Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN OPERASI SISTEM ENERGI II

Oleh :
DZAHLUSYAH ANSHARI YUDHA
131711008

D-3 TEKNIK KONVERSI ENERGI


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

Membandingkan pembangkit listrik tenaga angin dengan pembangkit listrik tenaga air
dan surya dilihat dari sumber daya, cara konversinya serta cara kendalinya.
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN
Potensi sumber daya
Suatu pembangkit listrik yang menggunakan angin sebagai sumber energi untuk
menghasilkan energi listrik. Pembangkit ini dapat merubah energi angin menjadi energi listrik
dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Sistem pembangkitan listrik
menggunakan angin sebagai sumber energi merupakan sistem alternatif
Tidak semua jenis angin dapat digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik
tenaga bayu / angin. Untuk itu berikut akan dijelaskan klasifikasi dan kondisi angin yang
dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik.

Angin kelas 3 adalah batas minimum dan angin kelas 8 adalah batas maksimum
energi angin yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Proses Pembangkitan Energi Listrik Tenaga Angin (PLTB) Secara Umum


Suatu pembangkit listrik dari energi angin merupakan hasil dari penggabungan dari
beberapa turbin angin sehingga akhirnya dapat menghasilkan listrik. Cara kerja dari
pembangkitan listrik tenaga angin ini yaitu awalnya energi angin memutar turbin angin.
Turbin angin bekerja berkebalikan dengan kipas angin (bukan menggunakan listrik untuk
menghasilkan listrik, namun menggunakan angin untuk menghasilkan listrik). Kemudian
angin akan memutar sudu-sudu turbin, lalu diteruskan untuk memutar rotor pada generator
letaknya di bagian belakang turbin angin. Generator mengubah energi putar rotor menjadi
energi listrik dengan prinsip hukum Faraday, yaitu bila terdapat penghantar didalam suatu
medan magnet, maka pada kedua ujung penghantar tersebut akan dihasilkan beda potensial.

Ketika poros generator mulai berputar, maka akan terjadi perubahan fluks pada stator
yang akhirnya dihasilkan tegangan dan arus listrik. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan
ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik dan didistribusikan ke rumah-rumah, kantor,
sekolah, dan sebagainya. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan oleh generator ini berupa
AC (alternating current) yang memiliki bentuk gelombang kurang lebih sinusoidal. Energi
Listrik ini biasanya akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Turbin
untuk pemakaian umum berukuran 50-750 kilowatt. Sebuah turbin kecil, kapasitas 50
kilowatt, digunakan untuk perumahan, piringan parabola, atau pemompaan air.
3

Sistem kontrol pada pembangkit listrik tenaga bayu dengan menggunakan baterai
untuk penyimpanan listrik. Stall control adalah metode kontrol yang paling mudah, kuat dan
murah. Metode kontrol ini digunakan untuk turbin angin ukuran kecil dan sedang,
dikenaljuga sebagai kontrol pasif karena tidak ada komponen bergerak sebagai pengatur.
Aerodinamika baling-baling menentukan besaran daya keluaran. Lengkungan dan ketebalan
baling-baling rotor yang dibentuk sedemikian rupa akan menyebabkan turbulensi pada
baling-baling ketika kecepatan angin melebihi batas kecepatan yang ditentukan. Turbulensi
ini akan menyebabkan energi angin yang ditransfer menjadi kecil saat kecepatan angin tinggi.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR


Potensi sumber daya
Indonesia termasuk negara yang memiki sumber daya tenaga air yang cukup besar
berjumlah 75,1 MW. Potensi terbesar terdapat di pulau-pulau Sumatra, Kalimantan dan Irian
Jaya , yang sebagian besar masih terletak jauh dari pusat-pusat beban.
Pada tahun 1990 daya terpasang Pusat-pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) di Indonesia
adalah sebesar 3.175 MW, terdiri atas 2.095 MW dari PLN dan 1080 MW non-PLN. Pusat
listrik tenaga air dengan daya terpasang terbesar pada saat ini adalah PLTA Saguling dengan
700 MW, yang terletak pada Sungai Citarum di Jawa Barat.
Pada umumnya, PLTA dibangun ditempat-tempat dimana sumber air yang deras
berada, seperti pegunungan. Air yang ada didapat dari sungai yang dibendung oleh DAM,
lalu dialirkan ke turbin melalui pipa pesat.

Proses Pembangkitan Energi Listrik Tenaga Air


air dialirkan menuju ke turbin. Turbin yang dialiri oleh air itu memiliki poros yang
sama dengan rotor generator (dikopel). Sehingga ketika turbin berputar, rotor generator juga
ikut berputar. Dengan berputarnya rotor generator, maka stator generator akan menghasilkan
energi listrik yang selanjutnya dapat disuplai ke jaringan (grid).
Air yang digunakan untuk memutar turbin tersebut diperoleh dari sungai yang
dibendung alirannya. Bendungan air tersebut biasa dinamakan dengan DAM. Namun tidak
seluruhnya air yang dibendung tersebut digunakan untuk memutar turbin. Air yang tidak
dialirkan ke turbin tetap dialirkan ke aliran sungai semula. Dengan demikian, lahan sawah
dari warga sekitar tetap mendapat aliran air melalui sistem irigasi.
Jika terjadi kelebihan air pada DAM, maka petugas PLTA biasanya memperbesar
aliran air ke sungai dengan membuka pintu air. Namun jika kekurangan, aliran sungai akan
diperkecil. Hal ini bertujuan untuk menjaga ketinggian air DAM. Fenomena seperti ini
biasanya terjadi ketika puncak musim kemarau tiba.
DAM yang ada harus memiliki perbedaan ketinggian dengan turbin. Semakin tinggi
perbedaan ketinggiannya, maka semakin besar pula daya listrik yang dihasilkan generator.
Untuk menghubungkan antara DAM dengan turbin, digunakan pipa besar dengan diameter

