Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan BLU sejak dicetuskan kali pertama dengan

penetapan PP 23 di tahun 2005 sungguh pesat, baik dari segi


jumlah BLU maupun kontribusi ekonomi sosialnya. Sampai dengan
tahun 2014, sudah mencapai 141 instansi pemerintah yang menjadi
BLU. Pendapatan BLU mencapai lebih dari Rp. 24 T di tahun 2013,
semakin tinggi persentasenya terhadap PNBP dibandingkan tahuntahun

sebelumnya.

Kondisi

tersebut

diharapkan

mampu

meningkatkan peran BLU sebagai agen pelayanan publik yang


menonjolkan

efisiensi

dan

produktivitas

sehingga

kualitas

pelayanan publik itu sendiri semakin dirasakan oleh masyarakat.


Sejalan dengan perkembangannya, keberadaan BLU tidak dapat
dilepaskan dari kondisi lingkungan/industri masing-masing BLU itu
sendiri.

Tuntutan

profesionalisme

dan

persaingan

dalam

lingkungannya mempengaruhi BLU untuk selalu berbenah menjadi


lebih baik. Seperti pada lingkungan pendidikan tinggi, visi utama
perguruan tinggi di Indonesia adalah menjadi perguruan tinggi yang
berkelas dunia, termasuk di dalamnya BLU perguruan tinggi.
Konteks berkelas dunia memiliki bermacam aspek, salah satu
aspeknya adalah adanya pengakuan dari dunia internasional atas
kualitas

kegiatan

tridharma,

sarana

prasarana,

pengelolaan,

pendanaan dan lainnya. Tuntutan yang mungkin sama terhadap


bidang BLU yang lainnya seperti rumah sakit, pengelola dana
ataupun pengelola kawasan.
Dalam tulisan ini, penulis

berfokus

pada

akuntabilitas

pengelolaan BLU yang diwujudkan dengan laporan keuangan. Poin


penting

dari

keterbandingan

hal

tersebut

adalah

laporan

lingkungan/industrinya.

Menarik

kualitas

keuangan
untuk

keandalan

dan

BLU

dengan

diperdalam

bagaimana

akuntansi dan pelaporan BLU untuk menjawab visi BLU kedepan


yang profesional dan berkelas dunia.
1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkanlatar belakang diatas maka dapat dicapai sebuah


rumusan masalahnya yaitu :
a. Bagaimanakah pembentukan Badan Layanan Umum Daerah dalam
sistem pemerintahan Daerah?
b. Bagaimanakah pencatatan dan Akuntansi Badan Layanan Umum
Daerah

untuk

pertanggungjawaban

atas

pembentukan

Badan

Layanan Umum Daerah tersebut?


1.3 Manfaat dan Tujuan Makalah
Manfaat dan tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui pembentukan Badan Layanan Umum Daerah
dalam sistem pemerintahan Daerah
b. Untuk mengetahui pencatatan Badan Layanan Umum Daerah
untuk pertanggung jawaban atas pembentukan Badan Layanan
Umum Daerah tersebut

BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN, LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA, DAN
KARAKTERISTIK BADAN LAYANAN UMUM
2.1

PENGERTIAN BADAN LAYANAN UMUM


Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005, Badan

Layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang


dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan
mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatarnya didasarkan
pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
2.2

LATAR

BELAKANG

TERBENTUKNYA

BADAN

LAYANAN

UMUM
Pergeseran sistem penganggaran dari penganggaran tradisional
menjadi penganggaran berbasis kinerja merupakan salah satu agenda
reformasi keuangan Negara. Adanya perubahan ini membuat orientasi
penggunaan dana pemerintah menjadi lebih jelas dari sekedar
membiayai input dan proses menjadi berorientasi pada output. Hal ini
penting mengingat kebutuhan dana yang makin tinggi tetapi sumber
daya pemerintah terbatas.
Penganggaran berorientasi pada output merupakan praktik yang
dianut oleh pemerintahan modern di berbagai negara. Mewirausahakan
pemerintah (enterprising the government) adalah paradigma yang
memberi

arah

yang

tepat

bagi

sektor keuangan

publik untuk

mendorong peningkatan pelayanan. Ketentuan tentang penganggaran


tersebut

telah

dituangkan

2003 tentang Keuangan

dalam UU

Negara.Selanjutnya, UU

No.
No.

17
1

Tahun
Tahun

2004 tentang Perbendaharaan Negara membuka koridor baru bagi


penerapan basis kinerja di lingkungan pemerintah. Dalam Pasal 68 dan
Pasal 69 UU tersebut menyatakan instansi pemerintah yang tugas
pokok dan fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat dapat

menerapkan

pola

pengelolaan

keuangan

yang

fleksibel

dengan

mengutamakan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas.


Prinsip-prinsip pokok dalam kedua undang-undang tersebut
menjadi dasar instansi pemerintah untuk menerapkan pengelolaan
keuangan BLU. BLU diharapkan menjadi langkah awal pembaharuan
manajemen keuangan sektor publik, demi meningkatkan pelayanan
pemerintah kepada masyarakat. Adanya pengelolaan keuangan BLU
juga dalam rangka mengurangi birokrasi dan meningkatkan kualitas
layanan pemerintah kepada masyarakat.
Menurut Wikiapbn, Sebuah Ensiklopedia Kementerian Keuangan,
alasan mengapa BLU diperlukan antara lain:
1. Dapat dilakukan peningkatan pelayanan instansi pemerintah
kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
2. Instansi pemerintah dapat memperoleh fleksibilitas dalam
pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip
ekonomi dan produktivitas dengan menerapkan praktik bisnis
yang sehat;
3. Dapat dilakukan pengamanan atas aset negara yang dikelola
oleh instansi terkait.
2.3

KARAKTERISTIK BADAN LAYANAN UMUM

Berikut ini karakteristik dari Badan Layanan Umum:


1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah (bukan kekayaan
negara yang dipisahkan);
2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/sebagian dijual
kepada publik;
3. Tidak bertujuan mencari keuntungan;
4. Dikelola secara otonom dengan prinsip efisien dan produktivitas
ala korporasi;
5. Rencana
kerja/anggaran dan pertanggungjawaban dikonsolidasikan pada
instansi induk;
6. Pendapatan dan sumbangan dapat digunakan langsung;
7. Pegawai dapat terdiri dari PNS dan non-PNS;

8. Bukan sebagai subjek pajak.

DASAR HUKUM, TUJUAN, ASAS, DAN RUMPUN BADAN LAYANAN


UMUM
2.4

DASAR HUKUM BADAN LAYANAN UMUM


Dasar hukum BLU adalah pasal 68 dan 69 Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang kemudian


ditindaklanjuti

dengan Peraturan

Pemerintah

Nomor

23

Tahun

2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.


Badan

Layanan

Umum

juga

diperjelas

dalam

Peraturan-

peraturan Menteri Keuanganantara lain:


1. PMK Nomor 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi dan
PelaporanKeuangan Badan Layanan Umum;
2. PMK Nomor 93/PMK.05/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan
PenelaahanRencana

Kerja

Negara/Lembaga;
3. PMK Nomor 92/PMK.05/2011

dan

Anggaran

tentang

Rencana

Kementerian
Bisnis

dan

Anggaran (RBA) serta Pelaksanaan Anggaran BLU;


Dasar hukum lain yakni Perdirjen Perbendaharaan Nomor : PER80/PB/2011 tentang Penambahan danPerubahan Akun Pendapatan,
Belanja, dan Transfer pada Bagan Akun Standar (BAS); Perdirjen
Perbendaharaan Nomor : PER-20/PB/2011 tentang Pedoman Teknis
Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran BLU; serta SE Dirjen
Perbendaharaan Nomor : SE-2/PB/2012 tentang Petunjuk Lebih Lanjut
Pengelolaan Hibah Langsung Baik dalam Bentuk Uang maupun
Barang/Jasa/Surat Berharga Tahun 2011.
2.5

TUJUAN BADAN LAYANAN UMUM

Tujuan BLU seperti yang tertuang dalam Pasal 2 PP No. 23 Tahun


2005, adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan
keuangan

berdasarkan

prinsip

ekonomi

dan

produktivitas,

dan

penerapan praktek bisnis yang sehat.


