Anda di halaman 1dari 23

Laporan Kasus

REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA HEMIPARESIS


DEKSTRA ET CAUSA POST STROKE HEMORAGIK
Oleh :
Gretty Carolita Runtukahu
15014101098
Masa KKM : 27Juni 2016 02 Juli 2016
Supervisor Pembimbing :
DR. dr. Theresia Isye Mogi, SpKFR, SH
Residen Pembimbing :
dr. Fendrik Akay

ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan Judul Rehabilitasi Medik Pada Penderita Hemiparesis


Dextra Et Causa Post Stroke Hemoragik telah dibacakan, dikoreksi,dan
disetujui pada tanggal

Juni 2016

Mengetahui,
Supervisor Pembimbing

DR. dr. Theresia Isye Mogi, SpKFR, SH


Residen Pembimbing

dr. Fendrik Akay

BAB I
PENDAHULUAN
Stroke menurut World Health Organisation (WHO) didefinisikan sebagai
tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal
maupun global dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih
ataupun menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskuler.1
Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa stroke hemoragik merupakan
8-13% dari semua stroke di Amerika Serikat, 20-30% stroke di Jepang dan Cina,
sedangkan di Asia Tenggara menunjukkan stroke perdarahan 26% terdiri dari
lobus 10%, ganglionik 9%, serebellar 1% dan perdarahan subaraknoid 4%.2
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan
setelah jantung dan kanker. Menurut survei tahun 2004, stroke merupakan
pembunuh nomor satu di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.
Diperkirakan sebanyak 500.000 penduduk yang terkena stroke, sepertiganya dapat
pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai
sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang
mengharuskan penderita terus-menerus berbaring. Kemungkinan meninggal
akibat stroke adalah 30% sampai 35%, kemungkinan kecacatan mayor pada yang
selamat adalah 35% sampai 40%. Sekitar sepertiga dari semua pasien yang
selamat dari stroke akan mengalami stroke berikutnya dalam 5 tahun, 5% sampai
14% dari mereka akan mengalami stroke ulangan dalam tahun pertama.3
Di Sulawesi Utara jumlah penderita stroke pada periode tahun 1999
2001 adalah 2780 dari 138.112 total penderita rawat inap.4 Penghentian total
aliran darah ke otak menyebabkan hilangnya kesadaran dalam waktu 1520 detik dan kerusakan otak yang irreversible terjadi setelah tujuh hingga
sepuluh

menit. Penyumbatan pada satu arteri menyebabkan gangguan di area

otak yang terbatas (stroke). Mekanisme dasar kerusakan ini adalah selalu
defisiensi energi

yang

disebabkan

oleh

iskemia.

Perdarahan

juga

menyebabkan iskemia dengan menekan pembuluh darah di sekitarnya.


Kematian sel menyebabkan inflamasi, yang juga merusak sel di tepi area iskemik

(penumbra). Gejala ditentukan oleh tempat perfusi yang terganggu, yaitu daerah
yang disuplai oleh pembuluh darah tersebut.5
Serangan stroke yang tiba-tiba ini, bisa disebabkan penyumbatan ataupun
pecahnya pembuluh darah pada otak. Gangguan inilah yang menyebabkan fungsi
koordinasi dari otak ke tubuh menjadi hilang dan menimbulkan gangguan.
Namun, manifestasi stroke dapat bervariasi pada masing-masing orang,
tergantung daerah otak mana yang terganggu. Jika terjadi pada otak bagian depan,
maka dapat menyebabkan gangguan pada kemampuan berpikir, kebijakan,
penalaran dan bahasa. Jika terjadi pada area temporal, dapat menyebabkan
gangguan pada kemampuan berbicara. Gangguan pada otak bagian tengah dapat
menyebabkan manifestasi gangguan sensorik dan gerak. Gangguan pada otak
bagian belakang dapat mempengaruhi kemampuan penglihatan dan pendengaran.
Jika terkena pada bagian otak kecil, menyebabkan gangguan keseimbangan.6
Menurut WHO, rehabilitasi medik adalah ilmu pengetahuan kedokteran
yang mempelajari masalah atau semua tindakan yang ditujukan untuk
mengurangi atau menghilangkan dampak keadaan sakit / nyeri / cacat dan / atau
halangan serta meningkatkan kemampuan pasien mencapai interaksi sosial.
Tujuan rehabilitasi medik yaitu mengurangi atau menghilangkan keadaan sakit /
nyeri / cacat semaksimal mungkin dan melatih pasien dengan gejala - gejala yang
ada maupun yang tersisa agar dapat pulih / mendekati seperti keadaan semula,
sehingga pasien tersebut dapat bekerja kembali sesuai dengan kemampuan yang
ada. Rehabilitasi medik harus dan selalu bekerja dalam 1 tim, diantaranya: dokter
rehabilitasi medik, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, ortotis prostetis,
psikolog, pekerja sosial medis.7
Secara garis besar tahapan Rehabilitasi Stroke adalah : Bedside Exercise,
Sitting Exercise, Standing Exercise dan Ambulation Exercise. Apabila penderita
sudah mampu duduk lama, maka latihan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS)
dapat dimulai, biasanya diberikan oleh terapis Okupasi. Terdapat 2 pola besar
dalam rehabilitasi stroke, yaitu:8 Pola tradisional, pola rehabilitasi kompensasi
atau pola pendekatan unilateral. Pola pendekatan neurodevelopmental atau pola
pendekatan bilateral adalah upaya ditujukan untuk melatih kembali sisi yang sakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Stroke termasuk penyakit cerebrovaskuler (pembuluh darah

