Anda di halaman 1dari 6

PENGOBATAN SISTEMIK PADA TINEA KORPORIS ET KRURIS:

SEBUAH LAPORAN KASUS


Anak Agung Ayu Agung Pramaswari, S.Ked
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

ABSTRAK
Hanya sebagian kecil golongan jamur yang dapat menimbulkan penyakit, dan sebagian
besar lainnya tidak bersifat patogen. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang
mengandung zat tanduk yang disebabkan golongan jamur dermatofita. Pada laporan
kasus ini disajikan kasus dermatofitosis yaitu tinea korporis et kruris yang diobati
dengan terapi topikal dan sistemik. Pertimbangan pemberian pengobatan sistemik pada
pasien ini adalah bahwa telah terjadi perluasan lesi. Terapi topikal pada pasien ini
berupa Fungoral yang mengandung ketokonazol 1 x 200 mg selama 2 minggu.
Ketokonazol merupakan obat golongan azol yang bekerja dengan menghambat enzim
lanosterol 14-alpha-demethylase, yang berfungsi mengubah lanosterol menjadi
ergosterol, suatu komponen penting dari dinding sel jamur. Kerusakan membran sel
jamur tersebut terjadi karena meningkatnya permeabilitas dan ketidakmampuan sel
untuk bereproduksi, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Pasien juga disarankan
untuk memperbaiki perilaku hidup seperti menghindari penggunaan pakaian yang panas
(karet, nilon) meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan kontrol setelah 2 minggu
untuk menilai keadekuatan terapi.
Kata kunci: tinea korporis, tinea kruris, diagnosis, pengobatan sistemik

PENDAHULUAN
Dermatofitosis adalah penyakit pada
jaringan yang mengandung zat tanduk,
misalnya stratum korneum pada
epidermis, rambut, dan kuku, yang
disebabkan golongan jamur dermatofita
(Trichophyton spp, Microsporum spp,
dan Epidermophyton spp). Ketiga genus
jamur ini bersifat mencerna keratin atau
zat tanduk yang merupakan jaringan
mati dalam epidermis (Tinea korporis,
Tinea kruris, Tinea manus et pedis),
rambut (Tinea kapitis), kuku (Tinea
unguinum).1 Oleh karena satu spesies
dermatofita
dapat
menyebabkan
kelainan yang berbeda-beda pada satu
individu tergantung dari bagian tubuh
yang dikenai, dan sebaliknya berbagai
jenis dermatofita dapat menyebabkan
kelainan yang secara klinis sama
apabila mengenai bagian tubuh yang
sama, maka dari itu klasifikasi
dermatofitosis lebih didasarkan pada
regio anatomis yang terkena dari jamur
penyebabnya, walaupun sebenarnya
pendekatan kausatif lebih rasional.2
Hanya sebagian kecil golongan jamur
yang dapat menimbulkan penyakit, dan
sebagian besar lainnya tidak bersifat
patogen, namun dapat menjadi patogen
apabila
terdapat
faktor-faktor
predisposisi tertentu baik fisiologis
maupun
patologis.
Faktor-faktor
predisposisi
fisologis
meliputi
kehamilan dan umur, sedangkan yang
termasuk faktor predisposisi patologis
adalah keadaan umum yang jelek,
penyakit tertentu, iritasi setempat, dan
pemakaian obat-obat tertentu seperti
antibiotika,
kortikosteroid
dan
2
sitostatik.

dengan keluhan utama Gatal pada paha


kanan dan kiri, bokong kanan, pubis,
perut bagian bawah, dan tangan kanan.
Penderita mengeluh gatal pada paha
kanan sejak 2 bulan yang lalu. Pada
paha awalnya ditemukan adanya bercak
merah berbentuk bulat yang kemudian
menyebar ke paha kiri, pubis, bokong,
perut bagian bawah, dan tangan kanan.
Rasa gatal dirasakan pada bercak
bercak ini. Bercak merah ini muncul
secara tiba tiba pada pagi hari dan
semakin lama semakin melebar.
Keluhan gatal dirasakan semakin berat
jika pasien berkeringat. Keluhan gatal
agak mereda jika pasien menggaruk
bercak tersebut.
Pasien tidak mengeluh adanya demam,
nyeri, maupun rasa panas pada bercak
merah ini. Pasien biasanya menggunakan salep Kacuang (tidak diketahui
kandungannya) yang dibeli di warung
terdekat untuk menghilangkan rasa
gatalnya. Saat ini salep tersebut susah
diperoleh di pasaran sehingga pasien
memutuskan untuk berobat ke rumah
sakit. Pasien belum pernah berobat ke
Puskesmas ataupun RS sebelumnya
terkait dengan keluhannya ini.

