Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Batang berperan untuk
mendukung bagian tumbuhan di atas tanah, selain itu juga sebagai alat transportasi yaitu jalan
pengangkutan air dan zat makanan dari akarke daun dan jalan pengangkutan hasil asimilasi dari
daun ke bagian lain, baik ada yang di bawah maupun di atas tanah (Savitri, 2008).
Batang adalah satu bagian terpenting bagi tumbuhan, srtuktur batang tumbuhan pembuluh
sangat bervariasi. Pada dasarnya pada irisan melintang batang akan tampak tiga daerah pokok
atau tiga system jaringan adalah epidermis, korteks dan stele. (silender pusat). Bagian sayatan
melintang.
Pada pratikum kali ini kami akan mengamati tentang anotomi batang dimana pada pratikum
kali ini kita akan mengetahui dimana batng uang termasuk batang dikotil dan batang monokotil
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengidentifikasi macam jaringan penyusun batang primer dan sekunder?
2. Bagaimana membandingkan macam-macam jaringan penyusun batang dikotil dan
monokotil?
3. Bagaimana tipe berkas pengangkut, tipe stele, periderm, lentisel, dan struktur anomaly
pertumbuhan sekunder pada batang?
1.3 Tujuan
1. Mengamati, mengidenbifikasi macam jaringan penyusun batang primer dan sekunder.
2. Mengamati dan membandingkan macam-macam jaringan penyusun batang dikotil dan
monokotil.
3. Mengamati tipe berkas pengangkut, tipe stele, periderm, lentisel, dan struktur anomaly
pertumbuhan sekunder pada batang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKAN
2.1 Batang

Batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Batang berperan untuk
mendukung bagian tumbuhan di atas tanah, selain itu juga sebagai alat transportasi yaitu jalan
pengangkutan air dan zat makanan dari akarke daun dan jalan pengangkutan hasil asimilasi dari
daun ke bagian lain, baik ada yang di bawah maupun di atas tanah (Savitri, 2008).
Pada dasarnya pada irisan melintang batang akan tampak tiga daerah pokok atau tiga sistem
jaringan yaitu (Savitri, 2008) :
1.

Epidermis
Jaringan ini terdiri dari selapis sel yang menyelubungi batang dan sering kali ditutupi oleh

kutikula. Pada beberapa jenis tumbuhan, epidermis dapat lebih dari satu lapis sel (epidermis
ganda dan multiple epidermis) (Iserep. 1993).
2. Korteks
Korteks merupakan daerah diantara epidermis dan silinder pembuluh paling luar. Korteks
batang sebagian besar terdiri dari parenkim yang dapat berisi kloroplas (Hidayat. 1996)
3.
Stele (Silinder Pusat)
Pada batang tumbuhan dikotil, stele tersusun atas perisikel (perikambium), berkas
pengangkut dan empulur. Tipe stele yang dikenal dapat dibagi menjadi dua kelompok dasar yaitu
protostele dengan sumbu xylem padat tanpa empulur, dikelilingi floem dan sifonostele dengan
xylem tidak padat, melainkan memiliki silender parenkim di tengah (Fahn. 1991).
2.2 perbedaan antara batang dikotil dan monokotil dalam susunan anatominya.

http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/21/organ-tumbuhan/

2.2.1 Jaringan Batang


1. Batang Dikotil
Pada

batang

dikotil

terdapat

lapisan-lapisan

dari

luar

kedalam:

a. Epidermis Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel.
Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami

pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari
kambium gabus (fah. 1991)
b. Korteks, Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang
dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun
atas

jaringan

parenkim.

c. Endodermis, Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel,
merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan
Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan
Gymnospermae.
d. Stele/ Silinder Pusat Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele
disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang
artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah
luar. Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan
selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah
menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan
pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang. Pada
tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder
tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup,
sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya
pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama
satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun (Fahn. 1991)
2.BatangMonokotil
Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele
umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe
kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak
adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh
membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun
demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya
pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp) (Hidayat. 1996)

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari 17 Senin Tanggal Mei 2010 jam 15.00-17.00
WIB Di Laboratorium Pendidikan Biologi B Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.2

Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
1. Mikroskop binokuler

1 buah

2. Gelas benda dan penutup

5 buah

3. Kaca penutup

5 buah

4. Kuas

1 buah

5. Pinset kecil

1 buah

6. Jarum preparat

1 buah

7. Silet

1 buah

8. Pipet tetes

1 buah

3.2.2 Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
1. Batang Lidah Buaya (Aloe vera Linn)

1 Buah

2. Batang Cabe (Capsium frustacens)

1 Buah

3. Batang jagung (Zea mays)

1 buah

4. Batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)1 buah


5. Batang Terong (Capsicum sp.)

1 buah

6. Batang paku-pakuan (Pteridophyta)

1 buah

7. Batang Begonia

1 Buah

8. Batang Bayam

1 Buah

3.3 Cara Kerja


1.

