Anda di halaman 1dari 48

Proses kerja penulis naskah

Dalam produksi dokumenter televisi, penulis naskah cukup berperan penting


baik pra hingga pasca produksi, sebab dalam suatu produksi dokumenter televise
seorang penulis naskah harus dapat membuat sebuah naskah atau konsep yang
nantinya menjadi acuan para kru dalam proses produksi hingga pasca produksi, selain
itu seorang penulis naskah juga merangkap sebagai reporter di lapangan.
Menurut MORISSAN, M.A. (2008:314), Penulis skrip ( Scripwriter) memiliki
peran penting khususnya pada tahap pra produksi. Seorang penulis skrip memberikan
garis-garis besar cerita dan dalam banyak hal menentukan struktur keseluruhan suatu
produksi.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa peran seorang penulis naskah
cukup penting khususnya pada tahap pra produksi, karena pada saat itulah penulis
naskah memulai tugasnya dengan membuat naskah berupa konsep yang nantinya
menjadi acuan para kru dalam menentukan baik narasumber dan audio visual yang
dibutuhkan, dimana konsep tersebut didasari dari kenyataan atau realita yang di dapat
di lapangan pada saat survey maupun data-data yang di kumpulkan dari sumber lain
seperti buku maupun internet. Selain itu, penulis naskah juga merangkap sebagai
reporter yang bertugas mengumpulkan informasi sebagai bahan wawancara dan dari
hasil wawancara tersebut nantinya digunakan sebagai bahan data audio visual pada
saat editing. Dokumenter televisi ini sendiri bergenre potret dengan alur cerita yang
dibuat agar mudah di nikmati penonton.

Potret tidak harus mengenai seseorang atau individu, tetapi dapat pula
mengenai sebuah komunitas, sekelompok kecil individu atau sebuah lokasi.
Sedangkan biografi, jelas ini mengenai seorang tokoh atau individu, selain
mengenai profesi atau posisi, juga dikupas dan diketengahkan gambaran sejak
masa kecil hingga dewasa. Mabruri (2013:101)
Ciri karya visual tipe potret atau biografi banyak menampilkan proses sejarah
dari lingkungan, situasi, kondisi, tempat dan waktu sehingga kadang bisa mendekati
genre sejarah, maka dari itu penting peran seorang penulis naskah dalam
mengumpulkan data dan membuatnya menjadi suatu konsep yang sesuai dengan tetap
berfokus pada genre dokumenter yang dipilih.
Pra Produksi
Pra produksi merupakan tahapan kerja terpenting atau utama dalam setiap
produksi film, juga televisi baik fiksi maupun dokumenter. Produksi film
mampu berjalan lancar atau sukses karena berangkat dari persiapan produksi
yang mantap setiap permasalahan harus lebih dulu diselesaikan pada tahap pra
produksi (pre production). Ayawaila (2008:85).
Ide terkadang lahir dari lamunan tapi tidak disarankan untuk berlama-lama
melamun untuk mencari ide. Wawasan kita pada berbagai hal sangat
membantu bagaimana ide bisa di gali. Daya nalar dan sense kita bisa dilatih
kepekaan kita mampu menghadirkan ide-ide yang bisa jadi sebetulnya ada di
dekat kita, di depan mata kita. Artinya, ide itu sebetulnya ada dimana-mana,
tinggal bagaimana kita mampu untuk menangkapnya. Setelah ide didapat,
langkah selanjutnya adalah riset/observasi. Supriyadi et al (2014:46)
Pada tahap pra produksi penulis bersama kru membuat beberapa konsep dari
berbagai sumber berupa buku, maupun internet sampai akhirnya terpilih salah satu
konsep dengan judul Jolotundo Akses Penanggungan. Dari konsep yang sudah
disepakati, penulis bersama kru mulai melakukan pengumpulan data tentang sebuah
petirtaan di daerah Trawas, Mojokerto, tepatnya di desa Seloliman. Penulis juga
melakukan riset atau survey langsung ke lokasi untuk mengumpulkan informasi lebih

banyak lagi terkait objek yang penulis angkat baik dari juru pelihara, pengunjung,
maupun masyarakat sekitar, serta narasumber-narasumber terkait agar data yang
diperoleh lebih akurat.
Melalui riset pendahuluan (preliminary research) dimaksudkan untuk
mendapatkan gambaran bagi pengembang ide agar menjadi lebih mantap. Hal ini
dilakukan melalui analisis visi visual yang memang harus dimiliki seorang sineas,
yang juga dibarengi orientasi kritis. Ayawaila (2008:56)
Saat riset lapangan, penulis dan kru mencoba untuk membuka segala
kemungkinan dari segala aspek di lapangan yang mungkin dapat berpengaruh pada
pengembangan ide maupun konsep cerita dari objek yang tersebut. Pada saat riset
penulis harus dapat menentukan narasumber berdasarkan peran narasumber dari
objek yang akan diangkat sehingga dapat membantu dalam mengumpulkan faktafakta dari objek tersebut sehingga memudahkan dalam menyusun pertanyaanpertanyaan yang nantinya akan diajukan. Paada tahap ini pula baik penulis beserta kru
harus dapat membangun keakraban dengan narasumber sehingga

dapat

memperlancar proses produksi nantinya.


Narasumber dalam dokumenter adalah hal terpenting setelah ide/gagasan serta
bagaimana story telling sang dokumentator. Banyak cara bagaimana menginisiasi
calon narasumber kita, dan riset merupakan langkah awal. Kenali calon narasumber
dengan berbagai referensi. Supriyadi et al (2014:59)

Treatment atau Storyline merupakan sketsa yang dapat memberikan gambaran


pendekatan dan keseluruhan isi cerita. Treatment dapat pula menjadi materi
peresentasi untuk ditawarkan pada produser dan sponsor. Treatment mutlak
diperlukan bagi sang pembuat feature dan dokumenter, meskipun taka da yang
baku dalam penulisan bentuk atau gaya treatment. Mabruri (2013:83)
Naskah awal untuk produksi dokumenter biasa dibuat dalam bentuk treatment
atau ada pula dalam bentuk skenario kasar. Maksud kasar di sini adalah : isi
naskah tidak menampilkan detail filmis seperti tipe shot, isi dialog, posisi
kamera, dan lain-lain. Pembaca draf naskah cukup diberi informasi mengenai
isi dan susunan cerita dalam film dokumenter tersebut. Ayawaila (2008:68)
Setelah survey yang dilakukan sudah slesai dan data-data yang dikumpulkan
dirasa cukup, penulis dan sutradara mulai bekerjasama dalam penyusunan TOR
(Treatment Of Reference) dimana didalam TOR tersebut berisikan masalah, fokus,
angle dan sejumlah pertanyaan yang akan diajukan pada narasumber terkait objek
yang nantinya akan diproduksi.
Produksi
Tahap produksi merupakan tahap yang sangat penting dalam pembuatan
dokumenter televisi ini, karena pada tahap tersebut penulis serta kru dituntut untuk
bekerjasama dan membangun komunikasi yang lebih baik lagi agar proses produksi
dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan
bersama sebelumnya. Pada tahap produksi, penulis berperan membantu sutradara
serta kru lainnya dalam merealisasikan atau menentukan visualisasi yang dibutuhkan
berdasarkan data-data dari berbagai sumber juga pada riset lapangan yang sudah
dikumpulkan pada tahap praproduksi.

Dari Hasil riset, kurang lebih penulis harus mengetahui bagaimana struktur
penuturan yang akan ditulis. Penulis juga harus mengetahui adegan apa yang
akan divisualisasikan dan yang tidak, serta kemungkinan - kemungkinannya.
Apabila nanti dalam produksinya harus menggunakan materi visual (footage)
dari pihak lain, harus diteliti lebih dahulu apakah materi tersebut masih layak
pakai atau tidak,karena ini merupakan faktor penting atau faktor kemudi bagi
penulisan dokumenter. Ayawaila (2008:67)
Selain sebagai penulis naskah, saat produksi penulis juga berperan sebagai
reporter yang bertugas mewawancarai narasumber dengan pertanyaan-pertanyaan
yang sudah disusun dengan acuan dari data-data pada tahap praproduksi sebelumnya
dan disesuaikan dengan siapa narasumber yang akan diwawancarai.
Ketika melakukan wawancara dengan narasumber, kru harus mampu
menciptakan suasana nyaman dan akrab dengan narasumber demi kelancaran proses
wawancara. Maka dari itu sangatlah penting pendekatan terhadap narasumber pada
tahap praproduksi, sehingga membantu sutradara dan penata gambar mengarahkan
narasumber agar tidak terlalu canggung dalam mengahdapi kamera dan juga
memudahkan penulis naskah saat menjadi reporter dilapangan untuk mengajukan
sejumlah pertanyaan.
Hal yang perlu diperhatikan di dalam melakukan wawancara ialah : harus
mengetahui lebih dulu yang menjadi objektivitasnya dan apa yang akan diangkat
dalam wawancara tersebut. Untuk lokasi wawancara, harus diperhatikan pula siapa
tokoh yang akan diwawancarai itu : posisi, pekerjaan, jabatan, pakar, dsbnya.
Supriyadi et al (2014:61)

