Anda di halaman 1dari 19

ETOS KERJA ORANG BUGIS

(Studi Kasus di Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan , Kabupaten Pohuwato)


1

Oleh
Tami Kaani, Rauf A. Hatu *, Farid Th. Musa**
Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Gorontalo
Email : sriendangmohi@rocketmail.com
ABSTRAK

Sri Endang Mohi. 2015. Etos kerja orang bugis (Studi kasus pada penambak
empang) .Skripsi, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo,
Bapak Rauf A. Hatu, M.Si selaku pembimbing I dan Bapak Farit Th. Musa, S.Sos., MA
selaku pembimbing II.
Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengungkapkan permasalahan tentang Etos Kerja
Orang Bugis Pada Penambak Empang. Adapun yaang menjadi tujuan dalam penulisan ini
adalah untuk mengetahui bagaimana Etos Kerja Orang Bugis yang bermigrasi di Desa
Siduwonge dan Faktor-faktor apakah yang menyebabkan etos kerja etnis Bugis sebagai
penambak di Desa Siduwonge. Instrumen pengumpulan data yang penulis gunakan dalam
penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi sehingga data yang di dapatkan
benar-benar akurat sesuai dengan kebutuhan peneliti. Sedangkan analisis data yang di
gunakan yaitu analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa Etos Kerja Orang
Bugis pada Penambak Empang yakni pengelolaan tambak, jam kerja dan tingkat pendidikan
penggarap merupakan etos kerja dari Orang Bugis. Dalam hal etos kerja Bugis tentunya hal
ini telah dijalankan dengan baik namun tentunya di pengaruhi oleh faktor lain pula yakni adat
dan prinsip orang bugis, tingkat pendidikan dan pekerjaan, modal, produksi perpanen dan
pemasaran serta penguasaan lokasi merupakan hal yang mendorong serta mempengaruhi etos
kerja tersebut.

Kata Kunci : Etos Kerja, Orang Bugis, Penambak Empang

Sri Endang Mohi, 281411099, Jurusan S1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Dr Rauf A. Hatu M. Si,
Farid Th. Musa S. Sos., MA

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat budaya etnis di dalamnya. Selain
itu sumber daya alam yang melimpah menjadi sumber kehidupan dan pekerjaan bagi
masyarakatnya. Seperti komunitas manusia Nusantara pada umumnya, maka orang-orang
Bugis-pun memiliki identitas dan itu terbentuk dalam proses yang panjang. Penelusuran ke
masa terjauh proses pembentukan manusia Bugis, bisa diperoleh dari segala penjuru. Para
ilmuan dalam konteks Sejarah Manusia Bugis seperti menemukan kotak harta karun sejarah
yang berserak. Mengenal Bugis dari zaman ke zaman, adalah mengenal percampuran antara
legenda, mitos, karya susatera, petualangan, kerajaan klasik, dan tentu saja Islamisasi.
Dengan dikenalnya orang bugis sebagai penjelajah maka berbagai bentuk pengeloaan
alam dilakukan untuk memperoleh perekonomian yang memadai bagi masyarakatnya. Bagi
masyarakat Indonesia mengelolah tambak merupakan pekerjaan yang sering didengar dan
lumrah di lingkungan masyarakat. Namun, bagi masyarakat yang ada di Desa Siduwonge
Kecamatan Randangan Kabupaten Pohuwato, tambak kini menjadi hal yang diburuh saat ini.
Inilah pekerjaan yang saat ini menghiasi Kecamatan Randangan khususnya Desa Siduwonge.
Masyarakat lokal Desa Siduwonge umumnya bekerja sebagai petani. Tetapi untuk beberapa
saat mereka pernah mengolah tambak di Desa Siduwonge, setelah kedatangan orang Bugis
lahan tambak tersebut telah beralih status dan pengelolaannya. Hal ini di karenakan banyak
orang gorontalo yang tidak mengetahui cara dari mengelolah tambak tersebut di bandingkan
orang bugis. Sehingganya saat ini bukan hanya terdapat masyarakat Gorontalo di Desa
Siduwonge namun terdapat migran Bugis. Kini di Desa Siduwonge terdapat dua (2) dusun
yang masyarakatnya adalah masyarakat Bugis.
Struktur masyarakat yang ada di Desa Siduwonge tidak bisa lepas dari sistem budaya,
bahkan budaya yang ada pada masyarakat saat ini adalah sesuatu yang baru dari pola budaya
yang ada di Desa Siduwonge. Hal ini terjadi karena adanya budaya di pemukiman tertentu di
antara masyarakat lokal Desa Siduwonge. Budaya ini menjadi nilai yang diterapkan dalam
bekerja bahkan menjadi ciri khas dalam masyarakat Bugis. Kearifan lokal ini tetap terjaga
meskipun Orang Bugis ini hanya merupakan pendatang di Desa Siduwonge untuk
mendapatkan kesempatan ekonomi yang lebih maju, masyarakat ini mengolah tambak
dengan memadupadankan nilai-nilai budaya ataupun skill dalam mengelolah tambak serta
ditekankan pada pengalaman hidup dan etos kerja yang ada pada etnis Bugis.
Kini Desa Siduwonge menjadi wilayah migran Bugis untuk tinggal. Terhitung
migran Bugis menduduki 2 Dusun yang ada di Desa Siduwonge dan mereka kini menetap di
dusun tersebut. Adapun mereka kembali ke kampung halamannya ketika panen selesai atau
ketika hendak membawa hasil tambak yang mereka peroleh ke kampungnya untuk dijual.
Harga ikan dari hasil tambak empang ini ternyata cukup fantastik dan harga ini ternyata
disesuaikan dengan ukuran ikan, semakin besar ikan semakin mahal pula harganya. Orang
Bugis merupakan orang perantau yang memiliki budaya antaranya siri yang artinya memiliki
malu dan dimaksudkan agar setiap perantau pulang harus lebih kaya.2
Budaya bagi orang Bugis tidak serta merta tertinggal di tempat asalnya kini banyak
terlihat budaya dan adat tersebut tetap eksis meskipun orang Bugis ini berada dilingkungan
masyarakat Gorontalo. Ada simbol-simbol yang tetap terjaga dan dipertahankan sampai
dengan kini. Masyarakat yang ada bukan hanya migran Bugis yang bertambak namun ada
masyarakat lokal (Gorontalo) yang bekerja sebagai petani. Bagi orang Bugis ritual adat tetap
2

Sumber (Editor) Mochtar Buchori Pandangan Budaya Daerah dan Pembinaan Masyarakat Pancasila :
Laporan dari Empat Daerah. Jakarta : lembaga ilmu pengetahuan indonesia (1985) dalam Sajogyo dan
Sajogyo (2002). Sosiologi Pedesaan (jilid satu.) Yogyakarta: Gadjah MadaUniversitas Press hal: 19

dilakukan dan adat tersebut meskipun beragam yang ada di Desa Siduwonge. Melakukan hal
semacam itu tentunya karena didorong oleh komunitas yang mendukung dan penguasaan
lahan tambak serta pemukiman yang ditinggali menjadi menonjol dengan dipegang oleh
orang Bugis dalam setiap melakukan pekerjaan. Namun hal ini menjadi batasan untuk lepas
dari adanya hubungan antara orang Bugis dan masyarakat lokal yang ada di Desa Siduwonge
untuk membina hubungan yang baik.
Berdasarkan latar belakang di atas maka adapun yang menjadi rumusan masalah
yaitu:
1. Bagaimana etos kerja orang Bugis di Desa Siduwonge?
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan etos kerja etnis Bugis sebagai penambak
di Desa Siduwonge?
KAJIAN TEORI
2.1

