Anda di halaman 1dari 17

Keperawatan Komunitas kasus

pemi

Oleh : Grace Tady Tulak S.Kep,Ns.M.Kes


Di susun oleh ;
Kelompok VI

Muh.Dzulfikar

NurAisyah Nuddin

Yesenia pasolon
Muh. Khaidir
Sri Lestari

Darmawati
Sinta
Yelsi

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKES KURNIA JAYA


PERSADA

Kasus:
Tn H umur 70 tahun, tinggal di panti wreda, keadaan fisiknya sering
mengalami sesak nafas, sering mengeluh pusing. Kebiasaan makan tidak
teratur, tidak pernah melakukan kegiatan olah raga, dan merokok.Tn. H
memiliki riwayat asma 10 tahun yang lalu. Saat ini Tn. H sedang barada di
ruang gawat darurat RS Karya wreda dan mendapatkan tindakan oksigenasi
karena pada malam sebelumnya mengalami sesak nafas.
1. Jelaskan teori penuaan yang terkait dengan kondisi klien:
Jawab:
A. Teori biologi.
1) Teori genetik dan mutasi (somatic murtatie theori)
Menurut genetic ini menua telah terprogram secara genetic untuk

spesies-spesies tertentu.
Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang
diprogram oleh molekul-molekul DNA dan setiap sel pada

saatnya oleh mengalami mutasi.


2) Teori Error ; Kesalahan sintesa DNA/RNA
Teori program : waktu biologik memicu perilaku sel spesifik pada
waktu khusus Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah
sel yang membelah setelah sel-sel tsb mati
3) Teori transkripsi ; kegagalan translasi atau transkripsi antara sel-sel,
malfungsi RNA/enzym.


4) Run-Out-of-Program:
- Kemampuan organisme dari sejmlah sel membelah dan
spesifik selama kehidupan.
B. Teori system
Reaksi kekebalan sendiri ( Auto Immune Theory)
Kemampuan sel B&T ditandai dengan kehilangan untuk regulasi
diri, sel-sel normal atau yang tua mengenal benda asing , sistem reaksi
dengan membentuk antibody untuk menghancurkan sel-sel ini.
Metab tubuh produksi suatu zat. Jar tubuh lain sensitif
terhadap zat tersebut shg sel mjd lemah c/ produk kelenjar timus
pada usia dewasa berinvolusi terjadilah reaksi Auto imum

C. Cellular
Teori Radikal bebas: Radikal bebas menyebabkan terjadi oksidasi bhn

organik. Radikal menyebabkan sel tdk dpt regenarasi.


Teori Rantai silang (Cross-Link) Sel tua menyebabkan terjadi ikatan
yg

kuat ,khususnya jaringan kologen. Menyebabkan kurangnya

elastis, kekacauan & hilangnya fungsi.


Teori Wear& Tear
Trauma berulang /kelebihan penggunaan

sel-sel,

jaringan,

organ/sistem. Menyebabkan sel-sel tubuh lelah.


Teori Clinker : Gab. Somatik, Cross-link, radikal bebas
D. akumulasi dari produk sisa

Pengumpulan pigmen atau lemak dalam tubuh. c/ pigmen


Lipofuchinc di sel otot jantung dan sel ssp pada lansiayang
mengakibatkan mengganggu fungsi sel itu sendiri.
E. teori : imunologi slow virus. Yaitu sistem imun menjadi efektif dengan
bertambahnya

usia

dan

masuknya

virus

kedalam

tubuh

dapat

menyebabkan kerusakan organ tubuh.


F. teori stress : Stres menyebabkan sel lelah terpakai shg regenerasiyang
terjadi tdk mampu mempertahankan kestabilan lingkungan internal

