Anda di halaman 1dari 33

Penyinalan IL-1 receptor/ Toll-like receptor dalam infeksi, inflamasi, stress, dan

neurodegenerasi yang disertai oleh hipereksitabilitas dan seizur/ sawan


Annamaria Vezzani, Mattia Maroso, Silvia Balossi, Manuel-Alavez Sachez, Tamas
Bartfai

ABSTRAK
Bukti yang jumlahnya semakin banyak mendukung hipotesis tentang keterlibatan
imunitas dan proses-proses inflamatori di dalam etiopatogenesis seizur/ sawan.
Khususnya, pengaktivasian mekanisme imun bawaan dan respon inflamatori lanjutan
yang dipicu di dalam otak karena infeksi, sawan demam, neurotrauma, dan stroke,
yang kesemuanya merupakan kondisi yang dipahami memiliki kaitan dengan sawan
simptomatik akut dan dengan resiko tinggi akan pengidapan epilepsi. Satu dekade
yang lalu, beberapa percobaan farmakologis menunjukan bahwa peningkatan kadar
molekul anti-inflamatori agonis IL-1 receptor dapat menurunkan insiden sawan pada
model epilepsi. Observasi ini, bersama dengan bukti akan induksi mediator-mediator
inflamatori in situ dan reseptor-reseptor nya dalam jaringan otak epileptogenik
manusia dan eksperimental memunculkan bukti konsep kuat bahwa aktivasi
(pengaktifan) imunitas bawaan dan inflamasi di dalam otak merupakan ciri intrinsik
dari jaringan hipereksitabel patologis.
Hal atau gebrakan baru dalam hal pemahaman akan organisasi molekular sistem
imun bawaan yang terjadi pada makrofaga dan tipe-tipe sel CNS yang beragam,
bersamaan dengan penelitian-penelitian farmakologis dan genetik di dalam model
epilepsi telah menunjukan temuan bahwa pengaktifan penyinalan IL-1 receptor/ Toll-

like receptor (IL-1R/TLR) secara signifikan berkontribusi terhadap kemunculan


seizure/ sawan. Aksi pro-eksitatori yang dimediasi oleh IL-IR/TLR akan merespon,
atau melalui aksi beberapa ligan endogen. Ligan-ligan ini mencakup sitokin-sitokin
pro-infalamatori seperti contohnya IL-1beta, atau sinyal-sinyal bahaya seperti
contohnya HMGB1 yang dilepaskan dari sel-sel yang teraktivasi atau sel-sel yang
mengalami kondisi cedera. Penyinalan IL-1R/TLR dapat memediasi perubahan
pasca-translasional cepat dalam saluran-saluran ion ligan pintu dan voltase yang
meningkatkan eksitabilitas, dan perubahan-perubahan transkripsional pada gen-gen
yang terlibat di dalam transmisi syaraf dan plastisits sinaptik yang berkontribusi
untuk menurunkan ambang batas sawan/ seizur secara kronis.
Efek anti-kejang dari inhibitor/ penghambat penyinalan IL-1R/TLR pada berbagai
model sawan menunjukan bahwa sistem ini dapat ditargetkan untuk menghambat
kondisi sawan pada epilepsi yang resisten terhadap obat.

1. Pendahuluan
Sawan, yang merupakan tanda khas dari epilepsi, berasal dari letupan/ penyalaan
aberan populasi neuronal yang diakibatkan oleh fenomena hipereksitabilitas. Pada
dekade terakhir, beberapa penelitian yang mengkaji tentang mekanisme penyebab
sawan menunjukan bahwa sel-sel glial sangat berkontribusi penting terhadap
disfungsi jaringan neuronal. Alterasi/ penyimpangan yang berkaitan dengan penyakit
pada astrosit dan fungsi mikroglia didalamnya mencakup perubahan-perubahan di
dalam ekspresi saluran ion dan air, reseptor dan transporter glutamat, penyinalan Ca2+
intraselular dan pengaktivasian gliotransmisi astrosit (Hanisch dan Kettenmann,

2007; Sefert dkk, 2006). Saat ini, peranan yang krusial yang bermain di dalam
mekanisme sawan melalui sitokin-sitokin proinflamatori yang disintesiskan dan
dilepaskan semuanya ini disebabkan oleh sel-sel glial yang teraktivasi, dan hal ini
banyak menjadi fokus kajian di kalangan para peneliti (Vezzani dkk, 2008, 2011).
Sudah cukup dipahami bahwa sitokin-sitokin proinflamatori selain keterlibatan
kanonikalnya di dalam aktivasi respon imun akibat infeksi, ternyata dapat berperan
sebagai fungsi neuromodulatori yang diimplikasi di dalam psikologi otak dan dapat
berkontribusi terhadap neurodegenerasi kronis dan akut (Allan dkk, 2005; Glass dkk,
2010; Nguyen dkk, 2002). Kemungkinan bahwa sitokin juga berkontribusi terhadap
eksitabilitas neuronal aberan yang menjadi penyebab sawan merupakan hipotesis
yang didukung oleh beberapa temuan klinis dan juga eksperimental.
Mediator-mediator inflamatori dan reseptor-reseptornya pun diregulasi di dalam
mikroglia dan strosit di dalam jaringan otak epileptogenik dari beberapa kasus klinis
akan epilepsi yang resisten terhadap obat dengan etiologi yang berbeda-beda, hal ini
tidaklah berbeda dengan yang dijelaskan di wilayah-wilayah otak yang direkrut pada
aktifitas epileptik yang dipicu secara eksperimental, seperti contohnya korteks
serebral dan struktur limbik (Choi dkk, 2009; Vezzani dkk, 2011). Pada beberapa
wilayah otak ini, neuron dan sel-sel endotelial sawar darah-otak (BBB blood brain
barrier) juga mengekspresikan sitokin-sitokin proinflamatori. Ekspresi berlebihan
dari mediator-mediator inflamatori yang dapat dilepaskan dan reseptor-reseptor
fungsional nya pada tipe sel yang sama merupakan bukti akan aktivasi penyinalan
inflamatori autokrin dan parakrin pada jaringan epileptik. Luasnya inflamasi otak
secara positif memiliki hubungan dengan frekuensi sawan dan dengan tingkat

keparahan neuropati baik pada pasien maupun pada mode-model hewan (Iyer dkk,
2010; Ravizza dkk, 2006a, 2008), hal ini menunjukan adanya hubungan kausal
antara inflamasi dengan sawan.
Peranan aktif pada sawan molekul inflamatori yang berasal dari otak, dan aktivasi
dari penyinalan sel terkait, telah dibuktikan melalui berbagai observasi
eksperimental. Khususnya, kondisi cedera pro-epileptogenik dapat mengaktifkan
lintasan inflamatori spesifik yang berkontribusi terhadap presipitasi dan kekambuhan
sawan (Bartfai dkk, 2007; Vezzani dkk, 2011). Lebih jauh lagi, induksi kondisi
proinflamatori eksperimental di dalam CNS, yang mirip dengan kondisi infeksi
bakteri atau virus, dapat memediasi perubahan jangka-panjang di dalam eksitabilitas
otak, dan juga meningkatkan kemungkinan akan presipitasi sawan. Kumpulan atau
rangkaian bukti eksperimental ini adalah sesuai dengan beberapa hasil observasi
klinis yang menunjukan bahwa proses inflamatori adalah kondisi yang dipicu di
dalam otak akibat infeksi, neurotrauma, stroke, seizure/ sawan demam, status
epileptikus, yang semuanya merupakan kondisi yang berkaitan dengan kemunculan
sawan simtomatik dan dengan peningkatan resiko pengidapan epilepsi (Bartfai dkk,
2007; Herman, 2002). Terutama infeksi dan demam, yang diiringi dengan
peningkatan kadar sitokin proinflamatori yang tidak hanya terjadi di bagian
periferi/ tepi namun juga di dalam otak dapat menjadi kondisi pencetus sawan:
lebih jauh lagi, diketahui bahwa memang terdaapt hubungan kausal antara infeksi
CNS dan epilepsi (Singh dkk, 2008). Dengan demikian, adalah mungkin bahwa
patogen-patogen mikroba dan kerusakan otak pro-epileptogenik non-infeksi dapat
memicu molekul-moleku umum dan lintasan-lintasan penyinalan umum di dalam
otak, yang dimana hal ini dapat berkontribusi melalui mekanisme selular dan