Etos Kerja dan Pandangan Hidup Bugis


Kata etos menurut CliffordGeertz adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan
dunia yang dipancarkan hidup etos adalah aspek evaluatif, yang bersifat menilai. Etos kerja
adalah nilai-niali yang keluar dari hasil kerja baik itu buruk dan baik3. Manusia dan
masyarakat dalam menyelenggarakan kehidupannya,menunjukkan bahwa mereka memiliki
etos dan pandangan hidup yang menjadi pedoman dalam segala aktivitas kehidupannya
(Geertz dalam Tarimana,1989) serta sebagai suatu sistem nilai sosial budaya yang
mengakibatkan hal-hal yang baik dan buruk, yang indah dan yang jelek, dan yang benar dan
salah.4
Orang Bugis memiliki adat budaya tertentu dalam melakukan segala jenis
usaha.Sementara Marwah Daudmengemukakan bahwa manusia Bugis tidak melihat adanya
perbedaan gender antara perempuan dan laki-laki. Sedangkan MochtarPabotingimelihat sifat
baik manusia Bugis secara universal.5
Memahami pola tingkah laku orang bugis serta budaya bugis Makassar hanya
mungkin dengan konsep mereka tentang pengendereng (Panngadakkang dalam bahasa
Makassar) dan Siri. Panngandereng sebagai suatu ikatan utuh sistem-nilai yang memberikan
kerangka acuan hidup bermasyarakat orang-orang Bugis Makassar serta sirisebagai sikap
hidup yang sangat mementingkan harga diri ternyata telah mampu melandasi kebudayaaan
(dan mengikatnya dalam suatu ikatan sistem) dari dua suku bangsa yang terpenting yang
menghuni jazirah Sulawesi selatan.6
Ada berbagai adat yang mengatur pola hidup dari etnis Bugis baik dari segi
perkawinannya, berbicara, bahkan dalam merantau ada adat dan budaya yang dipegang teguh
dalam hidupnya. Dalam bermukimpun orang Bugis memberikan ciri khasnya tersendiri agar
dapat dikenal oleh orang lain.7
3

Lihat dalam Taufik Abdullah (1978:3)Etos Kerja dan Perkembangan Perekonomian. Jakarta:LP3ES
Lihat dalamLa Janu. (2010) Etos dan Pandangan Hidup Komunitas Nelayan Bugis DalamKehidupan Sosial
Ekonomi (Studi Kasus Di Kelurahan Tondonggeu Kecamatan Abeli Kota Kendari Provinsi Sulawesi
Tenggara). Forum Ilmu Sosial, Vol. 37 No. 2
5
lihat dalam Kalla (2009) Orang Bugis. www.sempugi.com/2009/12/etos-kerja-bugis.html(diakses 13
November 2014)
6
lihat dalamSajogyo dan Sajogyo (2002:9). Sosiologi Pedesaan. (jilid satu.) Yogyakarta: Gadjah
MadaUniversitas Press
7
Beddu Syarif, Akil Arifuddin, Wahidah Wiwik Osman dan Hamzah Baharuddin. (2011). Eksplorasi Kearifan
Budaya Lokal Sebagai Landasan Perumusan Tatanan Perumahan dan Permukiman Masyarakat Makassar.
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI
4

Seperti halnya orang Bugis yang bermukim di Desa Siduwonge dimana orang bugis
memiliki pandangan tersendiri dalam memilih tempat tinggalnya serta disesuaikan dengan
golongan ataupun strata sosialnya.Dalam membangun tempat tinggal orang bugis dapat
dikenal bentuk rumah yang di bangun serta dimana tempat tinggal yang dibangunnya. Ada
bebarapa perbedaan antara orang Bugis untuk memilih tempat tinggalnya ada yang memilih
tinggal dengan bermukim langsung di lokasi berjanya ada pula yang memilih untuk tinggal
dengan dengan masyarakat lokal dan hal itu karena golongan ataupun disesuaikan dengan
daerah asalnya dan sukunya.
Selain
itu banyak kebudayaan bugis yang menjadi acuan hidup
antaranyaPangadereng adalah sistem budaya dan sistem sosial yang dapat diartikan sebagai
keseluruhan kaidah yang meliputi cara-cara seseorang bertingkah laku terhadap sesama
manusia yang dapat mengakibatkan adanya gerak (dinamika) kehidupan bermasyarakat.
Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pangadereng merupakan wujud kebudayaan yang hadir
di tengah-tengah manusia untuk mengatur dan menjaga stabilitas kehidupan sosial
bermasyarakat.8
Manusia Bugis disebut-sebut sebagai penjelajah dan dengan ringan akan hijrah
meninggalkan kampungnya jika merasa tidak sesuai dengan pemimpin raja, namun di tempat
baru, orang Bugis selalu bisa menyatu melalui kawin-mawin.9
2.2
Strata Sosial Orang Bugis
Bagi sebagian orang Bugis menjadi Saudagar adalah pilihan profesi utamanya. Di
beberapa tempat, banyak saudagar Bugis yang maju dalam berusaha. Tentunya segala
kemajuan yang dicapainya itu berdasarkan hasil kerja kerasnya, bermandikan keringat dan air
mata.Lalu apa yang membuat orang Bugis selalu bekerja keras? ini dikarenakan Bugis adalah
salah satu suku yang paling banyak kebutuhannya. Orang Bugis ketika memasuki usia
dewasa ia berpikir untuk mulai menikah, dan pernikahan di Bugis tidak murah. Setelah
menikah tentunya ia berpikir untuk memiliki rumah dan kendaraan. Setelah itu tercapai
mereka mulai berpikir untuk naik Haji. Menjadi Haji adalah tujuan tertinggi dari
orangBugis.Setelah itu tercapai, maka kebutuhannya kembali lagi ke dasar dan ingin menikah
lagi, mulai lagi punya rumah baru, kendaraan baru, naik Haji lagi dan begitu seterusnya.
Karena kebutuhan yang tinggi itulah yang membuat orang Bugis memiliki etos kerja keras.10
Selain merupakan ibadah wajib dan rukun Islam, haji juga telah menjadi sebuah
sistem simbol yang kompleks. Seorang yang sudah melaksanakan ibadah haji secara
otomatis akan mendapatkan sebuah penghargaan sosial dari masyarakat atas kehajiannya
sehingga karenanya ia harus menyesuaikan perilakunya dengan status sosial baru itu. Dengan
statusnya sebagai haji, seorang haji menjadi golongan atas dalam masyarakat.
2.3
Perekonomian Tambak
Para petambak empang ini ada yang memilih untuk tinggal di area pertambakan ada
pula yang tinggal diperkampungan dengan masyarakat yang lain. Hal ini tentunya karena
suku dari orang Bugis ini m emiliki pandangan hidup dan didasarkan pada daerah asal,
pengalaman bersama dan memulai usaha yang sama dan disesuiakan dengan tradisi dalam
pemilihan tempat tinggal.
Meskipun diantara sesama etnis mereka ada yang bekerja kepada orang Bugis
sebagai buruh atau menjaga tambak ikan tersebut, ketika belum ada pekerjaan yang mereka
kerjakan sementara waktu pada orang Bugis, maka mereka tidak akan beralih pada pekerjaan
yang lainnya. Namun hal inipun mereka kondisikan dengan waktu, misalnya bertepatan
8

Latif, Syarifuddin. (2012) Meretas Hubungan Mayoritas-Minoritas Dalam Perspektif Nilai Bugis. Jurnal AlUlum Volume. 12,Nomor 1
9
Pelras (2010) sedangakan Menurut George Junus Aditjondro (2010) manusia Bugis itu adalah orang-orang
serius, sangat disiplin bekerja, dan sangat menjunjung tinggi kehormatan mereka
10
Kalla. (2009). Orang Bugis. www.sempugi.com/2009/12/etos-kerja-bugis.html