otak)

yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark cerebral) yang


terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak.9
Menurut kriteria WHO (1995), stroke

secara

klinis

didefinisikan

sebagai gangguan fungsional otak yang terjadi mendadak dengan tanda dan
gejala klinis baik fokal maupun global, berlangsung lebih dari 24 jam atau
dapat menimbulkan kematian, disebabkan oleh gangguan peredaran darah
otak non traumatik.10,11,12
B. Epidemiologi
Setiap tahun stroke membunuh lebih dari 160.000 orang. Menurut laporan
WHO, di dunia stroke merupakan pembunuh nomor 3 setelah penyakit
jantung dan kanker. Kasus stroke di Indonesia, menurut data yang dirilis
Yayasan Stroke Indonesia menunjukkan kecenderungan terus meningkat dari
tahun ke tahun. Stroke menyerang 35,8% penderita usia lanjut dan 12,9 %
pada usia yang lebih muda. Jumlah total penderita stroke di Indonesia
diperkirakan 500.000 setiap tahun, sekitar 2,5% atau 250.000 orang meninggal
dunia dan sisanya cacat ringan maupun berat.12
C. Klasifikasi
Banyak

klasifikasi

penggolongan penyakit

yang
pembuluh

telah

dibuat

darah

otak.

untuk
Menurut

memudahkan
modifikasi

Marshall, stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 6

Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya :


1. Stroke Iskemik

: Trombosis serebri dan Emboli serebri.

2. Stroke Hemoragik : Perdarahan intra serebral dan Perdarahan


subarakhnoid.

Berdasarkan stadium atau pertimbangan waktu :

1. Transient Ischemic Attack (TIA)


2. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
3. Stroke in evolution atau progressing stroke
4. Completed stroke

Berdasarkan sistem pembuluh darah : Sistem karotis dan Sistem vertebrobasilar.

Berdasarkan sindroma klinis yang berhubungan dengan lokasi lesi otak,


Bamford dkk mengemukakan klasifikasi stroke menjadi 4 subtipe:
1. Total Anterior Circulation Infarct (TACI)
2. Partial Anterior Circulation Infarct (PACI)
3. Posterior Circulation Infarct (POCI)
4. Lacunar infarct (LACI)

D. Faktor Resiko
Faktor risiko adalah keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya
stroke. Faktor tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :6
1. Faktor biologik yang tidak dapat dimodifikasi :

