Anda di halaman 1dari 21

PENGUKURAN KECEPATAN GAS DALAM CEROBONG

MODUL 5
Nama praktikan

: Abda Malika Mulki

NIM

: 15313023

Kelompok/Shift

: X /13.00-14.00

Tanggal Praktikum

: Kamis, 20 November 2014

Tanggal Pengumpulan : Kamis, 27 November 2014


PJ Modul

: Kenny Wonosantoso

Asisten yang Bertugas : Seshana Junisa Aviananda

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

I.

Tujuan
1. Mengetahui metode pengukuran aliran gas dalam cerobong.
2. Menentukan koefisien kalibrasi pitot S.
3. Menghitung kecepatan dan debit aliran gas dalam terowongan angin.

II.

Prinsip Dasar

Pada percobaan ini akan dicari kecepatan aliran gas dalam cerobong menggunakan alat bernama
wind tunnel. Kecepatan aliran gas didapatkan dari selisih tekanan total dengan tekanan statis
pada wind tunnel. Tekanan di luar cerobong dihitung dengan barometer sedangkan tekanan di
dalam cerobong dihitung dengan menggunakan manometer yang dihubungkan dengan tabung
pitot standard dan S. tekanan udara di luar dan dalam cerobong merupakan tekanan dinamis dari
gas yang melalui wind tunnel sehingga melalui tekanan terukur kita dapat menghitung kecepatan
aliran gas. Dengan mengetahui kecepatan aliran pada semua titik transverse point kita dapat
mengetahui profil aliran. Metode yang digunakan untuk menentukan transverse point adalah
EPA method-1 dan untuk menentukan kecepatan digunakan EPA Method-2.
III.

Teori Dasar

Fluida kompresibel (fase gas) memiliki berbagai karakteristik fisik dan kimia yang berbeda
dengan fluida inkompresibel (contohnya air). Perbedaan fluida kompresibel dan fluida
inkompresibel pada kondisi tertentu diantaranya adalah faktor pengaruh tekanan dan temperatur.
Pada fluida kompresibel, headloss yang terjadi dapat bernilai tidak seragam, penurunan energi,
penurunan tekanan menyebabkan penurunan kerapatan massa. Sehingga perhitungan aliran
fluida kompresibel lebih kompleks dari fluida inkompresibel. Untuk mempermudah perhitungan,
sejumlah asumsi umumnya digunakan, seperti halnya gas diasumsikan sebagai fluida ideal, satu
dimensi, perubahan ketinggian diabaikan, dan tidak ada usaha eksternal pada dan dari fluida
kompresibel yang mengalir.
Kecepatan aliran gas buang dalam cerobong dapat dihitung berdasarkan perbedaaan antara
tekanan total dengan tekanan statis. Tekanan adalah gaya per satuan luas yang dihasilkan akibat

pergerakan molekul gas. Dalam pengukuran gas buang, tekanan dibedakan antara tekanan
barometrik, tekanan statis, dan tekanan kecepatan.
a.

Tekanan barometrik adalah tekanan atmosfer dimana sampling dan analisis gas buang

dilaksanakan.
b.

Tekanan kecepatan (dinamis) adalah tekanan yang disebabkan adanya aliran gas (selisih

antara tekanan total dengan tekanan statis)


c.

Tekanan statis adalah selisih antara tekanan gas dan tekanan barometrik.

Pengukuran kecepatan gas dalam cerobong diatur dalam EPA Method-2. Sedangkan
penentuan jumlah transverse point dan lokasinya diatur dalam EPA Method-1 baik untuk
partikulat ataupun non-partikulat. Hal ini penting untuk mendapatkan hasil sampling yang
representatif, khususnya untuk partikulat yang harus disampling dalam kondisi isokinetik.

Gambar 1. Komponen Tekanan Gas dalam Cerobong

Gambar 2. Contoh Lokasi Transverse Point

Gambar 3. Diagram Penentuan Jumlah Transverse Point untuk Non-Partikulat

Gambar 4. Diagram Penentuan Jumlah Transverse Point untuk Partikulat


Alat yang umum digunakan diantaranya adalah barometer untuk mengukur tekanan
barometrik, sedangkan untuk mengukur tekanan statis, tekanan kecepatan dan tekanan total
dalam cerobong digunakan tabung Pitot S (Stausscheibe Pitot Tube) yang dihubungkan
dengan manometer.

