Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

OS Ablasio Retina

Pembimbing :
Dr. Enni Cahyani, Sp.M, M.Kes

Disusun oleh:
Teo Wijaya
NIM : 112015293

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA, RSM DR. YAP


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
13 JUNI 2016 16 JULI 2016
YOGYAKARTA

STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama

:
:
:
:

Tn. S
52 tahun
Laki-laki
Islam

Alamat

: Desa Sempol kec. Sukoharjo RT 01 RW 01 Wonosobo, Jawa


Tengah

Masuk RS

: 27 Juni 2016

ANAMNESIS
Dilakukan Auto-anamnesis pada tanggal 27 Juni 2016, pada pukul 13.30
Keluhan Utama:
Mata kanan kabur mendadak sejak 1 bulan yang lalu.
Keluhan Tambahan:
Tidak ada.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Satu bulan SMRS pasien mulai merasakan penglihatan kabur mendadak pada
pandangan mata sebelah kiri. Pasien merasa ada kilatan cahaya saat beraktivitas dan
membuat pandangan pandangan tidak jelas. Pasien merasakan seperti melihat benda
hitam berterbangan pada penglihatannya.

Penglihatan ini terkadang dapat balik

seperti semula dan dapat muncul kembali. Pasien mengatakan tidak mengalami
benturan pada kepala dan pasien tidak melakukan beraktivitas berat.
Dua minggu SMRS pasien masih mengalami penglihatan remang-remang
pada pandangan sebelah kiri. Keluhan tidak bertambah berat.
Satu minggu SMRS pasien merasakan keluhan menjadi lebih berat. Pandangan
menjadi semakin gelap dan seluruh lapang pandang bagian kiri menjadi berkurang.
Pasien tidak menggunakan kacamata dan tidak mempunyai riwayat trauma tumpul.
Pasien tidak mengkonsumsi alcohol.

a.
-

Riwayat Penyakit Dahulu:


Umum
Asma
Diabetes Mellitus
Hipertensi
Hepatitis
Alergi
Maag

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
2

b. Mata
Pasien mengaku mata kanannya sudah tidak dapat melihat sama sekali sejak
18 tahun yang lalu, pasien mengatakan bahwa mata kanannya sempat tersemprot
bahan kimia yaitu pestisida untuk tanaman setelah itu pandangan pasien menjadi
gelap dan tidak dapat melihat sehingga pasien terbiasa melihat menggunakan satu
mata saja sejak saat itu.
-

Riwayat penggunaan kacamata (-)


Riwayat operasi katarak (-)

Riwayat Penyakit Keluarga:


Umum :
- Asma
- Diabetes Mellitus
- Hipertensi
- Hepatitis
- Alergi

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

Mata :
- Katarak
- Glaukoma

: Tidak ada
: Tidak ada

Status Gizi:
Berat badan
Tinggi badan
III.

: 59 kg
: 162 cm

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda Vital
: Tekanan Darah
: 130/80
Nadi
: 76x/menit
Pernafasan
: 18x/menit
Suhu
: 36.5 oC
Kepala
: Normocephali, rambut hitam dengan distribusi merata
THT
: Septum deviasi (-), MAE lapang, T1-T1 tidak hiperemis
Thoraks
: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-), BJ I-II murni
reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
: Supel, datar, bising usus (+) normal
Ekstremitas
: Akral hangat, edema (-)
KGB
: Tidak teraba pembesaran KGB
B. STATUS OFTALMOLOGIS
KETERANGAN

OKULO DEXTRA (OD)

OKULO SINISTRA (OS)

1. VISUS
Tajam Penglihatan
Axis Visus

0
Tidak dilakukan

1/60
Tidak dilakukan

Koreksi
Addisi
Distansia Pupil
Kacamata Lama

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak ada

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak ada

2. KEDUDUKAN BOLA MATA


Eksoftalmos
Enoftalmos
Deviasi
Gerakan Bola Mata

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Baik ke semua arah

Hitam
Simetris

Hitam
Simetris

3. SUPERSILIA
Warna
Simetris

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR


Edema

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Nyeri tekan

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Ektropion

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Entropion

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Blefarospasme

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Trikiasis

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Sikatriks

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Fissura palpebra

Tidak dapat dinilai

Tidakada

Tes Anel

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

5. KONJUNGTIVA TARSALIS SUPERIOR DAN INFERIOR


Hiperemis
Folikel
Papil

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
4

Sikatriks
Hordeolum
Kalazion

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sekret

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Injeksi Konjungtiva

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Injeksi Siliar

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Pendarahan

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

subkonjungtiva
Pterigium

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Pinguekula

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Nevus Pigmentosus

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Kista Dermoid

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

6. KONJUNGTIVA BULBI

7. SKLERA
Warna

Tidak dapat dinilai

Putih

Ikterik

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Nyeri Tekan

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

8. KORNEA
Kejernihan
Permukaan
Ukuran
Sensibilitas
Infiltrat

Tidak dapat dinilai


Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai
Tidak dilakukan
Tidak dapat dinilai

Jernih
Licin
Normal
Normal
Tidak ada

Keratik Presipitat

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Sikatriks

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Ulkus

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Perforasi

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Arkus Senilis

Tidak dapat dinilai

ada
5

Edema

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dapat dinilai


Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai

Dalam
Jernih
Tidak ada
Tidak ada

Warna
Kripte
Sinekia

Tidak dapat dinilai


Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai

Hitam
Jelas
Tidak ada

Koloboma

Tidak dapat dinilai

Tidak ada

Tidak dapat dinilai


Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai

Ditengah
Bulat
Normal

Tidak dapat dinilai

Positif

Tidak dapat dinilai

Positif

Kejernihan

Tidak dapat dinilai

Jernih

Letak

Tidak dapat dinilai

Di tengah

Shadow Test

Tidak dapat dinilai

Negatif

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tes Placido
9. BILIK MATA DEPAN
Kedalaman
Kejernihan
Hipopion
Efek Tyndall
10. IRIS

