Anda di halaman 1dari 6

1

Efek Resistansi Pertanahan pada Menara Transmisi saat


Terjadi Gangguan
Bagus Kurniawan Susanto (2213100014) , Ahmda Ali Mashum (2213100031) ,
Mochammad Fauqi Akbar (2213100092)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
Abstrak - Pada suatu Sistem Tenaga Listrik, energi listrik yang dibangkitkan dari pusat pembangkit
listrik ditransmisikan ke pusat-pusat pengatur beban melalui suatu saluran transmisi, Saluran transmisi
tersebut dapat berupa saluran udara atau saluran bawah tanah, namun pada umumnya berupa saluran
udara. Energi listrik yang disalurkan lewat saluran transmisi udara pada umumnya menggunakan kawat
telanjang sehingga mengandalkan udara sebagai media isolasi antara kawat penghantar tersebut dengan
benda sekelilingnya, dan untuk menyanggah kawat penghantar dengan ketinggian dan jarak yang aman
bagi manusia dan lingkungan sekitarnya, kawat-kawat penghantar tersebut dipasang pada suatu
konstruksi bangunan yang kokoh, yang biasa disebut menara/tower. Antara Tower listrik dan kawat
penghantar disekat oleh isolator. Konstruksi tower besi baja merupakan jenis konstruksi saluran transmisi
tegangan tinggi (SUTT) ataupun saluran transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang paling banyak
digunakan di jaringan PLN, karena mudah dirakit terutama untuk pemasangan di daerah pegunungan dan
jauh dari jalan raya, harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan penggunaan saluran bawah
tanah serta pemeliharaannya yang mudah. Penyaluran daya listrik dilakukan dengan menggunakan
saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang rawan terhadap sambaran petir. Selain rawan
terhadap sambaran petir, Letak dari menara transmisi berbeda-beda, sehingga menyebabkan nilai dari
resistansi pentanahan menara yang berbeda.
Kata Kunci : Kawat, Menara Transmisi, Sistem Tenaga Listrik, Resistansi Pertanahan
I. PENDAHULUAN
Pada suatu sistem tenaga listrik, energi
listrik yang dibangkitkan dari pusat pembangkit
listrik ditransmisikan ke pusat-pusat pengatur
beban melalui suatu saluran transmisi. Saluran
transmisi tersebut dapat berupa saluran udara
atau saluran bawah tanah, namun pada
umumnya berupa saluran udara.
Energi listrik yang disalurkan lewat saluran
transmisi udara pada umumnya menggunakan
kawat telanjang sehingga mengandalkan udara
sebagai media isolasi antara kawat penghantar
tersebut dengan benda sekelilingnya, dan untuk
menyanggah atau merentang kawat penghantar

dengan ketinggian dan jarak yang aman bagi


manusia dan lingkungan sekitarnya, kawatkawat penghantar tersebut dipasang pada suatu
konstruksi bangunan yang kokoh, yang biasa
disebut menara atau tower. Antara menara listrik
dan kawat penghantar disekat oleh isolator.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai
tower atau menara transmisi sebagai saluran
udara yang merupakan saluran transmisi yang
menyalurkan energi listrik melalui kawat-kawat
yang digantung pada isolator antar menara atau
tiang transmisi.

II. MENARA TRANSMISI

3.
Dalam sistem transmisi tenaga listrik,
menara transmisi berfungsi sebagai saluran
udara yang pada penyaluran energi listriknya
melalui kawat-kawat atau kabel telanjang yang
digantung pada isolator antar menara atau tiang
transmisi. Keuntungan dari saluran transmisi
udara sendiri antara lain:
1. Mudah dalam perbaikan dan perawatan;
2. Cara penyambungan mudah;
3. Mudah dalam mengetahui letak gangguan;
4. Biaya lebih murah.
Sedangkan kerugian dari saluran transmisi
udara ini antara lain:
1. Karena berada di ruang terbuka, maka
cuaca sangat berpengaruh terhadap
keandalannya, dengan kata lain mudah
terjadi gangguan dari luar, seperti gangguan
hubung singkat, gangguan tegangan bila
tersambar petir, dan gangguan lainnya;
2. Dari segi estetika atau keindahan dinilai
kurang, sehingga saluran transmisi bukan
pilihan yang ideal untuk transmisi di dalam
kota.
3. Perlu pengawasan yang intensif, karena
besi-besinya rawan terhadap pencurian.
Seperti yang telah terjadi di beberapa
daerah di Indonesia, dimana pencurian besibesi baja pada menara atau tower listrik
mengakibatkan menara tersebut roboh, dan
penyaluran energi listrik ke konsumen pun
menjadi terganggu;
4. Akibat menggunakan kabel telanjang,
pemuaian lebih cepat dibandingkan dengan
kabel tertutup.
Suatu menara atau tower listrik harus kuat
terhadap beban yang bekerja padanya, antara
lain yaitu:
1. Gaya berat menara dan kawat penghantar;
2. Gaya tarik akibat rentangan kawat;

Gaya angin akibat terpaan angin pada


kawat maupun badan menara.