dengan waktu waktu pergantian air ataupun yang lainnya. Orang Bugis ini tidak hanya
bekerja sebagai petambak. Mereka memiliki pekerjaan lain, mereka terdaftar sebagai pegawai
ataupun tergabung dalam suatu kelembagaan, dan empang yang dimilikinya orang lain lain
yang mengolah dengan diberikannya upah dan biaya hidup untuk para buruh tersebut
diberikan.
Menurut Subade and Abdullah (1993) bahwa nelayan tetap tinggal pada industri
perikanan karena rendahnya opportunity cost mereka.Opportunity cost nelayan,menurut
definisi,adalah kemungkinan atau alternatif kegiatan atau usaha ekonomi lain yang terbaik
yang dapat diperoleh selain menangkap ikan. Dengan kata lain,opportunity
cost adalahkemungkinan lain yang bisa dikerjakan nelayan bila saja mereka tidakmenangkap
ikan. Hal ini misalnya seperti yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada dekat area
tambak ada di antara mereka yang menggunakan air tambak dan mereka kelolah menjadi
garam dan ada pula yang pergi menangkap ikan di danau sekitar tambak untuk mereka jual.
Bilaopportunity cost rendah maka nelayan cenderung tetap melaksanakan usahanya meskipun
usaha tersebut tidak lagi menguntungkan dan efisien.Ada juga argumen yang mengatakan
bahwaopportunity cost nelayan, khususnya di negara berkembang, sangat kecil dan
cenderung mendekati nihil. Bila demikian maka nelayan tidak punya pilihan lain sebagai
mata pencahariannya. Dengan demikian apa yang terjadi, nelayantetap bekerja sebagai
nelayan karena hanya itu yang bisa dikerjakan.11
Sedangkan Panayotou (1982) mengatakan bahwa nelayan tetap mau tinggal dalam
kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a particular
way of life). Pendapat Panayotou ini dikalimatkan oleh Subade dan Abdullah (1993) dengan
menekankan bahwa nelayan lebih senang memiliki kepuasaan hidup yang bisa diperolehnya
dari menangkap ikan dan bukan berlaku sebagai pelaku yang semata-mata beorientasi pada
peningkatan pendapatan.
Senada dengan Panantou
Menurut Wahyudin (2003)
Meningkatnya produksi dan penerimaan bersih telah menyebabkan harga tambak menjadi
sangat tinggi, tetapi ini juga telah berperan terhadap lebih tingginya nilai sewa (rent) dan
kondisi bagi hasil.12
Menurut Mayudin (2012) dalam penelitiannya di lahan tambak di Kecamatan
Mandalle, Segeri dan Labakkang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan Kondisi ekonomi
masyarakat pesisir pasca konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak di Kecamatan
Mandalle, Segeri dan Labakkang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan dikategorikan baik
dan dapat diukur dari beberapa indicator. Kemudian Nilai total manfaat ekonomi mangrove
sebesar Rp.14.844.084 /ha/thn atau sekitar 1,6 kali lebih besar jika bandingkan dengan nilai
ekonomi tambak yang sebesar Rp.9.401.170 /ha/thn. Hal ini menunjukkan bahwa
hutanmangrove dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar bila dapat dikelola dengan
baik. Selain itu Kondisi ekonomi masyarakat pesisir pascakonversi hutan mangrove menjadi
lahantambak secaraumum meningkat50%.13.
Hal ini serupa dengan yang terjadi di Desa Siduwonge dimana lahan mangrove yang
luas itu dahulunya tidak menghasilakan ekonomi bagi masyarakat. Karena masyarakat belum
mengetahui pemanfaatan hutan mangrove tersebut. Tapi kini lahan mangrove itu telah
11

Lihat dalam Viktor Nikijuluw. 2013. Populasi dan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir serta
StrategiPemberdayaan Mereka Dalam Konteks PengelolaanSumberdaya Pesisir Secara Terpadu.
http://www.academia.edu/2385523/Aspek_Sosial_Ekonomi_Masyarakat_Pesisir_dan_Strategi_Pemberdayaan_
Mereka_dalam_Konteks_Pengelolaan_Sumberdaya_Pesisir_Secara_Terpadu(diakses 13 November 2014)
12

Lihat dalam Arif Mayudin. 2012. Kondisi Ekonomi Pasca Konversi Hutan MangroveMenjadi LahanTambak
Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan
13
Ibid

berubah menjadi tambak ikan yang menghasilkan ekonomi bagi masyarakat khususnya kini
bagi masyarakat pendatang Bugis. Meskipun tambak ikan tersebut bukan lagi menjadi milik
dari masyarakat lokal. Tambak ikan itu berpengaruh bagi kehidupan masyarakat. Dahulu
sebagian masyarakatnya beralih ke tambak ikan. Meskipunkini sebagian masyarakatnya
hanya bekerja sebagai buruh saja pada orang Bugis. Tambak tersebut kini banyak yang dijual
kepada migran Bugis, dan migran Bugis kini memegang 90% tambak ikan.
Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yakni sebagai berikut:
1. Teknik Observasi, yaitu melakukan pengamatan terhadap kondisi dan kegiatan
yang dilakukan oleh migran Bugis ditambak yang ada di Desa Siduwonge dan
hubungan antara migran Bugis dan masyarakat lokal yang ada disekitar lokasi
penelitian.
2. Teknik Wawancara, yaitu melakukan wawancara secara langsung dengan migran
Bugis yang melakukan usaha tambak, kemudian melakukan wawancara dengan
masyarakat lokal terhadap hubungan antara migran Bugis dan masyarakat sekitar.
Selain itu melakukan wawancara dengan pihak yang terkait ataupun aparat
pemerintah setempat terkait dengan keberadaan migran Bugis serta usaha tambak
yanga dikelolah tersebut.
Hasil Penelitian Dan Pembahasan
4.1
Gambaran Umum Lokasi
4.1.1 Sejarah Desa Siduwonge
1. Nama
Siduwonge berasal dari nama sebuah situ/danau kecil yang terdapat dipesisir
Kecamatan Randangan Kabupaten Pohuwato. Sejak dahulu kala Danau Siduwonge sudah
cukup dikenal oleh masyarakat di Kabupaten Pohuwato dan sekitarnya karena keunikannya
pada masa itu, dimana setiap musim kemarau, air laut yang ada didanau/situ tersebut
langsung berubah wujud menjadi garam yang putih bersih,sehingga setiap musim kemarau
situ/danau tersebut ramai dikunjungi oleh masyarakat dengan maksud ingin melihat dari
dekat keunikan danau tersebut sambil rekreasi menikmati indahnya alam
disekitarnya.Walaupun belum ada yang tau apa arti nama Siduwonge tersebut namun diakui
sejak dulu nama tersebut sudah menjadi nama wilayah yang sekarang ini telah menjadi
wilayah Desa Siduwonge.
4.1.2 Luas wilayah dan Batas-batasnya
Luas Wilayah Desa Siduwonge secara keseluruhan adalah 35 KM2,dengan batas-batas
sebagai berikut :
- Sebelah Utara
: Berbatasan dengan Desa Huyula.
- Sebelah Timur
: Berbatas dengan Sungai Malango / Desa Imbodu
- Sebelah Selatan
: Berbatas dengan Teluk Tomini
- Sebelah Barat
: Berbatas dengan Desa Patuhu.
4.1.5 Penduduk
Penduduk Desa Siduwonge terdiri dari 3 (tiga ) Suku Bangsa masing-masing: Suku
Gorontalo,Suku Bugis/Makassar dan Suku Sangir yang menganut 2(Dua) Agama yaitu
Agama Islam dan Agama Kristen.Adapun jumlah Penduduk pada awal dibentuknya Desa
Siduwonge adalah 215 KK dengan jumlah jiwa, laki-laki 503 jiwa,perempuan 495 jiwa.
Berdasarkan tabel diatas jumlah tempat tinggal yang mendominasi adalah masyarakat
lokal jika di jumlahkan secara keseluruhan. Namun hal ini tidak menyurutkan orang bugis
untuk berpindah lokasi membnagun tempat tingggal ke tempat lain.

4.1.6 Kawasan Tambak (Empang)


1. CA Tanjung Panjang
a. Letak
Secara geografis cagar alam tanjung panjang terletak pada 00 2528,93- 00301,90
Lintang Utara dan 12104427,60-1210470,44
Bujur Timur. Secara administratif
pemerintahan, kawasan Cagar Alam Tanjung Panjang terletak di Kecamatan Randangan
Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo.14
Gambar 2
Sumber Data

: Peta Kawasan Tambak


: Resort Kehutanan CA Tanjung Panjang Cabang Randangan 2014

b. Luas
Kawasan CA Tanjung Panjang mempunyai luas 3.000 Ha berdasarkan penetapan
Menteri Kehutanan melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 573/Kpts-11/1995 tanggal 30
Oktober 1995.