Dibuat preparat irisan batang Lidah buaya setipis mungkin dalam air, diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diperhatikan, diamati tipe berkas pengangkutnya,
dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

2.

Dibuat preparat irisan melintang batang jagung (Zea mays) setipis mungkin dalam air.
Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10 atau 10 x 40, diperhatikan
jaringan-jaringan penyusun batangnya, diamati tipe berkas pengangkutnya, dibuat
gambar penampang melintang batang yang diamati.

3.

Dibuat preparat irisan melintang batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) setipis
mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop perbesaran 10 x 10 atau 10 x 40,
diperhatikan jaringan-jaringan penyusun batangnya, diamati tipe berkas pengangkutnya,
dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

4.

Dibuat preparat irisan melintang terong () setipis mungkin dalam air. Diamati
dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya,
dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

5.

Dibuat preparat irisan melintang batang paku-pakuan (Pteridophyta) setipis mungkin


dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10 atau 10 x 40, diamati
tipe berkas pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

6.

Dibuat preparat irisan melintang batang Bayam setipis mungkin dalam air. Diamati
dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya,
dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

7.

Dibuat preparat irisan melintang batang begonia setipis mungkin dalam air. Diamati
dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya,
dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

8.

Dibuat preparat irisan melintang batang cabe (Capisium frustacens) setipis mungkin
dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas
pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan
Batang lidah Buaya
(Aloe vera Linn)

1.

Keterangan
Tipe konsentris

Gambar literatur

amfivasal
2.
Berkas
pengangkut teratur
3.

didalam lingkaran
Penyusun :
a. Epidermis
b. Korteks
c. Floem

(Fahn, 1991)

d. Kambium
e. Xylem
f. Empulur
Batang jagung (Zea

1. Tipe kolateral

mays)

tertutup
2. Termasuk monokotil
3. Berkas pengangkut
tersebar
4. Penyusun :
a.
Epidermis
b.
Korteks
c.
Floem
d.
Xylem

Batang Bayam

(Fahn, 1991)

1. Tipe kolateral
terbuka
2. Termasuk dikotil
3. Berkas pengangkut
teratur didalam
lingkaran
4. Penyusun :
a.
Epidermis
b.
Korteks
c.
Floem
d.
Kambium
e.
Xylem
f.
Empulur

Batang paku-pakuan

1. Tipe amfikibral

(Pteridophyta)

2. Termasuk tumbuhan

(Fahn, 1991)

tingkat rendah
3. Penyusun :
a. Epidermis
b. Korteks
c. Berkas
pengangkut
(Floem
mengelilingi

(Fahn, 1991)

xylem)
d. Empulur

Batang bunga sepatu

1. Tipe kolateral

(Hibiscus rosasinensis)

terbuka
2. Termasuk dikotil
3. Berkas pengangkut
teratur didalam

Batng cabe (capisium


frustacens)

lingkaran
4. Penyusun :
a.
Epidermis
b.
Korteks
c.
Floem
d.
Kambium
e.
Xylem
f.
Empulur
1.
Tipe

(Fahn, 1991)

Bikolateral
2.
Termasuk
dikotil
3.