11. PUPIL
Letak
Bentuk
Ukuran
Refleks

Cahaya

Langsung
Refleks Cahaya Tak
Langsung
12. LENSA

13. BADAN KACA


Kejernihan

14. FUNDUS OKULI


Batas

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Warna

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Ekskavasio

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Rasio Arteri:Vena

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

C/D Ratio

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Makula Lutea

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Retina

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Eksudat

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Perdarahan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Sikatriks

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Ablasio

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak ada
Tidak ada
Tidak Dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak ada
Tidak ada
8
Tidak dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Baik

15. PALPASI
Nyeri Tekan
Massa Tumor
Tensi Okuli
Tonometri Schiotz
16. KAMPUS VISI
Tes Konfrontasi

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Ultrasonografi. Digunakan untuk menilai segmen belakang mata. USG juga
dapat dilakukan untuk mengetahui kejernihan badan kaca, dan posisi retina
serta bagian subretina.
2. Oftalmoskop indirek untuk menilai segmen belakang mata, dan untuk
mengetahui adanya robekan pada retina.
V. RESUME
Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang dengan Mata kiri kabur mendadak
sejak 1 bulan yang lalu Pasien merasa ada kilatan cahaya saat beraktivitas dan
membuat pandangan tidak jelas. Pasien merasakan seperti melihat benda hitam
7

berterbangan pada penglihatannya.

Penglihatan ini terkadang dapat balik seperti

semula dan dapat muncul kembali. Pasien mengatakan tidak mengalami benturan
pada kepala dan pasien tidak melakukan beraktivitas berat dan semakin lama
memburuk dan menjadi remang-remang penglihatannya.
Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 130/90 mmHg, Nadi
76x/menit, Pernafasan 18x/menit. Pada pemeriksaan fisik mata kiri didapatkan visus
1/60, persepsi warna baik. Selain itu didapatkan hasil pemeriksaan lapang pandang
mata kiri yang menyempit.
VI.

DIAGNOSIS KERJA
OS Ablasio Retina Rhegmatogen
OD Ptisis Bulbi

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Ablasio Retina Traksional
2. Ablasio Retina Eksudatif
VIII. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Ciprofloxacin 4xOS
Glauseta 3x1/2 OS
Floxa 6xOS
Xitrol 6xOD
Sulfas atropin 3xOS
Tatalaksana Bedah:
Viterektomi dan scleral buckle
IX. PROGNOSIS
KETERANGAN
Ad Vitam
Ad Fungsionam
Ad Sanationam

OKULO DEXTRA (OD)


:
:
:

OKULO SINISTRA (OS)

dubia ad bonam
dubia ad malam
dubia ad malam

dubia ad bonam
dubia ad malam
dubia ad malam

Tinjauan Pustaka
Pendahuluan
Ablasio retina (retinal detachment) adalah pemisahan retina sensorik, yakni lapisan
fotoreseptor (sel kerucut dan batang) dan jaringan bagian dalam, epitel pigmen retina
dibawahnya. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran Bruch.
8

Antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural dengan
koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara
embriologis.
Biasanya ablasio retina terjadi pada usia 40-70 tahun. Prevalensi meningkat pada
beberapa keadaan seperti miopi tinggi, afakia/pseudofakia dan trauma. Traumatik ablasio
retina lebih sering terjadi pada orang muda, dan ablasio retina akibat miopia yang tinggi biasa
terjadi pada usia 25-45 tahun.
Pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina disebabkan oleh tiga mekanisme dasar.
Tiga mekanisme dasar pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina ialah :
1.

Lubang atau robekan di lapisan saraf yang menyebabkan cairan vitreous masuk
dan memisahkan antara lapisan neuro retina dan lapisan epitel pigmen (Ablasio

2.

3.

retina regmatogenosa).
Traksi dari inflamasi dan membran fibrosa vaskular pada permukaan retina, yang
terikat pada vitreous (Ablasio retina traksional).
Pengeluaran eksudat kedalam ruang subretina. Eksudat ini berasal dari pembulu
darah retina, yang disebabkan oleh karena hipertensi, oklusi vena retina setralis,
vaskulitis, atau papiledema (Ablasio retina eksudatif).1

Epidemiologi
Diperkirakan prevalensi ablasio retina adalah 1 kasus dalam 10.000 populasi. Prevalensi
meningkat pada beberapa keadaan seperti miopia tinggi, afakia/pseudoafakia dan trauma.
Pada mata normal, ablasio retina terjadi pada kira-kira 5 per 100.000 orang per tahun di
Amerika Serikat. Insidens ablasio retina idiopatik berdasarkan adjustifikasi umur
diperkirakan 12,5 kasus per 100.000 per tahun atau 28.000 kasus per tahun. Ablasio retina
terjadi kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh penyebab operasi katarak, dan ini terdiri dari
sekitar 30 - 40 % dari semua ablasio retina yang dilaporkan.1-3
Anatomi dan Fisiologi Bola Mata dan Retina
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian
depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan
2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh tiga jaringan yaitu sklera, jaringan
uvea, dan lapisan ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai
susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membrane neurosensoris yang akan
merubah sinar menjadi ransangan pada saraf optic dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga
yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang
disebut ablasi retina.4
9

Gambar 1. Anatomi bola mata1

Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang
menerima rangsang cahaya. Retina merupakan selembar tipis jaringan saraf yang
semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding
bola mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus siliaris, dan
akhirnya di tepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serrata berada sekitar 6,5 mm di belakang
garis Schwalbe pada sistem temporal dan 5,7 mm di belakang garis ini pada sisi nasal.
Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan membrana Bruch, koroid, dan sklera.
Retina menpunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada kutub posterior.
Ditengah-tengah retina posterior terdapat makula. Di tengah makula terdapat fovea yang
secara klinis merupakan cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan
oftalmoskop. Retina berbatas dengan koroid dengan sel epitel pigmen retina dan terdiri atas
lapisan:1,4
1. Lapisan epitel pigmen
2. Lapisan fotoreseptor merupakan lesi terluar retina terdiri atas sel batang yang
mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
3. Membran limitan eksterna yang merupakan membrane ilusi.
10