2.6

ASAS BADAN LAYANAN UMUM

Asas BLU dalam Pasal 3 PP No. 23 Tahun 2005 antara lain:


1. BLU

beroperasi

sebagai

unit

kerja

kementerian

negara/lembaga/pemerintah daerah untuk tujuan pemberian


layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan
yang didelegasikan oleh instansi induk yang bersangkutan,
2. BLU merupakan bagian perangkat pencapaian tujuan
kementeriannegara/lembaga/pemerintah

daerah

dan

karenanya status hukumBLU tidak terpisah dari kementerian


negara/lembaga/pemerintah daerah sebagai instansi induk,
3. Menteri/pimpinan
lembaga/gubernur/bupati/walikota
bertanggungjawab
penyelenggaraan

atas
pelayanan

pelaksanaan
umumyang

kebijakan

didelegasikannya

kepada BLU dari segi manfaat layanan yang dihasilkan,


4. Pejabat yang ditunjuk mengelola BLU bertanggung jawab
ataspelaksanaan kegiatan pemberian layanan umum yang
didelegasikankepadanya

oleh

menteri/pimpinan

lembaga/gubernur/bupati/walikota,
5. BLU menyelenggarakan kegiatannya tanpa mengutamakan
pencarian keuntungan,
6. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan
kinerjaBLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak
terpisahkandari rencana kerja dan anggaran serta laporan
keuangan

dan

kinerjakementerian

negara/lembag/SKPD/pemerintah daerah.
7. BLU mengelola penyelenggaraan layanan

umum

sejalan

denganpraktek bisnis yang sehat.


2.7
UMUM

JENIS

RUMPUN

BADAN

LAYANAN

Badan Layanan Umum dapat terbagi dalam 3 jenis rumpun


(Suhermawan, 2011):
1.Rumpun

Kegiatan

Penyediaan

Jasa/Barang

(Kesehatan,

Pendidikan)
2.Rumpun Kegiatan Pengelolaan Wilayah (Otorita, Kapet)
3.Rumpun Pengelola Dana Khusus (Dana bergulir UKM, Penerusan
Pinjaman, Tabungan perumahan)

PERSYARATAN, PENETAPAN, DAN PENCABUTAN BADAN


LAYANAN UMUM
2.8

PERSYARATAN BADAN LAYANAN UMUM


Suatu

satuan

kerja

instansi

pemerintah

dapat

diizinkan

mengelola keuangan dengan PPK-BLU apabila memenuhi persyaratan


substantif, teknis, dan administratif.
2.8.1 Persyaratan substantif
a. Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum
Contoh: pelayanan di bidang kesehatan, penyelenggaraan
pendidikan,

serta

pelayanan

pengembangan (litbang).
b. Pengelolaan
wilayah/kawasan

jasa

penelitian

tertentu

untuk

dan
tujuan

meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum


Contoh: otorita dan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
(Kapet).
c. Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi
dan/atau pelayanan kepada masyarakat
Contoh: pengelola dana bergulir untuk usaha

kecil

dan

menengah.
2.8.2 Persyaratan teknis
2.8.2.1
Kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya
layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU
sebagaimana

direkomendasikan

oleh

menteri/pimpinan

lembaga/kepala SKPD scsuai dengan kewenangannya


2.8.2.2
Kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan
adalah sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan

2.8.3 Persyaratan administrasi


a. Pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja
Pernyataan tersebut disusun sesuai dengan format yang
tercantum dalam lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor
119/PMK.05/2007 dan

bermaterai,

ditandatangani

oleh

pimpinan satker Instansi Pemerintah yang mengajukan usulan


untuk

menerapkan

PPK-BLU

dan

disetujui

oleh menteri/pimpinan lembaga terkait.


b. Pola tata kelola
Merupakan peraturan internal satuan kerja Instansi Pemerintah
yang menetapkan:
1) Organisasi dan tata

laksana,

yang

memuat

antara

lain struktur organisasi, prosedur kerja, pengelompokan


fungsi yang logis, ketersediaan dan pengembangansumber
daya manusia;
2) Akuntabilitas,

yaitu

pengelolaan sumber

mempertanggungjawabkan

daya serta

pelaksanaan

kebijakan

yang dipercayakan kepada satuan kerja Instansi Pemerintah


bersangkutan
ditetapkan

dalam

mencapai
secara

tujuan

yang

telah

periodik,

meliputi akuntabilitas program, kegiatan, dan keuangan;


3) Transparansi,
yaitu
adanya
kejelasan
tugas
dan
kewenangan, dan ketersediaan informasi kepada publik.
c. Rencana strategis bisnis, mencakup:
1) Visi, adalah suatu gambaran yang menantang tentang
keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang
ingin diwujudkan.
2) Misi, adalah sesuatu yang harus dilaksanakan sesuai visi
yang ditetapkan, agar tujuan organisasi dapat terlaksana
dan berhasil dengan baik.
3) Program strategis, adalah program yang berisi proses
kegiatan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai
selama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun
dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala
yang ada atau mungkin timbul.

4) Kesesuaian visi, misi, program, kegiatan, dan pengukuran


pencapaian kinerja.
5) Indikator kinerja lima tahunan berupa indikator pelayanan,
keuangan, administrasi, dan SDM.
6) Pengukuran pencapaian kinerja, adalah pengukuran yang
dilakukan dengan menggambarkan apakah hasil kegiatan
tahun berjalan dapat tercapai dengan disertai analisis atas
faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi
tercapainya kinerja tahun berjalan.
d. Laporan keuangan pokok
1) Kelengkapan laporan:
a) Laporan
Realisasi

Anggaran/Laporan

Operasional

Keuangan
b) Neraca/Prognosa Neraca
c) Laporan Arus Kas
d) Catatan atas Laporan Keuangan
2) Kesesuaian dengan standar akuntansi.
3) Hubungan antarlaporan keuangan.
4) Kesesuaian antara keuangan dan indikator kinerja yang ada
di rencana strategis.
5) Analisis laporan keuangan.
e. Standar pelayanan minimum (SPM)
SPM

adalah

ukuran

pelayanan

yang

harus

dipenuhi

oleh satuan kerja instansi pemerintah untuk menerapkan PK


(Pengelolaan

Keuangan)

oleh Menteri/Pimpinan

Lembaga.

BLU.SPM
SPM

ditetapkan

bertujuan

untuk

memberikan batasan layanan minimum yang seharusnya


dipenuhi oleh pemerintah. Agar fungsi standar pelayanan dapat
mencapai tujuan yang diharapkan, maka standar layanan BLU
semestinya

memenuhi

persyaratan

SMART

(Specific,

Measurable, Attainable, Reliable, and Timely), yaitu fokus pada


jenis layanan; dapat diukur, dapat dicapai; relevan dan dapat
diandalkan; dan tepat waktu.
SPM sekurang-kurangnya mengandung unsur:
1) Jenis kegiatan atau pelayanan yang diberikan oleh satker
(satuan kerja).
Jenis kegiatan merupakan pelayanan yang diberikan oleh
satker baik pelayanan ke dalam (satkeritu sendiri) maupun

10

pelayanan

yang

diberikan

kepada

masyarakat.

