Anda di halaman 1dari 12

Disusun oleh:

Nama: Dede Reynaldi


NIM: 201310410311047
Kelas: Farmasi A

Universitas Muhammadiyah Malang


Malang
2013

Kata Pengantar
Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat dan karunia-Nya Saya dapat menyelesaikan makalah ini. Juga
Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah
membantu Saya dalam penyusunan makalah ini.
Dalam makalah ini Saya akan menjelaskan keterkaitan fisika
dengan farmasi, yaitu Kelarutan dan Disolusi Obat.
Saya menyadari bahwa makalah yang Saya susun berdasarkan
kemampuan yang Saya miliki ini masih memiliki kekurangan dan
keterbatasan. Oleh karena itu Saya mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun untuk perbaikan ke depannya.
Akhir kata Saya ucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan
semoga makalah ini dapat diterima dengan baik.

Sampit, 22 Oktober 2013


Penulis

Dede Reynaldi

Daftar Isi
Kata Pengantar
..........................................................................1
Daftar Isi...................................................................................2
BAB I

Pendahuluan
...........................................................3

BAB II

Isi ...........................................................................4

BAB III

Penutup ................................................................10

Daftar Pustaka ........................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu fisika telah digunakan dan diterapkan oleh manusia berabad-abad sebelum
Masehi. Catatan sejarah menyabutkan bahwa perkembangan ilmu fisika dimulai sekitar 2400
SM, ketika kebudayaan Harappan menggunakan suatu benda untuk memperkirakan sudut
bintang di angkasa. Sejak saat itu, ilmu fisika telah berkembang dengan sangat pesat dan
penerapannya pun tidak hanya pada ilmu fisika itu sendiri.
Penerapan ilmu fisika telah berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu tersebut.
Berbagai disiplin ilmu kini juga berkaitan dengan fisika dan membutuhkan ilmu fisika, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu contohnya yaitu keterkaitan antara ilmu
fisika dengan dunia farmasi. Keterkaitan tersebut dapat ditunjukkan pada salah satu sifat
fisika, yaitu kelarutan dengan ilmu farmasi. Pada penerapannya pun, kelarutan memegang
peranan penting karena berkaitan dengan berbagai bentuk sediaan dan formulasi obat.
Oleh karena itu, ilmu fisika sangat penting untuk dipahami. Hal ini sangat penting
dalam penerapannya untuk mendukung seorang farmasis menghasilkan produk farmasi
dengan konsistensi yang baik dan dengan kualitas terjamin.

BAB II
ISI
Kelarutan
Berasal dari kata dasar larut yang memiliki beragam definisi baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Namun ringkasan dari berbagai sumber, definisi larut sangatlah
sederhana, yaitu dispersi molekuler dari suatu zat dalam sutu medium. Dengan demikian,
larutan musti terdiri dari dua komponen utama, yaitu zat yang terlarut (solut) dan medium
(solven). Sedangkan ukuran suatu zat dapat melarut dalam suatu medium dinamakan
kelarutan.
Mempelajari kelarutan bukan sekedar mengamati hilangnya gula pasir ketika ibu
membuatkan secangkir teh manis untuk ayah. Pertanyaan yang mestinya muncul adalah
mengapa airnya harus panas dan mengapa juga harus repot-repot mengaduknya? Apakah
memang ada hubungan antara suhu dan pengadukan terhadap kelarutan?
Kelarutan juga sangat berpengaruh terhadap perjalanan obat di dalam tubuh. Jika
obat tidak dapat larut dalam air maka akan sangat sulit baginya untuk terdisolusi dari
sediaannya. Sedangkan jika tidak mampu melarut dalam lipid maka akan terhambat proses
absorbsinya. Dengan demikian obat seharusnya memiliki kedua sifat baik lipofil maupun
hidrofil.
Teori kelarutan dlm Farmasi, berkaitan dengan:
1. Pembuatan sediaan farmasi; injeksi, tetes mata, potio dan aerosol.
2. Proses pemurnian.
3. Memberikan informasi ttg sifat fisika kimia obat, adanya interaksi antar komponen
obat, lipofilisitas, rancangan obat (Log P).
4. Proses disolusi dan absorbsi obat.
5. Gambaran profil farmakokinetika obat.
Disolusi Obat
Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana suatu zat padat masuk ke dalam pelarut
menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah proses dimana zat padat

