Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perhatian terhadap penyakit tidak menular makin hari makin meningkat karena
semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya pada masyarakat. Dari sepuluh penyebab
utama kematian, dua diantaranya penyakit jantung dan stroke adalah penyakit tidak
menular. Keadaan ini terjadi di dunia, baik di Negara maju maupun di Negara ekonomi
rendah-menengah. Bahkan kanker paru sebagai penyakit kronis, menduduki peringkat
ketiga penyebab kematian di Negara maju.
Selama ini epidemiologi kebnayakan berkecimpung menangani masalah penyakit
menular, bahkan epidemiologi terasa hanya menangani masalah penyakit menular.
Karena itu, epidemiologi hampir selalu dikaitkan dan dianggap hanya sebgai
epidemiologi penyakit menular. Hal ini tidak dapat disangkal jika dikaitkan dengan
sejarah perkembangannya yang berlatar belakang penyakit menular. Sejarang
epidemiologi memang bermula dengan penanganan masalah penyakit menular yang
merajalela dan banyak menelan korban pada waktu itu. Namun kemudian, perkembangan
sosioekonomi dan cultural bangsa dan dunia menuntut epidemiologi untuk memberikan
perhatian kepada penyakit tidak menular karena sudah mulai meningkat dan cenderung
sesuai perkembangan masyarakat.
Pentingnya pengetahuan tentang penyakit tidak menular dilatar belakangi dengan
kecenderungan semakin meningkatnya prevalensi PTM pada masyarakat, termasuk
kalangan masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang sementara membangun dirinya
dari suatu Negara agraris yang sedang berkembang menuju masyarakat industry
membawa kecenderungan baru dalam pola penyakit dalam masyarakat. Perubahan pola
struktur msyarakat agraris ke masyarakat industry banyak memberi andil terhadap
perubahan pola fertilitas, gaya hidup dan social ekonomi, yang pada gilirannya dapat
memicu peningkatan PTM. Perubahan pola dari penyakit menular ke penyakit tidak
menular ini lebih dikenal dalam sebutan transisi epidemiologi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan ruang lingkup epidemiologi Penyakit Tidak Menular (PTM)
1

2.
3.
4.
5.
6.

Apa karakteristik PTM


Apa komponen epidemiologi PTM
Bagaimana pendekatan epidemiologi PTM
Bagaimana desain penelitian epidemiologi PTM
Apa kesalahan dalam penelitian epidemiologi

C. Tujuan
Untuk memberikan informasi dan pengetahuan tambahan kepada mahasiswa tentang
ruang lingkup epidemiologi penyakit tidak menular

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Ruang Lingkup
Epidemiologi berasala dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata Epi yang berarti pada
atau tentang, kata demos yang berarti penduduk, dan kata logia/logos yang berarti ilmu.
Sehingga diterjemahkan menjadi ilmu mengenai kejadian yang menimpa penduduk.
Sebagai

ilmu

yang

selalu

berkembang,

Epidemiologi

senantiasa

mengalami

perkembangan pengertian dan karena itu pula mengalami modifikasi dalam


2

batasan/definisinya. Beberapa definisi telah dikemu-kakan oleh para pakar epidemiologi


dan organisasi internasional, beberapa diantaranya adalah :
1. Greenwood (1934)
Menurut Greenwood, Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala
macam kejadian yang mengenai kelompok (herd) penduduk. Greenwood memberikan
penekanan pada kata Kelompok Penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu
penyakit.
2. Brian Mac Mahon (1970)
Menurut Brian Mac Mahon, Epidemiologi adalah Studi tentang penyebaran dan
penyebab frekuensi penyakit pada manusia. Pada pengertian yang dikemukakan oleh
Brian sudah mulai memasukkan aspek Distribusi Penyakit dan mencari Penyebab dari
suatu penyakit.
3. Wade Hampton Forst (1972)
Wade Hampton Forst mendefinisikan Epidemiologi sebagai Suatu pengetahuan
tentang fenomena missal (mass phenomen) penyakit infeksi atau sebagai riwayat
alamiah (natural history) penyakit menular. Perhatian epidemiologi pada saat itu
hanya

ditujukan

kepada

masalah

penyakit

infeksi

yang

terjadi/mengenai

masyrakat/massa.
4. Anders Ahlbom dan Staffan Norel (1989)
Anders Ahblom dan Staffan Norel mendefinisikan Epidemiologi sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari terjadinya penyakit pada populasi manusia.
5. Gary D. Friedman (1974)
Menurut Gary D. Friedman (1974), Epidemiology is the study of disease
occurance in human populations.
6. Center Of Disease Control (CDC) 2002
Menurut CDC, Epidemiologi adalah studi yang mempelajari distribusi dan
determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi serta penerapannya untuk
pengendalian masalah-masalah kesehatan. Dari pengertian ini, jelas bahwa
Epidemiologi adalah suatu Studi dan Studi itu adalah Riset.
7. World Health Organization (WHO) dalam Regional Committee Nacting ke 42 di
Bandung
Menurut WHO, Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan
determinan dari peristiwa kesehatan dan peristiwa lainnya yang berhubungan dengan

