Anda di halaman 1dari 4

Sepasang Puisi Malam

Oleh: Agusman Saleh


Sepasang puisi itu masih duduk di pelanta masa lalu
Bercerita tentang cinta dan harapan
Ada luka di sekujur puisi yang aku,
Setelah pedang mendua ia tebaskan
Di tampuk-tampuk harapan.
Dia melirih, mengisahkan diri dalam larik-lariknya
Lalu bibirku sibuk membebat darah-darah
Yang bercucuran.
O, puisi yang terlahir dari mata
Dan terjatuh membasahi pipi
Yang pernah merona!
Luka adalah kesungguhan nikmat dari Sang Maha
Sebuah sentuhan lembut dari tangan-tanganNya
Tentang lentera siapa! apa! mana! yang menjadi jalan-jalan
Yang indah menuju keindahan-Nya
Sepasang-puisi itu masih bercengkerama di pelupuk malam
Berdendang tentang janji dan kejujuran
Ber-Insya Allah-lah ketika engkau hendak
Memberikan dan menghadiahkan aku
Sebab detik nanti bukanlah milikmu.
Dia tersenyum ketika sejuta-janji kubaitkan
Lalu matanya mengerling
Dan terpejam dalam kedamaian semalam
Sepasang puisi itu masih melumat kata dalam kisah-kisah
Mengintip belibis-belibis di atas biduk, yang saling cumbu
Lalu saling terka , belibis mana yang penuh dengan cinta, semakna-makna cinta? Bahkan
biduk-biduk lainya kembali berlayar dan karam.
Dia menyibukkan hari-hari dengan episode-episode
Kisah pelaut dan pesastra
Kisah luka dan pembebatnya
Kisah malam dan kisah-kisah
Lalu lahirlah edisi-edisi kehidupan
Pada gulungan selampai sutera
Yang disekakannya dekat di sudut-pipi
Yang tangis menjelma tawa
Yang bahagia dilumat air mata
Yang gunung berubah rawa-rawa

O, puisi yang masih di sampingku


O, bait-bait yang berterbangan di selubung malam
Adalah Dia Sang Pembolak Bali Hati
Maka, jika!
Esok aku harus jatuh pada liang-liang cinta
;padamu!
Atau lusa aku terjerembab dalam liang-liang kebencian
;di hatimu!
Teteskanlah bisa itu pada cangkir kopi pagiku
Lalu persiapkan pangkuanmu
Biarkan aku menghela nafas terakhir
Dalam pangkuan terindah!
Biarkan!
Sebab, Sepasang puisi itu
Adalah kita yang masih dan akan masih menyusun puzle-puzle kehidupan Dari daun-daun
kamboja yang Tuhan titipkan
Hingga senja kembali tersenyum
Dan mengantarkan kita pada masa harapan!
Insya Allah!
Padang, 2015
_______________________________________
Revisi
Sepasang Puisi Malam
Oleh: Agusman Saleh
Sepasang puisi itu masih duduk di pelanta masa lalu
Bercerita tentang cinta dan harapan
Ada luka di sekujur puisi yang aku,
Setelah pedang mendua ia tebaskan
Di tampuk-tampuk harapan.
Dia melirih, mengisahkan diri dalam larik-lariknya
Lalu bibirku sibuk membebat darah-darah
Yang bercucuran.
O, puisi yang terlahir dari mata
Dan terjatuh membasahi pipi
Yang pernah merona!
Luka adalah kesungguhan nikmat dari Sang Maha
Sebuah sentuhan lembut dari tangan-tanganNya
Tentang lentera siapa! apa! mana! yang menjadi jalan-jalan
Yang indah menuju keindahan-Nya
Sepasang-puisi itu masih bercengkerama di pelupuk malam

Berdendang tentang janji dan kejujuran


Ber-Insya Allah-lah ketika engkau hendak
Memberikan dan menghadiahkan aku
Sebab detik nanti bukanlah milikmu.
Dia tersenyum ketika sejuta-janji kubaitkan
Lalu matanya mengerling
Dan terpejam dalam kedamaian semalam
Sepasang puisi itu masih melumat kata dalam kisah-kisah
Mengintip belibis-belibis di atas biduk, yang saling cumbu
Lalu saling terka , belibis mana yang penuh dengan cinta, semakna-makna cinta? Bahkan ketika
biduk-biduk lainya kembali berlayar dan karam.
Dia menyibukkan hari-hari dengan episode-episode
Kisah pelaut dan pesastra
Kisah luka dan pembebatnya
Kisah malam dan kisah-kisah
Lalu lahirlah edisi-edisi kehidupan
Pada gulungan selampai sutera
Yang disekakannya dekat di sudut-pipi
Yang tangis menjelma tawa
Yang bahagia dilumat air mata
Yang gunung berubah rawa-rawa
O, puisi yang masih di sampingku
O, bait-bait yang berterbangan di selubung malam
Adalah Dia Sang Pembolak Bali Hati
Maka, jika!
Esok aku harus jatuh pada liang-liang cinta
;padamu!
Atau lusa aku terjerembab dalam jurang-jurang kebencian
;di hatimu!
Teteskanlah bisa itu pada cangkir kopi pagiku
Lalu persiapkan pangkuanmu
Biarkan aku menghela nafas terakhir
Dalam pangkuan terindah!
Biarkan!
Sebab, Sepasang puisi itu
Adalah kita yang masih dan akan masih menyusun puzle-puzle kehidupan Dari daun-daun
kamboja yang Tuhan titipkan
Hingga senja kembali tersenyum
Dan mengantarkan kita pada masa harapan!
Insya Allah!
Padang, 2015

Sang Pemimpi
Doa seseorang yang sedang meRindu dalam penantian...