Dengan memperhatikan faktor penting diatas, penulis dan kru dapat mengatur
jalannya proses wawancara dengan lebih baik dan mendapatkan visual seperti apa
yang dibutuhkan pada saat proses wawancara dilakukan.
Pasca Produksi
Pasca produksi merupakan tahapan akhir dari serentetan proses yang dilalui
dalam pembuatan dokumenter televisi. Pada pasca produksi penulis mereview
kembali hasil wawancara narasumber dan mulai membuat transkrip wawancara untuk
kebutuhan editing.
Dalam naskah dokumenter ada tiga elemen penting yakni : elemen visual,
elemen audio, serta elemen story/cerita. Naskah dokumenter tidak hanya
merupakan kumpulan kata atau kalimat saja, akan tetapi merupakan kompilasi
konsep elemen-elemen telling story. Perpaduan elemen penting inilah yang
menjadikan sebuah dokumenter yang baik. Supriyadi et al (2014 : 53)
Dari pendapat diatas, penting adanya kerjasama dari sutradara dan penulis
naskah dalam penyusunan hasil wawancara dari para narasumber menjadi suatu
rangkaian cerita yang nantinya disempurnakan dengan visualisasi dan kreativitas dari
editor sehingga dokumenter televise yang diproduksi menjadi lebih menarik dan lebih
mudah dipahami oleh para penonton.
Peran dan Tanggung Jawab Penulis Naskah
Peran dan tanggung jawab penulis sebagai penulis naskah sekaligus reporter
dilapangan, dalam karya dokumenter ini adalah sebagai berikut:

Mengumpulkan data-data sebagai bahan menentukan konsep

Membuat TOR dan menyusun pertanyaan untuk narasumber

Mereview kembali hasil wawancara

Menyusun hasil wawancara menjadi rangkaian cerita

Membuat transkrip wawancara untuk kebutuhan editing

Proses Penciptaan Karya


Penulis naskah cukup penting pada proses pembuatan dokumenter karena
tanggung jawabnya mengangkat suatu objek melalui naskah atau konsep yang
menarik dimana sebelumnya sudah dilakukan pengumpulan data dan riset langsung
dilapangan serta informasi dari para narasumber sehingga naskah tersebut dapat
dijadikan acuan baik pada tahap produksi maupun saat tiba di meja editing.
Konsep Penulis Naskah
a. Konsep Kreatif
Pada program dokumenter ini penulis membuat konsep dokumenter
dengan alur cerita yang runtut seputar bangunan dan manfaat dari keberadaan
objek yang penulis angkat dan di perdalam dengan hasil wawancara dari para
narasumber terkait objek yang penulis angkat sehingga menambah nilai
informasi pada dokumenter televisi ini. Konsep dari dokumenter ini sendiri
tidak menggunakan VO (Voice Over) hanya sedikit narasi berupa teks untuk
menjembatani antar informasi yang disampaikan, sehingga alur cerita mengalir
dari apa yang para narasumber informasikan dan dijelaskan dengan gambargambar yang memvisualisasikan informasi tersebut sehingga dapat lebih
dipahami penonton.

b. Konsep Produksi
Pada konsep produksi penulis bertugas mendapingi sutradara dan penata
gambar untuk mendeskripsikan hasil dari naskah atau TOR (Term of Reference)
yang sudah dibuat pada saat praproduksi sehingga dapat di visualisasikan oleh
penata gambar dengan arahan dari sutradara dan mengingatkan detail-detail
yang dibutuhkan untuk keperluan editing. Selain itu, penulis juga merangkap
sebagai reporter lapangan yang bertugas mewawancarai narasumber yang
kemudian hasil wawancara tersebut di review kembali dan disusun menjadi
transkrip wawancara, dimana dari transkrip wawancara para narasumber
tersebut disatukan dan disusun menjadi satu rangkaian cerita yang dapat
dinikmati penonton.
c. Konsep Teknis
Penulis naskah mengumpulkan data-data baik dari berbagai sumber baik cetak
maupun internet dan juga hasil survey yang dilakukan bersama kru sebagai
bahan penyusunan TOR (Term of Reference) dan juga pertanyaan untuk masingmasing narasumber yang dikerjakan pada Microsoft Word 2013
Kendala Produksi
Kendala yang penulis alami pada pra produksi adalah sulitnya menentukan ide
cerita yang menarik dan belum pernah diangkat sebelumnya yang dapat disetujui
semua kru, dan pada tahap produksi kesulitannya adalah jadwal wawancara yang
tiba-tiba

berubah

dari

perencanaan

sebelumnya

karena

narasumber

yang

bersangkutan ada kepentingan yang tidak dapat ditinggalkan sehingga memaksa

penulis dan kru untuk mencari narasumber baru yang masih memahami seluk beluk
objek yang penulis dan kru angkat karena waktu yang sudah mendesak pada saat itu.

Lampiran Kerja Penulis Naskah

:
1. TOR (Term Of Refrence)
2. Transkrip Wawancara
3. Pertanyaan Narasumber

TOR (Term of Reference)


Program Dokumenter Jolotundo Akses Penanggungan
Production Company : BSI
Project Title

: Jolotundo Akses Penanggungan

Durasi

: 20 Menit

Produser

: Karinah Ayu Larasati

Director

: Andi Susanto Wijaya

Penulis Naskah

: Tanti Nur Khotimah

Masalah
Program dokumenter televisi ini menceritakan sebuah petirtaan di kaki
gunung penanggungan sebagai peninggalan masa kerajaan Jawa abad ke-10.
Bagaimana Petirtaan Jolotundo ini berdiri sebagai simbol kemuliaan gunung
penanggungan serta cerita dibalik

pembangunannya. Dari segi bangunan, pada

dinding Petirtaan Jolotundo awalnya terdapat beberapa relief dari pancuran airnya
namun saat ini hanya tersisa beberapa inskripsi yang jelas yakni tahun saka dan
ukiran sansekerta bertuliskan gempeng pada dindingnya sedangkan sebagian
bagian bangunan lainnya disimpan dan bahkan ada yang hilang
Sebagai salah satu peninggalan leluhur meski sudah tidak utuh lagi, Petirtaan
Jolotundo memiliki keistimewaan yakni dari awal pembuatannya air yang mengaliri
petirtaan tidak berhenti mengalir bahkan di musim kemarau, sehingga alirannya
banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk kebutuhan air sehari-hari juga untuk
mengaliri persawahan di desa-desa disekitarnya. Kualitas airnya sendiri sempat

diteliti memiliki kandungan yang baik untuk kesehatan dan bahkan diyakini sebagian
masyarakat hampir setara dengan air zam-zam di Mekah sehingga dianggap sebagai
salah satu sumber air dengan kualitas terbaik di dunia
Sejak dibuka untuk umum sebagai tempat wisata, Petirtaan Jolotundo saat
makin banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan waktu
terpadat mengunjungi Petirtaan Jolotundo adalah sore menjelang malam dan
didominasi pengunjung yang melakukan kegiatan spiritual. Tidak hanya menjadi
objek wisata, Petirtaan Jolotundo dianggap sebagai pintu awal atau gerbang menuju
keburkalaan lainnya di situs gunung penanggungan, dimana gunung penanggungan
sendiri dianggap sebagai puncak dari gunung mahameru yang dipindahkan dari India
untuk menstabilkan pulau Jawa.
Fokus
Keberadaan Petirtaan Jolotundo sebagai salah satu peninggalan leluhur abad ke 10
yang berdiri di kaki gunung penanggungan serta sebagai pintu menuju kepurbakalaan
lainnya di gunung penanggungan.
Angle
Cerita berdirinya Petirtaan Jolotundo serta keistimewaannya dari segi bangunan,
kualitas airnya maupun berdirinya Petirtaan Jolotundo sebagai pintu atau titik awal
menuju situs kepurbakalaan lainnya di gunung penanggungan.

NARASUMBER DAN PERTANYAAN


Production Company : BSI
Project Title

: Jolotundo Akses Penanggungan

Durasi

: 20 Menit

Produser

: Karinah Ayu Larasati

Director

: Andi Susanto Wijaya

Penulis Naskah

: Tanti Nur Khotimah

Narasumber : Prof. Agus Aris Munandar , M. Hum


Arkeolog, Guru Besar Universitas Indonesia
Penulis memilih Prof. Agus Aris Munandar sebagai narasumber karena
pengalamannya di bidang arkeologi dan peran beliau juga sebagai salah satu peneliti
yang meneliti situs-situs disekitar penanggungan salah satunya Petirtaan Jolotundo
1. Bagaimana awal mula berdirinya Petirtaan Jolotundo ?
2. Mengapa petirtaan Jolotundo justru di kaitkan dengan kisah Udayana dan
Airlangga ?
3. Dari bentuk bangunan apa tujuan dan fungsi dari pembuatan petirtaan
Jolotundo pada masanya ?
4. Apa saja bagian petirtaan yang sudah tidak ada dan dimana bagian bagian
bangunan tersebut dari petirtraan itu disimpan?
5. Bagaimana skema petirtaan sehingga walaupun airnya terus mengalir tidak
membanjiri sekitar kolam ?
6. Apa perbedaan atau ciri yang membedakan Petirtaan Jolotundo dengan
peninggalan masa sebelum dan sesudahnya?
7. Apa kaitan petirtan Jolotundo dengan situs situs peninggalan di sekitarnya ?
8. Mengapa petirtan Jolotundo dikatakan sebagai titik awal / pintu menuju
kepurbakalaan lainnya di gunung penanggungan ?