kesehatan yang menimpa sekelompok masyarakat dan menerapkan ilmu tersebut


untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.
Selain yang dikemukakan para ahli, pengertian epidemiologi juga dapat ditinjau dari :
1. Aspek akademik
Secara akademik, epidemiologi berarti analisa data kesehatan, social-ekonomi,
dan trend yang terjadi untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi perubahan
kesehatan yang terjadi atau akan terjadi pada masyrakat umum atau kelompok
penduduk tertentu.
2. Aspek klinik
Ditinjau dari aspek klinik, epidemiologi berarti suatu usaha untuk mendeteksi
secara dini perubahan insidensi atau prevalensi yang dilakukan melalui penemuan
klinis atau laboratorium pada awal timbulnya penyakit baru dan awal terjadinya
epidemi.
3. Aspek praktis
Secara praktis epidemiologi berarti ilmu yang ditujukan pada upaya pencegahan
penyebaran penyakit yang menimpa individu, kelompok penduduk atau masyarakat
umum.
4. Aspek administrasi
Epidemiologi secara administrasi berarti suatu usaha mengetahui keadaan
masyarakat di suatu wilayah atau Negara agar dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan, Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit atau
masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat atau kelompok masyarakat (bukan
individu). Kunci dari ilmu epidemiologi itu adalah ditemukannya penyebab (penyebab
penyakit dan penyebab masalah kesehatan atau masalah pelayanan kesehatan). Penyakit
itu sendiri ada yang menular ada juga yang tidak menular. Khusus penyakit tidak menular
yang perlu diketahui pada dasarnya adalah faktor risokonya.
Pada awal-awal perkembangannya, ilmu epidemiologi lebih dikhususkan pada
penyakit menular. Pembahasan lebih banyak menyangkut etiologi atau penyebab biologis
dari suatu penyakit infeksi misalnya virus, bakteri dan lain-lain. Namun seiring
perkembangan aktivitas manusia yang berdampak pada peningkatan kemampuan
4

ekonomi masyarakat, maka epidemiologi mengalami masalah double burden, dimana


masalah penyakit menular seperti malaria, HIV/AIDS, dan lain-lain masih belum
terselesaikan namun muncul masalah penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes,
stroke, dan lain-lain.
Batasan epidemiologi, sekurang-kurangnya mencakup 3 (tiga) elemen, yakni:
1. Penyakit
Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun
penyakit non infeksi, seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrisi),
kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja, sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di
Negara-negara maju, epidemiologi ini mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan.
2. Populasi
Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambar-gambaran dari penyakitpenyakit individu maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi
penyakit pada populasi (masyarakat) atau kelompok.
3. Pendekatan ekologi
Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada keseluruhan
lingkungan manusia baik dari fisik, biologis, maupun social. Hal inilah yang
dimaksud pendekatan ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari
manusia dan total lingkungannya.
Istilah penyakit tidak menular dipakai dengan maksud untuk membedakan kelompok
penyakit-penyakit lainnya yang tidak termasuk dalam penyakit menular. Pengelompokan
penyakit menular dalam sejarahnya, lebih dulu menemukan istilah untuk dirinya ketika
penyakit-penyakit tersebut sedang menyerang dunia dan masyarakat dengan cara
menular. Penyakit-penyakit lainnya yang sifatnya tidak menular, dikelompokkan sebagai
penyakit tidak menular.
Istilah PTM kurang lebih mempunyai kesamaan dengan beberapa sebutan lainnya,
seperti:
1. Penyakit kronis
2. Penyakit noninfeksi
3. New communicable diseases
4. Penyakit degeneratif
5. Penyakit perilaku
Kesamaan penyebutan ini tidaklah sepenuhnya memberi kesamaan penuh antara satu
dengan lainnya. Penyakit kronis dapat dipakai untuk PTM karena kelangsungan PTM
5

