Anda di halaman 1dari 8

Laporan kasus

An. A (korban) tempat tanggal lahir di Jakarta, 29 Juli 2007, Agama Islam,
Pekerjaan Pelajar kelas 3 SD, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jakarta
Selatan merupakan anak dari Ny. L (32 tahun). Ny. L melaporkan kekasihnya Tn.K
(tersangka) tempat tanggal lahir Bandung, 6 Januari 1968, Agama Islam,
Pekerjaan Swasta, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jakarta Selatan karena
telah mempergoki kekasihnya tersebut sedang mencabuli anak kandungnya. Ia
menjelaskan bahwa kejadian persetubuhan yang dialami anak kandungnya
tersebut terjadi pada hari Minggu tanggal 12 Juli 2015 sekitar jam 02.30 WIB di
rumah kontrakan di Jakarta Selatan. Pada awalnya ia bersama anaknya sedang
sahur di ruang tamu sambil menonton tv, setelah selesai sahur ia keluar rumah
untuk merokok, selesai merokok ia masuk kedalam rumah dan mendapati
bahwa anaknya An.A dan tersangka sudah tidak ada di depan tv namun sudah
pindah ke kamar tidur, saat ia masuk kekamar tidur ia melihat anaknya sedang
tiduran dalam posisi telentang diatas tempat tidur dengan baju daster terangkat
sampai sebatas dada, posisi tuan K menindih badan anaknya tersebut
(tengkurap diatas badan anaknya) sambil tangan kanannya mendekap kepala
anaknya, Ny. L menerangkan bahwa anaknya mengaku padanya bila ia diancam
oleh tuan K JANGAN BILANG SAMA IBU NANTI IBU MARAH. Akibat kejadian ini
korban mengaku merasakan sakit dan perih pada vaginanya, An. A menuturkan
bahwa ia telah sering disetubuhi dan dicabuli oleh tersangka saat ia baru masuk
ke madrasah ibtidaiyah saat masih umur 5 tahun. An. A menjelaskan bahwa ia
tidak pernah di janjikan barang oleh tersangka dan perlakuan tersebut dilakukan
dalam kondisi sadar. Berdasarkan keterangan dari tersangka ia mengakui segala
perbuatannya terhadap korban , ia telah sering melakukan pencabulan terhadap
korban. Tersangka mengakui ia melakukan tersebut karena terdorong oleh
hasrat seksual , kesal karena Ny. L memiliki pria idaman lain. Pada hasil Visum
didapatkan terjadi robekan selaput dara korban ada seluruh arah jarum jam. Atas
kasus ini tersangka dikenai pasal tindak pidana Perlindungana Anak Jo
(Pencabulan) sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 Jo pasal 82 UU RI No 35
tahun 2014 tentang Perlindungan anak terhadap saksi korban An.A (umur 8
tahun)

Pendahuluan
Di era global ini kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya dapat menimpa
wanita selaku istri namun juga dapat terjadi pada anak. Saat ini kian banyak
kasus kekerasan pada anak baik kekerasan fisik, psikis maupun seksual.
Kekerasan seksual pada anak menurut WHO yaitu aktivitas atau kontak seksual yang
melibatkan anak (remaja) dengan orang dewasa atau dengan anak (remaja) lain
yang tidak diinginkan oleh seseorang tersebut, dalam hal ini si anak (remaja) yang
menjadi korban baik secara verbal maupun fisik yang merujuk pada seks sehingga
menyebabkan keadaan yang tidak nyaman bagi korban. Jadi, pelaku pelecehan
seksual bisa jadi orang yang sudah dewasa atau anak(remaja). Anak sendiri,
menurut definisi UU No. 23 Tahun 2002 adalah seseorang yang belum berusia 18
tahun , termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Apapun bentuk kekerasan seksual pada anak akan menimbulkan dampak negative
yang akan dirasakan anak hingga waktu yang lama terlebih dampak psikologis. Anak
akan merasakan trauma, ketakutan, depresi, hingga merasa kehilangan masa
depannya.
Dalam banyak kasus seringkali anak ketakutan untuk berkata jujur akan pelecehan
seksual yang ia alami akibat ancaman pelaku. Perlu edukasi seksual yang baik
sebagai salah satu bentuk pencegahan kekerasan seksual pada anak. Dan
diterapkannya hukuman yang sesuai dan adil bagi pelaku kekerasan seksual pada
anak.

