Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak isu kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan
siklus hidup wanita

diantaranya tentang Human Immunodeficiency Virus/

Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) pada ibu rumah tangga dan
Kekerasan dalam Pacaran (KDP). Isu-isu tersebut menjadi trend yang
berdampak buruk pada wanita baik dari segi fisik, seksual, psikologi, ekonomi,
sosial, dan lai-lain. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan ibu rumah
tangga menempati urutan terbesar Orang dengan HIV-AIDS (ODHA), menurut
kelompok mata pencahariannya yaitu, sebanyak 9.096. Sementara urutan kedua
yaitu karyawan 8.287, sementara yang tidak diketahui profesinya mencapai
21.434 orang. Angka itu terungkap dalam laporan data kumulatif HIV-AIDS
sepanjang tahun 1987 sampai dengan September 2015. Jumlah ibu rumah
tangga yang terinfeksi virus HIV/AIDS lebih banyak jika dibandingkan dengan
jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang terjangkit virus HIV/AIDS. Hal ini
menunjukan bahwa penularan AIDS di Indonesia mulai bergeser dari kelompok
rentan ke kelompok risiko rendah, seperti ibu rumah tangga. (Kemenkes, 2014)
Kekerasan dalam pacaran (KDP) atau istilah lainnya Dating Violence
didefinisikan

sebagai

segala

bentuk

tindakan

yang

mempunyai

unsur

pemaksaan, tekanan, perusakan, dan pelecehan fisik maupun psikologis yang


terjadi dalam hubungan pacaran. Dalam sebuah diskusi mengenai kekerasan
dalam pacaran, 70% remaja putri melaporkan mendapatkan pelecehan sewaktu
pacaran, sedangkan remaja putra mengalami pelecehan dari pacarnya sebesar
27%. Hasil penelitian dari National Crime Victimization Survey di Amerika Serikat
berkesimpulan bahwa perempuan 6 (enam) kali lebih rentan mengalami
kekerasan akibat ulah teman dekat mereka, baik pacar maupun mantan pacar.
Kekerasan dalam berpacaran tergolong dalam suatu bentuk perilaku
menyimpang remaja yang kasusnya biasa terjadi di lingkungan sekitar namun
terkadang tidak disadari baik itu oleh korban atau bahkan oleh pelakunya sendiri.

Sekitar 40-50% dari perempuan yang menjadi korban kekerasan,


terutama kekerasan fisik, terus melanjutkan hubungan pacaran mereka dengan
pasangan yang telah menyiksanya. Hal ini memberi kesan bahwa kekerasan
dalam pacaran cenderung dianggap sebagai hal yang wajar diterima sebagai
risiko berpacaran sekaligus juga menyebabkan korban umumnya tetap bertahan
dalam hubungan pacaran dengan kekerasan, padahal tanpa korban sadari
kekerasan tersebut dapat menjadi sebuah siklus yang berkelanjutan dan dapat
berdampak buruk bagi korban kekerasan sehingga dapat merusak masa
depannya. Apabila perilaku ini diteruskan hingga jenjang pernikahan, dapat
dipastikan perilaku kekerasan yang dialami ketika pacaran akan terus terulang
setelah menikah (kekerasan dalam rumah tangga) dan dapat mengakibatkan
trauma berkepanjangan.
Dalam

bidang

kebidanan

khususnya

bidang

kesehatan

reproduksi,

kekerasan dalam pacaran dan penyakit menular seperti HIV/AIDS merupakan


suatu hal yang harus diketahui oleh bidan. Oleh karena itu, fieldtrip ini ditujukan
untuk mengidentifikasi pelaksanaan program pelayanan yang ada di Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) Victory Plus dan Rifka Annisa, sehingga sebagai
tenaga kesehatan (bidan) dapat mengetahui program pelayanan yang ada.
B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Memahami penerapan teori dan materi-materi yang terkait dengan kesehatan
reproduksi
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif dari infeksi menular seksual dan HIV dan AIDS pada ODHA
dengan latar belakang ibu rumah tangga.
b. Mengidentifikasi pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif pada kasus korban Kekerasan dalam Pacaran (KDP).
C. Manfaat Praktikum
1. Bagi Mahasiswa
a. Memahami penerapan teori dan materi-materi yang terkait dengan
kesehatan reproduksi

b. Memahami

dan

mengidentifikasi

pelaksanaan

program

promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitative dari infeksi menular seksual dan HIV
dan AIDS pada ODHA dengan latar belakang ibu rumah tangga.
c. Memahami dan mengidentifikasi pelaksanaan program promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitative pada kasus korban Kekerasan dalam
Pacaran (KDP).
2. Bagi Institusi Pendidikan
Bagi institusi pendidikan, dapat menjalin kerjasama yang lebih baik
dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terkait dalam pemberian
pembelajaran dilapangan.
3. Bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Bagi LSM dapat menjadi bahan evaluasi untuk digunakan sebagai
acuan dalam memperbaiki pelayanan yang diberikan LSM.

BAB II
ISI
A. Victory Plus
1. Profil
a. Sejarah Pendirian

Pendiri Victory Plus adalah Samuel Rahmat Subekti dan Yan


Michel. Yayasan Victory Plus Yogyakarta adalah salah satu yayasan yang
bergerak dalam pemberikan dukungan langsung kepada orang

yang

terdampak oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired


Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Victory Plus adalah yayasan
penggagas dukungan sebaya dan pemberdayaan Orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) yang berdiri sejak tahun 2004. Victory Plus mengagas
10 kelompok dukungan sebaya (KDS) yang terbagi atas kabupaten
wilayah kota Yogyakarta (Kota, Sleman, Kulonprogo, Bantul, Gunung
Kidul).
Victory Plus sampai saat ini menangani ODHA dengan jumlah
2.468 orang dengan semua latar belakang mulai dari pecandu narkoba,
Laki-laki seks Laki (LSL), Wanita Pekerja Seksual (WPS), Wanita Tuna
Susila (WTSL), Waria, dan lain-lain. Victory Plus terbentuk karena adanya
kebutuhan dan kepedulian dari orang-orang yang membutuhkan sebuah
komunitas yang memberikan dukungan untuk mereka yang hidup dengan
HIV dan AIDS. Melalui komunitas ini diharapkan status ODHA tidak lagi
mereka kehilangan harga diri dan kesejahteraan hidupnya, tapi mereka
dapat memberikan sumbangsih untuk penanggulangan HIV dan AIDS.
Dalam upaya penanggulangan dan pencegahan HIV dan AIDS
Victory Plus bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun
non pemerintah di Yogyakarta khususnya dalam kegiatan-kegiatan
promosi kegiatan, pemberdayaan ODHA dan tes HIV sukarela (voluntary
counselling and testing). Melibatkan beberapa pihak maupun individu
yang berdampak langsung oleh HIV dan AIDS, berbagai kalangan sosial
dan pendidikan profesi yang dengan sukarela secara berkesinambungan
membantu kegiatan-kegiatan yang dijalankan. Saat ini Victory Plus telah
menjadi sekertariat kelompok penggagas untuk terbentuknya kelompok
dukungan sebaya di DIY.
b. Visi
1) Kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang Hidup
dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA) yang lebih baik.

2) Wadah pemberdayaan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang


Hidup dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA) yang bebas dari stigma
dan diskriminasi.
c. Misi
1) Pemberdayaan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang Hidup
dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA).
2) Mendorong keterlibatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang
Hidup dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA) dalam penanggulangan
HIV dan AIDS.
d. Tujuan
1) Percaya diri
Membantu memupuk kepercayaan ODHA karena saat ODHA
mengetahui bahwa dirinya terkena HIV mental ODHA akan drob,
mengembalikan kepercayaan dirinya bahwa ODHA bisa bangkit dan
melewati ujian.
2) Memiliki pengetahuan tentang HIV
Memberikan pengetahuan mengenai HIV dan AIDS kepada ODHA
sehingga ODHA mengetahui apa saja yang dimaksud HIV sehingga
ODHA mampu mengetahui apa saja yang dimaksud HIV

3) Memiliki akses dan menggunakan layanan dukungan, pengobatan


dan perawatan
Memberikan dukungan kepada ODHA yang dapat didukung dengan
adanya bantuan biaya untuk perawatan bagi para ODHA yang
didukung.
4) Tidak menularkan virus pada orang lain
Membantu untuk meminimalkan penularan HIV dan AIDS. Contoh
dengan cara memberikan kondom pada ODHA untuk menggunakan
kondom pada saat berhubungan seks sehingga tidak menularkan
virus pada orang lain dengan prinsip HIV STOP DISINI.
5) Melakukan kegiatan-kegiatan positif
Memberikan kegiatan-kegiatan baik yang bisa dilakukan kepada para
ODHA melalui bantuan dana dari pemerintah yang bisa untuk
mengadakan latihan ketrampilan seperti menjahit, merias, dan

memasak.

Sehingga

para

ODHA

kedepannya

mampu

mengembangkan dengan baik.


e. Sasaran
Victory plus melayani para ODHA (HIV +) dan OHIDA yang bersedia
dibina pihak Victory Plus, tetapi di utamakan klien dengan ODHA.
Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang didukung:
1) Dimas Support untuk ODHA laki-laki.
2) Diadjeng untuk ODHA perempuan.
3) Violet untuk ODHA WARIA.
4) Metacom untuk ODHA rujukan dari Rumah Sakit Bethesda.
5) Menoreh Plus untuk ODHA umum wilayah Kulon Progo.
6) Kendari untuk ODHA umum wilayah Gunung Kidul.
7) Bantul Support untuk ODHA umum wilayah Bantul.
8) Jalinan Kasih untuk ODHA WARIA, anak jalanan, dan orang terlantar.
g. Program Kerja Victory Plus:
1) Dukungan Psikosial dan konseling sebaya di Rumah Sakit (ketika
f.

sakit).
2) Dukungan psikososial di rumah dan konseling sebaya (ketika sehat
3)
4)
5)
6)
7)
8)

atau berobat jalan).


Pendampingan Minum Obat (PMO).
Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).
Menolong akses Jaminan Kesehatan bila diperlukan.
Program usaha ekonomi kreatif.
Dukungan sebaya di Lapas, Rutan, dan Panti.
Pemberdayaan
ekonomi
produktif
(Dinsos,

9)
10)
11)
12)

Dinsosnakertrans).
Pelatihan kerja (Dinsos DIY, Dinsos Bantul).
Dukungan nutrisi tambahan.
Beasiswa ADHA.
Memberikan rujukan-rujukan IMS, PTRM, PMTCT, PABM, CST, KDS,

Kemensos,

TB, dll.
13) Outlet Kondom.
h. Kegiatan di Victory Plus:
1) Pertemuan KDS yang diadakan setiap satu bulan sekali. Kegiatan
berupa sharing ilmu dan pengalaman yang dialami oleh setiap
anggota KDS kepada ODHA.
2) Pertemuan di Rumah Sakit yang memberikan pelayanan untuk
ODHA, seperti di RS Bethesda, RS Sardjito, RS Panti Rapih, RSUD
Wates, RSUD Bantul, RSUD Wonosari, Puskesmas Mantrijeron,
Puskesmas Gedongtengen, dan PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
3) Audienci dengan GKR Hemas.

4) Pelatihan pendidik pengobatan.