9. Apa saja candi atau peninggalan yang berada disekitar Jolotundo dan
penanggungan ?
10. Mengapa gunung penangungan dipilih sebagai tempat membangun candicandi tersebut?
11. Candi apa saja yang dapat ditemui di jalur pendakian Jolotundo ?
12. Apa yang para arkeolog maupun pihak terkait lakukan dalam menanggulangi
banyaknya situs yang banyak dicuri di kepurbakalaan penanggungan?
13. Himbauan kepada para pengunjung yang datang baik ke Jolotundo maupun
peninggalan lainnya di penanggungan?
Narasumber : Bpk. Syafii
Humas Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH)
Penulis memilih Bapak SyafiI sebagai narasumber karena beliau merupakan
Humas PPLH yakni LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan lingkungan dan
beliau sendiri sering diutus sebagai pemandu turis asing untuk wisata Jolotundo
maupun gunung penanggungan.
1. Apa itu PPLH ?
2. Awal mula penelitian tentang air Jolotundo?
3. Khasiat dari Petirtaan Jolotundo?
4. Apakah ikan-ikan di petirtaan tidak mempengaruhi kualitas air?
5. Penjelasan tentang air Jolotundo yang tidak berhenti mengalir?
6. Manfaat air Jolotundo untuk masyarakat sekitar?
7. Apa pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas air ?
8. Yang seharusnya dilakukan masyrakat untuk menjaga kualitas dan debit air
Jolotundo?
9. Peran PPLH untuk Petirtaan Jolotundo?
Narasumber : Bpk. Muhaimin
Juru Pelihara Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)
Penulis memilih Bpk. Muhaimin sebagai narasumber karena beliau
merupakan salah satu juru pelihara yang bertugas menjaga lingkungan dan kebersihan
Jolotundo dari pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Jawa Timur.
1. Apa itu Petirtaan Jolotundo dan bagaimana awal mula berdirinya?
2. Apa tujuan dan fungsi dari Petirtaan Jolotundo?
3. Bisa dijelaskan berapa luas dan bagian-bagian dari Petirtaan Jolotundo?
4. Berapa kali petirtaan dipugar dan bagian mana saja yang sudah tidak utuh ?
5. Arti dari huruf sansekerta pada dinding?
6. Kapan Jolotundo mulai dibuka untuk wisata dan waktu terpadat dikunjungi?

7. Cara khusus yang biasa dilakukan untuk mengambil air petirtaan?


8. Upaya yang dilakukan untuk kelestarian Jolotundo?
9. Kaitan Petirtaan Jolotundo dengan gunung penanggungan?
10. Kenapa Jolotundo banyak digunakan untuk kegiatan spiritual?
11. Bagaimana tata cara saat berkunjung ke Jolotundo?
12. Bagimana Harapan bapak sendiri sebagai juru pelihara untuk Jolotundo
kedepannya ?

Narasumber : Bpk. Ahdhori


Juru Pelihara Jolotundo
Penulis memilih Bpk. Ahdhori sebagai narasumber penulis karena beliau
merupakan salah satu dari juru pelihara dari pihak Jolotundo sendiri dan sudah
mengabdi selama hampir 32 tahun.
1. Apa itu Petirtaan Jolotundo dan bagaimana awal mula berdirinya?
2. Apa tujuan dan fungsi dari Petirtaan Jolotundo?
3. Bisa dijelaskan berapa luas dan bagian-bagian dari Petirtaan Jolotundo?
4. Berapa kali petirtaan dipugar dan bagian mana saja yang sudah tidak utuh ?
5. Arti dari huruf sansekerta pada dinding?
6. Kenapa Jolotundo banyak digunakan untuk kegiatan spiritual?
7. Pendapat tentang pengunjung yang mengukir candi ?
8. Bagaimana tata cara saat berkunjung ke Jolotundo?

TRANSKRIP WAWANCARA

Production Company : BSI


Project Title

: Jolotundo Akses Penanggungan

Durasi

: 20 Menit

Produser

: Karinah Ayu Larasati

Director

: Andi Susanto Wijaya

Penulis Naskah

: Tanti Nur Khotimah

Narasumber

: Prof. Agus Aris Munandar , M. Hum


Rekaman UI 1 (00003)
Table III.7

No
1

Time Logging
00.13

00.10

Statement
Ket
Petirtaan Jolotundo itu kalau dari inskripsi OK
yang ada disana itu menujuk angka tahun
899 saka ya, atau 977 masehi, lalu
disebelah kirinya ada inskripsi lagi
berbunyi gempeng, nah kalau menujuk
angka pahatan tahun itu didirikan sekitar
abad 10 masehi, dan kira kira dalam masa
pemerintahan raja siapa, itu masa
peralihan ya, antara jawa tengah ke jawa
timur jadi sangat mungkin itu masa
pemerintahan sebelum Airlangga berkuasa,
tetapi sesudah Empu Sindok memindahkan
ibukotanya ke Jawa Timur.
Di Petirtaan Jolotundo ada relief yang
menggambarkan cerita cerita Mahabrata
disana, dan akibatnya para ahli yang
membahas
petirtaan
Jolotundo
menguraikan bahwa ada hiasan yang
melengkapi petirtaan tersebut. Pada salah
satu panel yang dipahatkan disana ada

OK

tulisan yang berbunyi Udayana, nah ini


yang kemudian ditafsirkan oleh seorang
ahli Belanda yang namanya, F.D.K Bosch
sebagai nama raja dari Bali, nama raja Bali
itu
lengkapnya
Dharmodayana
warmadewa, tapi disitu cuma Udayana,
nama itu ya, nah akibatnya karena ada
kemiripan nama disangka, ditafsirkan oleh
F.D.K
Bosch
sebagai
tempat
pendarmaannya raja Bali Udayana itu,
oleh karena itu dianggap oleh orang Bali,
sampai
sekarang
bahwa
Petirtaan
Jolotundo
itu
berkaitan
dengan
pemakaman leluhur Bali, sehingga banyak
dikaitkan dengan Udayana, padahal kata
Udayana disitu tidak ada kaitan dengan
Dharmodayana Warmadewa, nama itu
justru menjelaskan pada para pemahatnya
dulu untuk menggambarkan adeganadegan raja Udayana. siapa raja Udayana,
itu salah satu tokoh dalam cerita
Katasaritsagara yang dikenal di India
dan juga dikenal di Jawa. salah satu
adegannya menggambarkan ada raja
Udayana yang sedang tampil dalam
upacara perebutan Putri Mragayawati, jadi
tidak ada kaitannya sama sekali dengan
raja Udayana cuma terlanjur oleh para
penafsir sekarang mengikuti tafsir dari
F.D.K Bosch dulu.
3

Lokasi Jolotundo itu ada di lereng barat


satu gunung yang disucikan sejak dulu
sampai sekarang nama nya gunung
penanggungan ya, nama aslinya dari kitab
kitab lama itu namanya pawitra, nah disitu
ada dua sebenarnya petirtaan di
penanggungan di pawitra itu di Jolotundo
disisi barat dan belahan disisi timur apa

maksudnya dulu dibuat petirtaan Jolotundo


sebenarnya para pembuatnya pada masa
abat ke10 itu ingin menampung air yang
keluar dari gunung mahameru ,
penanggungan itu dianggap sebagai
puncak mahameru dan air yang keluar dari
gunung mahameru dianggap air amerta,
apa itu air amerta air keabadian, air yang
membawa berkah, air yang membawa
kesejahteraan, jadi dibuatnya Petirtaan
Jolotundo dalam hal ini adalah untuk
memperoleh air amerta dari gunung suci
penanggungan
dipergunakan
untuk
mengaliri sawah sawah didesa yang ada
dibawahnya dulu dan juga dipergunakan
untuk pengambilan suci .pengambilan air
suci dalam upacara-upacara pemujaan
kepada dewata, karna air penanggungan
dan air yang mengalir di Jolotundo setara
dengan air amerta.
4

04.49

Ketika ditemukan abad 19 petiraan itu


sudah berantakan, tidak ada lagi kolam
yang semula ada tiga teras yang tersisa
cuma kolam teratas yang sekarang kolam
yang ketiga yang juga tertimbuni oleh
tanah. nah ketika dilakukan pembugaran
baru kelihatan ada sisa kolam di paling
atas itu ada tahta, nah arca utamanya itu
hilang tidak ada lagi. dikanan kiri tahta ada
semacam ruangan yang memancurkan air
ditengahnya, disebelah kanan itu ruangan
garuda disebelah kiri ruangan naga. Dari
mulut garuda dan naga itu dulu
memancurkan air tapi sekarang sudah
terpangkas baik garuda hilang tubuhnya
dan naga juga hilang sebagian kepalanya,
dan disitu ruangan nya itu dulu tentunya
ada atap tapi atapnya terbuat dari bahan

OK

yang mudah rusak, jadi tidak ada lagi. lalu


2 kolam di bawahnya karna ia bertingkat
dua kolamnya yang menuju sungai
sekarang tidak ada lagi sudah menjadi
halaman Jolotundo itu sendiri.
5

06.04

Bagian-bagian yang semula merupakan


pelengkap Jolotundo sekarang masih ada
disisi sebelah timur Jolotundo ditumpuk
ada tumpukan batu batu candi itu
berserakan mestinya si para pemugar, para
arkeolog ingin mengembalikan ke
strukturnya semula, tetapi bahannya tidak
lengkap lagi, sehingga sementara ini
ditumpuk disitu, mungkin pada penelitian
mendatang ditemukan lagi batu batu yang
lebih lengkap sehingga bisa di kembalikan.
Selain disisi sebelah timur ada juga arca
arca yang penting itu disimpan di pendopo
didepan Jolotundo sekarang, ada pendopo
ada bangunan yang permanent tetapi
dindingan nya itu di sekat sekat dengan
ram ram itu, jadi orang dari luar bisa lihat.
Kapan kalau ada waktu bisa orang itu
masuk tapi dengan seijin juru pelihara.

