Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Alhamdulillah karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Referat

ini tepat pada

waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang
membaca, agar penulis dapat mengkoreksi dan dapat membuat referat yang lebih baik
kedepannya.
Demikianlah laporan kasus ini dibuat sebagai tugas dari kegiatan klinis di stase Anestesi
serta untuk menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Sekarwangi, November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR1
DAFTAR ISI..2
BAB I : PENDAHULUAN3
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA..5
2.1. Pengertian Airway Manejemen 5
2.2. Pengelolaan Jalan Nafas 7
2.3. Resusitasi Jantung Paru....21
2.4. Indikasi RJP..21
DAFTAR PUSTAKA...31

BAB I
PENDAHULUAN

Bila terjadi henti nafas primer, jantung dapat terus memompa darah selama beberapa
menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain.
Penanganan dini pada korban dengan henti napas atau sumbatan jalan napas dapat mencegah
henti jantung. Bila terjadi henti jantung primer, O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalam organ
vital akan habis dalam beberapa detik. Henti jantung dapat disertai oleh fenomena listrik berikut:
fibrilasi ventrikuler takikardi ventrikular, asistole ventrikular atau disosiasi elektromekanis.
Penilaian terhadap bantuan hidup dasar sangat penting. Tindakan resusitasi (yaitu posisi,
pembukaanjalan napas, napas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul
dibutuhkan. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Setiap langkah ABC, resusitasi jantung paru
dimulai dengan: penentuan tidak ada respon, tidak ada napas, dan tidak ada nadi.
Pada korban yang tiba-tiba kolaps, kesadarannya harus segera dihentikan dengan
tindakan goncangan dan teriak yang terdiri dari: menggoncangkan korban dngan lembut dan
memanggil dengan keras-keras. Bila tidak dijumpai tanggapan, hendaknya korban diletakkan
dala posisi terlentang dan ABC bantuan hidup dasar hendaknya dilakukan.
Bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) adalah pendekatan sistematik untuk
penilaian pertama pasien, mengaktifkan respon gawat darurat dan juga inisiasi CPR atau RJP
yaitu resusitasi jantung paru. RJP yang efektif adalah dengan menggunakan kompresi dan
dilanjutkan dengan ventilasi.
BLS boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih dalam bidang
kesehatan. Ini bermaksud RJP boleh dilakukan dan dipelajari dokter, perawat, para medis dan
juga orang awam. Keadaan di mana terdapat kegagalan pernafasan yang boleh menyebabkan
systemic cardiopulmonary arrest (SCA) adalah seperti kecelakaan, sepsis, kegagalan respiratori,
sudden infant death syndrome dan banyak lagi

Menurut American Heart Association, rantai kehidupan mempunyai hubungan erat


dengan tindakan resusitasi jantung paru, kerana penderita yang diberikan RJP, mempunyai
kesempatan yang amat besar untuk dapat hidup kembali. Pasien yang ditemukan dalam keadaan tidak
sadar diri atau mengalami penurunan pernafasan selalu diasumsi mempunyai gangguan SCA
terlebih dahulu.
RJP yang digunakan dirujuk kepada pedoman dari American Heart Association yaitu 2010
AMERICAN HEART ASSOCIATION GUIDELINES FOR CARDIOPULMONARY RESUSCITATION AND
EMERGENCY CARDIOVASCULARCARE. Ini merupakan adaptasi daripada buku ABC of resuscitation yang
ditulis oleh Peter Safar pertama kali pada tahun 1957. Terdapat beberapa pembaharuan pada
pedoman pada tahun 2010 dan yang dahulu yaitu pada tahun 2005. Pada tahun 2010, terdapat
pembaharuan yang besar di mana kompresi didahului sebelum ventilasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Airway Manajement


Airway Manajement ialah memastikan jalan napas terbuka. tindakan paling penting untuk
keberhasilan resusitasi adalah segera melapangkang saluran pernapasan. Dengan tujuan untuk
menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh .

Menurut The Commite on Trauma: American College of Surgeon (Yayasan Essentia Medica,
1983: 20; Hendrotomo, 1986: 497) tindakan paling penting untuk keberhasilan resusitasi adalah
segera melapangkang saluran pernapasan, yaitu dengan cara:
a

Triple manuver
Pada Triple Airway Manuever terdapat tiga perlakuan yaitu:

Kepala ditengadahkan dengan satu tangan berada di bawah leher, sedangkan tangan yang
lain pada dahi. Leher diangkat dengan satu tangan dan kepala ditengadahkan ke belakang

oleh tangan yang lain


Menarik rahang bawah ke depan, atau keduanya, akan mencegah obtruksi hipofarings
oleh dasar lidah. Kedua gerakan ini meregangkan jaringan antara larings dan rahang

bawah.
Menarik / mengangkat dasar lidah dari dinding pharyinx posterior.
Manuver Heimlich
Manuever Heimlich (The Committee on Trauma: American College of Surgeon (Yayasan Essentia

Medica, 1983: 22) ini merupakan metode yang paling efektif untuk mengatasi obstruksi saluran
pernapasan atas akibat makanan atau benda asing yang terperangkap dalam pharynx posterior atau glottis.
Adapun cara memeriksa ada atau tidaknya jalan nafas adalah :

Lihat, ada gerak nafas


Dengar, ada suara nafas jernih
Raba, ada hawa ekshalasi

Kesimpulan :

