Anda di halaman 1dari 3

ARTHRITIS

SPO
Puskesmas
Jalan Kutai

1. Pengertian

2. Tujuan
3. Kebijakan
4. Referensi
5. Prosedur/Langkah-

langkah

No Dokumen :
No Revisi :
Tanggal Terbit :
Halaman :
Dr. Tri Retno
Wulandari
NIP :
19780805200801201
50

Artritis adalah istilah umum bagi peradangan


(inflamasi) dan pembengkakan di daerah
persendian.
OA (Osteoartritis) merupakan penyakit
degeneratif yang mengenai rawan sendi.
Penyakit ini ditandai oleh kehilangan rawan
sendi progresif dan terbentuknya tulang baru
pada trabekula subkondral dan tepi tulang
(osteofit).
RA (Rheumatoid Arthritis) atau Artritis
Reumatoid, merupakan penyakit autoimun
yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis
erosif simetris yang terutama mengenai
jaringan persendian, namun sering juga
melibatkan organ tubuh lainnya. Lebih banyak
pada wanita dibanding pria. Umumnya usia
antara 35-50 tahun. Faktor genetik, hormon
seks, infeksi berpengaruh kuat pada morbiditas
RA
Untuk memberikan tata laksana yang tepat pada pasien
rheumatoid arthriris.
Penatalaksanaan pasien rheumatoid arthriris di BP Dewasa
dengan menggunakan SPO ini
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2011, Kapita
Selekta Kedokteran Jilid I, hal 492-493, 2001
1. Perawat memanggil pasien sesuai nomor urut,
2. Perawat mencocokkan identitas pasien dengan Rekam
Medis, jika ada ketidaksesuaian data petugas
mengkonfirmasikan dengan sub unit pendaftaran,
3. Perawat melakukan pemeriksaan Tanda Vital,
4. Perawat mencatat hasil pemeriksaan Tanda vital di
form Rekam Medis,

5. Perawat melaporkan hasil pemeriksaan tanda vital


kepada Dokter Pemeriksa,
6. Perawat menyerahkan form Rekam Medik kepada
Dokter Pemeriksa,
7. Dokter melakukan anamnesa :
a. Dokter menayakan keluhan utama pasien,
b. Dokter menanyakan apakah pasien merasakan
nyeri pada persendian,
c. Dokter menanyakan apakah pasien mengalami
pembengkakan pada persendian,
d. Dokter menanyakan apakah pasien mengalami
nyeri sendi (bertambah dengan gerakan, berkurang
dengan istirahat),
e. Dokter menanyakan apakah pasien mengalami
hambatan gerakan sendi,
f. Dokter menanyakan apakah pasien mengalami kaku
pagi < 30 menit,
g. Dokter menanyakan apakah pasien mengalami
krepitasi dan perubahan gaya berjalan,
h. Dokter menanyakan riwayat penyakit terdahulu
pasien,
8. Dokter mencatat hasil anamnesa di form Rekam
Medis,
9. Dokter melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien,
10. Apabila pemeriksaan fisik (persendisn ) didapatkan :
Hambatan gerak sendi, pembesaran sendi, krepitasi,
perubahan gaya berjalan, pembengkakan sendi yang
seringkali asimetris (karena efusi pada sendi), kadangkadang disertai tanda-tanda peradangan, perubahan
bentuk/deformitas sendi yang permanen, Heberdens node
(nodul/osteofit pada sendi DIP), Bouchards node
(nodul/osteofit pada PIP).
Maka hasil diagnosa adalah arthritis,
11. Dokter mencatat hasil pemeriksaan fisik di form
Rekam Medis,
12. Dokter menentukan terapi arthritis :
Analgesik:
a. Analgesik sederhana: asetaminofen 2-4 g/hari
b. Obat antiinflamasi non-steroid, seperti: natrium
diklofenak 2-3 x 25-50 mg, piroksikam.
13. Dokter menulis terapi arthritis di blangko resep,

14. Dokter menyerahkan blangko resep kepada pasien,


15. Dokter mencatat terapi arthritis di form Rekam Medik
16. Dokter memberikan nasehat :
a. Tujuan terapi: mengurangi rasa nyeri hingga dapat
ditoleransi, menghindari komplikasi, mengurangi
kejadian episode akut, meningkatkan kualitas hidup
b. Mengistirahatkan sendi diperlukan dalam keadaan
akut. Selanjutnya pada OA, mungkin pasien perlu
memperbaiki sikap tubuh, mengurangi berat badan,
atau melakukan fisioterapi.
c. Efek samping pengobatan dengan AINS: nyeri ulu
hati, mual, perdarahan saluran cerna. Bila timbul efek
samping, pengobatan: ranitidin 150-300 mg tiap 12
jam. Bila terjadi perdarahan saluran cerna dan anemia
akibat AINS segera dirujuk.
17. Dokter meyerahkan form Rekam Medis kepada
Perawat utuk dicatat di buku Regiter pasien,
18. Perawat mencatat diagnosa dan terapi di buku register
pasien,
19. Alasan rujukan: untuk operasi perbaikan deformitas,
pengobatan lebih lanjut.
6. Unit Terkait

Ruang BP Dewasa