Anda di halaman 1dari 5

BAB II

PEMBAHASAN
PEMBAGIAN HADIST SECARA UMUM.
1. Dari Sisi Jumlah Periwayat nya / Perawi nya.
Ulama berpendapat tentang pembagian hadist di tinjau dari segi kuantitasnya
ini. Hadist ditinjau dari segi kuantitas (jumlah) perawi/sanadnya terbagi menjadi 2
macam:
1. Jika memiliki jalur (sanad) yang jumlah perawinya tidak terbatas pada
bilangan yang pasti disebut Hadist Mutawatir.
2. Jika memiliki jalur (sanad) yang jumlah perawinya bisa di hitung dengan
bilangan tertentu di sebut Hadist Ahad.
A. Hadist Mutawatir.
1. Pengertian.
a. Menurut bahasa,Kata al-Mutawatir adalah isim fail berasal dari mashdar
al-tawatursemakna dengan al-tatabuu Yang berarti: berturut turut atau
beriring-iringan, seperti kata tawatara al-matharu yang berarti: hujan
turun berturut-turut.
b. Menurut Istilah, hadist mutawatir adalah hadist yang diriwatkan oleh
sejumlah perawi pada semua thabaqat (generasi), yang menurut akal dan
kebiasaan,tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta.
2. Syarat syarat hadist Mutawatir.
Pewartaan yang disampaikan oleh rawi rawi tersebut harus berdasarkan
tanggapan pancaindra. Yakni warta yang mereka sampaikan itu harus
benar benar hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. Kalau
pewartaan itu hasil pemikiran semata mata atau hasil rangkuman dari satu
peristiwa ke peristiwa yang lain atau hasil istimbath dari satu dalil dengan
dalil yang lain, bukan berita mutawatir.
Jumlah rawi rawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak
memungkinkan mereka bersepakat bohong. Para ulama berbeda beda
pendapat tentang batasan yangdi perlukan untuk tidak memungkinkan
bersepakat dusta.
Adanya keseimbangan jumalah antara rawi rawi dalam thabaqah (lapisan)
pertama dengan jumlah rawi rawi dalam bhataqah berikutnya.
Jumlah perawinya harus banyak. Para ulama berpendapat dalam
menentukan jumlah minimalnya dan menurut pendapat yang terpilih
minimal sepuluh perawi.
Perawi yang banyak ini harus terdapat dalam semua thabaqah (generasi)
sanad.

3. Faedah hadist mutawatir.


Hadits mutawatir itu memberi faedah ilmu-dlarury, yakni keharusan untuk
menerimanya bulat bulat sesuatu yang di beritakan oleh Hadits mutawatir,
hingga membawa kepada keyakinan yang qathh (pasti).
Rawi rawi hadits mutawatir,tidak perlu lagi diselidiki tentang keadilan dan
kedlabithannya (kuatnya ingatan), karena kuantitas rawi rawinya sudah
menjamin dari kesepakan dusta. Nabi Muhammad saw. Benar benar
menyabdakan atau mengerakan sesuatu, sebagaimana yang di beritakan
oleh rawi rawi mutawatir.
4. Pembagian hadits mutawatir.
Hadis mutawatir terdiri menjadi 3 macam,yaitu: Mutawatir Lafzhi dan
Mutawatir Manawi dan Mutawatir Amali.
a. Mutawatir lafzhi
Yaitu: hadis mutawatir yang berkaitan dengan lafal perkataan nabi.
Artinya, perkataan nabi yang diriwatkan oleh orang banyak kepada orang
banyak, seperti hadis Nabi SAW.
Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka
hendaklah bersiap siap untuk mengambil tempat di neraka. (HR.al-bukhari
dan Muslim).
b. Mutawatir manawi.
Yaitu: hadis mutawatir yang menyangkut amal perbuatan nabi.
Artinya, perbuatan nabi yang diriwayatkan oleh orang banyak kepada
orang banyak lagi.
c. Mutawatir Amali.
Yaitu: sesuat yang di ketahui dengan mudah, bahwa dia termasuk
urusan agama dan telah mutawatir antara umat islam, bahwa nabi SAW
mengajarkannya, menyuruhnya,atau selain dari itu. Dan pengertian ini
sesuai dengan tarif ijma.
B. Hadist Ahad.
1. Pengertian.
a. Menurut bahasa kata al-ahaad bentuk plural (jama) dari kata ahad
yang berarti: satu. Hadis wahid berarti: hadis yang diriwatkan satu perawi.
b. Menurut istilah, hadis ahad adalah: hadis yang tidak memenuhi syarat
syarat untuk menjadi hadis mutawatir.
2. Macam - macam Hadis Ahad.
Hadis Ahad dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
A. Hadis Masyhur,
1. Pengertian.
Menurut bahasa kata masyhur berbentuk isim maful dari kata
syaharats al-Amru yang berarti: sesuatu yang telah terkenala
setelah disebar luaskan dan di tampakkan di permukaan.
Menurut istilah,hadis masyhur adalah suatu hadis yang setiap
thabaqat ( generasi sanad).