Umur

Jenis Kelamin

Ras

Herediter

2. Faktor fisiologik yang dapat dimodifikasi :

Hipertensi

Diabetes

Lipid

Penyakit Jantung

Stenosis karotis

TIA

Homosisteinemia

Ateroma Aorta

3. Faktor gaya hidup dan pola perilaku :


6

Merokok

Obesitas

Aktivitas Fisik

Diet

Alkohol

Kontrasepsi oral

E. Manifestasi Klinis
Serangan stroke yang tiba-tiba dapat disebabkan penyumbatan ataupun
pecahnya pembuluh darah pada otak. Gangguan inilah yang menyebabkan
fungsi koordinasi dari otak ke tubuh menjadi hilang dan menimbulkan
gangguan. Namun, manifestasi stroke dapat bervariasi pada masing-masing
orang, tergantung daerah otak mana yang terganggu.6
Stroke bisa

menyebabkan

lumpuh

sebagian

tubuh,

kehilangan

keseimbangan, kehilangan penglihatan, kehilangan pendengaran, tidak mampu


memahami kata-kata hingga kesulitan bicara. Hal ini tergantung sisi
otak yang mengalami gangguan pembuluh darah, apakah sisi otak depan,
temporal, samping tengah, belakang atau otak kecil.6
Jika terjadi pada otak bagian depan, maka dapat menyebabkan gangguan
pada kemampuan berpikir, kebijakan, penalaran dan bahasa. Jika terjadi pada
area temporal, dapat menyebabkan gangguan pada kemampuan berbicara.
Gangguan pada otak bagian tengah dapat menyebabkan manifestasi gangguan
sensorik

dan

gerak.

Gangguan

pada

otak

bagian

belakang

dapat

mempengaruhi kemampuan penglihatan dan pendengaran. Jika terkena


pada bagian otak kecil, menyebabkan gangguan keseimbangan. 6
F. Diagnosis
Diagnosis stroke mancakup diagnosis klinis (sesuai perjalan penyakit atau
kawasan pembuluh darah), topis (kortikal, subkortikal atau batang otak) dan
etiologis (infark atau perdarahan). Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan neurologis serta pemeriksaan penunjang.13

Pada

pemeriksaan

fisik/neurologis

penting

mengetahui

keadaan

kardiovaskuler, fungsi vital, perkembangan kesadaran sejak kejadian dan


kelainan neurologis yang terjadi. Pemeriksaan penunjang juga diperlukan
untuk menentukan stroke atau bukan, serta membedakan stroke karena
perdarahan

intraserebral/subarachnoid,

trombosis,

emboli

dan

untuk

mengungkapkan adanya faktor resiko.13


G. Rehabilitasi Medik
Tujuan rehabilitasi medik adalah tercapainya sasaran fungsional
yang realistik dan untuk menyusun suatu program rehabilitasi yang sesuai
dengan sasaran tersebut. Menurut definisi WHO, bahwa yang ditanggulangi
rehabilitasi medik adalah problem fisik dan psikis dan yang berperan adalah
program fisioterapi dan terapi okupasi. Keduanya mempunyai kesamaan
dalam sasaran, dengan sedikit perbedaan bahwa terapi okupasi juga melatih
aktivitas kehidupan sehari-hari dan

melakukan prevokasional untuk

mengarahkan pasien pada latihan kerja bila terpaksa alih pekerjaan.14


H. Problem Rehabilitasi Medik
Masalah masalah dalam rehabilitasi medik adalah sebagai berikut:14
1. Problem Rehabilitasi :
Kesukaran/tidak dapat ambulasi.
Kesukaran/tidak dapat berkomunikasi.
Kesukaran/tidak dapat merawat diri sendiri.
Kesukaran/tidak dapat melakukan gerak.
2. Problem Psikis :
Rasa kurang percaya diri.
Rasa rendah diri.
Tidak dapat menerima kenyataan.
Tidak mau menyesuaikan diri dengan kecacatannya.
Beberapa mengalami penurunan intelegensia.
I. Penanganan Rehabilitasi Medik
Menurut definisi WHO, bahwa yang ditanggulangi rehabilitasi medik
ialah problem fisik dan psikis dan yang berperan utama ialah fisioterapi dan
terapi okupasi. Keduanya memiliki kesamaan dalam sasaran dan sedikit
perbedaan, bahwa terapi okupasi juga melatih aktivitas kehidupan sehari
hari dan melakukan prevocational untuk mengarahkan pasien pada latihan
kerja bila terpaksa alih pekerjaan. Sasaran umum kedua terapis adalah :
melatih

