Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DAN GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA


Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewarganegaraan
Semester Genap Tahun Akademik 2015/2016
Dosen Pembina : Khrisna Hadiwinata, SH., MH

Anggota Kelompok 5:
M. Faizin Hamzah

(1431120099)

Ridwan Maruf

(1431120008)

Rifan Kusuma Hadi

(1431120001)

Samudra Pribadi

(1331120039)

Sheryn Pristiyana Putri

(1431120069)

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
2016
Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas berkah dan hidayah Allah SWT, kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul OTONOMI DAERAH dan GOOD GOVERNANCE ini tanpa
hambatan yang berarti. Makalah ini dibuat sebagai bahan pembelajaran tentang paham
demokrasi serta

bagaimana praktek demokrasi tersebut di Indonesia dan sebagai bentuk

pemenuhan tugas untuk mata kuliah kewarganegaraan yang dibimbing oleh Khrisna Hadiwinata,
S., MH
Harapan saya semoga makalah yang sederhana ini bisa memberikan pembelajaran dan
pengetahuan bagi pembaca khususnya mengenai Demokrasi di Indonesia, tidak lupa kami selaku
penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penulisan makalah ini demi perbaikan penulis
dalam menulis makalah selanjutnya.

Malang, 25 Juni 2016

Penulis

Daftar Isi
Halaman Judul...........................................................................................................1
2

Kata Pengantar...........................................................................................................2
Daftar Isi....................................................................................................................3
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................6
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................6
Bab II Dasar Teori / Landasan Teori
2.1 Otonomi Daerah dan Good Governance..............................................................7
2.2 Hakikat Otonomi Daerah.....................................................................................9
2.3 Sejarah Otonomi Daerah......................................................................................11
2.4 Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah........................................................13
Bab III Pembahasan
2.1 Pengaruh System Otonomi Daerah terhadap Kewewanang
Pengelolaan Hutan di Bali..................................................................................15
2.2 Penyebab Kekecewaan Masyarakat Papua terhadap
Pelaksanaan Otonomi Daerah..............................................................................17
2.3 Pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah...........19
Bab IV Penutup
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................23
3.2 Saran....................................................................................................................24
Daftar Pustaka............................................................................................................26

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indosesia yang terhimpun dari bermacam macam suku dan
budaya dalam berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke yang memliki banyak perbedaan
atas potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang timbul karena perbedaan letak
geografis suatu daerah atau latar belakang sejarah daerah tertentu, tentunya berbagai daerah
tersebut membutuhkan penerapan kebijakan daerah yang berbeda pula. Dalam hal ini bangsa
Indonesia kini telah berhasil membentuk kebijakan Otonomi Daerah yang memberikan
kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengatur daerahnya sendiri yang sesuai
dengan karakter Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia di daerahnya sendiri. Indonesia
merupakan negara kepulauan yang terletak di posisi strategis dengan dua lautan yang
mengelilinginya. Hal ini turut mempengaruhi mekanisme pemerintahan di Indonesia, dimana
sulitnya koordinasi pemerintah pusan dengan pemerintah daerah. Hal ini pula yang mendorong
akan terwujudnya suatu sistem pemerintahan yang efisien dan mandiri untuk memudahkan
koordinasi antara kedua belah pihak tersebut.
Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan menganut asas desentralisasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah
untuk menyelengarakan otonomi daerah. Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang undangan. Pasal 18 UUD 1945 dan
perubahannya menyatakan pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan daerah kecil,
dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang. Secara
anatomis, urusan pemerintah dibagi dua yakni absolut yang merupakan urusan mutlak
pemerintah pusat (hankam, moneter, yustisi, politik luar negeri, dan agama), serta Concurrent
(urusan bersama pusat, provinsi dan kabupaten/kota). Urusan pemerintah yang bersifat
concurrent artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dapat dilaksanakan bersama antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat
concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, ada bagian
urusan yang diserahkan kepada provinsi, dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada
kabupaten/kota. Pemerintah pusat berwenang membuat norma-norma, standar, prosedur,
monitoring dan evaluasi, supervisi, fasilitasi dan urusan-urusan pemerintahan dengan
4

eksternalitas nasional. Pemerintah provinsi berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan


pemerintahan dengan eksternal regional, dan kabupaten/kota berwenang mengatur dan mengurus
urusan-urusan pemerintahan dengan eksternalitas lokal. Urusan yang menjadi kewenangan
daerah, meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan pemerintahan wajib adalah suatu
urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar, kesehatan,
pemenuhan kebutuhan hidup minimal, prasarana lingkungan dasar; sedangkan urusan
pemerintahan yang bersifat pilihan terkait era dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah.
Penyelenggaraan pemerintahan daerah disesuaikan dengan amanat Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu pemerintahan daerah, yang mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan,
pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan
memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu
daerah dalam sistem Negara Republik Indonesia. Namun, ditengah pelaksanaan Otonomi Daerah
yang telah dilaksanakan tersebut terdapat pertanyaan apakah pelaksanaanya akan lancar hingga
akan membawa dampak positif bagi daerah tersebut atau malah pelaksanaan Ontonomi Daerah
tersebut akan berjalan dengan kacau sehingga malah akan membuat daerah tersebut semakin
terpuruk. Oleh karena itu, perlu ditelaah dengan lebih lanjut bagaimana pelaksanaan Otonomi
Daerah di Indonesia, karena pelaksanaan Otonomi Daerah merupakan sesuatu yang vital bagi
jalannya roda pemerintahan.
.