Jenis

kegiatan ini merupakan tugas dan fungsi dari satker yang


bersangkutan.
2) Rencana Pencapaian SPM.
Memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu
pada

batas

waktu

pencapaian

SPM

sesuai

dengan

peraturan yang ada.


3) Indikator pelayanan.
SPM menetapkan jenis pelayanan dasar, indikator SPM dan
batas waktu pencapaian SPM.
4) Adanya
tanda
tangan
pimpinan satuan

kerja yang

bersangkutan dan menteri atau pimpinan lembaga.


f.

Laporan audit terakhir/pernyataan bersedia diaudit


Adalah

laporan auditor tahun

terakhir

sebelum satuan

kerja instansi pemerintah yang bersangkutan diusulkan untuk


menerapkan

PK

pemerintah

tersebut

kerja instansi
pernyataan

BLU.

Dalam
belum

pemerintah
bersedia

hal satuan
pernah

dimaksud

kerja instansi
diaudit, satuan

harus

membuat

untukdiaudit secara independen yang

disusun dengan mengacu pada formulir yang telah ditetapkan.


2.9
PENETAPAN BADAN LAYANAN UMUM
2.9.1 Mekanisme Penilaian dan Penetapan Badan Layanan
Umum

Gambar 3.1 Penetapan BLU (Suhermawan, 2011)

11

Instansi pemerintah yang memenuhi persyaratan substantif


untuk menerapkan PK-BLU akan diusulkan kepada Pimpinan Lembaga.
Pimpinan

Lembaga

lalu

meneliti

persyaratan

teknis,

dan

bila

memenuhi maka Pimpinan Lembaga akan meneruskan usulan kepada


Menteri

Keuangan.

Menteri

Keuangan

melakukan

penilaian

administratif atas usulan tersebut dan apabila telah memenuhi semua


persyaratan penetapan BLU, maka Menteri Keuangan menetapkan
instansi pemerintah bersangkutan untuk menerapkan PK-BLU berupa
pemberian status BLU secara penuh atau bertahap.
Menteri Keuangan menilai usulan PK-BLU dengan membentuk
Tim Penilai yang terdiri dari unsur di lingkungan Kementerian Keuangan
yang terkait dengan kegiatan satker BLU yang diusulkan, antara lain
Ditjen Perbendaharaan, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan,
dan Ditjen Anggaran. Tim Penilai tersebut dapat menggunakan
narasumber yang berasal dari lingkungan pemerintahan maupun
masyarakat.
Tugas dari Tim Penilai adalah:
2.9.1.1

Merumuskan

kriteria

yang

akan

digunakan

sebagai

pedoman dalam melakukan penilaian.


2.9.1.2
Melakukan identifikasi dan klarifikasi terhadap usulan
penerapan PK-BLU.
2.9.1.3
Melakukan koordinasi dengan unit/instansi terkait.
2.9.1.4
Melakukan penilaian atas usulan penerapan PK-BLU yang
disampaikan oleh menteri/pimpinan lembaga.
2.9.1.5
Menyampaikan rekomendasi hasil penilaian atas usulan
penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah untuk menerapkan
PK-BLU kepada Menteri Keuangan.
2.9.1.6
Melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan
penilaian usulan penetapan instansi PK-BLU.
2.9.2 Penetapan Status BLU
a. Status BLU Penuh
Status

BLU

secara

penuh

diberikan

apabila

seluruh

persyaratan substantif, teknis, dan administratif telah dipenuhi


dengan memuaskan.
b. Status BLU Bertahap
Status

BLU

bertahap

diberikan

apabila

persyaratan

substantif dan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

12

ayat (2) dan ayat (3) PP No. 23 Tahun 2005 telah terpenuhi,
namun

persyaratan

administratif

sebagaimana

dimaksud

dalam Pasal 4 ayat (4) PP No. 23 Tahun 2005 belum terpenuhi


secara memuaskan. Status BLU bertahap ini berlaku paling
lama tiga tahun.
Fleksibilitas yang diberikan kepada satker berstatus BLU
bertahap dibatasi:
1) Penggunaan langsung pendapatan dibatasi jumlahnya,
sisanya harus disetorkan ke kas negara sesuai prosedur
PNBP.
2) Tidak diperbolehkan mengelola investasi.
3) Tidak diperbolehkan mengelola utang.
4) Pengadaan
barang/jasa
mengikuti

ketentuan

umum pengadaan barang/jasa pemerintah yang berlaku.


5) Tidak diterapkan flexible budget.
2.10 PERUBAHAN DAN PENCABUTAN BADAN LAYANAN UMUM
Perubahan status dari BLU penuh menjadi BLU bertahap atau
sebaliknya,

terjadi

apabila

BLU

yang

bersangkutan

mengalami

penurunan atau peningkatan kinerja. Ditjen Perbendaharaan c.q.


Direktorat Pembinaan PK-BLU setiap periode melakukan pembinaan,
monitoring,

dan

evaluasi

kinerja

BLU.

Hasil

dari

pembinaan,

monitoring, dan evaluasi tersebut menjadi masukan dalam perubahan


status BLU.
Pencabutan status BLU menjadi satker biasa apabila:
1. Dicabut oleh Menteri Keuangan berdasarkan rekomendasi atau
masukan dari tim pembinaan, monitoring, dan evaluasi kinerja BLU.
2. Dicabut
oleh
Menteri
Keuangan
atas
usulan
menteri
teknis/pimpinan lembaga.
3. Berubah status menjadi badan hukum dengan kekayaan negara
yang dipisahkan.
Apabila

menteri/pimpinan

lembaga

teknis

mengajukan

usulan

pencabutan BLU, Menteri Keuangan membuat penetapan pencabutan


penerapan PK-BLU paling lambat tiga bulan sejak tanggal usulan
tersebut

diterima.

Jika

melebihi

jangka

waktu

tersebut,

usulan

pencabutan dianggap ditolak. Instansi pemerintah yang pernah dicabut


dari status PK-BLU dapat diusulkan kembali untuk menerapkan PK-BLU.

13

TARIF DAN BIAYA SATUAN LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM


2.11

TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM


PP No. 23 Tahun 2005Pasal 9 menerangkan tentang tarif layanan

BLU. Dalam pasal tersebut disebutkan BLU dapat memungut biaya


kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang
diberikan. Imbalan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang
disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per
investasi dana yang dapat bertujuan untuk menutup seluruh atau
sebagian dari biaya per unit layanan.
Tarif layanan dapat berupa besaran tarif atau pola tarif sesuai
jenis layanan BLU yang bersangkutan. Apabila BLU memiliki jenis
layanan yang tidak terlalu banyak, maka cukup memiliki tarif berupa
angka mutlak ataupun kisaran tarif. Apabila BLU memiliki jenis layanan
yang banyak dan bersifat kompleks, seperti rumah sakit, maka tarifnya
berupa pola tarif untuk kelompok layanan.
Tarif

layanan

diusulkan

oleh

BLU

bersangkutan

kepada

Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat


Daerah). Usul tarif layanan dari menteri/pimpinan lembaga/kepala
SKPD

selanjutnya

ditetapkan

oleh

Menteri

Keuangan/gubernur/bupati/walikota, sesuai dengan kewenangannya


(PP No. 23 Tahun 2005 Pasal 9 ayat 3 dan 4). Dalam penetapan tarif
dimaksud, Menteri Keuangan dibantu oleh suatu tim dan dapat
menggunakan narasumber yang berasal dari sektor terkait.
Hal-hal yang wajib dipertimbangkan dalam menyusun tarif
adalah sebagai berikut:
1. Kontinuitas dan pengembangan layanan;
2. Daya beli masyarakat;
3. Asas keadilan dan kepatutan;

14

4. Kompetisi yang sehat.


2.12

BIAYA SATUAN
Biaya satuan per unit output dari layanan atau kegiatan

ditentukan lebih dulu sebelum penyusunan tarif dan biaya layanan.