melarut. Secara prinsip dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut. Dalam
penentuan kecepatan disolusi dari berbagai bentuk sediaan padat terlibat berbagai proses
disolusi yang melibatkan zat murni. Karakteristik fisik sediaan, proses pembasahan sediaan,
kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses pengembangan, proses
ddisintegrasi, dan degradasi sediaan, merupakan sebagaian dari faktor yang mempengaruhi
karakteristik disolusi obat dari sediaan.
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus memiliki daya larut
dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-senyawa yang relatif tidak dapat
dilarutkan mungkin memperlihatkan absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu
sehingga menghasilkan respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan dari
senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebih banyak turunan yang larut,
seperti garam dan ester dengan teknik seperti mikronisasi obat atau kompleksasi.
Sifat-sifat kimia, fisika, bentuk obat dan juga fisiologis dari sistem biologis
mempengaruhi kecepatan absorbsi suatu obat dalm tubuh. Oleh karena itu konsentrasi obat,
bagaimana kelarutannya dalam air, ukuran molekulnya, pKa dan ikatan proteinnya adalah
faktor-faktor kimia dan fisika yang harus dipahami untuk mendesain suatu sediaan. Hal ini
meliputi faktor difusi dan disolusi obat.
Pada saat suatu sediaan obat masuk ke dalam tubuh, selanjutnya terjadi proses
absorbsi ke dalam sirkulasi darah dan akan didistribusikan ke seluruh cairan dan jaringan
tubuh. Apabila zat aktif pada sediaan obat tersebut memiliki pelarut yang cepat, berarti efek
yang ditimbulkan juga akan semakin cepat, begitu juga sebaliknya. Pelepasan dari bentukbentuk sediaan kemudian diabsorbsi dalam tubuh dan dikontrol oleh sifat fisika, kimia obat
dan bentuk obat yang diberikan dan juga fisiologis dari sistem biologis. Konsentrasi obat,
kelarutan dalam air, ukuran molekul, bentuk kristal, pKa dan ikatan protein adalah faktorfaktor fisika dan kimia yang harus dipahami untuk mendesain pemberian yang menunjukkan
suatu karakteristik terkontrol. Lepasnya suatu obat dari sistem pemberian meliputi faktor
disolusi dan difusi.
Proses pelarutan tablet melalui proses disolusi yaitu melarutnya senyawa aktif dari
bentuk sediaannya (padat) ke dalam media pelarut. Setelah obat dalam larutan, selanjutnya
terjadi proses absorbsi ke dalam darah dan di bawa ke seluruh cairan dan jaringan tubuh.
Apabila zat aktif memiliki kecepatan pelarut yang cepat, berarti efek yang ditimbulkan juga
semakin cepat, begitu pula sebaliknya.
Lepasnya suatu obat dari sistem pemberian meliputi faktor disolusi dan difusi. Laju

disolusi adalah sebagai salah satu faktor yang meliputi dan mempengaruhi pelepasan obat.
Dalam USP cara pengujian disolusi tablet dinyatakan dalam masing-masing monografi obat.
Pengujian merupakan alat yang objekif dalam menetapkan sifat disolusi suatu obat yang
berada dalam tubuh sangat besar tergantung pada adanya obat dalam keadaan melarut.
Karakteristik disolusi biasa merupakan sifat yang penting dari produk obat yang memuaskan.
Setiap tablet harus memenuhi persyaratan seperti yang terdapat di dalam monografi untuk
kecepatan disolusi.
Pada pengujian disolusi dan penentuan bioavailabilitas dari obat dengan bentuk
sediaan padat menuju pada pendahuluan dari sistem yang sempurna bagi analisa dan
pengujian disolusi tablet. Uji disolusi memperhatikan fasilitas modern untuk mengontrol
kualitas, digunakan untuk menjaga terjaminnya standar dalam produksi tablet.
Uji disolusi untuk mengetahui terlarutnya zat aktif dalam waktu tertentu
menggunakan alat disolution tester. Kriteria penerimaan menurut FI IV adalah:
TINGKAT