otot,

mengurangi

kekakuan

sendi, memperbaiki koordinasi

dengan tujuan agar pasien dapat melakukan aktivitasnya kembali, baik untuk
ambulasi, merawat diri sendiri maupun bekerja.8
Secara garis besar tahapan Rehabilitasi Stroke Program adalah : Bedside
Exercise, Sitting Exercise, Standing Exercise dan Ambulation Exercise.
Apabila penderita sudah mampu duduk lama, maka latihan AKS dapat
dimulai, biasanya diberikan oleh terapis Okupasi.8
Terdapat 2 pola besar dalam rehabilitasi stroke, yaitu :
Pola tradisional, pola rehabilitasi kompensasi atau pola pendekatan
unilateral. Pola ini, sisi yang sehat dilatih untuk kompensasi sisi yang

sakit.
Pola pendekatan neurodevelopmental atau pola pendekatan bilateral,
dimana segala upaya ditujukan untuk melatih kembali sisi yang sakit.
Pola ini telah menggeser pola tradisional di dalam program
rehabilitasi stroke modern.

J. Prognosis
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis:8
1. Saat mulainya rehabilitasi medik, program dimulai kurang dari 24 jam
maka pengembalian fungsi lebih cepat. Bila dimulai kurang dari 14 jam
maka kemampuan memelihara diri akan kembali lebih dahulu.
2. Saat dimulainya pemulihan klinis, prognosis akan lebih buruk bila
ditemukan adanya : 1-4 minggu gerak aktif masih nol (negatif); 4-6
minggu fungsi tangan belum kembali dan adanya hipotonia dan arefleksia
yang menetap.

BAB III
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn. JR

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 52tahun

Alamat

: Kawangkoan Jaga 3

Pekerjaan

: Buruh Bangunan

Agama

: KristenAdvent

Suku

: Minahasa

Tanggal Periksa

: 27 Juni 2016

II. ANAMNESIS
1. Keluhan utama: Kelemahan pada tangan dan kaki kanan.
2. Riwayat Penyakit Sekarang:
Kelemahan pada tangan dan kaki kanan dirasakan oleh penderita
sejak 1 hari SMRS. Awalnya penderita dibawa keluarga ke RS Advent
Manado, kemudian dirujuk ke RSU Prof. Kandou Malalayang. Kelemahan
terjadi secara tiba-tiba dipagi hari saat penderita hendak akan bangun tidur.
Penderita juga mengalami bicara pelo dan sakit kepala beberapa saat
setelah kelemahan tubuh. Namun, saat ini penderita tidak berbicara pelo
dan sakit kepala yang dirasakan minimal. Penderita muntah sebanyak dua
kali saat dirawat di rumah sakit, namun saat ini sudah tidak lagi. Tidak
ditemukan riwayat penurunan kesadaran, demam, kejang maupun riwayat
trauma. Penderita dapat minum dan makan tanpa tersedak baik sebelum
maupun sesudah terjadi kelemahan tubuh. BAB/BAK biasa.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
:
a. Hipertensi sejak 2 tahun, konsumsi obat Amlodipin, tidak teratur
meminum obat.
b. Tidak ada riwayat: Asam urat, DM, stroke, kolesterol, penyakit jantung,
ginjal dan hepar.
4. Riwayat Keluarga :
Hanya penderita yang sakit seperti ini.
5. Riwayat Kebiasaan dan Aktifitas :
Penderita tidak merokok dan minum alkohol. Aktifitas sehari-hari
sebagai buruh bangunan dan sering mengangkat berat.
6. Riwayat Sosial Ekonomi :
Penderita tinggal dengan isteri dan satu orang anak. Rumah
permanen 1 lantai dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi.
Pekerjaan sebagai buruh bangunan. Pengobatan penderita di RSU Prof.
Kandou Malalayang adalah umum.

10

7. Riwayat Psikologis

Pasien merasa terganggu dengan penyakit yang dideritanya dan


merasa kurang percaya diri dalam bersosialisasi.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis (GCS : E4M6V5 = 15)

Tekanan darah

: 190/100 mmHg

Nadi

: 72x/menit

Respirasi

: 20x/menit

Suhu

: 36,7 C

Beratbadan

: 65 kg

Tinggibadan

: 166 cm

Indeks massa tubuh

:23,59 kg/m2 (normal) BB


(TB m)

Kepala

: Normocephal, sulcus nasolabialis dekstra mendatar

Mata

: Konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik.


Pupil bulat isokor 3mm/3mm, refleks cahaya
kiri dan kanan ada, refleks cahaya tidak langsung
kiri dan kanan ada.