Biaya satuan dibuat berdasarkan perhitungan akuntansi biaya untuk
setiap output barang/jasa yang dihasilkan.
Dalam rangka penyusunan biaya satuan per unit layanan, maka
perlu diperhitungkan biaya-biaya yang timbul, antara lain:
1. Biaya langsung; adalah biaya-biaya yang secara khusus dapat
ditelusuri atau diidentifikasi sebagai komponen langsung dari
biaya produk. Total biaya langsung ini sering disebut dengan
istilah biaya utama (prime cost).
2. Biaya tidak langsung adalah semua biaya yang tidak dapat
diidentifikasi

secara

khusus

terhadap

suatu

produk

dan

dibebankan kepada seluruh jenis produk secara bersamaan.


Biaya tidak langsung ini sering disebut juga biaya overhead
(overhead cost).
3. Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara total seiring
dengan berubahnya volume produk yang dibuat. Sedangkan
biaya per unit-nya adalah tetap. Contoh: Biaya bahan baku
langsung dan tenaga kerja langsung.
4. Biaya tetap (fixed cost), seperti biaya penyusutan dan biaya
sewa

akan

selalu

tetap

(constant)

dalam

suatu

rentang

waktu/periode tertentu. Perlu dicatat bahwa biaya tetap akan


selalu

konstan

pada

semua

tingkat

produksi

(volume),

sedangkan biaya tetap per unit akan menurun seiring dengan


meningkatnya volume produksi.

Langkah-langkah perhitungan biaya satuan adalah sebagai


berikut:

15

1. Menentukan

kegiatan

berdasarkan

program

yang

telah

ditetapkan;
2. Menentukan indikator kinerja berupa keluaran (output), tolok
ukur kinerja, dan target kinerja;
3. Untuk satu jenis keluaran, tentukan jenis biaya dan besaran
biaya per unit output. Jenis biaya dapat berupa: biaya langsung
variabel, biaya langsung tetap, biaya tidak langsung variabel,
dan biaya tidak langsung tetap.
4. Menghitung biaya per jenis kegiatan dengan mengalikan rincian
biaya dengan satuan biaya.
5. Menjumlahkan seluruh komponen biaya untuk mendapatkan
satuan biaya per kegiatan.

PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM


2.13 PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
2.13.1Rencana Strategis Bisnis
BLU menyusun rencana strategis bisnis lima tahunan dengan
mengacu kepada Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra
K/L). Rencana strategis bisnis merupakan istilah yang pengertiannya
sama dengan Renstra bagi instansi pemerintah. Oleh karena itu
penyusunan

rencana

strategis

bisnis

berpedoman

pada Instruksi

Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi


Pemerintah.
2.13.2Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran
Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) BLU memuat antara lain:
a. Kondisi kinerja BLU tahun berjalan
b.Asumsi makro dan mikro
c. Target kinerja (output yang terukur)
d.Analisis dan perkiraan biaya per output dan agregat
e. Perkiraan harga dan anggaran

16

f. Prognosa laporan keuangan


2.13.3Pengintegrasian Rencana Bisnis dan Anggaran dalam RKA-K/L
RKA-K/L sebagai dokumen usulan anggaran (budget request)
memuat sasaran terukur yang penyusunannya dilakukan secara
berjenjang dari tingkat kantor/satuan kerjake tingkat yang lebih tinggi
(bottom-up) untuk melaksanakan penugasan dari menteri/pimpinan
lembaga (top

down).

Dengan

demikian

dalam

menyusun

suatu Rencana Kerja dan Anggaran BLU harus menerapkan anggaran


berbasis kinerja.
BLU sebagai satuan kerja merupakan bagian dari kementerian
negara/lembaga.

Oleh

karena

dalam RKA-K/L dilakukan

oleh

bersangkutan.

pengintegrasian

Tata

cara

itu

pengintegrasian RBA BLU

kementerian
RBA

ke

negara/lembaga
kedalam

RKA-K/L

berpedoman pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21


Tahun

2004 tentang

Penyusunan Rencana

Kerja

dan

Anggaran

Kementerian Negara/Lembaga.

2.14 PELAKSANAAN ANGGARAN


2.14.1Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Setelah RKA-KL dan Undang-undang

APBN disahkan,

pimpinan

BLU menyesuaikan usulan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) menjadi


RBA

Definitif.

RBA

definitif

digunakan

sebagai

acuan

dalam

menyusun DIPA BLU untuk diajukan dan mendapat pengesahan Menteri


Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan.
DIPA BLU sekurang-kurangnya memuat:
a. seluruh pendapatan dan belanja BLU;
b.proyeksi arus kas;
c. jumlah dan kualitas barang dan/atau jasa yang dihasilkan;
d.rencana penarikan dana yang bersumber dari APBN;

17

e. besaran persentase ambang batas sebagaimana ditetapkan


dalam RBA definitif.
Dalam hal DIPA BLU belum disahkan oleh Menteri Keuangan, BLU
dapat melakukan pengeluaran paling tinggi sebesar angka dokumen
pelaksanaan anggaran tahun lalu.DIPA BLU yang telah disahkan oleh
Menteri Keuangan menjadi lampiran dari contractual performance
agreement yang

ditandatangani

oleh menteri/pimpinan

lembagadengan pimpinan BLU yang bersangkutan dan sekaligus


menjadi dasar penarikan dana.
2.14.2Pengelolaan PNBP
Pengelolaan PNBP pada BLU mengikuti pedoman sebagai berikut.
a. Penggunaan PNBP
1) Pada BLU Penuh
Satuan kerja berstatus BLU Penuh diberikan fleksibilitas
pengelolaan

keuangan,

antara

lain

dapat

langsung

menggunakan seluruh PNBP dari pendapatan operasional


dan nonopersaional, di luar dana yang yang bersumber
dari APBN,

sesuai RBA tanpa

terlebih

dahulu

disetorkan

ke Rekening Kas Negara. Apabila PNBP melebihi target yang


ditetapkan dalam RBA tetapi masih dalam ambang batas
fleksibilitas, kelebihan tersebut dapat digunakan langsung
mendahului pengesahan revisi DIPA.
2)

Pada BLU Bertahap


Satker berstatus BLU Bertahap dapat menggunakan PNBP
sebesar persentase yang telah ditetapkan. Sedangkan PNBP
yang dapat digunakan langsung adalah sebesar persentase
yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan tentang
penetapan

satker

yang

menerapkan

PK-BLU

yang

bersangkutan.
Satker berstatus BLU Bertahap menyetor penerimaan PNBP
yang

tidak

digunakan

Negara secepatnya.

PNBP

langsung
yang

ke Rekening

telah

disetor

Kas
dapat

dipergunakan kembali sebesar selisih antara PNBP yang

18

dapat

digunakan

dengan

PNBP

yang

telah

digunakan

langsung.
b.Pertanggungjawaban Pengunaan PNBP oleh BLU
Satker
PNBP

BLU

secara

mempertanggungjawabkan
langsung

dengan

Pengesahan kepada KPPN setiap

pengggunaan

menyampaikan SPM

triwulan

selambat-lambatnya

tanggal 10 setelah akhir triwulan yang bersangkutan dengan


dilampiri Surat

Pernyataan

ditandatangani

oleh

pengesahan

Tanggung

pimpinan

BLU.