5) Bimbingan keterampilan seperti pelatihan sablon, tata boga, menjahit,
merias, dan lain sebagainya.
6) Usaha ekonomi produktif.
7) Jaminan hidup ADHA dan ODHA non potensial yang diberikan
tunjangan sebesar Rp 300.000,00 per bulan bukan dalam bentuk
8)
9)
10)
11)
12)

uang.
Memberikan sembako pada 20 keluarga ODHA.
Malam renungan AIDS yang diadakan setiap bulan Juli.
Peringatan Hari AIDS yang diadakan setiap bulan Desember.
Pertemuan ODHA Provinsi yang diikuti oleh ODHA baru.
Melakukan Talk Show melalui stasiun TV Jogja TV, dan Radio Love

Jogja FM.
13) Mengadakan pasar murah.
14) Sebagai narasumber.
2. Identifikasi

Pelaksanaan

Program

Promotif,

Preventive,

Kuratif,

dan

Rehabilitatif pada Kasus Infeksi Menular Seksual dan HIV dan AIDS pada
ODHA
a. Pelaksanaan Program Preventif
1) Outlet Kondom
Victory Plus menyediakan outlet kondom untuk para ODHA
wanita secara cuma-cuma agar penyebaran virus HIV atau AIDS
dapat dicegah. Seperti penyediaan kotak penuh kondom di daerah
Pasar Kembang Yogyakarta untuk para pekerja seks komersial.
b. Pelaksanaan Program Promotif
1) Melakukan Talk Show melalui stasiun TV Jogja TV, dan Radio Love
Jogja FM.
Victory Plus rutin mengadakan Talk Show di Jogja TV dan
Radio Love Jogja FM yang berisi ajakan kepada orang lain yang tidak
terinfeksi

HIV/AIDS

untuk

menghidari

perilaku

yang

dapat

menyebabkan HIV/AIDS.
2) Peringatan Hari Anak Nasional yang diadakan setiap Juli
Victory Plus mengadakan kampanye peduli ODHA dengan
mengadakan talkshow bersama ADHA dan pameran hasil karya
ODHA.
3) Peringatan Hari AIDS yang diadakan setiap bulan Desember.

Victory Plus mengadakan pentas seni untuk memperingati


Hari AIDS sedunia, hal tersebut juga dilakukan untuk mengajak orang
lain peduli dengan ODHA dan menghindari risiko penyakit HIV/AIDS.
c. Pelaksanaan Program Kuratif
1) Menolong Akses Jaminan Kesehatan bila diperlukan
Victory Plus membantu mengakses dan menggunakan
jaminan disediakan khususnya untuk ODHA dari Wilayah DIY yang
kurang mampu kehidupan sosial dan perekonomiannya. Jaminan
yang diberikan berasal dari Badan Pelayanan Jaminan Kesejahteraan
Sosial (Bapel Jamkesos) yang mana jaminan tersebut di wilayah DIY
hanya dapat digunakan di 9 rumah sakit, meliputi : RSUP Dr.Sardjito,
RS Betesdha, RSUD Bantul, RSUD Wonosari, RS PKU Yogyakarta,
RS Pantirapih, RSUD Wates, RSUD Sleman, dan RSUD Yogyakarta.
2) Pemberian pelayanan untuk ODHA
Victory Plus menerima rujukan dari rumah sakit/puskesmas dan
pasien yang dating langsung ke Victory Plus dengan HIV + untuk
mendapatkan pendampingan.
3) Kelompok Dukungan Sebaya (KDS)
Victory Plus membentuk kelompok dukungan sebaya yang
dibedakan antara wanita, perempuan, waria, lesbian, homo seksual,
dan lai-lain. Agar dapat memberikan kenyamanan dan kepercayaan
pada klien pengidap HIV.
4) Pendampingan minum obat (PMO)
Pendampingan dilakukan oleh pendukung sebaya biasanya
klien diingatkan melalui SMS, telefon, atau megingatkan melalui
keluarga klien yang terkena HIV tersebut.

5) Memberikan rujukan-rujukan IMS, PTRM, PMTCT, PABM, CST, KDS,


TB, dll.
Rujukan diberikan kepada para ODHA wanita agar bisa
mendapatkan fasilitas pengobatan untuk menangani penyakitnya di
tingkat layanan yang lebih tinggi.
d. Pelaksanaan Program Rehabilitatif
1) Program Usaha Ekonomi Kreatif

Program usaha ekonomi kreatif yang ada di victory plus


meliputi pelatihan menjahit, pelatihan tata boga, pelatihan merias, dan
menyablon. Kegiatan dilakukan 1 tahun sekali selama 1 bulan pada
pukul 08.00-17.00WIB. program-program yang ada dimaksudkan
agar ODHA dapat hidup mandiri.
2) Dukungan Nutrisi Tambahan
Pihak Victory Plus memberikan pendampingan kepada Anak
dengan HIV/AIDS (ADHA) untuk menjaga nutrisi yang dikonsumsinya,
dalam bentuk konseling gizi yang diberikan kepada orang tuanya agar
nutrisi anak tetap tercukupi.
3) Dukungan Psikosial dan konseling sebaya di Rumah Sakit (ketika
sakit).
Ketika seorang wanita terdiagnosa HIV positif ia dirujuk dari
rumah sakit ke victory plus, untuk mendapatkan konseling serta
pembinaan secara psikologi dan sosial. Hal tersebut dimaksudkan
agar wanita tersebut dapat melanjutkan hidupnya lagi secara normal.
6) Dukungan Psikososial di rumah dan konseling sebaya (ketika sehat
atau berobat jalan)
Dukungan secara psikologis dan sosial diberikan oleh Victory
plus kepada orang dengan HIV positif yang sehat agar ia patuh untuk
selalu minum obat, tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain,
dan dapat hidup normal di lingkungan masyarakat. Hal tersebut
dipantau setiap bulan, melalui SMS atau tatap muka langsung.
7) Dukungan Sebaya di Lapas, Rutan, dan Panti
Dukungan juga diberikan kepada ODHA wanita yang berada
di lapas rutan atau panti dalam bentuk dukungan psikologi spiritual
dan akses obat.
8) Pemberdayaan Ekonomi Produktif (Dinsos, Kemensos, Dinsos
Nakertrans)
Pemberdayaan yang diberikan oleh pihak Victory Plus yaitu
dengan memberikan bantuan dalam bentuk selain uang yang
kemudian dapat di kembangkan oleh ODHA agar lebih produktif.
9) Pelatihan Kerja (Dinsos DIY, Dinsos Bantul)

Pelatihan kerja berupa pelatihan menjait yang dibina langsung


oleh narasumber dari Dinas Sosial.
10) Beasiswa ADHA.
Victory Plus memberikan beasiswa sebsar Rp 300. 000,- per
bulan dalam bentuk bukan uang kepada para ADHA.
3. Identifikasi Hambatan, Masalah, dan Pemecahan Masalah
a. Hambatan yang dihadapi oleh Victory Plus:
1) SDM
Pada awalnya jumlah staf yang bekerja di Victory Plus
sebanyak 33 orang yang 80% adalah ODHA. Namun saat ini jumlah
staf berkurang menjadi 20 orang yang 14 diantaranya sebagai
Pendukung Sebaya di lapangan. Hal ini disebabkan oleh menurunnya
tidak adanya dana untuk menggaji staff di Victory Plus.
2) ODHA
Ada sebagian ODHA yang didukung oleh Victory Plus menjadi
ketergantungan

pada

pendampingan

yang

diberikan.

ODHA

cenderung bersifat manja dan meminta untuk selalu didampingi. Hal


ini tidak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dari penampingan
Victory Plus terhadap ODHA.
3) Dana
Dana yang digunakan untuk menjalankan program dan
kegiatan di Victory Plus bersumber dari donor yayasan tanpa
mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Sehingga sumber dana
Yayasan Victory Plus hanyak bergantung pada pendonor. Namun
saat ini hanya tersisa satu pendonor utama sehingga Yayasan Victory
Plus kekurangan dana.
b. Masalah yang dihadapi oleh Victory Plus:
1) Untuk ODHA dari luar DIY, Victory Plus tidak dapat membantu dari
sisi pembiayaan atau tidak bisa didaftarkan dalam jaminan, misalnya
Badan Pelaksana Jaminan Kesejahteraan Sosial (Bapel Jamkesos).
2) Karena keterbatasan dana yang hanya bersumber pada satu Donor
dan bersifat kontrak, sehingga membuat Victory Plus mengerem
pengeluaran.
c. Pemecahan masalah yang dihadapi oleh Victory Plus:

10

1) Setiap ODHA yang berasal dari luar DIY mau tidak mau harus
memberitahu salah seorang kerabat/keluarganya dalam membantu
pembiayaan pengobatan.
2) Memangkas staf yang dulunya ada konselor dan pendukung sebaya,
sekarang hanya ada pendukung sebaya yang harus merangkap
menjadi konselor juga.
4. Pembahasan Kasus
Ny. A adalah seorang single parent dari dua orang anak yang berusia
8 dan 9 tahun. Dia merupakan salah satu pendiri perusahaan kerjasama di
bidang farmasi. Beliau adalah ODHA yang bergabung di yayasan Victory
Plus pada 2013, Ny. A mengetahui statusnya bahwa ia menderita HIV pada
tahun 2012.

Awal mula mengetahui status tersebut

ketika temannya

memberi saran untuk mengikuti tes HIV/AIDS dan merasa janggal dengan
kondisi suaminya yang sering sakit-sakitan dan berat badan suaminya yang
turun drastis. Sehingga, dia memberanikan diri datang kerumah sakit untuk
melakukan tes HIV/AIDS. Namun, pada kunjungan pertama dan kedua Ny. A
tidak jadi melakukan tes karena belum cukup berani. Akhirnya pada
kunjungan yang ketiga Ny. A mantap melakukan tes HIV/AIDS, sehari
berselang Ny. A datang ke rumah sakit untuk mengetahui hasil pemeriksaan
kemarin dan dijelaskan oleh dokter bahwa hasilnya positif HIV/AIDS.
Reaksi pertama Ny. A saat mengetahui bahawa dirinya dinyatakan
positif HIV/AIDS, beliau secara spontan merobek kertas hasil laboraturium
dan menyangkal hal tersebut. Selama tiga bulan beliau mengurung diri,
sehingga mengakibatkan pekerjaannya terbengkalai dan anaknya tidak
terurus. Ny. A belum berani membuka statusnya kepada keluarganya, lambat
laun Ny. A memberanikan diri untuk membuka status pada suaminya, reaksi
pertama suami Ny. A adalah menyalahkan dan menuduh bahwa Ny. A sudah
selingkuh selama ini. Tidak lama setelah itu suami Ny. A memutuskan untuk
menceraikan Ny. A. Dua bulan setelah bercerai, Ny. A menerima kabar
bahwa mantan suaminya sakit dan opname di rumah sakit. Ny. A merasa
janggal

mengenai

penyakit

yang

diderita

menganjurkan untuk melakukan tes HIV/AIDS.