Penyusunny
a:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Epidermis
Korteks
Floem
Kambium
Xylem
Empulur

(Fahn, 1991)

Batang terong (Capsicum 1. Penyusunnya:


a. Epidermis
sp.)
b. Korteks
c. Floem
d. Kambium
e. Xylem
f. Empulur

(Fahn, 1991)
Batang Begonia

1. Penyusunnya:
a. Epidermis
b. Korteks
c. Floem
d. Kambium
e. Xylem
f. Empulur

(Fahn, 1991)

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas tentang jaringan pengangkut yang terdiri dari jaringan
floem dan xylem. Jaringan pengangkut floem dan xylem ini sangat berhubungan dengan
perkembangan batang. Dengan melakukan pengamatan ini kita dapat mengetahui komponen
penyusun batang-batang yang diamati meliputi tumbuhan dikotil atau monokotil bahkan
tumbuhan tingkat rendah seperti pada paku-pakuan.
4.2.1 Lidah Buaya ( Aloe vera Linn)
Pada pengamatan sayatan tipis dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis,
korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang lidah buaya ini termasuk batang dikotil
dan mempunyai berkas pembuluh tipe konsentris amfivasal dan berkas pengangkutnya berada
teratur di dalam lingkaran.
Sistem jaringan pembuluh primer (sistem jaringan pembuluh yang terdapat dalam
tumbuhan yang belum menghasilkan kambium pembuluh, jadi kebiasaan primer) terdiri dari

sejumlah berkas pembuluh yang berbeda-beda ukurannya. Posisi xylem dan floem dalam berkas
atau ikatan pembuluh beragam, diantaranya berkas pengangkut kolateral yaitu berkas
pengangkut dimana letak xylem dan floem berdampingan, dalam hal ini letak floem di bagian
luar atau di sebelah luar xylem (Hidayat, 1995).
Batang lidah buaya mempunyai berkas pembuluh tipe konsentris amvifasal yaitu
terdapatnya kambium dalam berkas ini, yang berfungsi sebagai penghubung antara floem dan
xylem. Selain itu dapat berperan dalam membentuk floem sekunder ke arah dalam (Sutrian,
1992).
Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian
tengah empulur dapat rusak diwaktu pertumbuhan, sering hal itu terjadi dibagian di daerah ruas,
sementara didaerah buku empulur utuh (Hidayat, 1995).
4.2.2 Batang jagung (Zea mays)
Pada pengamatan sayatan tipis batang jagung (Zea mays) dengan perbesaran 10 x 10,
dapat terlihat epidermis, korteks, floem, dan xylem. Batang jagung (Zea mays) ini termasuk
batang monokotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral tertutup dan berkas
pengangkutnya terletak tersebar.
Kekhususan yang utama pada kolateral tertutup ialah diantara pembuluh kayu dan
pembuluh tapis tidak tedapat kambium. Dalam hal ini parenkim berfungsi sebagai penghubung
diantara keduanya. Tiada jarang pula berkas pengangkut ini terletak dikelilingi oleh jaringan
sklerenkim oleh karenanya disebut seludang sklerenkim (Sutrian, 1992).
Tipe kolateral yaitu letak xylem dan floem berdampingan, umumnya floem di sebelah
luar xylem. Sedangkan bila antara xylem dan floem berdampingan langsung tanpa adanya
kambium disebut koleteral terbuka (Hidayat, 1995).
Pada tipe ini, floem dan xylem berdampingan. Ada dua tipe, yaitu kolateral tertutup yang
biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang monokotil dan kolateral terbuka yang biasa terdapat
pada ikatan pembuluh batang dikotil (Iserep, 1993).
4.2 3 Batang Cabe (Capsium frustacens)
Pada pengamatan sayatan tipis Batang Cabe (Capsium frustacens) dengan perbesaran
10x10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang cabe

(Capsium frustacens) termasuk tipe bikolateral dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral
terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.
Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam
upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder.
Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks batang
terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim.
Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak
ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).
4.2.4 Batang Paku-pakuan (Pteridophyta)
Pada pengamatan sayatan tipis batang paku- pakuan (Pteridophyta) dengan perbesaran 10
x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, berkas pengangkut (floem mengelilingi xylem) dan
empulur. Paku-pakuan termasuk tumbuhan tingkat rendah dan termasuk dalam tipe amfikibral.
Kekhususan berkas pengangkut pada paku-pakuan terdapat bagian yang konsentris yakni
salah satu dari unsur jaringan pengangkut yang terletak di tengah-tengah sedang unsur yang
ditengah itu, dalam hal ini xylem dikelilingi oleh floem (Sutrian, 1992).
Berkas pengangkut tipe kosentris merupakan berkas pengangkut dengan kondisi xylem
dikelilingi floem maupun sebaliknya. Bila xylem berada di tengah dan floem mengelilinginya
disebut ikatan pembuluh kosentris amphikribal. Sebaliknya, bila floem ditengah dan xylem
mengelilinginya maka disebut ikatan pembuluh kosentris amphivasal (Nugroho, 2006).
4.2.5 Batang Bunga Sepatu (Hibiscus rosasinensis)
Pada pengamatan sayatan tipis batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dengan
perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.
Batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas
pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.
Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam
upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder.
Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang
terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim.

Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak
ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).
Kekhususan yang utama pada kolateral terbuka adalah terdapatnya kambium dalam berkas
ini, yang berfungsi sebagai jaringan penghubung antara floem dan xylem. Selain itu dapat
berperan demikian besar dalam pembentukan pembuluh-pembuluh tapis sekunder ke arah luar
dan membentuk pembuluh-pembuluh kayu. Kambium pada batang pada penampang melintang
biasanya merupakan lingkaran yang kontinu (Sutrian, 1992).
Pada tipe ini, floem dan xylem berdampingan. Ada dua tipe, yaitu kolateral tertutup yang
biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang monokotil dan kolateral terbuka yang biasa terdapat
pada ikatan pembuluh batang dikotil (Iserep, 1993).
Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian tengah
empulur dapat rusak diwaktu pertumbuhan, sering hal itu terjadi dibagian di daerah ruas,
sementara didaerah buku empulur utuh (Hidayat, 1995).
4.2.6 Batang Bayam
Pada pengamatan batang bayam ini menggunakan dengan perbesaran 10 x 10, dapat
terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang Bayamini termasuk
batang dikotil.
Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam
upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder.
Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang
terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim.
Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak
ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).
Batang bayam ini termasuk dikotil karena salah satunya Fungsi epidermis untuk
melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan
epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus (Hidayat. 1995)
4.2.7 Batang Begonia
Pada pengamatan batang Begonia ini menggunakan dengan perbesaran 10 x 10, dapat
terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.

Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam
upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder.
Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang
terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim.
Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak
ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).
Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian tengah
empulur dapat rusak diwaktu pertumbuhan, sering hal itu terjadi dibagian di daerah ruas,
sementara didaerah buku empulur utuh (Hidayat, 1995).
4.2.8 Batang Terong (Capsicum sp.)
Pada pengamatan batang bayam ini menggunakan dengan perbesaran 10 x 10, dapat
terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.
Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam
upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder.
Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang
terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim.
Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak
ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum tentang jaringan pengangkut kali ini adalah
sebagai berikut :
a. Pada pengamatan sayatan tipis Lidah Buaya dapat terlihat epidermis, korteks, floem,
kambium, xylem dan empulur. Batang Lidah buaya ini termasuk batang dikotil dan
mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur
di dalam lingkaran.
b. Pada pengamatan sayatan tipis batang jagung (Zea mays) dapat terlihat epidermis, korteks,
floem, dan xylem. Batang jagung (Zea mays) ini termasuk batang monokotil dan mempunyai
berkas pembuluh tipe kolateral tertutup dan berkas pengangkutnya terletak tersebar.
c. Pada pengamatan sayatan tipis batang Bayam dapat terlihat epidermis, korteks, floem,
kambium, xylem dan empulur. Batang Bayam ini termasuk batang dikotil dan mempunyai
berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam
lingkaran.
d. Pada pengamatan sayatan tipis batang paku- pakuan (Pteridophyta) dapat terlihat epidermis,
korteks, berkas pengangkut (floem mengelilingi xylem) dan empulur. Paku-pakuan termasuk
tumbuhan tingkat rendah dan termasuk dalam tipe amfikibral.
e. Pada pengamatan sayatan tipis batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dapat terlihat
epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang bunga sepatu (Hibiscus
rosasinensis) ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral
terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.
f. Pada pengamatan sayatan tipis batang Terong dapat terlihat epidermis, korteks, floem,
kambium, xylem dan empulur. Batang bunga Terong ini termasuk batang dikotil dan
mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur
di dalam lingkaran.

g. Pada pengamatan sayatan tipis batang bunga Begonia dapat terlihat epidermis, korteks,
floem, kambium, xylem dan empulur.
h. Pada pengamatan sayatan tipis batang Cabe ( Capsium Frutacens) terlihat epidermis, korteks,
floem, kambium, xylem dan empulur.
DAFTAR PUSTAKA
Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB
Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB
Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan
(Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press
Sutrian, Yayan Drs. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan.
Jakarta : PT Rineka Cipta

Anda mungkin juga menyukai