1.2 Rumusan Masalah


5

1. Bagaimanakah pengaruh sistem Otonomi Daerah terhadap kewenangan pengelolaan


hutan di Bali ?
2. Apa penyebab kekecewaan masyarakat Papua terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah?
3. Bagaimana pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengaruh sistem otonomi daerah terhadap kewenangan pengelolaan hutan di

Bali
2. Mengetahui penyebab kekecewaan masyarakat Papua terhadap pelaksanaan Otonomi
Daerah yang tidak sesuai harapan
3. Mengetahui pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah

BAB II
DASAR TEORI atau LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Otonomi Daerah dan Good Governance
a)

Secara Etimologi Otonomi berasal dari auto dan nomos, Mengatur/mengendalikan sendiri.

b)

Pengertian Umum Otonomi adalah hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus
rumah tangga Daera sendiridalam mencapai tujuannya.

c)

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Bab I Pasal 1 angka 5 :

Otonomi Daerah : adalah Hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur
dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Daerah Otonom (Daerah) : adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batasbatas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Good Governance pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik. Kata
baik disini dimaksudkan sebagai mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsipprinsip dasar Good Governance.
Prinsip-prinsip Good Governance
1. Partisipasi Masyarakat
Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengembalian keputusan, baik secara
langsung, maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan
mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut di bangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan
mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif.
2. Tegaknya Supremasi Hukum
Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk didalamnya
hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia.
3. Transparansi
Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses
pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang
berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan
dipantau.
4. Peduli pada Stakeholder
Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani semua
pihak yang berkepentingan.
5. Berorientasi pada Konsensus
Tata pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-kepentingan yang berbeda demi
terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok7

kelompok masyarakat, dan bila mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan
prosedur-prosedur.
6. Kesetaraan
Semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka.
7. Efektifitas dan Efisiensi
Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan
warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal
mungkin.
8. Akuntabilitas
Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi
masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga
yang berkepentingan. Bentuk pertanggung jawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya
tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan.
9. Visi Strategis
Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata
pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan akan apa saja yang
dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus
memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan social yang menjadi dasar
bagi perspektif tersebut.

Pilar-pilar Good Governance


1. Negara

a. Menciptakan kondisi politik, ekonomi dan sosial yang stabil


b. Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan
c. Menyediakan public service yang efektif dan accountable
d. Menegakkan HAM
e. Melindungi lingkungan hidup
f. Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan public
Sektor Swasta
a. Menjalankan industry
b. Menciptakan lapangan kerja
8

c.
d.
e.
f.
g.
h.

Menyediakan insentif bagi karyawan


Meningkatkan standar hidup masyarakat
Memelihara lingkungan hidup
Menaati peraturan
Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat
Menyediakan kredit bagi pengembangan UKM

3. Masyarakat Madani
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi


Mempengaruhi kebijakan public
Sebagai sarana cheks and balances pemerintah
Mengawasi penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah
Mengembangkan SDM
Sarana berkomunikasi antar anggota masyarakat

2.2 Hakikat Otonomi Daerah


Terdapat dua undang undang yang menjadi pedoman dasar pelaksanaan otonomi daerah
yakni, Undang - Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian
diganti oleh Undang - Undang Nomor 32 tahun 2004 dan Undang - Undang Nomor 25 tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang kemudian diganti dengan Undang Undang Nomor 33 tahun 2004. Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang undangan.
Hakikat otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban suatu daerah untuk
membentuk dan menjalakan suatu pemerintahannya sendiri sesuai dengan peraturan undang
undang yang berlaku, sebagaimana dijelaskan mengenai kewenangan daerah, kewajiban kepala
daerah dan hal hal yang terkait dalam Undang Undang yang telah ditetapkan.
Otonomi daerah dalam arti sempit adalah mandiri. Sedangkan dalam arti luas diartikan
sebagai berdaya. Dengan demikian, otonomi dae11rah berarti kemandirian suatu daerah dalam
kaitan pembuatan pengambilan keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Otonomi
daerah merupakan rangkaian upaya program pembangunan daerah dalam tercapainya tujuan
pembangunan nasional. Untuk itu, keberhasilan peningkatan otonomi daerah tidak terlepas dari
kemampuan aparat pemerintah pusat dan sumber daya manusia (SDM) dalam tugasnya sebagai
perumus kebijakan nasional.
Otonomi daerah dapat diartikan juga sebagai kewajiban yang diberikan kepada daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarkat
9

setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarkat dan pelaksanaan
pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Menurut Ateng Syarifuddin, otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi
bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud oleh pemberian
kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan.
Sedangkan menurut Vincent Lemius, otonomi daerah adalah kebebasan (kewenangan) untuk
mengambil atau membuat suatu keputusan politik maupun administrasi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Di dalam otonomi daerah terdapat kebebasan yang dimiliki oleh
pemerintah daerah untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan daerah. Namun apa yang
menjadi kebutuhan daerah tersebut harus senantiasa disesuaikan dengan kepentingan nasional
sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Otonomi daerah memiliki hubungan yang erat dengan desentralisasi, yaitu penyerahan
wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sedangkan otonomi daerah merupakan hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hubungan erat antar pemerintah pusat
dengan pemerintah daerah harus serasi sehingga akan dapat mewujudkan tujuan yang ingun
dicapai.
Berikut beberapa pengertian konsep otonomi daerah sebagaimana tercantum dalam UU
Nomor 32 Th. 2004 Bab I Pasal 1:
1. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut pemerintah adalah presiden RI yang memegang
kekuasaan pemerintah negara RI sebagaimana tercantum dalam UUD 45.
2. Pemerintah daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah
dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip kesatuan NKRI sebagaimana dimaksud dalam UUD
Tahun 1945.
3. Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Wali Kota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah daerah.
4. DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintah daerah.
10

5. Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonomi untuk mengatur
dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
2.3 Sejarah Otonomi Daerah
Perjalanan bangsa Indonesia melalui berbagai sistem pemerintahan dan dipimpin berbagai
macam kepala pemerintahan serta munculnya masalah masalah baru dalam lingkungan
pemerintah ataupun lingkungan masyarakat tentu sangat membutuhkan tatanan hukum yang
berbeda dari waktu ke waktu untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.
Keberadaan kebijakan mengenai Pemerintahan Daerah bukan merupakan hal yang final,
statis dan tetap tetapi membutuhkan pembaruan pembaruan untuk mengatasi berbagai keadaan
dan masalah baru yang muncul. Berikut ini adalah sejarah perkembangan undang undang yang
menjadi pedoman mengenai otonomi daerah :
1. UU No. 1 tahun 1945 mengatur Pemerintah Daerah yang membagi tiga jenis daerah
otonom yakni, keresidenan, kabupaten, dan kota.
2. UU No. 22 tahun 1948 mengatur susunan Pemerintah Daerah yang demokratis, membagi
dua jenis daerah otonom yakni, daerah otonom biasa dan otonomi istimewa, dan tiga
tingkatan daerah otonom yakni, provinsi, kab/ kota dan desa.
3. UU No. 1 tahun 1957 mengatur tunggal yang berseragam untuk seluruh Indonesia.
4. UU No. 18 tahun 1965 mengatur otonomi yang menganut sistem otonomi yang riil dan
seluas luasnya.
5. UU No.5 tahun 1974 mengatur pokok pokok penyelenggaraan pemerintahan yang
menjadi tugas pemerintah pusat di daerah (prinsip yang dipakai : otonomi yang nyata dan
bertanggungjawab; merupakan pembaruan dari otoda yang seluas luasnya dapat
menimbulkan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan NKRI, dan tidak serasi
dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi).
Sedangkan perubahan yang mendasar dari pedoman Otonomi Daerah dari UU No. 22 tahun
1999 digantikan oleh UU No. 32 tahun 2004 adalah sebagai berikut
1.

Prinsip Prinsip Otonomi Daerah dalam UU No. 22 tahun 1999


a.
b.
c.
d.
e.

Demokrasi, keadilan, pemerataan, potensi dan keanekaragaman daerah.


Otonomi luas, nyata, dan bertanggungjawab.
Otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota.
Sesuai dengan konstitusi negara.
Kemandirian daerah otonom.
11

f. Meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah.


g. Asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi sebagai wilayah administrasi.
h. Asas tugas perbantuan.
2.

Prinsip Prinsip Otonomi Daerah dalam UU No. 32 tahun 2004


a. Demokrasi, keadilan, pemerataan, keistimewaan dan kekhususan, serta potensi dan
keanekaragaman daerah.
b. Otonomi luas, nyata, dan bertanggungjawab.
- Otonomi luas : daerah yang memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk
memberi pelayanan, peningkata peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat
-

yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Otonomi nyata : penanganan urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas,
wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh,

hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.


Otonomi yang bertanggungjawab : dalam penyelenggaraan otonomi harus sejalan
dengan tujuan dan maksud pemberian otonom, yang pada dasarnya untuk

c.
d.
e.
f.
g.
h.

memberdayakan daerah, termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.


Otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota.
Sesuai dengan konstitusi negara.
Kemandirian daerah otonom.
Meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah.
Asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi sebagai wilayah administrasi.
Asas tugas perbantuan.

2.4 Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah


Otonomi daerah adalah sebuah agenda nasional yang diharapkan dapat mencegah terjadinya
sentralisasi yang sebenarnya sudah menimpa bangsa Indonesia selama periode orde baru.Sejak
diberlakukannya Undang-undag tentang pemerintahan daerah, yaitu UU no.22 tahun 1999 dan
UU no.25 tahun 1999 diharapkan juga dapat membawa perubahan yang signifikan bagi daerah
yang juga nantinya akan membawa kesejahteraan bagi bangsa ini sendiri.
Kebijaksanaan otonomi daerah melalui UU no.22 tahun 1999 memberikan otonomi yang
angat luas kepada daerah, khususnya Kabupaten dan Kota. Hal itu ditempuh dalam rangka
mengembalikan harkat dan martabat di daerah; memberikan peluang politik dalam rangka
peningkatan kualitas demokrasi di Daerahpeningkatan efisiensi pelayanan public di Daerah,
peningkatan percepatan pembangunan Daerah, dan pada akhirnya diharapkan pula penciptaan
cara berpemerintahan yang baik.

