Anda di halaman 1dari 31

BAB I

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama

: Tn. WJ

Jenis Kelamin

: Laki Laki

Umur

: 25 tahun

Alamat

: Karanggading RT/RW 05/02, Rejowinangun Selatan Magelang

Diagnosis Pre-Op

: Appendicitis Akut

Tindakan Op

: Appendectomi

Jenis Anestesi

: Anestesi Regional Spinal

Tanggal Masuk

: Kamis, 21 April 2016

Tanggal Operasi

: Jumat, 22 April 2016

Pemeriksaan Pre Anestesi


BB

: 65 Kg

TB

: 173 cm

IMT

: 21,71

Anamnesis
Subjektif
Keluhan Utama

Nyeri perut kanan bagian bawah sejak 4 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 4 hari SMRS pasien merasa nyeri pada perut bagian kanan bawah. Keluhan nyeri
yang dirasakan pasien muncul secara tiba-tiba dan tertusuk-tusuk pada saat berjalan.
Nyeri dirasakan awalnnya pada ulu hati lalu lama kelamaan menjalar ke perut kanan
bawah, nyeri dirasakan hilang timbul namun lama kelamaan nyeri bersifat menetap,
nyeri yang dirasakan pasien semakin memburuk ketika beraktivitas dan membaik ketika
sedang beristirahat.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah merasakan keluhan serupa sebelumnnya

HT (-), DM (-), Alergi (-), Asma(-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama.
Riwayat Pengobatan

Sebelumnya pasien sempat berobat ke puskesmas sekitar 3 hari yang lalu namun nyeri
yang dirasakan tidak membaik namun semakin memburuk.

Objektif
B1

B2

: RR 22 x/menit
Teeth

: lengkap, tidak ada gigi palsu

Tongue

: tidak ada kelainan

Tonsil

: T1-T1

Tumor

: tidak ada

Tiroid

: tidak ada kelainan

Tempura madibua joint

: tidak ada kelainan

Tiromental distance

: tidak ada kelainan

Trakea

: tidak ada kelainan

Tortikolis vertebrae

: normal

Mallampati score

: Skor kelas II

Pulmo

Inspeksi

: Pergerakan dinding dada simetris

Palpasi

: Vocal fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi

: SDV +/+, rhonki /, wheezing /

: BP 110/70 mmHg
HR 88 x/menit
2

Capillary refill time


Cor

: 2 detik
:

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: Tidak ada pelebaran batas jantung

Auskultasi

: BJ S1> S2 reguler, murmur (), gallop ()

Riwayat hipertensi disangkal, penyakit jantung disangkal


PARAMETER
WBC
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDW
PLT
MPV
PCT
PDW

B3

B4

HASIL
6.2
4.99
14.4
42.5
85.1
28.9
33.9
11.6
135*
10.2
0.14*
16.0

NILAI NORMAL
4.0 10.0
3.0 6.0
12.0 16.0
35.0 45.0
81.0 101.0
27.0 33.0
31.0 35.0
10.0 16.0
150 400
7.0 11.0
0.20 0.50
10.0 18.0

DIFF COUNT
Jenis
Hasil
% Lym
48.8 %
% Mid
8.1 %
% Gra
43.1 %* ()
# Lym
3.0 103/mm3
# Mid
0.5 103/mm3
# Gra
2.7 103/mm3
: GCS 15 (E4 M6V5)
Reflek cahaya

: +/+

Pupil

: Isokor +/+

: BAK (+)
Kateter (+), jumlah urin 150 cc, berwarna kuning jernih.

B5

: Mual (), muntah ()

BAB (+) lancar


Abdomen

Inspeksi

: Supel

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani

Palpasi

: Defans muskular (-), nyeri tekan titik Mc Burney

(+), psoas sign (+), rovsing sign (+), obturator sign (-)
B6

: Ekstremitas
Akral hangat +/+/+/+
Edema ///
Sianosis ///
Deformitas ///
Suhu axila 36,4 C

Assesment
Pasien laki laki, usia 25 tahun dengan diagnosis Appendisitis Akut ASA II akan dilakukan
appendektomi.
Planning
Jenis Pembedahan