Hidung dan Telinga

: Sekret (-)

Mulut

: caries (-), lidah beslag (-), tonsil (T1-T1).

Leher

: Trakea letak tengah, pembesaran kelenjar getah


bening tidak ada.

Thoraks

: Simetris kiri = kanan


Cor dan Pulmo: dalam batas normal.

Abdomen

: Datar, lemas, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak


teraba, bising usus (+) normal.

Ekstremitas

: Akral hangat

2. Pemeriksaan Antropometri
Pemeriksaan Antropometri

Dextra

Sinistra
11

Lingkar Lengan Atas

25 cm

25 cm

Lingkar Lengan Bawah

20 cm

20 cm

Lingkar Paha

38 cm

38 cm

Lingkar Betis

31 cm

31 cm

3. Pemeriksaan Tanda Rangsang Meningeal


Kaku kuduk (-), Laseg 700/700, Kernig 1350/1350.
4. Pemeriksaan Status Neurologi
a. Pemeriksaan nervus kranialis :
Nervus
I

II

Teknik Pemeriksaan

Hasil

Mengidentifikasikan bahan yang dihidu (kopi,

Normal

tembakau,teh)
Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity),
penglihatan perifer (visual field), refleks pupil,

VIII

pemeriksaan fundus okuli serta tes buta warna


Ptosis, Gerakan bola mata dan Pupil
Pergerakan bola mata ke bawah dalam, gerak mata
ke lateral bawah, strabismus konvergen, diplopia
Cabang ophtalmicus : Memeriksa refleks berkedip
klien dengan menyentuhkan kapas halus saat klien
melihat ke atas.
Cabang maxilaris : Memeriksa kepekaan sensasi
wajah, lidah dan gigi.
Cabang Mandibularis : Memeriksa pergerakan
rahang dan gigi.
Pergerakan bola mata ke lateral
Pemeriksaan fungsi motorik : mengerutkan dahi,
mimik, mengangkat alis, menutup mata,
moncongkan bibir / nyengir, memperlihatkan gigi,
bersiul (mulut mencong kiri)
Pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan fungsi

IX
X
XI

vestibuler
Inspeksi palatum untuk melihat pergeseran uvula
Tes refleks muntah
Pasien angkat bahu, pemeriksa tekan bahu ke

III
IV
V

VI
VII

Normal
Normal
Normal

Normal

Normal
Parese

Normal
Normal
Normal

bawah dan raba massa otot trapezius.


Putar kepala pasien melawan tahanan tangan
pemeriksa,

raba

massa

otot

Normal

sternokleido

mastoideus.

12

XII

Inspeksi lidah untuk melihat atrofi atau fasikulasi


atau deviasi

Normal

b. Status motorik :
Ekstremitas superior

Ekstremitas inferior

Dekstra
Menurun

Sinistra
Aktif

Dekstra
Menurun

Sinistra
Aktif

4/4/4/4

5/5/5/5

4/4/4/4

5/5/5/5

Menurun

Eutoni

Menurun

Eutoni

Refleks Fisiologis

(+) N

(+) N

(+) N

(+) N

Refleks Patologis

Gerakan
Kekuatan otot
Tonus otot

Kesan : Hemiparesis Dextra


c. Status sensorik : Normoestesi
d. Status otonom : Inkontinesia uri et alvi (-)
5. Indeks Barthel
Aktivitas

Tingkat Kemandirian

Nilai

Makan

Mandiri (independent)
Memerlukan bantuan dalam memotong, mengoles
mentega, dll atau memerlukan modifikasi diet
Tidak dapat makan sendiri

10
5
0

10

Mandi

Mandiri (or in shower)


Perlu bantuan (dependent)

5
0

Mengurus
Diri
(Grooming)

Mandiri dalam perawatan wajah/tubuh/rambut/gigi

Perlu bantuan dalam perawatan diri

Berpakaian

Mandiri (termasuk memasang kancing, menutup


resleting, mengikat sepatu, dll)
Perlu bantuan, tapi dapat mengerjakan sebagian
tanpa dibantu
Perlu bantuan dalam berpakaian

10

Dapat menahan BAB (continent)


Kadang-kadang tidak dapat menahan BAB
Inkontinensia (atau perlu pemberian enema)

