Anda di halaman 1dari 21

1.

Klasifikasi Model Pembelajaran Menurut Bruce Joyce dan


Marsha Weil
pengertian model pembelajaran, menurut Joyce dan
Weil (1986) adalah kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur
sistematis
dalam
mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.1
Berdasarkan
karakteristik
dari
setiap
model
pembelajaran tersebut, Joyce dan Weil mengklasifikasi
model-model pembelajaran kedalam empat rumpun model,
yaitu :
1. Rumpun Model Pengolahan Informasi
(The
Information Processing Models).
Teori pemrosesan informasi/kognitif dipelopori
oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting
dalam
perkembangan
individu.
Perekembangan
merupakan hasil komulatif dari pembelajaran, di mana
dalam pembelajaran
terjadi proses
penerimaan
informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan
output dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi interaksi antara kondisi internal dan
kondisi eksternal individu dan interaksi antar keduanya
sehingga menghasilkan hasil belajar.2
Model-model pembelajaran yang termasuk dalam
rumpun ini bertolak dari prinsip-prinsip pengolahan
informasi
oleh
manusia
dengan
memperkuat
dorongandorongan internal (datang dari dalam diri)
untuk memahami dunia dengan cara menggali dan
mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah
dan
mengupayakan
jalan
keluarnya
serta
pengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya.
Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat 7
model pembelajaran, yaitu :
a. Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
b. Berpikir induktif (InductiveThinking)
c. Latihan Penelitian (Inquiry Training)
1 Joice, Bruce & Marsha Weil. Model Of Teaching. (New jersey : Prentice-Hall
inc. Engle wood cliffs. 1986)
2 Gagne, Robert M. The Conditions Of Learning And Theory Of Instructions.
(new York : Holt, rienhart & Winston. 1985)

d.
e.
f.
g.

Pemandu Awal (Advance Organizer)


Memorisasi (Memorization)
Pengembangan Intelek (Developing Intelect)
Penelitian Ilmiah (Scientic Inquiry)

2. Rumpun Model Personal (Personal Models)


Rumpun model personal bertolak dari pandangan
kedirian atau selfhood dari individu. Proses pendidikan
sengaja diusahakan yang memungkinkan seseorang
dapat memahami diri sendiri dengan baik , sanggup
memikul tanggung jawab untuk pendidikan dan lebih
kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Dalam rumpun model personal ini terdapat 4
model pembelajaran, yaitu :
a. Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
b. Model Sinektik (Synectics Model)
c. Latihan Kesadaran (Awareness Training)
d. Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)
Penggunaan model-model pembelajaran dalam
rumpun personal ini lebih memusatkan perhatian pada
pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan
kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi
semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas
tujuannya.
3. Rumpun Model Interaksi Sosial (Social Models)
Penggunaan rumpun model interaksi sosial ini
menitik beratkan pada pengembangan kemampuan
kerjasama dari para siswa.
Model pembelajaran rumpun interaksi sosial
didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu
1. masalah-masalah sosial diidentifikasi dan dipecahkan
atas dasar dan melalui kesepakatanm-kesepakatan
yang diperoleh di dalam dan dengan menggunakan
proses-proses sosial, dan
2. proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan
untuk melakukan perbaikan masyarakat dalam arti
seluas-luasnya secara build-in dan terus menerus.
Dalam rumpun model interaksi sosial ini terdapat
5 model pembelajaran, yaitu :
a. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
b. Bermain Peran (Role Playing)
c. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential UInquiry)
d. Latihan Laboratoris (Laboratory Training)
e. Penelitian Ilmu Sosial