: Appendectomi

Jenis Anestesi

: Regional Anestesi Spinal


4

Permasalahan
Permasalahan medis

Nyeri perut kanan bawah

Permasalahan bedah

Perdarahan

Permasalahan anestesi

Dehidrasi
Dehidrasi
Muntah
Aspirasi

Persiapan Pre-Operasi
1. Persiapan pasien :
a. Informed Consent
b. Pasien puasa 6 8 jam pre op
c. Infuse RL 35 tpm
d. Tanda vital
2. Persiapan alat anestesi :
a. STATIC :
S : Scope Stetoskop, laringoskop
T : Tubes pipa trakea. Dipilih sesuai dengan usia. Usia <5 tahun tanpa balon
(cuffed) dan >5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway pipa mulut-faring (guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring
(naso-tracheal airway)
T : Tape plester
I : Introducer mandrin atau stilet
C : Connector penyambung pipa dan peralatan anesthesia
S : Sucstion
b. Peralatan monitor
Tekanan darah, nadi, EKG
c. Spinal set
1) Jarum spinal ujung tajam / jarum spinal dengan ujung tumpul beserta silet
2) Kassa, betadine dan alkohol
3) Spuit 5cc
3. Persiapan obat anestesi:
a. Lidocain 2%
b. Bupivacain 0,5%
c. Pethidin 100 mg/ 2cc amp
d. Fentanyl 0,05 mg/ cc amp
e. Propofol 200 mg/ 20 cc amp
5

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.

Ketamin 100 mg/ cc vial


Succinilcholin 200 mg/ 10 cc vial
Tramus 10 mg/cc amp
Efedrin HCl 50 mg/ cc amp
Sulfas atropin 0,25 mg/cc amp
Ondansentron 4 mg/ 2cc amp
Aminofilin 24 mg/ cc amp
Dexamethason 5 mg/ cc amp
Adrenalin 1 mg/ cc amp
Neostigmin 0,5 mg/ cc amp
Midazolam 5 mg/ 5 cc amp
Ketorolac 60 mg/ 2 cc amp
Difenhiframin 5 mg/ cc amp

Durante Operasi
a.
b.
c.
d.

Anastesi
: Lidocain 2 ml, Bupivacain 4 ml
Lama operasi
: 09.00 09.10
Lama anestesi
: 09.30 10.00
Obat yang digunakan
1) Pre-Medikasi
:
Inj. Midazolam 2 mg
Inj. Fentanyl 50 mcg
Inj. Ondansetron 4 mg
Inj. Ketorolac 30 mg
2) Induksi Bupivacaine HCL 4 ml
3) Maintenance : O2 3 liter/menit

e. Teknik Anastesi:
1) Jam 09.00 pasien masuk kamar operasi, ditidurkan terlentang di atas meja operasi,
manset dan monitor dipasang
2) Jam 09.30 : dilakukan anestesi spinal dengan prosedur sebagai berikut :
1. Pasien diposisikan duduk tegak dan kepala ditundukkan
2. Dilakukan identifikasi di inter space L3-L4,
3. Desinfeksi lokal dan lakukan anestesi di daerah tusukan dan diperluas.
4. Dengan menggunakan jarum no. 27 G yang menembus sampai ruang
subarachnoid,

ditandai

keluarnya

LCS,

dilakukan

barbotage

positif,

dimasukkan induksi obat bupivacain 4 mL


5. Pasien diposisikan tidur terlentang kembali dan dipasangkan kanul nasal O2 3
L/menit
6

6. nilai level blok sensorik hasilnya blok setinggi Th10


3) Monitoring tanda vital tiap lima menit
4) Jam 10.0 operasi selesai
5) Selama operasi dan sesudahnya pasien tetap sadar, dan penderita dipindahkan ke
ruang recovery room.
Monitoring selama operasi.
Jam

Tensi Nadi

Keterangan

09.00

Terpasang infus RL 500 cc 35 tpm

09.25

Posisikan pasien untuk tindakan anestesi

09.30

Penyuntikan Lidokain 2 ml
Induksi dengan Bupivakain HCl 4 ml
Pemasangan kanul nasal 3 L/menit

09.35

100/70 58

Pelaksanaan operasi
Pemberian Midazolam 2 mg (iv)
Pemberian Fentanil 50 mcg (iv)
Pemberian Ondansetron 4 mg (iv)

09.40

110/65 58

Pelaksanaan operasi

09.45

90/60 60

Pelaksanaan operasi

09.50

110/60 62

Penggantian infus RL 500 cc

09.55

112/70 59

Pemberian ketorolac 30 mg

10.00

120/70 63

Operasi selesai, pasien dipindahkan ke


recovery room

Terapi Cairan
Pasien sudah puasa makan dan minum 6 jam, namun sudah di pelihara kekurangan
cairannya dengan memberikan cairan infus selama di bangsal.
Untuk kebutuhan selama operasi berlangsung:
BB = 65 kg
a. Maintenance
= 4 x 10kg = 40
= 2 x 10kg = 20
= 1 x 45kg =45 total 105cc/jam
b. Stress operasi
= 6 cc/kgBB/jam
= 6 x 65 = 390 cc/jam
7

c. Perdarahan
= 30 cc
EBV
= 70 x 65 = 4550 ml
Perdarahan <20 % EBV tidak perlu transfusi, cukup diganti dengan kristaloid
Pemberian Cairan :
Kebutuhan cairan selama operasi sedang 1 jam
= perdarahan + maintenance + stress operasi
= 30 + 105 + 390
= 525 cc
Cairan yang sudah diberikan saat operasi = 500 cc + 100 cc = 600 cc
Balance cairan : Jumlah cairan masuk Kebutuhan cairan operasi IWL.
600 cc 525 cc 40 cc = + 35 cc