Jawab (SPTJ)

yang

Berdasarkan

SPM

tersebut, KPPN menerbitkan SP2D sebagai

pengesahan

penggunaan

dana

PNBP.

Pertanggungjawaban

penggunaan dana PNBP selain yang digunakan langsung oleh


satker yang berstatus BLU Bertahap menggunakan mekanisme
pertanggungjawaban PNBP sebagaimana diatur dalam ketentuan
perundangan

yang

perubahan Peraturan

Dirjen

berlaku

(mengakomodasi

Perbendaharaan

Nomor

PER-

66/PB/2005).
2.14.3Revisi Anggaran
DIPA BLU ataupun RBA Definitif apabila diperlukan dapat direvisi.
Perubahan/revisi terhadap DIPA BLU atau RBA Definitif dapat dilakukan
jika:
a. Terdapat perubahan/pergeseran program atau kegiatan BLU;
b.Terdapat penambahan atau pengurangan pagu anggaran yang
berasal dari APBN;
c. Belanja BLU melampaui ambang batas fleksibilitas;
d.Belanja BLU sampai dengan ambang batas fleksibilitas.
2.14.4Surplus dan Defisit BLU
Surplus anggaran BLU adalah selisih lebih antara pendapatan
dengan belanja BLU yang dihitung berdasarkan laporan keuangan
operasional berbasis akrual pada suatu periode anggaran. Estimasi
surplus dalam tahun anggaran berjalan diperhitungkan dalam RBA
tahun

anggaran

berikut

untuk

disetujui

penggunaannya.Surplus

anggaran BLU dapat digunakan dalam tahun anggaran berikutnya

19

kecuali atas perintah Menteri Keuangan, disetorkan sebagian atau


seluruhnya ke rekening kas umum negara dengan mempertimbangkan
posisi likuiditas BLU.
Defisit anggaran BLU adalah selisih kurang antara pendapatan
dengan belanja BLU yang dihitung berdasarkan laporan keuangan
operasional berbasis akrual pada suatu periode anggaran.Defisit
anggaran BLU dapat diajukan pembiayaannya dalam tahun anggaran
berikutnya

kepada

Menteri

Keuangan

melalui

Menteri/Pimpinan

Lembaga. Menteri Keuangan dapat mengajukan anggaran untuk


menutup

defisit

pelaksanaan

anggaran

BLU

dalam APBN tahun

anggaran berikutnya.

2.15 PENDAPATAN DAN BELANJA


Pendapatan dan belanja BLU diatur dalam Pasal 14 dan 15 PP
No. 23 Tahun 2005. Pendapatan BLU berasal dari:
1. Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN/APBD.
2. Pendapatan dari jasa layanan yang diberikan kepada
masyarakat.
2.15.1Pendapatan Jasa Pelayanan Rumah Sakit
2.15.2Pendapatan Jasa Pelayanan Pendidikan
2.15.3Pendapatan Jasa Pelayanan Tenaga, Pekerjaan,

Informasi,

Pelatihan, danTeknologi
2.15.4Pendapatan Jasa Pencetakan
2.15.5Pendapatan Jasa Bandar Udara, Kepelabuhan, dan Kenavigasian
2.15.6Pendapatan Jasa Penyelenggaraan Telekomunikasi
2.15.7Pendapatan Jasa Pelayanan Pemasaran
2.15.8Pendapatan Penyediaan Barang
2.15.9Pendapatan Jasa Penyediaan Barang dan Jasa Lainnya
3. Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha
lainnya.
a. Pendapatan Hasil
b. Pendapatan Hasil
c. Pendapatan Hasil
4. Pendapatan hibah
terikat.
a. Pendapatan

Kerjasama Perorangan
Kerjasama Lembaga/BadanUsaha
Kerjasama Pemerintah Daerah
meliputi hibah terikat dan hibah tidak

Hibah

Terikat

(hibah

yang

peruntukannya

ditentukan oleh pemberi hibah)


1) Pendapatan Hibah Terikat Dalam Negeri-Perorangan

20

2)

Pendapatan Hibah Terikat Dalam Negeri-Lembaga/Badan

3)
4)
5)

Usaha
Pendapatan Hibah Terikat Dalam Negeri-Pemda
Pendapatan Hibah Terikat Luar Negeri-Perorangan
Pendapatan Hibah Terikat Luar Negeri-Lembaga/Badan

Usaha
6) Pendapatan Hibah Terikat Luar Negeri-Negara
7) Pendapatan Hibah Terikat Lainnya
b. Pendapatan Hibah Tidak Terikat (hibah yang peruntukannya
tidakditentukan oleh pemberi hibah)
1) Pendapatan Hibah Tidak Terikat Dalam Negeri-Perorangan
2) Pendapatan
Hibah
Tidak
Terikat
Dalam
Negeri3)
4)
5)

Lembaga/Badan Usaha
Pendapatan Hibah Tidak Terikat Dalam Negeri-Pemda
Pendapatan Hibah Tidak Terikat Luar Negeri-Perorangan
Pendapatan
Hibah
Tidak
Terikat
Luar
Negeri-

Lembaga/Badan Usaha
6) Pendapatan Hibah Tidak Terikat Luar Negeri-Negara
7) Pendapatan Hibah Tidak Terikat Lainnya
5. Pendapatan BLU lainnya.
a. Pendapatan Jasa Layanan Perbankan BLU
b. Pendapatan Jasa Layanan Perbankan BLU yangdibatasi
pengelolaannya
Pendapatan 1, 2, dan 3diatas dapat dikelola langsung untuk
membiayai belanja BLU sesuai RBA sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 PP No. 23 Tahun 2005. Hibah terikat yang diperoleh dari
masyarakat atau badan lain merupakan pendapatan yang harus
diperlakukan sesuai dengan peruntukan.
Belanja BLU terdiri dari unsur biaya yang sesuai dengan
struktur biaya yang dituangkan dalam RBA definitif. Belanja BLU
dilaporkan

sebagai

belanja

barang

dan

jasa

kementerian

negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.
Pengelolaan belanja BLU diselenggarakan secara fleksibel
berdasarkan kesetaraan antara volume kegiatan pelayanan dengan
jumlah pengeluaran, mengikuti praktek bisnis yang sehat. Fleksibilitas
pengelolaan belanjaberlaku dalam ambang batas sesuai dengan yang
ditetapkan dalam RBA. Belanja BLU yang melampaui ambang batas
fleksibilitas

harus

mendapat

persetujuan

Menteri

21

Keuangan/gubemur/bupati/walikota

atas

usulan

menteri/pimpinan

lembaga/kepala SKPD, sesuai dengan kewenangannya.


Apabila terjadi kekurangan anggaran, BLU dapat mengajukan
usulan

tambahan

anggaran

dari

APBN/APBD

kepada

Menteri

Keuangan/PPKD melalui menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD sesuai


dengan kewenangannya.