4. Lapisan nucleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.
5. Lapisan pleksiform luar merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis sel
fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
6. Lapis nucleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel Muller.
7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps sel
bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua,
9. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju kearah saraf optik.
10. Membran limitan interna, merupakan membrane hialin antara retina dan badan kecil.
Retina mendapatkan suplai darah dari dua sumber yaitu koriokapiler yang
berada tepat di luar membrana Bruch, yang mensuplai sepertiga luar retina, termasuk
lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan epitel pigmen
retina, serta cabang-cabang dari arteri retina sentralis yang mensuplai dua per tiga
sebelah dalam.1,4

Gambar 2. Lapisan pada retina1

11

Mata berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks, dan sebagai
suatu transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mampu
mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh lapisan serat
saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya ke korteks penglihatan ossipital. Makula
bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna,
dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir
1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang keluar, dan hal ini
menjamin penglihatan yang paling tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor dihubungkan
ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan sistem pemancar yang lebih kompleks. Akibat dari
susunan seperti itu adalah bahwa makula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan
warna (penglihatan fototopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri
dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam
(skotopik).1,4

Definisi
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dengan
dari sel epitel retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran
Brunch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan
structural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial
untuk lepas secara embriologis.
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang koroid atau sel pigmen epitel akan
mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung
lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap. Ada tiga klasifikasi ablasio retina
yaitu ablasi retina regmatogenosa, ablasi retina eksudatif, ablasi retina traksi (tarikan).4
1. Ablasi retina regmatogenosa
Pada ablasi retina regmatogenosa dimana ablasi terjadi akibat adanya
robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen
epitel dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid
vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga
subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen
koroid.
Ablasi ini terjadi pada mata yang mempunyai faktor predisposisi untuk
terjadi ablasi retina. Trauma hanya merupakan faktor pencetus untuk
12

terjadinya ablasi retina pada mata yang berpotensi. Mata yang berpotensi
untuk terjadinya ablasi retina adalah mata dengan miopia tinggi, pasca
retinitis, dan retina yang memperlihatkan degenerasi di bagian perifer, 50%
ablasi yang timbul pada afakia terjadi pada tahun pertama.
Antara gejala yang timbul adalah terdapatnya gangguan penglihatan
yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. Terdapatnya riwayat
adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan. Ablasi retina yang
berlokalisasi di daerah superotemporal sangat berbahaya karenan dapat
mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasi retina bila
dilepasnya retina mengenai makula lutea.
Pada pemeriksaan fundoskopi akan terlihat retina yang terangkat
berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan
retina berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas
(ablasi) bergoyang. Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca.
Pada pupil terlihat adaya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun.
Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila terjadi neovaskular
glaucoma pada ablasi retina adalah pembedahan. Sebelum pembedahan,
pasien dirawat dengan mata ditutup. Pembedahan dilakukan secepat mungkin
dan sebaiknya antara 1-2 hari.
Pengobatan ditujukan untuk melekatkan kembali bagian retina yang
lepas dengan diatermi dan laser. Diatermi ini dapat berupa Diatermi
permukaan (surface diathermy) atau diatermi setengah tebal sklera (partial
penetrating diatermy) sesudah reseksi sklera. Hal ini dapat dilakukan dengan
atau tanpa mengeluarkan cairan subretina. Pengeluaran dilakukan di luar
daerah reseksi dan terutama di daerah di mana ablasi paling tinggi. Implan
diletakkan di dalam kantong sklera yang sudah direseksi yang akan
mendekatkan sklera dengan retina dan mengakibatkan pengikatan yang
terlokalisir. Sabuk (band) yang melingkar pada bola mata merupakan tindakan
yang mulai popular karena memperbaiki prognosis dan mobilisasi yang cepat.
Komplikasi dari operasi dapat terjadi miosis, edema kornea, pendarahan
orbital, penetrasi ocular dan injeksi intra-arteri.4
2. Ablasi retina eksudatif

13

Ablasi retina eksudatif adalah ablasi retina yang terjadi akibat


tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan
cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina
dan koroid (ekstra vasasi). Hal ini disebabkan penyakit koroid. Kelainan ini
dapat terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang uvea, idiopati,
toksemia gravidarum. Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi
kepala. Permukaan retina yang terangkat terlihat cincin. Penglihatan dapat
berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap
bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.4
3. Ablasi retina traksi (tarikan)
Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan
parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan
turun tanpa rasa sakit. Pada badan kaca, terdapat jaringan fibrosis yang dapat
disebabkan diabetes mellitus proliferatif, trauma akibat bedah atau infeksi.
Pengobatan ablasi akibat tarikan di dalam kaca dilakukan dengan melepaskan
tarikan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan kaca dengan tindakan yang
disebut sebagai vitrektomi.4
Etiologi dan Faktor Resiko
Etiologi yang terkait dengan ablasio retina adalah miopia , katarak removal, dan
trauma. Sekitar 40 - 50 % dari semua pasien dengan ablasio retina memiliki miopia. Ablasio
retina yang berhubungan dengan miopia cenderung terjadi pada pasien berusia 25 - 45 tahun,
sementara non-miopia cenderung terjadi pada orang tua. Pasien dengan miopia tinggi ( > 6
D ), lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, memiliki resiko seumur hidup 5
% dari ablasio retina. Ablasio retina terjadi kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh
penyebab operasi katarak, dan ini terdiri dari sekitar 30 - 40 % dari semua ablasio retina yang
dilaporkan. Faktor-faktor resiko yang terkait dengan ablasio retina dalam katarak removal
yang tidak disengajakan (accidental) adalah posterior kapsul pecah pada saat operasi, usia
muda, panjang aksial meningkat, ruang bilik mata depan yang dalam, dan jenis kelamin lakilaki. Kira-kira 10 - 20% dari ablasio retina dikaitkan dengan trauma mata langsung.3
Ablasio retina yang diakibatkan oleh trauma lebih sering terjadi pada orang yang lebih
muda. Meskipun tidak ada penelitian telah memperkirakan kejadian ablasio retina dalam
olahraga, olahraga tertentu (misalnya, tinju dan bungee jumping ) berhubungan dengan
peningkatan risiko terjadinya ablasio retina. Ada juga beberapa laporan bahwa Laser
14