11

mantan

suaminya

dan

Awalnya suami Ny.A menolak melakukan tes HIV/AIDS, setelah Ny. A


meminta bantuan dari konselor yang berada di Rumah Sakit tersebut untuk
memberikan penjelasan kepada mantan suami Ny. A menyetujui melakukan
tes HIV/AIDS. Hasil pemeriksaan mantan suami Ny. A positif HIV/AIDS dan
hasil CD4 52. Dari hasil tersebut, Ny. A dapat menyimpulkan bahwa dia
menderita HIV/AIDS tertular oleh suaminya. Dimana latarbelakang mantan
suaminya, bekerja sebagai pengusaha rental mobil yang mengharuskan ia
harus keluar kota. Setelah mengetahui tersebut mantan suaminya baru
meminta maaf dan berterus terang bahwa ia dulu pernah selingkuh dengan
wanita lain. Sebelumnya Ny. A pernah membuka statusnya pada ibu
kandungnya, namun reaksi pertama sedikit mengecewakan. Ibunya sedikit
mendiskriminasi dengan mengucilkan Ny. A. hal tersebut berlangsung
selama beberapa bulan sampai Ny. A mengajak ibunya ke tempat konselor,
dari penjelasan-penjelasan yang didapat ibu Ny. A akhirnya mulai mengerti
dan memperlakukan Ny. A seperti semula. Untuk saat ini, yang mengetahui
bahwa Ny. A positif HIV/AIDS adalah ibunya, mantan suaminya dan teman
sesama ODHA yang bergabung di yayasan Victory Plus. Sedangkan kedua
anaknya belum mengetahui status ibunya.
Ny. A baru melakukan terapi ARV selama satu tahun, karena
sebelumnya ia belum siap melakukan terapi dan hasil CD4nya masih diatas
600. Ny. A baru mempunyai niatan untuk melakukan terapi Antiretroviral
(ARV) ketika temannya sesama ODHA memberitahu bahwa jika seorang
ODHA hasil CD4nya masih diatas 600 maka ketika mengikuti terapi ARV
maka hal tersebut dapat meminimalisir efek samping dari terapi ARV.
B. Rifka Anisa
1. Profil
a. Sejarah
Rifka Annisa yang berasal daari bahasa Arab berarti 'Teman
Perempuan' adalah organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada
penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Didirikan pada 26
Agustus 1993, organisasi ini diinisiasi oleh beberapa aktivis perempuan:

12

Suwarni Angesti Rahayu, Sri Kusyuniati, Latifah Iskandar, Desti


Murdijana, Sitoresmi Prabuningrat dan Musrini Daruslan.
Rifka Annisa hadir karena keprihatinan yang dalam pada
kecenderungan budaya patriarki yang pada satu sisi memperkuat posisi
laki-laki tetapi di sisi lain memperlemah posisi perempuan. Akibatnya,
perempuan rentan mengalami kekerasan baik fisik, psikis, ekonomi,
sosial, maupun seksual seperti pelecehan dan perkosaan. Adanya
persoalan kekerasan berbasis gender yang muncul di masyarakat
mendorong Rifka Annisa untuk melakukan kerja-kerja dalam rangka
penghapusan kekerasan terhadap perempuan.
Rifka Annisa meyakini bahwa kekerasan terhadap perempuan
terjadi karena adanya berbagai faktor yang saling mendukung. Rifka
Annisa menggunakan kerangka kerja ekologis (ecological framework)
untuk memahami penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan.
Secara sederhana, kerangka kerja ekologis ini digambarkan sebagai 5
lingkaran konsentris yang saling berhubungan satu dengan lainnya.
Lingkaran yang paling dalam pada kerangka ekologis adalah
riwayat biologis dan personal yang dibawa masing-masing individu ke
dalam tingkah laku mereka dalam suatu hubungan. Lingkaran kedua
merupakan konteks yang paling dekat di mana kekerasan acapkali
terjadi, yaitu keluarga atau kenalan dan hubungan dekat lainnya.
Lingkaran ketiga adalah institusi dan struktur sosial, baik formal maupun
informal, di mana hubungan tertanam dalam bentuk pertetanggaan, di
tempat kerja, jaringan sosial dan kelompok kemitraan. Lingkaran
keempat adalah lingkungan ekonomi dan sosial, termasuk norma-norma
budaya dan sistem hukum negara. Sedangkan lingkaran paling luar
adalah lingkungan ekonomi dan sosial global, institusi dan struktur sosial
global, jaringan global dan kelompok kemitraan bilateral atau global.
a. Visi
Mewujudkan tatanan masyarakat yang adil gender yang tidak
mentolerir kekerasan terhadap perempuan melalui prinsip keadilan

13

sosial, kesadaran dan kepedulian, kemandirian, integritas yang baik dan


memelihara kearifan lokal.
b. Misi
Mengorganisir perempuan secara khusus dan masyarakat secara
umum untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan
menciptakan masyarakat yang adil gender melalui pemberdayaan
perempuan korban kekerasan, termasuk di dalamnya anak-anak, lanjut
usia, dan difabel, meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat
melalui pendidikan kritis dan penguatan jaringan.
c. Tujuan
1) Memberikan pendampingan psikologis dan hukum bagi klien
sehingga klien mampu bangkit dari keterpurukannya
2) Memberikan dukungan untuk pemulihan psikis maupun luka dan
memberdayakan klien untuk siap kembali hidup di masyarakat atau
lingkungannya
3) Memberikan sosialisasi pada keluarganya sehingga mampu ikut serta
dalam membantu memberikan dukungan
d. Sasaran
Rifka annisa menerima kasus-kasus kekerasan pada Kekerasan
pada Rumah Tangga, Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), dan Kekerasan
Seksual.
2. Identifikasi

Pelaksanaan

Program

Promotif,

Preventive,

Kuratif,

dan

Rehabilitatif pada kasus korban Kekerasan


a. Pelaksanaan Program Promotif
1) Kampanye Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan
Kampanye bertujuan untuk melakukan penyadaran baik bagi
kelompok perempuan maupun laki-laki. Disisi perempuan, isi
kampanya difokuskan dalam pemahaman dalam hak-hak korban
sedangkan dari sisi laki-laki diutamakan tentang maskulinitas dan
kesadaran untuk peduli dalam upaya penghapusan kekerasan
terhadap perempuan.
Media kampanye yang digunakan beragam, baik cetak
maupun elektronik mulai dari leaflet, booklet poster, film, radio serta
televisi.

Media

tersebut

14

digunakan

dengan

tujuan

sebagai

penyadaran kritis bagi masyarakat sehingga pada akhirnya mereka


dapat ikut terlibat dalam upaya-upaya penghapusan kekerasan
terhadap perempuan
2) Siaran Radio dan Televisi
Televisi dan radio merupakan media yang akrab dan efektif
menjangkau masyarakat, sehingga merupakan salah satu media
yang strategis untuk mengampanyekan isu-isu anti kekerasan
terhadap perempuan.
3) Rifka Media
Rifka media merupakan majalah yang digunakan sebagai
media pembelajaran dan sumber rujukan untuk isu-isu gender dan
penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Majalah yang sudah
ada sejak 1998 itu terbit tiga bulan sekali.
4) Laman dan Media Sosial
Adanya media yang setiap saat bisa diakses penting untuk
memperluas jangkauan informasi. Salah satu caranya adalah melalui
sistem

darng, seperti laman (website), blog, akun facebook dan

twitter. Informasi-informasi terkait kegiatan, isu gender, dan upaya


penghapusan

kekerasan

terhadap

perempuan

senantiasa

disebarluaskan dan perbarui lewat media tersebut.


5) Peringatan Acara yang berkaitan dengan Isu-isu Perempuan
Pada Hari Perempuan Internasional, Hari Kartini, Hari Anti
Kekerasan terhadap Perempuan, Rifka Annisa kerap mengadakan
berbagai acara. Tujuannya, meningkatkan perhatian masyarakat
untuk terlibat dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap
perempuan sekaligus memperkenalkan layanan Rifka Annisa secara
lebih luas kepada masyarakat.
6) Rannisakustik
Rannisakustik
merupakan

komunitas

musik

yang

berkampanye dengan menyebarkan isu penghapusan kekerasan


terhadap perempuan berbasis gender. Grup ini telah melakukan
berbagai pementasan, workshop, pembuatan lagu, serta rutin mengisi
diacara Rifka Goes to School.
b. Pelaksanaan Program Preventif

15

1) Rifka Goes to School and Campus


Program sosialisasi yang rutin dilakukan tiap bulan ini
bertujuan mengenalkan materi-materi dasar yang berkaitan dengan
isu gender. Tujuannya, peserta didik dapat mengenali, mencegah,
serta mengerti langkah-langkah yang dilakukan apabila terdapat
peristiwa kekerasan. Permintaan sosialisasi berasal dari sekolah atau
inisiatif dari lembaga.
2) Diskusi Rutin Media
Diskusi yang dilakukan secara rutin berguna untuk menambah
wacana tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Acara
ini mengundang pembicara dari luar maupun dalam Rifka Annisa dan
terbuka untuk umum.
c. Pelaksanaan Program Kuratif
1) Konseling Psikologis
Konseling Psikologis adalah pendampingan bagi perempuan
dan annak korban kekerasan dengan fokus pemulihan kondisi
psikologis.
2) Layanan Penjangkauan
Layanan ini berupa konseling dengan cara menjangkau klien
yang tidak bisa mengakses layanan secara langsung di kantor Rifka
Anisa
3) Pendampingan bagi Perempuan dan Konseling Perubahan Perilaku
Laki-laki
Pendampingan dilakukan baik secara hokum maupun secara
psikologis. Pendampingan ini dilakukan dengan memperkuat dan
memberdayakan korban baik secara psikologis, hukum, maupun
sosial, serta membekali klien dengan pengetahuan dan keterampilan
agar terhindar dari situasi kekerasan. Pendampingan bisa dilakukan
melalui tatap muka, surat, sms, serta telepon.
Pendampingan bagi perempuan korban kekerasan berbasis
gender bertujuan mengantarkan perempuan sampai tahap berdaya.
Jika klien sudah berdaya, ia mempunyai andil dalam usaha
pemutusan rantai kekerasan. Selain melakukan pendampingan pada
klien perempuan, juga dilakukan konseling perubahan perilaku pada
laki-laki, karena pemutusan rantai kekerasan akan lebih efektif

16

apabila dilakukan oleh kedua pihak, baik korban maupun pelaku.


Konseling bagi laki-laki dimaksudkan untuk meningkatkan tanggung
jawab

laki-laki

terhadap

tindakan

yang

dilakukannya,

serta

mentransformasikan cara pandang, sikap, dan perilaku laki-laki agar


lebih adil gender, menghargai perempuan, dan anti kekerasan.
4) Konsultasi dan Pendampingan Hukum
Pendampingan ini diberikan kepada perempuan dan anak
dalam penyelesaian masalah, khususnya proses hukum. Pada kasuskasus pidana dilakukan pendampingan langsung, sedangkan dalam
kasus perdata pendampingan yang dilakukan bersifat tidak langsung.
d. Pelaksanaan Program Rehabilitatif
1) Kelompok Dukungan atau Support Group
Klien dikumpulkan untuk saling menguatkan dan mendukung
satu sama lain untuk mendorong perubahan perilaku. Materi-materi
untuk keperluan

support group disesuaikan dengan karakteristik

pelaku.
2) Rumah Aman
Rumah aman ditujukan untuk perempuan yang rentan
mengalami kekerasan atau perempuan korban kekerasan yang
terancam keselamatannya terlebih bagi klien yang tidak mendapatkan
dukungan dari keluarga dan komunitas.
3. Identifikasi Masalah, Hambatan, dan Pemecahan Masalah yang dihadapi
a. Masalah
Dalam menjalankan program-program atau kegiatan yang ada di
Rifka annisa , Rifka annisa hanya mampu mengandalkan dana mandiri
yang ada.
b. Hambatan
Pemerintah tidak memberikan dukungan dana pada Rifka annisa
namun Rifka annisa hanya menjembatani bantuan dana dari pemerintah
untuk disalurkan pada lembaga-lembaga yang mendapatkan bantuan
dana tersebut.
c. Pemecahan masalah
Untuk mendapatkan dana, Rifka annisa mengajukan proposal
untuk mencari donor dana dan menjalankan kegiatan Fun Rissing
diantaranya :

17

1) Pelatihan
Pelatihan dilakukan bagi klien yang berada di rumah aman
rifka annisa dengan memberikan pelatihan ketrampilan dan hasilnya
dapat dijual untuk memperoleh dana.
2) Penjualan buku
Memproduksi berbagai buku mengenai kekerasan terhadap
perempuan dan anak dari hasil karangan klien maupun staf Rifka
annisa dan dapat di jual di masyarakat untuk memperoleh dana.
3) Menyewakan ruang
Rifka annisa memiliki ruang pertemuan yang bisa disewakan
untuk berbagai acara sehingga hasil penyewaan dapat menjadi dana
masuk untuk Rifka annisa.
4) Penyewaan Guest House
Rifka annisa memiliki wisma Guest House yang dapat di
sewakan bagi masyarakat umum dan hasil penyewaan dapat masuk
untuk dana di Rifka annisa.
4. Pembahasan Kasus
Seorang mahasiswi

di salah satu Perguruan Tinggi Swasta

Yogyakarta mendapatkan kekerasan dalam pacaran (KDP). Kekerasan yang


didapatkan mahasiswi tersebut berupa kekerasan fisik, kekerasan ekonomi,
kekerasan seksual, kekerasan psikis dan kekerasan sosial dari pacarnya.
Pada awalnya hubungan

pacaran mahasiswi tersebut baik-baik saja,

hubungan pacaran mereka dimulai sejak kelas IX SMP hubungan mereka


berlanjut hingga bangku SMA. Saat SMA kekerasan mulai dialami oleh
korban (mahasiswi). Dampak dari kekerasan tersebut yaitu klien menjadi
seksual aktif dan tidak bisa lepas dari pasangannya untuk melakukan
hubungan seksual.
Dalam kasus ini, Rifka Annisa memberikan pendampingan dalam
bentuk konseling. Konseling yang diberikan berupa pengetahuaan dampak
buruk yang akan terjadi dalam bidang kesehatan apabila klien tetap
melakukan hubungan seksual secara tidak sehat. Di dalam konseling Rifka
Annisa juga memberikan pilihan-pilihan alternatif penyelesaian kasus klien,
tetapi keputusan sepenuhnya di kembalikan kepada klien.