molekular terhadap perkembangan proses epileptik. Kerusakan/ gangguan BBB yang


seringkali menyertai kerusakan-kerusakan CNS atau sistemik mayor (Carvey dkk,
2009; Oby dan Janigro, 2006; Shlosberg dkk, 2010) atau sistem transport aktif
disepanjang BBB (Banks dkk, 1989) juga dapat berkontribusi terhadap masuknya
aktivator-aktivator penyinalan IL-1R/TLR dari aliran darah (Bianchi, 2007; Zhang
dkk, 2010b).
Di dalam konteks terkombinasinya cedera otak atau infeksi dan proses epileptik,
terdapat satu mekanisme penyebab yang direpresentasikan oleh penyinalan IL-1
receptor/ Toll-like receptor (IL-1R/TLR). Penyinalan ini adalah penting untuk
aktivasi imunitas bawaan dan inflamasi, dan hal ini dapat terjadi akibat pengenalan
patogen yang dimediasi oleh TLR, atau melalui pengikatan molekul-molekul
proinflamatori seperti contohnya IL-1beta atau sinyal-sinyal bahaya seperti
contohnya HMGB1 yang dilepaskan dari sel-sel yang teraktivasi atau sel-sel yang
rusak (Bianchi, 2007; Nguyen dkk, 2002).
Di dalam artikel ini, kita akan mengkaji bukti yang ada di masa sekarang dalam hal
peranan penyinalan IL-1R/TLR proinflamatori protoipikal pada kondisi sawan akibat
pengaktivasian oleh molekul-molekul endogen atau oleh ligan-ligan yang
menyerupai infeksi bakteri atau virus. Kita akan membahas sumber-sumber seluler
dan target-target molekular aktivator-aktivator dari lintasan penyinalan ini,
mekanisme-mekanisme molekular dalam hal penyinalan IL-1R/TLR dapat merubah
eksitabilitas neuronal, dan peluang untuk tindakan intervensi/ penanganan terapeutik
muncul dari pengidentifikasian peranan pro-konvulsan (pro-kejang) akan lintasan
inflamatori ini.

2. Penyinalan IL-1R/TLR
Superfamilia/ kelompok IL-1R/TLR dari reseptor domain transmembran tunggal
terdiri dari 24 anggota (yang didalamnya mencakup lima protein adaptor) yang
memiliki domain sitosolik dengan nama domain (TIR) reseptor Toll/IL-1 (ONeill
dan Bowie, 2007). Pengikatan agonis pada domain ekstraselular keluarga reseptor
ini, dan perekrutan MyD88 serta protein-protein adaptor sitosolik lainnya akan dapat
mengaktifkan penyinalan via IRAK1/4 dan TRAF6 untuk memicu ekspresi banyak
gen yang terlibat di dalam imunitas dan inflamasi, kesemuanya ini dikendalikan oleh
faktor-faktor transkripsi seperti contohnya NF-kB Activator Protein-1 (AP-1) dan
Faktor-Faktor Transkripsi Regulatori Interferon (ONeill dan Bowie, 2007).
Reseptor-reseptor IL-1R/TLR dimana-mana diekspresikan oleh lelukosit (Janeway
dan Medzhitov, 2002), sel-sel epitelial (Yoshimoto dan Nakanishi, 2006) dan sel-sel
endotelial (Gibson dkk, 2006), dan anggota-anggota keluarga reseptor ini juga telah
ditemukan pada neuron-neuron CNS, glia, dan astrosit (lihat Paragraf 3).
Keluarga IL-IR mencakup lima anggota yang terdiri dari domain-domain yang mirip
Ig ekstraselular dan domain-domain TIR intraselular. Protein aksesori TL-1R tipe 1
(IL-1R1) dan IL-1 (AcP) dari beberapa heterodimer yang memediasi aksi biologis
beberapa agonis: sitokin proinflamatori IL-1beta yang mudah terinduksi yang
disekresikan, dan IL-1 yang terekspresikan di permukaan, terikat sel, dan mudah
terinduksi, serta antagonis reseptor IL-1 (IL-1ra) endogen yang dapat diinduksi. IL-1
beta, IL-1ra, dan IL-1R1 terimplikasi di dalam epilepsi (Vezzani dkk, 2008, 2011).
Keluarga TLR mencakup 10 anggota yang memainkan peranan kunci di dalam
pengaktivasian sistem imun bawaan selama proses pengenalan patogen. Terdapat

glikoprotein transmembran tipe 1 yang dapat mengenali berbagai produk mikroba


untuk menginisiasi respon imun yang kompleks yang ditujukan dalam
pengeliminasian patogen-patogen yang menyerang. TLR akan mengenali pola-pola
molekular yang berkaitan dengan patogen (PAMP pathogen associated molecular
patterns) yang merupakan motif tetap awal mikroba, dan tiap/ masing-masing TLR
memiliki lokasi pengenalan pola spesifik yang khas (Lee dan Kim, 2007). Namun,
bahkan dengan tidak adanya patogen, sejumlah molekul endogen yang dilepaskan
oleh jaringan yang rusak (Bianchi, 2007; Tsan dan Gao, 2004) dapat
mengaktivasikan sistem imun bawaan melalui stimulasi TLR-TLR tertentu. Molekulmolekul ini dinamai dengan istilah pola molekular yang berkaitan/ berhubungan
dengan kerusakan (DAMP damage-associated molecular pattern) atau sinyal
bahaya (DS danger signals); yang dimaan keduanya akan dilepaskan/ dikeluarkan
oleh sel-sel yang mengalami berbagai kondisi yang berbahaya seperti contohnya
ketika terjadinya nekrosis untuk memberi sinyal bahaya kepada lingkungan mikro
untuk mengaktivasikan program homeostatik. DAMP mencakup protein-protein
kejutan panas, protein-protein S100, komponen-komponen matriks ekstraselular
seperti contohnya fragmen-fragmen hialulronan, dan kelompok kotak group
mobilitas tinggi 1 (HMGB1). Produksi DAMP yang berlebihan dapat menyebabkan
penyakit akut dan kronis (Bianchi, 2007), walaupun memang mekanisme molekular
yang memediasi efek patologis ini masihlah belum begitu dipahami. Saat ini,
HMGB1 telah diketahui dapat berkontribusi secara signifikan terhadap aktifitas
sawan/ kondisi sawan (Maroso dkk, 2010).
Untuk menginisiasi penyinalan sel pada ikatan agonis, TLR akan mengalami
heterodimerisasi atau homodimerisasi tergantung pada subtipe reseptor. Dimer-dimer

ini dapat mengenali ligan dan menginisiasi kaskade penyinalan intraselular kompleks
yang pada awalnya melibatkan perekrutan MyD88 pada domain TIR sitosolik.
Kondisi hiliran terpicu oleh IL-1R1 dan TLR4 yang melibatkan aktivasi kinase yang
berkaitan dengan reseptor IL-1 (IRAK1 dan 4) dan perekrutan penyerta rangkaian
protein-protein adaptor sitosolik (ONeill dan Bowie, 2007), yang dimana hal ini
menyebabkan aktivasi NF-kB. Penyinalan IL-1R/TLR juga dapat mengaktifkan
MAPKs (kinase protein yang teraktivasi oleh mitogen) seperti contohnya p38 dan
JNK (kinase terminal c-Jun) dan menghasilkan kondisi transkripsional yang
dimediasi oleh AP-1. TLR3 dan TLR4 juga dapat memberikan sinyal dengan
menggunakan lintasan yang tidak dipengaruhi oleh MyD88 yang melibatkan TRIF
(TIR-domain yang mengandung interferon beta yang memicu adapter). Kaskade
penyinalan yang tergantung pada TRIF dapat menimbulkan aktivasi IFR-3 (Faktor
regulatori interferon 3), yang dapat memicu interferon alfa dan beta. Lintasan yang
termediasi TRIF juga dapat memicu pengaktivasian NF-kB. Terakhir, induksi
fosfatidilinositol 3-kinase (PI3K) dapat terjadi sebagai respon terhadap stimulasi IL1R1 atau TLR, yang mungkin menggunakan lintasan yang tidak tergantung pada
MyD88 (Davis dkk, 2006a; Diem dkk, 2003).
Stimulasi IL-1R1 dan/ atau TLR4 yang berlebihan dapat menyebabkan patologi yang
parah seperti contohnya sepsis; dimana reseptor-reseptor ini juga terlibat di dalam
beberapa penyakit autoimunitas dan pada gangguan/ penyakit neurologis kronis dan
akut (Dinarello, 2011; Leon dkk, 2008; Okun dkk, 2009; Tang dkk, 2007), yang
termasuk di dalamnya adalah epilepsi (Maroso dkk, 2010; Riazi dkk, 2010; Rodgers
dkk, 2009; Vezzani dkk, 2011). Baik regulator konstitutif dan regulator negatif yang
dapat terinduksi untuk TLR dan IL-1Rs telah teridentifikasi dapat mengendalikan