OK

07.11

Iyaa, jadi sumber air itu berasal dari mata


air alami yang ada di atas, dilereng atas,
lereng atas itu yang di penuhi dengan
hutan-hutan besar dulu banyak pohon
pohon besar tetapi pohonya sekarang
sudah ditebang sehingga tidak ada lagi
hutan yang lebat, air sekarang, debit air
nya itu berkurang dibanding dengan debit
air tahun 80-an saja, waktu saya masih
kuliah dan saya berkunjung kesana airnya
masih banyak. Tentu air itu dulu memang
sengaja berlimpah limpah mengiliri kolam
yang paling atas lalu pindah kekolam yang
kedua lalu kolam yang ketiga lalu

OK

diteruskan ke sungai, ada sungai disitu.


sungai inilah yang kemudian mengalir ke
desa desa dibawahnya, ke desa seloliman
kutoguirang dan seterusnya. Jadi memang
air itu dibutuhkan oleh masyarakat
setempat jadi aneh kalau misalnya hutan
hutan lindung dilereng atasnya Jolotundo
itu ditebangi.
7

08.55

Sebenarnya Jolotundo itu petirtaan,


petirtaan itu adalah kolam suci untuk
menampung air, airnya di perlukan untuk
upacara, tetapi penduduk, memang
penduduk lokal sekarang menyebutnya
candi juga, jadi bukan Petirtaan Jolotundo,
tapi
Petirtaan
Jolotundo,
kalau
dibandingkan dengan candi candi yang ada
dibawah sebelum dan sesudahnya memang
beda, kalau candi candi abad 9-10 itu
candi untuk menyimpam arca arca dewa
tanpa air, nah kalau Jolotundo itu memang
petirtaan kolam air jadi dari arsitekturnya
sendiri sudah beda yang membedakan
adalah kalau candi candi dibawah itu candi
candi abad 10 dan candi candi sesudahnya
abad 13-15 itu mempunyai ruangan dan
tempat arca lalu beratap dan seterusnya
karna memang konsepnya dia bangunan,
bangunan yang tertutup tapi kalau
Jolotundo itu bangunan air yang terbuka
jadi beda, ada perbandingan yang mestinya
terjadi antara Jolotundo dengan petirtaan
yang lain yaitu petirtaan candi tikus
dizaman majapahit, Petirtaan Jolotundo
jauh lebih kuat. Karena dibuat dari balok
balok batu sementara candi tikus dibuat
dari struktur bata yang sekarang tidak
mengalirkan air nya lagi candi tikus karna
sumber air nya itu bukan dari lokasi yang

OK

sama tetapi didatangkan dari tempat yang


lain. Ketika saluran air dari sumber air ke
candi tikus ini terpotong air nya jadi
terhenti nah Jolotundo air nya memang
dibelakang nya jadi terus terusan sampai
sekarang. Kalo dibandingkan dengan
pertitaan sebelum nya abad ke 9 yaitu
cabean kunti yang ada diboyolali itu beda
juga karna cabean kunti itu petirtan yang
ada di tepian sungai jadi ketika air sungai
nya berisi mengalir petirtan nya jadi
berfungsi,tapi kalo air sungai nya kering
tidak ada air nya lagi nah Jolotundo ini
beda dia tetap mengalirkan air dikalau
kemarau ataupun musim penghujan.
8

11.11

Kaitan nya itu kepada pemujaan kaitan itu


terjadi berupa pemujaan kepada gunung
yang suci gunung suci nya adalah pawitra
gunung penanggungan. Jolotundo adalah
kepurbakalaan tertua digunung itu dari
abad 10 977masehi dan dilereng atas dari
Jolotundo itu masih banyak kepurbakalaan
lain nya bentuk nya punden punden
berundak ini dari jaman majapahit abad 14
dan juga abad 15 makin banyak fdi jumpai
kalo kaitan kerajaan tidak ada memang
karena Jolotundo di bangun pada masa
mataram baru pindah ke jawatimur dan
punden punden berundak di atas nya itu
jaman Majapahit jadi tidak ada kaitan
sejarah tetapi kalo kaitan keagamaan
sangat nyata kentara antara Jolotundo dan
punden punden berundak di atas nya yaitu
sama
sama
menghormati
gunung
penanggungan atau pawitra sebagai
puncak mahameru yang di pindah dari
jambuduwipa dari india ke tanah jawa.
Ada

banyak

rute

sebenarnya

untuk

OK

mendaki ke puncak penanggungan, rute yg


paling awal dan mudah itu memang
melalui Jolotundo sehingga para pendaki
dan para peneliti juga dan para arkeolog
itu sering kali menjadikan Jolotundo
sebagai gerbang awal,titik awal untuk
mendaki ke arah punden punden yang ada
di atas nya. Jalur lain bisa dari sebelah
utara namanya gapura jedong atau jalur
lain dari desa balekambang atau jalur lain
dari tamiajeng tapi semua jalur yang lain
itu jauh. Sehingga waktu yang ditempuh
oleh para peneliti itu jadi lebih panjang ,
apabila melewati Jolotundo lebih cepat
oleh karena itu seringkali titik pangkal
pendakian bermula dari Jolotundo.
10

15.55

Pada posisi yang paling dekat tentu saja


adalah punden punden berundak di atas
nya , kepurbakalaan disana itu ada 27
punden struktur bangunan bertingkat
dengan nama nama bernomor romawi
karna penelitian yang dilakukan oleh
sarjana Belanda van romon menggunakan
nomor I,II,III dan seterusnya nomor
romawi
tetapi
penduduk
setempat
memberi nama menurut versi dia
kepurbakalaan 1 candi lurah misalnya
begitu , kepurbakalaan 3 candi kerajaan
kepurbakalaan nomer 22 candi gajah ,
kepurbakalaan 65 candi kendalisodo gitu .
nah total ada berapa ada 83 dan terakhir
penelitian terbaru itu sampai menembus
113 mungkin titik situs terbaru tapi itu ada
di lereng bagian atas dan kepurbakalaan
yang paling dekat dengan penanggungan
itu saja punden punden berundak di atas
nya
tapi
dilereng
bawah
ada
kepurbakalaan lain yang menarik juga

OK

misalnya arca Rencolanang, Rencolanang


itu didaerah yang sama di Trawas itu
menggambarkan budha aksobya setinggi
hampir 4,5meter 1batu monolit tapi belum
rampung dikerjakan tangan nya dengan
sikap kebawah menunjuk ke bumi,bumi
sparsa dan dia sebenarnya aksobya dan
kajian terhadap aksobya ini atau
Rencolanang ini belum tuntas tetapi tafsir
saya dia menggambarkan seorang raja
singosari terakhir yaitu kertanegara tapi
belum rampung tuh disitu. Lalu agak
kebawah lagi candi kesiman tengah jaman
majapahit candi ini unik karna mempunyai
relif
yang
sangat
mirip
dengan
penggambaran relief relief di bangunan
bangunan candi di asia tenggara itu juga
penelitian belum tuntas . jadi seputaran
Jolotundo sebenarnya ada 1 tempat
kepurbakalaan yang tersia sia namanya
kutoguirang. Kutoguirang ini struktur bata
yang sangat luas berbentuk tembok
tembok dan semacam bendungan air
sebenarnya , tetapi ada di sawah penduduk
dan sawah penduduk itu sekarang sudah
menjelma menjadi permukiman penduduk
akhir nya yang saya saksikan tahun 80an
itu sekarang sudah tinggal sedikit sekali
yang tembok nya membentang di tengah
sawah itu.

11

16.11

Narasumber

Dalam hikayat jawa ada kitab namanya


Tantupanggelaran nah kitab ini mungkin
yang bisa menjelaskan mengapa lalu
gunung penanggungan dianggap gunung
paling suci
di jawa, dalam cerita
tantupanggelaran dikatakan bahwa para
dewa bersepakat untuk memindahkan
gunung mahameru dari india, gunung
mahameru itu titik pusatnya alam semesta
disana dipindahkan dari india ke jawa
mengapa dipindahkan karena jawa itu
dianggap oleh para dewa sebagai tanah
yang baik untuk manusia melanjutkan
keturunannya,
untuk
manuasia
melanjutkan kehidupannya sementara
pulau jawa itu selalu bergerak gerak
karena gelombang samudra akhirnya untuk
menenangkan itu dipindahlah gunung
mahameru dalam perjalanannya gunung
mahameru itu runtuh menjadi gunung
gunung lain tubuhnya menjadi gunung
semeru dan puncaknya yang terpotong
menjadi gunung penanggungan jadi
dengan demikian penanggungan dianggap
suci karena puncaknya dari gunung
mahameru di India yang telah pindah ke
pulau Jawa.

