Anda di halaman 1dari 3

Asfiksia Neonatorum

Martono Tri Utomo

BATASAN
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan
Home
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai
ePDT (88)
dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia),
Karya Ilmiah (3)
hiperkarbia (Pa CO2 meningkat) dan asidosis.

KATEGORI BERITA

Laporan Kasus (1)


Ilmiah Popular (17)PATOFISIOLOGI
Buletin (31)
Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta.
P K B (42)
Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan
Tips - Tips (24)
fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada
Jurnal Pediatrik (21)kejadian asfiksia.
Perawat Pediatrik
Event Project (2) GEJALA KLINIK
CD dan Buku (1) Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang
dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada
Internet Cafe

respon terhadap refleks rangsangan.

LINK JOURNAL

AGENDA

DIDUKUNG OLEH

DIAGNOSIS
Anamnesis : Gangguan/kesulitan waktu lahir, lahir tidak
bernafas/menangis.
Pemeriksaan fisik :
Nilai Apgar
Klinis

Detak jantung

Tidak ada

< 100 x/menit

Pernafasan

Tidak ada

Tak teratur

Refleks saat jalan nafas


dibersihkan

Tidak ada

Menyeringai

Tonus otot

Lunglai

Fleksi ekstrimitas
(lemah)

Warna kulit

Biru pucat

Tubuh merah
ekstrimitas biru

Nilai 0-3 : Asfiksia berat


Nilai 4-6 : Asfiksia sedang
Nilai 7-10 : Normal

Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5,
bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan
tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk
menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan

prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi


dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1
menit seperti penilaian skor Apgar)
Pemeriksaan penunjang :
- Foto polos dada
- USG kepala
- Laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit
Penyulit
Meliputi berbagai organ yaitu :
- Otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi
serebralis
- Jantung dan paru : hipertensi pulmonal persisten pada
neonatus, perdarahan paru, edema paru
- Gastrointestinal : enterokolitis nekrotikans
- Ginjal : tubular nekrosis akut, SIADH
- Hematologi : DIC
PENATALAKSANAAN
Resusitasi
Tahapan resusitasi tidak melihat nilai apgar (lihat bagan)
Terapi medikamentosa :
Epinefrin :
Indikasi :
Denyut jantung bayi < 60 x/m setelah paling tidak 30 detik
dilakukan ventilasi adekuat dan pemijatan dada.
Asistolik.
Dosis :
0,1-0,3 ml/kg BB dalam larutan 1 : 10.000 (0,01 mg-0,03
mg/kg BB) Cara : i.v atau endotrakeal. Dapat diulang setiap 35 menit bila perlu.
Volume ekspander :
Indikasi :
Bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami
hipovolemia dan tidak ada respon dengan resusitasi.
Hipovolemia kemungkinan akibat adanya perdarahan atau
syok. Klinis ditandai adanya pucat, perfusi buruk, nadi
kecil/lemah, dan pada resusitasi tidak memberikan respon
yang adekuat.
Jenis cairan :
Larutan kristaloid yang isotonis (NaCl 0,9%, Ringer Laktat)
Transfusi darah golongan O negatif jika diduga kehilangan
darah banyak.
Dosis :
Dosis awal 10 ml/kg BB i.v pelan selama 5-10 menit. Dapat
diulang sampai menunjukkan respon klinis.