capsulotomy dikaitkan dengan peningkatan resiko ablasio retina. Di Amerika Serikat,


kelainan struktural, operasi sebelumnya, trauma dan uveitis adalah faktor resiko utama untuk
ablasio retina. Miopia yang tinggi, trauma, kelainan struktural dan operasi sebelumnya adalah
faktor resiko utama di Asia.3
Patogenesis
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga
vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata yang matur dapat
berpisah :1,5
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi
dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif
(ablasio regmatogenosa).

Gambar 3. Ablasi Retina Regmatogenosa dengan horshoe tear


2. Terjadi akibat akumulasi cairan subretinal dengan tanpa adanya robekan retina
ataupun traksi pada retina. Pada penyakit vaskular, radang, atau neoplasma
retina, epitel pigmen, dan koroid, maka dapat terjadi kebocoran pembuluh
darah sehingga berkumpul di bawah retina. Walaupun jarang terjadi, bila
cairan berakumulasi dalam ruangan subretina akibat proses eksudasi, yang
dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan (ablasio retina eksudatif)

15

Gambar 4. Ilustrasi Ablasi Retina Eksudatif


3. Terjadi pembentukan yang dapat berisi fibroblas, sel glia, atau sel epitel
pigmen retina. Awalnya terjadi penarikan retina sensorik menjauhi lapisan
epitel di sepanjang daerah vaskular yang kemudian dapat menyebar ke bagian
retina midperifer dan makula. Pada ablasio tipe ini permukaan retina akan
lebih konkaf dan sifatnya lebih terlokalisasi tidak mencapai ke ora serata. Jika
retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina,
misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus dan
pendarahan vitreus (ablasio retina traksional).
Gejala Klinis
Pertimbangkan pasien yang khas mengalami ablasio retina, seperti pasien dengan
miopia tinggi dengan usia berkisar 50 tahun, baik laki-laki ataupun perempuan, yang tiba-tiba
mengalami gejala flashes dan floaters, yang biasanya terjadi secara spontan atau sesaat
setelah menggerakkan kepala. Lakukan penggalian secara lebih detail terhadap gejala yang
dialami. 6
1. Flashes (photopsia)
Ketika ditanya, pasien biasanya menjawab gejala ini bisa terjadi sepanjang
waktu, tetapi paling jelas saat suasana gelap. Gejala ini cenderung terjadi
terutama sebelum tidur malam. Kilatan cahaya (flashes) biasanya terlihat pada
lapangan pandang perifer. Gejala ini harus dibedakan dengan yang biasanya
muncul pada migrain, yang biasanya muncul sebelum nyeri kepala. Kilatan
cahaya pada migrain biasanya berupa garis zig-zag, pada tengah lapangan
pandang dan menghilang dalam waktu 10 menit. Pada pasien usia lanjut
dengan defek pada sirkulasi vertebrobasilar dapat mendeskripsikan tipe lain

16

fotopsia, yakni kilatan cahaya cenderung muncul hanya saat leher digerakkan
setelah membungkuk.
2. Floaters
Titik hitam yang melayang di depan lapangan pandang adalah gejala yang
sering terjadi, tetapi gejala ini bisa menjadi kurang jelas pada pasien gangguan
cemas. Tetapi jika titik hitamnya bertambah besar dan muncul tiba-tiba, maka
ini menjadi tanda signifikan suatu keadaan patologis. Untuk beberapa alasan,
pasien sering menggambarkan gejala ini seperti berudu atau bahkan sarang
laba-laba. Ini mungkin karena adanya kombinasi gejala ini dan kilatan cahaya.
Kilatan cahaya dan floaters muncul karena vitreus telah menarik retina,
menghasilkan sensasi kilatan cahaya, dan sering ketika robekan terjadi akan
terjadi perdarahan ringan ke dalam vitreus yang menyebabkan munculnya
bayangan bintik hitam. Ketika kedua gejala ini muncul, maka mata harus
diperiksa secara detail dan lengkap hingga ditemukan dimana lokasi robekan
retina. Terkadang, robekan kecil dapat menyebabkan perdarahan vitreus yang
luas yang menyebabkan kebutaan mendadak.
3. Shadows
Saat robekan retina terjadi, pasien seharusnya segera mencari pengobatan
medis dan pengobatan efektif. Namun beberapa pasien tidak segera mencari
pengobatan medis atau bahkan malah mengabaikan gejala yang dialami.
Memang dalam beberapa saat gejala akan berkurang, tetapi dalam kurun
waktu beberapa hari hingga tahunan akan muncul bayangan hitam pada
lapangan pandang perifer. Jika retina yang terlepas berada pada bagian atas,
maka bayangan akan terlihat pada lapangan pandang bagian bawah dan dapat
membaik secara spontan dengan tirah baring, terutama setelah tirah baring
pagi hari. Kehilangan penglihatan sentral atau pandangan kabur dapat muncul
jika fovea ikut terlibat. terlibat.6
Saat anamnesis, penting juga untuk menanyakan riwayat trauma, apakah terjadi
bebrapa bulan sebelum gejala muncul atau bertepatan dengan timbulnya gejala. Perhatikan
juga riwayat operasi, termasuk ekstraksi katarak, pengangkatan benda asing intraokuler atau
prosedur lain yang melibatkan retina. Tanyakan juga mengenai kondisi pasien sebelumnya,
seperti pernah atau tidak menderita uveitis, perdarahan vitreus, ambliopia, glaukoma, dan
retinopati diabetik. Riwayat penyakit mata dalam keluarga juga penting untuk diketahui. 7
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
17