biasanya bersifat kronis (menahun) atau lama. Namun demikian ditemukan juga penyakit
tidak menular yang kelangsungannya mendadak/akut, misalnya keracunan. Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mempergunakan istilah penyakit kronis (chronic
diseases) untuk penyakit-penyakit tidak menular. Yang dimaksud dengan penyakit kronis
ini memang jenis penyakit yang bersifat kronis, dan tidak memperhatikannya dari segi
apakah menular atau tidak.
Nama penyakit noninfeksi dipakai karena proses patologi PTM bukanlah suatu
proses infeksi yang dipicu oleh mikroorganisma. Hanya saja tidak berarti bahwa kejadian
PTM tidak ada hubungannya dengan peranan mikroorganisma. Proses patologi PTM
mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan jenis penyakit masing-masing. Disebut
juga sebagai penyakit degeneratif karena kejadiannya bersangkutan dengan proses
degenerasi atau ketuaan sehingga PTM banyak ditemukan pada usia lanjut. Dan karena
perlangsungannya yang lama itu pulalah yang menyebabkan PTM berkaitan dengan
proses degeneratif yang berlangsung sesuai waktu/umur. Sementara itu ada yang secara
populer ingin menyebutnya sebagai new communicable disease' karena penyakit ini
dianggap dapat menular, yakni melalui gaya hidup (life style). Gaya hidup dalam dunia
modern dapat menular dengan caranya sendiri, tidak seperti penularan klasik penyakit
menular yang lewat suatu rantai penularan tertentu. Gaya hidup di dalamnya dapat
menyangkut pola makan, kehidupan seksual, dan komunikasi global. Perubahan pola
makan telah mendorong perubahan peningkatan penyakit jantung yang berkaitan dengan
makan berlebih atau berkolesterol tinggi.
Beberapa istilah yang biasa digunakan untuk menunjukkan Penyakit Tidak
Menular antara lain:
1. Penyakit kronik atau menahun karena biasanya kemunculan gejala penyakit
berlangsung lama jika dihitung dari waktu seseorang mulai terpapar faktor risiko.
Meskipun begitu, ada juga yang kelangsungannya mendadak (misalnya saja
keracunan), sementara yang berlangsung lama misalnyapenyakit kanker.
2. Penyakit non-infeksi (non infectious disease) karena penyebabnya

bukan

mikroorganisme, namun tidak berarti tidak ada peranan mikroorganisme dalam


terjadinya penyakit tidak menular misalnya kanker serviks yang juga berkaitan
dengan infeksi Human Papiloma Virus (HPV).
3. Penyakit degeneratif karena berhubungan dengan proses degenerasi (penuaan).

4. New Communicable Desease karena dianggap dapat menular melalui gaya hidup.
Gaya hidup yang dimaksud dalam hal ini adalah pola makan, kehidupan seksual dan
komunikasi global.
B. Karakteristik PTM
Berbeda dengan penyakit menular, PTM mempunyai beberapa karakteristik tersendiri
seperti:
a. Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu.
b. ''Masa inkubasi' yang panjang dan laten.
c. Perlangsungan penyakit yang berlarut-larut (kronis).
d. Banyak menghadapi kesulitan diagnosis.
e. Mempunyai variasi yang luas.
f. Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan

maupun

penanggulangannya.
g. Faktor penyebabnya bermacam-macam (multikausal), bahkan tidak jelas.
Secara umum perbedaan antara penyakit menular dan penyakit tidak menular,
dapat dilihat pada tabel berikut:
Penyakit menular
1. Banyak
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Penyakit Tidak Menular


ditemui

dinegara

berkembang
Rantai penularannya jelas
Berlangsung akut
Etiologi mikroorganisme jelas
Bersifat single causa
Diagnosis mudah
Agak mudah mencari penyebabnya
Biaya pengobatan relatif murah
Mudah menentukan insiden dan

prevalensinya
10. Morbiditas
dan

mortalitasnya

1. Banyak ditemui dinegara industry


2. Tidak ada rantai penularan
3. Berlansung kronik
4. Etiologi tidak jelas
5. Biasanya multiple causa
6. Diagnosis sulit
7. Sulit mencari penyebab pasti
8. Biaya pengobatan mahal
9. Ada fenomena iceberg
10. Morbiditas
dan
mortalitasnya
cenderung meningkat

cenderung menurun
Perbedaan PTM ini dengan penyakit menular memerlukan pendekatan epidemiologi
tersendiri, mulai dari penentuannya sebagai masalah kesehatan masyarakat sampai pada
upaya pencegahan dan penanggulangannya. Misalnya, ketika melakukan observasi
keadaan PTM di lapangan. Dalam mengamati PTM yang perlangsungannya kronis dan
masa latent yang panjang, dapat ditemukan beberapa kesulitan dengan hanya melakukan
pengamatan observasional yang berdasarkan pengalaman pribadi dari anggota masyarakat
7