Jalan nafas bebas tanpa sumbatan


Jalan nafas tersumbat ringan / sedang / berat
Jalan nafas tersumbat total

Daerah yang sering mengalami sumbatan jalan napas adalah hipofaring, terjadi pada pasien
koma ketika otot lidah dan leher yang lemas tidak dapat mengangkat dasar lidah dari dinding
belakang faring. Ini terjadi jika kepala pada posisi fleksi atau posisi tengah. Oleh karena itu
ekstensi kepala merupakan langkah pertama yang terpenting dalam resusitasi, karena gerakan ini
akan meregangkan struktur leher anterior sehingga dasar lidah akan terangkat dari dinding
belakang faring. Kadang-kadang sebagai tambahan diperlukan pendorongan mandibula kedepan
untuk meregangkan leher anterior, lebih-lebih jika sumbatan hidung memerlukan pembukaan
mulut. Hal ini akan mengurangi regangan struktur leher tadi. Kombinasi ekstensi kepala,
pendorongan mandibula kedepan dan pembukaan mulut merupakan gerak jalan napas tripel.
Pada kira-kira 1/3 pasien yang tidak sadar rongga hidung tersumbat selama ekspirasi karena
palatum molle bertindak sebagai katup. Selain itu rongga hidung dapat tersumbat oleh kongesti,
darah atau lendir Jika dagu terjatuh, maka usaha inspirasi dapat menghisap dasar lidah ke
posisi yang menyumbat jalan napas. Sumbatan jalan napas oleh dasar lidah bergantung kepada
posisi kepala dan mandibula serta dapat saja terjadi lateral, terlentang atau telungkup. Walaupun
gravitasi dapat menolong drainase benda asing cair, gravitasi ini tidak akan meringankan
sumbatan jaringan lunak hipofaring, sehingga gerak mengangkat dasar lidah seperti diterangkan
diatas tetap diperlukan.
Penyebab lain sumbatan jalan napas adalah benda asing, seperti muntahan atau daah
dijalan napas atas yang tidak dapat ditelan atau dibatukkan keluar oleh pasien yang tidak sadar.
Laringospame biasanya disebabkan oleh rangsangan jalan nafas atas pada pasien stupor atau
koma dangkal. Sumbatan jalan nafas bawah dapat disebabkan oleh bronkospasme, sekresi
bronkus, sembeb mukosa, inhalasi isi lambung atau benda asing.
Sumbatan jalan nafas dapat total atau partial.
Tanda-tanda obstruksi partial:
1

Stridor (nafasnya berbunyi), terdengar seperti ngorok, bunyi kumur-kumur


6

atau melengking.
2

Retraksi otot dada kedalam didaerah supraclavicular, suprasternal, sela iga


dan epigastrium selama inspirasi

Nafas paradoksal (pada waktu inspirasi dinding dada menjadi cekung/datar


bukannya mengembang/ membesar).

Balon cadangan pada mesin anestesi kembang kempisnya melemah.

Nafas makin berat dan sulit (kerja otot-otot nafas meningkat).

Sianosis, merupakan tanda hipoksemia akibat obstruksi jalan nafas yang lebih
berat.
Tanda-tanda obstruksi total:
Serupa dengan obstruksi partial, akan tetapi gejalanya lebih hebat dan stridor justru menghilang

Retarksi lebih jelas

gerak paradoksal lebih jelas

Kerja otot nafas tambahan meningkat dan makin jelas.

Balon cadangan tidak kembang kempis lagi.

Sianosis lebih cepat timbul.


Sumbatan total tidak berbunyi dan menyebabkan asfiksia (hipoksemia ditambah
hiperkarbia), henti nafas dan henti jantung (jika tidak dikoreksi) dalam waktu 5 10 menit.
Sumbatan partial berisik dan harus pula dikoreksi segera, karena dapat menyebabkan kerusakan
otak hipoksik, sembab otak atau paru dan penyulit lain serta dapat menyebabkan kepayahan,
henti nafasdan henti jantung sekunder.
2. Pengelolaan Jalan Nafas
Letakkan pasien pada posisi terlentang pada alas keras ubin atau selipkan papan kalau pasien
diatas kasur. Jika tonus otot menghilang, lidah akan menyumbat faring dan epiglotis akan
menyumbat laring. Lidah dan epiglotis penyebab utama tersumbatnya jalan nafas pada pasien
tidak sadar. Untuk menghindari hal ini dilakukan beberapa tindakan, yaitu:
1

Perasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift manuever)

Perasat ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong mendorong
dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu dengan hati-hati
tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglotis terbuka, sniffing position,
posisi hitup.
chin lift

headtilt
2

Perasat dorong rahang bawah (jaw thrust manuever)


Pada pasien dengan

trauma leher, rahang bawah diangakat didorong kedepan pada

sendinya tanpa menggerakkan kepala leher. Karena lidah melekat pada rahang bawah,
maka lidah ikut tertarik dan jalan nafas terbuka.

Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit, letakkan pasien dalam posisi terlentang,
lakukan manuever triple airway (kepala tengadah, rahang didorong kedepan, mulut dibuka)
dan kalau rongga mulut ada cairan, lendir atau benda asing lainnya, bersihkan dahulu sebelum
memberikan nafas buatan.

Pasien tidak sadar hendaknya diletakan horisontal, tetapi kalau diperlukan pembersihan
jalan nafas maka pasien dapat diletakkan dengan posisi kepala dibawah (head down tilt) untuk
mengeluarkan benda asing cair oleh gravitasi. Jangan meletakkan pasien pada posisi telungkup
karena muka sukar dicapai, menyebabkan sumbatan mekanis dan mengurang kekembungan
dada.
Posisi lurus terlentang ditopang dianjurkan utnuk pasien koma diawasi yang memerlukan
resusitasi. Peninggian bahu dengan meletakkan bantal atau handuk yang dilipat dibawahnya
mempermudah ekstensi kepala. Akan tetapi jangan sekali-kali meletakkan bantal dibawah kepala
pasienyang tidak sadar (dapat menyebabkan leher fleksi sehingga menyebabkan sumbatan
hipofaring) kecuali pada intubasi trakea.
Pada kasus trauma pertahankanlah kepala-leher-dada pada satu garis lurus. Ekstensikan
kepala sedang, jangan maksimum. Jangan memutar kepala korban kesamping, jangan
memfleksikan kepalanya. Jika korban harus dimiringkan untuk membersihkan jalan nafasnya,
pertahankanlah kepala-leher-dada tetap dalam satu garis lurus, sementara penolong lain
memiringkan korban Posisi mantap dianjurkan utnuk pasien koma bernafas spontan.