4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan


4.2.1 Etos Kerja Orang Bugis
Membicarakan etos kerja dari orang bugis adalah tidak lepas dari apa yang mereka
kerjakan.pekerjaan yang dilakukan oleh orang bugis memiliki nilai tertentu. Dimana
keberhasilan suatu pekerjaan menjadi tolak ukur dari kesusksesan seorang pengusaha dalam
bekerja misalnya dari usaha tambak yang di lakukan oleh orang bugis. Sebagaimana yang di
tuturkan oleh bapak Th bahwa orang bugis bekerja empang sudah banyak yang berhasil
berkat suatu kerja keras yang mereka lakukan.15
Sudah banyak orang bugis yang berhasil disini tapi ada yang punya empang tapi
menggunakan tenaga pengagarap/ buruh kerja ada juga yang pemilik tapi juga
menggarap langsung empangnya, ada orang bugis hanya jadi buruh saja tapi tetap
bertahan hidup di empang karena di panggil oleh yang punya empang dan juga tidak
punya kerja di selatan jadi merantau biar karja apapun diempang yang penting sudah
kerja.
Maksud dari bapak Th yakni kini sudah banyak orang bugis yang berhasil berkat
bekerja di empang, meskipun ada yang pemilik empang yang memakai tenaga kerja
adapula yang hanya menggarap dan ada juga yang sebagai pemilik dia kelolah sendiir
empang tersebut. Kebetulan orang yang menjadi buruh ataupun tenaga penggarap ini
adalah mereka yang diajak dan tidak memilik kerja di Selatan.
Berdasarkan hal di atas bahwa orang bugis telah banyak yang berhasil dengan
mengelolah empang. Keberhasilan inipun tak lepas dari peran para penggarap bagi yang
menggunakan tenaga penggarap.
Selain itu tenaga penggarap yang ada di empang ini yang mengajak kelurganya ikut ada
pula yang hanya pergi sendirian dan kelurganya di tinggalkan di selatan. Namun sekitar 70
KK yang tinggal di empang mengelolah empang baik sebagai pemilik pemggarap, sebagai
penggarap yang tinggal bersama dengan keluarganya.
14

Lihat dalam balai konservasi sumber daya alam sulawesi utara. 2013. Sosialisasi Hasil RAKOR CA Tanjung
Panjang resort CA Tanjung Panjang Kecamatan Randangan (5-15-2013)
15
Bapak Th merupakan orang bugis yang pernah bekerja di empang. saat ini beliau sebagai neelayan biasa.hal
ini terjadi karena pada saat mengelolah empang mengalami kebangkrutan karena mengalami gagal panen. Saat
ini empang yang pernah do kontraknya telah di kemblaikan pada pemiliknya dan saat ini beliau hanya menjadi
nelayan saja.

Gambar 6:Tempat tinggal penggarap sekaligus pemilik empang yang ada di DesaSiduwonge
Sumber : Foto Peneliti, 2015

Gambar di atas adalah bagaimana kondisi tempat tinggal yang dihuni oleh pemilik
dan sekaligus penggarap empang yang ada di Desa Siduwonge. Kalau dilihat rumah ini
termasuk dalam hunian yang kurang nyaman bagi masyarakat kebanyakan. Namun pada
kenyataaanya bagi orang Bugis rumah ini adalah tempat dari orang bugis untuk berteduhdan
istirahat pada malam hari. Hal ini kontras dengan hasil pendapatan yang mereka dapatkan
dalam panen bandeng untuk setiap tahunnya. Meskipun demikian hal ini tidak membuat para
pemilik serta penggarap empang untuk berhenti dari pekerjaan yang mereka geluti. Hal ini
seperti apa yang di ungkapakan oleh Panayotou (1982) mengatakan bahwa nelayan tetap mau
tinggal dalam kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu. Pendapat
Panayotou ini dikalimatkan oleh Subade dan Abdullah (1993) dengan menekankan bahwa
nelayan lebih senang memiliki kepuasaan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan
dan bukan berlaku sebagai pelaku yang semata-mata berorientasi pada peningkatan
pendapatan.16
Selain tempat tinggal yang kurang nyaman bagi mereka baik penggarap ataupun
pemilik dari empang ini terlihat kurang nyaman, kehidupan lain juga yang begitu
memprihatinkan di rasakan oleh tenaga penggarap khususnya. Kondisi kehidupan dari para
penggarap ternyata tak di butuhi oleh pemilik dari empang yang di kelolah oleh para
penggarap tersebut. Bahkan tenaga penggarap ini termasuk sulit memenuhi kebutuhan
hidupnya. Segala kebutuhan dari penggrap harus di penuhi sendiri ataupun di penuhi oleh bos
namun dengan syarat yang sudah ditentukan oleh pemilik empang tersebut. Sebagaimana
yang di ungkapakan oleh informan (MN) bahwa seperti inilah kehidupan penggarap empang :
Ya begitula caranya kita dengan adanya tuhan, ee kalau masala bos termasuk
diongkosi tapi termasuk ambilan, tidak ada itu penggara empan istilahnya CumaCuma dari bos harus dihitung pengambilan. Dihitung nanti habis panen kalau masi
ada saldo ataukah gali lubang tutu lubang begitu., makanya kita penggara kalau
memang depe bos tidak mampu melayani saya a lebe baik minggat. Kerna kita ini mo
makang mo hidup, apalagi saya punya anak so berapa sekolah semua, Saya punya
anak kalau dipikir satu hari 5.000 berapa 1 bulang itu tiap hari. Kalau tiga anak 15
000 perhari kalau sebulan bisa berapa? pokokny kalau bapak ini boleh dikata sepiring
berdua.
Maksud dari bapak MN adalah karena adanya Tuhannyalah sehingga sampai saat ini
kehidupanya masih tercukupi. Kalau hanya bos termasuk di biayai namun hal itu akan
di masukan dalam daftar hutang dan nantinya akan di ganti pada saat panen ketika
menerima gaji dari pemilik empang, itupun kalau dari hasil penen masih memiliki sisa
saldo. bagi mereka ketika seorang tidak mampu untuk membiayai meskipun itu masik
dalam daftar hutang maka lebih baik mereka akan pindah bos sebab mereka bekerja
untuk mencari kehidupan. Terlebih lagi baginya ia memiliki kelurga dan anak 3 orang
dan semua nak tersebut sekolah. Perhitungannya ketika seorang anak 5.000 berapa
16

Lihat dalam Arif Mayudin. 2012.Kondisi Ekonomi Pasca Konversi Hutan MangroveMenjadi LahanTambak
Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan

untuk sebulannya dan mereka memiliki 3 orang anak maka bis berapa sebulannya.
Sementara untuknya dan istrinya istilahnya bisa sepiring berdua.
Dari penuturan informan di atas dapat dikatakan kesulitan yang di alami oleh para
penggarap adalah tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapatkandengan upah yang
akan di bayarkan.