ILUSTRASI KASUS

Penderita tidak pernah mengalami


penyakit yang sama sebelumnya. Pasien
juga tidak memiliki riwayat penyakit
berat dan kronis seperti hipertensi,
diabetes mellitus, tuberkulosis, atau
asma. Serta tidak ada keluarga penderita
yang memiliki keluhan yang sama.
Penderita tidak memiliki riwayat alergi
terhadap obat ataupun makanan
tertentu. Pada keluarga disangkal
adanya riwayat atopi seperti asma,
dermatitis alergika maupun rhinitis
alergika. Keadaan sosial ekonomi
pasien dikatakan cukup baik.

Pasien laki-laki, 48 tahun, suku Bali,


datang ke Poliklinik Kulit Kelamin
RSUD Buleleng Singaraja (18/11/2013)

Pada pemeriksaan fisik umum, status


present dan status general dalam batas
normal. Pemeriksaan status lokalis
2

dermatologi pada paha kanan dan kiri,


bokong kanan, pubis, perut bagian
bawah, dan tangan kanan didapatkan
makula eritema multipel, bentuk bulat,
ukuran bervariasi dengan diameter
terkecil 1,5 cm dan diameter terbesar 6
cm, batas tegas, susunan diskret,

distribusi bilateral, tampak central


healing dan tepi lesi aktif dengan papulpapul eritema diatasnya (Gambar 1).
Pemeriksaan menggunakan KOH 10%
menunjukkan hasil yang positif dengan
adanya spora (Gambar 2).

Gambar 1. Gambaran Lesi pada Pasien

Gambar 2. Hasil Pemeriksaan KOH 10%


Pasien didiagnosis dengan tinea
korporis et kruris dengan perencanaan
penanganan sistemik dan topikal, serta
pasien diedukasi untuk mencegah
berulangnya penyakit ini. Pasien
diminta untuk kontrol 2 minggu
kemudian.

DISKUSI
Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa
penderita mengeluh gatal pada paha
kanan sejak 2 bulan yang lalu. Rasa
gatal dirasakan pada bercak bercak
merah yang awalnya hanya muncul
pada paha namun kemudian menyebar
ke paha kiri, pubis, bokong, perut
3

bagian bawah, dan tangan kanan.


Bercak merah ini muncul secara tiba
tiba pada pagi hari dan semakin lama
semakin melebar. Keluhan gatal
dirasakan semakin berat jika pasien
berkeringat.
Keluhan
gatal
ini
merupakan keluhan utama yang
diakibatkan oleh inf eksi jamur
khususnya dermatofitosis, dimana Tinea
korporis
dan
kruris
termasuk
didalamnya. Penyakit ini berjalan
perlahan-lahan, sehingga butuh waktu
lama
untuk
mendapatkan
suatu
gambaran lesi dengan diameter yang
besar. Jamur penyebab tinea korporis
dapat menyebar lewat kontak langsung
maupun tidak langsung. Pada pasien
lesi awal ditemukan pada paha dan
kemudian menyebar ke bagian tubuh
lain kemungkinan akibat kontak tidak
langsung yakni lewat pakaian pasien.
Rasa gatal yang biasanya memberat
pada saat berkeringat diakibatkan oleh
karena saat berkeringat kondisi kulit
menjadi
lembab
sehingga
memungkinkan jamur untuk tumbuh
dengan baik.
Berdasarkan
pemeriksaan
fisik
didapatkan
adanya
lesi
dengan
efloresensi berupa makula eritema
multipel,
bentuk
bulat,
ukuran
bervariasi dengan diameter terkecil 1,5
cm dan diameter terbesar 10 cm, batas
tegas, susunan diskret, distribusi
bilateral, tampak central healing dan
tepi lesi aktif dengan papul-papul
eritema diatasnya. Bentuk dan sifat lesi
ini
sesuai
dengan
teori
yang
menyebutkan bahwa tinea korporis
memiliki gambaran lesi dengan bentuk
anular/polisiklik dengan central healing
dan tepi aktif. Infeksi jamur terjadi
secara
sentrifugal
sehingga
pelebarannya terlihat seperti lingkaran
yang semakin lama semakin lebar.
Dermatofita hidup dengan memperoleh
nutrien dari jaringan kulit yang