OK

: Prof. Agus Aris Munandar , M. Hum


Rekaman UI 2 (00004)

No
12

Time Logging
01.17

Statement
Ket
Dari Jolotundo itu kita bisa naik keatas OK
dan sampai pada ketinggian tertentu kita
sampai pada bagian hutan yang paling
akhir itu ada reruntuhan altar yang disebut

dengan candi bayi tapi itu sebenarnya


disusun ulang oleh juru peliharanya
menjadi bentuk seperti candi begitu tapi
kecil ukurannya, lalu naik keatas itu ada
dua percabangan kalo ke kiri itu sampailah
ke candi Shinto atau kepurbakalaan nomer
17, kita bisa istirahat disitu biasanya para
pendaki atau para peneliti istirahat disitu,
di nomer 17 ya dan didepannya itu ada
bangunan altar juga disampingnya ada
gentong, nah sering ini disebut candi
gentong, padahal nomer 17 itu satu
kesatuan, ada 17A, B dan C, yang 17C itu
yang itu altar dan gentong, yang 17B yang
altar saja itu candi Shinto, lalu kita sampai
juga ke candi yudha, yudha itu artinya
perang tapi sekarang tinggal runtuhannya
saja, dulu waktu saya masih kuliah, saya
menyaksikan ada relief peperangan disitu
dalam dua tingkat relief peperangan dari
adegan Ramayana sehingga sehingga
penduduk yang mengerti tentang cerita
wayang memberi nama candi yudha, lalu
belok kearah kanan ada candi terbesar dan
itu mungkin nomer 1 ya oleh van romon
disebut candi lurah karena penduduk
menganggap ini pemimpinnya para candi ,
lurahnya para candi karena ini paling besar
kosong tanpa hiasan. Dari candi lurah
kekanan lagi sejajar pada lereng yang
sejajar ada candi triluko, triluko itu tiga,
tiga altar, tri itu tiga luko itu dunia gitu,
tiga dunia. Tapi gak tau sekarang apakah
masih ada atau gak candinya triluko itu,
lalu naik keatas kita sampai ke candi siwa,
masih ada mungkin. Lalu candi wisnu,
mungkin sudah tinggal runtuhan terus naik
keatas ada goa-goa dan akhirnya sampai
dipuncak penanggungan. Kalau dari candi

sinto kekiri, itu sejajar dengan lereng candi


Shinto itu kita turun kebawah sedikit akan
ketemu kepurbakalaan nomer 8 candi
wayang. Candi wayang ini ada relief yang
menggambarkan adegan cerita panji
sebenarnya tapi penduduk menganggapnya
itu cerita wayang makanya disebut candi
wayang gitu, lalu naik lagi sedikit ke bukit
ya gak sedikit si capek juga di bukit gajah
mungkur, ada kepurbakalaan dulu nomer
22 sangat cantik dulu karena ada relief
panji tapi sekarang sudah dipangkas
reliefnya oleh pencuri jadi tinggal
gajahnya aja dua yang disebut candi gajah,
candi kerajaan juga ada di blok situ yang
menggambarkan
adegan-adegan
peperangan dharmawangsa, dan maaf
adegan-adegan peperangan arjuna dengan
siwa.
13

06.08

Di trowulan sekarang, di pusat informasi


majapahit, ada arca wisnu yang duduk
dipunggung garuda, arca ini dulu dianggap
sebagai Airlangga., karena banyak sarjana
menafsirkan bahwa dia Airlangga sedang
duduk dipunggung garuda, buku-buku
lama dari arkeologi mengatakan arca
wisnu duduk dipunggung garuda ini
berasal dari pemandian belahan disebelah
timur penanggungan, tetapi penelitian
terbaru setelah diukur rongga yang tersisa
dengan ukuran arcanya ternyata tidak
cocok, jadi arca wisnu diatas garuda,
punggung garuda itu bukan dari belahan,
lalu permasalahannya dari mana?. Nah
arca wisnu dari, arca wisnu yang ada di
museum trowulan itu, museum pusat
informasi majapahit sangat mungkin
berasal
dari
suatu
tempat
yang

OK

mengandungi unsur garuda, dan dari gaya


seninya memang gaya seni abad ke 10,
artinya kalau tidak dari belahan dari
tempat lain yang juga merupakan
petirtaan, saya menduga bahwa arca wisnu
dipunggung garuda itu sebenarnya berasal
dari bagian tengah Jolotundo itu, yang
sekarang sudah kosong tinggal lingkaran
prabamandalanya harusnya ada disitu, dan
itu tidak menggambarkan raja Airlangga,
tidak menggambarkan siapa-siapa raja
tetapi memang wisnu diatas garuda,
garudanya ada disebelah kanan sebagai
pancuran, lalu naga yang digenggamnya
itu ada disebelah kirinya sebagai pancuran
juga, jadi semunya berasal dari Jolotundo
Cuma tidak ada laporan yang jelas
disangkanya dari belahan
14

09.27

Saat ini di penanggungan sudah ada


banyak juru pelihara ya sekitar 15 atau 16
jurur pelihara, dulu waktu jamannya saya
sering ke penanggungan itu Cuma 3 untuk
satu gunung, nah oleh karena itu banyak
pencurian, banyak perusakan terhadap
situs disana, sekarang ini memang sudah
ada semacam sosialisasi dari kantor-kantor
arkeologi dari jawa timur dan juga juru
pelihara yang mendekati penduduk bahwa
itu harus dijaga, yang menjadi perhatian
kita adalah tempat-tempat sunyi dan
terpencil di gunung itu, bisa saja pencurian
it uterus terjadi karena siapa yang jaga
kalau malam hari, jadi kalau ada temuantemuan baru sebenarnya tidak kami ekspos
gitu, kalau kami beritau kepada mass
media dikhawatirkan, pemebritahuan kami
itu justru akan mengundang pencuri, jadi
sebenarnya apa yang harus dijaga disana

OK

adalah kesadaran masyarakat bahwa itu


adalah bagian dari kebudayaan kita,
kebudayaan nasional jadi harus dijaga,
cuma karena tempatnya satu gunung ya
penjagaan itu jadi sukar gitu

Narasumber

: Prof. Agus Aris Munandar , M. Hum


Rekaman 00005

No
15

Time Logging
00.00

Statement
Ket
Boleh datang ke penanggungan tapi jangan OK
menggangu kepurbakalaan ya, jangan
coret moret, mengecet, atau ikut-ikut
memahat seperti itu para pujangga jaman
dulu gitu, pahat-pahat itu gak sama sekali,
itu
dilarang,
karena
beberapa
kepurbakalaan juga ada yang di cat gitu
oleh para pengunjung dengan piloks itu
yang tidak dianjurkan sama sekali karena
itu akan merusak, apa namanya,
permukaan batu. Lalu jangan membuat
jalur baru, karena jalur baru itu sebenarnya
akan merusak sistim air mengalir ketika
musim hujan, penanggungan itu diatas
gundul tidak ada pohonan, jadi ikut saja
jalur
lama,
yang
pertama
akan
mengganggu sistim jatuhnya air dari
puncak gunung ke lereng, yang kedua
berbahaya cari jalur baru, karena si
pendaki itu akan terpeleset, curam
penanggungan itu

TRANSKRIP WAWANCARA
Production Company : BSI

Project Title

: Jolotundo Akses Penanggungan

Durasi

: 20 Menit

Produser

: Karinah Ayu Larasati

Director

: Andi Susanto Wijaya

Penulis Naskah

: Tanti Nur Khotimah

Narasumber

: Bpk. Syafii
Rekaman 00000
Table III.8

No

Time Logging

Statement

Ket

PPLH adalah singkatang dari Pusat C


Pendidikan Lingkungan Hidup, merupakan
LSM yang bergerak dibidang pendidikan
lingkungan yang diresmikan tahun 1990
tepatnya 15 mei

Kalo tentang penelitian air Jolotundo, C


sebelum ada penelitian tersebut ada
beberapa orang Belanda yang meneliti
situs-situs di penanggungan yang termasuk
salah satunya adalah tentang Jolotundo, ya
jadi mulai tahun 19..1900 sampai 1935 itu
peneliti dari Belanda terutama meneliti
tentang situs-situs sampai menemukan 81
situs, untuk tentang air Jolotundo sendiri
ini pernah ada ungkapan yang pernah
meneliti orang Belanda dan menyatakan
air Jolotundo air ranking 5 terbersih di
dunia

Kandungan yang jelas setara dengan air C


zam-zam yang ada di mekah ya, jadi
menerut hasil penelitian ada 20 mineral
yang ada di dalam air tersebut, kalo

informas tentang air zam-zam ada 22


mineral termasuk ada alkali yang bagus
untuk kesehatan tubuh kita termasuk
oksigen juga
4

Untuk kolam ikan yang jelas tidak ada C


pengaruh sama sekali karena yang
dimanfaatkan adalah air dari pancuranpancuran yang keluar, dan dimanfaatkan
oleh masyarakat itu untuk dikolam untuk
bersuci ya jadi untuk kolam ikan itu adalah
sisa dari pembuangan air yang ada di
kolam atau pancuran-pancuran yang keluar
dari mata air yang ada di Jolotundo