Gambar 7
:Aktivitas Para Penggarap Empang
Sumber Data: Foto peneliti, 2015

Berdasarkan gambar di atas seperti inilah yang dilakukan oleh para penggarap namun
apa yang mereka lakukan tidak seimbang dengan nilai upah yang di berikan oleh para pemilik
empang. Upah yang di berikan pun di sesuikan dengan keberhasila yang mereka dapatkan.
Bahkan kontrak untuk terus bekerjapun di tentukan oleh keberhasilan panen, ketika beberapa
hektar yang dijaga oleh penggarap empang mengalami gagal panen maka penggrap tersebut
akan berpindah bos ataupun kontrak kerjanya akan digantikan oleh orang lain sebagaimana
yang di tuturkan oleh informan BR;
Sistem jaganya bukan kontrak perbulan kalau penen berhasil berapa kali begitu
kontrak jaganya kadang diperpanjang tapi juga kalau gagal mau pindah sama orang
lain juga bisa kalau tidak tahan lagi ya terpaksa pulang lagi ke selatan atau cari keja
empang sama bos yang lain klau bosnya mau sama saya
Maksud dari informan ini adalah sistem kerja dari menjaga empang ini adalah ketika
penennya berhasil beberapa kali maka kontrak akan di perpanjang tapi juga kalau gagal
maka akan berpindah kepada orang lain atau akan pulang saja ataupun pindah tuan
kepada orang lain kalaupun bos tersebut mau untuk menerimanya.
Menurut penuturan dari informan di atas bahwa sistem kerja yang mereka gunakan
adalah disesuaikan dengan kinerja setiap orang yang menggarap empang dan tingkat
keberhasilan dalam mengelolah empang yang menjadi tanggung jawaab dari seorang
penggarap.
4.2.1.1Jumlah Tenaga Kerja
Selain para penggarap bekerja keras dalam mengelolah empang hal lain ynag
meperkuat pendapatan dari para pemilik empang iniadalah jumlah tenaga kerja yanga ada di
desa Siduwonge.
Adapun jumlah yang mengelolah empang yangada di Desa Siduwonge adalah sekitar
150 KK namun yang menggarap dan tinggal langsung di lokasi tambak sekitar 70 KK
sementara untuk 80 KK tersebar sekitar Desa Huyula dan Motolohu Selatan dan belum
mendaftrakan diri sebgai penduduk tetap dari Desa Siduwonge namun mereka memiliki lahan
tambak yang ada di Desa Siduwonge. Kini yang mengelolah tambak empang Desa
Siduwonge adalah 70 KK yang menjadi penduduk tetap dari Desa Siduwonge.
Jumlah tenga kerja inipun ada pembagian untuk wilayah garapannya tidak seimbang
diantara 70 KK dengan luas arel tambak 1073 Ha. Dari luas areal tersebut ada yang menjadi
penggarap seluas 30 Hektar ada pula yang hanya mengelolah sekitar 5 hektar. Sementara para
keluarga yang datang ke lokasi tambak itu beserta anak dan istrinya ikut bekerja tambak. Ada
para anak yang memiliki pekerjaan lain semisal menjadi sopir mobil ada pula anak-anak yang

masih usia sekolah disekolahkan. Sementara para istri dari para penggrap itu ikut serta dalam
mengelolah tambak tersebut.
Meskipun demikian keberadaan para buruh dan penggarap memiliki peran penting
dalam suatu keberhasilan dari tambak itu sendiri. Keberadaan penggarap dalam berusaha
bekerja keras dalam menjadikan hasil tambak yang melimpah merupakan salah satu cerminan
etos kerja.
4.2.1.2 Jam Kerja Penggarap
Kalau dilihat dari cara kerja yang dilakukan oleh para penggarap dan keberhasilan yang
diraih oleh para pemilik tambak tentunya hal itu tidak lepas dari sistem dan cara kerja yang
dilakukan oleh para penggarap ataupun para pemilik lahan tambak tersebut. Hal ini tentunya
berbalik dengan kehidupan para pemilik empang yang ada di Desa Siduwonge. Cara kerja
yang dilakukan oleh orang bugis ataupun para penggarap tak terkira sebagaimana yang di
tuturkan oleh bapak KM :17
Orang bugis memiliki potensi yang begitu baik dalam mengelolah empang, orang
bugis memiliki 3 hal yang kuat antaranya adalah modal uang, tidak takut akan rugi
dan memiliki teknik yang baik dalam bekerja di empang. Orang bugis kalau bekerja di
empang benar sungguh-sungguh dan meskipun hujan, panas, dan tidak takut untuk
modal meskipun panen gagal. Kalaupun gagal panen mereka tetap saja bangun lagi
dari nol untuk menebar bibit dan keperluan empang lainnya. Orang bugis terkenal
dengan rajin bekerja dan tidak takut dengan uang modal untuk rugi dan terus berusaha
untuk maju terus.
Maksud dari bapak KM ialah Orang bugis memiliki potensi yang begitu baik dalam
mengelolah empang, orang bugis memiliki 3 hal yang kuat antaranya adalah modal
uang bagi yang pemilik ,kemudian mereka tidak takut rugi dalam membangun usaha
dan memiliki teknik yang baik dalam bekerja di empang baik itu seorang penggarap
ataupun pemilik penggarap. Orang bugis kalau bekerja di empang benar sungguhsungguh meskipun hujan, panas, dan tidak takut untuk modal meskipun panen gagal.
Kalaupun gagal panen mereka tetap saja mereka bangun lagi dari nol untuk menebar
bibit dan keperluanempang lainnya. Orang bugis terkenal dengan rajin bekerja dan
tidak takut dengan uang modal untuk rugi dan terus berusaha untuk maju terus.
Berdasarkan penuturan di atas dapat di lihat bahwa orang bugis ketika bekerja dengan
sungguh-sungguh dan pantang untuk menyerah serta memiliki tekat yang kuat. Hal ini
tentunya menunjukan bahwa orang bugis (pemilik empang) dalam mengelolah empang
memiliki modal yang banyak karena modal yang banyak memperngaruhi faktor keberhasilan
suatu usaha agar g suatu usaha berjalan dengan lancar.
Kemudian pekerjaan yang harus di kerjakan oleh buruh ataupun penggraap yakni
ketika melakukan pemupukan untuk 10 hektar di butuhkan 2 ton pupuk untuk itu penggrap
biasanya dibantu oleh buruh yang disewa perharinya 75.000/orang biasanya untuk 10 hektar
15 orang buruh bisa di selesaikan dalam 2 ataupun 1 hari tergantung dari buruh yang disewa
tersebut. upah yang diterima oleh buruh setelah pekerjaan itu di selesaikan maka uangpun
akan langsung di berikan.

17

Bapak KM merupakan salah satu informan dari masyarakat lokal (Gorontalo). Beliau pernah memiliki empang
sekitar 6 hektar dan menggrap empang 10 tahun. Namun kini empang tersebut telah dijual. Dijualnya empang
tersebut karena kurannya modal serta tidak bisa bertahan dengan kondisi pengelolaan empang yang sewaktuwaktu dapat menggangu kesehatan dan berusaha bekerja seagai petani.