2.16 PENGELOLAAN KEUANGAN DAN BARANG


2.16.1Pengelolaan Kas
Pengelolaan kas BLU dilakukan berdasarkan praktek bisnis yang
sehat. Dalam melaksanakan pengelolaan kas, BLU menyelenggarakan
hal-hal sebagai berikut :
a. Perencanaan penerimaan dan pengeluaran kas;
b.Pemungutan pendapatan atau tagihan;
c. Penyimpanan kas dan mengelola rekening bank;
d.Pembayaran;
e. Perolehan sumber dana untuk menutup defisit jangka pendek;
dan
f. Pemanfaatan surplus kas jangka pendek untuk memperoleh
pendapatan tambahan.
Pengelolaan kas BLU dapat dilakukan melalui:
a. Penarikan dana yang bersumber dari APBN dengan menerbitkan
SPM;
b.Pembukaan Rekening Bank BLU oleh pimpinan BLU, sesuai
dengan ketentuan yang berlaku kecuali dalam rangka cash
management;
c. Investasi jangka pendek dalam rangka cash management (jika
terjadi surplus kas) pada instrumen keuangan dengan resiko
rendah.
2.16.2Pengelolaan Piutang

22

Dalam pengelolaan keuangan, BLU dapat memberikan piutang


terkait dengan kegiatannya, yang dikelola secara tertib, efisien,
ekonomis,

transparan,

dan

bertanggung

jawab

serta

dapat

memberikan nilai tambah, sesuai dengan praktek bisnis yang sehat


dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Piutang BLU dapat dihapus secara mutlak atau bersyarat oleh
pejabat berwenang, yang nilainya ditetapkan secara berjenjang.
Kewenangan
dengan

penghapusan

Peraturan

piutang

Menteri

secara berjenjang

Keuangan

dengan

ditetapkan

memperhatikan

ketentuan peraturan perundang-undangan.


2.16.3Pengelolaan Utang
Dalam kegiatan operasional dengan pihak lain, BLU dapat
memiliki

utang

yang

dikelola

secara

tertib,

efisien,

ekonomis,

transparan, dan bertanggung jawab, sesuai dengan praktek bisnis


yang sehat. Pembayaran utang BLU pada prinsipnya menjadi tanggung
jawab BLU.
Pengelolaan utang harus sesuai dengan peruntukannya, utang
jangka pendek ditujukan hanya untuk belanja operasional, sedangkan
utang jangka panjang hanya untuk belanja modal.Hak tagih atas utang
BLU kadaluarsa setelah lima tahun sejak utang tersebut jatuh tempo,
kecuali ditetapkan lain oleh UU.
2.16.4

Pengelolaan Investasi

BLU tidak dapat melakukan investasi jangka panjang, kecuali


atas persetujuan Menteri Keuangan. Investasi jangka panjang yang
dimaksud antara lain penyertaan modal, pemilikan obligasi untuk masa
jangka panjang, atau investasi langsung (pendirian perusahaan).
Keuntungan dari investasi jangka panjang merupakan pendapatan BLU.
2.16.5Penyelesaian Kerugian

23

Setiap kerugian negara pada BLU yang disebabkan oleh tindakan


melanggar hukum atau kelalaian seseorang diselesaikan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai penyelesaian
kerugian negara.
Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
yang

karena

perbuatannya

melanggar

hukum

atau

melalaikan

kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan


keuangan negara, wajib mengganti kerugian tersebut.
Setiap

pimpinan kementerian

negara/lembaga dapat

segera

melakukan tuntutan ganti rugi, setelah mengetahui bahwa dalam


kementerian negara/lembaga yang bersangkutan terjadi kerugian
akibat perbuatan dari pihak manapun.

2.17 AKUNTANSI, PELAPORAN, DAN PERTANGGUNGJAWABAN


KEUANGAN
2.17.1Akuntansi
Berdasarkan PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan

BLU,

akuntansi

dan

pelaporan

keuangan

BLU

diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK)


yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi indonesia atau standar
akuntansi industri yang spesifik setelah mendapatkan persetujuan
Menteri Keuangan. Selain itu, dalam rangka konsolidasi kedalam
laporan keuangan kementerian negara/lembaga, BLU juga menyusun
laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP). Dengan demikian BLU dalam penyusunan laporan
keuangan harus menyelenggarakan dua sistem pelaporan.
Sedangkan
mengembangkan

sistem
tiga

akuntansinya,

sistem

akuntansi

BLU
yaitu

setidak-tidaknya
sistem

akuntansi

keuangan, sistem akuntansi aset tetap, dan sistem akuntansi biaya.


Sistem

akuntansi

keuangan,

adalah

sistem

akuntansi

yang

menghasilkan laporan keuangan pokok dengan tujuan umum yang


menghasilkan laporan keuangan pokok untuk keperluan akuntabilitas,

24

manajemen, dan transparansi. Sistem akuntansi aset tetap, yang


menghasilkan laporan asset tetap untuk keperluan manajemen asset
tetap. Sedangkan sistem akuntansi biaya, menghasilkan informasi
biaya satuan (unit) per unit layanan, pertanggungjawaban kinerja
ataupun informasi lain untuk kepentingan manajerial.
2.17.1.1 SAP Akrual
Dengan adanya dua standar akuntansi dalam penyusunan
laporan

keuangan,

BLU

mengalami

kesulitan

karena

harus

menyelenggarakan dua sistem pelaporan. Untuk menyederhanakan


pelaporan keuangan BLU, serta sejalan dengan penerapan akuntansi
berbasis akrual, maka KSAP menyusun konsep PSAP (Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintahan) tentang penyajian laporan keuangan
BLU. Dengan adanya PSAP penyajian laporan keuangan BLU tersebut,
maka nantinya BLU hanya menyusun laporan keuangan yang berbasis
SAP. Namun demikian, penerapan PSAP tentang penyajian laporan
keuangan BLU tersebut akan efektif bila PP 23 tahun 2005 yang
mengatur basis penyajian laporan keuangan BLU yang menggunakan
SAK direvisi. Dari konsep tersebut, secara umum Standar Akuntansi
BLU mengacu pada seluruh PSAP kecuali diatur tersendiri dalam
konsep PSAP BLU.
Merupakan
menerapkan

sebuah

akuntansi

langkah

yang

maju

berbasis

bagi

pemerintah

akrual.

Sebagai

untuk
instansi

pemerintah yang kekayaannya tidak dipisahkan, dalam pelaporan


keuangannya BLU juga mengacu kepada SAP Akrual. Namun demikian,
menurut

penulis

terdapat

beberapa

karakteristik

BLU

yang

membutuhkan perlakuan khusus yang berbeda dari yang telah diatur


dalam SAP Akrual. Hal ini sejalan dengan kapasitas BLU yang melebihi
satker pemerintah biasa, yang seharusnya mampu mendekati best
practices yang ada pada lingkungan/industrinya. Sebagai contoh, BLU
perguruan tinggi (Undip, Unpad, Unibraw, dll) dalam lingkup lebih kecil
(nasional) akan bersaing dengan perguruan tinggi badan hukum
seperti UI, UGM, ITB, IPB dan yang lainnya. Perguruan tinggi badan
hukum tersebut dalam pelaporan keuangannya akan menerapkan

25

PSAK

yang

berbasis

IFRS (International

Financial

Reporting

Standard). Dampaknya adalah meningkatnya kualitas keterbandingan


laporan keuangan perguruan tinggi badan hukum tersebut secara
internasional

karena

dengan

bahasa

yang

sama

secara

internasional. Berkaca dari hal itu, dengan mempertimbangkan visi


BLU perguruan tinggi untuk menjadi perguruan tinggi kelas dunia,
seyogyanya akuntansi BLU mampu mengadopsi beberapa unsur dalam
standar berbasis IFRS untuk ditambahkan pada konsep PSAP mengenai
laporan keuangan BLU.
2.17.1.2 Konsep Baru PSAK berbasis IFRS Yang Relevan bagi
BLU
Untuk meningkatkan keterbandingan kualitas laporan keuangan
BLU, berikut beberapa hal yang dapat diterapkan oleh BLU:
1.