2. Jelaskan Perubahan yang terjadi akibat proses penuaan

Proses menua merupakan suatu peristiwa yang akan dialami oleh


setiap individu yang berusia panjang tanpa kecuali. Karena lansia merupakan
tahap lanjut dari suatu kehidupan yang ditandai dengan menurunnya
kemampuan tubuh untuk berdaptasi terhadap stress, baik stres, baik stress
eksternal ,maupun stress internal.
a) Sel
Jumlah > sedikit
Lebih besar ukuran
berkurang cairan tubuh dan cairan Intraselular
Menurun proporsi protein di otak, otot, ginjal darah hati.
Jumlah sel otak menurun
Terganggunay Mekanisme perbaikan sel
Otak atrofi berat berkurang 5 10 %

b) Respirasi
Meningkatnya A-P dinding dada.KV menurun
Otot-otot Nafas kehilangan kekuatan dan kaku
Menurun aktifitas silia
Paru-paru kehilangan Elastisitas
Alveoli bertambah ukurannya & jumlah berkurang
02 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg
Kemampuan refleks batuk menurun
c) Prubahan yang terjadi pada lansia
a. Perubahan fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistim organ
tubuh, diantaranya sistim pernafasan, pendengaran, penglihatan,
kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastro
intestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

b. Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.
Kesehatan umum
Tingkat pendidikan
Keturunan (hereditas)
Lingkungan

Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.


Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan

teman dan famili.


Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap

gambaran diri, perubahan konsep dir.


C. Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya
(Maslow, 1970)
Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini
terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan
Zentner, 1970
3. Lengkapilah data-data yang di perlukan pada klien tersebut di atas
a. Tanda-tanda vital.
Tekanan darah
: 130/90 mmHg
Nadi
: 84 kali/menit
Suhu
: 36.6 C
Respirasi
: 20 kali/menit
b. Pemeriksaan fisik
bunyi nafas wheizing
nampak bernafas dengan kuping hidung
batuk
penurunan berat badan
lemah

4. IdentifikasI masalah yang muncul


a. data subjectif
klien mengeluh sering mengalami sesak nafas
klien mengeluh sering pusing
klien mengatakan makan tidak teratur
klien tidak pernah melakukan kegiatan olah raga
klien merokok
b. data objectif
kebiasaan makan tidak teratur
bunyi nafas wheizing

klien nampak bernfas dengan kuping hidung.

5. Buatlah alternatif pemecahan masalah


1. Pegobatan Medika Mentosa
a. Waktu serangan
Bronkodilator
korkhosteroid
Ekspektoransia
antihistamin
b. Diluar serangan
disodium chomoglycate (DSCG)
ketotijen
2. Pengobatan non Medika Mentosa
a. Waktu serangan
Pemberian O2
Pastural drainase
Pemberian cairan
Menghindari paparan alergen
b. Diluar serangan
Pendidikan
Immunoteraphy/desensitasi
Pelayanan / kontrol emosi

3. Tujuan pelaksanaan terapi asma


a. Menyembuhkan dan menendalikan gejala asma
b. Mencegah kekambuhan
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankan
d. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal
e. Menghindari efek samping obat asma
f. Mencegah obstruksif jalan nafas yang irreversible

Terapi awal :
O2 4-6 liter/menit
Agonis B2
Amnofium bolus IV 5 6 mg
Kortikosteroid hidrokortison 100 200 mg IV
Terapi asmak kronik
Asma ringan : agnosis B2 inhalasi
Asma sedang : anti inflamsi / hr dan agonis B2inhalasi bila perlu

asmaAberat : steroid inhalasi / hr B2 long acting, steroid sedang


sehari/dosis tunggal harian dan agnosis B2inhalasi sesuai kebutuhan.

Respon terapi awal baik didapatkan keadaan :

Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan


Pemeriksaan fisik normal
Arus puncak ekspirasi > 70 %

6. Diskusikan asuhan keperawatan yang dapat di lakukan pada klien tersebut.


I.
Pengkajian
A. Pengumpulan data
a. Identitas diri
1) Nama
: TN h
2) Tempat tanggal lahir
:
3) Usia
: 70 tahun
4) Jenis kelamin
: laki-laki
5) Suku
:
6) Agama
:
7) Status Perkawinan
:

8) Pendidikan terakhir
:
9) Alamat
:
10)Orang yang paling dekat dihubungi:
B. Status Kesehatan Saat ini
Tn H keadaan fisiknya sering mengeluh sesak nafas, pusing.
C. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien memiliki riwayat asma 10 tahun yang lalu.
D. Riwayat Kesehatan Keluarga

E. Pola Kebiasaan Sehari-hari


1. Nutrisi
a. Sebelum sakit
- Frekuensi makan
:3 x sehari, tidak teratur
- Nafsu makan : Baik
- Jenis makanan : Nasi, Lauk pauk
- Kebiasaan sebelum makanan: Suka mengkonsumsi
-

makanan yang beminyak dan berlemak.