Sumbatan pada jalan nafas bagian atas oleh karena tersedak (choking)
Dewasa
Tanda-tanda :

Kesulitan nafas dan bicara sering berkaitan dengan makan


Korban menunjukkan sikap tercekik memegangi leher dan berusaha
bicara.

Muka dan leher sembab

Panik, distress

Kulit terlihat abu-abu - biru.

Tindakan :
1. Berikan 5 x pukulan mendadak pada punggung
(back blow/ back slaps).

Anjurkan batuk akan tetapi jangan buang-buang waktu


Tahan korban dari belakang. Posisi korban sedikit condong ke depan Segera
berikan hentakan pukulan 5 kali pada titik silang garis imajinasi tulang belakang
dengan garis antar belikat.

Bila kondisi belum membaik, lakukan pertolongan sebagai berikut :

Segera penolong berdiri dibelakang korban satu kaki penolong letakkan diantara
kedua kaki korban. Rangkul korban dari belakang. Sering dalam kondisi itu

korban sempoyongan.
Letakkan genggaman (kedua telapak penolong saling menggenggam) pada titik

hentak yaitu titik yang terletak ditengah-tengah antara pusar dan ulu hati korban.
Lakukan hentakan 5 kali dengan cara menarik mendadak lengan penolong yang

merangkul pinggang korban, ke arah titik hentak (abdominal thrust.)


Lakukan bergantian back blow dan abdominal thrust hingga berhasil atau tidak
berhasil dan korban jatuh tidak sadar.

Anak
Tanda-tanda :

Kesulitan nafas dan bicara, sering berkaitan dengan makan.

Korban menunjukkan sikap tercekik memegangi leher dan berusaha bicara.

Muka, leher sembab.

Kulit terlihat abu-abu - biru.

Tindakan :

10

Berikan 5 kali pukulan mendadak pada punggung (black blow/ back slaps).

Posisi korban sedikit condong ke depan dan berikan hentakan pukulan 5 kali pada
titik silang garis imajinasi tulang belakang dan garis antar belikat

Cek dalam mulut. Bila ada benda asing bersihkan/ambil dengan cara dibawah
penglihatan langsung (jangan mem-buta)

Pengelolaan Jalan Napas (Airway Management) dengan Alat


Hilangnya tonus otot jalan nafas bagian atas pada pasien yang dianestesi menyebabkan lidah dan
epiglotis jatuh kebelakang kearah dinding posterior faring. Mengubah posisi kepala atau jaw
thrust merupakan teknik yang disukai untuk membebaskan jalan nafas. Untuk mempertahankan
jalan nafas bebas, jalan nafas buatan (artificial airway) dapat dimasukkan melalui mulut atau
hidung untuk menimbulkan adanya aliran udara antara lidah dengan dinding faring bagian
posterior (Gambar 5-4). Pasien yang sadar atau dalam anestesi ringan dapat terjadi batuk atau
spasme laring pada saat memasang jalan nafas artifisial bila refleks laring masih intact.
Pemasangan oral airway kadang-kadang difasilitasi dengan penekanan refleks jalan nafas dan
kadang-kadang dengan menekan lidah dengan spatel lidah. Oral airway dewasa umumnya
berukuran kecil (80 mm/Guedel No 3), medium (90 mm/Guedel no 4), dan besar (100
mm/Guedel no 5).

Panjang nasal airway dapat diperkirakan sebagai jarak antara lubang hidung ke lubang
telinga, dan kira-kira 2-4 cm lebih panjang dari oral airway. Disebabkan adanya resiko
epistaksis, nasal airway tidak boleh digunakan pada pasien yang diberi antikoagulan atau anak
dengan adenoid. Juga, nasal airway jangan digunakan pada pasien dengan fraktur basis cranii.
Setiap pipa yang dimasukkan melalui hidung (nasal airway, pipa nasogastrik, pipa nasotrakheal)
harus dilubrikasi.Nasal airway lebih ditoleransi daripada oral airway pada pasien dengan
anestesi ringan.
a

Face Mask Design dan Teknik


11

Penggunaan face mask dapat memfasilitasi pengaliran oksigen atau gas anestesi dari
sistem breathing ke pasien dengan pemasangan face mask dengan rapat (gambar 5-5). Lingkaran
dari face mask disesuaikan dengan bentuk muka pasien. Orifisium face mask dapat
disambungkan ke sirkuit mesin anestesi melalui konektor. Face mask yang transparan dapat
mengobservasi uap gas ekspirasi dan muntahan. Facemask yang dibuat dari karet berwarna
hitam cukup lunak untuk menyesuaikan dengan bentuk muka yang tidak umum. Retaining hook
dipakai untuk mengkaitkan head scrap sehingga face mask tidak perlu terus dipegang. Beberapa
macam mask untuk pediatrik di disain untuk mengurangi dead space.
Ventilasi yang efektif memerlukan jalan nafas yang bebas dan face mask yang rapat/tidak
bocor. Teknik pemasangan face mask yang tidak tepat dapat menyebabkan reservoir bag kempis
walaupun klepnya ditutup, hal ini menunjukkan adanya kebocoran sekeliling face mask.
Sebaliknya, tekanan sirkuit breathing yang tinggi dengan pergerakan dada dan suara pernafasan
yang minimal menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.