4.2.2 Faktor-Faktor Penyebab Etos Kerja Kerja Orang Bugis Sebagai Penambak
Empang
Orang-orang Bugis menjadi pasompe, perantau ataupun karena siri kondisi
ekonominya tidak baik ataupun karena di bebani dengan tanggungan yang berat di desanya
akan bekerja keras membanting tulang di rantau dan tidak akan pulang sebelum menjadi
lebih kaya. Bagi orang Bugis-Makassar akan mengatakan bahwa orang yang tidak
mempunyai siri adalah sama saja dengan anjing atau lebih baik mati saja bila harus hidup
tanpa siri
Selain itu yang menjadi dasar dari orang Bugis memiliki cara kerja yang keras dalam
berusaha tentunya ini dilatar belakangi oleh adat budaya dan prinsip hidupnya. Bagi sebagian
orang Bugis menjadi Saudagar adalah pilihan profesi utamanya. Di beberapa tempat, banyak
saudagar Bugis yang maju dalam berusaha. Tentunya segala kemajuan yang dicapainya itu
berdasarkan hasil kerja kerasnya, bermandikan keringat dan air mata.Lalu apa yang membuat
orang Bugis selalu bekerja keras? ini dikarenakan Bugis adalah salah satu suku yang paling
banyak kebutuhannya. Karena kebutuhan inilah yang mendorong orang bugis untuk bekerja
keras sebaimana prinsip dari bapak (MN) lebih baik mundur sejengkal dari tempat berdiri
dari pada mundur dari pekerjaan. Hal inilah yang mendorong orang bugis tentunya tidak
henti-hentinya terus bekerja demi mendapatkan hasil serta dapat memenuhi segala kebutuhan
hidupnya.
4.2.2.1Adat dan Prinsip Hidup Orang Bugis
Ada beberapa adat yang yang masih di pegang teguh oleh orang bugis dalam
menjalankan usaha dalam membangun etos kerja yang bagus. Seperti penuturan yang di
sampaikan oleh informan dimana orang bugis memiliki adat yang di pasangkan dalam
pekerjaan dan itu menjadi kepercayaan yang kuat bagi orang bugis dan mereka berharap
dengan itu hasil kerja yang yang mereka kerjakan akan melimpah dan berhasil. Hal ini di
tururkana oleh bapak (Th)
Ritual Masih ada ritual/ doa-doa yang dipakai di empang toncohnya doa syukuran
kalau mau paneng, itu di doa karena orang bugis percaya ada makhluk khusus yang
menjaga ikan sehingga di doa agar mendapat restu kalau dipanen. karena kita orang
bugis sejak melepas ikan dari masi nener sampe mau di panen tidak bisa ikannya
diambil karena belum di doa siapa saja tidak bisa ambil karena takut belum di doa dan
yang belum di doa bagi orang bugis tidak bisa di makan siapapun tidak bisa ambil itu
ikan sebelum waktu paneng dan di dioakan selamatan/ syukuran
Yang dimaksudkan oleh bapak Th adalah adanya ritual untuk orang bugis yang masih
ada dan di pakai di empang contohnya doa syukuran hendak panen. Alasannya itu di
doakan karena orag bugis percaya ada mahluk khusus yang menjaga ikan sehingga di
doa agar mendapat restu kalau di panen. Karena bagi orang bugis sejak melepas ikan
dari masih nener sampai mau dipanen tidak bisa ikannya diambil karena belum di
doakan, siapa saja tidak bisa ambil karena takut belum didoakan bagi mereka itu haram
tidak bisa diambiluntuk dimakan, siapapun tidak bisa mengambilnya.
Berdasarkan penuturan di atas bahwasanya kebiaasaan dari adat yang mereka jalankan
serta percayai hal itu dapat mempengaruhi hasil dari tambak yang mereka kelolah. Kebiasaan
berdoa tersebut menjadi patokan dalam setiap menjaga usaha yang mereka kerjakan serta
sekaligus dapat mencegah mereka untuk menikmatinya sebelum berhasil.
4.2.2.2 Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan
Selain adanya adat yang masih di pegang teguh dalam merantau faktor lain yang
mempengaruhi etos kerja dari orang bugis yakni tingkat pendidikan dan pekerjaan yang
dimiliki. Tingkat pendidikan menjadi pembanding dalam pengelolaan tambak. Namun hal ini

tidak menjadi faktor yang menghalangi keberhasilan tambak meskipun tingkat pendidikan
penggarap ataupun pemilik ada yang di bawah tetap saja usaha yang dilakukan di
maksimalkan untuk menghasilkan ekonomi tambak yang melimpah.
Berdasarkan tingkat pendidikan dari masyarakat Desa Siduwonge masih banyak yang
di tingkat pedidikanya tergolong rendah. Dari jumlah 1025 orang yang memiliki pendidikan
sekitar 371 orang maka yang tidak memiliki pendidikan sekitar 654 orang.
Selain tingkat pendidikan yang masih tergolong rendah faktor lainnya adalah status dari
penggarap ini merupakan golongan bawah(kecil) sebagaimana yang di tuturkan oleh bapak
MN:
Kalau yang punya empang disini termasuk orang besar meman dari sana kalau kita
ini termasuk orang kecil saja. Makanya kita cari kerja yang cocoklah ya naman juga
kita m hidup haruslah cari kerja mana untuk biaya anak dan kelurga jadi harus
menggarap empan.
Yang dimaksud oleh bapak MN adalah orang memilki empang disini rata-rata adalah
orang besar (orang yang mampu, punya modal) sementara ia hanya orang yang kecil
tidak memiliki modal untuk membuka lahan atapun untuk mengontrak lahan empang
jadi hanya menjadi penggarap empangsaja. hanya itu juga yang cocok untuk di kerjakan
kalau mau hidup ya harus bekerja untuk kebutuhan anak dan keluarga.
Dari pernyataan di atas dapat di katakan bahwa orang yang banyak membuka ataupun
memiliki lahan tambak yang luas hanyalh orang-orang yang memiliki pengaruh ynag kuat
serta memiliki modal yang banyak serta tergolong keluarga yang stratifikasi kelas atas.
Sementara para penggarap merupakan golongan menengah bawah serta hanyalah orang yang
tidak memiliki modal serta orang yang tidak memiliki pekerjaan yang tetap sebelumnya dari
kampung halamannya.
Alasan diatas merupakan faktor lain yang mendukung etos kerja dari orang bugis untuk
bekerja di rantau agar status keluarga karena di kampung tidak meiliki pekerjaan menjadi
punya pekerjaan hingga mereka memutuskan untuk merantau. Sebagaimana di ungkpakan
oleh MN:
Ya begitula kalau diselatan juga ya istilahnya besar pasak dari pada tian.Dulunya
kita bekerja kaya b kebun cokla begitu,karna kerusakannya coklat sehingga semua
orang berhamburan mencari pekerjaan di wilayah lain, karna rusakknya depe dulu
coklat 2002 sampai 2005.makanya saya bilang Kita kemari itu saya bilang
perhitungnya pendapatan di selatang itu besar pasak dari pada tian jadi biar sukses di
tempat lain.
Menurutnya beliau di selatan istilahnya lebih besar pasak dari pada tiang . dahulunya
sbeliau bekerja kebun coklat, karna rusaknya coklat sehingga semua orang
berhamburan untuk mencari pekerjaan diwilayah lain, makanya saya katakan saya
punya perhitungan pendapatan di selatan itu besar pasak dari pada tiang jadi cari
kesuksesan di daerah lain begitu. Hal ini yang mendorong beliau untuk merantau
sekaligus mencari pekerjaan sebagai penggarap empang milik pamannya. Upah yang
didaptkanpun tidak seberapa dengan pekerjaan empang yang dikelolahnya meskipun
hanya 5 hektar mengeerjkan empang terasa sulit. Bagaimana tidak terasa sulit untuk
biaya hidupnyapun hanya dibiayai sendiri sementara upah yang didapatkan tidak
seberapa.
Berdasarkan penuturan salah satu informan di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat
pendidikan diatas dapat mempengaruhi pekerjaan, karena pada saat ini untuk mendapatkan