Makanan yang tidak disukai : Alergi terhadap makanan
:Pantangan makan
:Keluhan yang berhubungan : -

b. Makan sesudah sakit


- Frekuensi makan
- Nafsu makan
-

: 1 atau 2 x sehari, tidak teratur


:
Kurang,
klien
hanya

menghabiskan 2-3 sendok makan porsi yang diberikan


Jenis makanan
: nasi
Kebiasaan sebelum makan : tidak teratur
Makanan yang tidak disukai : Alergi terhadap makanan : Pantangan makan
: Makanan berminyak dan
berlemak

Keluhan yang berhubungan makanan : setiap makan

makanan yang di goreng klien mengeluh sesak.


2. Eliminasi

Sebelum sakit :
a. BAK
- Frekuensi dan waktu
: 3x sehari, tidak menentu
b. BAB
- Frekuensi dan waktu
:1x sehari, tidak menentu
- Konsistensi
: Lunak

Sesudah sakit :

a. BAK
- Frekuensi dan waktu
b. BAB
- Frekuensi dan waktu
- Konsistensi
3. Personal Higiene
a. Mandi
sore hari
b. Oral Higiene

: 3x sehari, tidak menentu


: 1 x sehari, tidak menentu
: lunak
: Klien mandi 2x sehari, pagi dan
: Klien menyikat gigi 2x sehari,

pagi dan malam hari


c. Cuci Rambut
: 3x dalam seminggu
d. Kuku dan tangan
: kuku tangan pendek dan bersih
4. Istirahat dan Tidur
- Lama tidur malam
: 21.00 05.00 (8 jam)
- Tidur siang
: 30 menit
- Keluhan yang berhubungan : Tidak ada

dengan tidur
5. Kebiasaan mengisi waktu luang
a. Olahraga
: Tidak pernah

b. Nonton Tv
c. Lain-lain

: Ya
:

6. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan :


a. Merokok (ya/tidak)
: Ya
b. Minuman keras (ya/tidak) : Tidak
c. Ketergantungan terhadap obat : Tidak
F. Tinjauan sistem organ
Keadaan umum
: baik, composmentis
Tekanan darah
: 130/90 mmHg
Nadi
: 84 kali/menit
Suhu
: 36.6C
Respirasi
: 20 kali/menit
Berat badan
: 40 kg
Tinggi badan
: 156 cm
a. Sistem Pernapasan

Bunyi nafas wheizing


b. Sistem Kardiovaskuler

Auskultasi
tidak
murmur.
c. Sistem Gastrointestinal

d. Sistem Integumen

terdengar

Baik
Tekstur kulit terlihat kendur,

keriput, terjadi peningkatan pigmen, tidak terdapat decubitus dan


bekas luka, turgor kulit kurang.
e. Sistem Perkemihan

Klien mengatakan biasa BAK


dikamar mandi, frekuensi berkemih 3-4 kali/hari. Klien tidak
mengalami inkontinensia urin.
f. Sistem Muskuloskeletal

Kedua kaki tn H tampak sejajar


dan sama besar dan panjang. Tidak tampak adanya kifosis dan
scoliosis. Kemampuan mengubah posisi baik, kekuatan otot
tangan pada saat meremas agak lemah.
g. Sistem Imunitas

Klien mengatakan belum pernah


diimunisasi,

tidak

mempunyai

riwayat

alergi,

dan

klien

mengatakan tidak mengetahui mengenai riwayat penyakit


berkaitan dengan imunisasi.
h. Sistem Syaraf Pusat
Nervus I (Olfactorius) : Klien dapat membedakan bau dari

minyak kayu putih dan minyak wangi/parfum.


Nervus II (Opticus) : Klien sudah tidak dapat melihat jauh
tulisan, orang dan benda-benda yang kecil, tapi klien tidak

menggunakan bantuan kacamata.


Nervus III, IV, V (Oculomotoris, Trochlearis, Abdusen)
Nervus V (Trigeminus) : Sensasi sensorik kulit wajah klien

baik, dapat merasakan goresan kapas pada pipi kanan.


