Anda di halaman 1dari 39

A.

Judul Penelitian
Kemampuan Representasi

Matematis Ditinjau dari Tingkat

Kemampuan Dasar Siswa Pada Materi Program Linear Di Kelas


XI SMA
B. Latar Belakang
Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Hal ini terlihat dari banyaknya permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
yang dapat diselesaikan dengan menggunakan ilmu matematika seperti
mengukur, menghitung dan sebagainya. Dalam setiap jenjang pendidikan
mulai dari SD, SMP, dan SMA matematika merupakan salah satu mata
pelajaran wajib disekolah. Kebanyakan siswa mengatakan matematika
merupakan pelajaran yang sangat sulit, hal ini dikarenakan siswa tersebut
kurang berlatih menyelesaikan masalah matematika dan belum memahami
dengan baik konsep-konsep matematika. Pemahaman konsep merupakan hal
penting dalam mempelajari matematika, karena dengan memahami konsep
matematika siswa dapat menyelesaikan masalah matematika dan dapat
mengkomunikasikan

ide

matematikanya

kepada

orang

lain.

Dalam

mengkomunikasikan ide matematika ada beberapa cara yang digunakan, hal


ini bertujuan untuk memperjelas dan memperinci masalah matematika agar
orang lain mudah memahaminya. Adapun cara yang digunakan yaitu
menggunakan kata-kata, menggunakan gambar dan menggunakan simbol.
Cara-cara yang digunakan itu dinamakan representasi.
Mengacu pada tujuan pembelajaran matematika dalam Permendiknas
Nomor 23 Tahun 2006 dan standar pembelajaran matematika dari NCTM,
salah satu kemampuan matematis yang perlu dikuasai dan dikembangkan
adalah kemampuan representasi matematis. Hal ini mengandung
beberapa alasan, karena untuk berpikir matematika dan
mengkomunikasikan ide-ide matematika, seseorang perlu
merepresentasikannya dalam berbagai cara. Selain itu, tidak
dapat

dipungkiri

bahwa

obyek

dalam

matematika

itu

semuanya abstrak dan untuk mempelajari dan memahami

ide-ide

abstrak

itu

memerlukan

representasi

(Hudiono,

2005:17). Menurut NCTM (dalam Mudzakir, 2006) menyatakan bahwa


representasi merupakan salah satu kunci keterampilan komunikasi matematis.
Secara tidak langsung, hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran
yang menekankan pada kemampuan representasi akan melatih siswa dalam
komunikasi matematis.
Kemudian NCTM (2000:280) mengemukakan bahwa :
Representation is central to the study of mathematics. Students can develop
and deepen their understanding of mathematical concepts and relationships
as they create, compare, and use various representations. Representations
such as physical object, drawing, chart, graphs, and symbols also help
students communicate their thinking.
Dari hal di atas, representasi menduduki peranan yang
penting

dalam

pembelajaran

matematika.

Representasi

matematis dapat memperdalam pemahaman siswa tentang


konsep-konsep
matematis

matematika
siswa

dapat

dan

dengan

representasi

mengkomunikasikan

ide

matematikanya.
NCTM (dalam Mudzakir, 2006) mengungkapkan beberapa hal berikut, yaitu:
a. Proses representasi melibatkan penerjemahan masalah atau ide kedalam
bentuk baru.
b. Proses representasi termasuk pengubahan diagram atau model fisik ke
dalam simbol-simbol atau kata-kata.
c. Proses representasi juga dapat digunakan dalam penerjemahan atau
penganalisisan masalah verbal untuk membuat maknanya menjadi jelas.
Menurut Steffe, Weigel, Schultz, Waters, Joijner & Reijs (dalam Sinaga,
2016:15) mengungkapkan representasi merupakan proses pengembangan
mental yang sudah dimiliki seseorang, yang terungkap dan divisualisasikan
dalam berbagai model matematika, yakni: verbal, gambar, benda konkret,
tabel, model-model manipulatif atau kombinasi dari semuanya. Fadilah
(2008:18) mengungkapkan bahwa kemampuan representasi
multipel

matematis

adalah

kemampuan

menggunakan

berbagai

bentuk

matematis

untuk

menjelaskan

ide-ide

matematis, melakukan translasi antar bentuk matematis dan


menginterpretasi

fenomena

matematis

dengan

berbagai

bentuk matematis, yaitu visual (grafik,tabel,diagram dan


gambar);

simbolik

(pernyataan

matematis/notasi

matematis,numerik atau simbol aljabar); verbal (kata-kata


atau teks tertulis). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
representasi

matematis

merupakan

penggambaran,

penerjemahan,

pengungkapan, penunjukkan kembali, pelambangan, atau pemodelan,


gagasan konsep dalam matematika, dan hubungan diantaranya yang termasuk
dalam suatu konfigurasi, konstruksi, atau situasi tertentu yang ditampilkan
siswa dalam berbagai bentuk sebagai upaya memperoleh kejelasan makna,
menunjukkan pemahamannya atau mencari solusi dari masalah yang
dihadapinya.
Menurut Jones (dalam Hudiono, 2005:23), terdapat beberapa alasan
penting dimasukannya standar proses representasi, yaitu : (1) Kelancaran
dalam melakukan translasi diantara berbagai bentuk representasi berbeda,
merupakan kemampuan mendasar yang perlu dimiliki siswa untuk
membangun suatu konsep dan berpikir matematika; (2) Cara ide-ide
matematika yang disampaikan guru melalui berbagai representasi akan
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pemahaman siswa dalam
mempelajari matematika; (3) Siswa membutuhkan latihan dalam membangun
representasinya sendiri sehingga memiliki kemampuan dan pemahaman
konsep yang kuat, fleksibel dan dapat digunakan dalam memecahkan
masalah.
Pentingnya kemampuan representasi matematis yang
ditetapkan oleh National Council of Teacher of Mathematics
(NCTM) memungkinkan siswa untuk :
1. Menciptakan dan menggunakan representasi untuk mengatur, mencatat,
dan mengomunikasikan ide-ide.

2. Memilih, menerapkan dan menerjemahkan representasi matematika


untuk pemecahan masalah
3. Menggunakan representasi untuk memodelkan dan Menginterpretasikan
fenomena fisik, social, dan fenomena matematika.
Penelitian yang dilakukan Hidayati (2013) menunjukkan
bahwa kemampuan translasi dan transformasi representasi
siswa SMP Negeri 2 Pontianak dalam menyelesaikan soal
Persamaan Linear Satu Variabel termasuk dalam kategori
kurang sekali. Hal ini dikarenakan translasi dan transformasi
yang dibahas sebagian besar jarang ditemui siswa dalam
keseharian pembelajarannya. Selain itu dalam penelitian
yang dilakukan Gilbert Febrian M.S (2016) menunjukkan
bahwa Kemampuan Representasi Matematis Siswa Ditinjau
Dari Gaya Belajar Pada Materi Fungsi Kuadrat Di Kelas X SMA
Santo Petrus Fransiskus Asasi Pontianak juga termasuk dalam
kategori rendah atau kurang.
Peneliti melakukan wawancara kepada salah satu guru
matematika di SMA terkait permasalahan yang ada pada
siswa khususnya pada mata pelajaran matematika. Dan
diperoleh