12

Bila face mask dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan digunakan untuk melakukan
ventilasi dengan tekanan positif dengan memeras breathing bag. Face mask dipasang dimuka
pasien dan sedikit ditekan pada badan face mask dengan ibu jari dan telunjuk. Jari tengah dan
jari manis menarik mandibula untuk ekstensi joint atlantooccipital. Tekanan jari-jari harus pada
mandibula, jangan pada jaringan lunak yang menopang dasar lidah karena dapat terjadi obstruksi
jalan nafas. Jari kelingking ditempatkan dibawah sudut jaw dan digunakan untuk jaw
thrust manuver yang paling penting untuk dapat melakukan ventilasi pasien.
Pada situasi yang sulit, diperlukan dua tangan untuk mendapatkan jaw thrust yang
adekuat dan face mask yang rapat. Karena itu diperlukan seorang asisten untuk memompa bag
(gambar 5-8). Obstruksi selama ekspirasi dapat disebabkan karena tekanan kuat dari face mask
atau efek ball-valve dari jaw thrust. Kadang-kadang sulit memasang face maks rapat kemuka.
Membiarkan gigi palsu pada tempatnya (tapi tidak dianjurkan) atau memasukkan gulungan kasa
ke rongga mulut mungkin dapat menolong mengatasi kesulitan ini. Ventilasi tekanan normalnya
jangan melebihi 20 cm H2O untuk mencegah masuknya udara ke lambung.
Kebanyakan jalan nafas pasien dapat dipertahankan dengan face mask dan oral atau nasal
airway. Ventilasi dengan face mask dalam jangka lama dapat menimbulkan cedera akibat tekanan
pada cabang saraf trigeminal atau fasial. Bila face mask dan ikatan mask digunakan dalam
jangka lama maka posisi harus sering dirubah untuk menghindari cedera. Hindari tekanan pada
mata, dan mata harus diplester untuk menghindari resiko aberasi kornea.
b

Teknik dan Bentuk Laryngeal Mask Airway (LMA)

13

Penggunaan LMA meningkat untuk menggantikan pemakaian face mask dan TT selama
pemberian anestesi, untuk memfasilitasi ventilasi dan pemasangan TT pada pasien dengan
difficult airway, dan untuk membantu ventilasi selama bronchoscopy fiberoptic, juga
pemasangan bronkhoskop. LMA memiliki kelebihan istimewa dalam menentukan penanganan
kesulitan jalan nafas dibandingkan combitube. Ada 4 tipe LMA yang biasa digunakan: LMA
yang dapat dipakai ulang, LMA yang tidak dapat dipakai ulang, ProSeal LMA yang memiliki
lubang untuk memasukkan pipa nasogastrik dan dapat digunakan ventilasi tekanan positif, dan
Fastrach LMA yang dapat memfasilitasi intubasi bagi pasien dengan jalan nafas yang sulit.

LMA terdiri dari pipa dengan lubang yang besar, yang di akhir bagian proksimal
dihubungkan dengan sirkuit nafas dengan konektor berukuran 15 mm, dan dibagian distal
terdapat balon berbentuk elips yang dapat dikembangkan lewat pipa. Balon dikempiskan dulu,
kemudian diberi pelumas dan masukan secara membuta ke hipofaring, sekali telah
dikembangkan, balon dengan tekanan rendah ada di muara laring. Pemasangannya memerlukan
anestesi yang lebih dalam dibandingkan untuk memasukan oral airway. Posisi ideal dari balon
14

adalah dasar lidah di bagian superior, sinus pyriforme dilateral, dan spincter oesopagus bagian
atas di inferior. Jika esophagus terletak di rim balon, distensi lambung atau regurgitasi masih
mungkin terjadi. Variasi anatomi mencegah fungsi LMA yang adekuat pada beberapa pasien.
Akan tetapi, jika LMA tidak berfungsi semestinya dan setelah mencoba memperbaiki masih
tidak baik, kebanyakan klinisi mencoba dengan LMA lain yang ukurannya lebih besar atau lebih
kecil. Karena penutupan oleh epiglotis atau ujung balon merupakan penyebab kegagalan
terbanyak, maka memasukkan LMA dengan penglihatan secara langsung dengan laringoskop
atau bronchoskop fiberoptik (FOB) menguntungkan pada kasus yang sulit. Demikian juga,
sebagian balon digembungkan sebelum insersi dapat sangat membantu. Pipa di plester seperti
halnya TT. LMA melindungi laring dari sekresi faring (tapi tidak terhadap regurgitasi lambung)
dan LMA harus tetap dipertahankan pada tempatnya sampai reflek jalan nafas pasien pulih
kembali. Ini biasanya ditandai dengan batuk atau membuka mulut sesuai dengan perintah. LMA
yang dapat dipakai lagi, dapat di autoklaf, dibuat dari karet silikon (bebas latek) dan tersedia
dalam berbagai ukuran (tabel 5-3).

LMA memberikan alternatif untuk ventilasi selain face mask atau TT. Kontraindikasi
untuk LMA adalah pasien dengan kelainan faring (misalnya abses), sumbatan faring, lambung
yang penuh (misalnya kehamilan, hernia hiatal), atau komplians paru rendah (misalnya penyakit
15

restriksi jalan nafas) yang memerlukan tekanan inspirasi puncak lebih besar dari 30 cm H2O.
Secara tradisional, LMA dihindari pada pasien dengan bronkhospasme aatau resistensi jalan
nafas tinggi, akan tetapi, bukti-bukti baru menunjukkan bahwa karena tidak ditempatkan dalam
trakhea, penggunaan LMA dihubungkan dengan kejadian bronchospasme lebih kurang dari pada
dengan TT. Walaupun hal ini nyata tidak sebagai penganti untuk trakheal intubasi, LMA
membuktikan sangat membantu terutama pada pasien dengan jalan nafas yang sulit (yang tidak
dapat diventilasi atau diintubasi) disebabkan mudah untuk memasangnya dan angka
keberhasilannya relatif besar (95-99%). LMA telah digunakan sebagai pipa untuk jalur stylet
( gum elastik, bougie), ventilasi jet stylet, fleksibel FOB, atau TT diameter kecil (6,0 mm).
Tersedia LMA yang telah dimodifikasi untuk memfasilitasi penempatan TT yang lebih
besar dengan atau tanpa menggunakan FOB. Pemasukannya dapat dilakukan dibawah anestesi
topikal dan blok saraf laringeal bilateral jika jalan nafas harus bebas seraya pasiennya sadar.
c