10
5
0

Pencernaan

5
0
10

13

Aktivitas

Nilai

10
5
0

10

10
5
0

10

Mandiri
Sedikit dibantu (verbal atau fisik)
Sebagian besar dibantu (1 atau 2 orang, fisik), dapat
duduk
Tidak dapat berpindah, tidak seimbang saat duduk

15
10
5

10

Naik turun
tangga

Independent
Perlu bantuan (verbal, fisik, membawa peralatan)
Tidak dapat naik/turun tangga

10
5
0

Mobilitas

Mandiri (tetapi dapat menggunakan alat apapun


misalnya tongkat) > 50 yards
Berjalan dengan bantuan satu orang (verbal/fisik),
> 50 yards
Dapat menggunakan kursi roda sendiri,
Immobile atau > 50 yards

15

15

Total

100

Kandung
Kemih

Tingkat Kemandirian
Dapat menahan BAK (continent)
Kadang-kadang tidak dapat menahan BAK
Inkontinensia atau dengan kateter dan tidak dapat
mengatur sendiri

Penggunaan Mandiri (on and off, dressing, wiping)


Toilet
Perlu bantuan, namun dapat melakukan sendiri
Tidak mandiri
Berpindah
Tempat

10
5
0
85

Nilai Interpretasi:
0-20

:Ketergantungan total

80-90 : Ketergantungan ringan

25-45

:Ketergantungan berat

100

50-75

:Ketergantungan sedang

: Mandiri

6. Pemeriksaan MMSE(Pemeriksaan Status Mini Mental State)


Aspek

Pemeriksaan

Kognitif

Sekarang ini (tahun, musim, bulan, tanggal, hari) apa ?


Kita dimana ? (negara, propinsi, kota, rumah)

5
5

5
5

Sebutkan 3 objek. Tiap 1 objek 1 detik, pasien disuruh


mengulang nama objek tadi. Nilai satu untuk tiap nama
objek yang benar.

Registrasi

Normal = Nilai

14

Perhatian
dan
kalkulasi

Pengurangan 100 dengan 7 terus menerus. Nilai 1


untuk tiap jawaban yang benar, hentikan setelah 5
jawaban. Atau eja terbalik kata WAHYU. Nilai
diberikan pada huruf yang benar sebelum kesalahan,
mis. UYAHW (nilai 2), bila dieja secara terbalik
benar semua UYHAW nlai (5)

Pasien disuruh menyebut lagi 3 objek diatas

pasien disuruh menyebut pensil, arloji


Pasien disuruh untuk mengulang; tanpa bila dan atau
tetapi
Pasien mengikuti perintah ambil kertas itu dengan
tangan kanan Anda, lipatlah menjadi dua, letakkan di
lantai
Pasien disuruh membaca dan mengikuti perintah
PEJAMKAN MATA ANDA
Pasien disuruh menulis secara spontan dibawah ini
Pasien disuruh menggambar bentuk dibawah ini

30

30

Mengenal
kembali
Bahasa

Total
Penilaian :
<24 dianggap terdapat gangguan kognitif
>24 dianggap tidak terdapat gangguan kognitif
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium :
Nilai Rujukan

HEMATOLOGI
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
MCH
MCHC
MCV
KIMIA KLINIK
GDS
SGOT
SGPT
Ureum darah
Creatinin darah
Urid Acid Darah
Cholesterol

Satuan

4000-10000
4.70-6.10
11.5-16.5
37.0-47.0
150-450
27.0-35.0
30.0-40.0
80.0-100.0

/uL
10^6/uL
g/dL
%
10^3/uL
pg
g/dL
fL

70-125
< 33
< 43
10-40
0.5-1.5
2.0-6.5
133-200

mg/dL
U/L
U/L
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL

22/06/2016

24/06/2016

Hasil

Graph

Hasil

Graph

16.200
5.71
17.0
47.5
299
29.8
35.8
83.2

N
N
N
N
N
N
N

8.500
5.47
16.8
46.2
306
30.7
36.4
84.5

N
N

N
N
N
N
N

96

20
1.0

76
21
18
26
1.1
5.5
192

N
N
N
N
N
N
N

15

HDL Cholesterol
LDL Cholesterol
Trigliserida
Chlorida darah
Kalium darah
Natrium darah
CKT
26-120