4. Rumpun Model Sistem Perilaku (Behavioral


Systems)
Rumpun model system perilaku mementingkan
penciptaan
sistem
lingkungan
belajar
yang
memungkinkan penciptaan sistem lingkungan belajar
yang memungkinkan manipulalsi penguatan tingkah
laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk
pola tingkah laku yang dikehendaki.
Dalam rumpun model sistem perilaku ini terdapat
5 model pembelajaran, yaitu :
a. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
b. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
c. Belajar Kontrol Diri (Learning Self Control)
d. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep
(Training for Skill and Concept Development)
e. Latihan Assertif (Assertive Training.
Model ini memusatkan perhatian pada perilaku
yang terobservasi dan metode dan tugas yang diberikan
dalam rangka mengkomunikaksikan keberhasilan.
2. Dari keempat rumpun model pembelajaran yang telah
dikemukakan di atas, menurut Jioyce dan Weil (1986) memiliki
unsur-unsur sebagai berikut:
a. Sintaks (Syntax)
Yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk
pada fase-fase /tahap-tahap yang harus dilakukan oleh
guru bila ia menggunakan model pembelajaran tertentu.
Misalnya model eduktif akan menggunakan sintak yang
berbeda dengan model induktif
b. Prinsip Reaksi (Principles of Reaction)
Berkaitan
dengan
pola
kegiatan
yang
menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan
memperlakukan
para
siswa,
termasuk
bagaimana
seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa.
Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana seharusnya guru
menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap
model.
c. Sistem Sosial (The Social System)
Adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat
terjadinya proses pembelajaran (situasi atau suasana dan
norma
yang
berlaku
dalam
penggunaan
model
pembelajaran tertentu.
d. Sistem Pendukung (Support System)

Yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan


untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran
secara optimal.
3. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seorang guru
di dalam menggunakan suatu metode pembelajaran, yaitu;
tujuan,
peserta
didik,
bahan
pelajaran,
fasilitas,
situasi,partisipasi, guru, kebaikan dan kelemahan metode
tertentu. Sama halnya dengan faktor di atas, Tayar Yusuf dan
Syaiful Anwar Mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mengaplikasikan
metode pengajaran: 1). Tujuan yang hendak dicapai, 2)
Kemampuan guru, 3) Anak didik, 4) Situasi dan kondisi
pengajaran di mana berlangsung, 5) Fasilitas yang tersedia, 6)
Waktu yang tersedia, 7). Kebaikan dan kekurangan sebuah
metode.3
1. Tujuan yang hendak di capai
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah
mengetahui dengan jelas tentang tujuan yang hendak di
capainya. Demikian juga setiap pendidik atau guru yang
pekerjaan pokoknya mendidik dan mengajar harus
mengerti dengan jelas tentang tujuan pendidikan.
pengertian akan tujuan pendidikan ini mutlak perlu sebab
tujuan itulah yang menjadi sasaran dan dan menjadi
pengarah daripada tindakan-tindakanya dalam menjalan
fungsinya sebagai guru disamping menjadi sasaran dan
menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga
berfungsi sebagai pemilihan dan penentuan alat-alat
(termasuk metode) yang digunakan dalam mengajar.
Menurut Abu Ahmadi mengatakan bahwa tahaptahap tujuan pendidikan Islam meliputi:1. tujuan tertinggi,
2. tujuan umum 3. tujuan khusus, 4. tujuan sementara.
Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau
terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup
manusia, dan perannya sebagai makhluk ciptaan Allah,
yaitu: 1 menjadi hamba Allah (Q.S Az- Zariat: 56), 2
mengantarkan peserta didik menjadi khalifah fi al-Ardh
(Q.S. 2 ; 20), 3 untuk memperoleh kesejahteraan,
kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat, baik individu
maupun masyarakat (Q.S Al Baqarah : 21 dan Al-Qashash :
77). 4
3 DR. Armai Arief, M.A. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,
(Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 109
4 Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005)