Properti Investasi
Sesuai PSAK 13, Properti investasi adalah (tanah atau bangunan

atau bagian dari suatu bangunan atau kedua duanya) yang dikuasai
oleh pemilik atau lesse melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan
rental atau kenaikan nilai atau keduanya dan tidak untuk : Digunakan
dalam produksi atau penyedia barang atau jasa atau untuk tujuan
administratif; atau dijual dalam kegiatan sehari-hari.
Dengan demikian, suatu aset tidak lancar diklasifikasikan
sebagai properti investasi jika tidak dipakai dalam operasional dan
bukan untuk dijual dalam kegiatan sehari-hari. Dalam konteks ini, BLU
yang memilki aset tidak lancar (tanah/bangunan) yang tidak dipakai
dalam kegiatan operasionalnya melainkan untuk disewakan kepada
pihak lain, maka seharusnya aset tersebut diklasifikasikan sebagai
properti investasi, bukan sebagai aset tidak lancar ataupun aset lainlain. Contoh pada BLU antara lain gedung pertemuan, balairung,
bangunan
sejenisnya.

yang

disewakan

sebagai

kantin,

dan

lain-lain

yang

26

2.

Sewa

pembiayaan (financial

lease) dan

sewa

operasional (operating lease)


Banyak BLU yang telah melakukan kerja sama operasi dengan
pihak lain guna meningkatkan pelayanannya atau untuk meningkatkan
kapasitas aset yang dimilikinya. Sejalan dengan pencabutan PSAK 39
mengenai Akuntansi Kerja Sama Operasi, menurut pengamatan
penulis, maka kerja sama operasi yang dilakukan BLU sebagian besar
merupakan bentuk sewa operasional ataupun sewa pembiayaan (PSAK
30).
Secara

definisi,

Pembiayaanadalah

sewa

salah

satu

urgensi

utama

yang mengalihkan secara

Sewa

substansial

seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan suatu


aset. Sedangkan Sewa Operasiadalah sewa yang tidak mengalihkan
secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan aset. Dari definisi tersebut dikaitkan dengan praktik pada
BLU, maka:
a. Jika BLU sebagai lessor (yang menyewakan aset), maka BLU
hanya

dapat

melakukan

sewa

operasional.

BLU

tidak

diperkenankan melakukan sewa pembiayaan dimana terjadi


peralihan kemungkinan aset karena aset BLU merupakan aset
negara yang tidak boleh dipindahtangankan.
b. Jika BLU sebagai lessee (penyewa) maka BLU dapat melakukan
baik sewa operasional maupun sewa pembiayaan.
Poin utama dari pengklasifikasian ini adalah dampak perlakuan
akuntansinya. Pada sewa pembiayaan, Lessee mengakui aset dan
liabilitas sewa di Laporan posisi keuangan serta melakukan amortisasi
atas aset yang dicatat sepanjang umur ekonomis sewa. Kemudian,
apabila timbul bunga atas pembayaran cicilan sewa, maka diakui
sebagai biaya bunga di Laporan Laba/Rugi. Sedangkan atas sewa
operasi, Lessee tidak perlu mengakui aset atau liabilitas pada laporan
posisi keuangan dan hanya perlu mengakui setiap pembayaran sewa
sebagai biaya sewa di Laporan Laba/Rugi.

27

Secara

ringkas,

dampak

signifikannya

adalah

perubahan

pencatatan atas nilai aset dan kewajiban yang muncul laporan posisi
keuangan serta saldo pada laporan operasionalnya. Atas penerapan ini
meningkatkan keandalan laporan keuangan BLU, dimana aktivitas
sewa ini dilakukan oleh banyak BLU namun perlakuan akuntansinya
masih kurang jelas.
3.

Nilai wajar (fair value)


Salah

satu

hal

utama

dalam

konvergensi

IFRS

adalah

penggunaan pendekatan pengukuran nilai wajar (fair value). Dalam


SAP Akrual lebih diutamakan untuk digunakan pengukuran nilai
perolehan (historical cost) atas aset pemerintah dibandingkan nilai
wajar, kecuali untuk investasi lebih diutamakan nilai wajar terlebih
dahulu.
Keuntungan dari digunakannya pendekatan pengukuran ini
adalah dapat dibuktikan dengan mudah karena berdasarkan transaksi
yang telah terjadi. Namun kelemahannya, ketika terjadi penurunan
atau peningkatan nilai, aset yang dilaporkan tidak akan mencerminkan
nilai yang berubah ini.
Sebagai contoh, menggunakan nilai perolehan suatu gedung
dicatat sebesar Rp 1 milyar pada tahun pertama. Pada tahun kelima,
nilainya akan menjadi Rp500 juta (asumsi: depresiasi garis lurus, umur
ekonomis 10 tahun). Karena peningkatan nilai strategis lingkungan,
nilai wajar gedung-gedung tersebut meningkat 5 kali lipat. Dengan
demikian nilai wajar tahun kelima sebenarnya sebesar Rp 2,5 milyar.
Dalam hal ini, nilai perolehan tidak mencerminkan nilai dari aset
sebenarnya pada saat pelaporan.
Dengan

demikian

untuk

meningkatkan

keandalan

laporan

keuangan BLU, akan lebih tepat kiranya diutamakan pendekatan


dengan nilai wajar pada pengukuran aset BLU.

28

BLU

menyelenggarakan

akuntansi

sesuai

dengan

standar

akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntan


Indonesia. Jika tidak ada standar akuntansi BLU yang bersangkutan
dapat menerapkan standar akuntansi industri yang spesifik setelah
mendapat persetujuan Menteri Keuangan.
BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dengan
mengacu pada standar akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis
layanannya dan ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga.

2.17.2Pelaporan
BLU menyampaikan laporan keuangan setiap triwulan kepada
menteri/pimpinan

lembaga

berupa

Laporan

Realisasi

Anggaran,

Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan dan Laporan
keuangan yang lengkap (termasuk neraca dan ikhtisar laporan
keuangan) pada setiap semester dan tahunan. Laporan-laporan
tersebut disampaikan paling lambat satu bulan setelah periode
pelaporan

berakhir.

Laporan

keuangan

unit-unit

usaha

yang

diselenggarakan dikonsolidasikan oleh BLU dan menjadi lampiran


laporan keuangan BLU.
Laporan
keuangan

keuangan

BLU

dikonsolidasikan

kementerian/lembaga

sesuai

dengan

standar

laporan
akuntansi

pemerintahan dan diaudit oleh pemeriksa ekstern sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan.
2.17.2.1
Pencatatan Badan Layanan Umum Daerah
Setiap transaksi keuangan BLU Daerah harus diakuntansikan dan
dokumen pendukungnya dikelola secara tertib. Akuntansi dan laporan
keuangan

BLU

Daerah

diselenggarakan

sesuai

dengan

Standar

Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi


Indonesia.
Dalam hal tidak terdapat Standar Akuntansi Keuangan yang
sesuai, BLU Daerah dapat menerapkan standar akuntansi industri yang

29

spesifik setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. BLU Daerah


mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dengan mengacu
pada standar akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis layanannya
dan ditetapkan oleh Kepala Daerah.
2.17.2.2
Komponen Laporan Keuangan
Laporan keuangan BLU Daerah setidak-tidaknya meliputi :
1. Laporan Realisasi Anggaran
Menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan penggunaan sumber
daya ekonomi yang dikelola oleh Pemerintah Daerah dalam satu
periode pelaporan.
2. Laporan Operasional
Menyajikan pendapatan dan beban atas kegiatan operasional BLU
Daerah yang dapat di analisis menurut klasifikasi ekonomi atau
klasifikasi fungsi/program untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
3. Neraca
Menggambarkan posisi keuangan BLU Daerah mengenai aset,
kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
4. Laporan Arus Kas
Menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan
kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, serta saldo kas
dan setara kas pada tanggal pelaporan.
5. Laporan Perubahan Ekuitas
Menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos:
a. Ekuitas awal
b. Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan
c. Koreksi-koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas,
yang

antara

lain

berasal

dari

dampak

kumulatif

yang

disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi


kesalahan mendasar
d. Ekuitas akhir.
6. Catatan Atas Laporan Keuangan
Mengungkapkan hal-hal sebagai berikut agar dapat digunakan
oleh

pengguna

dalam

memahami

dan

membandingkannya

dengan laporan keuangan entitas lainnya:


a. Informasi Umum tentang BLU Daerah
b. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi
c. Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan
berikutkendala

dan

pencapaian target

hambatan

yang

dihadapi

dalam

30

d. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan


kebijakankebijakan akuntansi yang

dipilih untuk diterapkan

atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya


e. Rincian dan penjelasan masing-masing Akun yang disajikan
f.

pada lembar muka laporan keuangan


Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi

yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan


g. Informasi lainnya yang diperlukan
untuk penyajian yang
wajar, yangtidak disajikan dalam lembar muka

laporan

keuangan
7. Laporan Kinerja
Menyajikan laporan yang sesuai dengan rencana dan target kerja.

