Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmatNya Kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah FIQIH yang berjudul HIBAH
HADIAH DAN SADAQAH DALAM PANDANGAN ISLAM .
Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan
dari beberapa pihak, untuk itu melalui kata pengantar ini penulis mengharapkan kritik dan saran
demi kesempurnaan makalah ini. Dan tidak pula penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dosen mata kuliah FIQIH.
Sebagai bantuan dan dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis
dapat diterima dan menjadi amal sholeh dan diterima Allah sebagai sebuah kebaikan. Semoga
makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan semua pembaca pada umumnya .

Penulis,

1. WAKAF
A. DASAR HUKUM WAKAF
Adapun yang dinyatakan sebagai dasar hukum wakaf oleh para ulama, Al Quran surat Al Hajj:
77
Yang artinya:hai orang orang yang beriman,rukuklah kamu, sujudlah kamu,sembahlah Tuhanmu
dan perbuatlah kebajikan,supaya kamu mendapat kemenangan.
B. KETENTUAN-KETENTUAN WAKAF
Menurut Ahmad Azhar Basyir berdasarkan hadits yang berisi tentang wakaf Umar ra maka
diperoleh ketentuan-ketentuan sbb:
1.Harta wakaf harus tetap (tidak dapat dipindahkan kepada orang lain), baik dijualbelikan,
dihibahkan, maupun diwariskan.
2.Harta wakaf terlepas dari pemilikan orang yang mewakafkannya.
3.Tujuan wakaf harus jelas (terang) dan termasuk perbuatan baik menurut ajaran agama Islam.
4.Harta wakaf dapat dikuasakan kepada pengawas yang memiliki hak ikut serta dalam harta
wakaf sekadar perlu dan tidak berlebihan.
5.Harta wakaf dapat berupa tanah dan sebagainya, yang tahan lama dan tidak musnah sekali
digunakan.
C. RUKUN DAN SYARAT WAKAF
Syarat-syarat wakaf:
1.Wakaf tidak dibatasi dengan waktu tertentu sebab perbuatan wakaf berlaku untuk selamanya,
2. Tujuan wakaf harus jelas, seperti mewakafkan sebidang tanah untuk masjid dsb. Apabila
seseorang mewakafkan sesuatu kepada hukum tanpa menyebut tujuannya,
3. Wakaf harus segera dilaksanakan setelah dinyatakan oleh yang mewakafkan, tanpa
digantungkan pada peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang sebab pernyataan
wakaf berakibat lepasnya hak milik bagi yang mewakafkan.
4. Wakaf merupakan perkara yang wajib dilaksanakan tanpa adanya hak khiyar (membatalkan
atau melangsungkan wakaf yang telah dinyatakan) sebab pernyataan wakaf berlaku seketika dan
untuk selamanya.
D. MACAM-MACAM WAKAF
Menurut para ulama secara umum wakaf dibagi menjadi dua bagian:
1. Wakaf ahli (khusus)
Wakaf ahli disebut juga wakaf keluarga atau wakaf khusus. Maksud wakaf ahli ialah wakaf yang
ditujukan kepada orang-orang tertentu, seorang atau terbilang, baik keluarga wakif maupun
orang lain.
2. Wakaf khairi
Wakaf khairi ialah wakaf yang sejak semula ditujukan untuk kepentingan-kepentingan umum
dan tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu.

E. SYARAT-SYARAT WAKAF
Dalam wakaf terkadang wakif mensyaratkan sesuatu, baik satu maupun berbilang. Wakif
dibolehkan menentukan syarat-syarat penggunaan harta wakaf, syarat-syarat tersebut harus
dihormati selama sejalan dengan ajaran agama Islam.
F. MENUKAR DAN MENJUAL HARTA WAKAF
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra yang
menceritakan tentang wakaf bahwa wakaf tidak boleh dijual, diwariskan dan dihibahkan.
G. PENGAWASAN HARTA WAKAF
Pada dasarnya pengawasan harta wakaf merupakan hak wakif, tetapi wakif boleh menyerahkan
pengawasan kepada yang lain, baik lembaga infaq