Tabung Pitot S harus dikalibrasi dengan menggunakan pitot standar di dalam suatu wind tunnel.
Untuk mengkalibrasi pitot S terhadap pitot standar, susunan peralatan yang diperlukan
ditunjukkan sebagai berikut.

Gambar 8. Susunan Peralatan Kalibrasi Pitot S dengan Pitot Standar


Koefisien kalibrasi Pitot S (Cp) terhadap Pitot Standar yang dapat diterima adalah
yang mendekati nilai 0,84.
Menghitung kecepatan aliran gas (Vs)

+ Pstat
P

T gas x P
.....equation 3.1
( M gas ]

Vs=C p x K p x
P=P totalPstatis .....equation 3.2
Menghitung debit aliran gas (Qs)

+ Pstat
P

.....equation 3.3
T std( T gas iPstd )

Q=3600( 1B H 2O )V siAi

Menghitung koefisien kalibrasi pitot S


C p =0,99

P pitot standar
.....equation 3.4
P pitot S

Menghitung diameter ekivalen (Dc)


De =

2LW
.....equation 3.5
L+W

Dimana:
Vs = Kecepatan aliran gas (m/s)
Qs = Laju aliran gas pada kering, temperatur dan tekanan standar
Cp = Koefisien kalibrasi untuk pitot S

Kp = Koefisien untuk pitot standar (0,99 - 1,00)


Tgas = Temperatur gas
Tstd = Tekanan standar (298K)
D Pp = Tekanan kecepatan
Pstat = Tekanan statis
Pstd = Tekanan standar (1 atm )
Mgas = Berat molekul gas (tergantung komposisi udara, asumsi 29 kg/kmol)
A = Luas penampang cerobong
BH2O = Fraksi volume uap air (0,22)
Dc = Diameter ekuivalen
L, W = Dimensi cerobong (pada bentuk persegi)

IV.

DATA DAN PERHITUNGAN


4.1 Tabel Data
Parameter
Tekanan barometrik (Pbar)
Temperatur gas (Tgas)
Panjang sisi cerobong (L)
Lebar sisi cerobong (W)

Hasil Pengukuran
712,43
301,7
11,4
12,5

Satuan
mmHg
K
m
m

4.2 Data Kalibrasi Pitot S dengan Pitot Standar


a. Tabel Hasil Pengukuran Tekanan dengan Menggunakan Pitot Standar (cmH2O) (Tabel A)
Posisi

Ptotal

Pstatis ( mmH2O)

Pkecepatan (mmH2O)

4
5
6

(mmH2O)
13
17
12

1
1
1

12
16
11
P=13

b. Tabel Hasil Pengukuran Tekanan dengan Menggunakan Pitot S Kaki A (cmH2O) (Tabel B)
Posis
i
4
5
6

Ptotal
(mmH2O)
20
20
21

Pstatis

Pkecepatan

CP ave

(mmH2O)
16
17
17

(mmH2O)
4
3
4
P=3,667

1,864

c. Tabel Hasil Pengukuran Tekanan dengan Menggunakan Pitot S Kaki B (cmH2O) (Tabel C)
Posis

Ptotal

Pstatis

Pkecepatan

CP ave B

i
4
5
6

(mmH2O)
57
57
54

(mmH2O)
34
32
32

(mmH2O)
23
25
22
P=23,33

0,74

4.4 Data Penentuan Kecepatan dalam Cerobong


Titik
1
2
3
7
8
9

Ptotal
(mmH2O)
50
52
52
51
54
53

Pstatis(mmH2O
)
32
33
32
34
33
33

Tabel dan Hasil Perhitungan


Titi
k
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Ptotal
(mmH2O)
50
52
52
57
57
54
51
54
53

Pstatis
(mmH2O)
31
31
32
34
32
32
34
33
33

Pkecepatan
(mmH2O)
19
21
20
23
25
22
17
21
20

Vs (m/s)

Q (m3/s)

3,690273919
3,8796402
3,78594641
4,059557632
4,232816766
3,970734093
3,490111116
3,879241124
3,785751696

15,23999853
16,02203854
15,63671287
16,7702313
17,48237646
16,39992281
14,41781987
16,0236868
15,63751712

4.6 Pengolahan Data


4.6.1 Perhitungan Tekanan Kecepatan pada Pitot Standard
P=Ptotal P statis
1. Posisi 4
P=PtotalP statis =13 mm H 2 O1 mm H 2 O=12m m H 2 O
2. Posisi 5
P=PtotalP statis =17 mm H 2 O1 m m H 2 O=16 mm H 2 O
3. Posisi 6
P=PtotalP statis =12m m H 2 O1 mm H 2 O=11m m H 2 O