Post-Operasi
Keluhan:
Mual (+), muntah (-), pusing (-), nyeri luka insisi (+)
Pemeriksaan fisik:
B1

: airway paten, nafas spontan, RR 20x/menit, rhonki -|-, wheezing -|-

B2

: akral hangat, lembab, kemerahan, HR 88 x/menit, TD 110/80 mmHg,


S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

B3

: GCS 15, pupil bulat isokor 3mm, refleks cahaya +|+

B4

: terpasang kateter 16F, urine warna kuning jernih (+), produksi urin
250 cc.

B5

: flat, soefl, bising usus (+), luka operasi bersih.

B6

: mobilitas (-), mampu menggerakkan kedua ekstremitas secara


spontan, edema -|-, sianosis -|-, anemis -|-, ikterik -|-, CRT<2 detik.

Monitoring (Recovery Room)


Kriteria pemindahan pasien berdasarkan Aldrette Score :
Point
4 ekstermitas
2 ekstremitas
Spontan+batuk
Nafas kurang
Beda <20%
20-50%
>50%
Sadar penuh
Ketika dipanggil
Kemerahan
Pucat
Sianosis
Total

Motorik
Respirasi
Sirkulasi
Kesadaran
Kulit

Nilai
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0

Pada Pasien

Bromage Score
0
1
2
3

Gerak penuh dari tungkai


Tidak mampu ekstensi tungkai
Tidak mampu flexi lutut
Tidak mampu flexi pergelangan kaki

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
9

II. 1. Anestesi Regional Spinal


II. 1. 1. Persiapan Pra-Anestesi
Kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi dan pembedahan baik
elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut. Adapun tujuan
pra anestesi adalah:
1

Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.

2 Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai dengan fisik
dan kehendak pasien.
3 Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society Anesthesiology):
a
b
c
d

ASA I : Pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa kelainan faali,
biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas 2%.
ASA II : Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan sedang sebagai
akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. Angka mortalitas 16%.
ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian
terbatas. Angka mortalitas 38%.
ASA IV : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa, tidak
selalu sembuh dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ, angina
menetap. Angka mortalitas 68%.
ASA V : Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tindakan operasi hampir tak
ada harapan. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi /
dengan operasi. Angka mortalitas 98%.

Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency) tanda darurat.


II. 1. 2. Premedikasi Anestesi
Premedikasi anestesi adalah pemberian obat sebelum anestesi. Adapun tujuan dari
premedikasi antara lain (Muhardi, 1989):
1 Memberikan rasa nyaman bagi pasien, misal : diazepam.
2 Menghilangkan rasa khawatir, misal : diazepam
3 Membuat amnesia, misal : diazepam, midazolam
4 Memberikan analgesia, misal pethidin
5 Mencegah muntah, misal : droperidol, metoklopropamid
6 Memperlancar induksi, misal : pethidin
7 Mengurangi jumlah obat-obat anesthesia, misal pethidin
10

8 Menekan reflek-reflek yang tidak diinginkan, misal : sulfas atropin.


9 Mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas, misal : sulfas atropin dan hoisin
II. 1. 3. Anestesi Regional
Analgesi regional adalah suatu tindakan anestesi yang menggunakan obat analgetik lokal
untuk menghambat hantaran saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh
diblokir untuk sementara. Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya, sedang
penderita tetap sadar.
Analgesi spinal (anestesi lumbal, blok subarachnoid) dihasilkan bila kita menyuntikkan
obat analgetik lokal ke dalam ruang subarachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 / L3-L4 (obat
lebih mudah menyebar ke kranial) atau L4-L5 (obat lebih cenderung berkumpul di kaudal).
Untuk mencapai cairan serebrospinal, maka jarum suntik akan menembus kutis subkutis
lig. Supraspinosum lig. Interspinosum lig. Flavum ruang epidural durameter
ruang subarachnoid.

Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal,
dibungkus oleh meningens (duramater, lemak dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir
setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3.

