Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PEMBAHASAN
1 Definisi
Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama
gejala yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital
yang tidak berupa darah. Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks
menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri,
sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini. Selain itu
sekret vagina juga disebabkan karena aktivitas bakteri yang hidup pada
vagina yang normal. Pada perempuan, sekret vagina ini merupakan suatu
hal yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri, sebagai pelicin dan
pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam kondisi normal, sekret vagina
tersebut tampak jernih, putih keruh atau berwarna kekuningan ketika
mengering pada pakaian. Sekret ini non-iritan, tidak mengganggu, tidak
terdapat darah, dan memiliki pH 3,5-4,5. Flora normal vagina meliputi
Corinebacterium,

Bacteroides,

Peptostreptococcus,

Gardnerella,

Mycoplasma dan Candida spp. Lingkungan dengan pH asam memberikan


fungsi perlindungan yang dihasilkan oleh lactobacilli. (1)
Leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada
penderita ginekologik, adanya gejala ini diketahui penderita karena
mengotori celananya. Dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik
dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadangkadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit
yang jarang sedang pada leukorea patologik terdapat banyak leukosit.(1)
Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Disini
cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva,
vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik;
pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan

permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran


alat-alat genital.(1)

2 Epidemiologi
Sekret vagina sering tampak sebagai suatu gejala genital. Proporsi
perempuan yang mengalami flour albus bervariasi antara 1 -15% dan
hampir seluruhnya memiliki aktifitas seksual yang aktif, tetapi jika
merupakan suatu gejala penyakit dapat terjadi pada semua umur.
Seringkali fluor albus merupakan indikasi suatu vaginitis, lebih jarang
merupakan indikasi dari servisitis tetapi kadang kedua-duanya muncul
bersamaan.
Vaginitis sering terjadi pada wanita dewasa dan jarang terjadi pada
anak perempuan prapubertas. Vaginosis bakterial menyumbang 40-50%
kasus vaginitis sedangkan kandidiasis vagina prevalensinya sekitar 2025%. 15-20% kasus vaginitis disebabkan oleh trikomoniasis.(2)

3 Etiologi
Fluor albus atau leukorea merupakan gejala yang paling sering
dijumpai pada penderita ginekologik, adanya gejala ini diketahui penderita
karena mengotori celananya.
Sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi vulva, cairan vagina,
sekresi serviks, sekresi uterus, atau sekresi tuba falopii, yang dipengaruhi
fungsi ovarium. Dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang
patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang
berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang
jarang sedang pada leukorea patologik terdapat banyak leukosit.

Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini


cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva,
vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik;
pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan
permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran
alat-alat genital.
Fluor albus dapat disebabkan karena:
1. Infeksi yang biasanya menimbulkan fluor yang berwarna kuning atau hijau.
2. Bertambahnya sekret yang normal.
Cairan tersebut di atas disebut luar biasa jika:
1. Menimbulkan bercak-bercak pada celana (berwarna kuning atau hijau).
2. Berbau.
3. Menyebabkan keluhan-keluhan seperti gatal dan panas pada vulva.

4 Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi, leukorea dibagi menjadi 2 yaitu leukorea
fisiologis dan leukorea patologis. Leukorea fisiologis pada perempuan
normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina. Sekret patologik
biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina.
I.

Leukorrhea Fisiologis
Yaitu sekret dari vagina normal yang berwarna jernih atau putih,

menjadi kekuningan bila kontak dengan udara yang disebabkan oleh


proses oksidasi. Secara mikroskopik terdiri dari sel-sel epitel vagina yang
terdeskuamasi, cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari
endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran yang lebih atas dalam
jumlah bervariasi serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama
Lactobacillus doderlein. Memiliki pH < 4,5 yang terjadi karena produksi