yang menyesuaikan debit air yang akan dialirkan. Pipa ini dinamakan dengan pipa pesat
(penstock). Semakin besar diameter, maka semakin besar pula debit air yang dialirkan.
Sistem kontrol pada pembangkit listrik tenaga air dengan menggunakan baterai untuk
penyimpanan listrik. Sistem kontrol yang digunakan pada perencanaan PLTMH ini
menggunakan pengaturan beban sehingga jumlah output daya generator selalu sama dengan
beban. Apabila terjadi penurunan beban di konsumen, maka beban tersebut akan dialihkan ke
sistem pemanas udara (air heater) yang dikenal sebagai ballast load/dumy load.
Sistem pengaturan beban yang digunakan pada perencanaan ini adalah
1. Electronic Load Controller (ELC) untuk penggunaan generator sinkron
2. Induction Generator Controller (IGC) untuk penggunaan IMA

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA


Potensi sumber daya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya, disingkat PLTS, adalah pembangkit listrik yang
mengubah energi surya menjadi listrik. Pembangkit listrik ini merupakan salah satu bentuk
pemanfaatan energi matahari (energi surya) menjadi salah satu sumber energi alternatif yang
ramah lingkungan (energi terbarukan).
Indonesia, sebagai negara yang terletak di kawasan katulistiwa, memiliki potensi
energi surya yang melimpah. Dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun, diperkirakan
6

energi surya dapat menghasilkan hingga 4.8 KWh/m2, atau setara dengan 112.000 GWp.
Sayangnya pemanfaatan salah satu jenis energi terbarukan ini masih belum maksimal.
Indonesia baru mampu memanfaatkan sekitar 10 MWp.
Umumnya pemanfaatan energi matahari melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya
digunakan pada daerah pedesaan dengan skala kecil yakni menggunakan Solar Home System
(SHS). Solar Home System adalah pembangkit listrik skala kecil yang dipasang secara
desentralisasi (satu rumah satu pembangkit). Listrik harian yang dihasilkannya berkisar
antara 150-300 Wp.
Sedangkan untuk untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya skala besar, jumlahnya
masih sangat sedikit. Dan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia yang telah
beroperasi tersebut hanya mampu memproduksi puluhan hingga ratusan kilo Wattpeak (kWp)
listrik. Dua Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terbesar di Indonesia, yakni di Karangasem
dan Bangli (Bali) masing-masing kapasitasnya hanya 1 MW.

Cara kerja plts


Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu junction
antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari ikatan-ikatan atom
yang dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar. Semikonduktor tipe-n mempunyai
kelebihan elektron (muatan negatif) sedangkan semikonduktor tipe-p mempunyai kelebihan
hole (muatan positif) dalam struktur atomnya. Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut
bisa terjadi dengan mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk
mendapatkan material silikon tipe-p, silikon didoping oleh atom boron, sedangkan untuk
mendapatkan material silikon tipe-n, silikon didoping oleh atom fosfor. Ilustrasi dibawah
menggambarkan junction semikonduktor tipe-p dan tipe-n.
Peran dari p-n junction ini adalah untuk membentuk medan listrik sehingga elektron
(dan hole) bisa diekstrak oleh material kontak untuk menghasilkan listrik. Ketika
semikonduktor tipe-p dan tipe-n terkontak, maka kelebihan elektron akan bergerak dari
semikonduktor tipe-n ke tipe-p sehingga membentuk kutub positif pada semikonduktor tipen, dan sebaliknya kutub negatif pada semikonduktor tipe-p. Akibat dari aliran elektron dan
hole ini maka terbentuk medan listrik yang mana ketika cahaya matahari mengenai susuna pn junction ini maka akan mendorong elektron bergerak dari semikonduktor menuju kontak
negatif, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai listrik, dan sebaliknya hole bergerak menuju
kontak positif menunggu elektron datang, seperti diilustrasikan pada gambar dibawah.
7

Panel surya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menghasilkan energi
listrik dengan mengkonversikan tenaga matahari menjadi listrik. Sel silikon (di dalam solar
cells atau sel surya) yang ada di panel surya (solar panel) disinari matahari/ surya, membuat
photon bergerak menuju electron dan menghasilkan arus dan tegangan listrik. Sebuah solar
cells/ sel surya menghasilkan kurang lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt
terdiri dari kurang lebih 36 sel surya (untuk menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun).
Voltage yang dihasilkan oleh panel surya bisa merusak battery dikarenakan
voltagenya tinggi maka dari itu dibutuhkan alat bernama solar charge controller.
Voltage yang dihasilkan dari panel surya juga berupa listrik DC maka dari itu
dibutuhkan media battery sebagai penyimpan listrik DC kemudian alat inverter sebagai
perubah tegangan dc menjadi tengangan AC sehingga akhirnya listrik yang dihasilkan bisa
dinikmati secara utuh untuk beban peralatan listrik
Sistem kontrol panel adalah komponen yang berfungsi untuk mengatur charging dan
discharging baterai. Alat ini mengatur energi yang dapat diisi ke baterai, setelah diproduksi
oleh panel dan berapa besar pelepasan energi tersebut ke beban.Alat ini memiliki beberapa
nama lainnya, seperti solar charger controller (SCC), baterai charger controller (BCR) atau
battery control unit (BCU).Untuk menjaga fungsi dan proteksi produk, alat ini memiliki
beberapa fitur, seperti proteksi over current, over voltage, battery type dan beberapa hal
lainnya. Sehingga memastikan sistem PLTS berjalan dengan baik. Alat ini memiliki dua tipe,
PWM dan MPPT.