Anda di halaman 1dari 20

Evaluasi Kinerja Uji Coba Skala Penuh Timbunan Ringan

dengan Mortar Busa di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah


Maulana Iqbal, Rakhman Taufik dan Ahmad Numan
maulana.iqbal@pusjatan.pu.go.id, rakhman.taufik@pusjatan.pu.go.id,
ahmad.numan@pusjatan.pu.go.id

Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan


ABSTRAK
Pada tahun 2010, Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan melaksanakan uji
coba skala penuh timbunan ringan dengan mortar busa di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Timbunan tersebut mempunyai panjang 400 m dan tinggi 1.1 m dengan berat isi 6 kN/m3 dan 8
kN/m3. Makalah ini memaparkan karakterisasi geoteknik di lokasi uji coba skala penuh dan
menguraikan evaluasi kinerja timbunan jalan dengan mortar busa tersebut melalui pemodelan
numerik dengan metode elemen hingga. Dari hasil karakterisasi geoteknik, lokasi uji coba
skala penuh berada di atas tanah gambut dengan kadar organik mendekati 100% setebal 1 m
sampai 7 m. Lapisan gambut tersebut berada di atas tanah lempung sangat lunak sampai
lempung pasiran dengan ketebalan yang bervariasi antara 6 m 18 m. Dari hasil analisis,
disimpulkan bahwa timbunan ringan memberikan kinerja yang memenuhi kriteria stabilitas
menurut pedoman Geoguide Indonesia. Akan tetapi, dari data monitoring, penurunan yang
terjadi relatif masih besar yaitu 4 cm/tahun yang diakibatkan adanya lapisan pasir perata yang
cukup tebal di bawah timbunan ringan. Selain itu, retak susut dari mortar busa menyebakan
terjadinya retak refleksi pada perkerasan lentur di atas timbunan ringan. Hal ini memberikan
umpan balik yang sangat berharga untuk penyempurnaan teknologi ini.
Kata kunci: timbunan ringan, mortar busa, gambut, kinerja timbunan
ABSTRACT
In 2010, Institute of Road Engineering conducted a full-scale test of a lightweight embankment
using foam mortar in Pangkalan Bun, Central Kalimantan. The test embankment was 400 m
long, 1.1 m high and has a density of 6 kN/m3 and 8 kN/m3. This paper describes geotechnical
site characterization at the test location and presents an evaluation of the lightweight
performance through numerical modeling with finite element method. From the result of site
investigation, the site is located in the peat deposit with organic content nearly 100% with a
thickness between 1 m to 7 m. The peat layer underlying a very soft to soft clay layer with a
thickness of 6 m to 18 m. From the analysis, it was concluded that the lightweight foam mortar
embankment fulfills the stability requirement according to the Indonesian Geoguide. However,
based on the monitoring data, the occuring settlement was relatively large, about 4 cm/year.
This settlement may be due to the use of a thick sand layer as the levelling layer for the foam
mortar embankment. Moreover, the shrinkage cracking of the foam mortar caused reflective
cracking to the asphalt blacktop. The results of the evaluation give a valuable feedback for the
improvement of this technology.
Keywords : lightweight embankment, foam mortar, peat, performance of embankment

1.

Latar Belakang

Deposit tanah lunak di Indonesia mencapai 10 juta hektar atau sekitar 10% dari luas
daratan. Permasalahan yang timbul pada tanah bermasalah ini adalah stabilitas dan
penurunan timbunan. Sebagai salah satu opsi penanganan jalan di atas tanah lunak,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan mengembangkan teknologi
timbunan jalan dengan mortar busa. Mortar busa tersebut mempunyai karakteristik
berat isi yang ringan dengan kekuatan yang cukup tinggi sehingga diharapkan tidak
terjadi masalah stabilitas dan penurunan timbunan maupun tekanan lateral berlebih.
Teknologi tersebut telah diuji coba dalam skala penuh pada tahun 2010 dilakukan uji
coba skala penuh timbunan ringan sebagai badan jalan di Ruas Pangkalan Lima Kumai, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Panjang timbunan percobaan tersebut
adalah 400 m dengan tinggi timbunan mortar busa 1,1 meter. Kinerja timbunan jalan
dengan mortar busa dianalisis berdasarkan data monitoring instrumen-instrumen
terpasang. Lokasi uji coba skala penuh Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan lokasi
penyelidikan lapangan dapat dilihat pada Gambar 1.