aktivasi lintasan penyinalan ini dengan beraksi pada titik strategis yang berbeda-beda
dalam pengenalan reseptor atau pada kaskade intraselular (Dinarello, 2011; Fukao
dan Koyasu, 2003; Mantovani dkk, 2001).

3. Ekspresi IL-1R1 dan TLR Otak


Ekspresi dan fungsi dari reseptor-reseptor ini pada awalnya dianggap terjadi di selsel dan jaringan limfoid: namun sekarang, reseptor ini teridentifikasi terjadi pada selsel otak parenkhimal dimana reseptor ini memiliki fungsi fisiopatologis. Secara
khusus, IL-1R1, TLR2, TLR3, dan mRNA TLR4 diketahui terekspresi pada sel-sel
mikroglia tikus, astrosit dan neuron, dan pada sel-sel ependimal yang melapisi
ventrikel serebral. Ekspresi dari reseptor-reseptor ini telah diketahui juga terjadi pada
sel-sel endotelial BBB (Alheim dan Bartfai, 1998; Ban dkk, 1991; Chakravarty dan
Herkenham, 2005; Okun dkk, 2009; Ravizza dan Vezzani, 2006; Turin dan Rivest,
2004).
Walaupun banyak TLR yang diekspresikan pada kultur-kultur sel, hal ini sebagian
karena faktor-faktor pertumbuhan yang muncul pada medium atau karena prosedur
preparasi sel yang dapat secara mekanis mengaktivasinya, dan pola ekspresi reseptor
TLR in vivo pun muncul, dimana terbatas hanya pada TLR2, TLR3, dan TLR4 baik
pada tikus dan pada jaringan manusia (Bsibsi dkk, 2002; Jack dkk, 2005; Okun dkk,
2009). Bukti in vivo menunjukan ekspresi IL-1R1 atau TLR konstitutif namun
rendah pada sel-sel otak; namun, reseptor-resepto ini dapat dan siap diregulasi pada
CNS di dalam sel-spesifik pada stimulasi dengan masing-masing ligan, atau dalam
berbagai kondisi patologis, yang termasuk di dalamnya adalah sawan (Bsibsi dkk,

2002; Eriksson dkk, 1998; Maroso dkk, 2010; Okun dkk, 2009; Peltier dkk, 2010;
Ravizza dkk, 2008; Ravizza dan Vezzani, 2006, Tang dkk, 2007; Turrin dan Rivest,
2004; Zurulo dkk, 2011).
Outcome fungsional yang ditentukan oleh aktivasi penyinalan IL-1R/TLR di dalam
otak tergantung pada tipe sel yang mengover-ekspresikan reseptor-reseptor ini.
Dengan demikian, respon imun di dalam CNS tidaklah homogen, dan selain
penyinalan intraselular yang sangat konvergen sebagai respon terhadap aktifasi IL1R1 atau TLR, terdapat juga beragam molekul-molekul pemberi efek yang
dihasilkan, baik itu sel ataupun spesifik sinyal. Sebagai contoh, ekspresi TLR2 dan
TLR4 pada mikroglia memainkan satu peranan autokrin dengan meningkatkan
apoptosis mikroglia setelah terjadinya reaksi yang berlebihan dengan PAMP. Banyak
dari penelitian yang melaporkan TLR yang diekspresikan oleh mikroglia dalam hal
keselamatan hidup neuronal. Dengan demikian, TLR dapat memediasi lepasan dari
mikroglia faktor-faktor yang dapat larut dengan efek yang merusak pada neuron, atau
memicu fenotip fagositik mikroglia yang dapat bermanfaat untuk penyembuhan
jaringan. Lebih jauh lagi, TLR berkontribusi terhadap saling-pengaruhnya antara
mikroglia dengan sel-sel imunitas adaptif seperti contohnya sel-sel T (Okun dkk,
2009; Schawrta dan Shechter, 2010). Ketika terekspresi oleh neuron, TLR dapat
berkontribusi terhadap hilangnya sel seperti yang ditunjukan oleh beberapa penelitian
di dalam model eksperimental iskhemia (Tang dkk, 2007) dan penyakit Alzheimer
(Okun dkk, 2009); namun, reseptor-reseptor ini juga dapat memainkan peranan yang
penting di dalam plastisitas neuronal karena reseptor-resepto ini meregulasi
neurogenesis dan pertumbuhan neurit (Okun dkk, 2009). Hal yang sama, ekspresi
selular diferensial IL-1R1 dapat menentukan apakah kematian sel atau program

plastisitsa teraktivasi, dan juga mempengaruhi peranan IL-1beta di dalam fungsi otak
fisiologis (Spulber dkk, 2009). Aktivasi diferensial kaskade penyinalan intraselular
dapat terjadi pada tipe-tipe sel yang berbeda, sebagai contoh P38 MAPK dan Src
Kinase sepertinya teraktivasi oleh IL-1R1 pada neuron (Davis dkk, 2006b;
Srinivasan dkk, 2004), sedangkan IL-1R1 yang diekspresikan oleh sel-sel glial dapat
meangktifkan NFkB (Srinivasan dkk, 2004).

4. Penyinalan IL-1R/TLR dan eksitabilitas neuronal


Keberadaan IL-1R1 dan TLR secara konsitutif, dan ligan-ligan endogen nya, di
dalam CNS akan membantu peranannya di dalam fisiologi otak. Beberapa temuan
terbaru memberikan satu hubungan antara aktivasi beberapa reseptor ini (yaitu IL1R1, TLR4 dan TLR3) dan perubahan cepat di dalam eksitabilitas neuronal,
menyoroti mekanisme-mekanisme baru yang dimediasi oleh penyinalan IL-1R/TLR
dan menunjukan bahwa aktivasinya dapat terjadi juga secara independen pada
neurodegenerasi akut ataupun kronis.

4. IL-1R1
Tanda akan keterlibatan anggota-anggota keluarga/ kelompok IL-1R/TLR di dalam
modulasi eksitabilitas neuronal pada awalnya ditemukan oleh beberapa penelitian
yang menunjukan bahwa IL-1beta dapat secara cepat merubah tingkat penyalaan
neuron-neuron CNS baik in vivo maupun in vitro melalui aktivasi IL-1R1 (Schafers
dan Sorkin, 2008; Viviani dkk, 2007).