18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penerapan program di Victory Plus yang termasuk kedalam upaya
promotif adalah kelompok dukungan sebaya (KDS), pemberdayaan ekonomi,
produktif, pelatihan kerja, beasiswa ADHA. Upaya preventif meliputi program
menolong akses jaminan kesehatan bila diperlukan, program usaha ekonomi
kreatif, dukungan nutrisi tambahan dan outlet kondom.Upaya kuratif yaitu

19

dukungan psikososisal dan konseling sebaya di RS, pendampingan minum obat


dan upaya rehabilitative meliputi dukungan psikososial dan konseling sebaya di
RS, dukungan sebaya di lapas, rutan, panti.
Penerapan program di Rifka annisa meliputi upaya promotif yaitu
Kampanye Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Siaran, Radio dan
Televisi, Rifka Media, Laman dan Media Sosial, Peringatan Acara yang berkaitan
dengan Isu-isu Perempuan, Rannisakustik. Upaya preventif meliputi Rifka Goes
to School and Campus, Diskusi Rutin Media. Upaya kuratif meliputi Konseling
Psikologis, Layanan Penjangkauan, Pendampingan bagi Perempuan dan
Konseling Perubahan Perilaku Laki-laki, Konsultasi dan Pendampingan Hukum
dan dalam upaya rehabilitative yaitu Kelompok Dukungan atau Support Group,
Rumah Aman.
Peran bidan dalam menangani ODHA di masyarakat yaitu bidan
mengadakan sosialisasi di masyarakat mengenai HIV/AIDS dan merubah pikiran
negatif masyarakat mengenai HIV/AIDS. Selain itu bidan juga harus bisa
memberikan pengertian kepada setiap wanita untuk mengikuti tes yang
bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya HIV/AIDS sehingga bidan dapat
memberikan pendampingan secara cepat.

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan mampu memahami penerapan teori dan
materi-materi yang terkait dengan kesehatan reproduksi, memahami dan
mengidentifikasi pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitative dari infeksi menular seksual dan HIV dan AIDS pada ODHA
dengan

latar

belakang

ibu

rumah

tangga,

dan

memahami

dan

mengidentifikasi pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan


rehabilitative pada kasus korban Kekerasan dalam Pacaran (KDP).
2. Institusi Pendidikan

20

Institusi Pendidikan diharapkan dapat mempertahankan kerjasama


dan memperluas jejaring dengan lembaga terkait untuk wadah pembelajaran
mahasiswa.
3. Lembaga Swadaya Masyarakat
Diharapkan Lembaga

Swadaya

Masyarakat

(LSM)

memperbaiki pelayanan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Https://victoryplusaids.org/ (Diakses tangga: 18 Juli 2016, pukul 14.05 WIB)
Https://rifka-annisa.org/ (Diakses tanggal: 19 Juli 2016, pukul 14.00 WIB)

21

dapat

LAIN-LAIN
A. Peran Bidan
1. Victory Plus
Peran bidan dalam menangani ODHA di masyarakat yaitu bidan
mengadakan sosialisasi di masyarakat mengenai HIV/AIDS dan merubah
pikiran negatif masyarakat mengenai HIV/AIDS. Selain itu bidan juga harus
bisa memberikan pengertian kepada setiap wanita untuk mengikuti tes yang
bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya HIV/AIDS sehingga bidan
dapat memberikan pendampingan secara cepat.
2. Rifka Annisa
a. Menyediakan diri untuk memberi layanan pendampingan kepada
pasien korban kekerasan.
b. Mengenali luka yang dialami korban, sehingga dapat mengidentifikasi
penyebab luka yang dialami korban.
c. Mendampingi korban hingga korban dapat berdaya. Berdaya memiliki
arti korban sudah dapat mengambil sikap atas peristiwa yang
dialaminya dan tidak merasa terpuruk atau memiliki trauma. Selain

22

itu, pendampingan juga penting agar korban tidak memilih opsi yang
buruk.
B. Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Ada tiga faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu
ke anak:
1. Faktor ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke
anak adalah kadar HIV (viral load) dalam darah ibu pada saat menjelang
ataupun saat persalinan dan kadar HIV dalam air susu ibu ketika ibu
menyusui bayinya. Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang
terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang.
Kadar HIV tertinggi sebesar 10 juta kopi/ml darah biasanya terjadi 36
minggu setelah terinfeksi atau kita sebut sebagai infeksi primer. Setelah
beberapa minggu, biasanya kadar HIV mulai berkurang dan relatif rendah
selama beberapa tahun pada periode tanpa gejala, periode ini kita sebut
sebagai fase asimptomatik.
Ketika memasuki masa stadium AIDS, dimana tanda-tanda gejala AIDS
mulai muncul, kadar HIV kembali meningkat. Cukup banyak orang dengan
HIV-AIDS (ODHA) yang kadar HIV-nya sangat rendah sehingga menjadi sulit
untuk diditeksi (kurang dari 50 kopi/ml). Kondisi ini biasanya terjadi pada
ODHA yang telah minum obat antiretroviral secara teratur dengan benar.
Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari
1.000 kopi/ml), sementara jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml, risiko
penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi tinggi. Risiko penularan saat
persalinan sebesar 10-20%, risiko penularan HIV pada masa menyusui
sebesar 10-15%, sedangkan pada saat kehamilan, risiko penularan HIV dari
ibu ke bayinya lebih rendah, yaitu sebesar 5%-10%. Ibu dengan sel CD4
yang rendah mempunyai risiko penularan yang lebih besar, terlebih jika
jumlah sel CD4 < 350 sel/mm3. Semakin rendah jumlah sel CD4, pada
umumnya risiko penularan HIV akan semakin besar. Sebuah studi
menunjukkan bahwa ibu dengan CD4 < 350 sel/mm3 memiliki risiko untuk
menularkan HIV ke anaknya jauh lebih besar. Jika ibu memiliki berat badan

23

yang rendah selama kehamilan serta kekurangan vitamin dan mineral, maka
risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat.
Biasanya, jika ibu menderita Infeksi Menular Seksual (IMS) atau infeksi
reproduksi lainnya maka kadar HIV akan meningkat, sehingga meningkatkan
pula risiko penularan HIV ke anak. Sifilis ditularkan dari ibu ke bayi yang
dikandungnya, dan dengan adanya sifilis akan meningkatkan risiko
penularan HIV. Malaria bisa meningkatkan risiko penularan HIV karena
parasit malaria merusak plasenta sehingga memudahkan HIV melewati
sawar plasenta. Selain itu, malaria juga meningkatkan risiko bayi lahir
prematur yang dapat memperbesar risiko penularan HIV dari ibu ke anak.
Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat
gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain yang diderita oleh ibu, seperti
mastitis, abses dan luka di puting payudara. Sebagian besar masalah
payudara dapat dicegah dengan teknik menyusui yang baik. Konseling
manajemen laktasi sangat dibutuhkan untuk mengurangirisiko penularan HIV.
2. Faktor Bayi dan Anak
Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah diduga
lebih rentan untuk tertular HIV dikarenakan sistem organ tubuh bayi belum
berkembang dengan baik, seperti sistem kulit dan mukosanya. Sebuah studi
di Tanzania menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan sebelum umur
kehamilan 34 minggu memiliki risiko tertular HIV yang lebih tinggi pada saat
persalinan dan masa awal kelahiran. Seorang bayi dari ibu HIV positif bisa
jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses persalinan, tetapi
masih dimungkinkan akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI.
Dengan pemberian susu formula, risiko penularan HIV dari ibu ke anak
dapat dihindarkan, namun pemberian susu formula hasus memenuhi syarat
AFASS (Acceptable, Feasible, Affordable,Sustainable and Safe). Bayi yang
diberikan ASI eksklusif kemungkinan memiliki risiko terinfeksi HIV lebih
rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi makanan campuran (mixed
feeding), yaitu dengan mengkombinasi pemberian ASI dengan susu formula
atau makanan padat lainnya. Penelitian di Afrika Selatan menunjukkan
bahwa bayi dari ibu HIV positif yang diberi ASI eksklusif selama tiga bulan

24

memiliki risiko tertular HIV lebih rendah (14,6%) dibandingkan bayi yang
mendapatkan makanan campuran, yaitu susu formula dan ASI (24,1%). Hal
ini diperkirakan karena air dan makanan yang kurang bersih (terkontaminasi)
akan merusak usus bayi yang mendapatkan makanan campuran, sehingga
HIV pada ASI bisa masuk ke tubuh bayi. HIV juga terdapat dalam ASI,
meskipun konsentrasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan HIV di dalam
darah. Antara 10%15% bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif akan
terinfeksi HIV melalui pemberian ASI. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat risiko penularan
HIV melalui pemberian ASI, yaitu:
a. Umur Bayi
Risiko penularan melalui ASI akan lebih besar pada bayi yang baru
lahir. Antara 5070% dari semua penularan HIV melalui ASI terjadi pada
usia enam bulan pertama bayi.

Semakin lama pemberian ASI, akan

semakin besar kumulatif risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Pada usia
6 bulan pertama pemberian ASI diperkirakan risiko penularan sebesar
0,7% per bulan. Antara 612 bulan, risiko bertambah sebesar 0,5% per
bulan dan antara 1324 bulan, risiko bertambah lagi sebesar 0,3% per
bulan. Dengan demikian, memperpendek masa pemberian ASI dapat
mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV.
b. Luka di Mulut Bayi dan Anak
Pada bayi atau anak yang memiliki luka di mulutnya, risiko untuk
tertular HIV lebih besar ketika diberikan ASI.
3. Faktor Tindakan Obstetrik
Risiko terbesar penularan HIV dari ibu ke anak terjadi pada saat
persalinan, karena saat persalinan tekanan pada plasenta meningkat yang
bisa menyebabkan terjadinya koneksi antara darah ibu dan darah bayi.
Selain itu, saat persalinan bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir.
Kulit bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika
kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga terinfeksi karena menelan darah
ataupun lendir ibu. Faktor faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan
HIV dari ibu ke bayi selama persalinan adalah sebagai berikut :

25

a. Jenis persalinan (resiko penularan pada persalinan per vaginam lebih


besar daripada per abdominal/SC)
b. Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari
ibu ke anak juga semakin meningkat karena akan semakin lama
terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu. Ketuban
pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan risiko
penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang
dari 4 jam.
c. Faktor lain yang kemungkinan meningkatkan risiko penularan selama
proses persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala janin,
penggunaan vakum atau forseps dan tindakan episiotomi.
C. Waktu dan Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Pada masa kehamilan, sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu
dipisahkan oleh beberapa lapis sel yang terdapat di plasenta. Hanya oksigen, zat
makanan, antibodi dan obat-obatan yang dapat menembus plasenta, namun HIV
tidak dapat menembusnya. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV.
Tetapi, jika terjadi peradangan, infeksi ataupun kerusakan pada plasenta, maka
HIV bisa menembus plasenta, sehingga terjadi penularan HIV dari ibu ke anak.
Penularan HIV dari ibu ke anak pada umumnya terjadi pada saat persalinan dan
pada saat menyusui.
Risiko penularan HIV dari ibu ke anak selama kehamilan, saat melahirkan
dan waktu menyusui berkisar antara 20%45% dapat ditekan menjadi hanya
sekitar 2%5% dengan melakukan progam intervensi PPIA. Di negara maju,
risiko penularan HIV dari ibu ke anak hanya kurang dari 2% dengan melakukan
program intervensi PPIA, antara lain : layanan konseling dan tes HIV, pemberian
obat antiretroviral, persalinan seksio sesarea dan pemberian susu formula. Di
banyak negara berkembang, dimana intervensi PPIA umumnya belum berjalan
dengan baik, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi masih belum dapat ditekan,
yaitu masih berkisar 20%45%.
D. Diagnosis Infeksi HIV pada Anak