12

Otonomi daerah diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan daerah


selain juga menciptakan keseimbangan antar daerah hingga terjadi perataan kesejahteraan dan
tidak adanya daerah tertinggal ataupun sentralisasi. Untuk menciptakan pembangunan daerah
yang cepat dan meningkat maka perlu adanya prasyarat terutama bagi penyelenggara daerah
tersebut. Yang diharapkan dari pemerintahan daerah tersebut adalah sejumlah berikut:
1. Fasilitas. pemerintah daerah sebagai pelaksana daerah sebaiknya memenuhi fasilitas
kepada masyarakatnya terutama yang berkaitan dengan masalah ekonomi,karena memang
pada dasarnya pembangunan daerah dapat terjadi karena bantuan ekonomi(keuangan).
Jadi,jika pemerintah memudahkan fasilitas maka pembangunan daerah bukanlah sesuatu
yang susah pencapaiannya.
2. Pemerintah daerah harus kreatif. Kreatif yang dimaksud di sini adalah bagaiman cara
mengalokasikan dana yang bersumber dari Dana Alokasi Umum atau yang berasal dari
PAD. Selain itu dapat menciptakan keunggulan komparatif bagi daerahnya, sehingga
pemilik modal akan beramai-ramai menanamkam modal di daerah tersebut. Kreatifitas ini
juga berkaitan dengan kepiawaian pemerintah membuat program-program menarik
sehingga pemerintah pusat akan memberikan Dana Alokasi Khusus, sehingga banyak dana
yang di sedot dari Jakarta ke Daerah.
3. Pemerintah daerah menjamin kesinambungan usaha.
4. Politik lokal yang stabil.
5. Pemerintah harus komunikatif dgn LSM/NGO, terutama dalam bidang perburuhan dan
lingkungan hidup.
Namun sebenarnya yang penting bagi daerah adalah terciptnya lapangan kerja, serta disertai
kemampuan menghadapi laju inflasi dan keseimbangan neraca perdagangan internasional.
Penciptaan lapangan kerja akan berpengaruh pada peningkatan daya beli dan kecenderungan
untuk menabung, dengan meningkatnya daya beli berarti penjualan atas barang dan jasa juga
meningkat, artinya pajak penjualan barang dan jasa juga meningkat sehingga Pendapatan Daerah
dan Negara juga meningkat. Semuanya akan di kembalikan pada masyarakat dalam bentuk
proyek atau bantuan atau sejumlah intensif yang lain, sehingga lambat laun kesejahteraan
masyarakat akan meningkat dan disitulah pembangunan daerah benar-benar dijalankan.
.

13

BAB III
PEMBAHASAN

PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH


3.1 Pengaruh Sistem Otonomi Daerah terhadap Kewenangan Pengelolaan Hutan di Bali
Apabila dicermati secara teliti, maka sesungguhnya urusan bidang Kehutanan pada awalnya
bersifat sentralistik. Dalam UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, pasal 4 ayat (2) huruf a
disebutkan bahwa : Penguasaan hutan oleh Negara memberikan kewenangan kepada Pemerintah
untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan
hasil hutan. Pemerintah di sini maksudnya adalah Pemerintah Pusat (Pasal 1, ayat 14). Disini
jelas amanat undang-undang bahwa kewenangan asli (atribusi) untuk mengatur dan mengurus
segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan diberikan kepada
Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen Kehutanan.
Menurut Teori Kewenangan, cara memperoleh kewenangan dapat dilakukan melalui 3 cara
yaitu atribusi, delegasi dan mandat. Atribusi merupakan wewenang untuk membuat keputusan
yang langsung bersumber kepada undang-undang. Kewenangan yang di dapat melalui atribusi
oleh organisasi pemerintah adalah kewenangan asli, karena kewenangan itu diperoleh langsung
dari peraturan perundang-undangan yang melibatkan peran serta rakyat sebagai pemegang asli
kewenangan. Delegasi diartikan sebagai penyerahan kewenangan untuk membuat suatu
keputusan oleh pejabat pemerintahan kepada pihak lain. Dalam penyerahan kewenangan ini
terjadi perpindahan tanggung jawab dari yang memberi delegasi kepada yang menerima
delegasi. Pengertian mandat adalah suatu pelimpahan wewenang kepada bawahan. Dalam
mandat, tanggung jawab tetap berada di tangan pemberi mandat.
Selanjutnya Pasal 66 ayat (1) UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan: Dalam
rangka penyelenggaraan Kehutanan, Pemerintah menyerahkan sebagian kewenangan kepada
Pemerintah Daerah. Pada ayat (2) disebutkan Pelaksanaan penyerahan sebagian kewenangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengurusan hutan
dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Dari pasal 4 dan 66 UU No.41 tahun 1999 tentang
Kehutanan disimpulkan bahwa Urusan Pemerintahan di Bidang Kehutanan bersifat Concurrent
14

artinya urusan pemerintah yang dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
Kemudian dalam ketentuan pelaksanaannya yaitu dalam PP No.6 tahun 2007 tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan serta Pemanfaatan Hutan diatur bahwa : tata hutan
dan penyusunan rencana pengelolaan serta pemanfaatan hutan merupakan bagian dari
pengelolaan hutan (pasal 3) dan menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
(pasal 4). Untuk mengelola serta memanfaatkan hutan secara optimal dan lestari perlu dibentuk
suatu lembaga atau organisasi pemerintahan yang memiliki tugas dan kewenangan mengelola
kawasan hutan, yaitu satuan kerja yang bernama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Menurut PP No.6 tahun 2007, pasal 9, Organisasi KPH mempunyai tugas dan fungsi:
1. Menyelenggarakan pengelolaan hutan yang meliputi :
a.
b.
c.
d.
e.

tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan;


pemanfaatan hutan
penggunaan kawasan hutan;
rehabilitasi hutan dan reklamasi; dan
perlindungan hutan dan konservasi alam.