Esophageal Tracheal Combitube (ETC)


Teknik & Bentuk Pipa
Pipa kombinasi esophagus tracheal (ETC) terbuat dari gabungan 2 pipa, masing-masing
dengan konektor 15 mm pada ujung proksimalnya. Pipa biru yang lebih panjang ujung distalnya
ditutup. Pipa yang tranparant berukuran yang lebih pendek punya ujung distal terbuka dan tidak
ada sisi yang perporasi. ETC ini biasanya dipasangkan secara buta melalui mulut dan
dimasukkan sampai 2 lingkaran hitam pada batang batas antara gigi atas dan bawah. ETC
mempunyai 2 balon untuk digembungkan, 100 ml untuk balon prosikmal dan 15 ml untuk balon
distal, keduanya harus dikembungkan secara penuh setelah pemasangan. Pipa yang bening yang
lebih pendek dapat digunakan untuk dekompresi lambung. Pilihan lain, jika ETC masuk ke
dalam trakhea, ventilasi melalui pipa yang bening akan langsung gas ke trachea. Meskipun pipa
kombinasi masih rerdaftar sebagai pilihan untuk penanganan jalan nafas yang sulit dalam
algoritma Advanced Cardiac Life Support, biasanya jarang digunakan oleh dokter anestesi yang
lebih suka memakai LMA atau alat lain untuk penanganan pasien dengan jalan nafas yang sulit.

Pipa Tracheal (TT)

16

TT digunakan untuk mengalirkan gas anestesi langsung ke dalam trachea dan


mengijinkan untuk kontrol ventilasi dan oksigenasi. Pabrik menentukan standar TT (American
National Standards for Anesthetic Equipment; ANSI Z-79). TT kebanyakan terbuat dari
polyvinylchloride. Pada masa lalu, TT diberi tanda IT atau Z-79 untuk indikasi ini telah
dicoba untuk memastikan tidak beracun. Bentuk dan kekakuan dari TT dapat dirubah dengan
pemasangan mandren. Ujung pipa diruncingkan untuk membantu penglihatan dan pemasangan
melalui pita suara. Pipa Murphy memiliki sebuah lubang (mata Murphy) untuk mengurangi
resiko sumbatan pada bagian distal tube bila menempel dengan carina atau trachea.
Tahanan aliran udara terutama tergantung dari diameter pipa, tapi ini juga dipengaruhi
oleh panjang pipa dan lengkungannya. Ukuran TT biasanya dipola dalam milimeter untuk
diameter internal atau yang tidak umum dalam scala Prancis (diameter external dalam milimeter
dikalikan dengan 3). Pemilihan pipa selalu hasil kompromi antara memaksimalkan flow dengan
pipa ukuran besar dan meminimalkan trauma jalan nafas dengan ukuran pipa yang kecil.
Kebanyakan TT dewasa memiliki sistem pengembungan balon yang terdiri dari katup,
balon petunjuk (pilot balloon), pipa pengembangkan balon, dan balon (cuff). Katup mencegah
udara keluar setelah balon dikembungkan. Balon petunjuk memberikan petunjuk kasar dari balon
yang digembungkan. Inflating tube dihubungkan dengan klep. Dengan membuat trakhea yang
rapat, balon TT mengijinkan dilakukannya ventilasi tekanan positif dan mengurangi
kemungkinan aspirasi. Pipa yang tidak berbalon biasanya digunakan untuk anak-anak untuk
meminimalkan resiko dari cedera karena tekanan dan post intubasi croup.

17

Ada 2 tipe balon TT yaitu balon dengan tekanan tinggi volume rendah dan tekanan
rendah volume tinggi. Balon tekanan tinggi dikaitkan dengan besarnya iskhemia mukosa trachea
dan kurang nyaman untuk intubasi pada waktu lama. Balon tekanan rendah dapat meningkatkan
kemungkinan nyeri tenggorokan (luas area kontak mukosa), aspirasi, ekstubasi spontan, dan
pemasangan yang sulit ( karena adanya floppy cuff). Meskipun demikian, karena insidensi
rendah dari kerusakan mukosa, balon tekanan rendah lebih dianjurkan.
Tekanan balon tergantung dari beberapa faktor: volume pengembangan, diameter balon
yang berhubungan dengan trachea, trachea dan komplians balon, dan tekanan intratorak (tekanan
balon dapat meningkat pada saat batuk). Tekanan balon dapat menaik selama anetesi umum
sebagai hasil dari difusi dari N2O dari mukosa tracheal ke balon TT.
TT telah dimodifikasi untuk berbagai penggunaan khusus. Pipa yang lentur, spiral, wire
reinforced TT (armored tubes), tidak kinking dipakai pada operasi kepala dan leher, atau pada
pasien dengan posisi telungkup. Jika pipa lapis baja menjadi kinking akibat tekanan yang ekstrim
( contoh pasien bangun dan menggigit pipa), lumen pipa akan tetutup dan pipa TT harus diganti.
Pipa khusus lainnya termasuk pipa mikrolaringeal, RAE tube, dan lubang pipa ganda (double
lumen tube). Semua TT memiliki garis yang dilekatkan dan bersifat radiogopak yang
mengijinkan dapat dilihatnya ETT pada trachea.
e

Rigid Laryngoscope
Laringoskop adalah instrumen untuk pemeriksaan laring dan untuk fasilitas intubasi
trachea. Handle biasanya berisi batre untuk cahaya bola lampu pada ujung blade, atau untuk
energi fiberoptic bundle yang berakhir pada ujung blade. Cahaya dari bundle fiberoptik tertuju
langsung dan tidak tersebar.