Di dalam hipokampus, IL-1 memicu perubahan yang cepat di dalam transmisi


sinaptik, dan menghambat potensiasi jangka-panjang (LTP) melalui aktivasi JNK dan
P38 MAPK (Schafers dan Sorkin, 2008; Viviani dkk, 2007). Efek terhadap LTP
merupakan bagian yang diatribusikan pada kemampuan dari sitokin ini untuk
mengurangi lepasan neurotransmiter melalui penghambatan saluran Ca2+ yang
tergantung pada voltase, yaitu suatu efek yang melibatkan protein G sensitifpertuksis dan PKC (Schafers dan Sorkin, 2008; Viviani dkk, 2007). Satu mekanisme
yang baru yang memediasi aksi-aksi neuronal cepat IL-1 dijelaskan pada neuronneuron area praoptik/ hipotalamik anterior (PO/AH) (Davis dkk, 2006b; Tabarean
dkk, 2006). Kerja ini membuktikan bahwa selain efek yang tergantung pada
transkripsi lambat (~40 menit), aktivasi IL-1R1 dapat menghasilkan induksi yang
cepat (1 3 menit) yang tergantung pada MyD88 dan aktivasi keluarga Src tirosin
kinase yang dimediasi oleh ceramide (Davis dkk, 2006b). Aksi cepat ini dilibatkan di
dalam efek IL-1 yang menghiperpolarisasi syaraf-syaraf PO/AH dan muncul untuk
melibatkan arus K+ tipe A di dalam syaraf-syaraf ini, dan akibatnya adalah penurunan
lepasan sinaptik GABA (Tabarean dkk, 2006). Mekanisme aksi ini ditandai oleh
peningkatan suhu tubuh yang dipicu oleh IL-1 selama terjadinya demam (SachezAlavez dkk, 2006).
Menariknya, walaupun beberapa penelitian ini telah menunjukan efek penghambatan
sitokin ini terhadap aktifitas neuronal, beberapa efek eksitatori juga telah diketahui
terdapat pada beberapa wilayah otak (Wang dkk, 2000; Wilkinson dkk, 1993; Zeise
dkk, 1997; Viviani dkk, 2007), hal ini menunjukan bahwa jaringan neuronal dimana
penyinalan IL-1R1 teraktivasi, atau keterlibatan lintasan penyinalan sel-spesifik yang
berbeda (Schafers dan Sorkin, 2008; Viviani dkk, 2007) merupakan determinan atau

penentu yang penting akan efek sitokin ini terhadap aktifitas neuronal. Khususnya,
aksi eksitatori IL-1 telah diketahui terdapat pada potongan hipokampus atau pada
neuron-neuron piramidal terkulturisasi: IL-1 dapat mengurangi penghambatan
GABA yang dimediasi secara sinaptik pada wilayah CA3 hipokampus melalui kinase
yang belum dapat teridentifikasi (Wang dkk, 2000; Zeise dkk, 1997), dan
meningkatkan eksitabilitas neuronal pada wilayah CA1 dengan menurunkan arus
keluar yang dipicu oleh NMDA. Aksi terakhir ini melibatkan pengaktivasian P38
MAPK sitoplasmatik yang sepertinya tidak lain adalah saluran-saluran K yang
tergantung pada konduktans Ca2+ besar fosforilat (Zhang dkk, 2008). IL-1 juga
mempotensiasikan fungsi reseptor NMDA pada neuron-neuron hipokampus yang
dikulturisasi dengan menggunakan mekanisme non-transkripsional (Lai dkk, 2006;
Viviani dkk, 2003). Khususnya, sitokin ini akan meningkatkan influks Ca2+ yang
dimediasi oleh NMDA dengan mengaktifkan fosforilasi NR2B yang dikatalisasi oleh
kinase Src. Mekanisme biokimia yang cepat di dalam perubahan konduktans saluran
ion melalui fosforilasi protein adalah sama dengan yang terjadi pada neuron-neuron
PO/AH (Davis dkk, 2006b; Tabarean dkk, 2006) karena hal ini melibatkan kinasekinase Src yang dimediasi oleh ceramide dan tergantung apada IL-1R/My (Viviani
dkk, 2003). IL-1 juga akan menurunkan regulasi ekspresi reseptor AMPA dan
fosforilasi di dalam cara yang terpengaruh oleh Ca2+ dan NMDA pada neuron-neuron
hipokampus (Lai dkk, 2006).

4.2. TLR4
Ini merupakan reseptor Toll yang pertama teridentifikasi pada tikus yang resisten
terhadap endotoksin (Beutler, 2000), dan subtipe TLR yang secara ekstensif
dipelajari dalam CNS untuk keterlibatannya di dalam eksitabilitas otak.
Pengaplikasian lipopolisakharida (LPS), yang merupakan suatu komponen dinding
sel bakteri gram negatif dan aktivator protoipikial TLR4 pada kortikal serebral tikus,
diketahui dapa memicu peningkatan cepat pada eksitabilitas syaraf lokal,
sebagaimana dinilai dengan mengukur amplitudo sensori yang membangkitkan
potensi bidang dan aktivitias spontan (Rodgers dkk, 2009). Dengan menggunakan
konsentrasi LPS yang lebih tinggi, maka lepasan epileptiform dapat dibangkitkan.
Efek ini dapat dicegah dengan pengaplikasian IL-1ra yang mengimplikasikan satu
peranan untuk melepaskan IL-1.
Disfungsi neurologis seperti contohnya kegagalan kognitif dapat dipicu pada tikus
dewasa yang sebelumnya terpapar dengan tantangan sistemik tunggal LPS selama
dua minggu pasca lahir pertama. Temuan ini adalah sama dengan kegagalan LTP
yang dipicu dengan stimulasi TLR4, dan menyoroti sekuelae CNS jangka panjang
yang dipicu dengan paparan terhadap inflamasi ketika individu/ tikus masih berusia
dini (Riazi dkk, 2010). Modifikasi eksitbilitas neuronal jangka panjang ini tergantugn
pada respon inflamatori miror yang melibatkan TLR4 di otak dan memicu pelepasan
TNF-alfa dan IL-1beta dari sel-sel mikroglia yang teraktivasi (Riazi dkk, 2010).
Alterasi atau perubahan-perubahan di dalam kemampuan belajar dan mengingat oleh
LPS adalah memiliki hubungan dengan perubahan spesifik dan persisten di dalam
pola ekspresi sub-sub unit reseptor NMDA pada korteks serebral dan hipokampus,

dan hal ini dapat memprediksi modifikasi di dalam eksitabilitas CNS (Riazi dkk,
2010). Mekanisme regulatori yang merespon terhadap inflamasi, namun penyebab
dari perubahan reseptor ini belum lah dipahami secara mendalam; namun, diketahui
bahwa satu injeksi LPS dapat merubah ekspresi gen secara kronis di dalam otak tikus
yang baru lahir sebanyak ~5% dari semua gen-gen yang diekspresikan (Eklind dkk,
2006).

4.3. TLR3
Reseptor-reseptor ini distimulasi oleh dsRNA, yang dianggap sebagai PAMP virus,
dan analaog sintetiknya yaitu Poly(I:C) (Vercammen dkk, 2008), namun ligan-ligan
tambahan pun muncul (Tsan dan Gao, 2004). Bukti yang ada sekarang yang didapat
melalui pengaktivasian TLR3 yang dipicu agonis pada tikus menunjukan adanya
gangguan memori kerja dan penghambatan neurogenesis (Okun dkk, 2010). Tikus
yang tidak mengalami kekurangan TLR3 tidaklah menunjukan alterasi di dalam
faktor-faktor transkripsi IRF3 dan NF-kB (Okun dkk, 2010) di dalam hipokampus,
malahan tikus-tikus ini menunjukan adanya peningkatan kadar kinase CREB dan
ERK yang terfosforilasi, dan juga peningkatan memori/ kemampuan mengingat.
Tikus-tikus yang mengalami kegagalan/ kecacatan penyinalan TLR3 juga
menunjukan regulasi pasca-translasional sub unit GLUR1 reseptor AMPA pada
neuron-neuron piramidal CA1 (Okun dkk, 2010). Dengan demikian, penyinalan nontranskripsional yang dimediasi oleh TLR3 tampaknya secara negativ meregulasi
plastisitas hipokampal; dan masihlah belum dapat dipahami secara mendalam apakah
fungsi ini dimediasi oleh ligan-ligan endogen putatif atau tidak (Tsan dan Gao,
2004).