2. Menjabarkan kebijakan Kehutanan Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota bidang


Kehutanan untuk diimplementasikan;
3. Melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan diwilayahnya mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan serta pengendalian;
4. Melaksanakan pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan di
wilayahnya;
5. Membuka peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan pengelolaan hutan.
Organisasi KPH ini bisa dibentuk oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Depatemen Kehutanan
maupun Pemerintah Daerah yaitu Pemerintah Provinsi. Provinsi Bali merupakan satu kesatuan
ekosistem pulau yang merupakan satu kesatuan wilayah, ekologi, sosial budaya, sehingga
kebijakan pengelolaan kawasan hutan yang diperlukan mengacu pada kelestarian ekosistem.
15

Pembentukan KPH di Provinsi Bali merupakan kebutuhan nyata dalam rangka pengelolaan hutan
di Provinsi Bali agar hutan Bali dapat memberikan manfaat yang optimal dari segi ekologi, sosial
budaya dan ekonomi.
Pemerintah Provinsi kemudian membentuk 4 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan
Pengelolaan Hutan (KPH) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari Dinas Kehutanan
Provinsi Bali dengan Peraturan Daerah (Perda) No.2 Tahun 2008, tanggal 8 Juli 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Bali, yang kemudian dijabarkan dalam
Peraturan Gubernur (Pergub) No.48 tahun 2008, tanggal 22 Juli 2008 tentang Rincian Tugas
Pokok Dinas Kehutanan Provinsi Bali, dan kemudian dikukuhkan/ ditetapkan dengan SK
Menteri Kehutanan No. 800/Menhut-II/2009, tanggal 7 desember 2009tentang Penetapan
Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Provinsi Bali. Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dibentuk adalah :
-

UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Barat.


UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Tengah
UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur
UPT Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai, yang khusus mengelola kawasan hutan
bakau (mangrove) di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.

Pembentukan KPH di Provinsi Bali diharapkan agar hutan Bali dapat memberikan manfaat yang
optimal dari segi ekologi, sosial budaya dan ekonomi
3.2 Kekecewaan masyarakat Papua terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah yang tidak
sesuai harapan.
Beberapa kasus muncul di Papua sebagai akibat kesalahan dalam pelaksanaan Otonomi
Daerah, antara lain kasus Freeport dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kasus Freeport adalah
kasus mengenai suatu perusahaan tambang yang sudah sekian lama mengeruk kekayaan alam
Papua, namun tidak berimbas baik bagi penduduk pribumi Papau, justru kehadiran PT. Freeport
merugikan penduduk pribumi. Sedangkan kasus Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah kasus
yang menginginkan penduduk pribumi Papua untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan membentuk negara sendiri.

16

Pada kasus freeport, pemerintah memberikan ijin kepada PT Freeport untuk melakukan
kegiatan pertambangan di daerah Papua. Pemberian ijin dalam melakukan kegiatan
pertambangan ini merupakan suatu bentuk kewenangan pemerintah daerah dalam pelaksanaan
Otonomi Daerah, guna membangun daerahnya. Dalam pemberian ijin ini pemerintah pusat pun
terlibat. Adanya suatu industri di suatu daerah harusnya memberikan kemajuan bagi masyarakat
sekitar, entah itu industri yang dijalankan bangsa Indonesia itu sendiri maupun bangsa luar.
Sebagai akibat dari rasa ketidakpuasan atau kekecewaan mendapatkan perilaku yang
tidak adil, beberapa penduduk Papua menghendaki adanya negara baru, Organisasi Papua
Merdeka (OPM). Beberapa aksi gencar diluncurkan demi mewujudkan keinginan memisahkan
diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aksi yang sering mereka lakukan dalam
menyampaikan aspirasinya adalah melalui mengibarkan bendera bintang kejora di berbagai
wilayah Papua. Namun pemerintah Indonesia tidak tinggal diam menanggapi permasalahan ini.
Aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga kesatuan negara Indonesia ini dan menindak tegas
segala oknum yang ikut campur dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Sebab terjadinya berbagai konflik di Papua menurut Wakil Ketua Komisi I DPR TB
Hasanuddin ada 4 faktor, yakni Pertama, masih adanya perbedaan persepsi masalah integrasi
Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut dia, pemerintah
menganggap masalah Papua telah final sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Kedua,
adanya marjinalisasi terhadap penduduk asli Papua.Ketiga, masih adanya pelanggaran HAM
yang terus terjadi kendati memasuki era reformasi. Keempat, masalah otonomi khusus (Otsus)
yang dianggap masyarakat Papua tak jalan.
Eksploitasi SDA telah menampilkan suatu ketidakadilan, berdasar fakta-fakta masyarakat
Papua, pemegang hak adat atas SDA tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan,
padahal semua konsekuensi negatif pasti dipikul oleh mereka bukan oleh pengambil keputusan.
SDA merupakan sumber penghidupan utama bagi mereka dengan batas-batas pemilikan,
pengakuan, dan penghargaan yang jelas dan tegas di antara para pemegang hak adat. Sebaliknya,
agen-agen pembangunan yang mengeksploitasi SDA justru tidak memberikan pengakuan yang
memadai terhadap hak-hak masyarakat asli Papua dan tidak memikirkan alternatif. Eksploitasi
SDA oleh para investor di bawah fasilitasi pemerintah, berlangsung secara cepat. Sementara,
persiapan sosial yang dapat membantu menyiapkan dan memfasilitasi penduduk asli agar
mengakses program-program atau proyek-proyek yang berhubungan dengan pengelolaan SDA
17