Nah yang jelas kenapa air Jolotundo tidak C


berhenti mengalir sejak dibangun, sejak
abad ke 9 ya tepatnya tahun 977 masehi
sampai saat ini air tersebut masih mengalir
walaupun itu musim kemarau, disitu
dijelaskan
bahwa
dari
penelitian
kemungkinan ada tendon raksasa yang ada
di
dalam
gunung
pawitra
atau
penanggungan jadi air tesebut adalah air
abadi yang jelas ada sumber dibawah
tanah yang keluar terus-menerus mengalir
itu makanya gak sampai habis dan daerah
hutan yang masih cukup bagus

Untuk masyarakat sendiri memanfaatkan C


air Jolotundo untuk diminum, untuk air
minum, untuk air mandi sehari-hari yak
arena air tersebut dibawa ke desa terutama
di daerah dusun biting dan dusun
balekambang itu melalui pipa-pipa yang
ada disitu

Ya jadi kalo dulu ada yang neliti, orang C


Belanda neliti sampai dinyatakan ranking
5 sedunia tapi seharusnya saat ini hatus
ada peneliti dari Negara kita sendiri krena

apa, karena sekarang Indonesia sudah


bukan daerah maritim dan daerah apa
daerah agraris tapi berubah menjadi daerah
industri terutama disekitar penanggungan
di desa Ngoro di kecamatan Ngoro itu
tersebar pabrik-pabrik yang ada disitu
malah areal untuk industri, makanya itu
kualitas air tersebut masih bagus atau
nggak ini perlu diteliti lagi karena ada
banyak polusi udara, macem-macem ya
dan akan mempengaruhi kualitas air, perlu
diteliti lagi
8

Kalo untuk masyarakat sendiri sudah C


melakukan rasa syukur mereka untuk
melakukan ritual, ritual bersih desa, atau
bersih dusun, jadi mereka berterima kasih
kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa
mereka masih dapat air bersih dari
Petirtaan Jolotundo, untuk terus juga setiap
tahun mereka juga konservasi hutan jadi
ada penanaman, reboisasi ya yang masih
apa yang masih kosong mereka tanami
untuk tanaman baru dan juga untuk
wisatwan harapannya memang diharapkan
tidak membuang sampah sembarangan
karena akan mempengaruhi kualitas
resapan air yang ada di daerah-daerah
hutan

Narasumber

: Bpk. Safii
Rekaman 00003

No
9

Time Logging
01.17

Statement
Ket
Jadi air di Jolotundo itu kan di atas OK
candinya sendiri ada tandon yang akhirnya
ada pipa-pipa yang mengalir ke pancuranpancuran yang ada di petirtaan tersebut

termasuk yang mengalir di kolam, kolam


untuk
yang sebelah kanan dan kiri,
sebelah kanan dan kiri ada pancuran yang
besar ada tiga ya, yang besar ada dua kecil
itu memang mengalir terus-menerus
tujuannya untuk mengisi atau mereka yang
datang ke sana bisa bersuci, mandi suci,
ada yang ritual disitu, trus air sisa dari
untuk kita mandi airnya mengalir ke
bawah, ke kolam, dan dimanfaatkan untuk
ikan, kasih ikan jadi nggak pengaruh untuk
kualitas air karena apa nanti dari kolam
ikan tersebut nanti juga sisanya mengalir
ke irigasi di persawahan tapi tetap masih
bagus karena dari kualitas A yang, air
kualitass A yang ada di petirtaan tersebut.

Terus air yang air ada di apa, toilet ya,


toilet itu air bersih bukan air yang dari
kolam ikan karena dulu sempat dibikin
setelah pemugaran, orang kalo siang hari
bisa mandi di bawah toilet itu ada
pancuran yang keluar dari mata air yang
ada di Petirtaan Jolotundo itu memang
diseting seperti itu kenapa, kalau malam
hari nggak masalah orang bisa berendam
bersuci di kolam yang ada di atas ya, yang
ada di petirtaan tetapi ketika siang hari
kayanya kalo orang banyak trus mandi
disitu estetika untuk keindahan nggak
bagus dilihat ya, tapi dialihkan ke bawah
tapi tahun 2000an nggak berfungsi
ternyata orang-orang lebih mandi di kolam
yang atas bukan yang dibawah toilet,
otomatis yang dibawah toilet ditutup, ya
ditutup

Terus untuk masalah air yang selalu


mengalir memang sejak tahun pembuatan
yang tertera disitu kan angka tahun 899
saka atau tahun 977 masehi jadi sudah
1000 tahun lebih air tersebut mengalir
bahkan nggak habis-habis walaupun itu
musim kemarau dan saya sendiri pernah
datang ke sana pertama kali tu tahun 1989
sebelum dipugar tahun 1992 itu airnya ya
seperti itu nggak berkurang sama sekali
sampai sekarang, jadi kalau ada yang
mengatakan debit air berkurang itu kaya
mustahil, makanya itu orang dulu, orang
yang membuat pasti nggak sembarangan
membuatnya pasti melalui ritual jadi minta
petunjuk ke yang kuasa mana air yang
abadi yang bisa terus-menerus mengalir
gak habis-habis nah makanya nggak
sembarangan dulu membuatnya, sampai
sekarang kalo, kalo apa hutan-hutan yang
ada di atas habis pasti secara logika kan
akan berkurang debit airnya tapi
kenyataannya
yang
di
gunung
penanggungan
sendiri
berkali-kali
mengalami kebakaran, ya mengali
kebakaran dan termasuk ada ilegal logging
disekitar sekitar penanggungan tapi untuk
kualitas air yang keluar, debit air yang
keluar nggak pernah berubah sama sekali
gitu, makanya itu orang dulu nggak
sembarangan membuat petirtaan tersebut,
jadi menurut, kalo menurut orang biologi
kalo menurut orang biologi pasti ketika
ada hutan bagus maka ada sumber-sumber
air yang keluar, yang terus-menerus keluar
tapi ketika gundul hutan pasti nggak akan
ada aliran air atau sumber-sumber mata air,
tapi kenyataannya di Jolotundo sendiri
airnya walaupun ada kerusakan diatas

ternyata masih tetap mengalir terusmenerus sampai ini gitu, nah perlu
penelitian secara geologi ya ada apa
dengan air yang ada di Jolotundo, dari
mana sumber yang ada yang keluar itu
perluas ada penelitian lebih lanjut untuk
orang-orang yang ahli gitu

Narasumber

: Bpk. Syafii
Rekaman 00004

No
10

Time Logging

Statement
Ket
Untuk air yang sumber-sumber yang ada C
di gunung pawitra atau penanggungan
memang bisa dikatakan tandon raksasa,
karena orang yang membuat pada jaman
tersebut

untuk

pembuatan

Petirtaan

Jolotundo, sudah memprediksi bahwa air


ini adalah air abadi yang selalu keluar
terus menerus nggak abis-abis walaupun
usia sudah bertahun-tahun lamanya, nah
ada

apa

dengan

tandon

raksasa

diperkirakan di bawah gunung ini ada


tandon raksasa yang mana ada aliran
sungai yang ada di bawah tanah yang
besar

sekali

makanya

itu

walaupun

diambil setiap hari, setiap tahun dan


bahkan bertahun-tahun tetap masih selalu
terisi, walaupun ada pengerusakan hutan di
areal-areal

sekitar

penanggungan

tapi

kenapa kok debit air tersebut masih tetap

mengalir ya, itu yang jadi tanda tanya


untuk kita semua, perlu diteliti lebih jauh
lagi terutama orang-orang
Narasumber

ahli, orang

geologi dan yang lain-lain begitu


: Bpk. Syafii
Rekaman 00005

No
11

Time Logging

Statement
Ket
Saya akan cerita tentang Petirtaan
C
Jolotundo, air yang keluar itu nggak abisabis mulai tahun 977 masehi sampai
sekarang kenapa, menurut orang-orang
biologi memang disana kan banyak hutan,
disana banyak hutan, kalo hutannya bagus
mangka air tersebut akan terus mengalir,
tapi ni kalo menurut orang budayawan
atau orang spiritual bahwa di dalam perut
bumi itu ada tandon raksasa yang mana
ada aliran sungai ya yang sealu mengalir
dibawahnya sampai menuju ke beberapa
petirtaan yang ada di lereng-lereng
penanggungan, termasuk di Jolotundo, ada
dibelahan atau sumber tetek, itu airnya
sampe sekarang selalu keluar nggak abisabis. Kenapa air tersebut nggak abis-abis
ini perlu penelitian lebih jauh

