Anda di halaman 1dari 1

Mechanism sesak napas

Sesak napas atau dispnea Adela perasaan sulit bernapas dan merupakan gejala
utama dari penyakit kardiopulmonar. Seorang yang mengalami gejala dispnea sering
megeluh napasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Gejala objektif sesak napas
termasuk juga penggunaan otot-otot pernapasan tambahan (sternokleidomastoideus,
skalenus, trapezius, pektoralis mayor), pernapasan cuping hidung, takipnea, dan
hiperventilasi. Sesak napas tidak selalu menunjuukan adanya penyakit. Orang normal
akan mengalami hal yang sama setelah melakukan kegiatan fisik dalam tingkattingkat yang berbeda.
Beberapa gejala dan tanda lain yang memiliki perbedaan klinis mencolok
dengan dispnea:
1. Takipnea Adela frekuensi pernapasan yang cepat, lebih cepat dari pernapasan
normal (12 hingga 120 kali per menit) yang dapat muncul dengan atau tanpa
dispnea
2. Sindrom hiperventilasi Adela keadaan seseorang yang sehat dengan stres
emosional
3. Lelah yang berlebihan Adela seseorang yang sehat mengalami lelah yang
berlebihan setelah melakukan kegiatan fisik dalam tingkat yang berbeda-beda,
dan gejala ini juga dapat dialami pada penderita penyakit kardiovaskular,
neuromuskular, dan penyakit selain penyakit paru.
Sumber penyebab dispnea termasuk :
1. Reseptor-reseptor mekanik pada otot-otot pernapasan, paru, dan dinding dada
dalam teori tegangan-panjang. Teori tegangan panjang berperan penting dalam
membandingkan derajat elastisitasnya. Dispnea terjadi bila tegangan yang ada
tidak cukup bsar untuk sxatu panajng otot
2. Kemoreseptor untuk tegangan CO2 dan O2
3. Peningkatan kerja pernapasan yang mengakibatkan sangat meningkatnya rasa
sesak napas
4. Ketidakseimbangan antara kerja pernapasan dengan kapasitas ventilasi.