Tujuan umum itu perlu dijabarkan menjadi tujuan


khusus atau yang disebut Tujuan Pembelajaran Khusus
(TPK) sebab dengan demikian guru akan mendapatkan
yang jelas tentang apa yang hendak di capainya itu dan
guru dapat mempersiapkan alat-alat apa yang akan di
pakainya
serta
metode
yang
tepat
yang
akan
5
digunakannya . Ditegaskan lagi oleh Melvin L. Silberman,
Guru yang menginginkan pembelajaran bidang studinya
berjalan aktif, maka guru harus mengetahui kebutuhan dan
harapan siswa dalam bidang studi yang akan dipelajari,
sehingga dengan mengetahui tujuan siswa maka
pembelajaran aktif akan terwujud.6 Hal ini dapat guru
tanyakan pada awal pembelajaran, apa yang dibutuhkan
oleh siswa pada bidang studinya?. Dengan demikian siswa
akan aktif dikarenakan kebutuhannya akan bidang studi
yang dipelajarinya dipenuhi.
2. Peserta Didik.
Para peserta didik merupakan faktor yang tak kalah
penting yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam
memilih metode mengajar. Ini sebab metode mengajar itu
ada yang menuntut pengetahuan dan kecekatan tertentu
misalnya; metode diskusi menuntut pengetahuan yang
cukup banyak supaya pesarta diskusi dapat mengetahui
serta menilai benar atau salahnya suatu pendapat yang
dikemukakan peserta lain dan penguasaan bahasa serta
keterampilan dalam mengemukakan pendapat. Menurut
Basyiruddin Usman, perbedaan karakteristik siswa
dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan sosial ekonomi,
budaya, tingkat kecerdasan, dan watak mereka yang
berlainan antara satu dengan yang lainnya, menjadi
pertimbangan guru dalam memilih metode apa yang baik
digunakan.7
Semakin tinggi jenjang pendidikan peserta didik
semakin sederhana metode yang kita gunakan. Sebaliknya
semakin rendah jenjang pendidikan peserta didik semakin
bervariasi metode yang digunakan. Untuk pendidikan dasar
lebih diutamakan metode yang melibatkan psikomotorik
dan afektif (seperti demonstrasi, simulasi, peragaan, kerja
5 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat
Pers, 2002), hal. 32
6 Melvin. L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif ,
(Bandung: Nusamedia dan Nuansa, 2006), hal. 45
7 Basyiruddin Usman, op.cit. hal 32

praktik dan sejenisnya), sedangkan pada pendidikan tinggi


lebih diutamakan metode yang melibatkan aspek kognitif
(diskusi, seminar, studi kasus, dll). Namun tidak menutup
kemungkinan setiap metode digunakan di semua jenjang
pendidikan.8
3. Bahan Pelajaran.
Bahan
pelajaran
yang
menuntut
kegiatan
penyelidikan oleh peserta didik hendaklah disajikan melalui
metode unit/metode proyek. Apabila bahan pelajaran
mengandung problem-problem harus disajikan melalui
metode-metode pemecahan masalah. Bahan pelajaran
yang berisi fakta-fakta dapat disajikan misalnya melalui
metode ceramah, sedangkan bahan pelajaran yang terdiri
dari latihan-latihan misalnya keterampilanketerampilan
disajika melalui metode drill, dan sebagainya.
Jenis materi pelajaran (kognitif, psikomotorik, afektif),
setiap
guru
terlebih
dahulu
harus
mengenali
kecenderungan materi yang akan diajarkan, metode materi
yang cinderung dominan pada kognitif akan berbeda
dengan metode materi yang dominan pada psikomotorik
dan afektif.9
4. Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor fasilitas ini antara lain
adalah praga, ruang waktu, buku-buku, perpustakaan,
kerapatan tempat dan alat-alat praktikum, fasilitas ini turut
menentukan metode mangajar yang akan di pakai oleh
guru. Pengaruh fasilitas dan pemilihan serta penentuan
metode ini ternyata dalam situasi di mana metode
Demonstrasi dan Ekperiment tidak dapat dipakai karena
tidak tersedianya alat-alat dan bahan-bahan untuk
mengadakan demontrasi dan eksperimen /percobaan.
Dalam proses pembelajaran, lingkungan fisik dalam
kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar
aktif. Di sini guru dapat mengubah tata letak bangku dan
meja agar proses pembelajaran lebih menyenangkan dan
menantang, suatu tata letak bangku yang beda dari
biasanya akan akan membantu siswa dalam mengingat
materi yang diajarkan pada saat itu. Melvin L Silberman
memberikan beberapa contoh tata-letak kursi dan meja
yang
dapat
dilakukan
oleh
guru
dalam
proses
pembelajaran aktif, seperti; bentuk U, gaya tim, meja
8 Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, Desain
Pembelajaran, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2004), hal. 6. 28
9 Ibid., hal. 6. 28

konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang


kerja, pengelompokan berpencarformasi tanda pangkat,
ruang kelas tradisional dan auditorium.10
Sekolah yang memiliki peralatan dan media yang
lengkap, gedung yang baik, dan sumber belajar yang
memadai akan memudahkan guru dalam memilih metode
yang bervariasi.11
5. Situasi
Yang termasuk dalam situasi disini ialah keadaan
peserta didik (yang menyangkut kelelahan mereka,
semangat mereka) keadaan cuaca, keadaan guru, keadaan
kelas yang berdekatan yang diberikan pelajaran dengan
metode tertentu.
Terdapat beberapa saran di dalam memperkaya
situasi atau lingkungan kelas, yaitu: 1. dengan
memperkaya kelas dengan warna dan 2. Dengan
memberikan wangi-wangian/ aroma. Menurut Morton
Walker dalm bukunya The Power of Color (1991),
menegaskan bahwa setiap warna memiliki panjang
gelombang, dari ultraviolet hingga inframerah (atau merah
hingga biru) dapat mempengaruhi tubuh dan otak kita
secara berbeda. Contoh warna biru dapat memberikan
ketenangan, meningkatkan perasaan nyaman. Dan begitu
juga dengan aroma, Dave Maier mengatakan wewangian
benar-benar dapat berpengaruh positif pada pemrosesan
mental, contohnya kayu manis dapat menambah
kegembiraan dan kebaikan.12 Banyak hal yang dapat
dilakukan guru untuk menambah kenyamanan, keasyikan
belajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
6. Partisipasi
Paritsipasi adalah turut aktif dalam suatu kejadian.
Apabila guru ingin agar peserta didik turut aktif sama
merata dalam suatu kegiatan, guru tersebut tentunya akan
menggunakan metode kerja kelompok/demikian pula
apabila peserta didik di kehendaki turut berpartisipasi
dalam suatu kegiatan ilmiah, misalnya mengumpulkan
data yang kemudian disajikan dalam pembahasan ilmiah
maka tentunya guru akan menggunakan metode unit atau
metode seminar.
10 Melvin L. Silberman, op.cit, hal. 36-40
11 Basyiruddin Usman, op., cit, hal 33
12 Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, (Bandung:
Mizan Learning Center,2007), hal. 277-281

Dalam pembelajaran aktif partisipasi siswa sangat


diperlukan ada beberapa cara untuk menyusun diskusi dan
mendapatkan respon dari siswa pada saat kapan saja
selama pelajaran, yaitu ; diskusi terbuka, kartu jawaban,
jejak-pendapat, diskusi sub kelompok, mitra belajar,
penyemangat, panel, ruang terbuka, permainan dan
memanggil acara selanjutnya.13
7. Guru
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam
proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha
pembentukan sumber daya manusia yang potensial di
bidang pembangunan. Di dalam metode mengajar, guru
dituntut untuk memenuhi syarat-syarat yang perlu
dipenuhi misalnya tiap guru yang akan menggunakan
metode tertentu ia harus mengerti tentang metode
tersebut (misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan
kelemahannya, situasi-situasi yang tepat dimana metode
itu efektif dan wajar) dan terampil menggunakan metode
itu. Guru yang bahasanya kurang baik (kurang dapat
berbahasa lisan dengan baik) dan tidak bersemangat
dalam berbicara kurang pada tempatnya apabila
mengguanakan metode ceramah. Guru yang tidak
mengetahui seluk beluk tentang metode proyek, tentang
metode unit, tidak akan memili metode tersebut dalam
menyajikan bahan pelajaran.
Dari apa yang disampaikan diatas dapat disimpulkan
bahwa pribadi, pengetahuan, dan kecekatan guru amat
menentukan metode mengajar yang akan di gunakan.
Kemampuan dasar guru amat mempengaruhi proses
belajar mengajar.
8. Kebaikan dan Kelemahan
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan
dalam setiap situasi. Setiap metode mempunyai
kelemahan. Guru perlu mengetahui kapan suatu metode
tepat di gunakan dan kapan harus digunakan dan kapan
harus digunakan kombinasi dari metode-metode. Guru
hendaknya memilih metode yang paling banyak
mendatangkan hasil. Dan perlu diperhatikan, hendaknya
setiap penggunaan metode, menuntut unsur kesenangan
dan kegembiraan.