Terus untuk air tersebut dinyatakan air


terbersih, mulai tahun 900 ya 1900 ada
peneliti dari Belanda yang sudah neliti
tentang keberadaan situs-situs yang ada di
gunung pawitra atau penanggungan dan
bahkan menemukan 81 situs candi yang
ada di lereng penanggungan termasuk
salah satunya adalah Petirtaan Jolotundo

dan ada seorang Belanda juga yang pernah


meneliti keberadaan air kualitas air yang
ada di Jolotundo, beliau ni berangkat dari
orang-orang desa yang ada disitu yang
selalu membawa air, minum air secara
langsung, katanya air tersebut bisa untuk
pengobatan, makanya itu timbul greget
orang Belanda untuk yang akhirnya
meneliti tentang keberadaan air yang ada
di Jolotundo dan akhirnya hasil penelitian
dinyatakan ranking 2 terbersih di dunia
gitu, selang berapa tahun kemudian ada
lagi penelitian yang kedua tidak nomer 2
lagi tetapi dinyatakan air terbersih nomer 5
dan keberadaan air sekarang perlu
penelitian lebih lanjut, bukan orang
Belanda lagi tapi bangsa kita yang harus
neliti bagaimana kualitas air kerena
masyarakat masih tetep minum secara
langsung air yang keluar dari mata air di
Jolotundo, ini sekarang masih layak atau
nggak ini tergantung hasil penelitian gitu,
tapi yang jelas semua orang yang minum
air yang ada di Jolotundo sampai sekarang
nggak ada masalah termasuk saya sendiri,
bahkan saya sudah nyimpen dua tahun ya
air tersebut saya simpen, sebagian saya
manfaatkan ternyata nggak ada masalah
dengan perut saya, jadi masih aman-aman
aja dan air tersebut nggak lumuten selama
dua tahun gitu, kualitas air yang ada di
Jolotundo memang air kualitas A tanpa
direbus bisa diminum langsung karena
kandungan mineral yang cukup tinggi
termasuk alkali yang ada di dalamnya dan
oksigen gitu

Narasumber

: Bpk. Syafii
Rekaman 00006

No
13

Time Logging

Statement
Ket
Peran PPLH untuk keberadaan Jolotundo C
ya, jadi Jolotundo sebelahnya tempat
wisata
sekarang,
bukan
hanya
diperuntukkan untuk orang hindu atau
orang kejawen yang untuk melakukan
sembahyangan disana tapi sekarang
universal jadi semua agama bisa masuk
kesitu karena sekarang sudah dikelola oleh
dinas , dinas pariwisata mojokerto, mereka
yang
datang
kesana
membayar,
medapatkan tiket masuk, dan untuk peran
PPLH terhadap Jolotundo, kita sudah
kordinasi dengan orang-orang yang ada di
Jolotundo untuk masalah sampah jadi
bagaimana sampah-sampah yang dibawa
oleh para pengunjung kita kelola karena
kadang kala orang banyak yang nggak
sadar terhadap lingkungan jadi seenakenaknya membuang sampah itu akhirnya
ada pengelola untuk mengumpulkan
sampah-sampah yang ada di sekitar
Jolotundo dan di hutan-hutan. PPLH
sendiri juga ada pendampingan masyarakat
yang setiap tahun juga untuk mengadakan
konservasi hutan itu kenapa, tujuannya
untuk adalah untuk menjaga sumber mata
air, itu tentang perang yang dilakukan
PPLH

TRANSKRIP WAWANCARA
Production Company : BSI
Project Title

: Jolotundo Akses Penanggungan

Durasi

: 20 Menit

Produser

: Karinah Ayu Larasati

Director

: Andi Susanto Wijaya

Penulis Naskah

: Tanti Nur Khotimah

Narasumber

: Bpk. Muhaimin
Rekaman 00149
Table III.9

No
1

Time Logging
00.50

02.07

Statement
Petirtaan Jolotundo adalah apa ya, sebuah
kolam yang yang dibangun pada jaman
kerajaan kahuripan yang bangun dulu itu
raja
Udayana
dari
Bali.
Secara
administrasi si itu tempatnya di duku
biting, desa seloliman, kecamatan trawas,
kabupaten mojokerto. Petirtaan Jolotundo
ini dibangun sebagai bentuk cinta kasih
raja Udayana kepada anaknya, prabu
Airlangga.
Fungsinya disamping untuk, apa ya, fungsi
umum untuk masyarakat sekitar si, dari
airnya, disamping untuk konsumsi minum
sehari-hari, bisa dibuat obat juga.
Luasnya terakhir diukur itu sampai
sekarang tetap kan luas itu 16 x 13 meter,
keseluruhan. Itu luas candinya, tingginya
kurang lebih 5 meter
Candi ini dipugar pada tahun 1991 sampai
tahun 1994. Itu sebagian candi ini sudah

Ket
OK

OK

03.48

04.23

05.30

ndak bisa dipasang lagi, karena ya


mungkin apa ya, udah ndak utuh lagi, laa
sisa-sisa candi itu yang sudah dipugar ya
ini, yang udah ndak bisa dipasang lagi
termasuk cungkup ini, ini kan dulu
tempatnya di atas pemandian perempuan,
cungkup ini.
Arti bahasa sansekerta yang relief yang
ada di dinding sebelah kiri itu angka
pembuatan candi, itu tahun 899 saka, atau
977 masehi, lah sebelah kanan dinding itu,
itu gempeng, itu punya arti apa ya,
pemakaman atau penyimpanan abu
Kurang lebih Kurang lebih ini Petirtaan
Jolotundo ini dibuka untuk umum, untuk
wisata itu kurang lebih dari tahun 1885,
udah dikelola pemerintah dan udah
diwisatakan, dan pada hari-hari tertentu itu
ada acara resmi kaya malem jumat legi,
jumat manis, malam purnama itu banyak
masyarakat sekitar dan daerah sekitar sini
dari Surabaya, Sidoarjo itu, apa ya
istilahnya, ngalap berkah ke sini, dengan
ritual di sini, ada yang berdoa, ambil
airnya, itu ya itu paling rame, sebulan
sekali.
Kalau masalah ambil air si tergantung
hatinya
masing-masing
orangnya,
pribadinya, itu kepercayaannya gimana
caranya yang penting untuk ambil air itu,
apa ya, biasanya si diawali dari yang
sebelah kanan itu sampai ke kiri, itu
diambil perpancuran, misalkan satu botol
jerigen itu diambil sedikit, sedikit, sedikit
sampe habis, sampe pas pojok nanti
terakhir
Ya apa
ya,
disamping
menjaga
kebersihannya, menjaga keamanannya,
termasuk apa ya, menjaga kenyamanan
pengunjung,
untuk
mengarahkan
pengunjung supaya mentaati peraturan
yang ada di sini, ya saling menjaga
semuanya
Apa ya, disamping bentuk candinya, itu

OK

OK

OK

10

11

12

bentuk Petirtaan Jolotundo ini kan seperti


bentuk apa ya, puncak penanggungan,
gunung penanggungan ada hubungannya,
itu istilahnya Petirtaan Jolotundo ini
seperti puncak mahameru, Jolotundo ini,
dari segi bentuk model candinya sama
gunung mahameru itu sama, makanya
penanggungan ini kan sebenarnya
puncaknya dari puncak mahameru,
makanya bentuknya sama itu
Ya itu tadi saya bilang karena disini dulu C
tempanya raja, untuk bertapa istilahnya
leluhur kita nenek moyang kita bangun
sini sebagai tempat ritual dan bertapa
makanya banyak orang sini tu menurut
kepercayaan masing-masing itu ada yang
semedi, ada yang dzikir disini ya itu kan
bisa dikatakan spiritual juga tujuannya
gitu, karena tempatnya yang apa ya di
hutan juga sejuk lah istilahnya jauh dari
keramaian juga gitu
Tata caranya si apa ya, ya biasa aja, C
disamping kalo untuk mandi si harus apa
ya, mentaati peraturan, ndak boleh pake
sampo, kalo ambil air ya apa ya ndak
boleh terlalu apa ya terlalu banyak
ditengah2 situ gentian kalo untuk ambil
airnya kalo untuk mandi sih tata cara nya
ya sih boleh pake shampoo sabun dan
ndak boleh teriak teriak
harus jaga
kesopanan disini
Apa ya, harapannya sih harus kita jaga C
kelestariannya harus dijaga keamaan
candinya juga, kalo bisa sih kalo memang
utuk apa ya kedepannya sih harus di
tambah fasilitas fasilitas yang lain, seperti
ini kan kamar mandi kan kurang, kamar
ganti baju itu kurang, ya itu tadi apa ya
jaga kemanaan, dan kenyamaan disini
semua.

Narasumber

: Bpk. Muhaimin
Rekaman 00150

No
13

Time Logging
00.37

Statement
Ket
Ini luas keseluruhan wiliyah Petirtaan OK
Jolotundo ini, inni kurang lebih kurang
lebih 1 hektar, 1 hekatar ini sebelahnya ni
kan sudah perumahan tani, diatas ada
pendepo bisa untuk bertedu nyantai
nyantai
sama keluarga , disamping
sampingnya itu ada gazebo2, dan disini
ada museum keci2an, dan itu apa ya.. mess
untuk tamu dari kantor pusat bisa untuk
istirahat disitu, apa ya hmm.
Untuk candi nya sendiri ini tingginya
kurang lebh 5 meter panjang nya 16
lebarnya 13, disini ada 2 kolam untuk
mandi, untuk laki laki dan untuk
perempuan disini dan di tengah itu ada
pancuran untuk ambil air,
Bagian bawah ini ada kolam ikan ya
kurang lebih itu tadi 16 meter luasnya
semua.
Apa ya, ini udah peninggalan dari nenek
moyang ini orang dlu itu ngasihkatanya sih
buat buang sebel gitu, kalau bisa memberi
kebebasan untuk makhluk hidup itu kata
nya bsa buat buang sebel gitu,
kepercayaannya gitu
Buang hal hal yang jelek itu, itu.. kalo
orang muslim sih katanya sih ya apa ya
istilah nya pancaan, beli .. beli apa..potong
ayam gitu..