TLR3 fungsional yang telah terdeteksi pada lini sel manusia dan tikus diketahui
distimulasikan oleh POLY I:C, dengan aktivasi lintasan P13K sebagai penyerta.
Karena lintasan ini memiliki kaitan dengan diferensiasi dan keselamatan neuronal,
maka aktivasinya yang melalui mimikri viral dapat merepresentasikan respon neuron
yang cepat untuk menanggulangi ancaman infeksi. (Peltier dkk, 2010).
Menariknya, analisis ekspresi sub-selular TLR3 pada kultur primer mikroglia
manusia dan astrosit ternyata dapat mendeteksi TLR3 di kompartemen yang berbeda,
contohnya; TLR3 ada pada permukaan sel astrositik sedangkan lokalisasi vesikular
ditemukan pada mikroglia, yang dimana hal ini sesuai dengan lokalisasi endosomal
TLR3 pada neuron (Peltier dkk, 2010). Apakah perbedaan-perbedaan dalam
lokalisasi TLR3 ini dapat mempengaruhi penyinalan sel atau tidak, hal ini belumlah
dipahami secara mendalam.

5. Penyinalan IL-1R/TLR dalam kondisi sawan


Beberapa penelitian farmakologis dan genetik menunjukkan bahwa sitokin
(contohnya; IL-1, TNF-), sinyal-sinyal bahaya (contohnya; HMGB1) dan sistem
yang teraktivasi ke-arah-hilir seperti contohnya faktor-faktor penyerta (contohnya;
kompleks MAC), dan prostaglandin (contohnya; PGE2), secara signifikan
berkontribusi terhadap kondisi sawan dan lesap sel (Kulkarni dan Dhir, 2009; Riazi
dkk, 2010; Vezzani dkk, 2011). Molekul-molekul ini dipicu oleh kondisi
prokonvulsan (pro-kejang) atau oleh kondisi yang menyerupai patogen/ mimikri
patogen, dan kondisi ini dapat memicu sawan, baik melalui aksi pasca-translational

langsung cepat terhadap saluran neuronal dan reseptor-reseptor neurotransmiter


(Viviani dkk, 2007), atau secara tidak langsung oleh pengaktivasian autokrin atau
transkripsi gen-gen parakrin dengan dampak jangka-panjang pada hipereksitabilitas
neuronal (contohnya; penghambatan penyerapan-kembali astrositik glutamat,
terganggunya fungsi permeabilitas BBB; atau perubahan di dalam ekspresi sub-sub
unit reseptor glutamat; untuk mendapatkan pengkajian ulang secara lebih mendalam,
anda dapat melihat Seifert dkk, 2006; Shlosberg dkk, 2010; Vezzani dkk, 2011).

5.1. IL-1beta dan DAMP


Satu dekade yang lalu, bukti farmakologis yang ada menunjukan bahwa
pemblokadean penyinalan IL-1beta pada otak dengan menggunakan IL-1ra secara
drastis dapat mengurangi intensitas sawan pada beberapa model hewan; lebih jauh
lagi, peng-overekspresian IL-1ra dalam bentuk yang larut dalam astrosit secara
intrinsik adalah resisten terhadap sawan (Vezzani dkk, 2000). Temuan-temuan ini,
bersamaan dengan bukti bahwa IL-1beta dihasilkan melalui mikroglia dan astrosit
yang diaktivasi dalam respon terhadap cedera pro-konvulsan (dapat memicu kejang)
(De Simoni dkk, 2000; Vezzani dkk, 1999), hal ini menunjukan bahwa molekulmoleku pro-inflamatori yang diambil dari glia dapat berkontribusi terhadap
presipitasi dan kekambuhan kondisi sawan. Observasi seminal ini merepresentasikan
titik awal untuk pengembangan penelitian-penelitian lanjutan untuk mengkaji
mediator-mediator proinflamatori (Kulkarni dan Dhir, 2009; Riazi dkk, 2010;
Vezzani dkk, 2010). Baru-baru ini, HMGB1 yang dilepaskan dari neuron dan glia
yang diaktivasi melalui penggunaan obat pro-kejang, dapat teridentifikasi sebagai
sebagai media molekular yang penting untuk menurunkan ambang batas sawan, yang

dimana hal ini sesuai dengan IL-1beta (Maroso dkk, 2010). Terutama, efek HMGB1
dimediasi melalui pengaktivasian TLR4 neuronal (Maroso dkk, 2010, 2011).
Peningkatan pelepasan IL-1beta dan HMGB1 in vivio yang terjadi setelah tantangan
pro-konvulsan, sebelum presipitasi sawan pertama, adalah sulit untuk diukur karena
resolusi temporal nya yang terbatas dan sensitifitas dari metode biokimia yang
tersedia. Namun, interferensi farmakologis atau genetik dengan aksi biologis dari
molekul-molekul endogen ini memberikan bukti tidak langsung akan lepasannya
yang cepat dari sumber konstitutif. Dengan demikian, pemblokadean biosintesis IL-1
beta dengan penghambat ICE/Caspase-1 (Maroso dkk, 2011; Vezzani dkk, 2010),
atau inaktivasi aksi biologis HMGB1 dengan menggunakan antagonis reseptor
spektrum luas BoxA atau antagonis TLR4 spesifik (Maroso dkk, 2010) dapatlah
menimbulkan penundaan kemunculan sawan yang dipicu pada tikus dengan kainate
atau bikukulin. Sesuai dengan data farmakologis ini, tikus transgenik yang memiliki
kekurangan gen ICE/ Caspase-1 atau gen IL-1R1, atau dengan kerusakan penyinalan
TLR4 akibat mutasi reseptor hilangnya fungsi spontan, menunjukan tertundanya
kemunculan sawan secara signifikan (Maroso dkk, 2010; Ravizza dkk, 2006b;
Vezzani dkk, 2000). Jendela waktu efek yang cepat ini (<10 menit) adalah tidak
sesuai dengan peningkatan sintesis de novo IL-1beta atau HMGB1, dengan demikian
hal ini menunjukkan bahwa molekul-molekul ini dilepaskan di dalam ruang
ekstraselular dari kolam/ sumber-sumber endogen konstitutifnya (Bianchi, 2007;
Maroso dkk, 2011; Ravizza dkk, 2006b; Spulber dkk, 2009). Setelah pelepasan IL-1
dan HMGB1 telah berkontribusi terhadap penggenerasian sawan pertama, lalu
sintesis de novo kedua molekul diaktivasi di dalam mikroglia dan astrosit
sebagaimana didemonstrasikan melalui imunihisto-kimia dan dikonfirmasi oleh

ELISA dan Western blot pada model-model hewan (Gambar 1). Hibridisasi in situ
dan analisis RT-PCR menunjukan peningkatan kadar mRNA IL-1beta pada otak
hewan yang mengalami sawan (De Simoni dkk, 2000). Gelombang kedua lepasan
IL-1 dan HMGB1 ini berkontribusi terhadap kekambuhan sawan karena
pemblokadean reseptor-reseptor spesifiknya masing-masing menggunakan antagonis
IL-1ra atau BoxA dan TLR4, yang dimana dapat mengurangi frekuensi sawan dan
juga mengurangi inflamasi pada otak (Maroso dkk, 2010; Vezzani dkk, 2010).