Nervus VII (Facialis) : Klien dapat, menggerakan alis dan

mengerutkan dahi
Nervus VIII (Vestibulococlear) : Fungsi keseimbangan baik
Nervus IX, X (Glasopharingeus, Vagus) : Reflek menelan baik
Nervus XI (Accesorius) : Klien dapat menggerakkan kedua

bahunya dan menggerakkan kepalanya.


Nervus XII : Klien dapat berbicara dengan jelas dan lidah

berfungsi baik
i. Sistem endokrin

Klien

mengatakan

tidak

mempunyai penyakit gula dan gondok.


j. Sistem reproduksi

Tidak dilakukan pengkajian.


G. Pengkajian Psikososial
Persepsi klien terhadap penyakit
: klien merasa wajar sakit-sakitan

karena umurnya sudah tua.


Konsep diri

: konsep diri klien baik, karena

klien mampu memandang dirinya secara positif dan mau menerima

kehadiran orang lain.


Emosi klien stabil
Kemampuan adaptasi

kemampuan

klien

dalam

beradaptasi baik, hal ini terlihat dari seringnya klien bergaul dengan

sesama teman.
Mekanisme pertahanan diri

klien

mengatakan

senang

tinggal dengan keluarganya dan segala kebutuhannya terpenuhi.


H. Pengkajian Spiritual
Klien mengatakan selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu.

Klien memasrahkan semuanya pada Allah SWT.

II.
Analisa Data

Symptom

Etiologi

Problem

Ds:
- Klien mengeluh
sering

alegen + faktor

sesak nafas.
Klien mengeluh

sering pusing
- Klien merokok
Do:
- Klien tampak

infeksi saluran
pernafasan dan

mengalami
-

infeksi kuman,

respon imun sel


mast
pengaktifan
mediator kimiawi

menggunakan

histamin,

wheizimg

genetik
mengaktifkan

bernafas
kuping hidung
Bunyi
nafas

Gangguan
pola nafas
tidak
efektif

serotonin, kinin.
brochospasme
penyempitan jalan
nafas
pola nafas tidak
efektif
Gangguan

Ds:
- Klien

makan tidak
teratur, Pola

mengatakan
makan
-

teratur
Klien
mengeluh

pusing
Do:

tidak
sering

nutrisi tidak baik


Cadangan lemak
dan protein
berkurang
Berat badan
menurun
Kurang nutrisi

pola nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh

Klien

tampak

kurus.
Klien

tampak

mengalami
penurunan berat
badan

III.

Diagnosa
1. Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
brochospasme di tandai dengan:
Ds :
Klien mengeluh sering mengalami sesak nafas.
Klien mengeluh sering pusing
Klien merokok
Do:
Klien tampak bernafas menggunakan kuping hidung
Bunyi nafas wheizimg

2. Gangguan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan kurangnya pengetahuan dasar tentang nutrisi di tandai
dengan:

Ds : - Klien mengatakan makan tidak teratur


Do:

Klien sering mengeluh pusing

Klien tampak kurus.


Klien mengalami penurunan berat badan

INTERVENSI

Diagnosa

1 tidak

Pola

Tujuan

nafas

Hasil noc:

efektif

- status

Intervens Rasional
i
1. Kaji
kecepatan

1. Untukk
mengetahui

pernafasan

berhubungan
dengan

: jalur

brochospasme

nafas

di

dan
terbuka

Klien mengeluh

untuk

sering

pertukaran

mengalami
sesak nafas.
Klien mengeluh

sering pusing
Klien

gas.
- status

uapaya

tanda-tanda

klien.
2. Untuk
mengetahui
keadaan
tanda-tanda

vital
3. Pantau
pernafasan
yang

pernafasan

bunyi

vital
3. Untuk
mengetahui
bunyi

seperti

nafas

klien
mendengkur.
4. Agar
klien
respirasi 4. Ajarkan
bisa
batuk
pergeraka
tehnik batuk
dengan
n udara ke
efektif

mengatakan ia

dalam dan 5. Kolaborasi

merokok
Do:
- Klien tampak
bernafas

dan

pernafasan.
kial bersih 2. Observasi

Ds:

kedalaman

trakeobron

tandai

dengan:

tingkat

irama

keluar

dengan

paru.