B. Hadis Aziz.
1. Pengertian.
Menurut bahasa,yaitu: keberadaannya sedikit dan langka atau
karena kekuatan atau kualitasnya disebabkan adanya jalur (sanad)
lain.
Menurut istilah, yaitu: hadis yang pada setiap thabaqat (generasi)
sanadnya diriwayatkan tidak kurang dari dua perawi.
C. Hadis Gharib.
1. Pengertian.
Menurut bahasa,al-qharib adalah kata sifat yang berarti
menyendiri.
Menurut istilah, yaitu: hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang
perawi.
2. Dari Sisi Status Huruf Hadis.
A. Kelebihan Al-quran.
Al-quran ialah kitabullah yang diturunkan terakhir kepada nabi
Muhammad s.a.w. Al-quran ialah senjata yang paling mujarab yang
melimpah ruah, mata air yang tidak mungkin kering, di dalamnya penuh
dengan nur hidayat rahmat dan zikir.
.Al-Quran diturunkan untuk mengajar manusia tentang pengesaannya
kepada Allah (tauhid). Konsep ibadat yang jelas dan menyeluruh agar
manusia sentiasa mendapat bekalan yang baru dan segar. Mengajak
manusia berfikir tentang ciptaan, pengawasan dan penjagaan yang
ditadbirkan oleh yang Maha Agung agar dapat mengenal sifat-sifatNya
yang Unggul.
B. Pahala membaca al-quran.
Allah swt. Yang maha pemurah member pahala yang amata besar
kepada orang yang membaca al-quran tiap tiap satu huruf ada pahalanya
dan tiap tiap satu ayat pun ada di tentukan pahalanya yang tidak sama
antara satu dengan yang lainnya.
Dari ibnu masud: barang siapa membaca satu al-qur;an maka baginya
satu kebijakan dan setiap kebijakan sepuluh kali gandakan. Aku tidak
mengatakan alif lam mim satu huruf,lam satu huruf, dan mim satu huruf.
C. Kelebihan membaca al-quran.
Orang yang sellau membaca Al-quran semata mata karena allah di
beri kelebihan yang tinggi dan berbeda sesame mereka masih hidup
ataupun berada di akhirat di samping kemuliaan yang di karuniakan
kepada orang yang membaca Al-quran kelebihan melimpah juga kepada
ibu dan bapak.

3. Dari sisi sanad, matan, dan perawinya.


1. Sanad.
Yaitu: Sandaran. Atau sesuatu yang kita jadikan sandaran atau
sesuatu yang kita jadikan sandaran. Dikatakan demikian karena hadis
bersandar kepadanya.
2. Matan.
Kata matan atau al-matn menurut bahasa berarti mairtafaa min alardhi (tanah yang meninggi).
3. Rawi.
Kata rawi atau al-rawi berarti orang yang meriwayyatkan atau
memberitakan hadis.
Dari segi kualitas sanad dan matan hadis di bagi 2 macam:
1. Hadis Sahih.
1. Pengertian.
Menurut bahasa,al-shahih lawan kata al-saqim yang berarti: sehat lawan
sakit. Kedua kata tersebut hakekatnya adalah untuk anggota badan dan
secara majaz digunakan untuk mensifati hadis.
Menurut istilah, hadis shahih adalah hadis yang bersambung
sanadnya,diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit mulai awal sampai
akhir sanad,tidak syadz (janggal) dan tidak menggandung illat (cacat).
2. Syarat syarat hadis shahih.
Sanadnya harus bersambung, artinya masing masing perawi betul betul
penuh menerima hadis secara langsung dari perawi di atasnya.
Perawinya bersifat adil, artinya perawinya harus beragama Islam.
Perawinya bersifat dlabith, artinya sempurna hafalannya.
3. Hukum hadis shahih.
Menurut ulama ushul fiqh dan ulama fiqh, hadis shahih wajib di amalkan
karena ia merupakan salah satu hujjah ( dasar) syariat Islam.
2. Hadis Hasan.
1. Pengertian.
yaitu: Menurut bahasa: al-hasan berbentuk sifat musyabbahat yang berarti
baik.
2. Hukum hadis Hasan.
Hukumnya sama dengan hadis shahih yakni sama sama bisa di pakai
sebagai hujjah, walupun kekuatannya berada di bawah hadis shahih.
3. Syarat syarat hadis hasan.
Sanadnya bersambung
Perawinya adil
Perawinya dhabit, tetapi kualitas kedhabitannya di bawah ke dhabitan
perawi hadis sahih.

BAB III
PENUTUP.
A. Kesimpulan..
Dari uraian di atas dapat di ambil kesimpulan yaitu,
Hadist ditinjau dari segi kuantitas (jumlah) perawi/sanadnya terbagi menjadi 2
macam yaitu Hadist Mutawatir dan Hadist Ahad
Hadist Mutawatir menurut bahasa isim fail berasal dari mashdar altawatursemakna dengan al-tatabuu Yang berarti: berturut turut atau beriringiringan, seperti kata tawatara al-matharu yang berarti: hujan turun berturutturut.
Pembagian hadits mutawatir terbagi atas 3 bagian yaitu Mutawatir lafzhi,
Mutawatir manawi dan Mutawatir Amali
Hadist Ahad menurut bahasa kata al-ahaad bentuk plural (jama) dari kata
ahad yang berarti: satu. Hadis wahid berarti: hadis yang diriwatkan satu perawi.
Hadis Ahad dibagi menjadi 3 macam, yaitu: Hadis Masyhur, Hadis Aziz, dan
Hadis Gharib.

B. Saran.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini tentu masih ada kekurangan
untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan untuk
kesempurnaan makalah yang kami buat ini.