mengandung keratinosit. Organisme ini


akan
bemigrasi
untuk
mencari
keratinosit
pada
jaringan
kulit
sekitarnya saat persediaan keratinosit di
lokus infeksi awal sudah habis. Hal
inilah yang menjelaskan fenomena
central healing. Tepi lesi aktif
(peradangan pada tepi lebih nyata
daripada daerah tengahnya), ditutupi
skuama dan kadang-kadang dengan
beberapa papul.1 Tepi lesi mengandung
jamur yang aktif sehingga tanda tanda
radang seperti eritema, peninggian kulit
(papul, plak) dapat ditemukan. Skuama
merupakan sel epitel yang telah mati
akibat infeksi dari jamur itu sendiri.
Bila penyakit ini menjadi menahun,
dapat berupa bercak hitam disertai
sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan
biasanya akibat garukan.
Pemeriksaan
penunjang
yang
diperlukan untuk pasien ini berupa
pemeriksaan KOH 10 %. KOH
berfungsi untuk melisiskan kulit, kuku,
dan rambut sehingga bila mengandung
jamur, akan terlihat hifa atau spora di
bawah
mikroskop.
Dari
hasil
pemeriksaan penujang KOH 10%
ditemukan spora. Hal ini menunjukkan
bahwa infeksi kulit tersebut disebabkan
oleh jamur penyebab Tinea kruris dan
korporis.
Pada pasien ini penatalaksanaan yang
dilakukan adalah dengan memberikan
pengobatan secara topikal dan sistemik.
Pertimbangan pemberian pengobatan
sistemik pada pasien ini adalah bahwa
telah terjadi perluasan lesi ke bagian
tubuh lain, yakni paha kiri, bokong,
pubis, perut bagian bawah, dan tangan
kanan. Kemungkinan adanya resistensi
terhadap
pengobatan
juga
dipertimbangkan.
Obat topikal yang diberikan adalah
kombinasi asam salisilat 3%, asam
benzoat 6%, mycosid (ketokonazol) 15
4

gram ditambahkan vaseline album ad 30


gram yang dioleskan dua kali sehari,
obat tersebut diberikan selama
2
minggu. Obat sistemik yang diberikan
adalah Fungoral yang mengandung
ketokonazol 1 x 200 mg selama 2
minggu dan interhistine.
Asam salisilat 3% bersifat keratolitik
dan dipakai untuk keadaan dermatosis
yang hiperkeratotik. Selain itu asam
salisilat 3% bersifat membantu absorbsi
per kutan zat-zat aktif. Asam benzoat
merupakan zat antiseptic terutama
fungisidal. Ketokonazol merupakan
obat golongan azol. Obat tersebut
bekerja dengan menghambat enzim
lanosterol 14-alpha-demethylase, yang
berfungsi mengubah lanosterol menjadi
ergosterol, suatu komponen penting dari
dinding sel jamur. Kerusakan membran
sel jamur tersebut terjadi karena
meningkatnya
permeabilitas
dan
ketidakmampuan
sel
untuk
bereproduksi, sehingga menyebabkan
kematian
sel
jamur.
Interhistin
merupakan golongan antihistamin yang
bekerja sebagai antagonis reseptor H1
dan pemberiannya ditujukan untuk
meredakan gejala gatal pada pasien.4
Pasien
juga
disarankan
untuk
memperbaiki perilaku hidup seperti
menghindari penggunaan pakaian yang
panas (karet, nilon), disarankan untuk
memakai pakaian yang menyerap
keringat dan menghindari berkeringat
yang berlebihan karena keringat
merupakan pemicu perkembangbiakan
jamur, meningkatkan kebersihan diri
dan lingkungan dan memperbaiki
ventilasi rumah mengingat kondisi
lingkungan yang kotor dan lembab juga
dapat
memicu
perkembangbiakan
jamur, dan yang terakhir berupa kontrol
setelah 2 minggu untuk menilai
keadekuatan terapi.

Prognosis dari dermatofita bergantung


pada bentuk klinis, penyebab spesies
dermatofita dan hospesnya sendiri,
termasuk sosial budaya dan status
imunologisnya.5 Tapi pada umumnya
prognosis penyakit ini adalah baik.1,2,4
DAFTAR PUSTAKA
1. Budimulja U. Mikosis. Dalam:
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. 2007; 89-105.
2. Havlickova B, Czaika VA, Friedrich
M. Epidemiological trends in
mycoses worldwide. Mycoses.
2008; 51(4): 2-15
3. Hainer
BL.
Dermatophyte
infections. Am Fam Physician.
2003; 67(1): 101-9
4. Woodfolk
JA.
Allergy
and
Dermatophytes. Clin Microbiol Rev.
2005; 18(1): 30-43
5. Lesher JL. Tinea Corporis. Dikutip
dari:
http://www.emedicine.com/article/1
091473-workup.
Diakses
pada
tanggal 19 November 2013.
6. Pariser D, Opper C. An in-office
diagnostic procedure to detect
dermatophytes in a nationwide
study of onychomycosis patients.
Manag Care. 2002; 43-50
7. Duarsa NW, Pindha S, Bratiartha M,
Adiguna MS, Wardhana M,
Darmada GK, Wiraguna GP, dkk.
Pedoman diagnosis dan terapi
penyakit kulit dan kelamin RSUP
Denpasar. Lab/SMF Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana.
2007. 16-18

8. Komite Medik RSUP Sanglah.


Standar prosedur operasional rawat
jalan kulit dan kelamin. 2011