11

Indikasi
Anestesi spinal dapat digunakan pada hampir semua operasi abdomen bagian bawah, perineum
dan kaki. Anestesi ini memberi relaksasi yang baik, tetapi lama anestesi didapat dengan lidokain
hanya sekitar 90 menit. Bila digunakan obat lain misalnya bupivakain, sinkokain, atau tetrakain,
maka lama operasi dapat diperpanjang sampai 2-3 jam
Kontra Indikasi Anestesi Spinal
Terdapat kontra indikasi absolut dan kontra indikasi relatif dalam penggunaan anestesi
spinal
Kontra indikasi absolut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pasien menolak untuk dilakukan anestesi spinal


Terdapat infeksi pada tempat suntikan
Hipovolemia berat sampai syok
Menderita koagulopati dan sedang mendapat terapi antikoagulan
Tekanan intrakranial yang meningkat
Fasilitas untuk melakukan resusitasi minim
Kurang berpengalaman atau tanpa konsultan anestesi

Kontra indikasi relatif :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Menderita infeksi sistemik ( sepsis, bakteremi )


Terdapat infeksi disekitar tempat suntikan
Kelainan neurologis
Kelainan psikis
Bedah lama
Menderita penyakit jantung
Hipovolemia

Persiapan anestesi spinal


Persiapan anestesi spinal seperti persiapan pada anestesi umum. Daerah disekitar tempat
tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang
punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu
harus puladilakukan :
1. Informed consent
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium anjuran

12

Peralatan anestesi spinal


1. Peralatan monitor, untuk memonitor tekanan darah, nadi, oksimeter denyut dan EKG
2. Peralatan resusitasi /anestesia umum
3. Jarum spinal

Jarum pinsil (whitecare)

Jarum tajam (QuinckeBabcock)

Teknik analgesia spinal


Posisi duduk atau posisi tidur lateral decubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah
posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan diatas meja operasi tanpa dipindahkan
lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30
menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien dalam posisi dekubitus lateral atau duduk dan buat
pasien membungkuk maksimal agar procesus spinosus mudah teraba.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan tulang
punggung ialah L4 atau L4-L5, tentukan tempat tusukan misalnya L2-L3, L3-L4 atau
L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau atasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine dan alcohol
4. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan misalnya lidokain 1% 2-3ml.
5. Cara tusukan adalah median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G,
atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk jarum kecil 27G atau 29G
dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum suntik biasa semprit
10cc. Jarum akan menembus kutis, subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum
13

interspinosum, ligamentum flavum, ruang epidural, duramater dan ruang subarachnoid.


Setelah mandrin jarum spinal dicabutcairan serebrospinal akan menetes keluar.
Selanjutnya disuntikkan larutan obat analgetik lokal kedalam ruang subarachnoid
tersebut.

Keuntungan anestesi spinal dibandingkan anestesi epidural :


1.
Obat anestesi lokal lebih sedikit
2. Onset lebih singkat
3. Level anestesi lebih pasti
4. Teknik lebih mudah
Tujuan klinik, pembagian tingkat anestesi spinal adalah sebagai berikut:
a

Sadle back anestesi, yang terkena pengaruhnya adalah daerah lumbal bawah dan segmen
sakrum.

Spinal rendah, daerah yang mengalami anestesi adalah daerah umbilikus / Th X di sini
termasuk daerah thoraks bawah, lumbal dan sakral.

Spinal tengah, mulai dari perbatasan kosta (Th VI) di sini termasuk thoraks bawah, lumbal
dan sakral.

14

Spinal tinggi, mulai garis sejajar papilla mammae, disini termasuk daerah thoraks segmen
Th4-Th12, lumbal dan sakral.

Spinal tertinggi, akan memblok pusat motor dan vasomotor yang lebih tinggi.

Keuntungan dan kerugian anestesi spinal


a

Keuntungan
1

Respirasi spontan

Lebih murah

Ideal untuk pasien kondisi fit

Sedikit resiko muntah yang dapat menyebabkan aspirasi paru pada pasien dengan perut
penuh

Tidak memerlukan intubasi

Pengaruh terhadap biokimiawi tubuh minimal

Fungsi usus cepat kembali

Tidak ada bahaya ledakan

Observasi dan perawatan post operatif lebih ringan

Kerugian
1

Efeknya terhadap sistem kardiovaskuler lebih dari general sistem

Menyebabkan post operatif headache.

Komplikasi tindakan anestesi spinal


a

Hipotensi berat
Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan pemberian
cairan elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum tindakan.

Bradikardi
Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, terjadi akibat blok sampai T-2.

