Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Placenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
yaitu di atas dan dekat tulang cerviks dalam dan menutupi sebagian atau seluruh ostium
uteri internum. Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4 0,6 % dari keseluruhan
persalinan.
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada
keadaan normal plasenta terletak di bagian atas uterus.
(Prawirohardjo, S., Wiknjosastro, H., dan Sumapraja, S. 2009)
Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen
bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium
uteri internum).
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus, baik
posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta yang sempurna menutupi os
serviks (Varney, 2007)
B. Etiologi
Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang
meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas sesar
atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda,
pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim.
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan keadaan yang endometriumnya
kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang baiknya vaskularisasi desidua.
Keadaan ini bias ditemukan pada :
1. Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek.
2. Mioma uteri.
3. Kuretasi yang berulang.
4. Umur lanjut.
5. Bekas seksio sesarea.

6. Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau pemakaian
kokain.
Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan dikompensasi dengan
hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada perokok berat (lebih dari 20 batang sehari).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh
menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan
mendekati atau menutup ostium uteri internum.
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari tempat implantasi
yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat ostiumuteri internum. Plasenta previa
juga dapat terjadi plasenta yang besar dari yang luas, seperti pada eritroblastis, diabetes
mellitus, atau kehamilan multiple (Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, 2005).
C. Patologi
a)

Lokasi implantasi dan ukuran placenta saling terkait. Secara rinci, karena sirkulasi pada
segmen bawah sdikit lebih baik daripada fundus, placenta previa mungkin butuh untuk
menutupi area yang lebih besar untuk efisiensi yang adekuat. Permukaan placenta
previa mungkin lebih besar setidak-tidaknya 30% lebih besar daripada placenta yang
terimplantasi di fundus.

b)

Segmen bagian bawah relatif tanpa kontraksi dan perdarahan pantas dipertimbangkan
pada pembukaan sinus.

c)

Infeksi ascending dari vagina dapat menyebabkan placentitis, terutama di daerah pajana
atau di atas tulang.

d)

Placenta previa dapat terdorong miring, melintang, presentasi dan mencegah perikatan
pada keadaan fetal.

D. Manifestasi Klinis
a)Rasa tak sakit, perdarahan uteri, terutama pada trimester ketiga.
b)

Jarang terjadi pada episode pertama kejadian yang mengancam kehidupan atau

menyebabkan syok hipovolemik.


c)Kira-kira 7% dari placenta previa tanpa gejala dan merupakan suatu temuan yang
kebetulan pada scan ultrasonik.
d)

Beberapa adalah jelmaan untuk pertama kali, saat uteri bawah merentang dan

tipis, saat sobek dan perdarahan terjadi di lokasi implantasi bawah.

e)Placenta previa mungkin tidak menyebabkan perdarahan hingga kelahiran mulai atau
hinga terjadi dilatasi lengkap. Perdarahan awal terjadi dan berlebih-lebih pada total
previa. Perdarahan yang merah terang mungkin terjadi secara intermitten, saat pancaran,
atau lebih jarang, mungkin jugaberlanjut. Ini mungkin berawal saat wanita sedang
istirahat atau di tengah-tengah aktifitas. Kebetulan kejadian ini tidak pernah terjadi
kecuali jika dilakukan pengkajian vaginal atau rektal memulai perdarahan dengan kasar
sebelum atau selama awal kehamilan.
f)Sikap yang tak terpengaruh oleh placenta previa adalah rasa sakit. Bagaimanapun jika
perdarahan yang pertama bersamaan dengan serangan kelahiran, wanita mungkin
mengalami rasa tak nyaman karena kontraksi uterus.
g)

Pada pengkajian perut, jika fetus terletak longitudinal, ketinggian fundus biasanya

lebih besar dari yang diharapkan untuk umur kehamilannya karena placenta previa
menghalangi turunnya bagian-bagian janin.
h)

Manuver leopod mungkin menampakkan fetus pada posisi miring atau melintang

karena abnormalitas lokasi implantasi placenta.