2.SADAKAH
1. Pengertian Shadaqah dan Hukumnya
Shadaqah ialah pemberian sesuatu kepada seseorang yang membutuhkan, dEmgan mengharap
ridha Allah semata. Dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut sedekah.
Hukum shadaqah ialah sunnat : hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT, sebagai berikut :
Artinya : "Dan bersedekahlah kepada Kami, sesungguhnya Allah memberikan balasan kepada
orang-orang yang bersedekah" (Yusuf : 88)
Allah juga berfirman sebagai berikut :
Artinya : "Dan kamu tidak menafkahkan, m~/ainkan karena mencari keridhaan Allah dan sesuatu
yang kamu belanjakan, kelak akan disempurnakan ba/asannya sedang kamu sedikitpun tidak
akan dianiaya". (QS. AI Baqarah : 272) /
Shadaqah merupakan salah satu amal shaleh yang tidak akan terputus pahalanya, seperti sabda
Rasulullah SAW:
Artinya : "Apabila seseorang te/ah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali
tiga perkara, shadaqahjariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendo'akan
kedua orang tuanya". (HR. Muslim)
Pemberian shadaqah kepada perorangan lebih utama kepada orang yang terdekat dahulu,
yakni sanak famili dan keluarga, anak-anak yatim tetangga terdekat, teman sejawat, dan
seterusnya.
2. Rukun Shadaqah
Rukun shadaqah dan syaratnya masing-masing adalah sebagai berikut :
a. Orang yang memberi, syaratnya orang yang memiliki benda itu dan berhak untuk
mentasharrufkan ( memperedarkannya )
b. Orang yang diberi, syaratnya berhak memiliki. Dengan demikian tidak syah memberi kepada.

anak yang masih dalam kandungan ibunya atau memberi kepada binatang, karena keduanya
tidak berhak memiliki sesuatu
c. Ijab dan qabul, ijab ialah pernyataan pemberian dari orang yang memberi sedangkan qabul
ialah pernyataan penerimaan dari orang yang menerima pemberian .
d. Barang yang diberikan, syaratnya barang yang dapat dijual
Perbedaan shadaqah dan infak, bahwa shadaqah lebih bersifat umum dan luas, sedangkan infak
adalah pemberian yang dikeluarkan pad a waktu menerima rizki atau karunia Allah. Namun
keduanya memiliki kesamaan, yakni tidak menentukan kadar, jenis, maupun jumlah, dan
diberikan dengan mengharap ridha Allah semata.
Karena istilah shadaqah dan infak sedikit sekali perbedaannya, maka umat Islam lebih cenderung
menganggapnya sama, sehingga biasanya ditulis infaq I shadaqah.
Bershadaqah haruslah dengan niat yang ikhlas, jangan ada niat ingin dipuji (riya) atau dianggap
dermawan, dan jangan menyebut-nyebut shadaqah yang sudah dikeluarkan, apalagi menyakiti
hati si penerima. Sebab yang demikian itu dapat menghapuskan pahala shadaqah. Allah
berfirman dalam surat AI Baqarah ayat 264 :
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan ( paha/a) shadaqahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti ( perasaan di penerima ), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia ..." (QS. AI Baqarah : 264)

3.HIBAH

1. Pengertian dan Hukumnya


Menurut bahasa hibah artinya pemberian. Sedangkan menurut istilah hibah ialah
pemberian . sesuatu kepada seseorang secara cuma-cuma, tanpa mengharapkan apa-apa.
Hibah dapat disebutjuga hadiah.
Hukum hibah adalah mubah ( boleh ), sebagaimana sabda Rasulullah sebagai berikut :
Artinya : "Dari Khalid bin Adi sesungguhnya Nabi SA W telah bersabda "siapa yang
diberi kebaikan oleh saudaranya dengan tidak berlebih-Iebihan dan tidak karena diminta
maka hendaklah diterima jangan ditolak. Karena sesungguhnya yang demikian itu
merupakan rizki yang diberikan oleh Allah kepadanya". (HR. Ahmad)
2. Rukun Hibah