4.6.2 Perhitungan Tekanan Kecepatan dan Koefisien Pitot Pada Pitot S Kaki A
P=Ptotal P statis

C p ave=0,99 x

Pstd
P

0,5

( )

1. Posisi 4
P=PtotalP statis =20 mm H 2 O16 m m H 2 O=4 mm H 2 O
2. Posisi 5
P=PtotalP statis =20 mm H 2 O17 m m H 2 O=3 m m H 2 O
3. Posisi 6
P=PtotalP statis =21m m H 2 O17 cm H 2 O=4 m m H 2 O

C p ave=0,99 x

Pstd
P

0,5

( )

=0,99 x

1,3
0,3667

0,5

= 1,864

4.6.3 Perhitungan Tekanan Kecepatan dan Koefisien Pitot Pada Pitot S Kaki B
P=Ptotal P statis

C p =0,99 x

P std
P

( )

0,5

1. Posisi 4
P=PtotalP statis =57 mm H 2 O34 mm H 2 O=2 3 m m H 2 O
2. Posisi 5
P=PtotalP statis =57 mm H 2 O32 mm H 2 O=25 mm H 2 O
3. Posisi 6
P=PtotalP statis =54 mm H 2 O32m m H 2 O=22 mm H 2 O

C p ave =0,99 x

Pstd
P

0,5

( )

=0,99 x

1,3
2,333

0,5

=0 , 74

Karena nilai CpA lebih mendekati 0,84 (koefisien referensi), maka nilai CP yang
dipakai adalah CpA.