saja. jika observasi itu ditujukan untuk menentukan hubungan antara keterpaparan dengan
terjadinya penyakit, maka beberapa kesulitan dapat dihadapi.
Dalam menangani masalah PTM ini pendekatan dan prinsip-:prinsip epidemiologi
perlu diterapkan. Adapun peranan epidemiologi dalam masalah PTM adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana distribusi PTM dalam masyarakat sehingga dapat
diidentifikasi besarnya masalah PTM dalam kesehatan masyarakat.
b. Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab tingginya distribusi PTM dalam suatu
masyarakat, dibandingkan dengan daerah/komuniti lainnya.
c. Untuk menentukan pilihan prioritas dalam menangani masalah PTM.
C. Komponen
Yang dimaksud dengan komponen epidemiologi adalah wilayah kajian yang
paling sering dibahas ketika seseorang membahas epidemiologi. Diantaranya adalah:
1. Frekuensi
Merupakan upaya melakukan kuantifikasi atau proses patologis atas kejadian
untuk mengukur besarnya kejadian/ masalah serta untuk melakukan perbandingan
dari data primer atau data sekunder yang telah terkumpul.
2. Distribusi
Menunjukkan bahwa dalam memahami kejadian yang berkaitan dengan penyakit
atau masalah kesehatan, epidemiologi menggambarkan kejadian tersebut berdasarkan
variabel orang, tempat, waktu. Artinya dalam penyelidikannya selalu menjawab
pertanyaan siapa yang terkena penyakit dalam populasi serta kapan dan dimana
penyakit tersebut terjadi.
3. Determinan
Adalah faktor yang mempengaruhi, berhubungan atau memberikan risiko
terhadap terjadinya penyakit atau masalah kesehatan. Merupakan kelanjutan dua
komponen terdahulu, karena pengetahuan tentang frekuensi, distribusi penyakit
diperlukan untuk menguji hipotesis epidemiologi: jadi menunjukkan faktor penyebab
dari suatu masalah kesehatan baik yang menerangkan frekuensi, distribusi, penyebab
munculnya masalah kesehatan.

D. Pendekatan Epidemiologi PTM


Epidemiologi berusaha untuk mempelajari distribusi dan faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya PTM dalam masyarakat. Untuk itu diperlukan pendekatan
metodologik tersendiri, yakni dengan -'melakukan analisis berbasis penelitian sebagai
8

pendekatan pembuktian (evidence-based). Analisis epidemiologis sendiri bisa berupa


analisis deskriptif, kausal, dan interventional.
1. Deskriptif Frekuensi Penyakit
Secara umum dikenal 3 macam perhitungan frekuensi penyakit, yakni:
1) Prevalensi - n /N
2) Rate - a/n
3) Ratio - a/b
4) Proporsi - a / (a + b)
a. Prevalensi adalah jumlah penderita penyakit tertentu dibagi dengan jumlah
penduduk pada daerah tersebut. Misalnya, di Kota Makassar pada tahun 2007
ditemukan sebanyak 1250 orang penderita kanker payudara dari 8 juta penduduk
Makassar atau 1250/8.000,000. Biasanya diberi pembagi dengan suatu
satuan/konstanta tersendiri, misalnya 100,000. Karena itu dituliskan prevalensi
kanker payudara di Makassar tahun 2007 adalah 15,6/100.000.
b. Ratio: Dengan formula a/b berarti a bukan bagian dari Ratio - jumlah orang sakit/
jumlah orang sehat. Misalnya ratio orang sakit kanker dibanding orang sehat.
c. Proporsi Di sini pembilang menjadi bagian penyebut, umumnya dinyatakan dalam
persen.Misalnya persentase penderita kanker di sebuah rumah sakit, sama dengan
jumlah penderita kanker yang berobat di RS/jumlah penderita (kanker dan
nonkanker) yang berobat di RS x 100
d. Rate: Rate - jumlah orang sakit tertentu pada suatu waktu tertentu/ jumlah
penduduk pada suatu periode waktu tertentu.
2. Analisis Kausal
Analisis kausal ditujukan kepada pencarian dan penentuan faktor penyebab
terjadinya PTM. Faktor-faktor penyebab ini meliputi berbagai faktor risiko yang
mempunyai konstribusi terhadap kejadian suatu PTM. Berbagai jenis penelitian dapat
dilakukan untuk maksud tersebut.
Dalam melaksanakan analisis kausa ada beberapa teori kausa yang perlu
diperhatikan, seperti teori kausal Robert Kock, Teori Virus, teori kausa kanker, dan
lain-lain.
a. Faktor Penyebab (Kausa)
Faktor penyebab adalah istilah umum untuk berbagai faktor yang
mempunyai hubungan dengan timbulnya penyakit. Lebih khusus kata penyebab ini
sinonim dengan kata kausa. Berbagai macam kata yang dapat dipakai sejajar
pengertiannya ataupun tumpang tindih dengan istilah penyebab/kausa ini seperti:
etiologi, risiko, predisposisi, prognostik, dan lain-lain.
9