terapi

- Status

ahli

pernafasan

menggunakan

ttv: tingkat

untuk

kuping hidung
Bunyi
nafas

suhu, nadi,

memastikan

pernafasan

keadekuatan

wheizing

, dan
tekanan

ventilator

darah

mekanis.

dalam
rentang
normal.
Tujuan/krit
eria hasil:
-

fungsi

Klien dapat
Menunjukkan
pola
pernafasan

efektif
5. Agar
gangguan
pola

nafas

klien

dapat

teratasi.

efektif
Klien dapat

Menunjukkan
status
pernafasan
ventilasi
tidak
terganggu.

Nutrisi

Hasil NOC:

kurang

dari
tubuh
berhubung

pengetahua
n

dasar

tentang
nutrisi

di

tandai
dengan:

Ds:
- Klien
mengatakan

makan

tidak

teratur
Klien

sering

mengeluh
pusing
Do:
-

Klien

transferin,

mengetahui

albumin

tingkat

dan

elektrolit
akan 3. Timbang

pasien

mempertaha

pasien pada

nkan

interval

massa

tubuh

dan

berat

badan
batas

normal.
pasien akan
melaporkan
tingkat
energi

yang

adequat.

yang tepat
4. Ajarkan
pasien
tentang
makanan

nutrisi

klien
3. Untuk
mengetahui
berat

badan

klien
4. Agar

klien

mngetahui
makanan
sehat

yang
dan

bergisi
yang sehat 5. Agar kebutuhan
bergizi dan
nutrisi
klien
tidak
terpenuhi.
mahal.
5. Kolaborasi
dengan ahli
gizi tentang
pemberian

tampak

nutrisi

meningkat

dalam
-

status

klien.
m khusunya 2. Untuk

eria hasil:

kurangnya

laboratoriu

menegtahui

selera makan

Tujuan/krit

an dengan

status 1. Untuk

nutrisi klien
2. Pantau nilai

klien
menunjukkan

kebutuhan

1. Kaji

asupan

nutrisi.

kurus.
Klien

tampak

mengalami
penurunan berat
badan

7.

Jelaskan peran panti dan RS dalam melakukan asuhan keperawatan

pada lansia.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga


dalam melaksanakan perannya terhadap lansia yaitu :
a. Aspek Psikologis
1) Melakukan pembicaraan terarah
2) Mempertahankan kehangatan keluarga
3) Membantu melakukan persiapan makan bagi lansia
4) Membantu dalam hal transportasi
5) Membantu memenuhi sumber sumber keuangan
6) Memberikan kasih sayang
7) Menghormati dan menghargai
8) Bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku lansia
9) Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu, serta perhatian
10) Jangan menganggapnya sebagai beban
11) Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama
12) Mintalah nasihatnya dalam peristiwa peristiwa penting
13) Mengajaknya dalam acara keluarga
14) Membantu kecukupan hidupnya
15) Memberi dorongan untuk tetap mengikuti kegiatan kegiatan
b. Aspek Keperawatan
1) Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka
ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2) Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi
makan hendaknya diatur merata dalam satu hari.
3) Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat
memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan
yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah
kemungkinan terjadinya darah tinggi.
4) Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan
yangberlemak seperti santan, mentega dll.

Bagi pasien lansia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut perlu

diperhatikan hal-hal sebagai berikut :


-

Makanlah makanan yang mudah dicerna


Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang

baik,makanan harus lunak/lembek atau dicincang


Makan dalam porsi kecil tetapi sering
Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya

diberikan.
Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan
sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah

nafsu makan.
Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur,

daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.


Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus,
direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng.

DAFTAR PUSTAKA

Kushriyadi. 2011. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta :


Salemba Medika

Jubaedi, dkk. 2011. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta :


Salemba Medika

Mubarak, Wahid Iqbal, dkk. 2012. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep


dan Aplikasi.
Jakarta : Salemba Medika
Nanda nic noc International. Diagnosis Keperawatan. Jakarta:
EGC, 2013

yayangnurenida.blogspot.com/2012/02/askep-lansia-dengan-pemenuhan
kebutuhan.html