tidak terjadi. Akibatnya, masyarakat menjadi penonton dan terasing di tanahnya sendiri.
Masyarakat Papua sebagai komunitas lokal tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan
ekonomi, karena memang tidak dipersiapkan, dilatih, dan diberi kesempatan.
3.3 Pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah
Otonomi daerah dimaksudkan agar daerah otonom dapat mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan diberlakukannya UU RI No. 23 Tahun
2014, kewenangan pemerintah didesentralisasikan ke daerah, ini mengandung makana perintah
pusat tisak lagi mengurus kepentingan rumah tangga daerah-daerah serta menggantikan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dianggap tidak sesuai lagi
dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan
daerah sehingga perlu diganti.
Dalam pembahasan makalah ini, terkait dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh
mantan Kepala Daerah Bangkalan yakni Fuad Amin Imron adalah sebuah contoh daeri
penyelewengan kewenangan yang diberikan kepada perintah daerah terkait kasus suap jual beli
gas di Bangkalan, Madura.Kasus ini berawal dari niat Perusahaan Listrik Negara ingin
membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Gresik dan Gili Timur. Perseroan itu pun
mengikat perjanjian dengan pemerintah daerah setempat. Di Gresik, sumber pembangkit listrik
itu sudah berdiri. Sementara di Gili Timur sama sekali tidak dibangun.Sebabnya diduga ada
kejanggalan kontrak jual beli gas antara Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore,
Pertamina EP, dengan perusahaan makelar (trader) PT Media Karya Sentosa alias Media Energi
pada 2006. Bupati Bangkalan saat itu, KH. Fuad Amin Imron, sudah sepakat siap membangun
PLTG itu. Tetapi, PLN ingin supaya beban pembangunan pipa gas ke fasilitas itu ditanggung
oleh pemerintah setempat. Fuad menyetujui hal itu. Pasokan gas dipilih dari kilang lepas pantai
Madura Barat dikelola PHE-WMO. Sayangnya, pengiriman gas tidak dilakukan langsung oleh
Pertamina EP sebagai distributor, melainkan mesti lewat Media Energi.
Fuad lantas membikin perjanjian antara dia, Media Energi, dan Perusahaan Daerah
Sumber Daya ihwal kontrak pasokan gas dan pembangunan jaringan pipa ke PLTG. Dalam
klausul kontrak dinyatakan, dari jumlah pembelian gas sebanyak 40 BBTU, Media Energi
18

menyisihkan gas sebesar 8 BBTU buat memasok PLTG Gili Timur. Kontrak gas itu pun sudah
disetujui oleh Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (sekarang SKK
Migas) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.Namun dalam kenyataannya, Media
Energi dan PD Sumber Daya tidak pernah membangun jaringan pipa gas itu. PLTG Gili Timur
pun tinggal mimpi lantaran PLN membatalkan rencana dan mengalihkannya ke Riau. Sementara
gas buat pembangkit listrik itu pun tak jelas ke mana larinya. Tetapi, ada kesepakatan
terselubung antara Media Energi dan Fuad. Sebagai imbalan kontrak jual beli gas fiktif, Media
Energi wajib menyetor uang kepada Fuad melalui PD Sumber Daya. Sementara Media Energi
meraup keuntungan berlipat dengan membeli gas dengan harga rendah.
Pertamina EP sebagai penyalur menolak disalahkan dalam perkara itu. Mereka merasa
sudah menunaikan kewajiban dengan mengantar gas dari kilang ke tepat di titik serah pembeli,
serta sudah menjalankan perjanjian sesuai kontrak dan menjual gas dengan harga cukup baik.
Mereka juga menampik tudingan merugikan keuangan negara. Mereka menyangkal dituding
menjadi sumber kegagalan pembangunan PLTG Gili Timur. Masalah pembangunan jalur pipa
dari Gresik menurut mereka adalah urusan antara Media Energi dan PD Sumber Daya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa kewenangan yang sangat besar yang diberikan
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah ternyata dimanfaatkan oleh oknum pejabat daerah
untuk melakukan tindak pidana korupsi dan memperkaya diri. Dengan operasi tertangkapnya
Fuad Amin Imron, Ketua DPRD Bangkalan, yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati
bangkalan jawa timur pada Senin 1 Desember 2014 lalu oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi(KPK) itu semakin memperkuat fakta bahwa korupsi didaerah semakin masif dan
melibatkan keluarga. Pada dasarnya kewenangan besar yang diberikan kepada pemerintah
daerah itu dimaksudkan agar daerah bisa lebih cepat membuat kehidupan masyarakat yang lebih
baik, bukan untuk dijadikan peluang untuk melakukan korupsi oleh pejabat pemerintah daerah.
Dengan menggunakan asas desentralisasi, daerah diharapkan mampu melakukan pembangunan
yang berkembang sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing. Pemerintah daerah dianggap
lebih mengetahui terhadap jenis kebutuhan-kebutuhan daerahnya yang tentu tidak akan sama
dengan kebutuhan daerah lain diseluruh nusantara. Pemerintah daerah diberikan kewenangan
untuk membuat kebijakan yang sesuai dengan konidi adat dan wilayahnya. Sehingga