asam laktat oleh Lactobacillus dari metabolisme glikogen pada sel epitel
vagina.
Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut :
1. Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen
di plasenta terhadap uterus dan vagina bayi.
2. Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen
3. Saat sebelum dan sesudah haid
1. Saat atau sekitar ovulasi, keadaan sekret dari kelenjar pada serviks uteri menjadi
lebih encer
2. Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran transudasi
dinding vagina
3. Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan bendungan di
vagina dan di daerah pelvis
4. Stress emosional
5. Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar serviks
uteri juga bertambah
6. Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian celana yang jarang ganti, pembalut)
7. Leukorrhea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan
anemia, kekurangan gizi, kelelahan, kegemukan, dan usia tua > 45 tahun

Leukorrhea Patologis
Leukorrhea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume

(khususnya

membasahi

konsistensi

atau

warna.

pakaian),
Penyebab

bau

yang

terjadinya

khas

dan

leukorrhea

perubahan
patologis

bermacam-macam, dapat disebabkan oleh adanya infeksi (oleh bakteri,


jamur, protozoa, virus) adanya benda asing dalam vagina, gangguan
hormonal akibat menopause dan adanya kanker atau keganasan dari alat
kelamin, terutama pada serviks.
Penyebab leukorrhea patologis :
a. Infeksi

Penyebab leukorrhea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan


serviks (servisitis). Ada atau tidaknya bau, gatal dan warna dapat
membantu menemukan etiologinya. Sekret yang disebabkan oeh infeksi
biasanya mukopurulen, warnanya bervariasi dari putih kekuningan hingga
berwarna kehijauan. Vaginitis paling sering disebabkan oleh Candida spp.,
Trichomonas vaginalis, Vaginalis bakterialis. Sedangkan servisitis paling
sering disebabkan oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae.
Selain itu penyebab infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka,
abrasi (termasuk yang disebabkan oleh benda asing), ataupun terbakar.

b. Non infeksi
Dapat disebabkan oleh :
Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan
Kadang-kadang

pada

wanita

ditemukan

cairan

dari

vagina

yang

tercampur dengan urine atau feses. Hal ini dapat terjadi akibat adanya
fistel uterovagina, fistel rektovagina yang disebabkan kelainan kongenital,
cedera persalinan, radiasi pada kanker alat kandungan atau akibat kanker
itu sendiri.
Benda asing
Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak
ataupun tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa,
adanya cincin pesarium pada wanita yang menderita prolaps uteri serta
pemakaian alat kontrasepsi seperti IUD dapat merangsang pengeluaran
sekret secara berlebihan.
Hormonal
Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat
dikarenakan adanya perubahan konstitusi dalam tubuh wanita itu sendiri
atau karena pengaruh dari luar misalnya karena obat/cara kontrasepsi,
dapat juga karena penderita sedang dalam pengobatan hormonal.

Kanker
Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang
berlebihan sehingga mengakibatkan sel bertumbuh sangat cepat secara
abnormal

dan

mudah

rusak,

akibatnya

terjadi

pembusukan

dan

perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk


memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut. Pada Ca
cerviks terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat
terjadinya proses pembusukan tadi, dan acapkali disertai adanya darah
yang tidak segar.
Vaginitis atrofi
Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan yang menyebabkan
kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH vagina. Naiknya pH akan
menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam vagina menjadi berkurang, tetapi
sebaliknya pH yang meningkat akan memicu pertumbuhan bakteri patogen di vagina.
Kurangnya estrogen akan menyebabkan penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka
dan terinfeksi.

5 Infeksi pada Vagina


Pada pemeriksaan sekret vagina pada pasien normal, dapat ditemukan
batang gram positif, yaitu Lactobacillus acidophillus. Bakteri ini dapat
mempertahankan ekosistem vagina dengan 3 cara:
a. Memproduksi asam laktat yang mempertahankan pH vagina normal, yaitu 4 (ratarata 3,8-4,2) , sehingga dapat menghambat patogen
b. Memproduksi Hidrogen Peroksida yang toksis terhadap mikroflora anaerob
c. Memiliki mikrovili yang menempel pada reseptor di sel-sel epitel vagina,
sehingga menghalangi penempelan patogen.