18

Laringoskop dengan lampu fiberoptic bundle dapat cocok digunakan diruang MRI. Blade
Macintosh dan Miller ada yang melengkung dan bentuk lurus. Pemilihan dari blade tergantung
dari kebiasaan seseorang dan anatomi pasien. Disebabkan karena tidak ada blade yang cocok
untuk semua situasi, klinisi harus familier dan ahli dengan bentuk blade yang beragam.

Laringoskop Khusus
Dalam 15 tahun terakhir, terdapat 2 laringskop baru yang telah dibuat, untuk membantu
dokter anestesi menjamin jalan nafas pada pasien dengan jalan nafas yang sulit- Laringokop
Bullard dan laringoskop Wu

19

Keduanya memiliki sumber cahaya fiberoptic dan blade yang melengkung dengan ujung
yang panjang, dan didisain untuk membantu melihat muara glotis pada pasien dengan lidah besar
atau yang memiliki muara glotis sangat anterior. Banyak dokter anestesi percaya bahwa alat ini
untuk mengantisipasi pasien yang memiliki jalan nafas sulit. Bagaimanapun juga, seperti halnya
alat-alat lain yang digunakan jalan nafas pasien, pengalaman penggunaannya harus dilakukan
pada pasien normal sebelum digunakan pada saat penting dan memergensi pada pasien dengan
jalan nafas sulit.
3

Resusitasi Jantung Paru


Resusitasi membawa maksud menghidupkan kembali dengan usaha-usaha yang dapat

dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis.
Resusitasi jantung paru (RJP) adalah upaya mengembalikan fungsi nafas atau sirkulasi yang
berhenti oleh mana-mana sebab dan boleh membantu memulihkan kembali fungsi kedua jantung
dan paru ke keadaan normal. Bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) termasuk
mengenali jika terjadinya serangan jantung, aktivasi respon sistem gawat darurat, dan defibrilasi
dengan menggunakan defibrillator.
20

4. Indikasi RJP
1. Henti nafas
Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari
korban atau pasien. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup
dasar. Henti nafas dapat terjadi dalam keadaan seperti:
-

Tenggelam atau lemas


Stroke
Obstruksi jalan nafas
Epiglotitis
Overdosis obat-obatan
Tesengat listrik
Infark Miokard
Tersambar petir

Pada awal henti nafas, oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk beberapa menit dan
jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini
diberikan bantuan resusitasi, ini sangat bermanfaat pada korban.
2. Henti Jantung
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini
akan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu
merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi
besar tak teraba disertai kebiruan atau pucat sekali, pernafasan berhenti atau satu-satu, dilatasi
pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. Bantuan hidup dasar
merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan untuk:
a
b

Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.


Memberikan bantuan eksternal terhadapa sirkulasi dan ventilasi dari korban yang
mengalami henti jantung atau henti jantung melalui resusitasi jantung paru (RJP).
Resusitasi jantung paru terdiri dari dua tahap yaitu:
a Survei primer: dapat dilakukan oleh setiap orang.
b Survei sekunder: dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan
merupakan lanjutan dari survei primer.

21

PEMBAHARUAN PADA BLS GUIDELINES 2010


Terdapat beberapa pembaharuan pada BLS 2010, berbanding dengan 2005. Beberapa

perubahan yang telah dilakukan adalah seperti berikut:


1.Mengenali sudden cardiac arrest (SCA) dari mengenali respon dan pernafasan.
2. Look, Listen dan Feel tidak digunakan dalam algoritma BLS.
3. Hands-only chest compression CPR ditujukkan kepada siapa yang tidak terlatih
4. Urutan ABC diubah ke urutan CBA, chest compression sebelum breathing.
5. Health care providers memberi chest compression yang efektif sehingga terdapat
sirkulasi spontan.
6. Lebih fokus kepada kualitas CPR.
7. Kurangkan penekanan untuk memeriksa nadi untuk health care providers.
8. Algoritma BLS yang lebih mudah diperkenalkan.
9. Rekomendasi untuk mempunyai pasukan yang serentak mengendalikan chest
compression, airway management, rescue breathing, rhythm detection dan shock.
Untuk mengenali terjadinya SCA adalah perkara yang tidak mudah. Jika terjadi kekeliruan dan
keterlambatan untuk bertindak dan memulai CPR, ini akan mengurangi survival rate pasien
tersebut. Chest compression merupakan tindakan ang sangat penting dalam CPR karena perfusi
tergantung kepada kompresi. Oleh karena itu, chest compression merupakan tindakan terpenting
jika terdapat pasien yang mempunyai SCA.
EMERGENCY RESPONSE SYSTEM
Orang awam seharusnya menelepon rumah sakit yang terdekat atau nomor darurat yang
lain untuk memulai respon darurat. Instruksi dari rumah sakit haruslah jelas dan merekomendasi
CPR untuk orang awam tersebut untuk membantu korban yang tidak bernafas karena
kebanyakan pasien yang tidak bernafas adalah yang menghadapai SCA. Jika pasien tidak
bernafas atau mengalami gangguan pernafasan, asumsi yang pertama adalah bahwa korban
22

mengalami SCA. Untuk pemeriksaan nadi, orang awan tidak disarankan untuk memeriksa nadi.
Jika untuk orang yang terlatih, nadi diperiksa kurang dari 10 detik dan jika tidak teraba nadi
maka chest compression harus dimulai.
5

FASE RJP

FASE 1 : Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support)


Ini adalah prosedur pertolongan darurat untuk mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas
dan henti jantung.
C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru
A (airway)

: menjaga jalan nafas tetap terbuka

B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat.