Hipoventilasi
Akibat paralisis saraf phrenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas.
15

Trauma pembuluh darah

Trauma saraf

Mual-muntah

Gangguan pendengaran

Blok spinal tinggi atau spinal total

II. 1. 3. Terapi Cairan


Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus mendekati jumlah dan
komposisi cairan yang hilang. Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk :
1 Memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama operasi.
2 Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang diberikan.
Pemberian cairan operasi dibagi :
1 Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan karena kurang makan, puasa, muntah, penghisapan isi lambung,
penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada ileus obstruktif, perdarahan, luka bakar dan
lain-lain. Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kg BB / jam. Setiap
kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10-15 %.
2 Selama operasi
Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa
untuk operasi :
a. Ringan

= 4 ml / kgBB/jam

b. Sedang

= 6 ml / kgBB/jam

c. Berat

= 8 ml / kgBB/jam

Bila terjadi perdarahan selama operasi, di mana perdarahan kurang dari 10 % EBV maka
cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume darah yang hilang. Apabila
perdarahan lebih dari 10 % maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran
dengan dosis 1-2 kali darah yang hilang.

16

3 Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama operasi
ditambah kebutuhan sehari-hari pasien.
Kebutuhan cairan dan elektrolit pada dewasa:10
a

2Air : 30 40 ml/kg BB/hari

Na

: 1 2 mEq/kgBB/hari

: 1 mEq/kgBB/hari.

Kebutuhan kalori rata rata/ kgBB orang dewasa, dipengaruhi oleh faktor trauma atau
stress (Prawirohardjo, 2007).
II. 1. 4. Pemullihan
Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang
biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi
pasien pasca operasi atau anestesi. Ruang pulih sadar menjadi batu loncatan sebelum pasien
dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian
pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena
operasi atau pengaruh anestesinya.
Untuk memindahkan pasien dari ruang pulih sadar ke ruang perawatan perlu dilakukan
skoring tentang keadaan pasien setelah anestesi dan pembedahan. Untuk regional anestesi
digunakan skor Bromage.
BROMAGE SCORING SYSTEM
Kriteria

Sk
or

Gerakan penuh dari tungkai

Tak mampu ekstensi tungkai

Tak mampu fleksi lutut

Tak mampu fleksi pergelangan

kaki
17

Bromage skor< 2 boleh pindah ke ruang perawatan.


II. 2. Apendisitis
II. 2. 1. Pengertian
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks disebut juga umbai cacing.
Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung panjang dan sempit. Panjangnya kirakira 10cm (kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di sekum. Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per
hari.
Apendisitis dapat mengenai semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Namun lebih
sering menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun.

II. 2. 2. Etiologi
Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini
biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan
limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula
menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah
disebutkan di atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang
paling sering terjadi. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi
mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peranan kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah
serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya penyakit apendisitis. Tinja yang keras dapat
menyebabkan terjadinya konstipasi. Kemudian konstipasi akan menyebabkan meningkatnya
tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis.

18

II. 2. 3. Patogenesis
Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh
lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir) setiap
harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke sekum
menjadi terhambat. Makin lama mukus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah
bendungan mukus di dalam lumen. Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks,
sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang
meningkat tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan
timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis
akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.
Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding
apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat,
sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan
apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang
disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa. Jika
dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini pecah, itu berarti apendisitis berada dalam
keadaan perforasi.
Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan
ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga
terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di
dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Namun,
jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi
tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Pada anak-anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang lebih panjang, dan
dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang masih kurang, memudahkan
terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan
pembuluh darah.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan
membentuk jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan
19

sekitarnya. Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan keluhan pada perut kanan bawah.
Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan dinyatakan mengalami
eksaserbasi.
II. 2. 4. Gambaran Klinis
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar
(nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini
biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan
menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik
Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri
somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap
berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai
dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari
apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala
yang timbul tersebut.
1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh
sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan
peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan
gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena
adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
a. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan
rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan
rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).
b. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi
peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.
Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis,
dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui

20

setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak
khas.
1. Pada anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak
bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntahmuntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering
apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru
diketahui setelah terjadi perforasi.
2. Pada orang tua berusia lanjut
Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita
baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3. Pada wanita
Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa
dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang
panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan
trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan
gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan
lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak
dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
II. 2. 5. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada
pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut.
b. Palpasi
pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri, dan bila tekanan
dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci
diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada
perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign), dan apabila tekanan di
perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut
tanda Blumberg (Blumberg Sign).
c. Pemeriksaan colok dubur
pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila
letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka
21

kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini


merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika.
d. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator
pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji
psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan
atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks
yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan
menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan
endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak
dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini
akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika.
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit
antara10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%,
sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
b. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan
ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi
inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan
bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks
yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis
masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi pada
perempuan dibanding laki-laki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang
masih muda sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis. Keluhan itu berasal dari
genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik
lain.Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis meragukan, sebaiknya dilakukan
observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap 1-2 jam. Foto barium kurang dapat
dipercaya. Ultrasonografi dan laparoskopi bisa meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus yang
meragukan.
II. 2. 6. Komplikasi
22