b. Hubungan Kausal
Dikenal jenis utama hubungan antara 2 faktor: hubungan independen dan
depended.
1) Hubungan Independen: Hubungan antara 2 faktor yang tidak menunjukkan
hubungan bermakna secara statistik. Hubungan ini tidak banyak menarik untuk
dibicarakan karena tidak banyak informasi yang dapat diperoleh.
2) Hubungan Dependen; merupakan hubungan antara 2 faktor yang mempunyai
hubungan bermakna secara statistik, dapat dibagi atas hubungan kausal dan
non-kausal.
a) Hubungan non-kausal; merupakan hubungan semu, artificial association,
yang terjadi karena faktor kebetulan (by chance) atau karena adanya bias.
b) Hubungan kausal; merupakan hubungan murni yang bermakna secara
statistik, dapat dibagi atas hubungan kausal langsung dan tidak langsung.
Hubungan kausal tidak langsung terjadi karena walaupun hubungan bersifat
kausal tetapi tidak mampu menjelaskan hubungan yang sebenarnya dari 2 faktor
yang dicari karena adanya faktor ketiga, Faktor ketiga itu dapat berupa faktor
perantara atau faktor pengganggu (confounding factor).
Hubungan kausal langsung adalah bentuk hubungan yang selalu ingin
ditegakkan dalam upaya mencari kausa. Hubungan yang terjadi menunjukkan
perubahan suatu faktor (kausa) yang akan mengakibatkan perubahan pada faktor
kedua (penyakit).
c. Etiologi
Istilah etiologi secara klasik dikenal dan dipergunakan secara khusus di dunia
kedokteran terhadap faktor penyebab biologis (mikroorganisma) penyakit infeksi.
Misalnya, etiologi malaria adalah plasmodium malaria. Dengan demikian etiologi
dimaksudkan di sini adalah agen penyebab biologis. Berbagai etiologi dan jenis
penyakit yang diakibatkan dapat dilihat dalam tabel berikut.
3. Kriteria Kausa
Sir Austin Bradford Hill mengemukakan 9 hal yang perlu ditegakkan dalam
membedakan suatu faktor yang dicurigai sebagai kausa. Kesembilan faktor inilah yang
umumnya dipakai sebagai kriteria kausa.
Sembilan kriteria kausa adalah:
a. Kuatnya hubungan
b. temporaliti
c. Dosis respons
10

d.
e.
f.
g.
h.
i.

Konsisten
Khusus
Layak biologi
Bukti percobaan
Koheren
Analogi

Akhirnya dengan ini, dapat diajukan kriteria umum dalam mencurigai suatu kausa:
a. PREVALENSI penyakit lebih tinggi secara berrnakna pada mereka yang
terpapar oleh kausa dibanding dengan yang tidak. Hal ini dapat terlihat dengan
adanya distribusi kausa yang sejalan dengan penyebaran penyakit dalam
masyarakat.
b. KETERPAPARAN oleh kausa ditemukan lebih sering pada mereka

yang

menderita daripada kelompok kontrol.


c. INSIDEN penyakit lebih tinggi pada mereka yang terpapar dari pada kontrol
dalam penelitian prospektif.
d. Ditemukan hubungan WAKTU KETERPAPARAN di mana penyakit terjadi
setelah keterpaparan dalam suatu masa inkubasi.
e. Adanya SPEKTRUM dan host responses yang berupa respon biologis yang
logis dan bertingkat ringan sampai berat.
f. HOST RESPONSE yang dapat diukur harus dapat ditemukan secara teratur di
mana tidak ditemukan sebelumnya (misalnya antibodi, sel kanker) atau
ditemukan peningkatan dari yang ada sebelumnya.
g. PERCOBAAN baik pada binatang maupun manusia menunjukkan insiden yang
lebih tinggi daripada mereka yang terpapar dibanding dengan yang tidak.
h. PENGHAPUSAN ATAU PENCURANGAN kausa menyebabkan penurunan
insiden.
i. PENCEGAHAN

keterpaparan dengan kausa dari host akan menurunkan

insiden.
j. Dapat ditunjukkan kausa itu dengan pendekatan BIOLOGIS maupun
EPIDEMIOLOGI.
k. Hubungan kausa dan penyakit haruslah ditemukan pada berbagai populasi
dengan BERBAGAI METODE penelitian.
E. Peranan
Peranan epidemiologi dalam dunia penyakit menular dan tidak menular
diantaranya adalah:
1. Mengungkapakan penyebab penyakit