Gambar 1. Kaskade/ riam patofisiologis yang dimediasi oleh penyinalan IL-1R/TLR


dalam epilepsi. Panel A: Kondisi-kondisi pencetus yang diinisiasikan pada CNS oleh
cedera lokal, atau secara periferial akibat infeksi yang mengakibatkan aktivasi
mikroglia, astrosit, dan neuron pada wilayah otak yang terlibat di dalam ancaman
patologis. Sel-sel ini akan melepaskan sitokin proinflamatori seperti contohnya IL1beta, dan sinyal-sinyal bahaya seperti contohnya HMGB1, yang dengan demikian
memicu kaskade kondisi inflamatori pada sel-sel target (yaitu; neuron dan glia)

melalui pengaktivasian IL-1R1 dan TLR4. Pengaktivasian penyinalan pada neuron


menyebabkan peningkatan secara cepat reseptor NMDA konduktan Ca2+ melalui
ceramide/ Scr yang memediasi fosforilasi sub unit NR2B, yang dimana hal ini
menyebabkan hipereksitabilitas neuronal; yang merupakan penurunan ambang batas
sawan jangka-panjang akibat pengaktivasian transkripsi gen yang berkontribusi
terhadap perubahan molekular dan selular yang terlibat didalam epileptogenesis, dan
memperburuk inflamasi otak. Panel B: Efek inflamasi otak berasal dari
pengaktivasian penyinalan IL1R/TLR, yang mana hal ini berkontribusi terhadap
penggenerasian sawan dengan memicu penurunan ambang batas neuronal
esitabilitas. Kekambuhan sawan, sebaliknya, mengaktifkan inflamasi lanjutan,
dengan demikian akan memperburuk siklus kondisi yang berkontribusi terhadap
pengidapan sawan.
Pencarian mekanisme yang menyebabkan efek pro-konvulsan/ pro-kejang aktivasi
penyinalan IL-1beta-IL-1R1 dan HMGB1-TLR4 membuat kita dapat
mengidentifikasi perubahan pasca-translational cepat pada reseptor-reseptor NMDA
(Balosso dkk, 2008; Maroso dkk, 2010; Viviani dkk, 2003). Yaitu, pengaktivasian
poros IL-IR1/TLR4 dengan ligan-ligan endogennya dapat memicu fosforilasi yang
tergantung dengan Src kinase sub unit NR2B reseptor-reseptor NMDA (Balosso dkk,
2008; Maroso dkk, 2010). Pada neuron-neuorn hipokampal, lintasan ini
bertanggungjawab untuk potensiasi influk Ca2+ yang tergantung pada NMDA dan
yang dimediasi oleh IL-1 (Viviani dkk, 2003). Blokade farmakologis rantai
molekular kondisi in vivo ini menghalangi aktifitas prokonvulsan IL-1beta dan
HMGB1 (Balosso dkk, 2008; Maroso dkk, 2010). Dengan demikian, peningkatan
fungsi NMDA adalah satu mekanisme yang penting dimana aktivasi endogen IL-1R1

dan TLR4 berkontribusi terhadap kondisi sawan, yang dimana sama dengan peranan
yang penting dari reseptor-reseptor NMDA pada terjadinya sawan dan
kekambuhannya.
Pengaktivasian penyinalan IL-1R1/TLR4 juga dapat memicu perubahan
transkripsional yang dapat memperburuk inflamasi melalui transkripsi yang
tergantung pada NFkB gen-gen inflamatori, dan dapat menimbulkan penurunan
ambang batas sawan secara kronis dengan memicu ekspresi gen yang terlibat di
dalam neurogenesis, kematian sel, dan reorganisasi molekular sinaptik serta
plastisitas (ONeill dan Bowie, 2007) (Gambar 1). Proses-proses ini terjadi selama
epileptogenesis yang berkontribusi terhadap transformasi jaringan otak normal
kedalam kondisi yang dapat memunculkan sawan (Pitkanen, 2010).

5.2. Mekanisme pelepasan IL-1beta dan HMGB1


Mekanisme dimana IL-1beta dan HMGB1 - yang merupakan dua protein yang dapat
terinduksi dan berperan sebagai aktivator endogen penyinalan IL-1R/TLR, pun
dilepaskan dari sel-sel otak selama terjadinya sawan atau setelah cedera proepileptogenik masihlah bersifat hipotesis. Ketika diantisipasi sebelumnya, efek anti
kejang cepat dapat diberikan dengan menggunakan pendekatan anti IL-1beta atau
anti HMGB1, dan gelombang pertama lepasan akan muncul dari sumber IL-1beta
dan/ atau HMGB1 yang sudah ada sebelumnya pada neuron dan/ atau glia.
Pemasokan sumber yang siap dilepaskan dapat dilakukan dengan peningkatan
biosintesis akibat aktivasi transkripsional gen-gen IL-1beta dan HMGB1 dan
translasi serta pemodifikasian pasca-translasional seperti pemecahan pro-IL-1beta

melalui ICE/caspase-1. Sumber selular tambahan akan lepasan pada jaringan otak
dapat diberikan dengan pelepasan leukosit darah pada jaringan otak yang
terinflamasi atau dengan pengaktifan sel-sel endotelial BBB, walaupun sel-sel ini
lebih berkontribusi sebagai sumber lepasan tertunda yang direkrut dari aktivasi
primer sel-sel residen otak.
Mengingat dari mekanisme yang dijelaskan dimana IL-1 dilepaskan dari monosit/
makrofaga, satu peranan yang penting pun dimainkan oleh aktivasi inflamasome,
yaitu suatu kompleks multi protein yang mencakup cysteine protease ICE/ caspase-1
(van de Veerdonk dkk, 2011). Perakitan inflammasome dibutuhkan untuk aktivasi
penuh ICE/Caspase-1 yang kemudian secara proteolitis memecah pro-IL-1beta untuk
menghasilkan lepasan dan sekresi (aktif secara biologis) dari sitokin ini. Peningkatan
sitosolik Ca2+ dan Na+ adalah bersifat instrumental untuk perakitan inflammasome
dan aktivasi ICE/Caspase-1, dan pemodifikasian ionik ini dipicu di dalam sel oleh
depolarisasi neuronal yang memicu kondisi sawan. Stimulasi reseptor-reseptor P2X7
yang dimediasi oleh ATP ekstraselular dan spesies oksigen reaktif juga merupakan
pemicu yang kuat akan aktivasi inflamasome ICE/ Caspase-1 (van de Veerdonk dkk,
2011). Terutama, aktivasi ICE/Caspase-1 telah diketahui terjadi pada spesimen
jaringan epileptik manusia (Henshall dkk, 2000). Namun, pelepasan IL-1beta yang
tidak tergantung pada inflamasome juga diketahui terjadi: serine proteinase seperti
contohnya cathepsin G, elastase dan, khususnya, proteinase 3, yang secara
predominan ada pada neutrofil yang teraktivasi, dan juga pada beberapa
metaloproteinase matriks (Schonbeck dkk, 1998) akan mampu untuk memecah proIL-1beta kedalam fragmen IL-ibeta yang aktif dan dapat dilepaskan (Coeshott dkk,
1999).

Sejauh HMGB1 dilibatkan, protein ini merupakan satu komponen non-histone


kromatin, dan dengan demikian, senyawa ini akan terekspresi di dalam inti sel; di
dalam CNS, HMGB1 dideteksi ada pada nuklei neuronal pada kondisi fisiologis.
Walaupun HMGB1 mengalami kekurangan sinyal sekresi klasik peptida, senyawa ini
disekresikan secara independen pada kerusakan sel setelah terjadinya translokasi inti
ke stioplasmatik tanpa membutuhkan sintesis de novo (Bianchi, 2007). HMGB1
ekstraselular dengan demikian memiliki asal ganda karena hal tersebut dapat secara
pasif dilepaskan oleh sel-sel yang mengalami nekrosis dan secara aktif disekresikan
dari sel-sel dalam respon terhadap stimulai inflamatori atau kondisi-kondisi yang
stres (termasuk pendeteksian PAMP). Makrofaga-makrofaga yang meliputi sel-sel
apoptotik juga dapat mensekresikan HMGB1 (Bianchi, 2007). Mekanisme yang tepat
yang menyebabkan pelepasan HMGB1 masihlah harus diteliti lagi, namun
peningkatan Ca2+ intraselular dan pengaktifan protein kinase C dapat dibutuhkan
(Huttunen dan Rauvala, 2004). Pemodifikasian pasca-translasional HMGB1 yang
beragam mencakup metilasi, asetilasi, dan fosforilasi memiliki kaitan dengan
peningkatan lokalisasi sitoplasmatik dan sekresi HMGB1 (Hutten dan Rauvala,
2004). Baru-baru ini, kami telah menemukan fakta bahwa kultur sel neuronal yang
terpapar pada glutamat ternyata dapat melepaskan HMGB1, walaupun pelepasan ini
hanya dapat dideteksi oleh ELISA saja ketika glutamat memicu eksitotoksisitas
(Maroso dkk, 2010). Lebih jauh lagi, pelepasan HMGB1 dapat dipicu dari kultur
astrosit manusia yang terpapar dengan IL-1 (Zurolo dkk, 2011). Sebaliknya,
HMGB1 dapat memicu pelepasan mediator-mediator proinflamatori dari beragam
tipe-tiep sel, termasuk astrosit (Pedrazzi dkk, 2007).