KUMAI
PANGKALAN
LIMA

Gambar 1 Lokasi Uji Coba Skala Penuh dan Lokasi Penyelidikan Tanah

2. Deskripsi Uji Coba Skala Penuh Timbunan Jalan dengan Mortar Busa
Uji coba skala penuh timbunan jalan dengan mortar busa dibangun pada badan ruas
jalan Kumai - Pangkalan Bun, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, terdiri dari dua
lapis, lapis pondasi bawah dengan berat isi 6 kN/m3 dan kuat tekan bebas 800 kPa dan
lapis pondasi atas tebal lapisan 30 cm, dengan berat isi dan 8 kN/m3 dan kuat tekan
bebas 2000 kPa. Sketsa potongan melintang timbunan ringan dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 2 Sketsa Potongan Melintang Sta 0+200


Pelaksanaan timbunan jalan dengan mortar busa, dilaksanakan dengan cara
penimbunan di atas tanah lunak, mortar busa dicor secara segmental hingga mencapai
ketinggian rencana.

3.

Tanah Dasar

Lokasi Pangkalan Bun terletak di atas satuan Qs (endapan rawa). Satuan ini tersusun
atas gambut, lempung kaolinan, lanau sisipan pasir, dan sisa tumbuhan. Berdasarkan
penyelidikan tanah yang telah dilakukan pada ruas jalan Pangkalan Lima-Kumai,
batuan tanah dasar yang menyusun daerah ini adalah endapan tanah lunak yang cukup
tebal.
Dari hasil penyelidikan lapangan, lapisan tanah teratas adalah gambut berserat menurut
Kimpraswil (2002a) karena mempunyai kadar serat lebih dari 75%. Kadar organik
berdasarkan SNI 13-6793-2002 pada contoh gambut yang diambil di Pangkalan Bun
adalah antara 86.7% sampai 99.65%. Gambut tersebut berada di atas lempung sangat
lunak sampai lunak dengan ketebalan antara 1 m sampai 7 m dengan nilai konus sondir
(qc) kurang dari 6 kg/cm2. Hal ini konsisten dengan nilai batas-batas Atterberg yang
menunjukkan bahwa kadar air lempung mendekati batas cair (LL) dan nilai indeks
konsistensi dibawah mendekati 1. Plot batas-batas Atterberg dan indeks konsistensi
terhadap kedalaman diperlihatkan pada Gambar 3. Lapisan terbawah yang

Batas-batas Atterberg (%)

Consistency Index (%)

50

100

150

LL
8

w
PL

10

Kedalaman (m)

Kedalaman (m)

teridentifikasi dari hasil pemboran adalah lapisan lempung pasiran dengan konsistensi
teguh sampai kenyal dengan nilai SPT antara 4 sampai 10. Stratifikasi tanah dari hasil
penyelidikan lapangan diperlihatkan pada Gambar 4, berdasarkan penyelidikan
lapangan pada Gambar 1.

10

12

12

14

14

16

16

Gambar 3. Batas-batas Atterberg dan Konsistensi Indeks

Gambar 4 Stratifikasi Tanah di Sepanjang Lokasi Uji Coba

LI

Plot indeks plastisitas dan batas cair pada grafik plastisitas sistem USCS (ASTM
D2487-93, 1993) dapat dlihat Gambar 5. Dari klasifikasi USCS, lempung sangat lunak
termasuk klasifikasi CH, sedangkan lempung pasiran termasuk klasifikasi CL.