11

2. Meneliti hubungan sebab akibat antara timbulnya penyakit dengan determinan yang
mempengaruhinya.
3. Meneliti perjalanan penyakit alamiah.
4. Mengembangkan indeks deskriptif untuk menyatakan tinggi rendahnya insidensi atau
prevalensi suatu penyakit disuatu wilayah tertentu yang dapat dibandingakan dengan
wilayah lain.
5. Penemuan berbagai penyakit seperti Scorbut, pellagra dan kolera.
6. Hubungan antara rokok dengan penyakit jantung koroner, karsinoma paru dan
hipertensi.
7. Hubungan antara air dan makanan dengan penyakit kolera.
8. Hubungan antara penyakit herediter seperti hemophilia dan sicle cell anemia dengan
rasa tau etnik tertentu.
F. Desain Penelitian Epidemiologi
Didalam epidemiologi terdapat 2 tipe pokok pendekatan atau metode, yakni:
1. Epidemiologi Deskriptif (descriptive epidemiology)
Pendekatan ini merupakan dasar penyusunan desain penelitian deskriptif. Tujuan dari
epidemiologi deskriptif antara lain:
a. Untuk mendapatkan gambaran karakteristik distribusi dari berbagai penyakit atau
masalah kesehatan dari suatu kelompok populasi berisiko
b. Memperhitungkan dasar dan pentingnya masalah kesehatan pada suatu kelompok
populasi
c. Mengidentifikasi kemungkinan determinan, masalah, faktor risiko yang kemudian
menjadi dasar untuk memformulasikan suatu hipotesa.
Studi epidemiologi deskriptif juga mempelajari bagaimana frekuensi dan sebaran
masalah kesehatan berubah menurut perubahan variabel-variabel epidemiologi
berikut:
1. Orang (person)
Variabel ini akan membahas seluruh atribut yang melekat pada seseorang
seperti peranan kelas sosial, pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan,
besarnya keluarga, struktur keluarga, paritas, dan lain-lain.
a. Kelas sosial
Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan
angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat
kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti
pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula oleh
tempat tinggal.
b. Jenis pekerjaan
12

Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak


dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya penyakit
jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.
c. Penghasilan
Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan
dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang
kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena
tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan
sebagainya.
d. Status pernikahan
Hasil sebuah penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara angka kesakitan maupun kematian dengan satus kawin,
tidak kawin, cerai dan janda; angka kematian karena penyakit-penyakit
tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan
tertentu. Penyebabnya diduga berkaitan dengan stress.
e. Struktur keluarga
Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti
penyakit menular dan gangguan gizi) dan suatu pemanfaatan pelayanan
kesehatan.
f. Paritas
Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan
kesehatan si ibu maupun anak. Terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang
berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi
antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu seperti kanker serviks,
dan kanker payudara dengan status paritas dan menyusui.
2. Tempat (place)
Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna
untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan
mengenai etiologi penyakit. Biasanya untuk kepentingan etiologi penyakit,
perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada betas-batas
administrasi pemerintahan.
3. Waktu (time)
Penelitian terhadap variabel waktu dalam kaitannya dengan penakit tidak
menular adalah terkait dengan keberlangsungan penyakit (akut atau kronik) dan
stadium penyakit.
13

2. Epidemiologi Analitik (Analytic Epidemiology)


Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data serta informasi-informasi
yang diperoleh dalam studi epidemiologi deskriptif. Inilah kemudian yang menjadi
dasar dari desain penelitian analitik. Tujuan lain dari penelitian analitik antara lain:
a. Menentukan faktor risiko/faktor pencegahan/kausa/determinan penyakit
b. Menentukan faktor risiko yang mempengaruhi prognosis kasus
c. Menentukan efektivitas intervensi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit
pada populasi.
Dalam epidemiologi analitik dikenal 2 pendekatan penelitian, yaitu:
1. Observasional, meliputi:
a. Cross sectional
Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian dimana variabel-variabel
yang termasuk faktor risiko dan variabel-variabel yang termasuk efek
diobservasi sekaligus pada waktu yang sama. Tujuan penelitian cross sectional
adalah mencari prevalensi serta insidensi satu atau beberapa penyakitn
tertentu yang terdapat di masyarakat, memperkirakan adanya hubungan sebab
akibat pada penyakit-penyakit tetentu dengan perubahan yang jelas serta
menghitung besarnya risiko tiap kelompok, risiko relatif, dan risiko atribut.
Kelebihan:
Jika tujuan penelitian hanya untuk mendeskripsikan distribusi penyakit
dihubungkan dengan paparan faktor penelitian, maka studi potong lintang
merupakan rancangan studi yang cocok, efesien dan cukup kuat secara
metodologik karena kemudahannya untuk dilakukan dan murah, sebab tidak
memerlukan follow up.
Kekurangan:
Dibutuhkan objek penelitian yang relatif basar atau banyak, kurang
menggambarkan proses perkembangan penyakit secara tepat, faktor risiko
tidak dapat diukur secara akurat, nilai prediksinya lemah atau kurang, dan
korelasi faktor risiko dengan dampaknya adalah paling lemah dibandingkan
dengan rancangan penelitian analitik lainnya.
b. Case control
Penelitian kasus-kontrol adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut
bagaimana faktor risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan
retrospektif, dimulai dengan mengidentifikasi pasien dengan efek atau