JUMLAH

PENGUJIAN

YANG DIUJI

KRITERIA PENERIMAAN

S1

Tiap unit Q +5%

S2

Rata-rata dari ke 12 unit sediaan (S1+S2) Q dan tidak satu unit


pun < Q-15%

S3

12

Rata-rata dari 24 unit sediaan (S1+S2+S3) Q tidak lebih dari 2


unit sediaan < Q-15% dan tidak satu unit pun <Q-25%

Kecepatan Pelarutan
Secara sederhana kecepatan pelarutan didefinisikan sebagai jumlah zat yang terlarut
dari bentuk sediaan padat dalam medium tertentu sebagai fungsi waktu. Dapat juga diartikan
sebagai kecepatan larut bahan obat dari sediaan farmasi atau granul atau partikel-partikel
sebagai hasil pecahnya bentuk sediaan obat tersebut setelah berhubungan dengan cairan
medium. Dalam hal tablettent bias diartikan sebagai mass transfer, yaitu kecepatan pelepasan
obat atau kecepatan larut bahan obat dari sediaan tablet ke dalam medium penerima.
Penelitian tentang disolusi telah dilakukan oleh Noyes Whitney dan dalam penelitiannya
diperoleh persamaan yang mirip hokum difusi dari Fick :
dc /dt=

DAK (CsC)
h

\
Ket:
dc/ct : laju pelarutan obat
D : tetapan laju difusi
A : luas permukaan partikel
Cs : kadar obat dalam stagnant layer
C : konsentrasi obat dalam bagian terbesar pelarut
K : koefisien partisi munyak/air
h : tebal stagnant layer
Dari persamaan di atas terlihat bahwa kinetika pelarutan dapat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia, formulasi, dan pelarut. Banyak cara untuk mengungkapkan hasil kecepatan
pelarutan suat zat atau sediaan. Selain persamaan di atas cara lain untuk mengungkapkan
pelarutan adalah sebagai berikut :
1. Metode Klasik
Metode ini dapat menunjukkan jumlah zat aktif yang terlarut pada waktu t, yang
kemudian dikenal dengan T-20, T-50, T-90, dan sebagainya. Karena dengan metode ini
hanya menyebutkan 1 titik saja, maka proses yang terjadi di luar titik tersebut tidak
diketahui. Titik terebut menyatakan jumlah zat aktif yang terlarut pada waktu tertentu.
2. Metode Khan
Metode ini kemudian dikenal dengan konsep dissolution efficiency (DE)area di bawah
kurva disolusi di antara titik waktu yang ditentukan. Beberapa peneliti mensyaratkan
bahwa penggunaan DE sebaiknya mendekati 100% zat yang terlarut. Keuntungan
metode ini adalah :
1. Dapat menggambarkan seluruh proses percobaan yang dimaksud dengan harga
DE.
2. Dapat menggambarkan hubungan antara percobaan in vitro dan in vivo karena
penggambaran dengan cara DE ini mirip dengan cara penggambaran
percobaan in vivo.
3. Metode linierisasi kurva kecepatan pelarutan dengan menggunakan sebagai
contoh persamaan wagner.
Berdasarkan pada asumsi sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Kondisi percobaan harus dalam keadaan sink yaitu Cs>>>C.


Proses pelarutan mengikuti orde I.
Luas permukaan spesifik (S) turun secara eksponensial fungsi waktu.
Kondisi proes pelarutannya non reaktif.

Alat Uji Disolusi Farmakope


Uji disolusi hamper di semua negar telah mengikuti kriteria dan peralatan yang sama.
Sedangkan metode dan peralatan secara rinci dinyatakan dalam masing-masing farmakope,
seperti jecepatan pengadukan, komposisi volume media dan ukuran mesh dapat bervariasi
untuk monografi individu obat dan masing-masing farmakope.
Alat Uji Disolusi 1 dan
Cara pertama yang diuraikan dalam Farmakope Indonesia adalah cara keranjang yang
menggunakan pengaduk jenis keranjang dan cara yang kedua adalah cara dayung yang
menggunakan pengadukan.
Disolusi suatu kapsul atau tablet adalah jumlah atau persen zat berkhasiat dari suatu
sediaan padat yang terlarut pada suatu waktu tertentu dalam kondisi baku yaitu pada suhu,
kecepatan pengadukan dan komposisi media tertentu. Uji disolusi merupakan suatu parameter
penting dalam pengembangan produk dan pengendalian mutu obat. Kecepatan disolusi yang
dinyatakan dalam prosen persatuan waktu, adalah suatu karakteristik mutu yang penting
dalam menilai mutu obat yang digunakan peroral untuk mendapatkan efek sistemik.
Laju disolusi obat secara in vitro dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:
1. Sifat Fisika Kimia Obat
Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas
permukaan efektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Laju
disolusi akan diperbesar karena kelarutan terjadi pada permukaan solut.
Kelarutan obat dalam air juga mempengaruhi laju disolusi. Obat berbentuk
garam, pada umumnya lebih mudah larut dari pada obat berbentuk asam
maupun basa bebas. Obat dapat membentuk suatu polimorfi yaitu terdapatnya
beberapa kinetika pelarutan yang berbeda meskipun memiliki struktur kimia
yang identik. Obat bentuk kristal secara umum lebih keras, kaku dan secara
termodinamik lebih stabil daripada bentuk amorf, kondisi ini menyebabkan
obat bentuk amorf lebih mudah terdisolusi daripada bentuk kristal (Shargel dan
Yu, 1999).
2. Faktor Formulasi
Berbagai macam bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat
mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka
antara medium tempat obat melarut dengan bahan obat, ataupun bereaksi

