

kemungkinan

nekrosis

domba atau terbuat dari bahan

berhubungan

denganedema

yang lembut.

dermis

di

atas

penonjolan

tulang.
4. Mandikan

bayi

dengan

4. Setelah beberapa (empat ) hari,

menggunakan air steril dan sabun

kulit mengalami beberapa sifat

meminimalkan manipulasi kulit

bakterisidal karena pH asam.

bayi.
Kolaborasi
1. Berikan salep antibiotika.

1. Meningkatkan
pecah-pecah

pemulihan
dari

iritasi

berkenaan dengan pemberian


oksigen,

dapat

membantu

mencegah infeksi.
2. Hindari penggunaan agen topikal

2. Membantu mencegah kerusakan

keras, cuci tangan dengan hati-

kulit dan kehilangan barrier

hati

pelindung epidural.

dengan

fovidon

setelah

prosedur.

14

e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur.


Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria : Leukosit normal, tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi.
Intervensi Keperawatan
Mandiri

Rasional

1. Tingkatkan cara-cara mencuci

1. Mencuci tangan adalah praktik

tangan pada staf, orang tua dan

yang penting untuk mencegah

pekerja lain.

kontaminasi.

2. Pantau pengunjung akan adanya


lesi kulit

2. Penularan
neonatus

penyakit
dari

pada

pengunjung

dapat terjadi secara langsung.


3. Kaji bayi terhadap tanda-tanda
infeksi, misalnya : suhu, letargi

3. Bermanfaat

dalam

mendiagnosa infeksi.

atau perubahan perilaku.


4. Lakukan perawatan tali pusat
sesuai _ocal_l_ rumah sakit.

4. Penggunaan

_ocal_l

_ocal,

triple dye dapat membantu


mencegah kolonisasi.

5. Berikan ASI untuk pemberian


makan bila tersedia

5. ASI

mengandung

Ig.

A,

makrofag, limfosit dan netropil


yang

memberikan

beberapa

perlindungan dari infeksi.


Kolaborasi
1. Berikan
indikasi

antibiotika

sesuai

1. Mengatasi infeksi pernafasan


atau sepsis.

15

4. EVALUASI KEPERAWATAN
a. Pola nafas yang efektif
b. Suhu tubuh dalam batas normal ( 36,40C-37,40C)
c. Berat badan dalam batas normal
d. Integritas kulit baik
e. Tidak terjadi infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Arvin, B.K. 1999. Ilmu kesehatan anak. Jakarta : EGC


Bobak. 1999. Maternal Nursing Cae Plans. Mosby Company.
Corwin, E.J. 2001. Buku saku patofisiologi. Jakarta : EGC
Doengoes, M. Dkk. 2001. Rencana perawatan maternal/bayi Ed 2. Jakarta : EGC
Manuaba, I.B,G. 1998. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta ;
EGC.
Mocthar, R. 1989. Sinopsis obstetri. Jakarta : EGC.
Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak I. Jakarta : EGC.
Ngastiyah. 1997. Perawatan anak sakit. Jakarta : EGC.
Surasmi, Asrining. 2003. Perawatan bayi resiko tinggi. Jakarta : EGC
Sowden Betz Cicilia. 2002. Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.
Suriadi, dkk. 2001.Asuhan keperawatan pada anak Ed. I. Jakarta: EGC
Tucker, SM, dkk. 1998. standart perawatan pasien Ed. V. Jakarta : EGC
Whaleys and Wong. 1996. Clinic Manual of Pediatric Nursing,4th Edition. Mosby Company.
Irapanussa, Frans. 2012. BALLARD SCORE (internet). Diakses dari
http://irapanussa.blogspot.com tanggal 6 Maret 2013

Anda mungkin juga menyukai