informasi

bahwa

terdapat

indikasi

kurangnya

pemahaman siswa pada materi program linear yaitu mencari


penyelesaian optimum fungsi objektif. Hal ini dilihat ketika
guru memberikan latihan soal dan sebagian besar siswa tidak
dapat mengerjakan dengan benar serta rendahnya nilai
ulangan harian yang diperoleh siswa pada materi program
linear. Rendahnya hasil belajar siswa ini diduga karena
kemampuan representasi matematis siswa rendah, teramati
dari jawaban siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal
program linear menggunakan metode titik pojok dan grafik.
Untuk memperjelas permasalahan yang dihadapi siswa,
peneliti melakukan studi pendahuluan kepada lima orang
siswa kelas XI SMA dengan memberikan satu buah soal

terkait

materi

program

linear

yang

mengandung

satu

indikator representasi matematis. Dan hasilnya terdapat


indikasi bahwa kemampuan representasi matematis siswa
masih kurang. Adapun soal yang diberikan oleh peneliti
yaitu :
Buatlah

model

pedagang

matematika

menjual

buah

dari

mangga

soal
dan

berikut,
pisang

Seorang
dengan

menggunakan gerobak.Pedagang tersebut membeli mangga


dengan harga Rp. 8.000,00/kg dan pisang Rp.6.000,00/kg.
Modal yang tersedia Rp. 1200.000,00 dan gerobaknya hanya
dapat memuat mangga dan pisang sebanyak 180 kg. Jika
harga jual mangga Rp.9200,00/kg dan pisang Rp.7000,00/kg,
maka

laba

maksimum

yang

diperoleh

adalah.

Dari soal tersebut diperoleh informasi sebagai berikut :


1. Dua orang mengerjakan dan menjawab dengan benar.
2. Satu orang mengerjakan dan jawaban salah, yaitu salah
dalam menggunakan tanda pertidaksamaan.
3. Dua orang tidak menjawab
Dari informasi tersebut terlihat bahwa

masih

ada

beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab


soal, bahkan ada dua orang yang tidak paham soal tersebut.
Siswa memiliki kekampuan representasi matematis jika siswa
tersebut memenuhi indikator representasi matematis materi
program linear antara lain, representasi simbolik yaitu
membuat model matematika yang relevan dengan kendalakendala pada masalah jika disajikan masalah nyata program
linear berupa soal cerita, representasi visual yaitu membuat
grafik dan menentukan daerah penyelesaian masalah

jika

disajikan masalah nyata program linear dalam bentuk model


matematika, dan representasi verbal yaitu

menjelaskan

alasan dari rumusan model matematika dan fungsi tujuan

yang telah dibuat sebelumnya, serta melakukan prosedur


penyelesaian yang tepat.
Kemampuan untuk

menyelesaikan

masalah-masalah

dalam materi matematika tentunya sangat berkaitan dengan


kemampuan dasar matematika siswa, karena kemampuan
dasar merupakan aspek yang sangat mempengaruhi dalam
menganalisis suatu permasalahan. Sehingga kemampuan
dasar dalam penelitian ini menjadi faktor utama yang akan
dilihat dari hasil belajar matematika siswa pada semester
sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
terdapat kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan
fakta

di

melakukan

lapangan.

Sehingga

dipandang

tentang

kemampuan

penelitian

perlu

untuk

representasi

matematis ditinjau dari kemampuan dasar siswa pada materi


program linear. Oleh karena itu, judul penelitian yang dipilih
adalah Kemampuan Representasi

Matematis Ditinjau dari

Tingkat Kemampuan Dasar Siswa Pada Materi Program Linear


Di Kelas XI SMA.
C. Rumusan Masalah Penelitian
1. Bagaimana kemampuan representasi matematis siswa
yang memiliki tingkat kemampuan dasar tinggi pada materi
program linear ?
2. Bagaimana kemampuan representasi matematis siswa
yang memiliki tingkat kemampuan dasar sedang pada
materi program linear ?
3. Bagaimana kemampuan representasi matematis siswa
yang memiliki tingkat kemampuan dasar rendah pada
materi program linear ?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kemampuan representasi matematis
siswa yang memiliki tingkat kemampuan dasar tinggi pada
materi program linear.

2. Untuk mengetahui kemampuan representasi matematis


siswa yang memiliki tingkat kemampuan dasar sedang
pada materi program linear.
3. Untuk mengetahui kemampuan representasi matematis
siswa yang memiliki tingkat kemampuan dasar rendah
pada materi program linear.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
dalam

memperkaya

wawasan

mengenai

kemampuan

representasi matematis siswa pada materi program linear


yang ditinjau dari tingkat kemampuan dasar siswa.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Dapat memberikan informasi terkait kemampuan
representasi matematis berdasarkan tingkat kemampuan
dasar siswa, sehingga guru termotivasi untuk memilih
model pembelajaran atau mengembangkan pengajaran
yang dapat meningkatkan kemampuan representasi
matematis berdasarkan tingkat kemampuan dasar siswa.
Dan

sebagai

sederhana

dorongan

yang

guru

bermanfaat

melakukan
bagi

penelitian

perbaikan

dalam

proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan


guru.
b. Bagi Siswa
Memberikan

informasi

kepada

siswa

mengenai

kemampuan representasi matematisnya, sehingga dapat


memotivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi dan
memberikan pengetahuan kepada siswa bahwa suatu
masalah

matematika

dapat

direpresentasikan

ke

beberapa bentuk (verbal,visual dan simbolik)


c. Bagi Sekolah
Dijadikan sebagai bahan kajian untuk meningkatkan
mutu

pendidikan

di

sekolah

tersebut

dengan

mengembangkan pengajaran yang menitikberatkan pada


kemampuan

representasi

kemampuan

ini

matematis

sangat

penting

karena

dalam

proses

pemahaman dan komunikasi.


F. Definisi Operasional
1. Kemampuan Representasi Matematis
Kemampuan representasi matematis yang dimaksud
dalam

penelitian

ini

adalah

kecakapan

siswa

dalam

menyajikan kembali suatu masalah matematika dalam


berbagai representasi matematis diantaranya representasi
simbolik

visual,

maupun

verbal

(kata-kata)

yang

digunakan untuk menemukan solusi dari masalah tersebut.