Diskusi
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah global yang banyak terjadi
di seluruh negara. Tanpa memandang ras, agama dan budaya. Dapat terjadi
pada hubungan suami istri, orangtua-anak, kakak-adik, dll (Marshall & Stewart,
2003).
Kekerasan dalam rumah tangga dapat berupa kekerasan fisik, psikis dan seksual.

Kekerasan yang terjadi berupa kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual.
Kekerasan fisik dilihat dari apakah korban pernah didorong, digigit, ditampar, ditendang, atau
dipukul dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan suatu benda, dijambak
pada bagian rambut, diseret di lantai, atau diserang dengan menggunakan pisau maupun
senjata tajam lainnya. Kekerasan psikis dapat berupa ancaman, dilarang bertemu sanak
saudara ataupun teman, dan dilarang menghubungi keluarganya. Sedangkan kekerasan
seksual berupa pemaksaan dalam berhubungan seksual (Wafa M K Fageeh, 2014).
Pelecehan seksual menurut The CSA (Child Sexual Abuse) mencakup berbagai kegiatan
seperti memasukkan alat kelamin ke organ intim anak, kontak oral-genital, mencumbu alat
kelamin, melepaskan paksa pakaian, eksibisionisme atau mengekspos anak-anak untuk
aktivitas seksual dewasa atau pornografi, dan penggunaan anak untuk pelacuran atau
pornografi. (Collin-Vezina dkk, 2014)
Beberapa literature menyebutkan bahwa pada banyak kasus kekerasan seksual
pada anak berhubungan dengan konsumsi alkohol. Disebutkan biasanya pelaku
merupakan orang yang ketergantungan atau sering mengkonsumsi alkohol.
Disebutkan dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan pelaku. ( E. Anne Lown,
Dr.P.H.dkk, 2010) ( Rachael A. Korcha, MA, dkk 2013)
Pelaku kekerasan seksual dapat berasal dari orang dekat korban seperti ayah tiri, tetangga, saudara,
ataupun orang terpercaya lain. Ketiadaan salah satu atau kedua orang tua kandung dan adanya masalah
dalam pernikahan orang tua juga menjadi salah satu penyebab paling banyak terjadinya kasus ini. (Mannat
Mohanjeet Singh dkk, 2014)

Dalam kasus ini terjadi kasus kekerasan seksual pada anak dibawah umur yang
dilakukan oleh kekasih ibu kandungnya yang telah dianggap ayah angkat, orang
tua kandung korban bercerai sehingga ketiadaan ayah kandung korban
menjadikan pengawasan dan perlindungan terhadap korban kurang.

Hal yang kurang sesuai antara pemaparan literature dan kasus ini adalah pelaku
bukan pengkonsumsi alkohol dimana pada literature salah satu jurnal disebutkan
salah satu hal yang paling banyak menjadi penyebab terjadinya kekerasan
seksual pada anak adalah ketergantungan tersangka akan alkohol yang akhirnya
mempengaruhi pikiran dan perilaku tersangka.

Pandangan Islam Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga


Kekerasan = Kriminalitas
Kekerasan terhadap wanita adalah bentuk kriminalitas (jarimah). Pengertian kriminalitas
(jarimah) dalam Islam adalah tindakan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh
syariat Islam dan termasuk kategori kejahatan. Sementara kejahatan dalam Islam adalah
perbuatan tercela (al-qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara, bukan yang lain. Sehingga
apa yang dianggap sebagai tindakan kejahatan terhadap wanita harus distandarkan pada
hukum syara.
Disinilah kekeliruan mendasar dari kelompok Feminis, yang menganggap kejahatan diukur
berdasarkan kepada gender (jenis kelamin) korban atau pelakunya, bukan pada hukum syara.
Mereka membela pelacur, karena dianggap sebagai korban. Sebaliknya mereka menuduh
poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap wanita, dengan anggapan wanita telah menjadi
korbannya.
Padahal, kejahatan bukanlah perkara gender (jenis kelamin). Pasalnya, kejahatan bisa
menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Pelakunya juga bisa laki-laki dan bisa
pula perempuan. Dengan demikian Islam pun menjatuhkan sanksi tanpa melihat apakah
korbannya laki-laki atau perempuan. Tidak pula melihat apakah pelakunya laki-laki atau
perempuan, tapi yang dilihat apakah dia melanggar hukum Allah SWT atau tidak.
Kekerasan juga bukan disebabkan sistem patriarki atau karena adanya subordinasi kaum
perempuan, karena laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang yang sama sebagai
korban. Kalaupun data yang tersedia lebih banyak menyebutkan wanita sebagai korban, itu
semata-mata karena data laki-laki sebagai korban kekerasan tidak tersedia. Dengan begitu
kekerasan tidak ada kaitannya dengan penyetaraan hak laki-laki atau perempuan. Gagasan

anti-KDRT dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap hak-hak wanita pada akhirnya


justru bias gender.