Penelitian lanjutan masihlah dibutuhkan untuk mendemonstrasikan runutan kejadian


dan penentu-penentu penting untuk meningkatkan pelepasan IL-1beta dan HMGB1
selama eksitabilitas aberan, cedera sel, dan kombinasinya.

5.3. Efek cepat dan jangka panjang aktivasi TLR4 oleh LPS pada eksitabilitas
otak
Beberapa percobaan dengan menggunakan injeksi LPS sistematik pada tikus
menunjukan adanya efek cepat dan jangka panjang terhadap eksitabilitas otak yang
menghasilkan penurunan ambang batas sawan ketika hewan percobaan diberikan
berbagai obat konvulsan/ yang dapat memicu kejang. Efek LPS pun terobservasi
antara 30 menit sampai 24 jam setelah injeksi, dan dimediasi dengan IL-1beta, dan
aktivasi COX-2 (Riazi dkk, 2010). Efek pro-konvulsan akut LPS didemonstrasikan
oleh pengaplikasian topikal nya pada korteks somatosensori tikus: LPS dapat
memicu aktivitas epileptiform dalam 10 menit, dan aktivitas ini muncul setiap 1-2
menit selama 30 menit (Rodgers dkk, 2009). Efek pro-konvulsan LPS dapat dicegah
dengan antagonis TLR4 selektif, dan dengan IL-1ra yang mengindikasikan bahwa
pelepasan IL-1beta pun terlibat didalamnya.
Efek jangka panjang eksitabilitas otak dipicu oleh LPS yang diinjeksikan pada tikus
pada dua minggu pasca-lahir (Riazi dkk, 2010): aktivasi TLR4 oleh pemberian LPS
sistemik pada tikus yang baru dilahirkan dapat menurunkan ambang batas sawan
ketika hewan terpapar dengan berbagai obat konvulsan di masa dewasanya (Riazi
dkk, 2010). Penanganan neonatal yang sama pun didapatkan untuk tikus yang
mengalami epilepsi yang lebih parah dengan sawan spontan yang dipicu dengan

pilocarpine (Auvin dkk, 2010), dan untuk hilangnya sel neuronal yang lebih ekstensif
sebagai respon terhadap sawan (Riazi dkk, 2010). Rangkaian bukti ini membuktikan
bahwa tantangan inflamatori transien selama masa awal hidup (nenonatal) ternyata
dapat merubah eksitabilitas neuronal jangka panjang. Efek neurologis ini sesuai
dengan hipereksitabilitas kronis sebagaimana yang dinilai dengan pencatatan
ekstraselular pada potongan hipokampal tikus dewasa, d an dengan alterasi pada
ekspresi sub unit reseptor glutamat pada hipokampus yang dapat berkontribusi untuk
merubah ambang batas sawan pada hewan-hewan ini (Riazi dkk, 2010).
Terutama, inflamasi otak bukanlah demam yang dipicu oleh LPS tampaknya
bertanggungjawab atas perubahan neurologi jangka panjang ini. Pemberian
minosiklin pada neonatal, yang dimana minosiklin merupakan penghambat aktivasi
mikroglia, atau antibodi TNF-alfa dapat mencegah efek jangka panjang LPS (Riazi
dkk, 2010). Karena LPS mirip PAMP eksogen, data-data ini juga menunjukan bahwa
mekanisme imun bawaan yang terlibat di dalam infeksi dapat menyebar pada
beberapa tahap dengan yang diaktivasikan oleh DAMP, seperti contohnya HMGB1,
dan hal ini dapat menyebabkan alterasi atau perubahan jangka panjang di dalam
prodormal eksitabilitas otak terhadap kemunculan kondisi sawan.

5.4. Peranan penyinalan TLR3 dalam kondisi sawan


Keterlibatan penyinalan yang di mediasi oleh TLR3 pada kondisi sawan ditunjukan
oleh bukti klinis bahwa mayoritas dari seluruh kasus sawan demam terjadi pada saat
sakit yang diakibatkan oleh virus. Pada konteks ini, satu penelitian menunjukan
tingkat produksi IL-1beta yang lebih tinggi dari leukosit-leukosit yang distimulasi

oleh dsRNA pada pasien yang mengalami sawan demam; menariknya, efek ini
terobservasi beberapa minggu setelah sawan demam dan dengan tidak adanya
infeksi yang berlanjut (Matsuo dkk, 2006). Hasil ini menunjukan bahwa penyinalan
TLR3 mungkin secara intrinsik akan meningkat pada para pasien yang mengalami
sawan demam. Tidak ada polimofrisme di dalam gen IL-1R1 ataupun TLR3, atau
gen-gen terkait lainnya yang ditemukan; lebih lanjut lagi, dsRNA tidaklah memicu
peningkatan produksi INF-beta dari leukosit yang menunjukan bahwa aktivasi
penyinalan dapat melibatkan lintasan NFkB pada pasien yang menderita sawan
demam.
Hal yang sama terjadi pada percobaan-percobaan yang dilakukan dengan
menggunakan LPS (lihat di bagian atas), stimulasi TLR3 diinduksi pada tikus yang
belum dewasa dengan injeksi POLY I:C intraventrikular untuk menyerupai kondisi
ensefalitis virus karena resiko akan sawan dan epilepsi meningkat sebanyak 16 kali
lipat pada setingan klinis stelah tipe infeksi ini (Singh dkk, 2008). POLY I:C dapat
memicu induksi transien IL-1beta pada otak yang belum matang, dan induksi
transien IL-1beta pada otak yang belum matang, dan ambang batas sawan pun
diturunkan karena tikus yang digunakan belumlah dewasa (Galic dkk, 2009). Demam
pun diinduksi dengan POLY I:C, namun tidak terimplikasi pada efek jangka panjang
terhadap eksitabilitas otak, karena minosiklin dapat membalikan efek terhadap
ambang batas sawan, dan induksi awal IL-1beta, tanpa memodifikasi respon demam
(Galic dkk, 2009). Peningkatan pada sub-sub unit NMDA dan AMPA mRNA
ditemukan pada hipokampus tikus dewasa yang ketikanya bayinya dipaparkan
dengan POLY I:C, hal ini menunjukan bahwa transmisi glutamatergik yang dirubah

dapat berkontribusi terhadap peningkatan tingkat kerentanan sawan setelah


dilakukannya aktivasi TLR3 (Galic dkk, 2009).

Tabel 1 Pentargetan farmakologis dan genetik penyinalan IL-1R/TLR pada


model sawan
Sistem
II-1/IL1R1

Mediator

Fungsi

Model sawan

Spesies

Efek

IL-1R tipe 1

Reseptor
fungsional

Bicuculline

Anti-keja

IL-1

Agonis

IL-1ra

Antagonis

Tikus transgenik

Anti-keja

Pralnacasan
Vx-765

Penghambat
ICE/ Caspase-1
(sintesis IL-1)

Asam kainik:
bricuculline;
stimulasi elektrik
Asam kainik;
Bicuculine;
Piloacarpne;
Stimulasi elektrikal
Asam kainik:
Stimulasi elektrik,
Sawan spontan

Tikus yang IL-1R1


nya dinonaktifkan
melalui
pemodifikasian
genetika
Tikus

Tikus

Anti-keja

LPS

Agonis
(PAMP)

Tikus

Pro-kejan
(Akut)

LPS

Agonis
(PAMP)

Asam kainic:
Pentylentetrazol;
Stimulasi elektrik;
Sawan sesaat
Asam kainic;
Pentylentetrazol;
Pilocarpine; Sawan
demam; Stimulasi
elektrik