26

Menegakkan diagnosis infeksi HIV pada anak tidak mudah. Beberapa


tantangannya adalah sebagai berikut :
1. Penularan HIV pada anak dapat terjadi tidak hanya selama masa kehamilan
dan saat persalinan, namun dapat juga terjadi pada saat menyusui.
2. Pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk menegakkan diagnosis HIV
pada anak sedini mungkin adalah pemeriksaan yang dapat menemukan virus
atau partikel virus dalam tubuh bayi, namun tes tersebut (seperti tes PCR)
belum tersedia secara luas di Indonesia.
3. Bila fasilitas memungkinkan maka dapat dilakukan diagnosis sedini mungkin
karena

perjalanan penyakit HIV pada anak sering kali berjalan dramatis

(berat) pada saat anak berusia kurang dari 12 bulan, dengan angka kematian
mencapai 50%.
4. Antibodi HIV dari ibu ditransfer ke bayi melalui plasenta selama kehamilan.
Antibodi HIV dari ibu berada pada darah bayi hingga 18 bulan. Namun bayi
yang terinfeksi HIV akan memproduksi antibodi sendiri sepanjang hidupnya.
Karenanya, semua bayi yang lahir dari ibu HIV positif bila dilakukan
pemeriksaan berdasarkan antibody HIV pada umur kurang dari 18 bulan,
masih sangat memungkinkan hasilnya adalah positif palsu.
5. Pemeriksaan diagnostik HIV yang sebagian besar dilakukan di Indonesia
adalah dengan teknik pemeriksaan antibodi, yaitu dengan menggunakan
Rapid tes HIV dan/atau ELISA, dan dinyatakan reaktif jika hasil tes positif
pada tiga reagen yang berbeda (pemeriksaan HIV dengan strategi 3).
Hingga saat ini, fasilitas pemeriksaan diagnostik HIV pada anak yang
tersedia di Indonesia adalah pemeriksaan dengan Rapid tes dan/atau ELISA,
maka diagnostik HIV pada anak umumnya dapat ditegakkan setelah umur 18
bulan. Hanya RS Darmais, Jakarta yang memiliki alat PCR (DNA). Namun kita
dapat merujuk pemeriksaan tersebut dengan mengirim sampel darah dengan
DBS (Dry Blood Spot).
E. Strategi Pencegahan Penularan Hiv Dari Ibu Ke Anak
Terdapat 4 (empat) prong yang harus diupayakan untuk mencegah
terjadinya penularan HIV dari ibu ke anak. Empat prong tersebut adalah :
1. Pencegahan Penularan HIV pada Perempuan Usia Reproduksi.
Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan
HIV pada anak adalah dengan mencegah perempuan usia reproduksi dari

27

tertular HIV. Strategi ini bisa juga dinamakan pencegahan primer (primary
prevention). Pendekatan pencegahan primer bertujuan untuk mencegah
penularan HIV dari ibu ke anak secara dini, bahkan sebelum terjadinya
hubungan seksual. Artinya, mencegah perempuan muda usia reproduksi, ibu
hamil dan pasangannya agar tidak terinfeksi HIV.

Untuk menghindari

penularan HIV, pemerintah dan berbagai lembaga swadaya masyarakat


menggunakan konsep ABCD, yaitu :
A (Abstinence), artinya Absen seks ataupun tidak melakukan hubungan

seks bagi orang yang belum menikah


B (Be Faithful), artinya Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks

(tidak berganti-ganti pasangan);


C (Condom), artinya cegah penularan HIV melalui hubungan seksual

dengan menggunakan Kondom.


D (Drug No), artinya Dilarang menggunakan narkoba.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan pada Prong 1, merupakan


pencegahan primer antara lain:
a. Menyebarluaskan Komunikasi, Informasi dan

Edukasi (KIE) tentang

HIV/AIDS baik secara individu maupun secara kelompok, yaitu:


1) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana cara
menghindari penularan HIV dan IMS.
2) Menjelaskan manfaat dari konseling dan tes HIV.
3) Meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan tentang tatalaksana
ODHA perempuan.
b. Mobilisasi masyarakat
1) Melibatkan petugas

lapangan

(seperti:

kader

PKK)

untuk

memberikan informasi pencegahan HIV dan IMS kepada masyarakat


dan untuk membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan.
2) Menjelaskan tentang pengurangan risiko penularan HIV dan IMS,
termasuk melalui penggunaan kondom dan alat suntik steril.
3) Melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat

dalam

menghilangkan stigma dan diskriminasi.


c. Layanan Konseling dan Tes HIV
Layanan konseling dan tes HIV dilakukan melalui pendekatan
Provider Initiated Test and Counceling (PITC) dan Voluntary Counseling
and Testing (VCT), yang merupakan komponen penting dalam upaya

28

pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Cara untuk mengetahui


status HIV seseorang adalah melalui tes darah. Prosedur pelaksanaan
tes darah didahului dengan konseling sebelum dan sesudah tes
(counseling),

menjaga kerahasiaan

(confidensiality)

serta adanya

persetujuan tertulis (informed consent).


Jika status HIV sudah diketahui, untuk ibu dengan status HIV positif
dilakukan intervensi agar ibu tidak menularkan HIV kepada bayi yang
dikandungnya. Untuk yang HIV negatif, mereka juga mendapat konseling
tentang bagaimana menjaga perilakunya agar tetap berstatus HIV
negatif. Layanan konseling dan tes HIV tersebut dijalankan di layanan
HIV-AIDS, layanan Kesehatan Ibu dan Anak dan layanan Keluarga
Berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan.
d. Konseling untuk perempuan HIV negatif
1) Ibu hamil yang hasil tesnya HIV negatif perlu didukung agar status
dirinya tetap HIV negatif.
2) Menganjurkan agar pasangannya menjalani tes HIV.
3) Membuat pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak yang bersahabat
untuk pria sehingga mudah dan dapat diakses oleh suami/pasangan
ibu hamil.
4) Mengadakan kegiatan konseling pasangan pada kunjungan ke
pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak.
5) Memberikan informasi kepada suami bahwa dengan melakukan
seks tidak aman dapat menyebabkan kematian bagi calon bayi, istri
dan dirinya sendiri. Para suami biasanya memiliki rasa tanggung
jawab untuk melindungi keluarganya. Informasi ini akan lebih efektif
diterima suami jika disampaikan oleh petugas kesehatan di klinik
Kesehatan Ibu dan Anak ketika ia mengantarkan istrinya
6) Ketika ibu melahirkan di rumah sakit atau klinik, biasanya ibu diantar
oleh suami, pada saat itu perasaan suami sangat bangga dan
mencintai istri dan anaknya. Ini adalah waktu yang tepat untuk
menyampaikan informasi kepada suami agar menghindari perilaku
seks tak aman dan menyampaikan informasi tentang pemakaian
kondom.

29

Peningkatan pemahaman tentang dampak HIV pada ibu hamil, akan


membuat

adanya

dialog

yang

lebih

terbuka

antara

suami

dan

istri/pasangannya tentang perilaku seks aman. Sebaiknya, materi penularan


HIV dari ibu ke anak menjadi bagian dari pelatihan keterampilan hidup (life
skill training) bagi remaja sehingga sejak dini mereka belajar tentang cara
melindungi keluarga mereka kelak dari ancaman penularan HIV. Informasi
tentang pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak juga penting
disampaikan kepada masyarakat luas untuk memperkuat dukungan kepada
perempuan yang mengalami masalah seputar penularan HIV
2. Pencegahan Kehamilan yang Tidak Direncanakan pada Perempuan HIV
Positif
Pada dasarnya perempuan dengan HIV positif

tidak disarakan untuk

hamil. Untuk itu perlu adanya layanan konseling dan tes HIV serta sarana
kontrasepsi yang aman dan efektif untuk pencegahan kehamilan yang tidak
direncanakan. Konseling yang berkualitas serta penggunaan alat kontrasepsi
yang aman dan efektif akan membantu perempuan HIV positif dalam
melakukan hubungan seks yang aman, serta menghindari terjadinya
kehamilan yang tidak direncanakan. Ibu HIV positif akan yakin untuk tidak
menambah jumlah anak karena mempertimbangkan risiko penularan pada
bayi yang dikandungnya.
Dengan adanya kemajuan intervensi PPIA, ibu HIV positif dapat
merencanakan kehamilannya dan dapat diupayakan agar anak yang
dikanungnya tidak terinfeksi HIV. Konselor memberikan informasi yang
lengkap tentang berbagai kemungkinan yang dapat terjadi, baik tentang
kemungkinan terjadinya penularan, peluang anak untuk tidak terinfeksi HIV,
juga konseling bahwa wanita HIV positif yang belum terindikasi terapi ARV
bila memutuskan untuk hamil akan menerima ARV seumur hidupnya. Namun
ibu HIV positif yang berhak menentukan keputusannya sendiri setelah
berdiskusi dengan suami atau keluarganya. Perlu diingat bahwa infeksi HIV
bukan merupakan indikasi aborsi. Sebagian besar ibu di Indonesia
mempunyai keinginan kuat untuk memiliki anak. Seorang ibu akan
kehilangan status sosialnya jika tidak mampu melahirkan anak. Jika kondisi

30

fisik ibu HIV positif cukup baik, risiko penularan HIV dari ibu ke anak
sebenarnya menjadi kecil. Artinya, ia mempunyai peluang besar untuk
memiliki anak HIV negatif. Namun untuk ibu HIV positif yang memiliki banyak
tanda penyakit dan gejala AIDS akan lebih berisiko menularkan HIV ke
anaknya, sehingga ibu tersebut perlu mendapatkan pelayanan konseling
secara cermat untuk memastikan bahwa mereka benar-benar paham akan
risiko tersebut. Jika ibu HIV positif ingin menunda kehamilan, alat kontrasepsi
yang dianjurkan adalah kontrasepsi jangka pendek (PIL, suntik) atau
kontrasepsi jangka panjang (IUD,implant) dan didampingi penggunaan
kondom untuk mencegah terjadinya penularan infeksi HIV dan IMS. Dan jika
memutuskan

tidak

mempunyai

anak

lagi,

dianjurkan

kontrasepsi

mantap/sterilisasi (tubektomi atau vasektomi) disertai penggunaan kondom.