Gambar 5 Grafik Plastisitas (Sistem USCS)


Berdasarkan nilai sondir, kuat geser undrained diperoleh dengan pendekatan sebagai
berikut:
Cu =

qc
(kPa) ... (1)
20

Dengan persamaan tersebut, dapat diklasifikasikan sebagai tanah sangat lunak dan
tanah lunak karena mempunyai kuat geser undrained lebih kecil dari 20 kPa lihat Tabel
1. Plot kuat geser undrained berdasarkan korelasi dari sondir dan hasil uji geser baling
disajikan pada Gambar 6.
Tabel 1 Klasifikasi Kuat Geser Undrained Berdasarkan (Kimpraswil, 2002a)
Konsistensi
Very stiff to hard
Stiff
Firm to stiff
Firm
Soft to firm
Soft
Very soft

Kuat geser undrained(kPa)


>150
100-150
75-100
50-75
40-50
20-40
<20

Cu (kPa)
20

10

30

40

S7

Kedalaman (m)

VS 3
S10

VS 4
S2
8

VS 2

10

12

14

Gambar 6 Kuat Geser Undrained berdasarkan Sondir dan Uji Geser Baling
Sudut geser dalam efektif () hasil laboratorium memberikan nilai 13-20 (Gambar
7). Plot plasticity index dan sudut geser dalam efektif menunjukan rata- rata berada
pada peak mean value dan residual value. Plot hasil pengujian triaksial pada kurva
Anon (Kimpraswil, 2002a) diperlihatkan pada Gambar 8.
(o)
0

10

15

20

25

Kedalaman (m)

10

12

14

16

Gambar 7 Sudut Geser dalam Efektif

Gambar 8. Plot Sudut Geser Dalam pada Kurva Anon (Kimpraswil, 2002a)
Berdasarkan klasifikasi kompresibilitas tanah pada Tabel 2 (Coduto, 2004) tanah
lempung mempunyai nilai kompresibilitas antara 0.15 sampai 0.35. Hal ini
menunjukan bahwa tanah lempung memiliki kompresibilitas sedang sampai tinggi.
Tanah lempung pasiran mempunyai kompresibilitas sekitar 0,1 dan termasuk
klasifikasi sedikit kompresibel. Plot antara nilai kompresibilitas terhadap kedalaman
dapat dilihat pada Gambar 9.
Tabel 2 Klasifikasi Komperseibilitas Tanah (Coduto, 2004)
Classification
0 - 0.05
0.05 - 0.10
0.10 - 0.20
0.20 - 0.35
> 0.35

Very slightly compressible


Slightly compressible
Moderately compressible
Highly compressible
Very higly compressible

Compresibilitas
C

0.00

0.10

0.20

0.30

0.40

0.50

4
bm1
Kedalaman (m)

bm2
bm3

bm4
bm5

10

12

14

16

Gambar 9 Kompresibilitas Tanah


Plot nilai indeks kompresibilitas primer (Cc) dengan kadar air menunjukkan bahwa
nilai-nilai tersebut mendekati garis korelasi dari Azzouz, Hough dan Serajuddin
(Kimpraswil, 2002a). Plot Cc dan kadar air tersebut diperlihatkan pada Gambar 10.

Gambar 10. Korelasi antara Cc dan Kadar Air

Dari hasil pengujian oedometer, indeks kompresi primer Cc berkisar antara 0,2 sampai
dengan 1,3 ( Gambar 11). Dari grafik tersebut terlihat bahwa nilai lempung sangat
lunak dengan nilai Cc pada kedalaman 6-10 m rata-rata sebesar 1 sampai dengan 1,3
dan lempung pasiran pada kedalaman 12 m sampai dengan 15 m nilai Cc rata-rata
sebesar 0,2.
Cc
0

0.5

1.5

Kedalaman (m)

BM 1
BM 2

BM 3
8

BM 4

BM 5

10

12

14

16

Gambar 11. Nilai Cc Hasil Laboratorium

4. Pemantauan Kinerja Timibunan Ringan


Pemantauan penurunan dilakukan dengan menggunakan waterpass dijital pada surface
marker di sepanjang permukaan timbunan. Sebelum dilakukan pemantauan, dilakukan
pengecekan konsistensi pembacaan dengan metode looping. Metode looping yang
dilakukan sebanyak 2 kali, dari hasil looping ini, perbedaan elevasi adalah 1 mm
dengan koreksi sebesar 0,125 mm. Pengukuran surface marker longitudinal untuk
mengetahui penurunan yang terjadi dilakukan dengan melakukan backside dan forside
dengan satu stand.
Selain waterpass dijital digunakan pula GPS geodetic untuk memverifikasi besarnya
penurunan dan untuk meyakinkan bahwa monumen (benchmark, BM) tidak bergerak.
Pengukuran penurunan dengan GPS geodetic menggunakan dengan sistem koordinat
WGS (word geodetic system) menurut SNI 19-6724-2002 . Georeferencing dilakukan
dengan menggunakan alat GPS RTK (real time kineumatic) Geodetic Trimble 4800 lt
II. Sebelum melakukan pengecekan BM dan deformasi pada beberapa point, satu
antena disimpan di base station dan satu antena disimpan sebagai rover, untuk
mengoreksi pengaruh troposfir atau lapisan atmosfer. Base station berada di Kantor
BPN, Kota Waringan Barat, Pangkalan Bun.