Komplikasi yang paling sering adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun
perforasi yang telah mengalami pendinginan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan
apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.
a. Massa periapendikuler
Massa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Pada massa apendikuler yang
pendinginannya belum sempurna dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga
peritoneum jika perforasi diikuit oleh peritonitis purulenta generalisata. Oleh sebab itu
massa periapendikuler yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah hal
tersebut. Pada anak selalu dipersiapkan untuk operasi dalam 2-3 hari. Pasien dewasa
dengan massa periapendikuler yang mengalami pendinginan sempurna, dianjurkan untuk
dirawat dahulu dan diberi antibiotika sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta
luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikuler hilang, dan
leukosit normal penderita boleh pulang dan apendektomi dapat dikerjakan pada 2-3 bulan
kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan. Bila terjadi perforasi, akan
terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi,
bertambahnya nyeri dan teraba pembengkakan massa serta bertmbahnya leukosit.
Riwayat klasik apendisitis akut diikuti dengan adanya massa dan nyeri di region
iliaka kanan dan disertai demam mengarahkan ke diagnosis massa atau abses
periapendikuler. Kadang sulit dibedakan dengan karsinoma sekum, penyakit Crohn, dan
amuba. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas.
II. 2. 7. Tatalaksana
Apendektomi direncanakan pada infiltrat periapendikuler tanpa pus yang telah
ditenangkan. Sebelumnya pasien diberikan antibiotika kombinasi yang aktif terhadap kuman
aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, sekitar 6-8 minggu dilakukan apendektomi.
Pada anak kecil dan wanita hamil dan penderita usia lanjut jika secara konservatif tidak tidaak
membaik atau berkembang menjadi abses dapat diperyimbangkan untuk membatalkan tindakan
bedah.
a

Apendisitis perforate

23

Adanya fekalit, umur, dan keterlambatan diagnosis merupakan faktor yang yang
berperanan dalam terjadinya perforasi apendiks. Dilaporkan insidens perforasi 60%
pada penderita diatas usia 60 tahun. Faktor yang mempengaruhi tingginya insiden
perforasi pada orang tua adalah gejalanya yang samar, keterlambatan berobat, adanya
perubahan anatomi berupa penyempitan apendiks, arteriosklerosis. Insiden tinggi pada
anak disebabkan oleh dinding apendiks yang masih tipis, anak kurang komunikatif
sehingga memperpanjang diagnosis, proses pendinginan yang kurang sempurna akibat
perforasi yang berlangsung cepat dan omentum yang belum berkembang.
II. 2. 8. Diagnosis
Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritoniitis purulenta yang ditandai dengan demam
tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut, perut menjaddi tegang dan kembung, nyeri
tekan dan defaaans muskuler di seluruh perut mungkin dengan punctum maksimum diregio
iliaka kanan, peritalsis usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik. Abses
peritoneum biasa terjadi bilaman pus yang menyebar bisa dilokalisasi di suatu tempat, paling
sering di rongga pelvis dan subdiafragma. Adanya massa intraabdomen yang nyeri disertai
demam harus dicurigai abses. USG dapat membantu mendeteksi adanya kantong nanah. Abses
subdiafragma harus dibedakan dengan abses hati, pneumonia basal atau efusi pleura. USG dan
Foto Rontgen dada akan membantu membedakannya.
II. 2. 9. Tatalaksana
Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif
dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa nasogastrik perlu dilakukan sebelum
pembedahan. Perlu dilakukan laparotomi dengan insisi yang panjang, supaya dapat dilakukan
pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin yang adekuat secara mudah,
begitu pula pembersihan kantong nanah. Akhir-akhir ini mulai banyak dilaporkan pengelolaan
apendisitis perforasi secara laparaskopi apendektomi. Rongga abdomen dapat dibilas dengan
mudah. Hasilnya dilaporkan tidak berbeda dengan laparatomi terbuka, tetapi keuntungannya
lama rawat lebih pendek dan secara kosmetik lebih baik. Karena ada kemungkinan terjadi infeksi
luka operasi, perlu dianjurkan pemasangan drainage subfacia, kulit dibiarkan terbuka untuk

24

kemudian dijahit bila sudah dipastikan tidak ada infeksi. Pada anak tidak usah dipasang drainage
intraperitoneal karena justru akan menyebabkan komplikasi infeksi lebih sering.