secara langsung dengan bahan obat. Penggunaan bahan tambahan yang


bersifat hidrofob seperti magnesium stearat, dapat menaikkan tegangan antar
muka obat dengan medium disolusi. Beberapa bahan tambahan lain dapat
membentuk kompleks dengan bahan obat, misalnya kalsium karbonat dan
kalsium sulfat yang membentuk kompleks tidak larut dengan tetrasiklin. Hal
ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi menjadi lebih sedikit dan
berpengaruh pula terhadap jumlah obat yang diabsorpsi (Shargel dan Yu,
1999).
3. Faktor Alat dan Kondisi Lingkungan
Adanya perbedaan alat yang digunakan dalam uji disolusi akan menyebabkan
perbedaan

kecepatan

pelarutan

obat.

Kecepatan

pengadukan

akan

mempengaruhi kecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka


gerakan medium akan semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan
pelarutan. Selain itu temperatur, viskositas dan komposisi dari medium, serta
pengambilan sampel juga dapat mempengaruhi kecepatan pelarutan obat
(Swarbrick dan Boyland, 1994b; Parrott, 1971).
Semua tablet dalam USP harus melalui pengujian disolusi yang dilakukan secara
resmi yang dilakukan in vitro dengan alat uji khusus. Secara singkat alat ini terdiri dari rak
keranjang yang dipasang berisi 6 gelas (Chamber), alat yang digunakan ada dua cara yaitu
alat dayung yang diputar untuk melarutkan obat/tablet, dan metode kedua dengan cara
keranjang yang ujungnya terbuka, siikat secara vertical di atas latar belakang dari kawat
steinless yang berupa ayakan dengan ukuran mesh, keranjang ini dinaik turunkan permenit.
Uji disolusi dilakukan supaya komponen obat sepenuhnyya tersedia untuk diabsorpsi
dalam saluran pencernaan, maka tablet harus hancur dan melepaskan obatnya ke dalam cairan
tubuh untuk dilarutkan. Daya hancur tablet juga penting untuk mengandung bahan obat
seperti antasida dan anti diare.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Pada proses disolusi obat terdapat banyak kaitan terhadap ilmu fisika, terutama
kelarutan suatu zat. Kelarutan suatu zat dalam pelarut tertentu merupakan sifat fisika. Dimana
pengertian kelarutan itu sendiri adalah dispersi molekuler dari suatu zat dalam satu medium.
Sedangkan pada disolusi obat, peranan dan pengaruh kelarutan sangat penting karena sangat
berpengaruh terhadap perjalanan obat di dalam tubuh. Jika obat tidak dapat larut dalam air
maka akan sangat sulit baginya untuk terdisolusi dari sediaannya. Sedangkan jika tidak
mampu melarut dalam lipid maka akan terhambat proses absorbsinya. Dengan demikian obat
seharusnya memiliki kedua sifat baik lipofil maupun hidrofil.
Hal ini menunjukkan bahwa ilmu fisika memiliki kaitan yang besar dengan dunia
farmasi, baik dalam pembuatan sediaan ataupun alat yang digunakan serta tehnik pembuatan
sediaan. Kaitan disolusi obat dengan kelarutan hanya satu dari sekian banyak contoh kaitan
ilmu fisika dalam dunia farmasi.

Daftar Pustaka
Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Ansel, Howard C., (1985), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta, 91,92.
Martin, A., et.all., (1993), Farmasi Fisika , Edisi III, Bagian II, Penerbit UI Jakarta, 827.
Gennaro, A. R., et all., (1990), Remingtos Pharmaceutical Sciensces , Edisi 18 th, Marck Publishing
Company, Easton, Pensylvania, 591.

Farmasi Fisik. Alfred Martin. 1993. Jakarta: UI Press.


Bankers. S. Gilbert. Teori dan praktek Farmasi Industri