suatu pekerjaan yang baik membutuhkan pengetahuan yang di buktikan dengan sejauh mana
seseorang menempuh pendidikan. Memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta tidak
memiliki pekerjaan yang tetap menjadikan mereka untuk berjuang terus dalam pekerjaan
yang mereka geluti dengan prinsip kehalalan dari pekerjaan itu. Kegigihan dalam bekerja
serta keteguhan hati dari menerima pekerjaan yang di berikan tidak membuat mereka putus
asa namun menjadikan mereka tetap giat bekerja hal ini yang menjadi faktor pendorobg
dalam kberhasilan yang diraih orang bugis.
4.2.2.3Produksi Perpanen dan Pemasaran
Selain modal faktor lain yang menjadi penyebab etos kerja bugis dalam meningkatkan
usaha tambak adalah produksi empang perpanennya yang begitu fantastic. Produksi ikan
ataupun udang yang di hasilkan dalam setiap tidaklah sedikit. Sebagaimana penuturan dari
bapak Ba
Kalau udang itu sekali berhasil 1 tahun untunya banyak sekali cepat kaya tapi kalau
gagal panen bisa bikin bangkrut kita itu. Beda dengan bandeng setahun 3x bisa panen
tapi ya hasilnya juga lumayan lebih tinggi hasil udang sebenarnya Cuma kalau dang
belum bisa area belum memdukung untuk udangnya, kalau udang juga banyak
resikonya
Maksud dari bapak Ba adalah ketika memelihara udang produksi pertahunnya hanya
sekali tapi ketika panen itu berhasil bisa membuat kita cepat kaya. Berbeda dengan
bandeng itu nanti 3x panen bisa membandingi sekali panennya udang tapi hasil dari
bandeng limayan karena untuk udang wilayah siduwonge lokasinya belum mendukung
dan resiko untuk udang terlalu besar.
Hal ini tentunya dapat memberikan gambaran bahwa untuk ukuran empang 5 hektar
dengan modal 15 juta dapat menghasilkan sekitar 4-5 ton ikan dengan ukuran ikan yang besar
(2 ekor untuk 1kg). untuk ukuran ikan besar pertonnya dapat menghasilkan sekitar 15 jutaan
belum lagi dalam 5 hektar dengan jumlah 4-5 ton di kalikan dengan Rp 10.000. Untuk
perkiraan 4 ton dikalikan Rp 10.000 dalam 5 hektar bisa menghasilkan sekitar 40.000.000
juta dengan perhitungan 1 kg ikan bandeng ukuran besar di hargai dengan Rp 10.000Rp12.000.
Hal ini dapat menggambarkan bahwa untuk ukuran pemilik tambakj jumlah
penghasilan dalam perpanen ikan bandeng dalam areal luas di atas 30 hektar hasil yang di
capai sangatlah besar. Hal ini dapat dilihat dengan perkiraan 5 hektardengan hasil 4-5 tonnya
dapat menghasilkan 40.000.000 dengan di kurangi modal sekiar 15.000.000 juta, maka hasil
bersih yang di terima oleh pemilik dalam mengelolah empang adalah 25.000.000 dalam
sekali panennya. Jika dalam setahun melakukan 2x panen maka produksi untuk setahun
dalam 2x panen dengan luas areal 5 hektar adalah Rp 50.000.000. Hal ini jika di lihat dengan
seksama dapat di artikan bahwa keutungan yang dapat di raih adalah Rp10.000.000/Ha/thn
untuk ukuran rata-rata.
Tentunya hasil yang di dapatkan lebih besar dari apa yang di hasilkan dalam penelitian
Mayudin (2012) dalam penelitiannya di lahan tambak di Kecamatan Mandalle, Segeri dan
Labakkang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan Kondisi ekonomi masyarakat pesisir pasca
konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak di Kecamatan Mandalle, Segeri dan
Labakkang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan dikategorikan baik dan dapat diukur dari
beberapa indicator. Kemudian Nilai total manfaat ekonomi mangrove sebesar Rp.14.844.084
/ha/thn atau sekitar 1,6 kali lebih besar jika bandingkan dengan nilai ekonomi tambak yang
sebesar Rp.9.401.170 /ha/thn.
Beradasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa hutan mangrove dapat memberikan
manfaat ekonomi yang besar bila dapat dikelola dengan baik. Selain itu Kondisi ekonomi

masyarakat pesisir pasca konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak secara umum
meningkat. Dengan pemanfaatan tersebut, maka pendapatan masyarakat meningkat hingga
50%.
4.2.2.5 Penguasaan Lokasi
Pada awalnya lokasi tambak yang ada saat ini itu merupakan kaplingan dari masyarakat
lokal yang dijadikan kolam ikan. Jadikannya kolam ikan sebab masyarakat gorontalo saat itu
belum tahu mengelolah empang sehingga hanya di kapling di jadikan kolam ikan. Setelah
kedatangan orang bugis maka kolam itu dijadikan sebagai empang.
Proses berpindahnya tambak ke tangan orang bugis pada awalnya orang bugis mencari
pekerjaan. Namun tambak itu pada awaalnya telah melewati tahap survey terlebih dahulu
seperti apa yang di ungkpkan oleh (UA)
Pada awalnya bugis yang pertama ada di Desa Siduwonge yakni haji nompo awal
kedatanganya dia melakukan survei awal terhadap tambak. Beliau mengsurvei kondisi
lahan tambak yakni kalau tidak salah 1993 dan lahan yang buka di Desa Siduwonge
52 dan patuhu 48 jadi totalnya 100 hektar. Tetapi pada waktu itu masih menjadi Desa
Motolohu.Menjadi banyaknya orang bugis karna pertama sudah meihat hasil tambak
sehingga mereka berdatangan. Pada awalya ada yang bermula dari kontark sampai
akhirnya di jual. Kepemilik empang sampai jatuh ketangan orang bugis krna mereka
juga yang datang memakai jasa perantara baiak yang butuh klahan untuk di kontarak
ataupun di jual.
Pada awalnya bugis yang pertama ada di Desa Siduwonge yakni Haji Nompo awal
kedatanganya melakukan survei awal terhadap tambak. Beliau mengsurvei kondisi
lahan yakni sekitar 1993 dan lahan yang di buka di Desa Siduwonge 52 Hektar dan
Desa Patuhu 48 Hektar jadi totalnya 100 hektar. Tetapi pada waktu itu masih Desa
Motolohu. Menjadi banyaknya orang bugis karna pertama melihat hasil tambak
sehingga mereka berdatangan. Pada awalya ada yang bermula dari kontrak sampai
akhirnya di jual. Kepemilikan empang sampai jatuh ketangan orang bugis karena
mereka juga yang datang memakai jasa perantara baik yang butuh lahan untuk di
kontrak ataupun di jual.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebelum empang ini menjadi milik dari orang bugis
orang bugis ini telah melakukan observasi terlebih dahulu pada lokasi empang ini. Jasa
perantara pun menjadi sangat di perlukan saat itu bagi ynag ingin memiliki ataaupun sekedar
untuk dikontrak empang tersebut. Kemudian semakin hari semakin banyaak bugis yang
datang di karenakan oleh berbgai keberhasilan empang yang dilihat. Hal ini menjadikan
banyak lahan tambak milik masyarakaat lokal menjadi milik orang bugis. Tentunya hal ini
bukan satu-satunya alasan bedatangnya orang bugis ke Desa Siduwonge. Adapula orang
bugis yang datang untuk menawarkan jasanya sebagai penggarap ini hal yang mebuat
banyaknya orang bugis sehingga pada saat ini tercatat bahwa sekitar 70 KK yang menjadi
penduduk tetap.
Penguasaan lokasi empang ini tentunyakarena orang bugis terkenal dengan penguasaan
maritimnya tetap saja mereka yang banyak lahan tambaknya menggunakan jasa penggarap
dan buruh. Yang dimaksud dengan penggarap dalam empang ialah orang bekerja di empang
menjaga empang dalam waktu yang lama. Sedangkan buruh adalah hanyalah tenaga yang
sewaktu-waktu du butuhkan misalnya hanya pada waktu panen dan melakukan pemupukan
empang dan jasanya langsung di bayarkan. Sementara untuk penggrap empang jasa kerjanya
di perhitungkan setelah keberhasilan empang yang di kelolahnya. Kemudian yang menjadi
penggarap ada yang tidak melakukan yang tugas dari buruh ada juga yang merangkap
mengerjakan pekerjaan buruh ketika pemilik dari empang itu menyuruhnya tapi ada juga

meskipun memiliki jasa penggarap tetap juga memakai jasa buruh dalam melakukan hal
tersebut. Hal serupa di rasakan oleh penggarap empang lainya yang ada di Desa Siduwonge.
18
. Penguasaan dari lokasi tambak yang begitu luas tentunya menjadi faktor yang membuat
semakin hari berkembangnya ekonomi tambak bagi orang bugis.Penguasaan lokasi ini
memiliki peran pula dalam etos kerja serta perkembangan ekonomi yang melimpah.
Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di Desa Siduwonge Kecamatan
Randangan Kabupaten Pohuwato, Maka peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Bahwa etos kerja orang bugis dalam mengerjakan suatu pekerjaan di kerjakan
dengan sungguh-sungguh.Selain itu orang bugis tidak mudah putus asa dalam
merajut suatu pekerjaan dan memiliki modal yang banyak. Kemudian Orang bugis
dalam bekerja tidak memilih kondisi meskipun panas dan dingin tetap akan dilalui
dalam bekerja untuk meraih sukses. Hal lain adalah jumlah tenaga kerja
mempengaruhi etos kerja dari orang Bugis . Jam kerja yang dimiliki oleh orang
bugis mempengaruhi hasil kerja serta merupakan faktor penting dalam etos kerja
orang bugis
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi etos kerja dari orang bugis tak lain adalah
penguasaan teknik dalam bekerja. Selainitu tingkat pendidikan serta kebutuhan
dari orang Bugis merupakan faktor yang dapat menyebabkan terdorongnya etos
kerja orang bugis. Penguasaan pasar yang baik ikut mendorong pertumbuhan
ekonomi yang baik bagi orang bugis serta sebagai salah satu etos dari bugis
bekerja dalam menguasai kondisi pasar
SARAN
Dari uraian di atas yang telah di kemukakan sebelumnya maka penulis dapat
menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam memperkuat etos kerja bugis dalam mengembangkan kondisi ekonomi
masyarakat yang baik selayaknya memperhatikan dampak lain dari konndisi alam,
dalam memajukan kondisi ekonomi di barengi perbaikan lingkungan agar samasama saling mneguntungkan denagn memcari solusi yang terbaik dan tidak
mengabaikan hak drai masyarakat lainnya.
2. Diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dari para pengarap yang ikut dalam
membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi meskipun itu merupakan
tanggung jawab dari pemilik tambak.