FASE II: Tunjangan Hidup Lanjutan (Advance Life Support)
Ini adalah prosedur setelah tunjangan hidup dasar yang ditambah dengan:
D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan.
E (EKG)

: diagnosis elektrokardiografi secepat mungkin untuk mengetahui fibrilasi

ventrikel.
1

FASE III : Tunjangan Hidup Terus-menerus (Prolonged Life Support)

G (Gauge) : Pengukuran dari pemeriksaan untuk memonitoring penderita secara terus


menerus, di nilai, di cari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.
H (Head)

: tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistem saraf dari kerusakan

lebih lanjtu akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kerusakan
neurologic yang permanen.
I (Intensive Care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi: trakeostomi,
pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pC02 bila diperlukan
dan tunjangan sirkulasi mengendalikan jika terjadinya kejang.
23

PROSEDUR CPR (RJPO)


Adult Basic Life Support
UNRESPONSIVE?

Shout for Help

Open airway

NOT BREATHING NORMALLY?

CALL EMERGENCY LINE

30 CHEST COMPRESSIONS

2 RESCUE BREATHS 30 COPMRESSIONS

Pada dasarnya resusitasi jantung mempunyai dua perkara yang harus diterapkan. Pertamanya
adalah kompresi dada dan yang kedua adalah bantuan pernafasan dengan menggunakan nafas
buatan. Sebelum menolong korban, hendaklah dinilai keadaan lingkungan terlebih dahulu.

Circulation dan Chest compression


Kompresi dada dilakukan sebanyak 30 kali. Posisi kompresi dada, dimulai dari lokasi
prosessus xyphoideus dan tarik garis ke lokasi 2 jari diatas prosessus xyphoideus dan
melakukan kompresi dada di tempat tersebut. Untuk kompresi dada yang yang efektif,
teknik push hard, push fast harus diterapkan. Kompresi sebanyak 100 kali per 24
menit
dengan kedalaman kompresi sebanyak 5cm dilakukan. Selain itu, waktu untuk paru-paru
rekoil setelah kompresi juga harus ada. Perbandingan kompresi-ventilasi adalah 30:2

Airway
Menurut 2010 AHA GUIDELINES FOR CPR AND ECG, rekomendasi yang terbaik
adalah memulai kompresi sebelum ventilasi. Ini adalah karena 30 kompresi dan
kemudian 2 ventilasi membawa hasil yang lebih baik karen memperbaiki juga sirkulasi
darah. Keterlambatan memberi kompresi dada harus dielakkan. Tambahan pula, kompresi
dada boleh bersamaan dengan perbaikan jalan nafas karena reposisi mouth-to-mouth atau
penyediaan bag-mask apparatus mengambil waktu. CPR yang dimulai dengan kompresi
30 kali dan kemudian ventilasi 2 kali mempercepat kompresi.
Posisikan kepala dalam keadaan terlentang pada alas keras. Periksa jalan nafas korban
dengan membuka mulut, masukkan 2 jari dan lihat jika ada benda asing atau darah. Pada
korban tidak sadar, tonus otot menghilang sehingga lidah menyumbat laring. Lidah yang
jatuh dapat menyebabkan jalan nafas tertututp. Triple manuver dilakukan yaitu dengan
head tilt, dan jaw trust untuk membuka jalan napas.
RESCUER SPECIFIC CPR STRATEGIES
1

Untrained lay rescuer


Untuk orang awam yang tidak berpengalaman, hands only CPR adalah sangat
digalakkan dimana hanya kompresi dada yang dilakukan.

Trained lay recuer


Harus memberikan kompresi dada untuk korban SCA dan jika penolong cemas boleh
memberi ventilasi, maka perbandingan 30:2 dapat dilakukan.
Healthcare Provider
Resusitasi yang diberikam selalu tergantung kasus yang dihadapai. Contohnya, jika
terlihat korban jatuh secara tiba-tiba, asumsi yang pertama karena SCA. Jika ada
korban yang lemas atau korban yang mempunyai obstruksi jalan pernapasan dan
mengalami kurang kesadaran, CPR juga diberikan. Ini dimulai dengan kompresi dada
sebanyak 30 kali dan diteruskan dengan ventilasi. Jika menemukan korban yang tidak
responsif atau tidak bernafas, asumsi SCA selalu dilakukan. 2010 AHA GUIDELINES
25

FOR CPR AND ECC juga mengurangkan penekanan terhadap pemeriksaan


pernafasan. Ini karema banyak yang tidak dapat mendeterminasi jika korban
mempunyai pernafasan yang adekuat atau tidak. Untuk pemeriksaan nadi, hal yang
juga diterapkan. Ini adalah karena pemeriksaan nadi mungkin mengambil waktu yang
lama, untuk orang waham maupun untuk orang yang sudah terlatih. Makanya, jika
6

nadi tidak dapt dirasakan dibawah 10 detik, maka kompresi dada dilakukan terus.
Bantuan Hidup Lanjut

Drugs
Bantuan hidup lanjut berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi
dan oksigenasi korban dan pada diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti
jantung. Bantuan hidup dasar memerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat. Harus segera
dimulai bila diagnosis henti jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai bantuan
hidup lanjut diberikan. Setelah dilakukan CBA RJP dan belum timbul denyut jantung spontan,
maka resusitasi diteruskan dengan langkah DEF.
Obat-obatan tersebut dibagi dalam 2 golongan yaitu,
1. Penting, yaitu : Adrenalin
Natrium bikarbonat
Sulfat Atropin
Lidokain
2. Berguna, yaitu : Isoproterenol
Propanolol
Kortikosteroid. (5)