40
60-13
30-190
98.0-109.0
3.50-5.30
135-153
U/L

CKMB

0-24

mg/dL
mg/dL
mg/dL
mEq/L
mEq/L
mEq/L
95
U/L

N
N

97.6
3.53
137

443
131
92
97.2
3.64
135

N
N

N
22

2. Foto Thorax : (23/06/2016)

3. EKG : (22/06/2016) Kesan : OMI (Old Miocard Infark) Inferior


4. Brain CT-Scan tanpa kontras :

16

Kesan : Lesi Hiperdens Intraventrikuler Sinistra


V. SIRIRAJ SKOR
Skor Stroke Siriraj
Rumus:
(2,5 x derajat kesadaran) + (2 x nyeri kepala) + (2 x muntah) + (0,1 x tekanan
diastolik) (3 x penanda ateroma) 12
Keterangan:
Derajat kesadaran
0 = kompos mentis; 1 = somnolen;
2 = sopor/koma
Muntah
0 = tidak ada; 1 = ada
Nyeri kepala
0 = tidak ada; 1 = ada
Ateroma
0 = tidak ada; 1 = salah satu atau lebih (diabetes; angina;
penyakit pembuluh darah)
Hasil:
Skor > 1
Stroke Hemoragik
Skor <-1
Stroke Iskemik
Skor pasien:
(2,5 x 0) + (2 x 1) + (2 x 1) + (0,1 x 100) - (3 x 1) 12 = -1Kemungkinan
(Stroke Iskemik/Stroke Hemoragik)
VI.

DIAGNOSIS

17

1.
2.
3.
4.

Diagnosis klinis
:Hemiparesis Dextra + Paresis N.VII Sentral Dextra
Diagnosisetiologi
:Stroke Hemoragik
Diagnosis topis
:Intraventrikuler Sinistra
Diagnosis fungsional :
- Body function
: Muscle Power Function + Muscle Tone Function.
- Body structure
:Lesi di otak kiri, Upper and Lower Right Extremity.
- Activity
: Gangguan AKS saat berjalan lama, berdiri lama,
dan mengangkat berat.
: Gangguan dalam melakukan pekerjaan.
: Laki-laki, 52 tahun, hipertensi, merasa khawatir

Participation
Personal

dengan penyakitnya mengganggu pekerjaan.


Environmental factors : Rumah resmi permanen 1 lantai dan tidak
terdapat tangga di rumah. Penderita mendapat dukungan dari keluarga
dekat, dalam hal ini isteri dan anak.

VII.

PROBLEM REHABILITASI MEDIK


1. Kelemahan anggota gerak kanan.
2. Gangguan AKS (dalam hal mengangkat benda berat, berjalan dan berdiri
lama).
3. Gangguan dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai buruh bangunan.
4. Penderita ingin segera pulang dan beristirahat di rumah.
5. Penderita merasa tidak percaya diri dalam bersosialisasi.

VIII. RESUME
Laki-laki, 52 tahun datang dengan keluhan kelemahan pada tangan dan
kaki kanan 1 hari SMRS. Bicara pelo (+), sakit kepala (+), Muntah 2x (+).
Namun saat ini sudah tidak dialami pasien. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan TD 190/110 mmHg, Nadi 72x/menit, Respirasi 20x/menit, Suhu
badan 36,7 C. Pada pemeriksaan nervus kranialis didapatkan kesan paresis
N.VII sentral dextra. Pada pemeriksaan motorik, kekuatan otot extremitas
superior et inferior dextra 4/4/4/4 dan tonus otot menurun pada extremitas
superior et inferior dextra. Indeks Barthel : 85 (Ketergantungan Ringan).
Pemeriksaan MMSE : 30 (dianggap tidak terdapat gangguan kognitif). Pada
pemeriksaan

penunjang

menunjukkan

kelainan

pada

pemeriksaan

laboratorium kimia darah (22Juni 2016), yaitu Leukosit 16.200/uL dan


Chlorida darah 97.6 mg/dL dan (24 Juni 2016), yaitu Hb 16.8 g/dL, LDL

18

Cholesterol 131 mg/dL dan Chlorida darah 97.2 mg/dL. Pemeriksaan EKG
kesan OMI Inferior. Gambaran radiologis CT- kepala dengan kesan lesi
hiperdens regio intraventrikuler sinistra.
IX.