19

pertumbuhan di daerah semakin cepat berkembang dan terciptanya masyarat yang makmur dan
sejahtera.
Akan tetapi kewenangan pemerinah daerah itu justru dipergunakan oleh pejabat daerah
untuk memanipulasi kewenangan itu untuk mengisi pundi-pundinya. Menurut Wakil Ketua
Komite III DPD RI ini, kebanyakan para kepala daerah ini memanipulasi jabatannya untuk
mengobral berbagai perizinan terutama yang terkait dengan pertambangan dan kehutanan. Dua
jenis perizinan ini, jadi ladang korupsi di daerah. Hal itu akibat pengawasan pemerintah pusat
yang minim, ditambah civil society di daerah yang belum kuat, membuat tidak ada yang
mengawasi tindak-tanduk para pejabat di daerah. Maraknya praktik korupsi di daerah juga tak
lepas dari besarnya biaya kampanye yang dikeluarkan para calon kepala daerah saat Pilkada.
Sehingga saat mereka terpilih berusaha mencari peluang bagaimana memanfaatkan kewenangan
besar yang mereka peroleh untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan untuk biaya
Pilkada tersebut. Jadi yang ada dalam pikirannya, bagaimana bisa balik modal bahkan jadi
untung. Bukan memikirkan bagaimana caranya membuat otak rakyat jadi pintar dan perut rakyat
jadi kenyang. Menurut Prof . Dr. Saldi Isra (2009), menjamurnya korupsi di daerah dapat dilihat
melalui tiga persoalan penting.
Pertama, sadar atau tidak, program otonomi daerah yang digulirkan oleh pemerintah
hanya terfokus pada pelimpahan wewenang dalam pembuatan kebijakan, keuangan dan
administrasi dari pemerintah pusat ke daerah, tanpa disertai pembagian kekuasaan kepada
masyarakat. Dengan kata lain, program otonomi daerah tidak diikuti dengan program
demokratisasi yang membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pemerintahan di daerah.
Karenanya, program desentralisasi ini hanya memberi peluang kepada elite lokal untuk
mengakses sumber-sumber ekonomi dan politik daerah, yang rawan terhadap korupsi atau
penyalahgunaan wewenang.
Kedua, tidak ada institusi negara yang mampu mengontrol secara efektif penyimpangan
wewenang di daerah. Program otonomi daerah telah memotong struktur hierarki pemerintahan,
sehingga tidak efektif lagi control pemerintah pusat ke daerah karena tidak ada lagi hubungan
struktural secara langsung yang memaksakan kepatuhan pemerintah daerah kepada pemerintah
pusat. Kepala daerah, baik gubernur, bupati, maupun walikota, tidak lagi ditentukan oleh
pemerintah pusat, melainkan oleh mekanisme pemilihan kepala daerah oleh DPRD dan
20

bertanggunjawab ke DPRD. Hubungan pemerintahan pusat dan daerah hanya fungsional, yaitu
hanya kekuasaan untuk memberi policy guidance kepada pemerintah daerah tanpa diikuti oleh
pengawasan yang memadai.
Ketiga, legislatif daerah gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga kontrol.
Justru sebaliknya terjadi kolusi yang erat antara pemerintah daerah dan DPRD sehingga kontrol
terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak terjadi, sementara kontrol dari kalangan
civil society masih lemah. Yang perlu digarisbawahi, adanya lembaga kontrol seperti DPRD
yang secara konstitusi harus mengawasi kebijakan pihak eksekutif (pemerintah daerah) tidak
berarti peluang adanya penyelewengan dan korupsi menjadi hilang. Justru ketika kolusi terjadi
antara pihak eksekutif dan legislatif, sangat sulit bagi masyarakat untuk melakukan kontrol.
Oleh karena itu, otonomi daerah disamping memberikan dampak positif terhadap
jalannya roda pemerintahan juga mempunyai dampak negatif yang salah satunya yaitu korupsi
yang terus merajarela dari tingkatan paling atas sampai pada tingkatan paling bawah. Jika
diistilahkan, pada masa Soekarno, kurupsi hanya dilakukan dibawah meja, pada masa Soeharto
mulai dilakukan di atas meja, maka pada era reformasi sekarang bukan hanya dilakukan di
bawah di atas meja melainkan dibawa dengan meja-mejanya. Hal ini menunjukkan betapa
maraknya kasus korupsi di era dilaksanakannya otonomi daerah ini. Tidak perlu heran karena
setiap kebijakan dan ide-ide pasti mempunya kelebihan dan kekurangan. Kesempurnaan sulit
untuk dicapai. Akan tetapi setidaknya usaha untuk menjadi leih baik itu penting.

BAB IV
PENUTUP
21

4.1 Kesimpulan
1. Untuk meningkatkan efektivitas pengurusan hutan, Pemerintah Pusat menyerahkan
sebagian kewenangan pengelolaan hutan kepada Pemerintah Daerah, termasuk
Pemerintah Provinsi Bali, agar hutan di Bali dapat memberikan manfaat yang optimal
dari segi ekologi, sosial budaya dan ekonomi.
2. Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam penyelesaian konflik sangatlah besar
peranannya sehingga perlu adanya pembatasan yang jelas dalam penyelesaian konflik
tersebut. Dan dalam melaksanakan hal tersebut telah diatur beberapa batasan yang jelas
dalam Keputusan Bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Yang perlu
dicermati adalah kewenangan Pemerintah Daerah yang sangat besar sehingga perlu
adanya bentuk pengawasan yang baik yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat sehingga
jangan sampai terjadi berbagai kebijakan yang dapat mengakibatkan terjadinya konflik
yang terjadi di setiap kabupaten atau kota yang ada di Indonesia. Pemerintah Pusat harus
aktif dalam melakukan pengawasan sehingga konflik yang terjadi di papua dapat
diselesaikan sacara baik tanpa menggunakan kekerasan dengan baik oleh Pemerintah
Indonesia baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah
3. Setiap kebijakan pemerintah daerah harus mendapat dukungan dari rakyat, apabila tidak
ada partisipasi dari masyarakat berarti semua kegiatan otonomi daerah tidak ada artinya.
Secara garis besar menunjukan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan disetiap daerah ada
dua unsur yang berperan yaitu pimpinan daerah dan masyrakat, agar tercipta kegiatan
otonomi daerah yang sejahtera. Pada dasarnya kewenangan besar yang diberikan kepada
pemerintah daerah itu dimaksudkan agar daerah bisa lebih cepat membuat kehidupan
masyarakat yang lebih baik, bukan untuk dijadikan peluang untuk melakukan korupsi
oleh pejabat pemerintah daerah.