Rukun hibah ada empat, yaitu :


a. Pemberi hibah ( Wahib )
b. Penerima hibah ( Mauhub Lahu ) c. Barang yang dihibahkan .
c. d. Penyerahan ( Ijab Qabul )
d.
3. Ketentuan Hibah
Hibah dapat dianggap syah apabila pemberian itu sudah mengalami proses serah terima.
Jika hibah itu baru diucapkan dan belum terjadi serah terima maka yang demikian itu
belum termasuk hibah.
Jika barang yang dihibahkan itu telah diterima maka yang menghibahkan tidak boleh
meminta kembaJi kecuali orang yang memberi itu orang tuanya sendiri (ayah/ibu) kepada
anaknya
Pengertian hibah
Dalam Al-Quranul Karim terdapat firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 38
Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik.
Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".
Dan menurut terminology syariat Islam:




Artinya:
Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan
secara sukarela.
Menurut ulama hanabilah :







Artinya:
Memberikan kepemilikan atas barang yang dapat ditasharuf-kan berupa harta yang jelas atau
tidak jelas karena adanya uzur untuk mengetahuinya, berwujud, dapat diserahkan tanpa adanya
kewajiban, ketika masih hidup, tanpa adanya pengganti yang dapat dikategorikan sebagai
hibah menurut adat dengan hafazh atau tamlik (menjadikan milik.
2. Landasan hibah
1) Al-Quran
Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orangorang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan)
2) As-Sunnah

..
..
Artinya:
Dari Abu Hurairah, Abdullah Ibn Umar, dan Siti Aisyah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda,
saling memberi hadiahlah kamu semua (maka) kamu akan saling mencintai.
3. Rukun Hibah
Menurut Ulama Hanafiyah rukun Hibah Ijab dan Qabul. Dalam Khitab Al-Mabsuth
rukun hibah adalah Ijab and Qabul dan Qadhu (pemegang dan penerima).
Menurut Jumhur Ulama rukun Hibah ada empat:
1. Wahib (pemberi)

2. Mauhub Lah (penerima)


3. Mauhub (barang yang dihibahkan)
4. Shighat (Ijab dan Qabul)
4. Syarat Hibah
Hibah menghendaki adanya penghibah, orang yang diberi
dihibahkan:
1. Syarat-syarat penghibah
-

Penghibah memiliki apa yang dihibahkan

Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan

Penghibah itu orang dewasa, berakal dan rasyid

Tanpa ada unsure paksaan

2. Syarat-syarat bagi orang yang diberi hibah


-

Berhak memiliki dan benar-benar ada di waktu di beri hibah

Memegang hibah atas seizin Wahib

3. Syarat-syarat barang yang dihibahkan


-

Harus ada waktu hibah

Berupa harta yang kuat dan bermanfaat

Milik sendiri

Dapat dimiliki dzatnya

Tidak berhubungan dengan tempat lain/terpisah

hibah dan sesuatu yang

5. Hukum (ketetapan) Hibah


a. Hukum hibah
Dasar dari ketetapan hibah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhubnya
(penerima hibah) tanpa adanya pengganti
b. Sifat hukum Hibah
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim.
Dengan demikian, dapat dibatalkan oleh pemberi.
Akan tetapi, dihukumi makruh sebab perbuatan itu terkesan termasuk menghina si
pemberi hibah. Selain itu, yang diberi hibah harus ridha.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan, jika sudah dipegang
tidak boleh dikembalikan, kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil, jika
belum bercampur dengan hak orang lain.
Ulama Hanabilah dan Syafiiyah berpendapat bahwa hibah tidak dapat dikembalikan
kecuali pemberian orang tua kepada anaknya.


Artinya:
Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya.
6. Pemberian pada anak menjelang meninggal (Athiyah)

Ulama sepakat bahwa bagi orang tua disunahkan menyamakan pemberian kepada anakanaknya. Hukumnya makruh melebihkan pemberian kepada salah satu anak saja.

Jumhur ulama berpendapat:


Bahwa persamaan yang dimaksud adalah menyamakan pemberian antara anak laki-laki
dan perempuan
Ulama Hanabilah dan Muhammad dari golongan Hanafiyah berpendapat:
Bahwa persamaan pemberian orang tua kepada anaknya berdasarkan ketetapan waris,
dengan demikian seorang anak laki-laki mendapat dua bagian anak peremuan.