2.17.3Pertanggungjawaban
Menteri/pimpinan lembaga bertanggung jawab atas keberhasilan
pencapaian sasaran program berupa hasil (political accountability),
sedangkan

pimpinan

pencapaian

BLU

sasaran

accountability)

dan

bertanggung

kegiatan
terhadap

jawab

berupa
kinerja

atas

keberhasilan

keluaran

(operational

sesuai

dengan tolok

BLU

ukur yang ditetapkan dalam RBA.

PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN PEMERIKSAAN BADAN


LAYANAN UMUM

2.18

PEMBINAAN BADAN LAYANAN UMUM


Pembinaan

lembaga,

teknis

sedangkan

oleh Menteri Keuangan.

BLU

pembinaan

dilakukan
di

bidang

oleh menteri/pimpinan
keuangan

dilakukan

31

2.18.1Pengawasan Badan Layanan Umum


Dalam rangka pelaksanaan pembinaan BLU dapat dibentuk
dewan pengawas. Pembentukan dewan pengawas hanya berlaku pada
BLU yang memiliki realisasi nilai omzet tahunan (menurut laporan
realisasi anggaran) atau nilai aset (menurut neraca) memenuhi syarat
minimum yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

2.18.2Pemeriksaan Badan Layanan Umum


Pemeriksaan intern BLU dilaksanakan oleh satuan pemeriksaan
intern (SPI) yang merupakan unit kerja dan berkedudukan langsung di
bawah pemimpin BLU, sedangkan pemeriksaan ekstern dilaksanakan
oleh lembaga pemeriksa ekstern sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

32

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1

Kesimpulan
Badan Layanan Umum (Indonesia: BLU / Badan Layanan Umum)

adalah sebuah institusi di lingkungan pemerintah yang melakukan


pelayanan publik berdasarkan efektifitas dan efisiensi tanpa memberi
prioritas kepada provit tersebut. Dasar hukum Badan Layanan Umum
di Indonesia adalah UU RI No 1 Tahun 2004, PP Nomor 23 Tahun 2005,
dan juga Uang Peraturan Menteri. Tujuan dari Badan Layanan Umum
adalah

untuk

meningkatkan

pelayanan

publik

dalam

rangka

memajukan kesejahteraan umum dan memperkaya kehidupan bangsa.


Badan Layanan Umum dibuat sebagai forum untuk pelaksanaan
anggaran berbasis kinerja. Badan Layanan Umum dikendalikan oleh
anggaran dan akuntabilitas, tetapi memberikan fleksibilitas dalam
pengelolaan

operasionalnya.

Fleksibilitas

ini

dimaksudkan

untuk

mendorong unit kerja Badan Layanan Umum dalam melaksanakan


praktik berdasarkan prinsip-prinsip bisnis dan aturan manajemen yang
baik dalam rangka mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik
dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan
keuangan negara. Menjadi unit kerja Badan Layanan Umum, Menteri /
Kepala Lembaga / Kepala SKPD dapat mengusulkan sebuah badan
pemerintah yang memenuhi persyaratan tindakan substantif, teknis,
dan administratif untuk mengajukan permohonan kepada Menteri
Keuangan PPK BLU / gubernur / bupati / walikota, sesuai dengan
kewenangannya. Berikut ini Badan Layanan Umum yang beroperasi
dana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dari PP Nomor 23 Tahun
2005

adalah

APBN

APBD,

pendapatan

dari

layanan

kepada

masyarakat, hibah tidak terikat, hibah terikat, kerjasama Badan


Layanan Umum dengan pihak ketiga, dan hasil bisnis lainnya.
BLU

menyelenggarakan

akuntansi

sesuai

dengan

standar

akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntan


Indonesia. Jika tidak ada standar akuntansi BLU yang bersangkutan
dapat menerapkan standar akuntansi industri yang spesifik setelah
mendapat persetujuan Menteri Keuangan.

33

BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dengan


mengacu pada standar akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis
layanannya dan ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga.
Sejalan dengan penerapan akuntansi akrual oleh pemerintah
dan juga untuk menyederhanakan pelaporan keuangan BLU, maka
tepat kiranya penggunaan SAP Akrual sebagai acuan standar dalam
penyusunan laporan keuangan BLU. Namun, mempertimbangkan
karakteristik

BLU,

sebaiknya

diperlukan

beberapa

pengaturan/

perlakuan khusus yang berbeda dari yang telah diatur dalam SAP
Akrual. Semoga KSAP mampu memberikan pedoman yang lebih tepat
bagi BLU dengan penyusunan konsep PSAP yang khusus berlaku bagi
pelaporan keuangan BLU.

3.2

Saran
BLU

Daerah

harus

dijalankan

sesuai

dengan

kebutuhan

masyarakat Daerah setempat dan benar-benar mampu membantu


kebutuhan

pelayanan

terhadap

masyarakat

serta

dipertanggungjawabkan dengan penuh integritas, akuntabilitas, dan


transparan.

34

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU. 2012. Kebijakan
Pengelolaan PendapatanBadan Layanan Umum. Yogyakarta.
Didapat

secara

online

dari

http://repository.ung.ac.id/get/kms/623/Kebijakan-PengelolaanPendapatan-BLU.pdf.
Modul Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 2015. Universitas
Pendidikan Ganesha
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 23 Tahun 2013 tentang
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang

Nomor

06

Tahun

2014

tentang

Daerah

sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47


Tahun 2015
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan BLU
Peraturan

Pemerintah

Nomor

71

Tahun

2010

tentang

Standar

Akuntansi Pemerintahan
Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Daerah
Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 13 Tentang Penyajian Laporan
Keuangan Badan Layanan Umum.
Suhermawan,

E. Berland.2011. Badan Layanan Umum: Administrasi

dan Persyaratan. Bandung. Didapat secara online dari


http://xa.yimg.com/kq/groups/24410925/1962727760/name/Kons
ep+%26+Filosofi+PK+BLU.ppt.
Wikiapbn, Ensiklopedia Kementrian Keuangan. 2014.Badan Layanan
Umum.

Didapat

secara

online

http://www.wikiapbn.org/badan-layanan-umum/
http://www.ut.ac.id/2015/tentang-ut/1059-dasar-hukumpenyelenggaraan-badan-layanan-umum.html
http://www.slideshare.net/indahmsafitri7/badan-layanan-umum

dari

35

http://lemlit.undiksha.ac.id/media/1442.pdf
https://dcmaria.wordpress.com/2012/09/18/akuntansi-badan-layananumum-blu/
http://www.sjdih.depkeu.go.id/fulltext/2008/76~PMK.05~2008Per.htm
https://drummerfan.wordpress.com/2010/01/16/blu-badan-layananumum/