Pemeriksaan menyeluruh diindikasikan pada kedua mata. Pemeriksaan pada mata yang
tidak bergejala dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab dari ablasio retina pada mata
yang lainnya.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Lakukan pemeriksaan segmen luar untuk menilai tanda-tanda trauma


Periksa pupil dan tentukan ada atau tidaknya defek pupil aferen
Periksa ketajaman penglihatan
Periksa konfrontasi lapangan pandang
Periksa metamorfopsia dengan tes Amsler grid
Pemeriksaan slit lamp untuk melihat ada atau tidaknya pigmen pada vitreus

g.
h.

(Shafers sign)
Periksa tekanan bola mata
Lakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi (pupil harus dalam keadaan
dilatasi)
Pada oftalmoskopi, retina yang terlepas akan terlihat putih dan edema dan

kehilangan sifat transparansinya. Pada ablasio regmatogen, robekan retina berwarna merah
terang dapat terlihat. Biasanya muncul pada setengah bagian atas retina pada regio degenerasi
ekuator. Pada ablasio tipe traksi, ablasio bullosa akan terlihat bersamaan dengan untaian
retina berwarna abu-abu. Pada tipe eksudatif akan terlihat adanya deposit lemak massif dan
biasanya disertai dengan perdarahan intraretina.
Pada pemeriksaan Ultrasound mata, jika retina tidak dapat tervisualisasi karena
katarak atau perdarahan, maka ultrasound A dan B-scan dapat membantu mendiagnosis
ablasio retina dan membedakannya dengan ablasio vitreus posterior. USG dapat membantu
membedakan regmatogen dari non regmatogen. Pemeriksaan ini sensitif dan spesifik untuk
ablasio retina tetapi tidak dapat membantu untuk menentukan lokasi robekan retina yang
tersembunyi.8
Tatalaksana
Tujuan utama bedah ablasi adalah untuk menemukan dan memeperbaiki semua
robekan retina, digunakan krioterapi atau laser untuk menimbulkan adhesi antara epitel
pigmen dan retina sensorik sehingga mencegah influks cairan lebih lanjut kedalam ruang
subretina, mengalirkan cairan subretina ke dalam ke luar, dan meredakan traksi vitreoretina.1,9
Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah pembedahan. Prinsip bedah pada ablasio
retina yaitu :9
1.
2.

Menemukan semua bagian yang terlepas


Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang masing-masing daerah retina yang
terlepas.

18

3.

Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu yang cukup untuk


menghasilkan adhesi dinding korioretinal yang permanen pada daerah subretinal.

Pada pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara :


1. Scleral buckling
Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina rematogenosa terutama
tanpa disertai komplikasi lainnya. Prosedur meliputi lokalisasi posisi robekan retina,
menangani robekan dengan cryoprobe, dan selanjutnya dengan scleral buckle (sabuk).
Sabuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Ukuran dan bentuk
sabuk yang digunakan tergantung posisi lokasi dan jumlah robekan retina. Pertama
tama dilakukan cryoprobe atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar
dan epitel pigmen retina. Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada
robekan retina sehingga terjadi penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini
akan menyebabkan cairan subretinal menghilang secara spontan dalam waktu 1-2 hari. 1,9

Gambar 5. Spons silikon dijahit pada bola mata untuk menekan sklera di atas robekan retina setelah
drainase cairan sub retina dan dilakukan crioterapi

Gambar 6. Penekanan yang didapatkan dari spons silikon, retina sekarang melekat kembali dan
traksi pada robekan retina oleh vitreus dihilangkan

2. Retinopeksi pneumatik
Retinopeksi pneumatik merupakan metode yang juga sering digunakan pada
ablasio retina regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada bagian superior
retina. Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke
19

dalam rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina dan mencegah
pasase cairan lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan dapat ditutupi oleh gelembung
gas, cairan subretinal biasanya akan hilang dalam 1-2 hari. Robekan retina dapat juga
dilekatkan dengan kriopeksi atau laser sebelum gelembung disuntikkan. Pasien harus
mempertahankan posisi kepala tertentu selama beberapa hari untuk meyakinkan
gelembung terus menutupi robekan retina.9

Gambar 7. Setelah pengangkatan gel vitreus pada drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon inert
disuntikan ke dalam rongga vitreus

3. Vitrektomi
Merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes, dan juga
pada ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau perdarahan vitreus. Cara
pelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada dinding bola mata kemudian
memasukkan instruyen ing cavum vitreous melalui pars plana. Setelah itu dilakukan
vitrektomi dengan vitreus cutre untuk menghilangkan berkas badan kaca (viteuos stands),
membran, dan perleketan perleketan. Teknik dan instruyen yang digunakan tergantung tipe
dan penyebab ablasio. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkan kembali dengan
teknik-teknik bedah mata modern, meskipun kadang- kadang diperlukan lebih dari satu kali
operasi.9
Prognosis
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula sebelum dan sesudah
operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula maka akan
sulit menghasilkan hasil operasi yang baik, tetapi dari data yang ada sekitar 87 % dari operasi
yang melibatkan makula dapat mengembalikan fungsi visual sekitar 20/50 lebih kasus
dimana makula yang terlibat hanya sepertiga atau setengah dari makula tersebut.
Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula dan perlangsungannya kurang
dari 1 minggu, memiliki kemungkinan sembuh post operasi sekitar 75 % sedangkan yang
perlangsungannya 1-8 minggu memiliki kemungkinan 50 %.
20

Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan dengan ablasio retina yang
melibatkan makula, kemampuan visualnya tidak akan kembali sampai level sebelumnya
dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan adanya beberpa faktor seperti irreguler astigmat
akibat pergeseran pada saat operasi, katarak progresif, dan edema makula. Komplikasi dari
pembedahan misalnya adanya perdarahan dapat menyebabkan kemampuan visual lebih
menurun.9
Komplikasi
Jika pengobatan tertunda, perlepasan retina secara parsial dapat berlanjut sampai
seluruh retina terlepas. Ketika hal ini terjadi, penglihatan normal tidak dapat dipulihkan, dan
penurunan ketajaman visual atau kebutaan dapat terjadi pada mata yang terkena. Komplikasi
lain dapat mencakup perdarahan ke dalam mata (perdarahan vitreous), glaukoma (sudut
tertutup), peradangan, infeksi, dan jaringan parut akibat operasi. Kehilangan persepsi cahaya
juga dapat terjadi.
Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami komplikasi,
maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati proliferatif, PVR). PVR
dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina lebih lanjut. 4,10
A. Definisi Ptisis Bulbi
Merupakan suatu keadaan dengan gambaran klinis berupa perlunakan dari bola mata,
penurunan tekanan intraokular dengan kornea yang tampak keruh dan rata serta tidak
memiliki fungsi untuk melihati. Ptisis bulbi juga didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
bola mata mengecil, tidak bisa melihat, atau keadaan tidak berfungsinya mataError:
Reference source not found1. Kondisi ini merupakan kondisi akhir dari penyakit pada mata
yang tidak dapat diperbaiki lagi.
Sinonim dari ptisis bulbi adalah atropi bulbi atau shrunken eye. Atropi bulbi sendiri
terdiri dari 3 jenis :
a. Atropi bulbi tanpa penyusutan
Ukuran dan bentuk dari bola mata adalah normal, namun pada pemeriksaan dalam mata
ditemukan kelainan seperti katarak, ablatio retina, sinekia dan atau membran siklitik.
b. Atropi bulbi dengan penyusutan
Bola mata lebih kecil dengan tekanan bola mata yang rendah (hipotoni), bagian bilik mata
depan yang datar (flat), edema kornea dengan vaskularisasi, fibrosis dan keruh.
c. Atropi bulbi dengan disorganisasi struktur dalam mata (ptisis bulbi)

21

2/3 bagian dari bola mata memiliki ukuran yang normal dengan penebalan sklera,
disorganisasi struktur bagian dalam mata, kalsifikasi kornea, lensa dan retina. Dapat
ditemukan pendarahan spontan, inflamasi dan pembentukan tulang baru pada jaringan
uvea karena kalsifikasi. Kondisi ini merupakan resiko terjandinya keganasan pada mata
dan pada bagian mata ini, fungsi penglihatannya menurun.
B. Etiologi
Ptisis bubi merupakan keadaan akhir dari sejumlah penyakit okular dengan penyebab
yang bervariasiError: Reference source not found. Penyebab terbanyak adalah peradangan
non infeksi (28%), infeksi (23%), trauma benda tajam (17%), trauma benda tumpul (9%),
post tindakan pembedahan atau operasi (9%).

C. Faktor Resiko
Faktor resiko yang penting dan berperan dalam terjadinya ptisis bulbi adalah :
1. Kelainan kongenital anatomi bola mata sejak lahir seperti mikropthalmia,
anopthalmia.
2. Kegagalan prosedur pembedahan seperti operasi katarak, glaukoma dan retina.
3. Trauma pada mata seperti penetrasi benda tajam, trauma tumpul, trauma kimia dan
trauma suhu.

22

4. Infeksi dan inflamasi seperti keratitis, uveitis dan endoftalmitis.


5. Keganasan intraokular seperti melanoma koroidal, retinoblastoma.
D. Patomekanisme
Hipotonia atau penurunan tekanan intraokular pada bola mata merupakan mekanisme
yang paling umum yang terjadi pada ptisis bulbi ii. Akuos humor dihasilkan oleh sel epitel non
pigmen dari korpus siliaris. Cairan ini tidak mengandung protein (protein-free fluid) yang
menopang nutrisi struktur internal bola mata seperti lensa dan kornea. Tidak terdapatnya
protein pada cairan ini disebabkan karena adanya blood-aquos barrier yang dibentuk oleh
hubungan yang erat antara sel-sel epitel non pigmen dari korpus siliar sehingga tidak
memungkinkan protein yang memiliki berat molekul besar untuk lewat pada saat proses
pembentukan akuos humor terjadi
Jumlah dan kualitas dan kejernihan dari cairan ini harus tetap sehingga tekanan
intraokular teraga dan fungsi penglihatan tidak terganggu. Korpus siliaris dan blood-aquos
barrier harus dalam keadaan baik dan optimal untuk tujuan tersebut. Insufsiensi atau
kekurangan cairan ini dapat terjadi ada keadaan kerusakan corpus siliaris karena tindakan
pembedahan, trauma, robekan siliokoroidal, peningkatan pengeluaran akuos humor melalui
uveoskleral atau disfungsi dari korpus siliar karena infeksi dan inflamasi berat. Semua
kondisi ini dapat menyebabkan hipotoni pada bola mataError: Reference source not found.
Hipotoni pada bola mata dapat bersifat reversibel atau sementara, namun pada kondisi
hipotoni yang kronik dan progresif akan menyebabkan kerusakan pada struktur dalam mata
berupa kekeruhan pada lensa, atropi atau penyusutan korneosklera, dan atropi neuronal yang
akan menjadi permanen. Keadaan ini yang disebut dengan ptisis bulbi; keadaan dimana bola
mata mengalami penyusutan dan kehilangan fungsi penglihatan yang sifatnya permaneniii.
Tekanan intraokular 6 mmHg tergolong dalam hipotoni namun gangguan penglihatan
yang berat terjadi jika tekanan intraokular kurang dari 5 mmHg. Hipotoni sementara
merupakan kondisi self-limiting atau akan membaik sendiri, namun jika disertai dengan
kerusakan blood-aquos barrier, inflamasi hebat, edema dan infeksi maka hipotoni intraokular
akan menetapError: Reference source not found. Mekanisme terjadinya ptisis bulbi daat
digambarkan sebagai berikut :
E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan curiga ptisis bulbi adalah
USG, CT scan orbita, MRI orbita. Pemeriksaan darah lengkap, gula darah dan pemeriksaan
lainnya yang dapat membantu mendeteksi penyakit lain sebagai penyebab dasar juga dapat
dilakukan.
23