PENATALAKSANAAN
1. Fisioterapi
a. Evaluasi:
Kelemahan anggota gerak kanan (kekuatan otot extremitas superior
et inferior dextra 4/4/4/4).
b. Program:
Infrared anggota gerak kanan superior dan inferior.
Latihan LGS keempat anggota gerak.
Latihan penguatan otot anggota gerak kanan superior dan inferior.
Breathing exercise.
Proper bed positioning.
Alih baring tiap 2 jam.
2. Okupasi terapi
a. Evaluasi:
Kelemahan anggota gerak kanan (kekuatan otot extremitas superior
et inferior dextra 4/4/4/4).
Gangguan AKS (berjalan dan berdiri lama)
b. Program:
Latihan penguatan otot anggota gerak kanan superior dan inferior

dengan aktivitas dan keterampilan.


Latihan peningkatan aktifitas sehari-hari dengan aktifitas dan
keterampilan.

3. Ortotik Prostetik
a. Evaluasi: Kelemahan anggota gerak kanan (kekuatan otot extremitas
superior et inferior dextra 4/4/4/4).
b. Program: Saat ini belum diperlukan.
4. Terapi bicara :
a. Evaluasi :
Kontak, pengertian dan komunikasi baik.
Bicara pelo (-)
b. Program : Saat ini tidak diperlukan.
5. Psikolog
a. Evaluasi: penderita merasa cemas dengan sakitnya dan merasa tidak
percaya diri untuk bersosialisasi.
19

b. Program: memberi dukungan kepada penderita agar rajin berlatih di


rumah dan kontrol secara teratur, serta memberi dukungan mental
kepada penderita agar tidak cemas dengan penyakit yang dideritanya.
6. Sosial medik
a. Evaluasi: Biaya pengobatan ditanggung secara umum.
b. Program: Menganjurkan dan mendorong agar penderita mengurus
BPJS, membantu penderita dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapi sehubungan dengan penyakit terutama dalam hal pekerjaan
dan memberikan dukungan agar penderita rajin melakukan terapi dan
home program.
X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad functionam : Dubia ad Bonam


Qua ad sanationam : Dubia ad Bonam

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
20

1. Mardjonjo M, Sidharta P. Neuro klinis dasar. Edisi VI. Jakarta : Dian


Rakyat,1995 ; 269302.
2. Misbach J. Stroke Aspek Diagnostik, Patofisiologi, Manajemen. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI, 1999. Hal : 2-3; 55; 59-60.
3. Price,

Anderson

S,

et

all.

Patofisiologi :

Konsep

Klinis

Proses -

Proses Penyakit. Ed. Jakarta : EGC, 1995. Hal 1119-1122.


4. Siwi RC. Epidemiologi Stroke. Dalam : Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah
Regional II. Perdossi. Manado, 2002.
5. Silbernagl S., Florian Lang. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. EGC
: Jakarta, 2007.
6. PERDOSRI. Klasifikasi Stroke. Dalam Konsensus Nasional Rehabilitasi
Stroke. Jakarta. PERDOSRI 2004.
7. Webmaster

RSMK

Group.

Rehabilitasi

Medik.

RS

Mitra

Keluarga

Cikarang. Diunduh dari: http://www.mitrakeluarga.com/cikarang/?p=75tanggal


27 Juni 2016.
8. Siwi RC. Epidemiologi stroke. Dalam Stroke Up date. Manado : SMF FK
UNSRAT 2001.
9. Karema W. Klasifikasi dan Diagnosis Stroke. Dalam : Stroke Up date.
Manado : SMF FK UNSRAT 2001.
10. Lumbantobing, SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental.
Jakarta : FKUI. 2008
11. Martono

H,

Kusmawardani

RA.

Stroke

Dan

Penatalaksanaannya

Oleh Internis. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV 2006
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran UI.
12.Tim Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Undip. Penatalaksanaan Stroke.
Dalam : Materi Lokakarya Stroke. Semarang : Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Saraf FK Undip. 1996.
13. Sidharta P. Tata Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi. Jakarta : Dian
Rakyat. 2008
14. Sinaki M, Dorsher PT. Rehabilitation After Stroke. In : Basic Clinical

21

Rehabilitation Medicine. Philadelpia. Mosby, 1993 ; p.87-88

LAMPIRAN

22

Lampiran 1 : Foto pemeriksaan pada penderita

Lampiran 2 : Foto bersama penderita dan keluarga

23