III. PARAMETER SALURAN


Suatu
saluran
transmisi
memiliki
parameter-parameter tertentu yang dapat
mempengaruhi keoptimalan saluran transmisi
tersebut, yaitu:
1. Resistansi (R);
2. Induktansi (L);
3. Kapasitansi (C), untuk R, L, dan C, dalam
aplikasinya harus diketahui terlebih dahulu
konfigurasi saluran dan jenis konduktor
yang dipakai;
4. Konduktansi
bocor
(G),
umumnya
diabaikan. Dalam sistem transmisi sendiri
tidak ada pengaruh yang berarti. Pada
perhitungan tidak dipertimbangkan, karena
diasumsikan sistem ideal.
IV. KLASIFIKASI MENARA TRANSMISI
A. Klasifikasi Menara Transmisi Berdasarkan
Konstruksinya
Menurut bentuk konstruksinya, jenis-jenis
tower dibagi atas 4 macam, yaitu:
1. Lattice Tower
2. Tubular Steel Pole
3. Concrete Pole
4. Wooden Pole

Gambar 1 Lattice tower (kiri) dan Tubular


Steel Tower (kanan)

Gambar 2 Wooden pole tower (kiri) dan


Concrete pole tower (kanan)
B. Klasifikasi Menara Transmisi Berdasarkan
Tipenya
Berdasarkan tipenya, menara transmisi
dibedakan menjadi dua macam yakni sebagai
berikut:
1. Tipe tower 150 kV
Tipe Tower Fungsi
Sudut
Aa
Suspension
0o 3o
Bb
Tension/ Section
3o 20o
Cc
Tension
20o 60o
Dd
Tension
60o 90o
Ee
Tension
>90o
Ff
Tension
>90o
Gg
Transposision
2.

Tipe tower 500 kV


Tipe Tower
Sirkuit
Sirkuit Fungsi
Tunggal Ganda
A
AA
Suspension
AR
AA R Suspension
B
BB
Tension
C
CC
Tension
D
DD
Tension
E
EE
Tension

Sudut
0o 2o
0o 5o
0o 10o
10o 30o
30o 60o
60o 90o

F
FF
Dead End
0o 45o
G
GG
Transposision
C. Klasifikasi Menara Transmisi Berdasarkan
Fungsinya
Menurut fungsinya, tower dibagi atas tujuh
macam, yaitu:
1. Dead End Tower
Merupakan tiang akhir yang berlokasi di
dekat Gardu Induk, tower ini hampir
sepenuhnya menanggung gaya tarik.
2. Section Tower
Merupakan tiang penyekat antara
sejumlah tower penyangga dengan
sejumlah tower penyangga lainnya
karena
alasan
kemudahan
saat
pembangunan
(penarikan
kawat),
umumnya mempunyai sudut belokan
yang kecil.
3. Suspension Tower
Merupakan tower penyangga yang
hampir sepenuhnya menanggung gaya
berat, umumnya tidak mempunyai sudut
belokan.
4. Tension Tower
Merupakan tower penegang yang
menanggung gaya tarik yang lebih besar
daripada
gaya
berat
umumnya
mempunyai sudut belokan.
5. Transposision Tower
Merupakan
tower
tension
yang
digunakan sebagai tempat melakukan
perubahan posisi kawat fasa guna
memperbaiki impedansi transmisi.
6. Gantry Tower
Merupakan tower berbentuk portal
digunakan pada persilangan antara dua
saluran transmisi. Tiang ini dibangun di
bawah saluran transmisi existing.
7. Combined Tower

Merupakan tower yang digunakan oleh


dua buah saluran transmisi yang berbeda
tegangan operasinya.

3.

Gambar 3 Tower tipe suspensi (kiri) dan


tension (kanan).
D. Klasifikasi Menara Transmisi Berdasarkan
Konfigurasinya
Menurut konfigurasi kawat fasa, tower
dikelompokkan atas:
1. Triangle Arrangement: sirkuit tunggal
tiga phasa dengan satu earth wire.
2. Delta (Horizontal Arrangement) : sirkuit
tunggal tiga phasa dengan dua earth
wire.
3. Piramide (Vertical Arrangement) :
sirkuit dobel, dua kali tiga phasa dengan
satu earth wire.
4. Piramide (Vertical Arrangement) :
sirkuit dobel, dua kali tiga phasa dengan
dua earth wire.

1.

2.

4.