13 Op.cit.,Melvin L. Silberman, hal. 42-44.

4. (RPP) PAI KURIKULUM 2013


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan:
SD/MI .
Mata Pelajaran
:
PAI dan Budi Pekerti
Kelas / Semester
:
1 /1
Materi Pokok
:
Belajar Surah Al- Al-Ftiah
Sub Materi Pokok :
Mengenal Surah Al-Ftiah
Membaca Surah Al-Ftiah
Menunjukkan hafalan Surah AlFtiah
Pesan Surah Al-Ftiah
Alokasi Waktu
:
.. x Menit
A. KOMPETENSI INTI
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang
dianutnya.
2. Memahami pengetahuan faktual dengan cara
mengamati (mendengar, melihat, membaca), dan
menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan bendabenda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
3. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang
jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan
yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan
yang mencerminkan perilaku anak beriman dan
berakhlak mulia.
B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
Kompetensi Dasar
1.5 Terbiasa membaca Basmalah setiap memulai
aktivitas.
Indikator
Peserta didik diharapkan dapat:
1. Membiasakan membaca Basmalah setiap memulai
aktivitas.
2. Melafalkan Basmalah setiap memulai aktivitas.
Kompetensi Dasar
3.2 Mengenal pesan-pesan yang terkandung di dalam
Q.S Al-Ftiah, Al Ikhlas dan Al-Alaq (96): 1-5.
Indikator
Peserta didik diharapkan dapat:
1. Memahami pesan-pesan yang terkandung dalam Q.S
Al-Ftiah.

2. Mengerti dan mengamalkan pesan-pesan


terkandung dalam Q.S Al-Ftiah.

yang

Kompetensi Dasar
4.2.1
Melafalkan Q.S Al- Ftiah, Al Ikhlas dan
Al-Alaq (96): 1-5 dengan benar dan jelas.
4.2.2
Menunjukkan Q.S Al-Ftiah, Al Ikhlas dan
Al-Alaq (96): 1-5 dengan benar dan jelas.
Indikator
Peserta didik diharapkan dapat:
1. Melafalkan Q.S Al-Ftiah dengan baik dan benar.
2. Menunjukkan hafalan Q.S Al-Ftiah dengan baik.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pesan-pesan yang terkandung dalam Q.S
Al-Ftiah.
2. Melafalkan Q.S Al-Ftiah dengan baik dan benar.
3. Menunjukkan hafalan Q.S Al-Ftiah dengan baik dan
benar.
D. MATERI PEMBELAJARAN
Belajar Surah Al-Ftiah
A. Mengenal Surah Al-Ftiah
B. Membaca Surah Al-Ftiah
C. Menunjukkan hafalan Surah Al-Ftiah
D. Pesan Surah Al-Ftiah
E. METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan
:
Pendekatan ilmiah (scientifict
approach)
Model : Siklus Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi
Metode: 1. Ceramah Plus
2. Curah Pendapat
3. Inquiri
4. Pemecahan Masalah
5. Diskusi
F. MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN
1. Media
a. Laptop, CPU
b. LCD Projector
c. Film/Video
d. Gambar/Foto

e. Tabel/Diagram
2. Sumber Belajar
a. Departeman Agama RI. 2006. Al-Quran dan
Terjemahnya. Jakarta: CV. Naladana
b. Hamid, Syamsul Rijal. 2005. Buku Pintar Agama
Islam. Bogor: Cahaya Alam.
c. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013.
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
untuk Kelas 1 SD/MI. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
d. Referensi lain yang relevan.
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Pendahuluan ( menit)
1. Guru memberi salam dan menunjuk ketua kelas untuk
memimpin doa bersama.
2. Guru mengondisikan kelas, agar kondusif untuk
mendukung proses pembelajaran dengan cara meminta
peserta didik membersihkan papan tulis dan merapikan
tempat duduk, menyiapkan buku pelajaran dan buku
referensi yang relevan serta alat tulis yang diperlukan.
3. Guru mengajak peserta didik agar selalu mengamalkan
ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kehidupan
sebagai tanda syukur kepada Tuhan.
4. Guru mengajak peserta didik untuk proaktif dalam
pembelajaran yang dilaksanakan.
5. Guru memberi penjelasan tentang cakupan materi yang
akan dipelajari beserta tujuan pembelajaran yang akan
dicapai.
6. Guru membuat kesepakatan dengan peserta didik
terkait kegiatan yang akan dilakukan (termasuk di
dalamnya tentang pembagian kelompok kerja peserta
didik).
7. Guru menampilkan beberapa permasalahan dalam
kehidupan terkait materi pembelajaran dalam bentuk
gambar atau video.
Kegiatan Inti ( menit)
Mengamati
1. Membaca buku teks tentang Surah Al-Ftiah.
2. Guru meminta peserta didik untuk membaca sebentar
tentang Surah Al-Ftiah.

3. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk


mengamati beberapa permasalahan yang terkait
dengan tentang Surah Al-Ftiah.
4. Peserta didik mengamati gambar atau video Surah AlFtiah.
Menanya
1. Guru meminta peserta didik untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan pada cek kemampuan awal.
2. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengajukan pertanyaan terkait hasil pengamatan
mereka tentang Surah Al-Ftiah.
3. Guru menampung pertanyaan peserta didik dan
memberi kesempatan kepada tiap peserta didik atau
menunjuk secara acak peserta didik untuk menjawab
pertanyaan temannya.
4. Guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik
terkait tentang Surah Al-Ftiah.
Mengeksplorasi
1. Peserta didik mencari jawaban pertanyaan pada cek
kemampuan awal dengan membaca buku ajar dan buku
referensi lain.
2. Peserta didik mengumpulkan informasi dari tanya jawab
yang dilakukan dan melengkapinya dengan membaca
buku ajar dan buku referensi terkait Surah Al-Ftiah.
3. Peserta didik berdiskusi secara berkelompok untuk
mengidentifikasi dan menganalisis ragam informasi
yang diperoleh, kemudian dijadikan bahan untuk
menyimpulkan tentang Surah Al-Ftiah.
Mengasosiasikan
1. Peserta didik menyusun hasil diskusi tentang kisah
Surah Al-Ftiah .
2. Peserta didik merumuskan tentang kisah Surah AlFtiah.
3. Peserta didik menemukan hubungan tentang Surah AlFtiah dengan pertanyaan konsep 5W + 1H.
Mengomunikasikan
1. Peserta didik menuliskan laporan kerja kelompok.
2. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok di
depan kelas dan peserta didik dari kelompok lain
memberikan tanggapan.
3. Guru memberikan penegasan terhadap hasil
pembelajaran peserta didik.
Kegiatan Penutup ( menit)

Guru bersama peserta didik baik secara individual maupun


kelompok melakukan refleksi untuk:
1. mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran
dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara
bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak
langsung
dari
hasil
pembelajaran
yang
telah
berlangsung;
2. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
3. menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran
untuk pertemuan berikutnya; dan
4. menutup kegiatan pembelajaran dengan berdoa
bersama sesuai dengan agama dan kepercayaannya
masing-masing.
H. PENILAIAN
N Kompete
o.
nsi

Teknik

1.

KI 1

Observa
si

2.

KI 3

Tes
tertulis

3.

KI 4

Proyek

Instrumen

Keterang
an

Lembar
Observasi

Terlampir

Pilihan ganda
Uraian
Tugas (mandiri
atau kelompok)

Terlampir

Lembar laporan
tugas praktik
Lembar laporan
tugas proyek

Terlampir

Lampiran
KI 1
INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP SPIRITUAL
(LEMBAR OBSERVASI)
A. Petunjuk Umum
1. Instrumen penilaian sikap spiritual ini berupa Lembar
Observasi.
2. Instrumen ini diisi oleh guru yang mengajar peserta didik
yang dinilai.
B. Petunjuk Pengisian
Berdasarkan pengamatan Anda selama dua minggu terakhir,
nilailah sikap tiap peserta didik Anda dengan memberi skor 4,
3, 2, atau 1 pada Lembar Observasi dengan ketentuan
sebagai berikut:
4 = apabila SELALU melakukan perilaku yang diamati
3 = apabila SERING melakukan perilaku yang diamati
2 = apabila KADANG-KADANG melakukan perilaku yang
diamati
1 = apabila TIDAK PERNAH melakukan perilaku yang diamati
C. Lembar Observasi
LEMBAR OBSERVASI
Kelas
: .
Semester
: .
TahunAjaran
: .
Periode Pengamatan :
Tanggal s.d. .
Butir Nilai
: Terbiasa membaca Basmalah setiap
memulai aktivitas.
Indikator Sikap
:
Indikator Sikap
Deskripsi
1. Membiasakan
membaca Selalu membiasakan membaca
Basmalah setiap memulai Basmalah setiap memulai
aktivitas.
aktivitas.
Sering membiasakan membaca
Basmalah setiap memulai
aktivitas.
Kadang-kadang membiasakan
membaca Basmalah setiap
memulai aktivitas.
Tidak pernah membiasakan
membaca Basmalah setiap
memulai aktivitas.
2. Melafalkan Basmalah setiap Selalu melafalkan Basmalah
memulai aktivitas.
setiap memulai aktivitas.