Tikus belum
dewasa

HMGB1

Agonis
(DAMP)
Kompetitor
HMGB1

Bicuculline asam
kainic
Asam kainic;
Bicuculine; sawan
spontan

Tikus

Ambang
batas saw
yang
menurun
(Jangkapanjang)
Pro-kejan

Tikus

Anti-keja

Pro-kejan

TLR4

BoxA

LPS-RS LPSCyp

Antagonis

TLR4

Mutasi
hilangnya
fungsi

POLY I:C

Agonis

Resveratrol

Antagonis

Asam kainic;
Bicuculine; sawan
spontan
Asam kainic, sawan
sontan

Tikus

Anti-keja

Tikus Tlr4Lps-D

Anti-keja

Pentylentetrazol;
Pilocarpine

Tikus yang belum


dewasa

Ambang
batas saw
yang
menurun
(Jangkapanjang)
Anti-keja

TLR3

Pentylentetrazol;
Tikus
sawan spontan
Lihat teks mendapatkan informasi mendalam: DAMP = pola molekular yang
berkaitan dengan kerusakan; PAMP = pola molekular yang berkaitan dengan
patogen; LPS-RS = Rhodobacter sphacroides; LPS: LPS-Cyp, LPS Cyanobacterial.
Data tambahan dalam dukungan keterlibatan TLR3 pada kondisi sawan diambil dari
beberapa percobaan dengan menggunakan resveratrol, yaitu suatu penghambat
lintasan penyinalan yang tidak ditentukan MyD88 yang dimiliki TLR3 dan TLR4
(Youn dkk, 2005). Pada tikus dewasa, resveratol menunjukan efek anti-kejang dan
anti-eksitotoksik ketika secara kronis diberikan setelah obat konvulsan (Gupta dkk,
2002; Virgili dan Contestabile, 2000; Wu dkk, 2009; Zhang dkk, 2010a). Pada tikus
yang diberi suntikan asam kainic dengan kejang/ sawan spontan, pemberian
resveratrol secara kronis dapat mengurangi tingkat frekuensi aktivitas epileptiform
dan memblok peningkatan subunit reseptor kainat GLUR6/7 yang terjadi di dalam
hipokampus (Wu dkk, 2009). Namun, penelitian ini tidak mengizinkan determinasi/
penentuan apakah perubahan reseptor yang berkaitan dengan resveratrol merupakan
akibat dari aktifitas epileptik yang menurun atau bukan, atau mungkin perubahan-

perubahan tersebut terlibat di dalam efek anti-kejang dari senyawa ini. Kelas
senyawa ini secara selektif mengurangi kadar TNF-alfa in vivo tanpa mempengaruhi
lintasan penyinalan NFkB, yang secara sebagian dapat menjelaskan peredaman
respon neuroimun (Mouihate dkk, 2006).

6. Kesimpulan dan perspektif


Pada dekade terakhir, kemajuan pun telah dicapai dalam pemahaman akan peranan
imunitas bawaan dan proses inflamatori terkait di dalam patologi otak. Secara
khusus, di dalam memahami neurobiologi epilepsi, adalah penting bahwa kita telah
mendapatkan pemahaman akan peranan astrosit dan mikroglia di dalam
etiopatogenesis kondisi sawan, dan kita memahami astrosis dan neuron sebagai
pemain aktif di dalam mekanisme imunitas bawaan dan inflamasi, yang
dipertimbangkan/ dianggap selama bertahun-tahun sebagai prerogatif mikroglia dan
leukosit. Dengan demikian, baik astroglia dan neuron dapat beraksi sebagai sel
imunokompeten di dalam otak bersama dengan mikroglia, dan semua tipe-tipe sel ini
dapat beraksi baik sebagai sumber mediator inflamatori maupun sebagai sel-sel
pemberi efek.
Pengidentifikasian TLR baru-baru ini, bersamaan dengan IL-1R1, sebagai
kontributor yang penting bagi perubahan akut dan jangka panjang di dalam
eksitabilitas otak dan sawan (Tabel 1) akibat perubahan pro-kejang atau proinflamatori, menyingkapkan peranan yang sebelumnya tidak kita ketahui akan
mekanisme imun bawaan. Secara khusus, bukti bahwa imun bawaan merespon
terhadap PAMP atau terhadap DAMP dapat menyebar pada target-target umum untuk

meningkatkan eksitabilitas neuronal yang mungkin dapat cukup untuk memicu


kondisi sawan (Gambar 1), yang dimana hal ini memberikan pandangan mekanistik
untuk menjembatani hubungan kausal yang diajukan antara infeksi CNS atau
kerusakan otak dengan epilepsi.
Peranan DAMP seperti contohnya HMGB1 (Maroso dkk, 2010) dan S100B
(Sakatani dkk, 2008) di dalam menentukan perubahan pada eksitabilitas jaringan
neuronal, dapat memprediksi bahwa ligan-ligan endogen lain untuk TLR juga dapat
berkontribusi terhadap kondisi sawan. Di dalam konteks ini, protein kejutan panas,
produk degradasi matrik selular (Tsan dan Gao, 2004), dan DAMP mitochondrial
(Zhang dkk, 2010b) merupakan ligan-ligan endogen TLR yang teregulasi di dalam
jaringan epileptik atau setelah terjadinya cedera sel, dan mungkin semuanya ini
memainkan peranan di dalam pengaktivasian imunitas bawaan pada kondisi steril.
Pengaktivasian penyinalan IL-1R/TLR merepresentasikan satu respon homeostatik
terhadap cedera otak atau ancaman patologis, dengan demikian keterlibatannya di
dalam hipereksitabilitas neuronal patologis haruslah dipertimbangkan hanya ketika
penyinalan aberan terjadi; hal ini mungkin merupakan kasus ketika luasnya atau
lamanya aktivasi reseptor melampau ambang batas homeostatik.
Beberapa penyakit neurologis yang tidak secara klasik dianggap sebagai penyakit
inflamatori (seperti contohnya penyakit Alzheimer) telah dinilai ulang dalam
pandangan peranan bahwa inflamasi steril dapat memainkan peranan di dalam
etiopathogenesisnya (Beutler, 2004). Karena peranan penyinalan IL-1R/TLR di
dalam sawan eksperimental, kita dapat menunjukan bahwa satu komponen
inflamatori intrinsik memainkan satu peranan etiologis dalam epilepsi (Vezzani dkk,

2011). Konsep ini didukung oleh aktivasi poros IL-1beta/IL-1R1 dan HMGB1/TLR4
pada jaringan otak yang dibedah yang resisten terhadap obat dari pasien penderita
epilepsi dengan etiologi yang berbeda-beda (Vezzani dkk, 2011; Zurolo dkk, 2011).
Disamping ketersediaan beragam obat-obatan antikonvulsan (anti-kejang) dengan
aksi utama nya terhadap saluran-saluran ion yang tergantung pada voltase dan sistem
neurotransmiter klasik (Rogawski dan Loscher, 2004), sekitar satu pertiga dari
seluruh para individu penderita epilepsi masih mengalami sawan yang tidak
terkendali, dengan demikian hal ini membutuhkan pencarian akan strategi
penanganan yang baru. Mengingat potensi peranan penyinalan IL-1R/TLR pada
kondisi sawan, beberapa hasil dari penelitian-penelitian pra klinis mendukung
pengujian hipotesis bahwa penghambatan farmakologis dari penyinalan ini dapat
berguna untuk menangani epilepsi yang lasat/ susah sembuh pada manusia.
Dengan mempertimbangkan bahwa pemberian obat-obatan secara kronis (jangkapanjang) adalah hal yang dibutuhkan untuk menangani epilepsi, dan batasan yang
dtentukan oleh BBB, maka adalah penting bagi kita untuk terus memahami
kemanjuran dan keamanan dari penanganan jangka-panjang obat-obatan yang dapat
merusak over-aktivasi beberapa mekanisme imun bawaan spesifik di dalam otak.
Beberapa obat diantaranya sudah menjalani pengujian dan penggunaan klinis dan
menunjukan efek anti-inflamatori dan efek terapeutik pada kondisi-kondisi
inflamatori periferal/ tepi kronis (Dinarello dkk, 2011; Leon dkk, 2008; Vezzani dkk,
2010); obat-obatan ini haruslah dipertimbangkan penggunaannya untuk
meringkankan atau mengurangi proses inflamatori di dalam otak epileptik dan

dengan demikian dapat meringankan hiperkesitabilitas, yang dapat memberikan


potensi terapeutik di dalam penanganan epilepsi.