Dalam hal ini representasi simbolik yaitu siswa dapat
membuat

model

matematika

yang

relevan

dengan

kendala-kendala pada masalah jika disajikan masalah nyata


program linear berupa soal cerita, representasi visual yaitu
siswa dapat membuat grafik dan menentukan daerah
penyelesaian masalah tersebut jika disajikan masalah
nyata program linear dalam bentuk model matematika,
dan representasi verbal yaitu siswa dapat menjelaskan
alasan dari rumusan model matematika dan fungsi tujuan
yang telah dibuat sebelumnya, serta melakukan prosedur
penyelesaian yang tepat.
2. Tingkat Kemampuan Siswa
Tingkat kemampaun siswa yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah urutan kedudukan peserta didik ditengah-tengah
kelompoknya yang diperoleh dari nilai ulangan semester genap
kelas X, kemudian dikelompokkan sesuai dengan tabel di
bawah ini :
Tabel 5.1
Pengelompokan Tingkat Kemampuan Dasar Siswa
Kriteria

Kategori

KAM
X s
X s

X + s

Siswa kelompok tinggi/atas

< KAM <

X + s

Siswa kelompok sedang


Siswa kelompok rendah/bawah

KAM

Keterangan :
X
= Rata-rata skor
s
= Standar deviasi
KAM = Nilai siswa
3. Materi Program Linear
Materi program linear dalam penelitian ini merupakan
materi yang dipelajari siswa SMA/MA di kelas Xi yang
berbentuk soal cerita yang diselesaikan menggunakan
metode grafik dengan uji titik pojok dan garis selidik.
G. Kajian Teori
1. Representasi Matematis
Representasi adalah cara menyatakan suatu permasalahan ke dalam
bentuk lain yaitu visual, simbolik dan verbal. NCTM menyatakan
Representation is central to the study of mathematics. Students can
develop and deepen their understanding of mathematical concepts and
relationships as they create, compare, and use various representations.
Representations such as physical object, drawing, chart, graphs, and
symbols also help students communicate their thinking NCTM
(2000:280), hal ini berarti representasi menduduki peranan yang
penting dalam pembelajaran matematika. Representasi
matematis
tentang

dapat

memperdalam

konsep-konsep

pemahaman

matematika

dan

siswa
dengan

representasi matematis siswa dapat mengkomunikasikan


ide matematikanya.
Terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli berkenaan
tentang representasi yaitu:
1. Menurut Steffe, Weigel, Schultz, Waters, Joijner, & Reijs (dalam
Sinaga, 2016:15)
Representasi merupakan proses pengembangan mental yang sudah
dimiliki seseorang, yang terungkap dan divisualisasikan dalam

berbagai model matematika, yakni: verbal, gambar, benda konkret,


tabel, model-model manipulatif atau kombinasi dari semuanya.
2. Menurut Jones & Knuth (dalam Sinaga, 2016:15)
Representasi adalah model atau bentuk pengganti dari suatu situasi
masalah atau aspek dari suatu situasi masalah yang digunakan untuk
menemukan

solusi,

sebagai

contoh,

suatu

masalah

dapat

direpresentasikan dengan obyek, gambar, kata-kata, atau simbol


matematika.
3. Menurut Goldin ( dalam Monika, 2015:12)
Representasi adalah suatu konfigurasi (bentuk atau susunan) yang
dapat menggambarkan, mewakili atau melambangkan sesuatu dalam
suatu cara.
4. Menurut Vergnaud (dalam Monika, 2015:12)
Representasi merupakan unsur yang paling penting dalam teori belajar
mengajar matematika, tidak hanya karena pemakaian simbol yang
juga penting dalam matematik dan kaya akan kalimat dan kata,
beragam dan universal, tetapi juga untuk dua alasan penting yakni :
(1)

matematika

mempunyai

mengkonseptualisasi

dunia

peranan

nyata;

(2)

penting

matematika

dalam
membuat

homomorphis yang luas yang merupakan penurunan dari struktur halhal lain yang pokok.
Dari

beberapa

definisi

tersebut

dapat

disimpulkan

bahwa

representasi adalah ungkapan-ungkapan dari ide matematika yang


ditampilkan siswa sebagai model atau bentuk pengganti dari suatu situasi
masalah yang digunakan untuk menemukan solusi dari masalah yang
sedang dihadapinya sebagai hasil dari interpretasi pikirannya. Suatu
masalah dapat direpresentasikan melalui gambar, kata-kata (verbal), tabel,
benda konkrit, atau simbol matematika.
Standar representasi yang ditetapkan oleh NCTM (2000:67)
menetapkan bahwa program pembelajaran dari pra-taman kanak-kanak
sampai kelas 12 harus memungkinkan siswa untuk :
1. Menciptakan

dan

menggunakan

representasi

mencatat, dan mengomunikasikan ide-ide.

untuk

mengatur,

2. Memilih, menerapkan dan menerjemahkan representasi matematika


untuk pemecahan masalah
3. Menggunakan
representasi

untuk

memodelkan

dan

Mengintrpretasikan fenomena fisik, social, dan fenomena matematika.


Hiebert dan Carpenter (dalam Nurhayati, 2013:16) mengemukakan
bahwa pada dasarnya representasi dapat dinyatakan sebagai representasi
internal dan representasi eksternal. Berpikir tentang ide matematika yang
kemudian dikomunikasikan memerlukan representasi eksternal yang
wujudnya antara lain: verbal, gambar dan benda konkrit. Berpikir tentang
ide matematika yang memungkinkan pikiran seseorang bekerja atas dasar
ide tersebut merupakan representasi internal. Representasi internal dari
seseorang sulit untuk diamati secara langsung karena merupakan aktivitas
mental dari seseorang dalam pikirannya (minds-on). Tetapi representasi
internal seseorang itu dapat disimpulkan atau diduga berdasarkan
representasi

eksternalnya

dalam berbagai kondisi; misalnya

dari

pengungkapannya melalui kata-kata (lisan), melalui tulisan berupa simbol,


gambar, grafik, tabel ataupun melalui alat peraga (hands-on). Dengan kata
lain terjadi hubungan timbal balik antara representasi internal dan
eksternal dari seseorang ketika berhadapan dengan sesuatu masalah.
Lesh, Post dan Behr (dalam Sinaga, 2016: 20) menyatakan bahwa
terdapat lima tipe sistem representasi yang berbeda yang terjadi dalam
belajar matematika dan pemecahan masalah, yaitu real script, static
picture, manipulative models, spoken & written language dan written
symbols.
2. Kemampuan Representasi Matematis
Kemampuan representasi matematis merupakan

salah

satu

kemampuan matematis yang perlu dikuasai dan dikembangkan, hal ini


berdasarkan tujuan pembelajaran dalam standar isi dan standar
pembelajaran matematika dari NCTM.
Kemampuan ini sangat penting bagi siswa dan kaitannya dengan
komunikasi. Untuk dapat mengkomunikasikan sesuatu, seseorang perlu

representasi baik berupa gambar, grafik, diagram maupun bentuk


representasi lainnya (Sabirin, 2014:33).
Fadilah (2008:18) mengungkapkan bahwa kemampuan
representasi
menggunakan

multipel

matematis

berbagai

bentuk

adalah

kemampuan

matematis

untuk

menjelaskan ide-ide matematis, melakukan translasi antar


bentuk

matematis

dan

menginterpretasi

fenomena

matematis dengan berbagai bentuk matematis, yaitu visual


(grafik,tabel,diagram dan gambar); simbolik (pernyataan
matematis/notasi matematis,numerik atau simbol aljabar);
verbal (kata-kata atau teks tertulis).
Mudzakir (dalam Monika,2015:13) mengelompokkan
representasi matematis ke dalam tiga representasi yang
utama, yaitu representasi visual berupa diagram,grafik
atau

tabel

dan

gambar;

persamaan

atau

ekspresi

matematis; dan kata-kata atau teks tertulis. indikator yang


digunakan dapat dilihat pada tabel 1 berikut :
Tabel 1. Indikator Kemampuan Representasi
Matematis