BAB III
PEMBAHASAN
III. 1. Permasalahan Dari Segi Medik
Penegakan diagnosis bedah
Pasien Tn WJ, 25 tahun memliki keluhan nyeri pada perut tengah kemudian nyeri menjalar
ke region abdomen bagian kanan bawah. Rasa sakit yang dirasakan hilang timbul. Pada pasien
ini dalam pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan pada region abdomen kanan bawah dan nyeri
lepas, menurut Scwartz 2010 nyeri pada perut kanan bawah disebabkan oleh adanya peradangan
organ yang bernama appendix. Ketika pasien menekuk kaki kanan kearah dada perut kanan
bagian bawah terasa sakit, ini bisa disebabkan oleh adannya peradangan yang mengiritasi
musculus obturator.
Untuk memastikan diagnosis appendissitis akut maka digunakan alvarado skor :
Skala Alvarado
Gejala

Tanda (Pemeriksaan fisik)

Laboratory values

Manifestasi
Nyeri yang berpindah dari
ulu hati hingga perut kanan
bawah
Anorexia
Mual dan Muntah
Nyeri tekan dikuadran kanan
bawah
Nyeri lepas
Suhu yang meningkat diatas
37,5oC
Leukositosis
Diff count( Shif to the left)

Jumlah
1

1
1
2
1
1
2
1
25

Total points 10
Interpretasi dari Modified Alvarado Score:
1-4
5-7

: sangat mungkin bukan apendisitis akut


: sangat mungkin apendisitis akut

8-10 : pasti apendisitis akut


Berdasarkan Alvarado skor didapatkan point 10. Maka pasien ini dapat dipastikan pasti
appendisitis akut.
III. 2. Permasalahan Dari Segi Anestesi
1. Pemeriksaan pra anestesi
Pada penderita ini telah dilakukan persiapan yang cukup, antara lain :
a. Puasa lebih dari 6 jam : mencegah aspirasi, mempertahankan fisiologis organ agar
tidak bekerja sehingga terjadi homeostasis
b. Pemeriksaan laboratorium darah

Permasalahan yang ada adalah:


a. Bagaimana memperbaiki keadaan umum penderita sebelum dilakukan anestesi dan
operasi.
b. Macam dan dosis obat anestesi yang bagaimana yang sesuai dengan keadaan umum
penderita.

Dalam memperbaiki keadaan umum dan mempersiapkan operasi pada penderita perlu
dilakukan :
a. Pemasangan infus untuk terapi cairan sejak pasien masuk RS.
b. Puasa paling tidak 6 jam untuk mengosongkan lambung, sehingga bahaya muntah
dan aspirasi dapat dihindarkan.
1) Premedikasi
a. Pada pasien ini diberikan midazolam 2 mg (dosis 0,07-0,2 mg/kgBB)
berfungsi untuk hipnotik sedative, dan amnesia retrograde.
2) Tahap anestesi spinal
a. Pasien duduk pada meja operasi dengan posisi kaki lurus, tangan pada kaki,
kepala menunduk
b. Indentifikasi inter space L3 L4
c. Desinfeksi LA dengan menggunakan betadine
26

d.
e.
f.
g.

Dilakukan penyuntikan Spinocan G 27 S / RSA


LCS (+)
Barbotage (+)
Bupivacain 4 ml

3) Maintenance
O2 nasal canul 3 L/menit
Terapi Cairan
Kebutuhan cairan yang diperlukan selama operasi dan karena trauma operasi selama 1 jam,
yang dihitung berdasarkan berat badan (BB) penderita:
BB = 65
a. Maintenance

= 4 x 10 kg = 40 cc
= 2 x 10 kg = 20 cc
= 1 x 45 kg = 45 cc
= total 105 cc/ jam

b. Stress operasi

= 6 cc/kgbb/ jam
= 6 x 65 = 390 cc/jam
c. Perdarahan yang terjadi = 30 cc
Perdarahan pada pasien ini hanya 30cc/ jam, sehingga tidak perlu ditransfusi. Cukup
diberi cairan kristaloid.
Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF), Cairan
kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama
efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume intravaskuler.
Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.
d. Kebutuhan cairan selama operasi 1 jam:
Perdarahan + maintenance + stress operasi
30 + 105 + 390 = 525 cc
e. Cairan yang sudah diberikan saat operasi 500 cc + 100 cc = 600 cc
Balance cairan = Jumlah cairan masuk Kebutuhan Cairan Saat Operasi IWL.
= 600 cc 525 cc 40 cc.
= + 35 cc