Beberapa aktivitas untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan
pada ibu HIV positif antara lain:
a. Mengadakan KIE tentang HIV-AIDS dan perilaku seks aman
b. Menjalankan konseling dan tes HIV untuk pasangan
c. Melakukan upaya pencegahan dan pengobatan IMS
d. Melakukan promosi penggunaan kondom
e. Menganjurkan perempuan HIV positif mengikuti keluarga berencana
dengan cara yang tepat
f. Senantiasa menerapkan kewaspadaan standar
g. Membentuk dan menjalankan layanan rujukan bagi perempuan HIV
positif yang merencanakan kehamilan
3. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Hamil HIV Positif ke Anak
Strategi pencegahan penularan HIV pada ibu hamil yang telah terinfeksi
HIV ini merupakan inti dari intervensi pencegahan penularan HIV dari ibu ke
anak. Tiap-tiap jenis intervensi tersebut berbeda dalam hal biaya,
keberhasilan, maupun kemudahan menjalankannya. Semua jenis intervensi
tersebut

akan

mencapai

hasil

yang

efektif

jika

dijalankan

secara

berkesinambungan. Kombinasi intervensi tersebut merupakan strategi yang


paling efektif untuk mengidentifikasi perempuan yang terinfeksi HIV serta
mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak pada periode kehamilan,
persalinan dan pasca kelahiran. Bentuk-bentuk intervensi tersebut adalah :

31

a. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak yang Komprehensif


Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang komprehensif
meliputi layanan pra persalinan dan pasca persalinan serta kesehatan
anak. Pelayanan KIA bisa menjadi awal atau pintu masuk upaya
pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak bagi seorang ibu hamil.
Pemberian informasi pada ibu hamil dan suaminya ketika datang ke
klinik KIA akan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan mereka
tentang kemungkinan adanya risiko penularan HIV diantara mereka,
termasuk juga risiko lanjutan berupa penularan HIV dari ibu ke anak.
Harapannya, dengan kesadarannya sendiri mereka akan sukarela
melakukan konseling dan tes HIV. Namun tes HIV atas inisiatif petugas
harus ditawarkan kepada semua ibu hamil.
Berbagai bentuk layanan yang diberikan klinik KIA, seperti :
imunisasi untuk ibu, pemeriksaan IMS terutama sifilis, pemberian
suplemen zat besi, dapat meningkatkan status kesehatan semua ibu
hamil, termasuk ibu hamil HIV positif. Hendaknya klinik KIA juga
menjangkau dan melayani suami atau pasangannya sehingga timbul
keterlibatan

aktif

para

suami

atau

pasangannya

dalam

upaya

pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.


b. Tes HIV dan Konseling atas Inisiasi Petugas Kesehatan
Tes HIV dan Konseling atas Inisiasi Petugas Kesehatan atau
Provider Initiated HIV Testing and Counceling (PITC) adalah suatu tes
dan konseling HIV yang diprakarsai oleh petugas kesehatan kepada
pengunjung sarana layanan kesehatan sebagai bagian dari standar
pelayanan medis. Tujuan utamanya adalah untuk membuat keputusan
klinis dan/atau menentukan pelayanan medis khusus yang tidak mungkin
dilaksanakan tanpa mengetahui status HIV seseorang, seperti pada saat
pemberian ART. Apabila seseorang yang datang ke sarana layanan
kesehatan menunjukan adanya gejala yang mengarah ke HIV, maka
tanggung jawab dasar dari petugas kesehatan adalah menawarkan tes
dan konseling HIV kepada pasien tersebut sebagai bagian dari
tatalaksana klinis. PITC juga bertujuan untuk mengidentifikasi infeksi HIV

32

yang tidak tampak pada pasien dan pengunjung layanan kesehatan.


Oleh karenanya kadang tes dan konseling HIV juga ditawarkan kepada
pasien dengan gejala yang mungkin tidak terkaitdengan HIV sekalipun.
Dalam hal ini, tes dan konseling HIV ditawarkan kepada semua pasien
yang berkunjung ke sarana kesehatan. Seperti VCT, PITC pun harus
mengedepankan three C

(counselling, informed consent and

confidentiality) atau informasi, persetujuan dan kerahasiaan. Petugas


kesehatan dianjurkan untuk melakukan PITC sebagai bagian dari
prosedur baku perawatan kepada semua pasien berikut tanpa
memandang tingkat epidemi daerahnya :
1) Semua ibu hamil, terutama ibu hamil yang mempunyai faktor risiko.
2) Bayi yang baru lahir dari ibu HIV positif, sebagai perawatan
lanjutan pada bayi tersebut.
3) Anak yang dibawa ke layanan kesehatan dengan menunjukan
tanda tumbuh kembang yang kurang optimal atau kurang gizi yang
tidak Memberikan respon pada terapi gizi yang memadai.
4) Semua pasien dewasa atau anak yang berkunjung ke layanan
kesehatan dengan tanda dan gejala atau kondisi medis yang
mengindikasikan infeksi HIV atau koinfeksi HIV (TB, IMS, Heptitis,
dll.)
Di daerah dengan tingkat epidemi yang meluas dengan lingkungan
yang memungkinkan atau kondusif serta tersedia sumber daya yang
memadai

termasuk

ketersediaan

paket

layanan

pencegahan,

pengobatan dan perawatan HIV, maka petugas kesehatan dapat


melakukan PITC kepada semua pasien yang berobat di semua sarana
kesehatan.
Di daerah dengan tingkat epidemi rendah atau terkonsentrasi, PITC
diprioritaskan kepada pasien dewasa atau anak yang datang ke layanan
kesehatan

dengan

menunjukan

gejala

atau

tanda

klinis

yang

mengindikasi AIDS, termasuk TB dan pasien anak yang lahir dari ibu HIV
positif.

33

Prosedur pemeriksaan diagnostik HIV menggunakan strategi 3 yaitu


pemeriksaan tes HIV secara serial dengan menggunakan tiga reagen
yang berbeda. Test HIV yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan
adalah pemeriksaan dengan tiga reagen rapid HIV. Namun untuk sarana
kesehatan yang memiliki fasilitas yang lebih baik, test HIV bisa dilakukan
dengan pemeriksaan Rapid tes dan pemeriksaan ELISA. Pemilihan jenis
reagen yang digunakan berdasarkan sensitifitas dan spesifisitasnya,
dengan merujuk pada standar nasional. Untuk ibu hamil dengan faktor
risiko yang hasil tesnya non reaktif, tes diagnostik HIV dapat diulang
pada trimester berikutnya (atau 3 bulan kemudian).
c. Pemberian Terapi Antiretroviral
Pada ODHA dewasa, penentuan saat yang tepat memulai terapi
obat antiretroviral (ART) selain dengan menggunakan stadium klinis,
diperlukan pemeriksaan CD4. Pada kebijakan PPIA 2011, ART diberikan
kepada semua perempuan hamil HIV positif tanpa harus memeriksakan
kondisi CD4-nya lebih dahulu. Penentuan stadium HIV-AIDS pada ibu
hamil dapat dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien dengan atau
tanpa pemeriksaan CD4. Pemeriksaan CD4 pada ibu hamil HIV positif
terutama digunakan untuk memantau pengobatan.
Pemberian ART pada ibu hamil HIV positif selain dapat mengurangi
risiko penularan HIV dari ibu ke anak, adalah untuk mengoptimalkan
kondisi kesehatan ibu dengan cara menurunkan kadar HIV serendah
mungkin. Pemberian ART sebaiknya disesuaikan dengan kondisi klinis
yang sedang dialami oleh ibu. Data yang tersedia menunjukkan bahwa
pemberian ART kepada ibu selama kehamilan dan dilanjutkan selama
menyusui adalah intervensi yang paling efektif untuk kesehatan ibu dan
juga mampu mengurangi risiko penularan HIV dan kematian bayi pada
kelompok

wanita

dengan

risiko

tinggi.

Pilihan

terapi

yang

direkomendasikan untuk ibu hamil HIV positif adalah terapimenggunakan


tiga obat kombinasi (2 NRTI + 1 NNRTI). Seminimal mungkin hindarkan
tripel nuke (3 NRTI). Regimen yang direkomendasikan adalah sebagai
berikut :

34

1) Protokol pemberian terapi antiretroviral (ART) untuk ibu hamil HIV


positif adalah sebagai berikut :
a) Indikasi pemberian ART

adalah

sama

seperti

protokol

pemberian ART pada Pedoman Tatalaksana Klinis dan Terapi


Antiretroviral HIV pada Orang Dewasa, tahun 2010.
b) Untuk perempuan yang status HIV-nya diketahui sebelum
kehamilan, dan pasien sudah mendapatkan ART, maka saat
hamil ART tetap diteruskan dengan rejimen yang sama seperti
saat sebelum hamil.
c) Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui sebelum umur
kehamilannya 14 minggu, jika ada indikasi untuk segera
diberikan ART, maka kita berikan ART. Namun jika tidak ada
indikasi, pemberian ART ditunggu hingga umur kehamilannya
14 minggu. Regimen ART yang diberikan sesuai dengan kondisi
klinis ibu.
d) Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui pada umur
kehamilan 14 minggu, segera diberikan ART berapapun nilai
CD4 dan stadium klinisnya. Regimen ART yang diberikan sesuai
dengan kondisi klinis ibu (lihat tabel 5).
e) Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui sesaat menjelang
persalinan, segera diberikan ART sesuai kondisi klinis ibu.
Pilihan kombinasi rejimen ART sama dengan ibu hamil yang lain
(lihat table 5)
Pemerintah menyediakan ARV untuk ibu hamil HIV positif sebagai
upaya untuk mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak, termasuk
untuk tujuan pengobatan jangka panjang.
d. Persalinan yang Aman
Pemilihan persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah
mendapatkan konseling berdasarkan penilaian dari tenaga kesehatan.
Pilihan

persalinan

meliputi

persalinan

pervaginam

maupun

per

abdominam (seksio sesarea). Beberapa hasil penelitian menyimpulkan


bahwa seksio sesarea akan mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke
bayi hinggga sebesar 2% - 4%, namun perlu dipertimbangkan :

35

1) Faktor keamanan ibu paska seksio sesarea. Sebuah penelitian


menyebutkan bahwa komplikasi minor dari operasi seksio sesarea
seperti endometritis, infeksi luka dan infeksi saluran kemih lebih
banyak terjadi pada ODHA dibandingkan non-ODHA. Namun tidak
terdapat perbedaan bermakna antara ODHA dan bukan ODHA
terhadap risiko terjadinya komplikasi mayor seperti pneumonia, efusi
pleura ataupun sepsis.
2) Fasilitas kesehatan dari tempat layanan, apakah memungkinkan
untuk dilakukan seksio sesarea atau tidak.
3) Biaya seksio sesarea yang relatif mahal.
Dengan demikian, untuk memberikan layanan persalinan yang optimal
kepada ibu hamil HIV positif direkomendasikan kondisi-kondisi berikut
ini:
1) Pelaksanaan persalinan, baik secara seksio sesarea maupun
normal, harus memperhatikan kondisi fisik ibu berdasarkan penilaian
dari tenaga kesehatan.
2) Ibu hamil HIV positif perlu mendapatkan konseling sehubungan
dengan keputusannya untuk menjalani persalinan pervaginam
maupun per abdominam (seksio sesarea).
3) Pelaksanaan persalinan, baik secara persalinan

pervaginam

maupun seksio sesarea, harus memperhatikan indikasi obstetri si


ibu.
4) Tindakan menolong persalinan ibu hamil HIV positif, baik secara
persalinan

pervaginam

maupun

seksio

sesarea

harus

memperhatikan kewaspadaan standar yang berlaku untuk semua


persalinan.
e. Tatalaksana dan Pemberian Makanan Terbaik bagi Bayi dan Anak
Pemilihan makanan bayi harus didahului dengan konseling tentang
risiko penularanmelalui makanan bayi. Konseling ini harus diberikan
sebelum persalinan.

Pilihan apapun yang diambil oleh seorang ibu

harus kita dukung. Pengambilan keputusan dapat dilakukan oleh ibu


setelah mendapat informasi dan konseling secara lengkap.