Narasumber

: Bpk. Muhaimin
Rekaman 00151

No
14

Time Logging

Narasumber

Statement
Ket
Sebelah..ya dicandi ini ya sebelah kiri, eh C
sebelah iya sebelah kiri itu ada pemandian
untuk laki laki itu khusus untuk mandi
orang laki lak ya.. sebelah tengah itu ada
pancuran untuk ambil air, terus yang
sebelah kanan itu tempat mandinya untuk
perempuan dan di bawahnya itu ada kolam
ikan

: Bpk. Muhaimin
Rekaman 00152

No
15

Time Logging
00.18

Statement
Ket
Di candi ini di dinding sebelah kiri itu ada OK
tempat pemandian untuk laki laki, terus
disebelah kanan ada pemandian untuk
perempuan khusus perempuan dan di
tengahnya itu,, ditengah candi itu ada
pancuran pancuran itu buat ambil air
khusus buat ambil air dan di bawahnya
disitu ada kolam ikan, ikan ikan ini sudah
ada sejak zaman dahulu, sejak zaman
nenek moyang dulu sudah ada, katanya sih
orang naro situ buat buat sial

TRANSKRIP WAWANCARA
Production Company : BSI
Project Title

: Jolotundo Akses Penanggungan

Durasi

: 20 Menit

Produser

: Karinah Ayu Larasati

Director

: Andi Susanto Wijaya

Penulis Naskah

: Tanti Nur Khotimah

Narasumber

: Bpk. Ahdhori
Rekaman 00054
Table III.10

No
1

Time Logging

Statement
Ket
Petirtaan Petirtaan Jolotundo ini biasanya C
untuk digunakan tamu-tamu ini untuk
mandi dan ritual-ritual apa keperluannya
karena banyak orang yang membawa air
dari Jolotundo ini untuk mengobati pasien-

pasiennya
Berdirinya Petirtaan Jolotundo ini adalah C
pada waktu itu yang bertapa adalah Empu
Sindok, Empu Barada, dan Udayana,
selesai dia bertapa dia dimandikan di

Petirtaan Jolotundo
Arti petirtaan Petirtaan Jolotundo ini C
adalah tempat prasasti, dalam arti Petirtaan
Jolotundo ini adalah tempat prasasti

Didinding itu ada angka tahun 899 masehi C


dan huruf sansekertanya 877 saka, dan
diatas

pemandian

putri

itu

huruf

sansekerta, Jolotundo itu tempat prasasti


Petirtaan Jolotundo ini pemugaran cuma C

satu kali, menurut ingat saya pada waktu


saya tugas mulai tahun 84, ini tahun 90
sampe 93 termasuk pemugaran. Petirtaan
Jolotundo ini termasuk fungsinya ini untuk
mandi dan ambil air untuk mengobati
6

tamu-tamunya yang datang kesini.


Pengunjung yang datang ke

04.27

sini OK

kebanyakan ya orang sekitar termasuk


yang paling banyak dalah orang surabaya,
sidoarjo, dan gresik. Otomatis orang Bali
pada waktu mau ada upacara melasti. Itu
orang Bali datang kesini
Waktunya jumat legi, jumat kliwon, seloso C

kliwon, bulan purnama yang banyak


dikunjungi tamu-tamu karena pada saat itu
banyak hikmahnya pada hari-hari itu
banyak hikamhnya yang datang kesini itu
banyak hikmahnya tamu-tamu itu

Narasumber

: Bpk. Ahdhori
Rekaman 00055

No
8

Time Logging

Statement
Ket
Para tamu harus mempunyai tata krama C
berkunjung ke Petirtaan Jolotundo ini

harus mentaati peraturan yang ada di


dinding itu dan tulis-tulisan yang ada
sekarang ini
Narasumber

: Bpk. Ahdhori
Rekaman 00056

No
9

Time Logging
Pengunjung

Statement
yang
datang

Ket
kesini C

menggunakan termasuk ritual bersemi itu


karena itu minta berkah kepada leluhur
Petirtaan Jolotundo
Narasumber

: Bpk. Ahdhori
Rekaman 00057

No
10

Time Logging

Statement
Ket
Awalnya sebelumnya sebelum dipugar C
ndak seperti ini, sebelum dipugar itu air ini
terserakan semua ini terserakan ke ladangladang

ini

hanya

da

saluran-saluran

termasuk digali dengan tangan bukan


dengan alat-alat untuk ngali, ikan ini cuma
dibuat untuk hiasan tamu-tamu biar senang
karena digunakan wisata dimanfaatkan
oleh petugas dinas pariwisata biar tamutamu ini senang melihat disamping melihat
sejarah, dan mandi, peninggalan, ini
11

melihat ikan-ikan ini


Termasuk batu-batu ini, batu-batu ini batu C
yang tidak bisa dikembalikan ke tempat

semula pada tahun jaman dulu ini ada


longsoran ada gempa bumi, ada gempa
bumi sehingga batu-batu ini terserakan dan
dicari dimana tempat aslinya dimana
temannya batu ini akhirnya tidak bisa
ketemu akhirnya dimuseumkan disini,
tidak bisa dikembalikan kesana,

batu

penataan yang sebelah itu, itu maunya


ditata disitu maunya dikembalikan disana
tapi akhirnya tidak cocok, tidak bisa, tidak
sesuai dengan keadaan, sehingga tidak
dikembalikan sana dimuseumkan sini,
termasuk batu-batu terserakan ini termasuk
museum yang bukan relief, yang relief ada
dimuseum belakang itu, yang relief-relief
hasil terserakan sini dan penemuan candicandi diatas.
Itu semua cuma semuanya batu andesit,
jenis batunya batu andesit, batu andesit itu
tidak sama dengan batu-batu seperti ini,
batu andesit itu batu jaman dahulu yang
bisa dibuat untuk relief, jadi orang dulu itu
sudah bisa memilih, memilih batu ini bisa
dibuat untuk arca atau relief atau tidak ini
bisa memilih orang-orang dulu kalo
sekarang kan pake tes kalau dulu pake
12

batin aja
Luasnya petirtaan ini kurang lebih satu C
hektar, yang diatas itu sekitar ini ada
bangunan-bangunan itu bangunan baru,

bangunan

dinas

pariwisarta

untuk

termasuk untuk tempat tamu-tamu untuk


istirahat, yang sebelah itu, itu gedung baru
itu termasuk tempat istirahatnya petugas,
barang kali ada keluarga petugas untuk
istirahat

atau

ingin

berkunjung

sini,

bermalam, brarti itu tempatnya untuk


petugas,

dari

atas

maupun

daerah

pokoknya yang penting ada kaitannya


13

dengan petugas purbakala


Satu hektar kurang lebih satu hektar, C
luasnya Petirtaan Jolotundoini kurang

14

lebih satu hektar.


Luasnya Petirtaan Jolotundo ini kurang C
lebih satu hektar dan yang dibawah itu,
yang dibawah itu tujuan petugas-tujuannya
dinas patiwisata untuk mandi mandi
sebelum

mandi

di

lokasi

Petirtaan

Jolotundo di petirtaan ini, jadi sebelum


mandi di sini, dilokasi petirtaan ini harus
mandi di kamar mandi dan ada grojokan
grojokan itu yang dibelakng tapi sekarang
tidak berfungsi, karena rusak salurannya
15

sering rusak.
Di dinding itu banyak ukiran yang diukir C
oleh pengunjung ini jaman pada waktu itu
tidak ada petugas karena banyak tangantangan jail brarti yang ngukir didinding di
batu-batu peninggalan itu brarti tamu yang
tidak bertanggung jawab dan tamu yang
tidak apa makna candi itu, orang yang

nulis itu brarti dia sering kesini

Narasumber

: Bpk. Ahdhori
Rekaman 00058

No
16

Time Logging
00.05

Statement
Ket
Orang yang masuk Petirtaan Jolotundo OK
harus tata krama harus sopan santun
karena yang punyai kepercayaan ini kalau
sopan santun lebih oditerima oleh yang
baurekso Petirtaan Jolotundo dan orang
yang ke Jolotundo ini kebiasaaanya itu
mandi, mandi ini memang aturan jaman
kerajaan dulu karena apa lebih capat
mandi dan termasuk lebih sempurna kalau

17

ke Petirtaan Jolotundo ini mandi


Orang yan gbikin ukiran termasuk orang C
baru, orang yag pengunung pengunjung itu
hanya termasuk kalau tamu tamu itu
membuat ukiran disini pengunjung itu
biasanya orang menunjukkan saya sering
datang ke Petirtaan Jolotundo itu kalau

18

tamu-tamu yang mengukir


Karena dia menurut aliran dia masing C
masing kesini tu ke Petirtaan Jolotundo tu
kan tempatnya orang hindu kerajaan hindu
nah ini termsauk orang yang ke sini
semedi

kesini

kepercayaan

termasuk
dia

memupunyai

bahwa

Jolotundo ini sesepuhnya dia

Petirtaan

19

Aturan cara pengambilan air itu termasuk C


kepercayaan dia masing-msing, termasuk

20

kepercayaan dia sendiri-sendiri


Artinya yang sebelah sini angka tahun, C
yang sebelah sini itu angka tahun 899
masehi tahun 877 saka, angka yang sini,
yang sebelah sana itu hanya huruf
gempeng

adalah

huruf

Jolotundo ini tempat prasasti

dalam

arti