4.2 Saran
1. Seiring dengan perkembangan reformasi di Indonesia, Pembangunan Nasional di
Indonesia lebih seharusnya lebih menekankan pada prinsip-prinsip Demokrasi, peran
22

serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan


keanekaragaman Daerah. Pada era reformasi saat ini, telah terjadi perubahan paradigma
dalam kehidupan politik dan sistem ketatanegaraan di Indonesia yaitu dari
sistem otoritarian kepada

sistem demokrasi,

dan

dari

sistem sentralistik ke

sistem desentralisasi/ otonomi. Perubahan paradigma ini sudah tentu berdampak kepada
sistem hukum yang dianut selama ini, yaitu yang menitikberatkan kepada produk-produk
hukum yang lebih banyak kepada kepentingan penguasa daripada kepentingan rakyat,
dan juga produk-produk hukum yang lebih mengedepankan dominasi kepentingan
pemerintah pusat daripada kepentingan pemerintah daerah. Diawali dengan lahirnya
Undang-undang Otonomi Daerah yaitu UU No.22 Tahun 1999 yang kemudian diubah
dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. UU Otonomi Daerah
memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus
semua urusan pemerintahan, kecuali yang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.
UU No.32 tahun

2004,

pasal

10

mengatur

bahwa

Pemerintah

Daerah

menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan


pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah (yang dimaksud Pemerintah Pusat)
meliputi: politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional,
serta agama.
2. Konflik yang terjadi di papua hanya sebagian kecil saja yang terjadi di negeri ini maka
dari pada itu di harapkan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus fleksibel
dalam mengeluarkan kebijakan jangan hanya berpihak ke salasatu daerah saja karna akan
menimbulkan kecemburuan sosial tiap daerah sehingga mengakibatkan konflik yang
berkepanjangan.
Secara teoritis, dikenal 3 sarana upaya penyelesaian konflik, yaitu: Pertama, Konsiliasi,
umumnya dilakukan melalui lembaga legislatif atau parlemen yang bermaksud
memberikan kesempatan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk berdiskusi atau
memperdebatkan secara terbuka masalah yang terjadi dalam konteks mencapai
kesepakatan atau kompromi bersama. Kedua, Mediasi mengajak atau mendorong kepada
para pihak yang terlibat untuk kesepakatan melalui nasihat dari pihak ketiga yang
disetujui. serta Ketiga, Arbitran, para pihak yang terlibat bersepakat untuk mendapatkan
menunjuk wasit penilai untuk memberikan keputusan yang bersifat legal sebagai jalan
keluar dari konflik. Jika dilihat dari aspek substansi, terdapat 4 cara atau pendekatan
23

yang sering ditempuh oleh para pihak dalam proses penyelesaian konflik, yaitu: Pertama,
Penghindaran, yaitu penyelesaian yang diharapkan timbul dengan sendirinya. Kedua,
Kekuasaan. yaitu penyelesaian melalui cara paksa atau dengan penggunaan kekuatan
bersenjata oleh institusi militer, Ketiga, Hukum, yaitu penyelesaian konflik melalui
proses arbritase, pencarian fakta yang mengikat, proses legislasi, dan pembuatan
kebijakan pejabat publik, serta Keempat, kesepakatan, yaitu penyelesaian oleh para
pihak melalui proses negosiasi, mediasi, dan konsiliasi.
3. Sebagai pemerintah yang mendapat amanat untuk mengurus negeri ini seyogyanya tidak
menyelewengkan kewenangan dan kekuasaan yang diberikan, karena semua itu harus
dipertanggung jawabkan baik di dunia ataupun kelak dihari kiamat dihadapan sang
pencipta. Dalam menjalankan pemerintahan harus dipisahkan mana kepentingan pribadi
dan mana kepentingan umum dan negara. Disamping itu pengawasan dan penegakan
hukum terhadap yang melanggar hukum harus ditingkatkan baik di pemerintah daerah
maupun dipemerintah pusat. Melihat kasus korupsi didaerah itu maka pemerintah
indonesia membuat beberapa kebijakan baru yang dianggap dapat mengurangi kasuskasus korupsi di daerah. Diantara beberapa kebijakan itu antara lain sebagai berikut.
1.

UU. No.23 Tahun 2014 Tentang pemerintah Daerah

2.

Rencana pendirian kantor cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di daerah.

Adapun solusi menurut kelompok kami yang dianggap dapat mengurangi maraknya
kasus korupsi di daerah yaitu sebagai berikut:
1. Pangawasan yang ketat
2. Memilih pemimpin yang amanah
3. Pemilu yang bersih akan noney politic

DAFTAR PUSTAKA
Karim, Abdul Gaffar, 2003, Kompleksitas Otonomi Daerah di Indonesia, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Syaukani, dkk, 2009, Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
24

Widjaja, HAW, 2004, Otonomi Daerah dan Daerah Otonom, Jakarta : PT Grafindo Persada.
PPT OTODA Bahan ceramah Direktorat Jendral Otonomi Daerah pada KRA XXXVII
Lemhannas 2004.
Abdul Manan, 2005, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta.
Philipus M. Hadjon, dkk, 1994, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cet III, UGM Press.

25