14

penyakit tertentu (kelompok kasus) dan kelompok tanpa efek (kelompok


kontrol), kemudian diteliti faktor risiko yang dapat menerangkan mengapa
kelompok kasus terkena efek, sedangkan kelompok control tidak.
Desain penelitian ini bertujuan mengetahui apakah suatu faktor risiko tetentu
benar

berpengaruh

terhadap

terjadinya

efek

yang

diteliti

dengan

membandingkan kekerapan pajanan faktor risiko tersebut pada kelompok


kasus dengan kelompok control.
Kelebihan:
1. Studi kasus-kontrol kadang atau bahkan menjadi satu-satunya cara
untuk meneliti kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang
2. Hasil dapat diperoleh dengan cepat
3. Biaya yang diperlukan relatif lebih sedikit sehingga lebih efisien
4. Memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai faktor risiko
sekaligus dalam satu penelitian (bila faktor risiko tidak diketahui)
5. Tidak mengalami kendala etik seperti pada penelitian eksperimen
atau kohort.
Kekurangan:
1. Data mengenai pajanan faktor risiko diperoleh dengan mengandalkan
daya ingat atau catatan medik
2. Validasi informasi terkadang sukar diperoleh
3. Sukarnya meyakinkan bahwa kelompok kasus dan kontrol sebanding
karena banyaknya faktor eksternal/faktor penyerta sumber bias lainnya
yang sukar dikendalikan
4. Tidak dapat memberikan incidence rates karena proporsi kasus dalam
penelitian tidak mewakili proporsi orang dengan penyakit tersebut
dalam populasi
5. Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variabel
dependen, hanya berkaitan dengan satu penyakit atau efek
6. Tidak dapat dilakukan untuk penelitian evaluasi
c. Cohort
Cohort atau penelitian prospektif merupakan jenis penelitian yang
digunakan untuk melihat hubungan faktor risiko dengan efek melalui
pengamatan propektif. Dua hal penting yang menjadi karakteristik penelitian
kohort adalah:
1. Seleksi individu dalam pembentukan kelompok ditentukan berdasarkan
status pemaparan yaitu terpapar atau tidak terpapar.

15

2. Adanya periode observasi dimana setiap kelompok diamati secara intens


untuk diketahui frekuensi penyakit/kelainan yang terjadi selama periode
observasi
Pada studi kohort, biasanya dibutuhkan waktu yang lama untuk melakukan
pengamatan efek dan responden yang diamati mempunyai peluang yang besar
untuk mengalami drop out. Perbedaan mendasar penelitian ini dengan case
control, adalah terletak pada posisi subjek penelitian. Pada penelitian case
control, peneliti berangkat dari efek yang telah muncul pada subjek, kemudian
ditelusuri kebelakang riwayat paparan faktor risikonya. Sedangkan pada
penelitian kohort, peneliti berangkat dari subjek yang terpapar faktor risiko
yang diduga berperan dalam timbulnya efek kemudian subjek tersebut di
follow up hingga timbul efek.
Kelebihan:
a) Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subjek dengan
faktor risiko positif dan subjek dari kelompok control sejak awal
penelitian
b) Secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari waktu ke
waktu
c) Keseragaman observasi terhadap faktor risiko maupun efek dari waktu
ke waktu.
Kekurangan:
a) Memerlukan waktu penelitian yang relatif cukup lama.
b) Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih
rumit.
c) Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out sehingga
mengurangi ketepatan dan kecukupan data untuk dianalsis
d) Menyangkut etika sebab faktor risiko dari subjek yang diamati sampai
terjadinya efek, menimbulkan ketidaknyamanan bagi subjek.
2. Eksperimen
Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada
kelompok subjek kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak
dikenakan percobaan).
Rancangan penelitian eksperimen dibagi atas 3 yaitu:
a. Rancangan pra-eksperimental

16

Rancangan pra-eksperimental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan


informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim
digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu;
1. Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
2. Tes awal tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
3. Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
b. Rancangan eksperimen murni
Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
1. Adanya kelompok control
2. Siswa ditarik secara random dan ditandai untuk masing-masing kelompok
3. Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbadaan antar kelompok.
c. Rancangan eksperimen kuasi/semu (quasi eksperimental design)
Rancangan kuasi eksperimental ini memiliki kesepakatan praktis antara
ekperinmen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita
teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
1. Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok
control (the randomized posttest only control group design, using
matched subject),
2. Rancangan dengan pemasangan subjek melaui tes awal-tes akhir dan
kelompok control (the randomnized posttest only control group design,
using matched subject),
3. Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment
counter balanced, using matched subject),
4. Rancangan rankaian waktu (a basic time-series design),
5. Rancangan factorial (factorial design)
G. Kesalahan dalam Penelitian Epidemiologi
Dalam penelitian epidemiologi, sangat penting untuk menghindari bias
(kesalahan), untuk mengontrol confounding (variabel penggangu) dan untuk melakukan
replikasi akurat. Bias, confounding dan variasi random adalah alasan non-kausal untuk
hubungan antara ekspour dan hasil. Validitas internal penelitian harus selalu dianggap
sebagai alternatif penjelasan dalam penafsiran. Bias adalah kesalahan dari peneliti,
counfonding dapat dikendalikan, replikasi ditentukan oleh peneliti.
Bias didefinisikan sebagai segala kesalahan sistematis dalam studi epidemiologi
yang terjadi pada rancangan atau pelaksanaan penelitian sehingga menghasilkan
perkiraan yang salah dari hubungan antara eksposure dan risiko penyakit (melenceng dari
yang semestinya). Beberapa bias dalam penelitian epidemiologi adalah:

17

1.

