Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN HIPERTENSI

Topik

: Hipertensi

Penyuluhan

: Hipertensi

Sasaran

: Masyarakat

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading

Hari/tanggal

: Kamis, 8 April 2016

Waktu

: 20 menit

A. LATAR BELAKANG

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi masalah pada hampir
semua golongan masyarakat baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Di seluruh
dunia , peningkatan tekanan darah diperkirakan menyebabkan 7,5 juta kematian,
sekitar 12,8% dari total kematian di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi
masyarakat yang terkena hipertensi berkisar antara 6-15% dari total penduduk.
Hipertensi merupakan suatu penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi
kinerja berbagai organ. Hipertensi juga menjadi suatu factor resiko penting
terhadap terjadinya penyakit seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung dan
stroke. Apabila tidak ditanggulangi secara tepat, akan terjadi banyak kerusakan
organ tubuh. Hipertensi disebut sebagai silent killer karena dapat menyebabkan
kerusakan berbagai organ tanpa gejala yang khas.
Penderita hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu-waktu bisa jatuh ke
dalam keadaan gawat darurat. Diperkirakan sekitar 1-8% penderita hipertensi
berlanjut menjadi krisis hipertensi dan banyak terjadi pada usia sekitar 30-70
tahun. Namun, krisis hipertensi jarang ditemukan pada penderita dengan tekanan
darah normal tanpa penyebab sebelumnya. Pengobatan yang baik dan teratur

dapat mencegah insiden krisis hipertensi maupun komplikasi lainnya menjadi


kurang dari 1%.1

B. TUJUAN
1) Tujuan Instruksional Umum
Setelah diadakan penyuluhan, diharapkan para warga dapat mengerti dan memahami
tentang Hipertensi
2) Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 20 menit, diharapkan peserta mampu
untuk:
1. Menjelaskan tentang pengertian Hipertensi
2. Menjelaskan tentang penyebab terjadinya Hipertensi
3. Menjelaskan klasifikasi Hipertensi
4. Menjelaskan tanda dan gejala Hipertensi
5. Menjelaskan tentang cara pengelolaan Hipertensi
6. Menjelaskan tentang komplikasi Hipertensi
C. KEPANITIAAN
Ketua Pelaksana

: M. Irvan Dwi Fitra

Sekretaris

: Bidari

Presentan

: M. Irvan Dwi Fitra

D. ACARA
WAKTU
5 menit

TAHAP
Pembukaan :

RESPON

Mengucapkan salam.
Memperkenalkan diri

Peserta menjawab salam

Menjelaskan maksud dan tujuan

Peserta mengenal presentan

Menyebutkan materi yang diberikan.

Peserta mengerti tujuan

Menanyakan kesiapan peserta

Peserta memperhatikan
Peserta sudah siap

WAKTU

TAHAP

RESPON

Pelaksanaan :
Penyampaian materi

- Peserta mengetahui tentang

Menjelaskan pengertian Hipertensi

Definisi, etiologi, tanda dan

Menjelaskan etiologi Hipertensi

gejala, penanganan dan

Menjelaskan tanda dan gejala

komplikasi Hipertensi

Hipertensi
Menjelaskan penanganan Hipertensi
Menjelaskan komplikasi Hipertensi

7 menit

Tanya Jawab :
Memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya.
T
1.

Peserta bertanya kepada


presentan.

WAKTU

TAHAP

RESPON

Evaluasi :
Menanyakan kembali hal-hal yang
sudah dijelaskan
5 menit

Penutup :
Menutup pertemuan dengan
menyimpulkan materi yang telah
dibahas

Peserta mendengarkan.
Peserta menjawab salam.

Memberikan salam penutup

3 menit
T
1.

E. METODE
1.

Ceramah

2.

Tanya Jawab

F. MEDIA
Power point dengan proyektor dan Leaflet
G. RENCANA EVALUASI
Persiapan :
1.

Materi sudah siap dan dipelajari 1 hari sebelum penkes

2.

Media sudah siap 1 hari sebelum penkes

3.

SAP sudah siap 1 hari sebelum penkes

Proses :
1.

Peserta memperhatikan penjelasan presentan

2.

Peserta aktif bertanya atau memberikan pendapat

3.

Media dapat digunakan secara efektif

Hasil :
1. Peserta dapat memahami tentang definisi Hipertensi
2. Peserta dapat memahami tentang tanda dan gejala awal Hipertensi
3. Peserta dapat memahami tentang pengelolaan Hipertensi
4. Peserta dapat memahami tentang komplikasi Hipertensi
5. Peserta dapat memahami tentang pentingnya pemeriksaan dini
terhadap orang yang beresiko tinggi Hipertensi

H. SUMBER PUSTAKA

Bustan. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Corwin, Elizabeth. 2004. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Guyton. 2008. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC
Irianto, Kus. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. Bandung:

Lampiran 1
MATERI PENYULUHAN
HIPERTENSI
Definisi Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningakatan tekanan darah sistolik sedikitnya
140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas
normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor
dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab
hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat
adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari
pembuluh darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah.
Tipe Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi
hipertensi esensial/ primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial/primer
adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya disebut sebagai hipertensi
esensial. Sedangkan hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi karena ada
suatu penyakit yang melatarbelakanginya.
Menurut The Seventh of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi
tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prehipertensi, hipertensi derajat 1, dan hipertensi derajat 2.
Klasifikasi Tekanan
Darah
Normal
Prehipertensi
Hipertensi derajat 1
Hipertensi derajat 2

Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7


TDS (mmHg)
< 120
120-139
140-159
160

Dan
Atau
Atau
Atau

TDD (mmHg)
< 80
80-90
90-99
100

Pasien dengan prehipertensi berisiko mengalami peningkatan tekanan


darah menjadi hipertensi, yang tekanan darahnya 130-139/80-89 mmHg sepanjang
hidupnya memiliki 2 kali risiko menjadi hipertensi dan mengalami penyakit
kardiovaskuler daripada yang tekanan darahnya lebih rendah.
Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun, tekanan darah sistolik > 140
mmHg merupakan faktor risiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit
kardiovaskuler daripada tekanan darah diastolik.
Etiologi
Hipertensi berdasarkan etiologi / penyebabnya dibagi menjadi 2 :

Hipertensi Primer atau Esensial


Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau
idiopatik adalah

hipertensi

yang

tidak

diketahui

etiologinya/penyebabnya. 90% dari semua penyakit hipertensi


merupakan penyakit hipertensi esensial.

Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat
suatu penyakit, kondisi dan kebiasaan. Karena itu umumnya
hipertensi ini sudah diketahui penyebabnya. Terdapat 10% orang
menderita apa yang dinamakan hipertensi sekunder. Skitar 5-10%
penderita

hipertensi

penyebabnya

adalah

penyakit

ginjal

(stenoisarteri renalis, pielonefritis, glomerulonefritis, tumor ginjal),


sekitar

1-2%

adalah

penyakit

kelaian

hormonal

(hiperaldosteronisme, sindroma cushing) dan sisanya akibat


pemakaian obat tertentu (steroid, pil KB).4

Gejala Hipertensi
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala
walaupun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Gejala yang dimaksud adalah sakit

kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan, dan kelelahan yang
bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan
tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
berikut:

Sakit kepala

Kelelahan

Mual-muntah

Sesak napas

Gelisah

Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung, dan ginjal

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan


bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak disebut ensefalopati
hipertensif yang memerlukan penanganan segera

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1. Target tekanan darah < 140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi
(diabetes, gagal ginjal proteinuria) < 130/80 mmHg
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria
Berikut ini merupakan bagan algoritma penanganan hipertensi menurut JNC
VII, 2003

Algoritma penanganan hipertensi imulai terlebih dahulu dengan perubahan


lifestyle atau gaya hidup. Perubahan lifestyle yang dapat menimbulkan penurunan
terhadap tekanan darah, antara lain3:

Modifikasi

Rekomendasi

Menurunkan Berat Badan Mengendalikan

Penurunan

Tekanan

Darah Sistolik
berat 5-20 mmHg/10 kg

badan sesuai dengan IMT

normal yaitu 18,5-24,9


kg/m2
Diet dengan mengadopsi Banyak
diet DASH

mengkonsumsi 8-14 mmHg

buah,

sayuran

makanan
Menurunkan
garam

lemak
asupan Pada

dan

yang

rendah

pasien

dengan 2-8 mmHg

hipertensi dikenal 3 jenis


diet rendah garam, yaitu:
1. Diet Garam Rendah I
(200-400 mg Na)
Ditujukan

pada

pasien

dengan

asites/edema
hipertensi

dan
berat.

Pada kondisi ini


tidak
diperkenankan
menambahkan
garam ke dalam
masakan

yang

dikonsumsi

dan

menghindari
makanan

yang

tinggi natrium.
2. Diet Garam Rendah II
(600-800
Diet

ini

mg

Na)

diberikan

kepada
edema/asites,

pasien
dan

hipertensi yang tidak


terlalu

berat.

Dianjurkan
menghindari makanan
dengan

kandungan

natrium

tinggi.

Diperbolehkan
menggunakan garam
dalam

pemasakan

sebesar 0,5 sendok


teh(2g).
3. Diet Garam Rendah
III

(1000-1200

mg

Na)
Diet

ini

diberikan

pada pasien dengan


edema atau hipertensi
ringan.

Pada

masakannya

boleh

ditambahkan

garam

dapur

sebanyak

sendok

teh

(4g).

Namun

tetap

menghindari

jenis

makanan

yang

mengandung natrium
Latihan fisik

tinggi.
Tertutama
aerobic

olahraga 4-9 mmHg


seperti

jalan

cepat, berenang (minimal


Menurunkan
alcohol berlebih

30 menit)
konsumsi Tidak lebih dari 2 gelas/ 2-4 mmHg
hari untuk pria dan tidak
lebih dari 1 gelas/hari
untuk wanita

Stop merokok
Apabila dengan perubahan lifestyle tidak tercapai target tekanan darah
yang diinginkan (tekanan darah < 140/90 mmHg pada pasien tanpa riwayat
diabetes/ penyakit ginjal kronis dan tekanan darah <130/80 mmHg pada seseorang
dengan diabetes/penyakit ginjal kronis), maka selanjutnya kita mulai terapi inisial
dengan

obat

anti

pengelompokkan

hipertensi
pasien

oral.

berdasarkan

Untuk

keperluan

pertimbangan

pengobatan,
khusus

ada

(special

consederations) yaitu kelompok indikasi yang memaksa (compelling indications)


dan keadaan khusus lainnya (special situations).

Komplikasi

Adapun komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi antara lain:


a. Otak

: Stroke

b. Jantung

: Aterosklerosis, penyakit jantung koroner, gagal jantung

c. Mata

: Kebutaan (pecahnya pembuluh darah pada mata)

d. Paru-paru

: Edema paru

e. Ginjal

: Penyakit ginjal kronik