Natrium bikarbonat
Penting untuk melawan metabolik asidosis, diberikan iv dengan dosis awal : 1 mEq/kgBB, baik
berupa bolus ataupun dalam infus setelah selama periode 10 menit. Dapat juga diberikan
intrakardial, begitu sirkulasi spontan yang efektif tercapai, pemberian harus dihentikan karena
26

bisa terjadi metabolik alkalosis, takhiaritmia dan hiperosmolalitas. Bila belum ada sirkulasi yang
efektif maka ulangi lagi pemberian dengan dosis yang sama.
Adrenalin
Adrenalin : 0,5 1,0 mg dosis untuk orang dewasa, 10 mcg/ kg pada anak- anak. Cara
pemberian : iv, intratrakeal lewat pipa trakeal (1 ml adrenalin diencerkan dengan 9 ml akuades
steril, bukan NaCl, berarti dalam 1 ml mengandung 100 mcg adrenalin). Jika keduanya tidak
mungkin : lakukan intrakardial (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih).
Di ulang tiap 5 menit dengan dosis sama sampai timbul denyut spontan atau mati jantung.
Mekanisme kerja merangsang reseptor alfa dan beta dan yang perlu diperhatikan dapat
meningkatkan pemakaian O2 myocard, takiaritmi, fibrilasi ventrikel.
Lidokain
Meninggikan ambang fibrilasi dan mempunyai efek antiaritmia dengan cara meningkatkan
ambang stimulasi listrik dari ventrikel selama diastole. Pada dosis terapeutik biasa, tidak ada
perubahan bermakna dari kontraktilitas miokard, tekanan arteri sistemik, atau periode refrakter
absolut. Obat ini terutama efektif menekan iritabilitas sehingga mencegah kembalinya fibrilasi
ventrikel setelah defibrilasi yang berhasil, juga efektif mengontrol denyut ventrikel prematur
yang mutlti fokal dan episode takhikardi ventrikel. Dosis 50-100 mg diberikan iv sebagai bolus,
pelan-pelan dan bisa diulang bila perlu. Dapat dilanjutkan dengan infus kontinu 1-3 mg.menit,
biasanya tidak lebih dari 4 mg.menit, berupa lidocaine 500 ml dextrose 5 % larutan (1 mg/ml).
Sulfat Artopin
Mengurangi tonus vagus memudahkan konduksi atrioventrikuler dan mempercepat denyut
jantung pada keadaan sinus bradikardi. Paling berguna dalam mencegah arrest pada keadaan
sinus bradikardi sekunder karena infark miokard, terutama bila ada hipotensi. Dosis yang
dianjurkan mg, diberikan iv. Sebagai bolus dan diulang dalam interval 5 menit sampai tercapai
denyut nadi > 60 /menit, dosis total tidak boleh melebihi 2 mg kecuali pada blok atrioventrikuler
derajat 3 yang membutuhkan dosis lebih besar.
Isoproterenol
27

Merupakan obat pilihan untuk pengobatan segera (bradikardi hebat karena complete heart block).
Ia diberikan dalam infus dengan jumlah 2 sampai 20 mg/menit (1-10 ml larutan dari 1 mg dalam
500 ml dectrose 5 %), dan diatur untuk meninggikan denyut jantung sampai kira-kira 60
kali/menit. Juga berguna untuk sinus bradikardi berat yang tidak berhasil diatasi dengan
Atropine.
Propranolol
Suatu beta adrenergic blocker yang efek anti aritmianya terbukti berguna untuk kasus-kasus
takhikardi ventrikel yang berulang atau fibrilasi ventrikel berulang dimana ritme jantung tidak
dapat diatasi dengan Lidocaine. Dosis umumnya adalah 1 mg iv, dapat diulang sampai total 3
mg, dengan pengawasan yang ketat.
Kortikosteroid
Sekarangg lebih disukai kortikosteroid sintetis (5 mg/kgBB methyl prednisolon sodium succinate
atau 1 mg/kgBB dexamethasone fosfat) untuk pengobatan syok kardiogenik atau shock lung
akibat henti jantung. Bila ada kecurigaan edema otak setelah henti jantung, 60-100 mg methyl
prednisolon sodium succinate tiap 6 jam akan menguntungkan. Bila ada komplikasi paru seperti
pneumonia post aspirasi, maka digunakan dexamethason fosfat 4-8 mg tiap 6 jam.
EKG
Diagnosis elektrokardigrafis untuk mengetahui adanya fibrilasi ventrikel dan monitoring.
Fibrillation Treatment
Tindakan defibrilasi untuk mengatasi fibrilasi ventrikel. Elektroda dipasang sebelah kiri putting
susu kiri dan di sebelah kanan sternum atas.
Keputusan untuk mengakhiri resusitasi
Keputusan untuk memulai dan mengakhiri usaha resusitasi adalah masalah medis, tergantung
pada pertimbangan penafsiran status serebral dan kardiovaskuler penderita. Kriteria terbaik
adanya sirkulasi serebral dan adekuat adalah reaksi pupil, tingkat kesadaran, gerakan dan
pernafasan spontan dan refleks. Keadaan tidak sadar yang dalam tanpa pernafasan spontan dan
28

pupil tetap dilatasi 15-30 menit, biasanya menandakan kematian serebral dan usaha-usaha
resusitasi selanjutnya biasanya sia-sia. Kematian jantung sangat memungkinkan terjadi bila tidak
ada aktivitas elektrokardiografi ventrikuler secara berturut-turut selama 10 menit atau lebih
sesudah RJP yang tepat termasuk terapi obat.

29