Representasi

Bentuk bentuk Operasional

o
1

Representasi

visual
a)

Menyajikan

kembali

data

atau

informasi dari suatu representasi


ke representasi diagram, grafik,

Diagram,

tabel,

atau

grafik
b) Gambar

atau tabel
Menggunakan representasi visual
untuk menyelesaikan masalah

Membuat

geometri
Membuat

gambar

memperjelas

pola-pola

gambar

untuk

masalah

dan

memfasilitasi penyelesaiannya
2

Persamaan atau

Membuat persamaan atau model

ekspresi

matematika dari representasi lain

matematis

yang diberikan
Membuat konjektur dari suatu pola

bilangan
Menyelesaikan

masalah

dengan

melibatkan ekspresi matematis


3

Kata-kata

atau

teks tertulis

Membuat

situasi

berdasarkan

masalah

data

atau

representasi yang diberikan


Menuliskan interpretasi dari suatu

representasi
Menuliskan

langkah-langkah

penyelesaian masalah matematika

dengan kata-kata
Menyusun cerita

yang

sesuai

dengan suatu representasi yang

disajikan
Menjawab

soal

dengan

menggunakan kata-kata atau teks


tertulis

Dalam

penelitian

ini,

kemampuan

representasi

matematis akan diukur melaui kecakapan siswa dalam


menyajikan kembali suatu masalah matematika dalam
berbagai representasi matematis diantaranya representasi
visual, simbolik maupun verbal (kata-kata) yang digunakan
untuk menemukan solusi dari masalah tersebut. Indikator
yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2 berikut :
Tabel 2. Indikator Kemampuan Representasi
Matematis
N

Representasi

indikator

o
1

Simbol

Membuat model matematika yang


relevan
pada

dengan

kendala-kendala

masalah

masalah

jika

nyata

disajikan

program

linear

berupa soal cerita.


2

Visual

Membuat grafik dan menentukan


daerah penyelesaian masalah jika
disajikan masalah nyata program
linear

dalam

bentuk

model

matematika.
3

Verbal
kata)

(kata-

Menjelaskan alasan dari rumusan


model
tujuan

matematika
yang

sebelumnya,

dan

telah
serta

fungsi
dibuat

melakukan

prosedur penyelesaian yang tepat.


3. Tingkat Kemampuan Dasar Siswa
Menurut Sudijono (2011 : 442) tingkat kemampuan atau ranking
adalah urutan kedudukan peserta didik ditengah-tengah kelompoknya atau

letak seorang peserta didik dalam urutan tingkatan. Tingkat kemampuan


atau ranking dapat ditentukan dengan beberapa cara salah satunya adalah
tingkat kemampuan berdasarkan mean dan deviasi standar. Ranking atau
tingkat kemampuan berdasarkan mean dan deviasi standar adalah
penyusunan urutan kedudukan siswa dilakukan menggunakan ukuranukuran statistik, dalam hal ini rata-rata hitung dan deviasi standar.
Tingkat kemampuan dasar siswa dapat diperoleh melalui tes yang
telah diberikan sebelum penelitian dilakukan. Dengan kata lain, data
tingkat kemampuan dasar siswa dapat diperoleh dengan mengambil data
nilai ulangan harian siswa pada pokok bahasan sebelumnya atau nilai
raport siswa pada semester sebelumnya. Pengelompokan tingkat
kemampuan dasar siswa ditentukan sebagai berikut:
Tabel 5.1
Pengelompokan Tingkat Kemampuan Dasar Siswa
Kriteria
KAM
X s
X s

Kategori
Siswa kelompok tinggi/atas

X + s
< KAM <

X + s

Siswa kelompok sedang


Siswa kelompok rendah/bawah

KAM

Keterangan :
X
= Rata-rata skor
s
= Standar deviasi
KAM = Nilai siswa
(Yudhanegara & Lestari.2015:233).
Dalam penelitian ini tingkat kemampuan dasar siswa diperoleh dari nilai
ulangan semester genap kelas X, kemudian dikelompokkan
sesuai dengan tabel 5.1.
4. Materi Program Linear
a. Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel
Suatu garis dalam bidang koordinat

dapat

dinyatakan dengan persamaan berbentuk :


a1 x+ a2 y =b
Persamaan semacam ini dinamakan persamaan linear
dalam variabel

dan

(dua variabel). Secara

umum, dapat didefinisikan sebagai persamaan linear


dengan n variabel
a1 x1 + a2 x 2 ++a n x n=b
Dengan

x1 , x2 , , xn

a1 , a2 , , an ,b

dalam bentuk berikut :

adalah konstanta-konstanta real.

Jika melibatkan lebih dari satu persamaan, maka disebut


sistem

persamaan

linear.

Dapat

dituliskan

sebagai

berikut :
a11 x 1+ a12 x 2 ++ a1 n x n=b 1
a21 x 1 +a 22 x2 + + a2 n xn =b2
an 1 x1 +a n 2 x 2+ +a mn x n=b n
x 1 , x2 , , xn

Dengan

adalah

variabel

dan

a11 , a12 , , a1 n , a 21 , a21 , , a 2n , . , amn adalah konstanta real.


Untuk

saat ini, pembahasan dibatasi menjadi dua

variabel saja. Untuk pertidaksamaan linear, tanda =


diganti dengan , < , , > . Sebagai contoh,
untuk pertidaksamaan linear dua variabel dijelaskan
sebagai berikut. Misalnya kalian menggambar garis
x+ 2 y =2

dapat digambarkan sebagai berikut :

Garis

x+ 2 y =2

membagi bidang koordinat menjadi

dua daerah, yaitu daerah


x+ 2 y >2 .

Sekarang,

misalnya titik

O(0,0)

x+ 2 y <2

substitusi

titik

sembarang,

ke persamaan garis tersebut.

Didapat, 0 + 0 = 0 > -2. Ini berarti, titik


pada daerah

dan daerah

x+ 2 y >2 . Daerah

O(0,0)

x+ 2 y >2

berada

ini diarsir

seperti pada gambar berikut :

Jika daerah tersebut dibatasi untuk nilai-nilai

x , y 0,

maka diperoleh gambar seperti berikut :

Daerah yang diarsir berupa daerah segitiga. Tampak


bhwa daerah ini merupakan himpunan penyelesaian
sistem pertidaksamaan linear

x+ 2 y 2, x 0

y0 .

dan

untuk

selanjutnya,

himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linear ini


disebut daerah penyelesaian.
b. Model Matematika
Sistem pertidaksamaan linear yang telah dijelaskan
sebelumnya

dapat

diterapkan

pada

permasalahan

sehari-hari dengan memodelkan permasalahan tersebut


ke

dalam

model

matematika.

Sebagai

iliustrasi

perhatikan contoh berikut.