Sko
r
4
3
2
1
4

Sering melafalkan Basmalah


setiap memulai aktivitas.
Kadang-kadang melafalkan
Basmalah setiap memulai
aktivitas.
Tidak pernah melafalkan
Basmalah setiap memulai
aktivitas.
Lembar Penilaian
No.

NamaPesert
a Didik

:
Skor Aspek
yang Dinilai
(1 4)
Indikator
1
2

Jumlah
Peroleh
an
Skor

SkorAk
hir

Tuntas/
Tidak
Tuntas

1.
2.
3.
4.
5.
dst
Guru Mata
Pelajaran
____________________
__
NIP.

3
2
1

Penilaian KI 3
Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Kerjakan
secara mandiri!
1. Tulis surah Surah Al-Ftiah ayat 4-5!
Jawab:

..............
2. Apa nama lain dari Surah Al-Ftiah?
Jawab:

..............
3. Apa arti pesan Allah dalam Surah Al-Ftiah?
Jawab:

..............
4. Apakah arti ayat

Jawab:

..............
5. Tulis

dalam huruf latin!

Jawab:

..............

Penilaian KI 4
Job Sheet
Nama

: ............................................

Kelas

: ............................................

No. Absen : ............................................


Hubungkan dengan garis antara kotak sebelah kanan dengan
kotak sebelah kiri!

Mengetahui,
Guru Kelas/Mata Pelajaran

________________________
NIP

Kepala Sekolah

________________________
NIP

5.

Dilihat dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik,


dan unit tematiknya, menurut seorang pakar pendidikan yang
bernama Robin Fogarty (1991) ada sepuluh cara atau model
dalam merencanakan pembelajaran terpadu yaitu : (1) Model
Fragmented (2) Model Connected (3) Model Nested (4) Model
Sequenced (5) Model Shared (6) Model Webbed (7) Model
Threaded (8) Model Integrated (9) Model Immersed dan (10)
Model Networked.

14

1. Model Connected (keterhubungan)


Model Connected ini didasari oleh anggapan bahwa
butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk
mata pelajaran tertentu. Butir-butir pembelajaran seperti
kosakata, struktur membaca, dan mengarang misalnya,
dapat dipayungkan pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Penguasaan butir-butir pembelajaran tersebut
merupakan

keutuhan

bernahasa

dan

dalam

bersastra.

membentuk
Hanya

saja,

kemampuan
kemampuan

pembentukan pemahaman, keterampilan, dan pengalaman


secara utuh tersebut tidak berlangsung secara otomatis,
oleh karenanya guru harus menata butir-butir pembelajaran
dan proses pembelajarannya secara terpadu.

14 Fogarty, Robin. 1991. The mindfull schools: How to integrate thecurricula.


Palatine illionis: IRI / Skylight Publising. Inc.

Ilustrasi model Connected


2. Model Jaring laba-laba. (Webbed)
Ini adalah model yang bisa dikatakan paling populer.
Model ini bertolak dari pendekatan tematis sebagai pemadu
bahan dan kegiatan pembelajaran. Dalam hubungan ini
tema dapat mengikat kegiatan pembelajaran baik dalam
mata pelajaran tertentu maupun lintas mata pelajaran.

lustrasi
Model
Laba-laba

Jaring

3. Model Keterpaduan (Integrated)


Model integrated merupakan pemaduan sejumlah
topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya
sama dalam sebuah topik tertentu. Topik evidesi yang
semula terdapat dalam mata pelajaran Matematika, Bahasa
Indonesia, Pengetahuan Alam, dan Pengetahuan Sosial,
agar tidak memuat kurikulum yang berlebihan, cukup

diletakkan

dalam

mata

pelajaran

tertentu,

misalnya

pengetahuan alam. Contoh yang lain dalam teks membaca


yang ini merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa
Indonesia, dapat dimasukkan butir pembelajaran yang
dapat

dihubungkan

dengan

Matematika,

Pengetahuan

Alam, dan sebagainya. Dalam hal ini diperlukan penataan


area isi bacaan yang lengkap sehingga dapat dimanfaatkan
untuk menyampaikan berbagai butir pembelajaran dari
berbagai mata pelajaran yang berbeda tersebut.

Ilustrasi Model Keterpaduan