F. Penatalaksanaan
Ptisis bulbi merupakan suatu keadaan yang dari segi fungsi tidak dapat diperbaiki lagi.
Terapi yang diberikan lebih bersifat suportif dan paliatif terutama karena pasien dengan ptisis
bulbi memiliki stress psikologi yang bermakna karena kondisi fisiknya. Terapi pembedahan
dan penggantian dengan bola mata palsu ditujukan untuk memperbaiki kondisi psikologis dan
sosial dari pasienError: Reference source not found.
Jenis pembedahan yang dapat dilakukan pada kondisi ini adalah eviserasi atau enuklease.
Eviserase dan enukleasi merupakan proses pembedahan yang dapat menyebabkan beban
psikologis sendiri bagi pasien sehingga membutuhkan persiapan yang cukup. Eviserasi
merupakan suatu prosedur pembedahan untuk mengeluarkan semua isi bola mata melalui
insisi sklera atau kornea dengan meninggalkan konjunctiva, otot-otot mata dan jaringan
periorbita. Sklera yang diinsisi akan dijahit kembali. Enukleasi merupakan jenis pembedahan
dengan mengeluarkan semua bola mata dengan pemotongan pada otot-otot mata dan saraf
optikus. Eviserasi memiliki segi estetika lebih dari enukleasi dan dengan eviserasi, kejadian
simpatetik opthalmika lebih jarang terjadiiv.
Indikasi dilakukan eviserasi adalah pada semua keadaan seperti trauma berat, glaukoma,
endopthalmitis dan uveitis. Indikasi enukleasi biasanya pada tumor intraokular terutama
suspek keganasan, simpatetik opthalmica, ptisis bulbi yang berat dan endopthalmitis yang
resisten.
G. Prognosis dan Komplikasi
Hampir semua ptisis bulbi menjadi buta permanen, nyeri dan secara kosmetik sulit
diterima oleh pasien.
Komplikasi yang bisa terjadi berupa ulkus kornea dan perforasi, pendarahan mata spontan,
inflamasi okular dan periokular (panopthalmitis) dan jika disebabkan keganasan maka dapat
terjadi transformasi keganasan. Komplikasi lain yang cukup jarang terjadi adalah simpatetik
oftalmika yaitu suatu keadaan uveitis granulomatosa di mata lainnya (yang sehat) akibat mata
yang satunya mengalamai kerusakan akibat trauma tembus atau setelah pembedahan yang
merusak korpus siliar

24

PEMBAHASAN
Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang dengan keluhan mata kiri kabur secara tibatiba sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan kabur dirasakan semakin memburuk, pasien mengeluh
pandangannya gelap dan seperti melihat serabut-serabut cahaya yang mengganggu. Selain itu
pasien mengatakan bahwa terkadang mata kanannya perih dan cepat lelah. 3 bulan
sebelumnya pasien mengeluh melihat percikan darah yang terjadi secara tiba-tiba saat pasien
sedang bekerja. Keluhan tidak disertai dengan mata merah, mata tidak gatal dan tidak berair.
Beberapa tahun yang lalu pasien memiliki riwayat kecelakaan lalu lintas dan kepala pasien
terbentur.
Ablasio retina merupakan kelainan retina dimana lapisan sel kerucut dan sel batang
terpisah dari lapisan sel epitel pigmen. Gejala yang ditimbulkan biasanya berupa fotopsia,
yaitu melihat adanya kilatan-kilatan cahaya beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum
ablasi, selain itu ada juga gejala floaters yang merupakan gambaran titik hitam yang
melayang di depan lapangan pandang. Pada kasus ini, pasien mengeluhkan adanya keadaan
fotopsia dimana dirinya merasa seperti melihat serabut-serabut cahaya. Pasien juga
mengeluhkan pandangannya gelap, seperti pada gejala shadows.
Pada pemeriksaan fisik mata kiri pasien didapatkan visus 1/60, persepsi warna baik.
Selain itu didapatkan hasil pemeriksaan lapang pandang mata kiri yang menyempit. Pada
pemeriksaan funduskopi pasien dengan ablasio retina biasanya didapatkan gambaran retina
yang terlepas dan akan terlihat putih, edema serta kehilangan sifat transparansinya. Pada
ablasio regmatogen, robekan retina berwarna merah terang dapat terlihat. Biasanya muncul
pada setengah bagian atas retina pada regio degenerasi ekuator. Pada ablasio tipe traksi,
ablasio bullosa akan terlihat bersamaan dengan untaian retina berwarna abu-abu. Pada tipe
eksudatif akan terlihat adanya deposit lemak massif dan biasanya disertai dengan perdarahan
intraretina.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien ini diduga menderita ablasio
retina rhegmatogen pada mata kirinyaa. Ablasio rhegmatogen adalah ablasi yang terjadi
akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen
epitel dengan retina. Pada kasus ini, pendarahan dapat terjadi karena adanya robekan
pembuluh darah retina. Dengan demikian, diagnosis ablasio retina traksional dan ablasio
retina eksudasi dapat disingkirkan karena proses terjadinya berbeda dengan ablasio retina
rhegmatogen sesuai dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang didapatkan, walaupun
25