5. Pemodelan Numerik
Parameter desain diperoleh dengan merata-ratakan nilai-nilai parameter yang
representatif pada suatu lapisan tanah yang sama. Nilai kompresibilitas dan koefisien
konsolidasi diperoleh dari uji oedometer. Parameter desain c dan merupakan ratarata dari hasil uji triaksial CU.
Analisis numerik dilakukan dengan bantuan piranti lunak Plaxis 2D versi 9
(Brinkgreve dan Broere, 2008). Dalam analisis numerik, digunakan model tanah soft
soil dengan beberapa karakteristik sebagai berikut:
- Kekakuan yang tergantung pada tegangan (perilaku kompresi logaritmik)
- Pembedaan antara pembeban primer dan pelepasan-pengulangan beban
- Terekamnya tegangan prakonsolidasi
- Perilaku keruntuhan menurut kriteria mohr-coulomb.
Parameter-parameter tanah yang diperlukan dalam model SS adalah:
parameter-parameter dasar:
c = kohesi
= sudut friksi
= sudut dilatansi
* = modifikasi indeks kembang
* = modifikasi indeks kompresi

ur = rasio Poisson untuk pelepasan-pengulangan beban


k0NC = rasio tegangan 'xx/'yy pada kondisi konsolidasi normal
M = parameter yang berkaitan dengan k0NC
Parameter untuk model SS diberikan pada Tabel 3. Untuk tanah timbunan dan pasir
lepas (loose sand), digunakan model Mohr Coulomb seperti terlihat pada Tabel 4.
Tabel 3 Parameter Desain untuk Soft Soil Model
Name
Lempung lanau pasiran
lunak teguh
Lempung lanau, pasiran
sangat lunak
Lempung pasiran
Timbunan lama

Type

g_unsat
[kN/m]

g_sat
[kN/m]

k_x
[m/day]

k_y
[m/day]

c_ref
[kN/m]

phi
[]

UnDrained

17.5

18.5

0.00003932

0.00003932

16

17.4

UnDrained

13.3

14.3

0.0006102

0.0006102

16.74

8.42E-07
0.0000656

8.42E-07
0.0000656

15.81
17..5

UnDrained
UnDrained

18
18

19
19

12

Tabel 4 Parameter Desain untuk Mohr Coulomb


Name

Type

2000 kPa
800 kPa
Concrete
Aspal

Non-porous
Non-porous
Non-porous
Non-porous

g_unsat
[kN/m]
8
6
24
23

g_sat
[kN/m]
8
6
24
23

k_x
[m/day]
0
0
0
0

k_y
[m/day]
0
0
0
0

N
[-]
0.2
0.2
0.2
0.499

5.1 Pemodelan Penurunan Pada STA 0+200


Pada Sta 0+200 dilakukan analisis pada potongan melintang karena pada terdapat
intrumen untuk mengukur penurunan yang nanti akan di bandingkan dengan hasil
analisis. Pada STA 0+200 terdapat lapisan gambut berserat. Berdasarkan data sekunder
yang ada (borlog pemasangan instrumentasi) ketebalan timbunan eksisting adalah 3 m.
Muka air tanah berada pada elevasi 0 m. Adapun model geometri diperlihatkan pada
Gambar 12.

Gambar 12 Model Geometri STA 0+200


Analisis menggunakan peranti lunak plaxis menunjukkan total penurunan pada akhir
konsolidasi (pada saat tekanan air pori ekses lebih kecil dari 1 kPa) sebesar 37 cm.
Penyebabnya adalah karena tebal lapisan perata berupa pasir yang cukup tebal.
Penurunan terbesar terletak pada lokasi dilakukannya timbunan ringan seperti terlihat
pada Gambar 13.