4.HADIAH
1. Pengertian dan Hukumnya
Hadiah adalah pemberian sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk mmnuliakan atau
memberikan penghargaan. Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar saling
memberikan hadiah. Karena yang demikian itu dapat menumbuhkan kecintaan dan saling
menghormati antara sesama. Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : "Hendaklah kalian saling memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling
menyayangi " ( HR Abu Ya'la )
Hukum nadiah adalah boleh ( mubah ). Nabi sendiripun juga sering menerima dan memberi
hadiah kepada sesama muslim, sebagaimana sabdanya:
Artinya: "Rasulullah SAWmenerima hadiah dan beliau selalu membalasnya". (HR. AI
Bazzar)
2. Rukun Hadiah
Rukun hadiah dan rukun hibah sebenarnya sama dengan rukun shadaqah, yaitu :
a. Orang yang memberi, syaratnya orang yang memiliki benda itu dan yang berhak
mentasyarrufkannya
b. Orang yang diberi, syaratnya orang yang berhak memiliki .
c. Ijab dan qabul
d. Barang yang diberikan, syaratnya barangnya dapat dijual
d. Hikmah dan Manfaat Shadaqah, Hibah dan Hadiah
1. Sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT. yang diwujudkan dengan memberi
sebagian harta kepada orang lain

2. Dapat menciptakan rasa kasih sayang, kekeluargaan dan persaudaraan yang lebih intim
antara pemberi dan penerima maupun perorangan.
D. Perbedaan Shadaqah, Hibah, dan Hadiah
Shadaqah ditujukan kepada orang terlantar, sedangkan hadiah ditujukan kepada orang yang
berprestasi. Shadaqah untuk membantu orang-orang terlantar memenuhi kebutuhan pokoknya,
sedangkan hadiah adalah sebagai kenang-kenangan dan penghargaan kepada orang yang
dihormati.
Shadaqah adalah wajib dikeluarkan jika keadaan menghendaki sedangkan hadiah hukumnya
mubah (boleh).
A. Hikmah Shadaqah, Hibah, dan Hadiah
1. Hikmah Shadaqah
a.Menumbuhkan ukhuwah Islamiyah
b.Dapat menghindarkan dari berbagai bencana
c. Akan dicintai Allah SWT
2. Hikmah Hibah
Adapun hikmah hibah adalah :
a.

Menumbuhkan rasa kasih sayang kepada ses ama

b. Menumbuhkan sikap saling tolong menolong


c.

Dapat mempererat tali silaturahmi

d. Menghindarkan diri dari berbagai malapetaka


3. Hikmah Hadiah
a.Menjadi unsur bagi suburnya kasih sayang
b. Menghilangkan tipu daya dan sifat kedengkian.
Sabda Nabi Muhammad SAW. :

( )

Saling hadiah-menghadiahkan kamu, karena dapat menghilangkan tipu daya dan kedengkian
(HR. Abu Yala).


( )
Hendaklah kamu saling Memberi hadiah, karena ia akan mewariskan kecintaan dan
menghilangkan kedengkian-kedengkian (HR. Dailami).

DAFTAR ISI
Kata pengantar.
Wakaf
1.Dasar Hukum wakaf
2.ketentuan ketentuan Wakaf.
3.Rukun dan syarat Wakaf.

4.Macam macam Wakaf..


5.Syarat syarat Wakaf.
6.Menukar dan Menjual harta Wakaf.
7.Pengawasan Harta Wakaf
Sadakah
1.Pengertian Sadakah dan Hukumnya
2.Rukun Sadakah
Hibah
1.Pengertian dan Hukumnya..
2.Landasan Hibah
3.Rukun Hibah....
4.Syarat Hibah.
5.Pemberian pada anak menjelang meninggal
Hadiah
1.Pengertian dan Hukumnya
2.Rukun Hadiah
Perbedaan Sadakah, Hibah,dan Hadiah
Kesimpulan