Gambar 1. Pewarnaan gram pada sekret vagina normal

5.1 Infeksi Jamur


Kandidiosis vulvovaginal (KV)
Kandidiosis vulvovaginal merupakan infeksi vagina yang disebabkan
oleh Candida spp terutama Candida albicans. Diperkirakan sekitar 50%
wanita pernah mengalami kandidiosis vulvovaginitis paling sedikit dua kali
dalam hidupnya. Jamur ini hidup dalam suasana asam yang mengandung
glikogen. Keadaan-keadaan yang mendukung timbulnya infeksi adalah
kehamilan, pemakaian pil kontrasepsi, pemakaian kortikosteroid dan pada
penderita Diabetes Melitus.

Gambar 2. Mikroskopis Candida albicans

Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV)


Duh tubuh vagina disertai gatal pada vulva. Dapat disertai disuria
eksternal dan dipareunia superfisial. Pada pemeriksaan tampak hiperemia
di labia minora, introitus vagina dan 1/3 vagina bagian bawah
Kelainan yang khas adalah gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu
berwarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari massa yang
terlepas dari dinding vulva atau vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel
epitel dan jamur. Pada pemeriksaan pH vagina berkisar 4-4,5

Gambar 3. Vulvovaginal candidiasis


Diagnosis
-

Leukorrhea yang bervariasi mulai dari cair sampai kental dan sangat gatal (pruritus vulva)

Dapat ditemukan rasa nyeri pada vagina, dispareunia, rasa terbakar pada vulva dan iritasi
vulva

Tanda inflamasi : dapat ditemukan eritem (+), edem (+) pada vulva dan labia, lesi diskret
pustulopapular (+), dermatitis vulva

Laboratorium : pH vagina < 4,5, Whiff test (-). Pada sediaan gram : bentuk ragi (+) dan
pseudohifa (+)

Mikroskopik : leukosit, sel epitel, 80% pasien dengan gejala terlihat : ragi (yeast) mycelia
atau pseudomycelia

Saran: kultur jamur untuk menegakkan diagnosis. (kultur merupakan jenis pemeriksaan
yang paling sensitif untuk mendeteksi adanya candida)(3)

Pengobatan
-

Klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal atau

Klotrimazol 200 mg intravagina selama 3 hari atau

Nistatin 100.000 unit intravagina selama 14 hari atau

Fluconazole 150 mg peroral dosis tunggal atau

Itraconazole 200 mg 2 x 1 tablet selama 1 hari atau

Imidazole vagina krem, 1 tablet setiap hari selama3-7 hari

Wanita hamil sebaiknya hanya menggunakan penggunaan topikal dengan tablet vagina(4)

5.2 Infeksi Protozoa


Trichomoniasis
Trichomoniasis adalah infeksi traktus urogenitalis yang disebabkan
oleh protozoa yaitu T. vaginalis. Masa inkubasi berkisar antara 5-28 hari.
Pada wanita T. vaginalis paling sering menyebabkan infeksi pada epitel
vagina, selain pada uretra, serviks, kelenjar Bartholini dan kelenjar skene.

Gambar 4. Gambaran mikroskopis Trichomoniasis

Trichomoniasis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa


menggunakan pelindung (kondom) dengan seseorang yang mengidap
trichomoniasis atau dapat juga ditularkan melalui perlengkapan mandi
seperti handuk.

(5)

Gejala klinis

Pada

trikomoniasis

terlihat

sekret

vagina

seropurulen

berwarna

kekuning-kuningan, kuning hijau, berbau tidak enak dan berbusa. Disertai


dinding

vagina

tampak

kemerahan

dan

sembab.