Gambar 4 Jenis tower berdasarkan


konfigurasinya
E. Klasifikasi Menara Transmisi Berdasarkan
Bahannya
Berdasarkan bahannya, menara listrik dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tiang baja : Lattice dan Pole
2. Tiang beton
3. Tiang kayu

V. KOMPONEN PADA MENARA


TRANSMISI
Secara, umum suatu menara atau tower
listrik terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
1. Pondasi, yaitu suatu konstruksi beton
bertulang untuk mengikat kaki tower (stub)
dengan bumi..
2. Stub, bagian paling bawah dari kaki tower,
dipasang bersamaan dengan pemasangan
pondasi dan diikat menyatu dengan
pondasi.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Leg, kaki tower yang terhubung antara stub


dengan badan menara. Pada tanah yang
tidak rata perlu dilakukan penambahan atau
pengurangan tinggi leg sedangkan badan
menara
harus
tetap
sama
tinggi
permukaannya.
Cross Arm, bagian menara yang berfungsi
untuk tempat menggantungkan atau
mengaitkan isolator kawat fasa serta clamp
kawat petir. Pada umumnya cross arm
berbentuk segitiga kecuali menara jenis
tension yang mempunyai sudut belokan
besar berbentuk segi empat.
Common Body, badan menara bagian
bawah yang terhubung dengan leg dengan
badan menara bagian atas (super structure).
Kebutuhan tinggi menara dapat dilakukan
dengan pengaturan tinggi common body
dengan cara penambahan atau pengurangan.
Super Structure, badan menara bagian atas
yang terhubung dengan common body dan
cross arm kawat fasa maupun kawat petir.
Pada menara jenis delta tidak dikenal istilah
super structure namun digantikan dengan
K frame dan bridge.
K frame, bagian menara yang terhubung
antara common body dengan bridge
maupun cross arm. K frame terdiri atas
sisi kiri dan kanan yang simetri. K frame
tidak dikenal di menara jenis piramid.
Bridge, penguhubung antara cross arm kiri
dan cross arm tengah. Bridge tidak dikenal
di menara jenis piramid.
Rambu Tanda Bahaya, berfungsi untuk
memberi peringatan bahwa instalasi
SUTT/SUTET mempunyai resiko bahaya.
Rambu ini bergambar petir dan tulisan
AWAS
BERBAHAYA TEGANGAN
TINGGI. Rambu ini dipasang di kaku
menara lebih kurang 5 meter di atas tanah
sebanyak dua buah, dipasang di sisi yang

10.

11.

12.

13.

menghadap menara nomor kecil dan sisi


yang menghadap nomor besar.
Rambu Identifikasi Tower dan Penghantar
atau
Jalur,
berfungsi
untuk
memberitahukan identitas menara seperti:
nomor menara, urutan fasa, penghantar atau
jalur dan nilai tahanan pentanahan kaki
menara.
Anti-Climbing Device (ACD), berfungsi
untuk menghalangi orang yang tidak
berkepentingan untuk naik ke menara. ACD
dibuat runcing, berjarak 10 cm dengan yang
lainnya dan dipasang di setiap kaki menara
di bawah rambu tanda bahaya.
Step Bolt, baut panjang yang dipasang dari
atas ACD ke sepanjang badan menara
hingga super structure dan arm kawat petir.
Berfungsi untuk pijakan petugas sewaktu
naik maupun turun dari menara.
Halaman Tower, daerah tapak menara yang
luasnya diukur dari proyeksi ke atas tanah
galian pondasi. Biasanya antara 3 hingga 8
meter di luar stub tergantung pada jenis
menara

VI. ANALISA PENGARUH PERTANAHAN


Data Pada Jenis Tanah Rawa

Data Pada Jenis Tanah Liat

Data Pada Jenis Pasir Basah

maka nilai tegangan lebih yang ditimbulkan


oleh sambaran petir akan semakin besar.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Data Pada Tanah Berbatu

Data Pada Kerikil Basah

VII. KESIMPULAN
Menara transmisi merupakan salah satu
komponen dalam suatu sistem penyaluran
tenaga listrik. Menara transmisi terbagi atas
beberapa jenis dan klasifikasinya yang
digunakan untuk menyesuaikan dengan kondisi
permukaan dan letak menara tersebut. Pada
menara
transmisi,
kawat
konduktor
dihubungkan melalui isolasi untuk mengurangi
efek terhadap lingkungannya.
Meskipun kawat konduktor pada menara
transmisi terbuat dari baja biasa, namun pada
kawat tersebut terdapat tiga parameter saluran
yaitu; resistansi, induktansi dan kapasitansi.
Tegangan lebih yang disebabkan oleh
sambaran petir, nilainya dipengaruhi oleh
besarnya nilai resistansi pentanahan dari suatu
menara transmisi. Apabila nilai resistansi
pentanahan dari menara transmisi semakin besar

Pramono, Joko. 2010. Transmisi Tenaga Listrik.


Depok
Alishemeri, dkk. 2008. Teknik Transmisi Tenaga
Listrik Jilid I. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Central Station Engineers of the Westinghouse
Electric Corporation. 1964. Electrical
Transmission and Distribution Reference
Book. Texas
Rezkyan Nash, Putra. 2008. Proceeding
Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik
Elektro FTI-ITS. Surabaya