36

Anjuran utama bagi ibu HIV positif adalah untuk tidak menyusui
bayinya dan menggantikannya dengan susu formula. Namun, di banyak
negara berkembang hal tersebut ternyata sulit dijalankan karena
keterbatasan

dana

untuk

membeli

susu

formula,

sulit

untuk

mendapatkan air bersih dan botol susu yang bersih dan adanya normanorma sosial di masyarakat tertentu yang mengharuskan ibu menyusui
bayinya. Menyikapi kondisi tersebut, panduan WHO menyebutkan
bahwa bayi dari ibu HIV positif boleh diberikan ASI secara eksklusif
selama 6 bulan. Eksklusif artinya hanya diberikan ASI saja, tidak boleh
dicampur dengan apapun, termasuk air putih kecuali untuk pemberian
obat. Bila ibu tidak dapat melanjutkan pemberian ASI eksklusif, maka ASI
harus dihentikan dan digantikan dengan susu formula untuk menghindari
mixed feeding.
Dalam pemberian informasi dan edukasi, tenaga kesehatan harus
menyampaikan adanya risiko penularan HIV melalui pemberian ASI
dibandingkan dengan susu formula. Namun juga tidak boleh lupa
menerangkan persayaratan untuk dapat diberikan susu formula. Susu
formula dapat diberikan hanya bila memenuhi persyaratan AFASS, yaitu
Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, dan Safe.
1) Acceptable (mudah diterima) berarti tidak ada hambatan sosial
budaya bagi ibu untuk memberikan susu formula untuk bayi;
2) Feasible (mudah dilakukan) berarti ibu dan keluarga punya waktu,
pengetahuan, dan keterampilan yang memadai untuk menyiapkan
dan memberikan susu formula kepada bayi;
3) Affordable (terjangkau) berarti ibu dan

keluarga

mampu

menyediakan susu formula;


4) Sustainable (berkelanjutan) berarti susu formula harus diberikan
setiap hari sampai 6 bulan dan diberikan dalam bentuk segar, serta
suplai dan distribusi susu formula tersebut dijamin keberadaannya;
5) Safe (aman penggunaannya) berarti susu formula harus disimpan,
disiapkan dandiberikan secara benar dan higienis Sangat tidak
dianjurkan menyusui campur, karena memiliki risiko penularan virus

37

HIV pada anak yang tertinggi. .Hal ini disebabkan pemberian susu
formula yang merupakan benda asing dapat
Bila AFASS bisa dipenuhi maka makanan terbaik untuk bayi dari ibu HIV
positif adalah pemberian susu formula. Bila AFASS tidak bisa dipenuhi
maka ASI boleh diberikan dengan ketentuan :
Sangat tidak dianjurkan menyusui campur, karena memiliki risiko
penularan virus HIV pada anak yang tertinggi. .Hal ini disebabkan
pemberian

susu

formula

yang

merupakan

benda

asing

dapat

menimbulkan perubahan mukosa dinding usus yang mempermudah


masuknya HIV yang ada di dalam ASI ke peredaran darah.
Ibu hamil HIV positif perlu mendapatkan informasi dan edukasi untuk
membantu mereka membuat keputusan apakah ingin memberikan susu
formula atau memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Mereka butuh
bantuan untuk menilai dan menimbang risiko penularan HIV ke bayinya.
Mereka butuh dukungan agar merasa percaya diri dengan keputusannya
dan dibimbing bagaimana memberi makanan ke bayinya seaman
mungkin. Agar mampu melakukan hal itu, tenaga kesehatan perlu
dibekali pelatihan tentang hal-hal seputar HIV dan pemberian makanan
untuk bayi.
Rekomendasi untuk pemberian informasi dan edukasi, baik tentang
pemberian makanan bayi dalam pencegahan penularan HIV dari ibu ke
anak maupun pemeliharaan kesehatan anak secara umum adalah
sebagai berikut :
1) Ibu hamil HIV positif perlu mendapatkan konseling sehubungan
dengan keputusannya untuk menggunakan susu formula atau ASI
eksklusif.
2) Memberikan

penjelasan

tentang

kelebihan

dan

kekurangan,

termasuk besarnya risiko penularan dari pilihan pemberian makanan


bayi, baik susu formula maupun ASI eksklusif. Penjelasan yang
diberikan dimulai dari pilihan ibu yang pertama.
3) Dengan adanya komunikasi dengan si ibu, kita dapat menggali
informasi kondisi rumah ibu dan situasi keluarganya.

38

4) Membantu ibu untuk menentukan pilihan pemberian makanan pada


bayi yang paling tepat.
5) Mendemonstrasikan bagaimana praktek pemberian makanan pada
bayi yang dipilih. Dapat dengan memberikan brosur yang bisa
dibawa pulang.
6) Memberikan konseling dan dukungan lanjutan.
7) Ketika kunjungan pasca persalinan, petugas kesehatan dapat
melakukan:
a) Monitoring tumbuh kembang bayi.
b) Cek praktek pemberian makanan pada bayi dan apakah ada
c)

perubahan yang diinginkan.


Pemberian imunisasi pada bayi sesuai dengan jadwal imunisasi

dasar, kecuali bila ada tanda-tanda infeksi oportunistik.


d) Pemberian kotrimoxazole pada bayi untuk mencegah timbulnya
morbiditas lain yang dimulai pada usia 6 minggu.
e) Cek tanda-tanda infeksi penyakit.
f) Mendiskusikan pemberian makanan selanjutnya setelah ASI
f.

untuk bayi usia 6 bulan hingga 12 bulan.


Mengatur Kehamilan dan Mengakhiri Reproduksi
Rekomendasi Forkom ARV :
1) Kata mengakhiri reproduksi dihilangkan krn terlalu sensitive
2) Mengatur kehamilan harus merujuk pada family planning
3) Ketentuan kontrasepsi sebaiknya mengacu pada family planning
Seperti telah disebutkan pada Prong 2 (halaman 21), semua jenis
kontrasepsi yang dipilih oleh ibu harus selalu disertai dengan
penggunaan kondom.
1) Kontrasepsi pada ibu/perempuan HIV positif (dual protection):
Menunda/mengatur kehamilan = kontrasepsi janga pendek +
kondom
2) Menunda/mengatur kehamilan = kontrasepsi jangka panjang +

kodom
3) Memutuskan tidak punya anak lagi = kontrasepsi mantap + kondom
g. Pemberian ARV profilaksis pada Anak
Pemberian ARV profilaksis dimulai pada hari ke-1 hingga 6 minggu.
Rejimen ARV yang diberikan adalah AZT 4 mg/KgBB diberikan 2 kali
dalam satu hari.

39

h. Pemeriksaan Diagnostik pada Bayi yang Lahir dari Ibu HIV Positif
Penentuan status HIV pada bayi dilakukan dengan dua cara yaitu secara
serologis atau virologis. Pemeriksaan serologis dilakukan setelah usia 18
bulan atau dapat dilakukan lebih awal pada usia 9-12 bulan dengan
catatan bila hasilnya positif maka harus diulang pada usia 18 bulan.
Pemeriksaan virologis harus dilakukan minimal 2 kali dan dapat dimulai
pada usia 2 minggu serta diulang 4 minggu kemudian. Penentuan status
HIV pada bayi ini harus dilakukan setelah ASI dihentikan minimal 6
minggu.
4. Pemberian Dukungan Psikologis, Sosial dan Perawatan kepada Ibu HIV
Positif Beserta Anak dan Keluarganya
Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak tidak terhenti setelah
ibu melahirkan. Ibu tersebut akan terus menjalani hidup dengan HIV di
tubuhnya, ia membutuhkan dukungan psikologis, sosial dan perawatan
sepanjang waktu. Hal ini terutama karena si ibu akan menghadapi masalah
stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA. Sangat penting dijaga
faktor kerahasiaan status HIV si ibu. Dukungan juga harus diberikan kepada
anak dan keluarganya. Beberapa hal yang mungkin dibutuhkan oleh ibu HIV
positif antara lain:
a. Pengobatan ARV jangka panjang.
b. Pengobatan gejala penyakitnya.
c. Pemeriksaan kondisi kesehatan dan pemantauan terapi ARV (termasuk
CD4 ataupun viral load ).
d. Konseling dan dukungan untuk kontrasepsi dan pengakhiran reproduksi.
e. Informasi dan edukasi pemberian makanan bayi.
f. Pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk diri dan bayinya.
g. Penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV dan
pencegahannya.
h. Layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat.
i. Kunjungan ke rumah (home visit).
j. Dukungan teman-teman sesama HIV positif, terlebih sesama ibu HIV
positif.
k. Adanya pendamping saat sedang dirawat.
l. Dukungan dari pasangan.

40

Dukungan

kegiatan

peningkatan

ekonomi

keluarga

Dukungan

perawatan dan pendidikan bagi anak. Dengan dukungan psikososial yang


baik, ibu HIV positif akan bersikap optimis dan bersemangat mengisi
kehidupannya. Diharapkan ia akan bertindak bijak dan positif untuk
senantiasa menjaga kesehatan diri dan anaknya. Dan berperilaku sehat agar
tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain.
Informasi tentang adanya layanan dukungan psikososial untuk ODHA ini
perlu diketahui oleh masyarakat luas, termasuk para perempuan usia
reproduktif. Diharapkan informasi ini bisa meningkatkan minat mereka yang
merasa berisiko tertular HIV untuk mengikuti konseling dan tes HIV agar
mengetahui status HIV mereka.
F. Gizi Untuk Odha
1. Metabolisme Gizi pada Odha
Pada ODHA sering terjadi anoreksia, depresi, rasa lelah, mual muntah,
sesak nafas, diare, serta infeksi. Hal ini menyebabkan asupan gizi tidak
adekuat dan tidak mampu memenuhi kebutuhan energy yang meningkat,
apalagi disertai infeksi akut. Kurang gizi dapat menurunkan kapasitas
fungsional, memberikan kontribusi tidak berfungsinya kekebalan dan
meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Salah satu faktor yang berperan
dalam penurunan sistem imun, adalah defisiensi zat gizi baik mikro maupun
makro. Memburuknya status gizi bersifat multifactor, terutama disebabkan
oleh kurangnya asupan makanan, gangguan absorbsi dan metabolisme zat
gizi, infeksi oportunistik, serta kurangnya aktivitas fisik.
2. Hubungan Antara Gizi dan HIV
Sejak seseorang terinfeksi HIV, terjadi gangguan sistem kekebalan
tubuh sampai ke tingkat yang lebih parah hingga terjadi pula penurunan
status gizi. Menurunya status gizi disebabkan oleh kurangnya asupan
makanan karena berbagai hal, misalnya adanya penyakit infeksi, sehingga
menyebabkan kebutuhan zat gizi meningkat. Selain itu perlu diperhatikan
faktor psikososial serta keamanan makanan dan minuman
Pada ODHA terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi yang disebabkan antara
lain, karena stress metabolisme, demam, muntah, diare, malabsorpsi, infeksi

41

oportunistik.

Selain

itu

terjadi

perubahan

komposisi

tubuh,

yaitu

berkurangnya masa bebas lemak terutama otot. Gizi yang adekuat pada
ODHA dapat mencegah kurang gizi, meningkatkan daya tahan terhadap
infeksi

oportunistik,

menghambat

berkembangnya

HIV,

memperbaiki

efektivitas dan memperbaiki kualitas hidup.


3. Gizi dengan Anti Retro Viral (ARV)
Asuhan gizi bagi ODHA sangat penting bila mereka juga mengonsumsi
obat-obat ARV. Makanan yang dikonsumsi mempengaruhi penyerapan ARV
dan obat infeksi oportunistik. Sebaliknya penggunaan ARV dan obat infeksi
oportunistik dapat menyebabkan gangguan gizi. Terdapat interaksi antara gizi
dan ARV, yaitu :
1. Makanan dapat mempengaruhi efektivitas ARV.
2. ARV dapat mempengaruhi penyerapan zat gizi.
3. Efek samping ARV dapat mempengaruhi konsumsi makanan.
4. Kombinasi ARV dan makanan tertentu dapat menimbulkan efek samping
4. Asuhan Gizi
a. Pada bayi dan anak
Bayi yang lahir dari ibu positif HIV umumnya mempunyai berat lahir
rendah. Bayi yang terbukti HIV positif biasanya akan mengalami
kenaikan berat badan dan panjang badan yang tidak adekuat. Hal ini
mencerminkan adanya suatu proses kronik yang dapat berakibat
terjadinya gagal tumbuh. Keadaan ini disebabkan karena interaksi infeksi
HIV dan adanya penyakit penyerta (misalnya TB) serta asupan makro
dan mikro nutrien yang tidak adekuat.
Pada bahasan ini asuhan gizi dibedakan pada:
1) Bayi 0-6 bulan
Makanan terbaik untuk anak usia 0-6 bulan adalah ASI,
karena itu bayi yang lahir dari seorang ibu dengan HIV postif, harus
diberikan pendampingan dan konseling mengenai pemilihan cara
pemberian makanan untuk bayinya dan dijelaskan mengenai resiko
dan manfaat masing-masing pilihan tersebut. ibu juga harus
diberikan petunjuk khusus dan apendampingan hingga anak berusia
dua tahun agar dapat tercapai asupan nutrisi yang adekuat sehingga
tercapai tumbuh kembang yang optimal.