Kadang-kadang

terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak
sebagai granulasi berwarna merah (strawberry appearance). Juga disertai
gejala

dispareunia,

perdarahan

pasca

koitus

dan

perdarahan

intramenstrual. Hasil pemeriksaan pH vagina >4,5

Gambar 5. Fluor albus pada Trichomonas vaginalis

Diagnosis
-

Jumlah leukorrhea banyak, sering disertai bau yang tidak enak, pruritus vulva, external
dysuria dan iritasi genital sering ada

Warna sekret : putih, kuning atau purulen

Konsistensi : homogen, basah, sering frothy atau berbusa (foamy)

Tanda-tanda inflamasi: eritem pada mukosa vagina dan introitus vagina, kadang-kadang
petechie pada serviks, dermatitis vulva

Sekitar 2-5% serviks penderita tampak strawberry serviks

Laboratorium : pH vagina 5,0, whiff test biasanya (+)

Mikroskopik : dengan pembesaran 400 kali dapat terlihat pergerakan trichomonas.


Bentuknya ovoid, ukuran lebih besar dari sel PMN dan mempunyai flagel. Pada 80-90%
penderita symtomatic leucocyte (+), clue cell dapat (+)

Pengobatan
-

Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal atau


10

Metronidazole 2x500 mg peroral selama 7 hari

Pada wanita hamil trimester pertama dapat diberikan pengobatan topikal klotrimazol 100
mg intravagina selama 6 hari

Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama namun dapat
diberikan pada trimester kedua dan ketiga

Penanganan pada partner Seksual


Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual penting
dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pingpong. Perlu dilakukan
pemeriksaan rutin traktus genitourinarius, pengobatan dengan tablet
metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal pada partner seksual
penderita trichominiasis.

(6)

5.3 Infeksi Bakteri


Vaginosis Bakterial (VB)
Vaginosis bakterial merupakan sindroma atau kumpulan gejala klinis
akibat pergeseran lactobacilli yang merupakan flora normal vagina yang
dominan oleh bakteri lain, seperti Gardnerella vaginalis, Prevotella spp,
Mobilancus spp, Mycoplasma spp dan Bacteroides spp. Vaginosis bakterial
merupakan penyebab vaginitis yang sering ditemukan terutama pada
wanita yang masih aktif secara seksual, namun demikian Vaginosis
bakterial tidak ditularkan melalui hubungan seksual.

Gejala klinis
Asimtomatik pada sebagian penderita vaginosis bakterialis. Bila ada
keluhan umumnya berupa cairan yang berbau amis seperti ikan terutama
setelah melakukan hubungan seksual. Pada pemeriksaan didapatkan
11

jumlah duh tubuh vagina tidak banyak, berwarna putih, keabu-abuan,


homogen, cair, dan biasanya melekat pada dinding vagina

Gambar 6. Fluor albus akibat Vaginosis bakterial

Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi.


Pemeriksaan pH vagina >4,5 , penambahan KOH 10% pada duh tubuh
vagina tercium bau amis (whiff test). Pada sediaan apus vagina yang
diwarnai dengan pewarnaan gram ditemkan sel epitel vagina granular
yang diliputi oleh bakteri kokobasil sehingga batas sel menjadi kabur (clue
cells)(7)

Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan bila ditemukan tiga dari


empat gejala berikut (Kriteria Amsell) :
1. Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina
2. pH vagina > 4,5
3. Whiff test (+)
4. Ditemukan clue cell pada pemeriksaan mikroskopik
Diagnosis
-

Keputihan yang berbau tidak enak/bau seperti ikan, terutama setelah berhubungan seksual

Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, warna sekret : putih atau abu-abu
dan melekat pada dinding vagina terutama forniks posterior

Tanda-tanda inflamasi tidak ada

12

Laboraorium : whiff test (+), pH 4,5 (biasanya 4,7-5,7)

Mikroskopik : clue cell (+), jarang lekukosit, banyaknya lactobacilli berlebihan karena
bercampur dengan flora, meliputi coccus gram (+) dan coccobacilli

Pengobatan
-

Metronidazole 2 gram, peroral dosis tunggal atau

Metronidazole 500 mg peroral, 2x1 hari selama 7 hari atau

Ampisilin 500 mg peroral 4x1 hari selama 7 hari

Pengobatan lain dapat diberikan


-

Krim klindamisin vagina 2% intravagina selama 7 hari atau

Gel metronidazole 0,75% intravagina sehari 2 kali selama 5 hari

Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama.(1)

Kandidosis
Vulvovaginalis

Trichomoniasis

Vaginosis
Bakterial

13

PENYEBAB

C.albicans

T.vaginalis

G.vaginalis
Bakteri
anaerob
Mycoplasma

KELUHAN
-

Bau

duh

tubuh

vagina
-

Lecet pada vulva

Iritasi pada vulva

Dispareunia

Bau asam

Bau

Bau amis

Jarang

Jarang

Jarang

Jarang

GEJALA
-

Vulvitis/vaginitis

Duh tubuh vagina

Jumlah

Sedikit-sedang

Banyak

Sedang

Warna

Putih

Kuning

Putih Keabuan

Konsistensi

Encer/menggumpal/cheesy

Encer/berbusa

Encer/berbusa.

plaques

purulen

Homogen,
tipis, melekat
pada dinding
vagina

14

DIAGNOSIS
-

pH vagina

Whiff test

Mikroskop
is

4,5

> 4,5

> 4,5

(-)

seringkali (+)

(+)

Gerakan

Clue

cells,

Trichomonas (+) PMN

sedikit,

Bentuk ragi/sel tunas


KOH 10%

Pseudohifa bentuk ragi


(+)

Gram
Banyak sel PMN

lactobacilli
sedikit (-)

NaCl
Tabel 1. Penyebab, Gejala Klinis, Diagnosis Infeksi Vagina

Tabel 2. Terapi Infeksi Vagina


Kandidosis
Vulvovaginalis

Trichomoniasis

Vaginosis
Bakterial

15

TERAPI

Klotrimazol
mg

500 - Metronidazole 2 -

intravagina,

dosis tunggal atau


-

Klotrimazol
mg

selama 3 hari atau


-

Nistatin

gr peroral, dosis

2 gr peroral,

tunggal atau

dosis

200 - Metronidazole

/ intravagina
100.000

2x500

tunggal

atau

mg -

Metronidazole

peroral, selama 7

2x500

mg

hari

peroral, 2 kali

unit / intravagina

selama 2 hari

selama 14 hari atau

atau

Flukonazole

150

Ampisilin 500

mg / peroral dosis

mg

tunggal atau

4xsehari selama

Ketokonazole 200
mg

2x1

tablet

Itrakonazole
mg

2x1

peroral

7 hari
-

selama 5 hari atau


-

Metronidazole

Krim
klindamisin

200

vagina

tablet

2%,

intravagina

selama 1 hari

selama 7 hari
atau
-

Gel
metronidazole
0,75%
intravagina
2xsehari selama
5 hari

6 Infeksi pada Cervix

16

6.1 Servisitis Gonore


Gonore

merupakan

suatu

infeksi

yang

disebabkan

oleh

N.

gonnorrheae pada traktus genitalis dan organ tubuh lainnya seperti


konjungtiva,

faring,

rektum,

kulit,

persendian,

serta

organ

dalam.

Ditularkan melalui hubungan seksual. Pada wanita, N. gonnorrhoeae


pertama kali mengenai kanalis servikalis. Selain itu dapat mengenai
uretra, kelenjar skene, dan kelenjar bartholini. Masa inkubasi bervariasi,
umumnya 10 hari.

Gejala klinis
Asimtomatik pada lebih dari sebagian penderita gonore. Bila ada
keluhan umunya cairan vagina jumlahnya meningkat, menoragi atau
perdarahan intermenstrual. Pada penderita yang menunjukan gejala
biasanya ditemukan duh tubuh serviks yang mukopurulen. Serviks tampak
eritem, edem, ektopi dan mudah berdarah saat pengambilan bahan
pemeriksaan

Diagnosis
Ditegakkan

berdasarkan

pemeriksaan

laboratorium

yaitu

pemeriksaan langsung sediaan apus endoserviks dengan pengecatan


gram akan ditemukan gonokokus gram negatif yang tampak di dalam sel
PMN (intraselular) dan di luar sel PMN (ekstraselular).(8)
Pengobatan:
-

Siprofloksasin 500 mg peroral, dosis tunggal atau

Ofloksasin 400 mg peroral, dosis tunggal atau

Tiamfenikol 3,5 gr peroral, dosis tunggal atau

Seftriakson 250 mg, intramuskuler, dosis tunggal atau

Spektinomisin 2 gr, intra muskuler, dosis tunggal

Siprofloksasin, Ofloksasin dan Tiamfenikol tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau
sedang menyusui dan anak-anak.
17

6.2 Servisitis yang disebabkan Chlamidia trachomatis


Penyakit yang disebabkan oleh Chlamidia trachomatis sebagian
besar serupa dengan gonore. Pada wanita, traktus genitalis yang paling
sering terinfeksi oleh C. trachomatis adalah endoserviks. Pada 60 %
penderita biasanya asimtomatik (silent sexually transmitted disease).

Gambar 7. Gambaran Mikroskopis Chlamidia trachomatis


Gejala klinis
Bila penderita yang mempunyai keluhan, biasanya tidak khas dan
serupa dengan keluhan servisitis gonore, yaitu adanya duh tubuh vagina.
Pada pemeriksaan inspekulo sekitar 1/3 penderita dijumpai duh tubuh
servks yang mukopurulen, serviks tampak eritem, ektopi dan mudah
berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan dari mukosa
endoserviks.(9)

18

Gambar 8. Gambaran pemeriksaan spekulum pada infeksi


Chlamidia trachomatis

Diagnosis
-

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan sitologi,


identifikasi antigen C.trachomatis, PCR dan isolasi C.trachomatis pada biakan sel

Pengobatan
-

Doksisiklin 2x100 mg peroral, selama 7 hari atau

Azitromisisn 1 gr peroral, dosis tunggal atau

Eritromisin 4x500 mg peroral, selama 7 hari atau

Ofloksasin 300 mg per oral 2x sehari selama 7 hari

Doksisiklin, Tetrasiklin dan Azitromisin tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau
sedang menyusui dan anak-anak.(1)

7 Patogenesis
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret
vagina bisa dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu
diinterpretasikan penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan
oleh jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret vagina yang
banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina
mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas dan mukus
serviks yang akan bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan,
penggunaan pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan
yang dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain,
estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus
acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap
bakteri patogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi
glikogen,

lactobacillus

(Doderlein)

dan produksi

asam laktat yang


19

menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini
dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.

Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan


oleh Candida sp. terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena
perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan flora normal
sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan
ragi adalah penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan
kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak
terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi
seksual yang tinggi.
Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen
saat kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan progesteron
karena kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan Candida albicans pada
sel epitel vagina dan merupakan media bagi pertumbuhan jamur.
Candida albicans berkembang dengan baik pada lingkungan pH 56,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan
gejala infeksi. Penggunaan obat immunosupresan juga menjadi faktor
predisposisi kandidiasis vaginalis.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen
dan progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar
glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari
Trichomonas vaginalis.
Sedangkan vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina
berubah karena pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari
lingkungan vagina sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi.
Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stress dan hormon dapat
merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri
patogen. Pada vaginosis bakterial, diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat
menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus

20

acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu pertumbuhan


Gardnerella

vaginalis,

Mycoplasma

hominis

dan

Mobiluncus

yang

normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan produk metabolit


misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan
sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour
albus pada vaginosis bakterial.
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita
tuberculosis, anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga
pada perempuan dengan keadaan umum yang jelek , higiene yang buruk
dan pada perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina,
disinfektan yang kuat.

8 Penatalaksanaan
II.8.1 Preventif
Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
a. Memakai alat pelindung. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan tertularnya
penyakit karena hubungan seksual, salah satunya dengan menggunakan kondom.
Kondom dinilai cukup efektif dalam mencegah penularan PHS.
b. Pemakaian obat atau cara profilaksis. Pemakaian antiseptik cair untuk membersihkan
vagina pada hubungan yang dicurigai menularkan penyakit kelamin relatif tidak ada
manfaatnya jika tidak disertai dengan pengobatan terhadap mikroorganisme
penyebab penyakitnya. Pemakaian obat antibiotik dengan dosis profilaksis atau dosis
yang tidak tepat juga akan merugikan karena selain kuman tidak terbunuh juga
terdapat kemungkinan kebal terhadap obat jenis tersebut. Pemakain obat
mengandung estriol baik krem maupun obat minum bermanfaat pada pasien
menopause dengan gejala yang berat.
c. Pemeriksaan dini. Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan melakukan
pemeriksaan pap smear secara berkala. Dengan pemeriksaan pap smear dapat diamati
adanya perubahan sel-sel normal menjadi kanker yang terjadi secara berangsurangsur, bukan secara mendadak.
8.2 Kuratif
Terapi leukorea harus disesuaikan dengan etiologinya

21

a. Parasit. Pada infeksi Trichomonas vaginalis diberikan metronidazol 3x250 mg peroral


selama 10 hari. Karena sering timbul rekurens, maka dalam terapi harus diperhatikan
adanya infeksi kronis yang menyertainya, pemakaian kondom dan pengobatan
pasangannya. Selain itu dapat juga digunakan sediaan klotrimazol 1x100 mg
intravaginal selama 7 hari.
b. Jamur. Pada infeksi Candida albicans dapat diberikan mikostatin 10.000 unit
intravaginal selama 14 hari. Untuk mencegah timbulnya residif tablet vaginal
mikostatin ini dapat diberikan seminggu sebelum haid selama beberapa bulan. Obat
lainnya adalah itrakonazol 2x200 mg peroral dosis sehari.
c. Bakteri.
1. Untuk gonokokkus dapat diberikan: tetrasiklin 4x250 mg peroral/hari selama
10 hari atau dengan kanamisin dosis 2 gram IM. Obat lainnya adalah
sefalosporin dengan dosis awal 1 gram selanjutnya 2x500 mg/hari selama 2
hari. Sedangkan pada wanita hamil dapat diberikan eritromisin 4x250 mg
peroral/hari selama 10 hari atau spektinomisin dosis 4 gram IM.
2. Gardnerella vaginalis dapat diberikan clindamycin 2x300 mg peroral/ hari
selama 7 hari. Obat lainnya metronidazole 3x250 mg peroral/hari selama 7
hari (untuk pasien dan suaminya).
3. Chlamidia trachomatis diberikan tetrasiklin 4x500 mg peroral/hari selama 7
10 hari.
4. Treponema pallidum diberikan Benzatin Penisilin G 2,4 juta unit IM dosis
tunggal atau Doksisiklin 2x200 mg peroral selama 2 minggu.
a

Virus.
1. Virus Herpes tipe 2: dapat diberikan obat anti virus dan simtomatis untuk
mengurangi rasa nyeri dan gatal, serta pemberian obat topikal larutan neutral
red 1% atau larutan proflavin 0,1%.
2. Human papiloma virus: pemberian vaksinasi mungkin cara pengobatan yang
rasional untuk virus ini, tetapi vaksin ini masih dalam penelitian.
3. Condyloma akuminata dapat diobati dengan menggunakan suntikan interferon
suatu pengatur kekebalan. Dapat diberikan obat topikal podofilin 25% atau
podofilotoksin 0,5% di tempat dimana kutil berada. Bila kondiloma
berukuran besar dilakukan kauterisasi.

Vaginitis lainnya.

22

1. Vaginitis atropika. Pengobatan yang diberikan adalah pemberian krem


estrogen dan obat peroral yaitu stilbestrol 0,5 mg/hari selama 25 hari
persiklus atau etinil estradiol 0,01 mg/hari selama 21 hari persiklus.
2. Vaginitis kronis/rekurens. Perlu diperhatikan semua faktor predisposisi
timbulnya keluhan leukorea serta pengobatan pada pasangannya. Bila pada
kultur ditemukan hasil positif sebaiknya diberikan pengobatan sebelum
menstruasi selama 3 bulan berturut-turut dengan clotrimazole 1x100 mg
intravaginal selama 5 hari atau ketokonazole 2x200 mg dimulai hari pertama
haid.
3. Vaginitis alergika. Pengobatan pada kasus ini adalah dengan menghindari
alergen penyebabnya, misalnya terhadap tissue, sabun, tampon, pembalut
wanita. Pada kasus yang dicurigai vaginitis alergika tetapi tidak diketahui
penyebabnya dapat diberikan antihistamin.
1. Vaginitis psikosomatis. Untuk mengobati pasien ini perlu pendekatan
psikologis bahwa ia sebenarnya tidak menderita kelainan yang berarti dan hal
tersebut timbul akibat konflik emosional. Pendekatan yang memandang pasien
sebagai manusia seutuhnya yang tidak terlepas dari lingkungannya harus
dipikirkan.

9 Prognosis
-

Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata-rata 70 80% dengan regimen


pengobatan yang telah dibahas sebelumnya.

Kandidiasis mengalami kesembuhan rata-rata 80 - 95%.

Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata-rata 95%.

23

BAB II
KESIMPULAN
Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama
gejala yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital
yang tidak berupa darah. Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks
menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri,
sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini.

Fluor albus atau leukorea merupakan gejala yang paling sering


dijumpai pada penderita ginekologik, adanya gejala ini diketahui penderita
karena mengotori celananya. Sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi
vulva, cairan vagina, sekresi serviks, sekresi uterus, atau sekresi tuba
falopii, yang dipengaruhi fungsi ovarium. Dapat dibedakan antara
leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas
cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak
epitel dengan leukosit yang jarang sedang pada leukorea patologik
terdapat banyak leukosit.

Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini


cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva,
vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik;
pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan
permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran
alat-alat genital.

24

Terdapat dua penatalaksanaan leukorea yaitu preventif dan kuratif.


Penatalaksanaan

preventif

seperti

menggunakan

kondom

saat

berhubungan seksual, menggunakan obat profilaksis dan pemeriksaan


berkala untuk mencegah Ca cervix. Sedangkan penatalaksanaan kuratif
harus disesuaikan dengan etiologinya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hakimi M. Radang dan Beberapa Penyakit Lain Pada Alat Genital. Ilmu Kandungan.
ed.3. Editor: Anwar M, Baziad A, Prabowo RP. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2011. 219-36
2. Gor HB. Vaginitis. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/257141overview#a0101. Last update September, 17th 2014. Accessed September, 28th 2014
3. Kuswadji. Kandidosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.106-9
4. Samra-Latif OM. Vulvovaginitis. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/2188931-overview. Last update: March, 27th
2014. Accessed September, 29th 2014
5. Smith DS. Trichomoniasis. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/230617-overview. Last update: September,
17th 2014. Accessed September, 29th 2014
6. Daili SF. Trikomoniasis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.384-5
7. Judanarso J. Vaginosis Bakterial. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor:
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.386-92
8. Daili SF. Gonore. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.369-80
9. Struble K. Chlamydial Genitourinary Infections. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/214823-overview. Last update: August, 22nd
2014. Accessed September, 29th 2014

25

26