gejala nya tak jauh berbeda. Ablasio retina traksional adalah lepasnya jaringan retina yang
terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca yang biasanya disebabkan oleh
retinopati diabetik proliferative (pada pasien tidak didapatkan riwayat diabetik), sedangkan
ablasio retina eksudatif adalah ablasi retina yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di
bawah retina dan mengangkat retina, biasanya pada koroiditis.
Terapi yang di berikan baik pre maupun post operasi pada pasien adalah obat-obatan
seperti ciprofloksasin dan cendoxitrol, serta sulfas atropine tetes. Antibiotik dan
kortikosteroid diberikan untuk mencegah terjadi nya infeksi dan inflamasi terutama setelah
operasi, sedangkan sulfas atropine merupakan midriatikum yang bertujuan untuk
merelaksasikan otot-otot iris, sehingga dapat mengistirahatkan mata. Tindakan pembedahan
bertujuan untuk menemukan dan memeperbaiki semua robekan retina, digunakan krioterapi
atau laser untuk menimbulkan adhesi antara epitel pigmen dan retina sensorik sehingga
mencegah influks cairan lebih lanjut kedalam ruang subretina, mengalirkan cairan subretina
ke dalam ke luar, dan meredakan traksi vitreoretina.
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula sebelum dan sesudah
operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula maka akan
sulit menghasilkan hasil operasi yang baik. Komplikasi juga dapat terjadi jika pengobatan
tertunda, perlepasan retina secara parsial dapat berlanjut sampai seluruh retina terlepas.
Ketika hal ini terjadi, penglihatan normal tidak dapat dipulihkan, dan penurunan ketajaman
visual atau kebutaan terjadi pada mata yang terkena.
Saat sebelum operasi, pasien mengeluhkan bahwa pengelihatannya gelap dan kabur.
Setelah dioperasi, pasien mengatakan bahwa pengelihatannya sudah tidak gelap dan pasien
merasa keadaannya lebih baik dari sebelumnya, namun masih tetap kabur. Oleh karena itu,
prognosis pasien ini kurang baik akan tetapi dibutuhkan waktu beberapa hari untuk
mengembalikan fungsi penglihatan menjadi baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. Oftalmologi umum (General ophthalmology)
edisi 17. EGC: Jakarta; 2013. p. 12-199.

26

2. Chang Huan J. In : Retinal Detachment. The Journal Of The American Medical


Association. 2012.
3. Kwon O. W., Roh M. I., Song J. H. Retinal Detachment and Proliferative
Victreoretinopathy. In. Retinal Pharmacotheraphy. Britain : Saunders-Elsevier. 2010.
Page 148-51.
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. 2013. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. James B.,dkk. Ablasi retina. In: Oftalmologi. 9th ed. Erlangga: Ciracas Jakarta; 2006:
117-121.
6. Galloway NR, Amoaku WMK, Galloway PH, et al. In : Common Eye Disease And
Their Management. 3rd ed. London : Springer-Verlag. 2006. Page 103-10.
7. Pandya HK. In : Retinal Detachment. 2013. (Cited on 2013). Available from URL
http://emedicine.medscape.com/article/798501-overview
8. Chern KC. In : Emergency Opthalmology A Rapid Treatment Guide. New York :
McGraw-Hill. 2007.
9. American Academy Ophtalmology. Retina and Vitreous: Section 12 2007-2008.
Singapore: LEO; 2008. p. 9-299.
10. Lang, GK. Ophtalmology, A Pocket Textbook Atlas. 2nd Edition. 2006. Thieme.
Germany. p. 305-344.
11. . Munroe G, Miller P, et al. Eyeball: Phtisis Bulbi [online article]. Diakses tanggal 13
Mei 2014 dari http://www.vetstream.com/equis/Content/Disease/dis00993
12. . Friedman N, Kaiser P. Phtisis Bulbi dalam Essential of Opthalmology. Saunders
Elsevier. 2007;Hal:124.
13. . Sehu K, Lee W,et al. Opthalmic Pathology An Ilustrated Guide for Clinicians.
Blackwell Publishing. United Kingdom. 2005;Hal 209.
14. . Watson P.G, Pandova L.J. Prolonged Ocular Hypotension: Would Ciliary Tissue
Transplantation Help. Cambridge Opthalmology Symposium Journal. Mc Millan
Publisher. United Kingdom. 2009;Hal:1-2.
15. . Coleman DJ. Evaluation of Ciliary Body Detachment in Hypotony. Retina. 1995; 15:
31218.
16. . Soares I, Franca V. Eviseration and Enucleation. Seminars in Opthalmology.
Informa Healthcare Journal. United Kingdom. 2010;Hal 1-3.
17. . Iroth R.A.M. Oftalmia Simpatika [online artikel]. 2005;Hal:1.
18. . Skorin L. Treatment for Blind and Seeing Painful Eyes. Clinical Journal. 2004;Hal:12.

27

ii

iii

iv

. Kashyap S, Meel R, et al. Phtisis Bulbi in Retinoblastoma [original article]. Clinical and
Experimental Opthalmology Journal. 2011;Hal:106.
. Sehu K, Lee W,et al. Opthalmic Pathology An Ilustrated Guide for Clinicians.
Blackwell Publishing. United Kingdom. 2005;Hal 209.
. Coleman DJ. Evaluation of Ciliary Body Detachment in Hypotony. Retina. 1995; 15:
31218.
. Soares I, Franca V. Eviseration and Enucleation. Seminars in Opthalmology. Informa
Healthcare Journal. United Kingdom. 2010;Hal 1-3.