42

Apabila ibu memutuskan untuk tetap menyusui bayinya, maka


harus diberikan secara eksklusif 0-6 bulan artinya hanya diberikan
ASI

saja,

bukan

mixed

feeding

(ASI

dan

susu

formula

berdampingan). Pemberian mixed feeding ini terbukti memberikan


resiko lebih tinggi terhadap kejadian infeksi daripada pemberian ASI
eksklusif. Makanan Pendamping ASI (MP ASI) diberkan mulai usia
yang dapat digunakan untuk memperkecil resiko transmisi melalui
ASI, yaitu:
a) Memberikan ASI eksklusif dengan IMD
b) Memanaskan ASI persah pada suhu tertentu (suhu 660C)
Adanya masalah pada payudara ibu seperti putting yang
lecet, mastitis, atau abses akan meningkatkan resiko transmisi
HIV. Bagi ibu dengan HIV positif yang memilih untuk tidak
memberikan ASI dapat memberikan susu formula sepanjang
memenuhi kriteria AFFAS ( Acceptable, Feasible, Affordable,
Sustainable, and Safe). Acceptable ( mudah diterima), berarti
tidak ada hambatan sosial budaya bagi ibu untuk memberikan
susu formula untuk bayi, Feasible (mudah dilakukan) berarti ibu
dan keluarga punya waktu, pengetahuan, dan keterampilan
yang memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu
formula kepada bayi, Affordable (terjangkau) berarti iu dan
keluarga

mampu

membeli

susu

formula,

Susitanable

(berkelanjutan) berarti susu formula harus diberikan setiap hari


dan malam selama usia bayi dan diberikan dalam bentuk segar,
serta suplai dan distribusi susu formula tersebt dijamin
keberadaanya, Safe (Aman Penggunaannya) berarti susu
formula harus disimpan secara benar, higienis, dengan kadar
nutrisi yang cukup, disuapkan dengan tangan dan peralatan
yang bersih, serta tidak berdampak peningkatan penggunaan
susu formula untuk masyarakat luas pada umumnya.
Susu yang dapat dijadikan makanan pengganti ASI bisa
diperoleh dari susu formula komersial maupun susu hewani

43

yang dimodifikasi. Susu formula kmersial diberikan apabila ibu


mampu menyediakannya minimal untuk jangka waktu 6 bulan
(44 kaleng @450 gram susu formula). Penting diperhatikan
kebersihan peralatan, air yang digunakan dan jumlah takaran
susu untuk mengurangi resiko terjadinya diare. Susu hewani
yang dimodifikasi dapat dijadikan pilihan bagi ibu yang tidak
mampu menyediakan susu formula komersial (karena harga yng
mahal serta tidak tersedia di daerahnya). Bila keluarga tersebut
mempunyai hewan peliharaan seperti sapi, kambing, dapat
digunakan sebagai pengganti ASI.
2) Anak 6-24 bulan
Setelah bayi berusia 6 bulan, pemberian ASI atau susu saja
tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi, oleh karena itu makanan
padat harus segera diberikan jika bayi berusia 4 bulan terdapat
tanda-tanda gagal tumbuh dengan ODHA atau ibu dengan HIV
Positif memutuskan untuk tidak memberikan ASInya lagi, maka
makanan padat dapat segera diberikan. Susu sebagai komponen
dari makanan bayi masih diperlukan tapi semakin lama semakin
berkurang porsinya. Pada usia 6 sampai 12 bulan, susu paling
banyak memenuhi setengah kebutuhan bayi, sedangkan pada usia
12-24 bulan hanya memenuhi sepertiga kebutuhan perharinya. Pada
usia diatas 24 bulan, makanan yang diberikan sama dengan
makanan keluarga, usahakan untuk menghindari makanan jajanan
dan memperhatikan kebersihan.
3) Pada anak (2-12 tahun)
Sekitar 90% dari anak dengan HIV Positif mengalami kurang
gizi. Hal ini akan meingkatkan resiko terjadinya gagal tumbuh pada
anak oleh karena itu, diperlukan tata laksana gizi yang adekuat agar
dapat mencegah terjadinya malnutrisi serta dapat memacu tumbuh
kembang anak secara optimal. Pemberian makan pada anak
dengan HIV Positif pada dasarnya tidak berbeda dengan anak
seusianya.

Pemilihan

bentuk

44

dan

cara

makan

dilakukan

berdasarkan kemampuan oral dan adanya faktor lain yang mungkin


menghambat, seperti misalnya adanya oral trush atau ulserasi pada
mulut atau adanya perdarahansaluran cerna. Diusahakan untuk
senantiasa memberi makanan melalui oral, bila tidak dapat dipenuhi
melalui oral dapat digunakan pipa oro/nasogastric (nutrisi enteral).
Apabila terdapat infeksi kronis saluran cerna serta sinfrom
malabsorbsi yang berat dapat dipertimbangkan pemberian nutrisi
parenteral.
G. Konseling Gizi
Ahli gizi sebagai konselor mengkonfirmasikan status gizi, data biokimia, data
klinis yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan gizi pasien, kebiasaan
makan, asupan energi dan zat gizi klien serta hasil diagnosis gizi. Informasi
tersebut kemudian didiskusikan, menuju perubahan perubahan pola makan
mengikuti perencanaan menu yang sudah disiapkan meliputi porsi makan 1 hari,
distribusi porsi makanan setiap waktu makan, hambatan dan alternatif
perubahan pola makan yang dapat dilakukan oleh klien berkaitan dengan pola
aktivitas dan gaya hidup, penggunaan daftar makanan penukar, contoh menu,
makanan yang boleh dan tidak boleh dengan menggunakan alat bantu food
model, leaflet, dan alat peraga lainnya. Berikut ini adalah beberapa informasi
yang perlu diberikan pada pasien HIV:
1. Sarat diet untuk stadium 1 dan 2
a. Mengkonsumsi protein dari sumber hewani dan nabati seperti daging,
telur, ayam, ikan , kacang-kacangan dan produk olahannya.
b. Banyak makan sayur dan buah-buahan secara teratur terutama sayuran
dan buah-buahan berwarna kaya vitamin A dan zar besi.
c. Bila ODHA sudah terbiasa minum susu, teruskan, karena susu sangat
baik untuk kesehatan.
d. Menghindari makanan yang diawetkan danmakanan yang beragi (tape,
brem)
e. Menghindari
f.

makanan

mencegah mual
Menghindari makanan

yang

merangsang

alat

penciuman

(untuk

yang merangsang pencernaan baik secara

mekanik, termik, maupun kimia.


g. Menghindari rokok kafein dan alkohol

45

h. Makanan bebas dari pestisida dan bahan akimia


i. Bila ODHA mendapat obat ARV memberian makanan disesuaikan
dengan jadwal minum obat saat lambung kosong, terisi, atau diberikan
bersama-sama dengan makanan.
2. Syarat diet untuk stadium 3 dan 4
a. Mengkonsumsi protein dari sumber hewani dan nabati seperti daging,
b.
c.
d.
e.
f.

telur, ayam, ikan , kacang-kacangan dan produk olahannya.


Makanan diberikan dalam porsi kecil tetapi sering
Sayur dan buah-buahan diberikan sesuai kebutuhan
Rendah serat
Rendah laktosa dan rendah lemak jika ada diare
Bentuk makanan disesuaikan dengan kondisi pasien untuk memenuhi

kebutuhan gizinya
g. Minum susu yang rendah lemak
h. Sesuaikan sarat diet dengan infeksi oportunistik dan penyakit lain yang
j.

menyertai
Menghindari makanan yang diawetkan danmakanan yang beragi (tape,

brem)
k. Menghindari
l.

makanan

mencegah mual
Menghindari makanan

yang

merangsang

alat

penciuman

(untuk

yang merangsang pencernaan baik secara

mekanik, termik, maupun kimia.


i. Menghindari rokok kafein dan alkohol
j. Makanan bebas dari pestisida dan bahan akimia
k. Bila ODHA mendapat obat ARV memberian makanan disesuaikan
dengan jadwal minum obat saat lambung kosong, terisi, atau diberikan
bersama-sama dengan makanan.
3. Syarat untuk meningkatkan energi
a. Gunakan lemak MCT atau minyak kelapa, mentega, dan kacangkacangan.
b. Sediakan makanan kecil tinggi protein:kacang-kacangan, es krim,
yoghurt.
c. Makanan utama dalam bentuk padat dan tinggi kalori: krim sup, sereal
panas, ikan goreng tepung
d. Makanan dan minuman seperti: salad, buah, teh manis, minumasn
manis, agar-agar, disajikan sebagai makanan penutup.
e. Makan secara perlahan dan nikmati secara santai.
4. Keamanan makanan

46

a. Bahan makanan di kemas sesuai jenis secara terpisah saat terpisah


terutama daging ayam, dan ikan agar tidak terkontaminasi dengan bahan
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

makanan lain.
Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah makan
Selalu minum air yang sudah didihkan
Cuci bahan makanan dengan air mengalir dan bersih
Sebaiknya buah dikupas dan langsung dikosumsi
Perhatikan nilai gizi pada lebel kemasan makanan
Memakai air panas untuk membersihkan alat dapur
Lebih baik konsumsi makanan yang disiapkan sendiri karena lebih

i.
j.
k.
l.

terjamin keamanannya
Hindari produk susu segar yang tidak dipasteurisasi
Hindari bahan makanan mentah
Hindari makanan yang berjamur atau basi
Hindari penggunaan air panas dari dispenser karena tidak mencapai titik

didih
5. Bahan makanan yang dianjurkan
a. Tempe dan produknya, selain mengandung protein dan B12 juga
mengandung bakterisida yang dapat mengobati dan mencegah diare
b. Kelapa dan produknya dapat memenuhi kebutuhan lemak sekaligus
sebagai sumber energi karena mengandung MCT yang mudah diserap
dan tidak menyebabkan diare
c. Wortel mengandung betakaroten

yang

tinggi

sehingga

dapat

meningkatkan daya tahan tubuh dan bahan pembentuk CD4


d. Brokoli, tinnggi kandungannya Zn, Fe,Mn,Se untuk mengatasi dan
mencegah defisiensi zat gizi mikro dan untuk pembentukan CD4
e. Sayuran hijau dan kacang-kacangan untuk pembentukan CD4 dan
pencegahan anemia
f. Alvokat, mengandung lemak yang tinggi untuk makanan tambahan
g. Konsumsi kacang-kacangan sesering mungkin
h. Konsumsi daging dan produk susu setiap hari
i. Konsumsi sayuran dan buah setiap hari
j. Konsumsi gula, minyak, garam seperlunya
k. Bahan makanan sebaiknya dalam bentuk matang
6. Bahan makanan yang tidak dianjurkan
a. Semua bahan yang menimbulkan gas seperti:Ubi jalar, kol, sawi, nangka
dan durian
b. Semua makanan tinggi lemak
c. Bumbu yang merangsang : cabe, mrica, cuka
d. Bahan makanan mentah : lalapan, buah-buahan yang mentah

47

e. Makanan yang tidak atau kurang masak seperti : sate, telur setengah
matang.
f. Makanan yang diawetkan dan penyedap rasa
g. Minuman bersoda dan mengandung alkohol.

LAMPIRAN

48

ARV line 1

ARV line 2

JADWAL KEGIATAN VICTORY PLUS

49

HASIL KARYA ANGGOTA VICTORY PLUS

FOTO PENGURUS VICTORY PLUS

JADWAL PIKET RS

50

ALUR DAN AREA KERJA VICTORY PLUS

SALAH SATU PENGHARGAAN YANG PERNAH DIRAIH

FOTO BERSAMA

51

52