PT. Samba Lababan memproduksi ban motor dan
ban sepeda. Proses pembuatan ban motor melalui tiga
mesin, yaitu 2 menit pada mesin I, 8 menit pada mesin II
dan 10 menit pada mesin III. Adapun ban sepeeda
diprosesnya melalui dua mesin, yaitu 5 menit pada
mesin I dan 4 menit pada mesin II. Tiap mesin ini dapat
dioperasikan 800 menit per hari. Untuk memperoleh
keuntungan maksimum, rencananya perusahaan ini akan
mengambil

keuntungan

Rp

40.000,00

dari

setiap

penjualan ban motor dan Rp 30.000,00 dari setiap


penjualan ban sepeda. Berdasarkan keuntungan yang
ingin dicapai ini, maka pihak perusahaan merencanakan
banyak ban motor dan banyak ban sepeda yang akan
diprodukasinya dengan merumuskan berbagai kendala
sebagai

berikut.

Perusahaan

tersebut

memisalkan
x

dan

banyak ban sepeda yang diproduksi sebagai

y ,

banyak ban motor yang diproduksi sebagai

dengan

menggunakan

dan
variabel

y bilangan
x

dan

asli.
y

Dengan
tersebut,

perusahaan

itu

membuat

sebagai berikut.
Pada mesin I :
Pada mesin II
Pada msin III

rumusan

kendala-kendala

2 x +5 y 800

...... Persamaan 1

: 8 x+ 4 y 800
: 10 x 800

...... Persamaan 2

Persamaan 3
x , y bilangan asli
Persamaan 4
Fungsi tujuan

......

x 0, y 0

(objektif)

memaksimumkan

......

yang

digunakan

keuntungan

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y .

untuk
adalah

dalam merumuskan masalah

tersebut, PT. Samba Lababan telah membuat model


matematika dari suatu masalah program linear.

DEFINISI
Model Matematika adalah suatu cara sederhana untuk
menerjemahkan masalah ke dalam bahasa matematika
dengan
menggunakan
persamaan,
c. Nilai
Optimum
Suatu Fungsi
Objektif pertidaksamaan atau
Dalam
fungsi.pemodelan matematika masalah produksi ban PT.
Samba

Lalaban,

sedemikian

sehingga

maksimum.
Bentuk
umum
f ( x , y ) =ax +by .

akan

dari

mencari

nilai

x dan

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y
fungsi

tersebut

adalah

Suatu fungsi yang akan dioptimumkan

(maksimum atau minimum). Fungsi ini disebut fungsi


objektif. Untuk menentukan nilai optimum fungsi objektif
ini, kalian dapat menggunakan dua metode, yaitu
metode uji titik pojok dan metode garis selidik.
1) Metode Uji Titik Pojok

Untuk

menentukan

dengan

nilai

menggunakan

optimum
metode

fungsi

uji

lakukanlah langkah-langkah berikut.


a) Gambarlah daerah penyelesaian

titik
dari

objektif
pojok,
kendala-

kendala dalam masalah program linear tersebut.


b) Tentukan titik-titik pojok dari daerah penyelesaian
itu.
c) Substitusikan

koordinat

setiap

titik

pojok

itu

kedalam fungsi objektif.


d) Bandingkan nilai-nilai fungsi objektif tersebut. Nilai
terbesar berarti menunjukkan nilai maksimum dari
fungsi

f ( x , y ) , sedangkan nilai terkecil berarti

menunjukkan nilai minimun dari fungsi


Sebagai

contoh,

kalian

akan

f (x , y).

memaksimumkan

keuntungan PT. Samba Lababan dari produksi ban


dengan model matematika

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y .

Perhatikan daerah penyelesaian dari grafik pada gambar


diatas,
a. Titik-titik pojoknya adalah titik O,A,B,C, dan D.
Titik O adalah titik pusat koordinat. Jadi, titik O(0,0).

x=80

Titk A adalah titik potong antara garis

dan

sumbu- x . Jadi, titik A(80,0).

x=80 dan

Titik B adalah titik potong antara garis

8 x+ 4 y =800 .
Substitusikan x=80 ke persamaan 8 x+ 4 y =800
8.80+ 4 y=800

garis

y=40

Jadi, titik B(80,40)


Titik adalah titik potong antara garis
dan

2 x +5 y=800.

Dari

8 x+ 4 y =800

Substitusi nilai

didapat

8 x+ 4 y =800

y=2002 x

ke persamaan 2 x +5 y=800
2 x +5 ( 2002 x )=800
2 x +100010 x =800
8 x=200

x=25
Substitusi

x=25

ke persamaan y=2002 x
y=2002.25
y=150

Jadi, titik C(25,150).


Titik D adalah titik potong antara garis
dan sumbu- y .

Substitusikan

x=0

2 x +5 y=800
ke persamaan

2 x +5 y=800
2.0+ 5 y =800

y=160
Jadi, titik D(0,160)

b. Uji

titik-titik

pojok

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y ,

ke

fungsi

objektif

sehingga fungsi objektif ini

maksimum.

Dari tabel tersebut dapat diperoleh nilai maksimum


fungsi

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y

objektif

adalah

f ( 25,150 ) =5.500.000 . jadi, PT. Samba Lababan harus


memproduksi 25 ban motor dan 150 ban sepeda untuk
memperoleh

keuntungan

maksimum.

Untuk

menentukan nilai minimum dilakukan lagkah yang


sama.
2) Metode Garis Selidik
Untuk menentukan

nilai

optimum

fungsi

objektif

dengan menggunakan metode garis selidik, lakukan


langkah-langkah berikut.
a) Tentukan garis selidik, yaitu garis-garis yang sejajar
dengan garis ax +by=k , a>0, b>0, dan k R .
b) Gambarkan garis-garis selidik tersebut pada
koordinat Cartesius.
c) Untuk menentukan nilai maksimum fungsi tujuan
maka carilah garis selidik yang jaraknya terbesar
terhadap titik pusat O(0,0) dan berada pada daerah
penyelesaian. Sedangkan untuk menentukan nilai
minimum fungsi tujuan maka carilah garis selidik
yang jaraknya terkecil terhadap titik pusat O(0,0)
dan berada pada daerah penyelesaian.

Sebagai contoh, grafik berikut ini adalah produksi ban


PT. Samba Lababan.

Garis

selidik

dari

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y

fungsi

objektif

4 x +3 y=k .
Ambil k = 120, didapat garis selidik 4 x +3 y=120
Ambil k = 240, didapat garis selidik 4 x +3 y=240
Ambil k = 550, didapat garis selidik 4 x +3 y=550
Gambarkan garis-garis selidik ini sehingga kamu
adalah

dapat menentukan nilai maksimum fungsi objektif


didapat garis selidik

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y .

Perhatikan bahwa garis selidik yang menyebabkan


fungsi

objektif

maksimum

adalah

4 x +3 y=550 .