i) Seperti kaidah, fetal distress atau kemayian janin terjadi hanya jika bagian penting
placenta previa terlepas dari desidua basilis atau jika ibu menderita syok hipovolemik.
E. Klasifikasi
Placenta previa dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu :
1. Marginal placenta previa
Plasenta tertanam pada satu tepi segmen rahim bawah dekat dengan tulang.
2. Incomplete / Parsial placenta previa
Menyiratkan penutupan tak sempurna
3. Total / Complete placenta previa
Seluruhnya tulang dalam tertutup oleh placenta, saat cervik sepenuhnya berdilatasi
4. Implantasi rendah / low-lying implantasi
Digunakan saat placenta diposisikan pada segmen bawah rahim yang lebih rendah tapi
jauh dari tulang

F. Pemeriksaan Penunjang
1.

USG (Ultrasonographi)
Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi
cervik tidak biasa diungkapkan

2. Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh
janin.
3. Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam batas
normal.
4. Pengkajian vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika
memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu).
Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double
setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan
kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
5. Isotop Scanning
Atau lokasi penempatan placenta.
6. Amniocentesis
Jika 35 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk
menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran
phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan
jika paru-paru fetal sudah mature.Pencegahan
G. Penatalaksanaan
1. Terapi ekspektatif
a. Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir prematur, pasien
dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis servisis. Upaya
diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilaksanakan secara
ketat dan baik. Syarat pemberian terapi ekspektatif :
1)

Kehamilan
perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.

preterm

dengan

2)

Belum ada tanda-tanda in partu.

3)

Keadaan umum ibu cukup baik


(kadar hemoglobin dalam batas normal)

4)

Janin masih hidup.

b. Rawat inap, tirah baring, dan berikan antibiotik profilaksis.


c. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta, usia
kehamilan, profil biofisik, letak, dan presentasi janin.
d. Berikan tokolitik bila ada kontriksi :
a)

MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr


tiap 6 jam

b)

Nifedipin 3 x 20 mg/hari

c)

Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk


pematangan paru janin

e. Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari test
amniosentesis.
f. Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih berada di sekitar
ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas sehingga perlu
dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan
gawat darurat.
g. Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 mingu masih lama, pasien
dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila rumah pasien di luar kota
dan jarak untuk mencapai RS lebih dari 2 jam) dengan pesan segera kembali ke
RS apabila terjadi perdarahan ulang.
2. Terapi aktif (tindakan segera)
a. Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan
banyak harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
b. Untuk diagnosis placenta previa dan menentukan cara menyelesaikan persalinan,
setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDOM jika :
1. Infus / tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap
2. Kehamilan 37 minggu (BB 2500 gram) dan in partu
3. Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal : anensefali)

4. Perdarahan dengan bagian terbawah jsnin telah jauh melewati PAP (2/5 atau 3/5
pada palpasi luar)
Cara menyelesaikan persalinan dengan placenta previa adalah :
1.

Seksio Cesaria (SC)


c. Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga
walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap dilakukan.
d. Tujuan SC antara lain :
1. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan
menghentikan perdarahan
2. Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri, jika janin
dilahirkan pervaginam
e. Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga cervik uteri
dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek. Selain itu, bekas tempat
implantasi placenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan
vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.
f. Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu
g. Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan, infeksi, dan
keseimbangan cairan dan elektrolit.

2.

Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
h. Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan pembukaan >
3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent akan mengikuti
segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada
atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.
i. Versi Braxton Hicks

Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade placenta


dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang
masih hidup.
j. Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian diberi beban secukupnya
sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan placentadan
seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya
dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
b. Pengumpulan data
1) Anamnesa
a. Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan,
alamat, medicalrecord dll.
b. Keluhan utama: Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28
minggu/trimester III.
a) Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
b) Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek; terbentuknya
SBR, terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal.
c) Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan
pembuluh darah dan placenta.
c. Inspeksi
a) Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.

b) Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.


d. Palpasi abdomen
a) Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
b) Sering dijumpai kesalahan letak
c) Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala
masih goyang/floating
2) Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Obstetri
Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar
perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilansekarang.
Riwayat obstetri meliputi:
1) Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)
2) Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi
3) Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong
persalinan
4) Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
5) Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan perdarahan.
6) Komplikasi pada bayi
7) Rencana menyusui bayi
b. Riwayat mensturasi
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). TP
ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP
berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh,
bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan.
c. Riwayat Kontrasepsi
Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, atau
keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada saat
kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut
pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan
organ seksual pada janin.
d. Riwayat penyakit dan operasi:

Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek
buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi,
dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di dokumentasikan
e. Riwayat Psikososial
Pasien akan merasa cemas oleh karena kawatir akan kehamilan ibu dan bayinya
takut akan dioprasi takut apabila gambaran dirinya berubah serta biaya oprasi dan
perawatannya
f. Pola aktivitas sehari-hari
Pola aktivitas sehari-hari akan terganggu karena pendarahan pasien harus bedrest
dan setelah operasi masih terdapat efek anastesi serta adanya perlukaan operasi
yang menimbulkan nyeri
3) Pemeriksaan fisik
a. Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
1) Rambut dan kulit
a) Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
b) Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
c) Laju pertumbuhan rambut berkurang.
1) Mata : pucat, anemis
2) Hidung
3) Gigi dan mulut
4) Leher
5) Buah dada / payudara
a. Peningkatan pigmentasi areola putting susu
b. Bertambahnya ukuran dan noduler
6) Jantung dan paru
a) Volume darah meningkat
b) Peningkatan frekuensi nadi
c) Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah
pulmonal.
d) Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.

e) Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.


f) Diafragma meningga.
g) Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
7) Abdomen
a) Menentukan letak janin
b) Menentukan tinggi fundus uteri

8) Vagina
a) Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda
Chandwick)
b) Hipertropi epithelium
9) System musculoskeletal
a) Persendian tulang pinggul yang mengendur
b) Gaya berjalan yang canggung
c) Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis
rectal
b. Khusus
1) Tinggi fundus uteri
2) Posisi dan persentasi janin
3) Panggul dan janin lahir
4) Denyut jantung janin
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan
2. Resti infeksi b.d insisi luka operasi
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d syok hipovolemik
4. Resti fetal distress b.d terlepasnya placenta
5. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan
6. Resti konstipasi b.d penurunan peristaltik usus
7. Perubahan pola peran b.d adanya anggota keluarga baru
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
Tujuan : Rasa nyeri pasien berkurang atau hilang

Kriteria Hasil :
a. Klien tidak gelisah,
b. skala nyeri 1 2, tanda vital normal.
Intervensi :
1) Kaji karakristik, skala, lokasi, intensitas, dan frekuensi nyeri.
Rasional : untuk mengukur tingkatan nyeri dan untuk menindak lanjuti asuhan
keperawatan
2) Monitor tanda vital pasien.
Rasional : untuk mengetahui tanda-tanda adanya infeksi
3) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri klien dengan menarik nafas saat nyeri
muncul
4) Berikan lingkungan tenang dan nyaman
Rasional : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
5) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik
Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.
2. Resiko tinggi infeksi berhubungandengan insisi luka operasi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil:
a. Limfosit dalam batas normal,
b. tanda vital normal dan tidak ditemukan tanda infeksi.
Intervensi :
1) Kaji lokasi dan luas luka.
Rasional : untuk mengetahui lokasi luka yang muncul pada klien
2) Pantau jika terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, dan perubahan fungsi).
Rasional : untu mengetahui lokasi insisi luka
3) Pantau tanda vital klien
Rasional : mengetahui keadaan klien dan memudahkan tindakan selanjutnya
4) Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasional : untuk menentukan terapi yang sesuai pada klien.
5) Ganti balut dengan prinsip steril.
Rasional : mencegah terjadinya infeksi pada luka
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan
dilakukan
Tujuan : Ansietas berkurang dan dapat diatasi
Intervensi :
1) Jelaskan prosedur, intervensi dan tindakan yang dilakukan pada pasien.
Rasional :membantu dalam memahami kebutuhan terhadap prosedur ini.
2) Pertahankan komunikasi terbuka, diskusikan kemungkinan efek samping dan
hasil, pertahankan sikap optimis.
Rasional : informasi yang tepat akan mengurangi cemas pada klien.
3) Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya

Rasional : klien dan keluarganya akan mersa tenang dan dapat mengurangi rasa
cemas.
4) Libatkan pasangan / keluarga untuk mendampingi pasien.
Rasional : klien akan merasa tenang.
5) Kolaborasi dengan dokter pemberian sedatif bila tindakan lain tidak berhasil.
Rasional : sebagai langkah tindakan yang selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bagus,Ida. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan & Keluarga Berencana untuk pendidika
kebidanan.EGC : Jakarta
Mansjoer, Arif. 2001. KapitaSelekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan
Maternal/Bayi, edisi kedua. EGC. Jakarta.
Mitaya.2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Mochtar, Rustam.Sinopsis Ostetri.Jakarta. EGC


Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta