Anda di halaman 1dari 16

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Naomi Besitimur (102012113) D1


Email: lucy.besitimur@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Kebon jeruk-Jakarta Barat Telp. 56942061

Pendahuluan
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKI) merupakan masalah kesehatan
yang membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius. Data WHO tahun 2005,
tercatat ada 130 negara di dunia mengalami masalah GAKI, sebanyak 48 % tinggal di
Afrika dan 41 % di Asia Tenggara dan sisanya di Eropa dan pasifik Barat.1 Banyak
negara di dunia yang berhasil dalam penanggulangan GAKI, seperti Amerika Serikat,
Negara-negara di Eropa Timur, Republik Rakyat China dan lain-lain, akan tetapi banyak
pula Negara yang kurang berhasil, pada umumnya di Asia dan Afrika salah satu
diantaranya adalah Indonesia.
Defisiensi yodium terjadi pada janin merupakan dampak dari kekurangan yodium
pada ibu. Keadaan ini berkaitan dengan meningkatnya insidensi lahir mati, aborsi, cacat
lahir dan semua ini dapat dicegah melalui intervensi yang tepat. Pengaruh utama
defisiensi yodium pada janin ialah kretinisme endemis, yang sangat berkaitan dengan
bentuk sporadic. Bentuk kretinisme endemis akan timbul manakala lebih dari 10 %
penduduk mengasup yodium < 25 g/hari. Jenis yang pertama menampilkan tanda
dengan gejala seperti kemunduran mental, bisu-tuli dan diplegia spastic. Bentuk terakhir
memperlihatkan tanda khas hipotiroidisme serta dwarfisme. Di Zaire, bentuk kelainan
yang khas ialah miksedema karena konsumsi ubi kayu sangat tinggi.
GAKI berpengaruh pada angka kematian, keberfungsian tiroid pada bayi baru
lahir terhubung dengan kenyataan bahwa otak bayi baru lahir hanya sepertiga ukuran
normal orang dewasa. Otak bayi akan terus berkembang dengan cepat hingga akhir tahun
kedua kehidupannya. Berdasarkan penelitian, hormon tiroid sangat bergantung pada
kecukupan asupan yodium sangat penting dalam perkembangan normal otak.
Kekurangan yang parah dan berlangsung lama akan mempengaruhi fungsi tiroid bayi
kemudian mengancam perkembangan otak secara dini. Pharoah dkk., membuktikan
terjadinya penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun yang
1

dulunya terlahir dari rahim ibu penderita defisiensi, setidaknya kekurangan semasa
hamil.
Faktor penyebab terjadinya GAKI, selain kekurangan yodium juga dapat
disebabkan oleh karena komponen tanah yang langkah sehingga dalam makanan hanya
terdapat jumlah yang sedikit. Air tanah, air dari sumber mata air atau air dari sungai
didaerah pegunungan tidak mengandung yodium yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan tubuh manusia, demikian pula halnya dengan ternak serta tanaman yang
tumbuh di pegunungan hampir tidak mengandung yodium sama sekali. Kandungan
yodium yang rendah di pegunungan disebabkan terjadinya pengikisan yodium oleh salju
atau air hujan. Karena itulah kejadian lebih sering ditemukan di daerah pegunungan
dibandingkan dengan daerah pantai.

Pembahasan
Definisi
GAKI adalah rangkaian efek yang dapat ditimbulkan karena tubuh mengalami
kekurangan iodium secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama. Kekurangan iodium
terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan di mana tanah, air serta tanaman/tumbuhan yang
tumbuh di atasnya miskin atau tidak mengandung unsur iodium yang akibatnya penduduk
yang bertempat tinggal di daerah tersebut akan berisiko mengalami kekurangan iodium.
Merupakan defisiensi yodium yang berlangsung lama akibat dari pola konsumsi pangan yang
kurang mengkonsumsi yodium sehingga akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid, yang secara
perlahan menyebabkan kelenjar membesar sehingga menyebabkan gondok.
Yodium sendiri adalah adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di
air, merupakan zat gizi mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan
mahluk hidup. Dalam tubuh manusia Yodium diperlukan untuk membentuk Hormon Tiroksin
yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan termasuk kecerdasan mulai
dari janin sampai dewasa.1
Defisiensi yodium akan menguras cadangan yodium serta mengurangi produksi
tetraiodotironin/T4. Penurunan kadar T4 dalam darah memicu sekresi Thyroid Stimulating
Horrmon (TSH) yang selanjutnya menyebabkan kelenjar tiroid bekerja lebih giat sehingga
fisiknya kemudian membesar (hiperplasi). Pada saat ini efisiensi pemompaan yodium
bertambah yang dibarengi dengan percepatan pemecahan yodium dalam kelenjar.
2

Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan suatu gangguan yang mempunyai
pengertian yang lebih luas, karena memberikan gambaran klinik yang lebih luas, sehingga
gangguan tersebut lebih sesuai bila disebut sebagai Iodine Deficiency Disorders.
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) adalah rangkaian efek kekurangan yodium
pada tumbuh kembang manusia. Spektrum seluruhnya terdiri dari gondok dalam berbagai
stadium, kretin endemik yang ditandai terutama oleh gangguan mental, gangguan
pendengaran, gangguan pertumbuhan pada anak dan orang dewasa.
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
terjadinya pembesaran kelenjar gondok (kelenjar tiroid) dan diderita oleh sejumlah besar
penduduk yang tinggal di suatu daerah tertentu.1
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang dapat
ditimbulkan karena tubuh kekurangan yodium secara terus-menerus dalam jangka waktu
yang cukup lama.
Kekurangan yodium pada masa kehamilan dan awal kehidupan menyebabkan perkembangan
otak terhambat. Titik paling kritis GAKY adalah trimester ke-2 kehamilan sampai dengan 3
tahun setelah lahir. GAKY merupakan salah satu penyebab kerusakan otak yang dapat
dicegah.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah GAKI
Faktor Faktor yang berhubungan dengan masalah GAKI antara lain :
1. Faktor Defisiensi Iodium dan Iodium Excess
Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKI. Hal ini
disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap
kekurangan unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Hal ini
dibuktikan oleh Marine dan Kimbell (1921) dengan pemberian iodium pada anak usia
sekolah di Akron (Ohio) dapat menurunkan gradasi pembesaran kelenjar tiroid.
Temuan lain oleh Dunn dan Van der Haal (1990) di Desa Jixian, Propinsi Heilongjian
(Cina) dimana pemberian iodium antara tahun 1978 dan 1986 dapat menurunkan
prevalensi gondok secara drastic dari 80 % (1978) menjadi 4,5 % . Iodium Excess
terjadi apabila iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti
yang dialami oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang
3

laut dalam jumlah yang besar. Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi
hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling.1
2. Faktor Geografis dan Non Geografis
GAKI sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu daerah, karena
pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah pegunungan seperti pegunungan
Himalaya, Alpen, Andres dan di Indonesia gondok sering dijumpai di pegunungan
seperti Bukit Barisan Di Sumatera dan pegunungan Kapur Selatan. Daerah yang
biasanya mendapat suplai makanannya dari daerah lain sebagai penghasil pangan,
seperti daerah pegunungan yang notabenenya merupakan daerah yang miskin kadar
iodium dalam air dan tanahnya. Dalam jangka waktu yang lama namun pasti daerah
tersebut akan mengalami defisiensi iodium atau daerah endemik iodium.
3. Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Kekurangan iodium merupakan penyebab utama terjadinya gondok, namun
tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lain juga ikut berperan. Salah satunya adalah
bahan pangan yang bersifat goiterogenik. dari hasil risetnya mengatakan bahwa zat
goiterogenik dalam bahan makanan yang dimakan setiap hari akan menyebabkan zat
iodium dalam tubuh tidak berguna, karena zat goiterogenik tersebut merintangi
absorbsi dan metabolisme mineral iodium yang telah masuk ke dalam tubuh.
Goiterogenik adalah zat yang dapat menghambat pengambilan zat iodium oleh
kelenjar gondok, sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar menjadi rendah. Selain
itu, zat goiterogenik dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik ke
bentuk organik sehingga pembentukan hormon tiroksin terhambat. goitrogen alami
ada dalam jenis pangan seperti kelompok Sianida (daun + umbi singkong , gaplek,
gadung, rebung, daun ketela, kecipir, dan terung) ; kelompok Mimosin (pete cina dan
lamtoro) ; kelompok Isothiosianat (daun pepaya) dan kelompok Asam (jeruk nipis,
belimbing wuluh dan cuka).1,2
4. Faktor Zat Gizi Lain
Defisiensi protein dapat berpengaruh terhadap berbagai tahap pembentukan
hormon dari kelenjar thyroid terutama tahap transportasi hormon. Baik T3 maupun T4
terikat oleh protein dalam serum, hanya 0,3 % T4 dan 0,25 % T3 dalam keadaan
bebas. Sehingga defisiensi protein akan menyebabkan tingginya T3 dan T4 bebas,
dengan adanya mekanisme umpan balik pada TSH maka hormon dari kelenjar thyroid
akhirnya menurun.

Patogenesis
Tubuh kita memiliki sistem keseimbangan iodida. Iodida masuk kedalam lambung
dalam bentuk ion iodida, kemudian ia akan diproses menjadi iodida kemudian diserap di usus
halus. Jumlah iodida yang dibuang sama dengan jumlah iodida yang diserap setiap harinya,
jika yang diserap lewat usus adalah 500 mikrogram maka yang dibuang juga sejumlah 500
mikrogram, sejumlah besar 485 mikrogram akan dibuang melalui urin dan sisanya 15
mikrogram akan dibuang melalui garam empedu. Cadangan iodida di cairan ekstrasel adalah
sebesar 150 mikrogram, sedangkan cadangan iodida terbanyak ada di kelenjar tiroid itu
sendiri yaitu sebesar 8000 mikrogram, sisanya yaitu sebesar 600 mikrogram disimpan di
hormon tiroksin atau triiodotironin yang beredar dalam darah.2
Pemasukan iodida kedalam kelenjar tiroid adalah dengan cara transpor aktif
menggunakan kanal ion Na-K-ATPase. Iodida akan terikat pada ion natrium dan ikut masuk
kedalam kelenjar tiroid dengan perantara ion natrim tersebut, proses ini dinamakan trapping
iodida. Setelah berada didalam sel tiroid, iodida akan menjalankan fungsinya, yaitu iodida
yang telah terlebih dahulu dioksidasi oleh peroksidase menggunakan H2O2 akan digabung
dengan residu tirosil sehingga menghasilkan iodotirosin yang akan bergabung dengan
iodotirosin lainnya membentuk triiodotironin atau tiroksin di dalam protein pengikat
tiroglobulin.2
Pada kondisi kekurangan iodium atau iodida, cadangan iodida tubuh akan digunakan
sehingga kondisi kekurangan itu tidak akan berdampak apapun pada tubuh. Yang menjadi
masalah adalah apabila kondisi kekurangan iodida tersebut terjadi selama kurun waktu yang
cukup lama, lebih dari 2 bulan misalnya, sehingga menyebabkan tubuh kehabisan cadangan
iodida. Ketika tubuh kehabisan cadangan iodida, maka hormon tiroksin atau triiodotironin
yang dihasilkan akan berkurang, hal ini akan menimbulkan manifestasi kekurangan hormon
tiroid dalam tubuh. Kekurangan iodida mencegah produksi hormon tiroksin dan
triiodotironin. Akibatnya tidak tersedia hormon yang dapat dipakai untuk menghambat
produksi TSH oleh hipofisis anterior, hal ini menyebabkan kelenjar hipofisis menyekresi
banyak sekali TSH. Selanjutnya TSH merangsang sel-sel tiroid menyekresi koloid
tiroglobulin kedalam folikel, dan kelenjarnya tumbuh semakin besar. Tetapi oleh karena
iodida yang kurang, produksi tiroksin dan triiodotironin tidak meningkat dalam molekul
tiroglobulin dan oleh karena itu tidak ada penekanan secara normal pada produksi TSH oleh

kelenjar hipofisis. Ukuran folikelnya menjadi sangat besar dan kelenjar tiroidnya dapat
membesar 10 sampai 20 kali ukuran normal.3
Gejala klinis
Gejala yang sering tampak sesuai dengan dampak yang ditimbulkan , seperti:
1. Terhadap Pertumbuhan
a. Pertumbuhan yang tidak normal.
b. Pada keadaan yang parah terjadi kretinisme
c. Keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan
d. Tingkat kecerdasan yang rendah
e. Mulut menganga dan lidah tampak dari luar
2. Kelangsungan Hidup
3. Wanita hamil didaerah Endemik GAKI akan mengalami berbagai gangguan
kehamilan antara lain :
a. Abortus
b. Bayi Lahir mati
c. Hipothryroid pada Neonatal
4. Perkembangan Intelegensia
a. Setiap penderita Gondok akan mengalami defisit IQ Point sebesar 5 Point
dibawah normal.
b. Setiap Penderita Kretinisme akan mengalami defisit sebesar 50 Point dibawah
normal. Iodium diperlukan khususnya untuk biosintesis hormon tiroid yang
beriodium. Iodium dalam makanan diubah menjadi iodida dan hampir secara
sempurna iodida yang dikonsumsi diserap dari sistem gastrointestinal. Yodium
sangat erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan anak. Dampak yang ditimbulkan
dari kekurangan konsumsi yodium yang berada dalam tubuh, akan sangat buruk
akibatnya bagi kecerdasan anak, karena bisa menurunkan 11-13 nilai IQ anak. Di
antara penyakit akibat kekurangan iodium adalah gondok dan kretinisme. Ada dua
tipe terjadinya kretinisme, yaitu kretinisme neurology seperti kekerdilan yang
digolongkan dengan mental, kelumpuhan dan buta tuli. Ada pula kretinisme
hipotiroid Lokasi dan struktur tiroid (gondok) di mana kelenjar tiroid yang terletak
di bawah larynx sebelah kanan dan kiri depan trakea mengekskresi tiroksin, 3
triiodotironin dan beberapa hormon beriodium lain yang dihubungkan dengan
pertumbuhan yang kerdil dan retardasi mental yang lambat. Selama masa
6

pertumbuhan dan perkembangan, kebutuhan tubuh akan yodium memang harus


selalu dipenuhi. Karena kalau tidak, hipotiroidisme akan terus mengancam. Baik
bayi, anak, remaja, bahkan dewasa muda tetap mempunyai peluang terserang
penyakit gondok, gangguan fungsi mental dan fisik, maupun kelainan pada system
saraf. Semua penyakit dan berbagai kelainan lainnya yang disebabkan oleh
defisiensi unsur kimia berlambang I ini , kini disebut dengan GAKI ( Gangguan
Akibat Kekurangan Yodium ). Selain akan mempengaruhi tingkat kecerdasan
anak, yang kita tahu selama ini, kekurangan yodium akan menyebabkan
pembesaran kelenjar gondok. Padahal, banyak gangguan lain yang juga bisa
muncul. Misalnya saja, kekurangan yodium yang dialami janin akan
mengakibatkan keguguran maupun bayi lahir meninggal, atau meninggal beberapa
saat setelah dilahirkan. Bahkan, tidak sedikit bayi yang terganggu perkembangan
sistem sarafnya sehingga mempengaruhi kemampuan psikomotoriknya.3,4
5. Pertumbuhan Sosial2
Dampak sosial yang ditimbulkan oleh GAKI berupa terjadinya gangguan
perkembangan mental, lamban berpikir, kurang bergairah sehingga orang semacam ini
sulit dididik dan di motivasi.
6. Perkembangan Ekonomi
GAKI akan mengalami gangguan metabolisme sehingga badannya akan merasa
dingin dan lesu sehingga akan berakibatnya rendahnya produktivitas kerja, yang akan
mempengaruhi hasil pendapatan keluarga.3
7. Gejala GAKI
Survei epidemiologis untuk gondok endemik biasanya didasarkan atas besarnya
kelenjar tiroid, dilakukan dengan metode Palpasi, menurut klasifikasi Perez atau
modifikasinya (1960) :
a. Grade 0 : Tidak teraba
b. Grade 1 : Teraba dan terlihat hanya dengan kepala yang ditengadahkan
c. Grade 2 : Mudah terlihat, kepala posisi biasa
d. Grade 3 : Terlihat dari jarak tertentu karena perubahan gondok pada awalnya perlu
diwaspadai, maka grading system, khususnya grade 1 dibagi lagi dalam 2 kelas,
yaitu:
1) Grade 1a : Tidak teraba atau teraba tidak lebih besar daripada kelenjar tiroid
normal.

2)

Grade 1b : Jelas teraba dan membesar, tetapi pada umumnya tidak terlihat
meskipun kepala ditengadahkan. Kelenjar tiroid tersebut ukurannya sama atau
lebih besar dari falangs akhir ibu jari tangan pasien.3,4

Pencegahan dan penanggulangan


1. Pencegahan

Secara relatif, hanya makanan laut yang kaya akan yodium : sekitar 100
g/100 gr. Pencegahan dilaksanakan melalui pemberian garam beryodium.
Jika garam beryodium tidak tersedia, maka diberikan kapsul minyak
beryodium setiap 3, 6 atau 12 bulan, atau suntikan ke dalam otot setiap 2

tahun.
Mengurangi bahan makanan zat goitrogenik.
Masalah yang membuat GAKI sulit diatasi karena garam yang beredar di
masyarakat sebagian besar tidak mengandung yodium, tidak memenuhi
standar nasional Indonesia (SNI) atau standar industri Indonesia (SII).4
2. Penanggulangan

Garam beryodium. Sesuai Kepres no 69, 13 Oktober 1994, mewajibkan semua


garam yang dikonsumsi,baik manusia maupun hewan ,diperkaya dengan
yodium sebanyak 30-80 ppm

Suplementasi yodium pada binatang

Suntikan minyak beryodium (Lipiodol) intramuskular dengan dosis 2 ml.


Dosis ini diberikan kepada anak-anak dan kepada ibu usia subur terutama pada
ibu hamil. Penyuntikan ini merupakan upaya pencegahan sementara karena
hanya menyediakan iodium dalam jangka waktu 6 bulan.2,3

Kapsul minyak beryodium.

Penyuluhan tentang Yodium secara kontinue.

Kerjasama Lintas sektoral tentang pembagian garam yodium secara gratis di


daerah endemik gondok.

Cek up secara teratur bagi penderita gondok jika mempunyai permasalahan


dengan pembesaran kelenjar tiroid.

Adanya strategi penanggulangan yaitu menghilangkan akar permasalahan,


menetapkan sistem pengadaan dan distribusi garam beryodium, meningkatkan
sosialisasi konsumsi garam beryodium, mengawasi peredaran garam, dan menetapkan
sanksi hukum.3
3. Upaya dari pemerintah
Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah (Departemen Kesehatan dan Departemen
yang terkait) dalam pencegahan kekurangan unsur yodium sudah lama dilakukan,
tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan. Upaya yang dilakukan pemerintah
di antaranya adalah upaya jangka pendek dan jangka panjang.
a. Program jangka pendek
Program jangka pendek yang telah dikerjakan adalah penyuntikan larutan
yodium dalam minyak (lipiodol) pada penduduk risiko tinggi di daerah gondok
endemik sedang dan berat, yang dilakukan pada tahun 1974 sampai dengan tahun
1991. Kemudian dilanjutkan dengan distribusi kapsul minyak beryodium yaitu
kapsul lipiodol, sebagai pengganti suntikan lipiodol. Penggunaan kapsul lipiodol
membutuhkan biaya mahal, mengingat kapsul tersebut buatan Perancis, sehingga
dicari penggantinya yang dapat diproduksi dalam negeri (PT.Kimia Farma) yang
selanjutnya disebut YODIOL.
Sejak tahun 1992 kapsul tersebut didistribusikan kepada kelompok sasaran
di daerah risiko tinggi. Kelompok sasaran yang dimaksud sekarang ini adalah
wanita usia subur di daerah gondok endemik sedang dan berat, ibu hamil dan
menyusui di daerah gondok endemik sedang dan berat dan anak sekolah dasar di
daerah endemik berat.3
b. Program jangka panjang
Upaya penanggulangan GAKI jangka panjang telah ditempuh pemerintah
melalui fortifikasi bahan makanan. Setelah melalui pengkajian yang seksama baik
dari segi teknis maupun operasional, ditetapkan bahwa garam merupakan bahan
makanan yang paling cocok dan memenuhi kriteria untuk dilakukan fortifikasi.
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan KIO3 (Kalium
Yodat) dalam bentuk larutan pada lapisan tipis garam sehingga diperoleh
campuran yang merata. Alasan penggunaan garam beryodium sebagai upaya
penanggulangan GAKI adalah garam merupakan media yang paling baik untuk
mengikat yodium dan garam merupakan bahan makanan yang dikonsumsi semua
orang tiap hari sehingga menjamin masukan yodium sesuai dengan yang
diharapkan. Oleh karena itu, program penanggulangan GAKI jangka panjang
9

ditempuh dengan fortifikasi garam konsumsi, dimana program ini disebut program
iodisasi garam dan garam yang sudah difortifikasi disebut garam beryodium.2,4
4. Efektivitas Fortifikasi Garam Beryodium untuk Penanggulangan GAKI
Garam adalah komponen homeostasis dalam sistem biologi dan memegang
peranan penting dalam aktivitas manusia. Kelebihan garam di antaranya adalah
harganya yang murah dan ketersediaannya yang melimpah. Penggunaan garam yang
utama adalah sebagai bahan konsumsi sehari-hari. Manfaat ini membuat garam
menjadi bagian penting dari kebudayaan dan peradaban manusia. Garam juga mudah
disaring dan dibersihkan dengan beberapa teknik, selain itu juga merupakan
komoditas global. Oleh karena secara universal manusia mengkonsumsi garam dalam
jumlah kecil yang konstan setiap hari, maka hal tersebut merupakan suatu sarana yang
ideal untuk menyampaikan jumlah fisiologis mikronutrien seperti yodium kepada
populasi secara besar-besaran. Selain itu, penambahan yodium ke dalam garam tidak
mempengaruhi warna, rasa, dan baunya.
Pada tahun 1994, WHO dan Unicef Joint Committee on Health Policy
merekomendasikan USI (Universal Salt Iodized) sebagai sebuah strategi yang aman,
cost-effective, dan berkelanjutan untuk menjamin asupan yodium yang cukup bagi
semua individu. Sekarang ini telah diketahui dengan jelas bahwa cara yang paling
efektif untuk mengeleminasi GAKI adalah melalui USI. USI menekankan terjaminnya
kandungan yodium yang cukup dalam semua garam yang digunakan. Lebih dari tiga
puluh negara telah membuktikan efektivitas USI dan berhasil mencapai cita-cita USI
yaitu sebanyak 90% rumah tangga menggunakan garam beryodium. Adapun negara
lain yang gagal mencapai target, hal itu dikarenakan situasi konflik di negaranya yang
telah menenggelamkan segala usaha kesehatan. Berdasarkan uraian tersebut, maka
fortifikasi garam dinilai sebagai langkah yang efektif dan strategis dalam upaya
penanggulangan masalah GAKI.2
5. Tujuan dari upaya-upaya tersebut adalah untuk :
Menjamin nutrisi yodium yang cukup bagi seluruh penduduk, terutama bagi

kelompok risiko tinggi


Mencegah gangguan retardasi mental dan fisik dan gangguan perkembangan
lain yang ada hubungannya dengan GAKI.

10

Berhasil tidaknya upaya penanggulangan masalah GAKI di masyarakat, di


samping sistem penanggulangan sendiri di tingkat program, tidak kalah pentingnya
adalah masalah lingkungan dan sosial budaya yang ada di masyarakat.3
Penatalaksanaan
Farmakologi

Parasetamol

Sebagai analgetik antipiretik Indikasi :Menurunkan rasa sakit kepala,sakit gigi dan
menurunkan panas.Efek Samping :Reaksi hipersensitif, bila diberikan dalam dosis
tinggi dapat merusak hati.
Kemasan :Botol 60 ml

Amoksisilin

Indikasi: Infeksi Saluran Nafas, Saluran Kemih, dan Kelamin. Infeksi lainseperti
Salmonella sp, Shigella, kulit, luka selulitis, furunkulosis.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap penisilin, gangguan ginjal, leukemialimfatik,
superinfeksi.
Efek Samping : Reaksi hipersensitif, gangguan gastrointestinal.
Interaksi Obat : Probenesid meningkatkan waktu paruh amoksisilin dalam plasma,3)

Recovit

Kandungan : Vitamin. A 5000 IU, Vitamin B1 10 mg, Vitamin B2 15 mg,Vitamin B6


5 mg, Vitamin B12 5 mg, Vitamin C 200 mg,Vitamin E 15 iu, Vitamin D 400 iu,
nicotinamide 50 mg, kaliumiodide, calsium pantothenate, ferrofumarete, zink sulfat
Indikasi : Terapi defisiensi multivitamin dan mineral Suplemen vitamin untuk wanita
hamil.
Dosis : 1x/hari 1 kapsul(4)

Sirup Vitamin Zn

11

Kandungan : Vitamin. A 1250 iu,Vitamin D 200 iu, Vitamin C 20 iu, VitaminB1 1


mg, Vitamin B2 1 mg, Vitamin B6 o,6 gr, Vitamin B12 2g,Vitamin d-Panthenol 3
mg, Elemental iron + 1,5 mg, Calsium+20 mg, Phosporus + 15 mg, Manganese +
0,25 mg, Zinc +0,25mg, Magnesium + 1,5 mg, Potasium + 1,25 mg, Lysine 12,5mg,
Hydrochloride Inositol 2,5 mg, Choline + 2,5 mg,
Indikasi : Sebagai suplement diet untuk profilaksis dan pengobatan,defisisensi Fe
dan vitamin serta mineral.
Kontarindikasi

Pada

penderita

haemochromatosis,

Haemosiderosis,

dan

anemiahemolitik.
Dosis : 5 ml/hari.
Non-farmakologi
Bahan Makanan yang cukup banyak mengandung Yodium adalah:
Bahan makanan yang berasal dari laut. Dalam ikan laut bisa mencapai 830
mg/kg. Bandingkan dengan daging yang kandungan yodiumnya hanya 50 mg/kg,
dantelur hanya 93 mg/kg. Selain ikan laut, cumi-cumi juga mengandung yodium
cukup tinggi, yaitu sekitar 800 mg/kg. Yang paling tinggi kandungan yodiumnya
adalah rumput laut (ganggang laut), khususnya yang berwarna coklat. Banyaknya
yodium yang dibutuhkan tubuh kita per hari, minimal sekitar 100 mg.Karena itu,
kalau kita mengkonsumsi ikan laut basah sebanyak 100 g/hari, artinya sudah
mencukupi. Atau, kalau rumput laut coklat diolah menjadi hidangan yang lezat,
dengan 2-5 gr/hari/orang, kebutuhan yodium sekeluarga sudah dapat terpenuhi.
Sumber yodium lain yang mudah kita temui adalah garam. Yang dimaksud disini
adalah garam beryodium dengan kadar yodium antara 30-80 ppm (part per million).4

Anemia di Indonesia umumnya prevalensi masih tinggi pada kelompok-kelompok tertentu.


Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaaan kadar hemoglobin didalam darah lebih rendah
dari nilai normal untuk kelompok orang yang bersangkutan.
a. Prevalensi anemia defisiensi besi
Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di
dunia (lebih dari 2 milyar jiwa) terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi
12

prevalensinya adalah wanita hamil dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak
sampai umur 2 tahun 48%, anak sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 3055%, dan anak prasekolah 25%. Prevalensi anemia di negara-negara berkembang
sekitar empat kali lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan
prevalensi anemia untuk anak sekolah di negara berkembang dan maju adalah 53%
dan 9%, anak prasekolah 42% dan 17%. Prevalensi di Indonesia pada satu tahun
pertama kehidupan masih diatas 60%, walaupun angkanya menurun sejalan dengan
bertambahnya usia anak, namun prevalensinya masih tinggi yaitu 32.1 % pada anak
usia 48-59 bulan. Menurut WHO anemia dikatakan menjadi masalah kesehatan
masyarakat jika prevalensi di suatu negara yaitu < 15% adalah rendah, 15-40% adalah
sedang dan >40% adalah tinggi.5
b. Penyebab anemia defisiensi besi
Umur sel darah merah sekitar 120 hari, sumsum tulang akan mengganti sel darah
merah yang tua dengan membuat sel darah merah yang baru. Kemampuan membuat
sel darah merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang
hilang, sehingga jumlah sel darah merah selalu dipertahankan cukup banyak didalam
darah. Penyebab utama yang terjadi terutama di negara-negara yang sedang
berkembang adalah penyerapan zat besi. Sumber terbaik dari besi adalah makanan
yang berasal dari daging, ikan dan telur, namun konsumsinya rendah pada masyarakat
yang berpenghasilan rendah. Jumlah zat besi yang diserap dari makanan hewani
adalah sekitar 25%, sedangkanjumlah besi yang diserap dari biji-bijian dan kacangkacangan hanya 2-5%. Faktor risiko terjadi anemia adalah pada bayi yang lahir
premature atau kekurangan zat besi pada masa kehamilan. Bayi yang lahir dengan
berat badan yang rendah mempunyai simpanan zat besi yang rendah, yang akan habis
pada umur 2-3 bulan.Sehingga diperlukan suplementasi zat besi ketika mereka
berumur 2 bulan. Suatu studi perbandingan yang dilakukan di Honduras dan Swedia
pada bayi umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif menunjukkan bahwa konsentrasi
ferritin (yang menunjukkan cadangan zat besi) dari bayi-bayi di Honduras setengah
dari bayi di Swedia. Hal ini menggambarkan rendahnya akumulasi dari zat besi ketika
masih didalam kandungan. Pada anak-anak, diperberat keadaannya oleh infestasi
cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah.
Akibat gigitannya sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari badan bersama tinja.
Setiap hari diperkirakan satu ekor cacing tambang memakan 0.03 0.15 ml darah,

13

jika didalam tubuh terdapat 100 ekor cacing tambang, akan menyebabkan kehilangan
darah sekitar 3-15ml per hari.5
c. Gejala dari kekurangan zat besi pada individu tidak spesifik.
Kekurangan zat besi pada tingkat sedang biasanya didiagnosis dari penilaian di
laboratorium. Kekurangan zat besi pada tingkat berat sama dengan jenis anemia
lainnya yaitu mudah capek, nafsu makan menurun, atau terlihat pucat. Konsekuensi
adalah menurunnya produktifitas pada orang dewasa dan pada anak-anak terhadap
perkembangan mentalnya. Ulasan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan anak
balita yang menderita mempunyai skor mental dan motor pada uji Bayley lebih
rendah dari anak yang tidak menderita. Setelah disuplementasi dengan zat besi
terdapat kenaikan skor mental dan motor yang cukup berarti. Pada anak prasekolah
(usia 3-6 tahun) yang menderita menyebabkan pemusatan perhatian dan proses belajar
rendah. Setelah disuplementasi dengan zat besi anak yang anemia defisiensi besi
pemusatan perhatian dan proses belajarnya menjadi lebih baik Penelitian yang
dilakukan pada binatang menunjukkan bahwa anemia mempengaruhi isi dan distribusi
besi otak dan menyebabkan perubahan prilaku. Walaupun penelitian pada binatang
dapat misleading, namun berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bayi yang
menderita anemia terlambat perkembangan psikomotornya, terutama pada
kemampuan berbicara dan keseimbangan tubuh. Pada bayi-bayi ini suplementasi zat
besi tidak cukup untuk mengembalikan pengaruh negatif akibat kekurangan zat besi,
walaupun kadar hematologi darah sudah kembali normal. Hal ini menunjukkan
dampak pada masa bayi mungkin berhubungan dengan kemampuan kognitif pada
masa-masa selanjutnya.6

Prevalensi tertinggi terjadi didaerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi hasil studi
menunjukan bahwa anemia pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya
disfungsi otak permanen. Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot
kerangka, menurunnya kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku.
Ciri: Akan memperlihatkan respon yang baik dengan pemberian preparat besi, kadar Hb
meningkat 29% setiap 3 minggu
Tanda dan gejala: Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra,) lemah, lesu, hb rendah,
sering berdebar, papil lidah atrofi, takikardi, sakit kepala, jantung membesar
Dampak: Produktivitas rendah, sel darah merah untuk generasi berikutnya rendah
Penyebab: Sebab langsung (kurang asupan makanan yang mengandung zat besi,
mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi, infeksi penyakit), sebab tidak

14

langsung (distribusi makanan tidak merata ke seluruh daerah), sebab mendasar (Pendidikan
wanita rendah, ekonomi rendah, lokasi geografis daerah endemis malaria)
Kelompok sasaran prioritas: Ibu hamil dan menyusui, balita, anak usia sekolah, tenaga kerja
wanita, wanita usia subur.6
Penanganan:

Pemberian Komunikasi,informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada

ibu hamil maupun menyusui


Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk

multivitamin kepada balita


Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan

anak usia sekolah serta pemeberian suplemen tambahan kepada anak sekolah
Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada

tenaga kerja wanita


Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur
(WUS).5,6

Kesimpulan
Kekurangan yodium merupakan penyebab utama mulai dari penumpulan
intelektual, kretin, gangguan mental, bisu, tuli, cebol. Kelompok yang rentan terhadap
masalah GAKI adalah ibu hamil, janin, neonatus, anak dan remaja, dewasa.
GAKI menimbulkan dampak dan gejala. Dampak yang ditimbulkan GAKI
diantaranya adalah gangguan pada pertumbuhan, kelangsungan hidup, gangguan
kehamilan, perkembangan intelegensi, pertumbuhan sosial, dan perkembangan ekonomi.
Sedangkan gejala dapat diketahui dengan metode palpasi.
Pencegahan dan penanggulangan GAKI yang dilakukan oleh pemerintah belum
memberikan hasil yang memuaskan. Pemerintah mengadakan program jangka pendek dan
jangka panjang. Penanggulangan yang dilakukan pemerintah lebih efektif dengan
penggunaan garam beryodium. Pengobatan untuk GAKI dilakukan dengan cara
farmakologi dan non farmakologi.

Daftar pustaka
15

1. Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:Gramedia pustaka utama;2006.Hal7-19


2. Bambang Wirjatmadi, Merryana Adriani. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta:
Kencana;2012.hal 31-9
3. Anisatuslohihah. Modifikasi Alat Fortifikasi Yodium Portable dan Iodine Test Kit Untuk
menanggulangi masalah GAKI di Indonesia. Jakarta: Rineka cipta; 2009. Hal 14-22
4. Depkes, RI. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Garam Beryodium di Tingkat
Masyarakat. Jakarta: 2000; Depkes RI
5. Arlinda. Anemia Defisiensi Besi pada Balita. Bagian ilmu kesehatan masyarakat/ilmu
kedokteran. Jakarta; 2008.
6. Sylvia.AP. patofisiologi sel darah merah ed4. EGC;1994

16