Dengan mengalikan kedua ruas persamaan garis

selidik

dengan

10.000,

kamu

mendapatkan

nilai

maksimum fungsi objektif sebagai berikut :


10.000 ( 4 x +3 y )=10.000 ( 550 )
40.000 x +30.000 y=5.500 .000

Jadi,

nilai

maksimum

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y
gambar

diatas

fungsi

adalah

tampak

objektif

5.500.000.

bahwa

garis

dari
selidik

4 x +3 y=550 melalui titik C(25,150). Ini berarti, fungsi


objektif

f ( x , y ) =40.000 x+ 30.000 y

mencapai maksimum

pada titik C(25,150). Jadi, PT. Samba Lababan harus


memproduksi 25 ban motor dan 150 ban sepeda untuk
memperoleh keuntungan maksimum Rp. 5.500.000.
(Pesta & Cecep .2008 : 35)
H. Metode Penelitian
Menurut Sugiyono (2013 :3), secara umum metode
penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan
data

dengan

tujuan

dan

kegunaan

tertentu.

Metode

penelitian yang digunakan harus sesuai dengan masalah dan


tujuan penelitian yang telah dirumuskan. Adapun tujuan
penelitian ini yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan
kemampuan representasi matematis ditinjau dari tingkat
kemampuan siswa pada materi program linear di kelas XI
SMA. Berdasarkan tujuan tersebut, maka metode yang
dianggap

sesuai

dengan

penelitian

ini

adalah

metode

deskriptif.
Menurut Nawawi (2012 : 67), metode deskriptif adalah
prosedur

pemecahan

menggambarkan

masalah

/melukiskan

yang

diselidiki

keadaan

dengan

subyek/obyek

penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain)

pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak


atau sebagaimana adanya.
1. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah penelitian studi kasus. Menurut Ari Kunto (2013 :
185)

penelitian

studi

kasus

adalah

penelitian

yang

dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap


suatu organisme, lembaga atau gejala tertentu ditinjau dari
wilayahnya, maka penelitian studi kasus hanya meliputi
daerah atau subyek yang sangat sempit, tetapi ditinjau dari
sifat penelitian, penelitian kasus lebih medalam. Bentuk
penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk
mengetahui

atau

menggambarkan

kemampuan

representasi matematis ditinjau dari tingkat kemampuan


siswa pada materi program linear.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah salah satu kelas XI di SMA,
pengambilan kelas atau sampel ini menggunakan teknik
purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel
dengan pertimbangan tertentu. Kelas yang dipilih dalam
penelitian ini adalah kelas XI IPA. Pemilihan subjek ini
berdasarkan pertimbangan dari guru, dan karena kelas
tersebut mempunyai rentang tingkat kemampuan yang
memadai untuk dilakukan penelitian.
Subjek penelitian ini dikelompokkan

dalam

tiga

kategori berdasarkan data hasil ulangan semester genap


kelas X. Kelompok pertama adalah siswa yang memiliki
tingkat kemampuan tinggi, kelompok kedua adalah siswa
yang memiliki tingkat kemampuan sedang dan kelompok
ketiga adalah siswa yang memiliki tingkat kemampuan
rendah.
3. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu


tahap

persiapan,

tahap

pelaksanaan

dan

tahap

penyimpulan serta laporan hasil penelitian.


a. Persiapan Penelitian
Tahap persiapan dalam penelitian ini mencakup hal-hal
sebagai berikut:
1) Mengurus perizinan untuk melakukan penelitian di
SMA.
2) Melakukan
3)
4)
5)
6)

wawancara

dengan

salah

satu

guru

matematika di SMA.
Melakukan studi pendahuluan di SMA.
Menyusun desain penelitian.
Seminar desain penelitian.
Melakukan revisi desain penelitian berdasarkan hasil

seminar.
7) Membuat instrumen penelitian berupa kisi-kisi soal
tes (lamiran 1), soal tes (lampiran 2), alternatif kunci
jawaban (lampiran 3) dan rubrik penskoran (lampiran
4)
8) Melakukan validasi terhadap instrumen penelitian.
9) Melakukan revisi instrumen penelitian berdasarkan
hasil
10)
11)
12)

validasi.
Melakukan uji coba soal tes.
Menganalisis data hasil uji coba soal tes.
Merevisi instrumen penelitian berdasarkan hasil

uji coba.
b. Pelaksanaan Penelitian
Tahap penelitian dalam penelitian ini mencakup hal-hal
berikut :
1) Membagi
kemampuan

siswa

dalam

tinggi,

kemampuan rendah.
2) Memberikan soal tes

kelompok

kemampuan
kemampuan

kategori

sedang

dan

representasi

matematis materi program linear.


3) Mewawancarai beberapa siswa dari setiap kategori
tingkat kemampuan dasar siswa.
Langkah-langkah wawancara yang dilakukan yaitu :

a) Memilih

siswa

yang

akan

diwawancarai

berdasarkan kategori tingkat kemampuan dasar


siswa (dua orang dari tingkat kemampuan atas,
dua orang dari tingkat kemampuan sedang dan
dua orang dari tingkat kemampuan rendah) dan
siswa yang jawabannya belum menggambarkan
kemampuan representasi matematisnya.
b) Memberikan hasil tes yang telah dikerjakan.
c) Meminta siswa untuk mencermati hasil pekerjaan
mereka.
d) Meminta siswa untuk memberikan alasan dari
setiap jawabannya.
e) Mencatat hasil wawancara.
c. Penyimpulan dan Laporan Hasil Penelitian
1) Mengumpulkan
data
hasil
tes
kemampuan
representasi matematis pada materi program linear
dan data hasil wawancara.
2) Menganalisis hasil tes kemampuan

representasi

matematis pada materi program linear.


3) Menganalisis data hasil wawancara.
4) Menyusun
laporan
hasil
penelitian,

yaitu

mendeskripsikan hasil pengolahan data.


5) Membuat kesimpulan.
4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
a. Teknik pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti
dalam penelitian ini adalah teknik pengukuran berupa
tes tertulis dan teknik komunikasi langsung. Tes yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan
representasi matematis pada materi program linear.
Teknik

komunikasi

mengumpulkan

data

langsung

merupakan

cara

melalui

pertanyaan

yang

disampaikan secara lisan berupa dialog dan dalam


penelitian ini teknik komunikasi yang digunakan yaitu
wawancara.

b. Alat Pengumpulan Data


Alat pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Tes Tertulis
Menurut F.L Goodenough (dalam

Sudijono,

2011:66), tes adalah suatu tugas atau serangkaian


tugas

yang

sekelompok

diberikan
individu,

kepada

individu

dengan

maksud

atau
untuk

membandingkan kecakapan mereka satu dengan


yang lain. Dalam penelitian ini tes yang digunakan
yaitu tes essay. Menurut Nawawi (dalam Sinaga,
2016:46), tes essay adalah tes yang menghendaki
testee (peserta tes) memberikan jawaban dalam
bentuk uraian atau kalimat-kalimat yang disusun
sendiri. Menurut Ari Kunto (dalam Anggun, 2015:35),
Keunggulan yang dimiliki tes essay adalah : (1)
Mudah disiapkan dan disusun, (2) Tidak memberikan
banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untunguntungan,

(3)

Mendorong

siswa

untuk

berani

mengemukakan pendapat serta menyusun dalam


bentuk

kalimat

kesempatan

yang

kepada

bagus,

siswa

(4)

untuk

Memberikan
mengutarakan

maksudnya dengan gaya bahasa sendiri, (5) Dapat


diketahui

sejauh

mana

siswa

mendalami

suatu

masalah yang diteskan.


Tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan
representasi

matematis

ditinjau

dari

tingkat

kemampuan siswa pada materi program linear di


kelas XI SMA. Penyusunan soal tes kemampuan
representasi matematis siswa berawal dari membuat
kisi-kisi soal tes (lampiran 1) yang berisi pokok

bahasan, standar kompetensi, kompetensi dasar dan


indikator yang telah dirancang.
Sebuah tes dikatakan baik, jika tes tersebut
memenuhi

karakteristik

yang

baik.

Prosedur

penyusunan tes meliputi : penyusunan kisi-kisi soal,


penulisan butir soal, validitas tes, uji coba dan
reliabilitas.
a) Penyusunan kisi-kisi
Penyusunan kisi-kisi soal bertujuan agar soal
sesuai

dengan

indikator-indikator

yang

ingin

dicapai. Kisi-kisi soal tes berisi pokok bahasan,


kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator
pembelajaran yang telah dirancang (lampiran 1).
b) Penulisan butir soal
Pada tes kemampuan representasi matematis
ini, soal yang disusun berjumlah tiga soal (lampiran
2)

yang

memiliki

indikator

kemampuan

representasi matematis yaitu representasi visual,


representasi

simbolik

dan

representasi

verbal

(kata-kata).
c) Validitas Tes
Validitas merupakan salah satu kriteria yang
harus dipenuhi untuk mendapatkan alat evaluasi
yang baik. Menurut Ari Kunto (dalam Yudhanegara
dan Lestari, 2015:90), sebuah tes dikatakan valid
apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak
diukur. Validitas ini bertujuan untuk menentukan
kesesuaian antara soal, kisi-kisi soal dan indikator
yang ingin dicapai. Validitas yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah validitas isi dan validitas
konstruksi.

Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari


segi isi tes itu sendiri sebagai alat mengukur hasil
belajar yaitu : sejauh mana tes hasil belajar
sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik,
isinya telah dapat mewakili secara representatif
terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran
yang seharusnya diteskan ( Sudijono, 2011 : 164).
Upaya yang ditempuh dalam rangka mengetahui
validitas

isi

dari

tes

hasil

belajar

dengan

menyelenggarakan diskusi panel, yaitu soal tes


dikonsultasikan

kepada

dosen

pendidikan

matematika Fkip Untan dan guru matematika.


Tes hasil belajar telah memiliki validitas
konstruksi apabila butir-butir soal atau item yang
membangun tes tersebut benar-benar telah dapat
dengan

secara

tepat

mengukur

aspek-aspek

berpikir (seperti : aspek kognitif, aspek afektif,


aspek psikomotorik dan sebagainya) sebagaimana
telah ditentukan dalam tujuan instruksional khusus
(Sudijono,

2011 :

166). Seperti

halnya

pada

validitas isi, upaya yang ditempuh dalam rangka


mengetahui validitas konstruksi dari tes hasil
belajar yaitu soal tes dikonsultasikan kepada dosen
pendidikan matematika Fkip Untan

dan guru

matematika
d) Uji coba
Sebelum diberikan pada siswa, instrumen
diujicobakan terlebih dahulu kepada siswa diluar
sampel yang telah mempelajari materi program
linear. Hal ini tentu dilakukan untuk mendapatkan
hasil evaluasi yang baik.
e) Reliabilitas

Selain diuji tingkat validitasnya, tes yang


digunakan juga harus reliabel yang artinya dapat
dipercaya.

Sebuah

tes

hasil

belajar

dapat

dikatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran


yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut
secara berulang kali terhadap subyek yang sama,
senantiasa menunjukkan hasil yang tetap sama
atau sifatnya ajeg dan stabil (Sudijono, 2011 : 95).
Pada umumnya, mencari reliabilitas tes yang
berbentuk essay menggunakan sebuah rumus
yang

dikenal

dengan

rumus

alpha

(Sudijono,

2011:207). Adapun rumus alpha yang dimaksud


yaitu:
n
Si
r 11 =
1
n1
St 2

( )(

Keterangan :
r 11
= koefisien reliabilitas tes
n

Si

= banyak butir soal


2

soal
S t2

= jumlah varian skor dari tiap-tiap butir

= varian total

Sedangkan

untuk

mencari

varians

digunakan

rumus berikut ini :


2
( X )
2
X N
N
2
S =
Keterangan :
S2
= Varians yang dicari

X2
siswa

= Jumlah kuadrat skor yang diperoleh

( X )

= Kuadrat jumlah skor yang diperoleh

siswa
N

= Jumlah subjek
Dengan nilai koefisien reliabilitas tes sebagai
berikut :

r xy

100

: reliabilitas tergolong sangat

0,60 <

r xy

0,80

: reliabilitas tergolong tinggi

0,40 <

r xy

0,60

: reliabilitas tergolong sedang

0,20 <

r xy

0,40

: reliabilitas tergolong rendah

0,00 <

r xy

0,20

: reliabilitas tergolong sangat

0,80 <
tinggi

rendah
2) Wawancara
Wawancara adalah cara menghimpun bahanbahan

keterangan

melakukan

tanya

yang
jawab

dilaksanakan
lisan

dengan

secara

sepihak,

berhadapan muka, dan dengan arah dan tujuan yang


telah ditentukan (Sudijono, 2011:82). Wawancara
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara
tidak terstruktur.
Menurut Sugiyono (2011:197), wawancara tidak
terstruktur
dimana

merupakan

peneliti

wawancara

tidak

yang

menggunakan

bebas

pedoman

wawancara yang telah tersusun secara sistematis.


Wawancara ini merupakan kegiatan lanjutan dari tes
kemampuan
yang

representasi

dilakukan bertujuan

matematis.

Wawancara

untuk menggali secara

lebih mendalam mengenai kemampuan representasi


matematis siswa pada materi program linear dan
memperkuat

jawaban

siswa

kesalahan dalam penelitian ini.

untuk

menghindari

Wawancara ini dilakukan pada siswa yang telah


terpilih. Siswa yang terpilih ini mewakili tiap kategori
tingkat kemampuan siswa, yaitu dua orang siswa dari
tingkat kemampuan tinggi, dua orang siswa dari
tingkat kemampuan sedang, dua orang siswa dari
tingkat kemampuan rendah dan siswa yang hasil
tesnya belum dapat menggambarkan kemampuan
representasi matematisnya.
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah suatu cara yang digunakan
dalam mengolah hasil data penelitian untuk memperoleh
kesimpulan penelitian . Menurut Bogdan (dalam Sugiyono,
2011 : 334) analisis data adalah proses mencari dan
menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan
sehingga

mudah

lapangan,
dipahami

dan bahan-bahan
dan

temuannya

lain

dapat

diinformasikan kepada orang lain. Sesuai dengan tujuan


penelitian
representasi

yaitu

untuk

matematis

mengetahui
siswa

kemampuan

berdasarkan

tingkat

kemampuan dasar siswa pada materi program linear di


kelas XI SMA, maka data akan dianalisis sesuai dengan
indikator kemampuan representasi matematis. Data yang
diperoleh dari jawaban soal kemampuan representasi
matematis dan hasil wawancara siswa kemudian diolah dan
dianalisis lebih lanjut. Adapun proses analisis data pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Reduksi data
Reduksi data diartikan secara sempit sebagai proses
pengurangan data, namun dalam arti yang lebih luas
adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan
terhadap data yang kurang perlu dan tidak relevan,
maupun penambahan terhadap data yang dirasa masih

kurang. Tahap reduksi data juga dapat diartikan suatu


bentuk analisis yang mengacu pada proses merangkum,
memilih hal-hal penting, mencari tema dan pola. Semua
data dipilih sesuai dengan kebutuhan untuk menjawab
masalah

penelitian.