18

Gajinya begitu tidak ada ketentuan. Seumur hidupnya empan ini barusan dia kasi naik kurang termasuk ampa
ton lebe banyak bagi 6. Pendapatan pada waktu itu ee termasuk 3 tong 600x pada waktu itu masi mura depe ikan
kali 10.000 bagi 6, 36 jutaan kotor, mana kaluar depe modal dulu. Modal empan pda waktu itu 11 hampir 12
juta. Bersihnya itu kita tidak tawu karna pengambilan pada waktu banyak. Ya jelas di terima karna ada saldonya
sedikit kurang lebi berapa juta sekitar 3 jutaan pokokny ini bapak tawu (sambil menunjuk pada bapak yang
satunya lagi).

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abdullah, Taufik (Ed). (1978) . Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi.
Jakarta:LP3ES
Dwidjoseputro, D. (1994). Ekologi Manusia dan Lingkungannya. Jakarta : Erlangga
Poerwanto, Hari. (2000). Kebudayaan dan Lingkungan (Dalam Perspektif Antropologi).
Yogyakatra: Pustaka Pelajar ( Anggota IKAPI)
Sajogyo, dan Sajogyo, P. (2002). Sosiologi Pedesaan. (jilid satu.) Yogyakarta:
MadaUniversitas Press.

Gadjah

Setiadi, Hakam dan Efendi. (2007). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Bandung: Prenada Media
Group
Sumaatmadja, N. (1998). Manusia Dalam Konteks Sosial Budaya Dasar dan Lingkungan
Hidup. Bandung: Alfabeta
Harrrison, Lawrence E dan Hungtington, Samuel P. (ed). (2006). Kebangkitan Peran Budaya.
Jakarta: pustaka LP3ES Indonesia
Margono. (2009). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Idrus, Muhammad. (2009). Metode Penelitian Ilmu Social (Pendekatan Kualitatif dan
Kuantitatif). Jakarta: Erlangga
Arikunto, Suharsimi. (2010). Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta
Landjani, k. (2014). Profil Desa Siduwonge.
Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara. (2013). SosialisaiHasil Rakor CA
Tanjung Panjang.
Jurnal :
Amin, Basri. (2014). Mempertahankan Ruang Hidup Konservasi dan Budaya Di Teluk
Tomini. Masyarakat dan Budaya. Volume 16 No. 1.
Anwar, Sakaria J. 2012. Pengetahuan Lokal (Indigenous Knowledge) Pasompe BugisMakassar dalam Menjelajah Nusantara. Sosiologi Reflektif, volume 7, nomor 1.
Subair. 2015. SIMBOLISME HAJI ORANG BUGIS: Menguak Makna Ibadah Haji Bagi
Orang
Bugis
di
Bone,
Sulawesi
Selatan.
http://dualmode.kemenag.go.id/acis10/file/dokumen/8.subair.pdf
(diakses pada 16 Februari 2015)

La Janu. (2010) Etos dan Pandangan Hidup Komunitas Nelayan Bugis Dalam Kehidupan
Sosial Ekonomi (Studi Kasus Di Kelurahan Tondonggeu Kecamatan Abeli Kota
Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara). Forum Ilmu Sosial, Vol. 37 No. 2
Latif, Syarifuddin. (2012) Meretas Hubungan Mayoritas-Minoritas Dalam Perspektif Nilai
Bugis. Jurnal Al-Ulum Volume. 12,Nomor 1.
Wekke, Ismail Suardi.( 2013). Islam dan Adat: Tinjauan Akulturasi Budaya Dan Agama
Dalam Masyarakat Bugis Analisis, Volume XIII, Nomor 1
Indrizal,Edi. (2000). Mitos Orang Kalah: Orang Laut dan Pola Pemukimannya.
ANTROPOLOGI INDONESIA 61.
Akbar, Acep. (2011).Studi Kearifan Lokal Penggunaan Api Persiapan Lahan: Studi Kasus di
Hutan Mawas, Kalimantan Tengah. Penelitian sosial dan ekonomi kehutanan. Vol. 8,
No 3.
Fitrisia,Azmi.(2014).Upacara Tolak BalaRefleksi Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan
Kenagarian Painan Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat Terhadap
Laut.humanus Vol.XIII No.1
Irawan, Rudi. (2011 ). Pendidikan Nilai-Nilai Kecakapan Hidup Punggawa dan Sawi Dalam
Sistem Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Etnis Bugis Perantauan di Kota Bandar
Lampung. Jurnal Ekonomi& Pendidikan, Volume 8 Nomor 2.
Beddu, Syarif. (2009). Arsitek Aristektur Tradisional Bugis. Jurnal Penelitian Enjinering.
Volume 12, nomor 2.
Karya Ilmiah:
Asriyah, Wardatul. (2007). Skripsi strategi peningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat
melalui usaha tambak di desa babalan kecamatan wedung kabupaten demak jawa
tengah.
diambil
darihttp://digilib.uinsuka.ac.id/1155/1/BAB%201%2C%20BAB%20IV%2C%20DAFTAR%20PUSTAK
A.pdf
Mayudin, Arif. (2012).Kondisi Ekonomi Pasca Konversi Hutan MangroveMenjadi
LahanTambak Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan
http://repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/86/05eksos%203%20-%20arif.pdf?sequence=1(diakses 23 November 2014)
Prabanugraha , Rizki. (2013). Estimasi Nilai dan Dampak Ekonomi Kawasan Budidaya
Tambak Polikultur Dengan Keterkaitan Mangrove (Studi Kasus Desa Langen SARI,
Kecamatan
Blanakan,
Kabupaten
Subang).
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/64512/H13rpr1.pdf?sequence
=1(diakses 20 Februari 2015)
Stanis, Stefanus. (2005). Tesis Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui
Pemberdayaan Kearifan Local Di Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara
Timur. http://eprints.undip.ac.id/12790/1/2005MSDP4220.pdf
(diakses 20 Februari 2015)

Beddu Syarif, Akil Arifuddin, Wahidah Wiwik Osman dan Hamzah Baharuddin. (2011).
Eksplorasi Kearifan Budaya Lokal Sebagai Landasan Perumusan Tatanan
Perumahan dan Permukiman Masyarakat Makassar. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI.
(diakses 20 Februari 2015)
Internet:
Junus, George A. (2010). Terlalu bugis sentris.
http://www.rappang.com/2010/02/terlalu-bugis-sentris-kurang
(diakses 17 November 2014)

perancis.html.

Kalla, Jusuf.(2009). Orang Bugis.


www.sempugi.com/2009/12/etos-kerja-bugis.html(diakses 13 November 2014)
Pelras,

Christian. (2010).
Manusia Bugis
Jakarta: forum Jakarta
http://anditaufantiro.com/2013/09/03/buku/( diakses 17 November 2014)

Paris.

Nikijuluw, Victor,
P.H Populasi dan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir serta
StrategiPemberdayaan Mereka Dalam Konteks PengelolaanSumberdaya Pesisir
Secara
Terpadu.
http://www.academia.edu/2385523/Aspek_Sosial_Ekonomi_Masyarakat_Pesisir_da
n_Strategi_Pemberdayaan_Mereka_dalam_Konteks_Pengelolaan_Sumberdaya_Pesi
sir_Secara_Terpadu(diakses 13 November 2014)