Bias informasi merupakan bias yang terjadi karena kesalahan pengukuran baik dari

pengukuran variabel independen maupun varibel dependen


2. Bias seleksi merupakan kesalahan yang timbul akibat salah dalam memilih subjek
penelitian
3. Bias confounding merupakan bias yang terjadi akibat variasi random. Dua hal yang
berperan dalam bisnis ini adalah keeratan ukuran asosiasi itu sendiri dan besarnya
sampel. Bias confounding dapat dikontrol dalam desain dengan melakukan random,
pembatasan masalah matching dan dikontrol dalam analisis melalui analisa
stratifikasi, analisis multivariabel dan matching.
Selain ketiga bias tersebut, dalam penelitian epidemiologi juga dikenal dua kesalahan
yaitu:
1. Kesalahan sistematik (systematic error)
Kesalahan sitematik adalah jenis kesalahan riset yang dilakukan oleh peneliti dan
atau subjek penelitian, baik disadari maupun tidak, yang mengakibatkan distorsi
penaksiran parameter populasi sasaran. Kesalahan sistematik akan merusak validitas
dan kualitas penelitian, baik perencanaan, pelaksanaan, dan interpretasi hasil.
Sumber kesalahan sistematik:
a. Perumusan pertanyaan penelitian yang tidak jelas apa yang sebenarnya masalah
yang ingin diungkapkan melalui riset
b. Masalah yang dirumuskan bukan
c.
d.
e.
f.

merupakan

masalah

esensi

dalam

pengembangan pengetahuan
Perumusan hipotesis yang tidak tajam dan terbuka untuk penyanggahan
Pemilihan subjek penelitian yang mengalami bias
Pemilihan desain penelitian yang lemah
Pengamatan dan pengukuran yang tidak akurat, mengalami bias, bahkan asal-

asalan
g. Kelalaian memperhitungkan pengaruh faktor luar yang merancukan penaksiran
parameter populasi sasaran
h. Pemilihan uji statistik terhadap hipotesis yang salah/tidak tepat
i. Kesalahan manuisawi dalam pengolahan data
j. Penarikan kesimpulan yang keliru atau tidak konsisten dengan hasil pengamatan.\
2. Kesalahan acak (random error)
Kesalahan acak adalah kesalahan riset yang disebabkan peran peluang (kebetulan,
probability, acak), yang mengakibatkan ketidaktelitian penaksiran parameter populasi
sasaran.
Sumber Kesalahan Acak:
a. Ukuran sampel tidak cukup besar
18

b. Tidak konsisten dalam melakukan pengukuran variabel


c. Kesalahan manuisawi (letih)

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

19

Ada beberapa definisi telah dikemu-kakan oleh para pakar epidemiologi dan organisasi
internasional, beberapa diantaranya adalah :
Greenwood (1934)
1. Menurut Greenwood, Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam
kejadian yang mengenai kelompok (herd) penduduk. Greenwood memberikan penekanan
pada kata Kelompok Penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu penyakit.
2. Brian Mac Mahon (1970)
Menurut Brian Mac Mahon, Epidemiologi adalah Studi tentang penyebaran dan
penyebab frekuensi penyakit pada manusia. Pada pengertian yang dikemukakan oleh
Brian sudah mulai memasukkan aspek Distribusi Penyakit dan mencari Penyebab dari
suatu penyakit.
3. SARAN
Epidemiologi PTM dalam kehidupan masyarakat dewasa ini belum maksimal, oleh
karena itu kami menghimbau kepada aparat kesehatan lebih memperhatikan penyakit
tidak menular, menurut kami melalui promosi kesehatan dalam hal ini pola hidup sehat
akan menekan angka terjadinya penyakit tidak menular yang sebagian besar dipengaruhi
oleh life style.

DAFTAR PUSTAKA
Bujawati, Emmy. 2012. Penyakit tidak mwnular, factor resiko dan pencegahannya.Makassar:
Alauddin University Press.
Bustan.2007.Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.Jakarta: Rineka Cipta.
Nasry Noor, Nur.2008.Epidemiologi.Jakarta: Rineka Cipta.
Sutisna, Bambang.2010. Pengantar Metode Epidemiologi. Jakarta: Dian Rakyat.
Ryadi, Slamet dan Wijayanti, T.2011.Dasar Epidemiologi.Jakarta: Salemba Medika.

20