Langkah-langkah

reduksi

data

sebagai berkut :
1) Memberikan skor hasil jawaban siswa berdasarkan
rubrik penskoran untuk tes kemampuan representasi
matematis (lampiran 4).
2) Menyajikan data hasil tes kemampuan representasi
matematis siswa dalam tabel(Tabel 3).
3) Menyatakan skor tes kemampuan
matematis

siswa

dalam

bentuk

representasi

persentase

dan

menyajikannya dalam tabel (Tabel 4) dengan rumus


sebagai berikut :
skor yang diperoleh siswa
persentase=
x 100
skor maksimal
Dengan klarifikasi sebagai berikut :
a) Sangat tinggi, jika siswa menjawab soal dengan
benar dalam persentase 90% A 100%
b) Tinggi, jika siswa menjawab soal dengan benar
dalam persentase 75% B 90%
c) Sedang, jika siswa menjawab soal dengan benar
dalam persentase 55% B 75%
d) Rendah, jika siswa menjawab soal dengan benar
dalam persentase 40% D 55%
e) Sangat rendah, jika siswa menjawab soal dengan
benar

dalam

persentase

(Suherman,1993:236)
4) Menyatakan skor tes

kurang

kemampuan

dari

40%.

representasi

matematis tiap tingkat kemampuan dasar siswa dalam


bentuk persentase, dan menyajikannya dalam tabel
(Tabel 5)

5) Mencatat kembali hasil wawancara siswa dengan


memilih hal-hal penting sesuai dengan kebutuhan
penelitian.
b. Penyajian data
Penyajian data dilakukan dengan cara menyusun
hasil

reduksi

berupa

sekumpulan

informasi

yang

terorganisasi dan terkategori sehingga memungkinkan


untuk menafsirkan, memberikan makna dan pengertian,
serta menarik kesimpulan. Bentuk penyajian data kualitatif dapat
berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik,
jaringan dan bagan.
Tabel 3
Hasil Perolehan Skor Tes Kemampuan Representasi
Matematis Siswa

Nama
Siswa

No

Skor Kemampuan
Representasi Sisa Per
Soal
Soal 1 Soal 2 Soal 3

Skor Siswa

Tabel 4

Hasil Perolehan Skor Tes Kemampuan Representasi


Matematis Siswa

No

Nama
Siswa

Tingkat
Kemampua
n Dasar
Siswa

Skor Kemampuan
Representasi Sisa
Per Soal
Soa Soa
Soal 3
l1
l2

Persenta
se

Tabel 5

Hasil Perolehan Skor Tes Kemampuan Representasi


Matematis Siswa
Ditinjau dari Tingkat Kemampuan Dasar
N

Jumla

Tingkat

Skor Kemampuan

Sko

Persent

Representasi Sisa
o

Kemampu

Per Soal

Siswa

an Dasar

Soal

Soal 1

r
Tota

Soal 3

ase

Simbolik
Jumlah
Rata-Rata Skor

Visual
Jumlah
Rata-Rata Skor

Verbal
Jumlah
Rata-Rata Skor

c. Penarikan kesimpulan / verifikasi


Langkah terakhir yaitu penarikan

kesimpulan

mengenai kemampuan representasi matematis siswa


dalam materi program linear. Penarikan kesimpulan /
verifikasi merupakan proses perumusan makna dari hasil
penelitian

yang

diungkapkan

dengan

kalimat

yang

singkat-padat dan mudah dipahami, serta dilakukan


dengan

cara

berulangkali

melakukan

peninjauan

mengenai kebenaran dari penyimpulan itu, khususnya


berkaitan dengan relevansi dan konsistensinya terhadap
judul, tujuan dan perumusan masalah yang ada.

I. Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta :
Rineka Cipta.
E. S., Pesta & Cecep. 2008. Matematika Aplikasi. Jakarta :
Pusat Perbukuan.
Fadilah, Syarifah. 2008. Representasi Dalam Pembelajaran
Matematika.

(Online).

(http://fadillahatick.blogspot.co.id/2008/06/reoresentasimatematik.html, dikunjungi 26 Mei 2016) .


Febrian M.S, Gilbert. 2016. Kemampuan Representasi
Matematis Siswa Ditinjau Dari Gaya Belajar Pada Materi
Fungsi Kuadrat Di Kelas X SMA Santo Petrus Fransiskus
Asasi

Pontianak.

Skripsi.

Pontianak

Universitas

Tanjungpura.
Hudiono, Bambang. 2005. Peran Pembelajaran Diskursus
Multi

Representasi

Terhadap

Pengembangan

Kemampuan Matematik dan Daya Representasi pada


Siswa SLTP. Bandung: Disertasi UPI.
Monika, Ayu. 2015. Kemampuan Representasi Matematis
Siswa Materi Himpunan Kelas VII Madrasah Tsanawiyah
Negeri 1 Pontianak. Skripsi. Pontianak : Universitas
Tanjungpura.

Moleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif.


Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
National Council of Teacher of Mathematic. 2000. Principle
and Standars for School Mathematics. Reston, VA :
NCTM.
Nawawi, Hadari. 2015. Metode Penelitian Bidang Sosial.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Nurhayati,
Yetty.
2013.
Meningkatkan
Kemampuan
Representasi dan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP
Melalui Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik.
Rizky

Skripsi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.


P.U, Anggun. 2015. Kemampuan Representasi
Matematis Dalam Menyelesaiakan Soal Open-Ended
Ditinjau Dari Tingkat Kemampuan Dasar Siswa Pada
Materi Segiempat Di Kelas VIII SMP N 5 Pontianak.

Skripsi. Pontianak : Universitas Tanjungpura.


Sabirin, Muhammad. 2014. Representasi Dalam Pembelajaran
Matematika. Banjarmasin.
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar

Evaluasi

Pendidikan.

Jakarta : Rajawali Press.


Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :
Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :
Alfabeta.
Suherman, E. 19933. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar
Matematika. Jakarta : Depdikbud.
Yudhanegara, M. R. & Lestari, K. E. . 2015. Penelitian
Pendidikan Matematika. Bandung : Refika Aditama.