Abstract
Objective : Violence against women and children is globally recognized as a
social and human rights concern. Child sexual abuse (CSA) is a universal problem
with grave life-long outcomes.The World Health Organisation (WHO) defines CSA
as the involvement of a child in sexual activity that he or she does not fully
comprehend and is unable to give informed consent to, or for which the child is
not developmentally prepared, or else that violate the laws or social taboos of
society. The term CSA includes a range of activities like intercourse, attempted
intercourse, oral-genital contact, fondling of genitals directly or through clothing,
exhibitionism or exposing children to adult sexual activity or pornography, and
the use of the child for prostitution or pornography.

Methods: The method used in this report is a case study utilizing data observation and
exploration from several sources like journal and article.
Discussion and Conclusion The perpetrator is known to the child (relatives,
neighbors, step parents, highly trusted people) and type of abuse was classified
into three categories (penetrative, contact without penetration, and noncontact). Childhood sexual abuse is associated with past year alcohol-related
consequences. Children belonging to the lower socio-economic status are at
higher risk.The absence of one or both biological parents, marital conflicts,
and/or parental substance abuse increases the vulnerability. Children under the
influence of alcohol/drugs are more susceptible.

CONCLUSION & DISCUSSION


Tidak semua yang disebutkan literature sama dengan yang terjadi pada kasus
kekerasan anak An. A dimana pelaku bukan peminum alcohol. Namun hal lainnya
seperti mayoritas kekerasan seksual pada anak dilakukan oleh orang terdekat
korban, terdapat masalah dalam pernikahan orang tua korban, serta ketiadaan
salah satu orang tua korban yang menyebabkan kurangnya pengawasan dan
perlindungan seusai dengan keadaan yang dialami korban An. A. Keadaan
keadaan diatas memicu hasrat seksual tersangka hingga ia dapat melakukan hal
ini.
Disebutkan secara jelas bahwa kekerasan daam rumah tangga dilarang oleh
Allah SWT dan pelecehan pada anak dibawah umur haram hukumnya.

UCAPAN TERIMA KASIH


Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan
ridhaNya saya dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas ini dengan baik. Ucapan terima
kasih saya berikan kepada dosen pembimbing saya, dr. Fatimah Eliana Sp.PD yang telah
meluangkan waktunya serta mengajarkan kelompok kami dengan baik dalam mengerjakan
laporan ini. Terima kasih pula kepada dr. Ferryal Babeth Sp.F selaku dosen pengampu serta
dr. HJ. R.W. Susilowati, M.Kes dan DR. Drh. Hj. Titiek Djannatun sebagai koordinator blok
elektif. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Polres Jakarta Selatan atas bantuannya,
kepada teman-teman sekelompok domestic violence 2 yang selalu kompak dalam proses
pembuatan laporan kasus ini, serta kepada CB ku tercinta.

DAFTAR PUSTAKA
Mannat Mohanjeet Singh, Shradha S. Parsekar, Sreekumaran N. Nair 2014. An Epidemiological

Overview of Child Sexual Abuse. pp 430435 October


Darrell Payne, Linda Wermeling 2009. Domestic Violence and the Female Victim: The Real
Reason Women Stay. Volume 3, Issue 1
E. Anne Lown, Dr.P.H. et al 2010. Child physical and sexual abuse: a comprehensive look at

alcohol consumption patterns, consequences and dependence from the national alcohol
survey. Pp 31725. February
Muzdalifat Abeid et al 2015. knowledge and attitude towards rape and child sexual abuse a

community-based cross-sectional study in Rural Tanzania pp 186-233. April

Al-quran dan terjemahannya, view 10 November 2015, from http://www.alquranindonesia.com/


Wafa M K Fageeh 2014. Factors associated with domestic violence:a cross-sectional survey
among women in Jeddah, Saudi Arabia. January