27

Dalam

manual

postoperative

management-WHO,

2000

yang

disadur

dalam

steinergraphics, 2015, penggantian kehilangan cairan tubuh selama operasi dengan pemasukan
cairan berlebih menyebabkan balance cairan positif yang biasanya sudah diperkirakan. Hal ini
untuk mengantisipasi kehilangan cairan lebih lanjut, misalnya dari drainase nasogastrik, drainase
lain, dan perdarahan. Pertimbangan pemberian cairan sendiri berdasarkan tiga faktor, yaitu:
a. Kebutuhan untuk mengoreksi deficit cairan pada preoperative state. Tindakan ini
idealnya dilakukan secepat mungkin dalam bentuk bolus cairan dan dibawah
pengawasan.
b. Maintenance schedule
c. Respon pasien, seperti perlambatan dari takikardi, urine output, peningkatan tekanan
darah, peningkatan JVP, kembalinya turgor kulit ke normal, dan kembalinya mata
cekung menjadi normal.
Maksud dari balance cairan yang positif dimana intake lebih banyak daripada output,
terkesan pada pasien mungkin sedang terakumulasi cairan. Namun faktanya balance cairan yang
positif tidak benar-benar positif karena ada beberapa output yang tidak diperhitungkan dengan
akurat (misal feses, uap respirasi dan keringat).
Secara umum, bila pada pasien kritis misal septik, kasus bedah, menunjukkan balance
cairan positif yang persistent setiap harinya, hal ini menggambarkan perjalanan penyakitnya
yang tidak kunjung membaik.
Pada pasien ini balance cairan +35 cc dirasa masih aman dengan mempertimbangkan
kondisi pasien pada preoperative serta respon klinis pasien saat operasi. Dan seharusnya
melakukan pengawasan pada hari-hari berikutnya selama rawat inap.

Post operatif
Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke recovery room. Observasi post operasi dengan
dilakukan pemantauan secara ketat meliputi vital sign (tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi).
Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit

III. Permasalahan Dari Segi ASA PS dan Mallampati

28

Pada pasien termasuk ASA PS II sesuai karena pasien hanya terdapat penurunan
trombosit yaitu 135.000 dan pasien tidak obesitas karena ASA PS II adalah pasien dengan
penyakit ringan dengan tingkat obesitas yang rendah dan tidak ada penyakit sistemik lainnya.

BAB IV
29

PENUTUP
IV. 1. Kesimpulan
Tn. WJ 25 tahun dengan diagnosis Apendisitis Akut. Dari anamnesis didapatkan keluhan
nyeri di perut kanan bawah yang pada awalnya keluhan tersebut dirasakan pada ulu hati yang
kemudian berpindah ke perut bagian kanan bawah. Lokasi operasi yang dilakukan adalah di titik
Mc Burney.
Anestesi menggunakan anaestesi regional dengan teknik anestesi spinal, Pada pasien ini
dilakukan operasi pada abdomen bagian bawah, dimana hal tersebut merupakan indikasi anestesi
spinal. Tindakan operasi dan anestesi berjalan lancar tanpa penyulit.
IV. 2. Saran
1. Persiapan preoperative pada pasien perlu dilakukan lebih baik lagi, agar proses anestesi
dan pembedahan dapat berjalan dengan baik
2. Memperhatikan kebutuhan cairan pasien pada saat operasi berlangsung.
3. Pemantauan tanda vital selama operasi terus menerus agar dapat melihat keadaan
pasien selama pasien dalam keadaan anesthesia.

DAFTAR PUSTAKA
30

Muhardi, M, dkk. (1989). Anestesiologi, bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif, FKUI, CV
Infomedia, Jakarta.

Tony H., (1998). Anestesi umum dalam Farmakologi dan Terapi, edisi IV. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.

Boulton T.H., Blogg C.E., (1994). Anesthesiology, cetakan I. EGC, Jakarta.

Morgan G.E., Mikhail M.S., (1992). Clinical Anesthesiology. 1st ed. A large medical Book

Wim de Jong, (1996) Buku Ajar lmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,

Wirjoatmojo, K, (2000). Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar Untuk Pendidikan S1


Kedokteran, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Dobson Michael B, (1994)Penuntun Praktis Anestesi, cetakan I, Penerbit Buku Kedokteran


EGC, Jakarta.

Anonim, . Ilmu Bedah dan Teknik Operasi. Bratajaya Fakultas Kedokteran UNAIR.
Surabaya.

Eroschenko, Viktor P. Atlas Histologi di Fiore Edisi 9. Jakarta. EGC. 2003

10 Faiz omar, Moffat David. At Glance Anatomi. Jakarta. Erlangga. 2003


11 http://muflihahisnawati.wordpress.com/2011/12/21/anatomi-fisiologi-appendix/
12 Price, SA. Patofisiologi Edisi 6. Jakarta. EGC. 2006
13 Schwartz, Brunicardi C et all, 2010. Principles of Surgery Ninth edition. Mc-Graw Hill a
Division of The McGraw-Hill Companies. Enigma an Enigma Electronic Publication.
14 Snell, Richard. S. Anatomi Klinis untuk Mahasiswa Edisi 6. EGC. Jakarta. 2006

31

Anda mungkin juga menyukai