Gambar 13 Vertical Displacements STA 0+200


Tekanan air pori ekses hasil analisis dan hasil pemantauan menunjukkan konsistensi.
Tekanan air pori pada kedalaman 2 m dari hasil analisis adalah sebesar 17,7 kPa
sedangkan berdasarkan pemantauan instrumentasi piezometer vibrating wire sebesar
18.5 kPa.

Tekanan Air Pori Ekses ( H = -2 m)

20.00

Tekanan Air Pori Ekses (kPa)

18.00
16.00
14.00
12.00
10.00
8.00
6.00
4.00

2.00
0.00
0.01

0.10

1.00

10.00

100.00
Waktu (hari)

1,000.00

10,000.00
"FEM"

100,000.00 1,000,000.00

Gambar 14 Perbandingan Waktu dan Tekanan Air Pori Ekses (kPa)

Berdasarkan analisis dan monitoring instrumen yang dilakukan pada STA 0+200
diketahui adanya perbedaan penurunan. Dari hasil analisis penurunan selama 635 hari
diprediksi sebesar 15 cm sedangkan hasil pembacaan ekstensometer (plat magnet h =
0) dan settlement plat vibrating wire penurun yang terjadi masing-masing 5 cm.
Pembacaan pada settlement plat vibrating wire terjadi perbedaan yang cukup signifikan
yaitu + 40 cm. Kemungkinan anomali terjadi pada settlemenet plat vibrating wire.
Anomali tersebut bisa terjadi karena adanya kerusakan pada instrument, bila dilihat
dari Gambar 15 berdasarkan pemantauan surface marker yang terpasang pada tahun
2012 dan didukung pemantauan GPS geodetic terdapat penurunan sebesar 4,3 cm,
selama 7 bulan pemantaun (April 2012 Oktober 2012).

Gambar 15 Deformasi Vertikal, Waktu dan Pergerakan Instrumentasi STA 0+200.

Kolokium Jalan dan Jembatan

6.

Evaluasi Kinerja Mortar Busa Lokasi Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

Dari hasil evaluasi, kinerja timbunan ringan dengan mortar busa di Pangkalan Bun
memenuhi kriteria kinerja berdasarkan persyaratan Kimpraswil (2002b). Dari hasil
analisis numerik pada Gambar 15, didapatkan faktor kemanan sebesar 1.88, sedangkan
Kimpraswil (2002b) mensyaratkan faktor keamanan minimum sebesar 1,40.
Berdasarkan kriteria deformasi menurut Kimpraswil (2002b) timbunan ringan dengan
mortar busa pada badan jalan, tidak memenuhi syarat kinerja. Menurut Kimpraswil
(2002b) selama masa konstruksi besarnya penurunan terhadap penurunan total selama
masa konstruksi (S/stot) harus lebih besar dari 90% dan kecepatan penurunan setelah
konstruksi harus lebih kecil 20 mm/tahun. Akan tetapi berdasarkan analisis numerik,
besarnya penurunan pada masa konstruksi diprediksi hanya mencapai 21% dan
besarnya kecepatan penurunan setelah masa konstruksi diprediksi 7 mm/tahun. Hal ini
didukung dengan pemantauan elevasi timbunan dengan surface marker dan GPS
geodetic yang menunjukkan penurunan sebesar 43 mm selama 7 bulan pemantauan.
Oleh karena itu, konstruksi uji coba skala penuh ini tidak memenuhi kriteria kinerja
berdasarkan Kimpraswil (2002b).
Selain itu, teridentifikasi adanya retak refleksi pada perkerasan lentur di atas timbunan
jalan dengan mortar busa, yang dapat mengganggu kenyamanan pengemudi. Retakan
yang terdapat pada lokasi Pangkalan Bun, diduga merupakan retak susut, mempunyai
ciri retakan terjadi pada arah tegak lurus terhadap arah lalu lintas Foto retakan pada
badan jalan dapat dilihat Gambar 16 (dicat warna kuning) dan Gambar 17. Plot lokasi
retakan diperlihatkan pada Gambar 18 dan Gambar 19, berdasarkan pemantauan
selama 7 bulan, untuk mengetahui pengaruh retakan pada permukaan aspal.

Maulana Iqbal, Rakhman Taufik dan Ahmad Numan

16

Kolokium Jalan dan Jembatan

Gambar 16 Retakan pada Permukaan Aspal

Gambar 17 Retakan Horizontal pada Sisi Timbunan Ringan yang


Menyambung dengan Retakan pada Permukaan Aspal

Maulana Iqbal, Rakhman Taufik dan Ahmad Numan

17

Kolokium Jalan dan Jembatan

Gambar 18 Ploting Segmen Pengecoran Per Lapisan dan Retakan STA 0+150
S/D 0+180

Gambar 19 Ploting Segmen Pengecoran Per Lapisan dan Retakan STA


0+180 S/D 0+225
7.

Kesimpulan

Berdasarkan karakterisasi geoteknik, lokasi uji coba skala penuh Pangkalan Bun,
berada di atas gambut berserat dengan ketebalan 1m sampai 7m dengan kadar organik
mendekati 100%. Lapisan gambut tersebut berada di atas tanah lempung sangat lunak
dengan ketebalan variasi 6-18 m.

Maulana Iqbal, Rakhman Taufik dan Ahmad Numan

18

Kolokium Jalan dan Jembatan

Dari hasil analisis, disimpulkan bahwa timbunan ringan dengan mortar busa
memberikan kinerja yang memenuhi kriteria stabilitas menurut Kimpraswil (2002b).
Faktor keamanan diprediksi sebesar 1.88 sedangkan persyaratan minimum adalah 1.4.
Dari segi kriteria deformasi, konstruksi uji coba skala penuh ini tidak memenuhi syarat
dari Kimpraswil (2002b). Kimpraswil (2002b) mensyaratkan kecepatan penurunan saat
konstruksi minimal harus mencapai 90% dan penurunan pasca konstruksi maksimal
sebesar 20 mm/tahun. Akan tetapi, penurunan selama masa konstruksi diprediksi hanya
mencapai 21% dan berdasarkan data monitoring, penurunan pasca konstruksi relatif
besar yaitu 43 mm/tahun. Ditengarai adanya lapisan pasir perata yang cukup tebal di
bawah timbunan jalan dengan mortar busa menyebabkan terjadinya penurunan yang
besar.
Selain itu, retak susut dari mortar busa menyebabkan terjadinya retakan pada
perkerasan lentur di atas timbunan ringan. Retak refleksi ini jika terus berlanjut dapat
mengakibatkan terganggunya kenyamanan pengemudi.
Uji coba skala penuh yang telah dilakukan memberikan umpan balik yang sangat
berharga untuk penyempurnaan teknologi timbunan ringan dengan mortar busa. Oleh
karena itu, penanganan retak susut disarankan dengan langsung menutup timbunan
ringan mortar busa dengan lapis perekat untuk mencegah retak susut, penambahan
lapis agregat atau lapis penahan retak refleksi antara timbunan ringan dan perkerasan
lentur disarankan.

Maulana Iqbal, Rakhman Taufik dan Ahmad Numan

19

Kolokium Jalan dan Jembatan

Daftar Pustaka
ASTM D 2487 - 93. 1993. Unied Soil Classication System. American Standard
Testing Material. ASTM International, West Conshohoken, PA, USA.
Brinkgreve, R.B.J. & Broere. 2008. 2D Version 9.0 Manual, Delft
Technology & PLAXIS b. v., The Netherlands.

university of

Coduto, Donald. 2004. Foundation Design, Principle and Practice.


Kimpraswil. 2002a. Pt T-09-2002-B. Panduan Geoteknik 2: Penyelidikan Tanah Lunak
Desain dan Pekerjaan Lapangan. Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah (Kimpraswil).
Kimpraswil. 2002b. Pt T-09-2002-B. Panduan Geoteknik 2: Penyelidikan Tanah
Lunak Desain dan Pekerjaan Lapangan. Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah (Kimpraswil).
SNI 13-6793-2002 : Metode Pengujian Kadar Air, Kadar Abu, dan Bahan Organik dari
Tanah Gambut dan Tanah Organik Lainnya
SNI 19-6724-2002 : Jaring Kontrol Horizontal

Maulana Iqbal, Rakhman Taufik dan Ahmad Numan

20