4.6.4 Perhitungan Kecepatan Aliran Gas


+ P stat
P

( x M gas )
T gas x P

V si =C p x K p x
1. Posisi 1

+ P stat
P

x
M
=3,690273919
m/ s
( gas )
T gas x P

V s 1=C p x K p x
2. Posisi 2

+ Pstat
P

( x M gas ) =3,8796402m/ s
T gas x P

V s 2=C p x K p x

3. Posisi 3

+ Pstat
P

( x M gas ) =3,78594641m/ s
T gas x P

V s 3=C p x K p x

4. Posisi 4

+ P stat
P

x
M
=4,059557632
m/s
( gas )
T gas x P

V s 4 =C p x K p x

5. Posisi 5

+ P stat
P

( x M gas ) =4,232816766 m/s


T gas x P

V s 5 =C p x K p x

6. Posisi 6

+ P stat
P

x
M
=3,970734093
m/ s
( gas )
T gas x P

V s 6=C p x K p x
7. Posisi 7

+Pstat
P

( x M gas ) =3,490111116m/ s
T gas x P

V s 7=C p x K p x

8. Posisi 8

+Pstat
P

( x M gas ) =3,879241124 m/ s
T gas x P

V s 8=C p x K p x

9. Posisi 9

+P stat
P

x
M
=3,785751696
m/s
( gas )
T gas x P

V s 9=C p x K p x

4.4.5 Perhitungan Debit Gas


+ P stat
P

T std x
Qi=3600 x ( 1B H 2 O ) x V si x A x
1. Posisi 1

+ Pstat
P

T std x
Q1=3600 x ( 1B H 2 O ) x V s 1 x A x
2. Posisi 2
+ Pstat
P

T std x
Q2=3600 x ( 1B H 2 O ) x V s 2 x A x
3. Posisi 3
+ Pstat
P

T std x
Q3=3600 x ( 1B H 2 O ) x V s3 x A x
4. Posisi 4
+ P stat
P

T std x
Q4 =3600 x ( 1B H 2 O ) x V s 4 x A x
5. Posisi 5
+ Pstat
P

T std x
Q5=3600 x ( 1B H 2 O ) x V s5 x A x
6. Posisi 6
+ Pstat
P

T std x
Q6=3600 x ( 1BH 2 O ) x V s 6 x A x
7. Posisi 7

+ Pstat
P

T std x
Q7=3600 x ( 1B H 2 O ) x V s7 x A x
8. Posisi 8
+ Pstat
P

T std x
Q8=3600 x ( 1B H 2 O ) x V s 8 x A x
9. Posisi 9
+ Pstat
P

T std x
Q9=3600 x ( 1BH 2 O ) x V s 9 x A x

4.4.6 Perhitungan Diameter Ekuivalen


2 x L x W 2 x 0,114 m x 0,125 m
De=
=
=0,119246862 m
L+W
0,114 m+ 0,125 m

V.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Untuk menentukan titik lintasan pengukuran pada wind tunnel, digunakan EPA
Method-1 berdasarkan data diameter cerobong dan jarak lubang sampling dari belokan.
Pada percobaan ini, didapat 9 titik sample pada wind tunnel. Pompa dioperasikan untuk
mengalirkan udara di dalam wind tunnel. Setelah udara mengalir, suhu awal dan tekanan
gas dalam wind tunnel diukur dengan menggunakan thermocouple.
Selanjutnya, tiga titik dari transverse point yang telah ditentukan, yakni titik 4, 5,
dan 6, dijadikan titik sample untuk menghitung koefisien pitot S atau C p. Perhitungan
dilakukan dengan mengukur tekanan total dan tekanan statis dengan menggunakan
manometer yang dihubungkan dengan pitot standar dan kaki pitot S yang telah
dikalibrasi. Dari kedua tekanan tersebut, didapat nilai dari tekanan kecepatan P, dimana:
P=P totalPstatis
yang merupakan tekanan dinamis. Sebelum pompa dinyalakan, terdapat gas dalam
keadaan diam yang juga memberikan tekanan pada wind tunnel. Ketika pompa
dinyalakan dan gas mengalir, tekanan dalam cerobong berubah karena adanya tekanan
dari gas yang mengalir. Oleh karena itu, tekanan dinamis dari gas yang bergerak
merupakan selisih dari tekanan total dan tekanan statis gas.
Dari nilai tekanan dinamis di atas, perhitungan C p dilakukan dengan menggunakan
rumus:

C p =0,99 x

P std
P

( )

0,5

Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai C p untuk kaki A dari pitot S sebesar 1,864 dan kaki
B sebesar 0,74. Kaki pitot yang terpilih adalah kaki B karena nilainya paling mendekati
nilai Cp referensi, yaitu sebesar 0,84.
Dengan menggunaan kaki pitot S terpilih, yakni kaki B, besarnya tekanan gas di
semua transverse point dihitung. Data tekanan gas yang tercatat digunakan untuk
menghitung kecepatan gas dalam cerobong dengan menggunakan persamaan dalam EPA
Method-2, yaitu:
+P stat
P

x
M
( gas )
T gas x P

V si =C p x K p x

Besarnnya tekanan yang terukur memiliki satuan cmH 2O sehingga harus dikonversi

menjadi mmHg dengan mengalikannya sebesar

10
13,6 . Kp merupakan konstanta

kecepatan sebesar 34,97, Pbar merupakan tekanan barometrik yang terukur sebesar
712,4344 mmHg, dan Mgas merupakan berat molekul gas sebesar 29 g/g mol yang
merupakan massa udara relatif dengan kandungan gas dominan berupa N2 dan O2.
Debit gas yang mengalir dapat diukur dengan menggunakan persamaan:
+ P stat
P

T std x
Qi=3600 x ( 1B H 2 O ) x V si x A x
dimana BH2O adalah fraksi volume uap air senilai 0,22, Tstd adalah temperatur standar
sebesar 298 K, dan P std adalah tekanan standar sebesar 760 mmHg. Dimensi penampang
cerobong adalah 0,114 m untuk panjang dan 0,125 m untuk lebar. Setelah pengambilan
data selesai, suhu akhir gas yang mengalir dihitung untuk mendapatkan suhu rata-rata
dari gas selama percobaan.
Dari

hasil

perhitungan,

didapatkan

profil

pengamatan/transverse point sebagai berikut

kecepatan

gas

berdasarkan

titik

Berdasarkan diagram profil kecepatan gas di atas, dapat dilihat bahwa kecepatan tertinggi
berada di titik 5. Kecepatan terendah berada di titik 1 dan semakin lama meningkat

hingga mencapai puncaknya di titik 5. Dari profil kecepatan gas diatas puncak kecepatan
yang didapat sudah mendekati kondisi ideal yaitu puncak kecepatan berada di tengahtengah penampang wind tunnel. Pada posisi titik yang lain, udara mengalami gesekan
dengan dinding bagian dalam cerobong sehingga menghambat lajunya dan mengurangi
kecepatan di titik-titik tersebut.
Nilai Cp dari kaki pitot S yang mendekati nilai Cp referensi adalah kaki B dengan
nilai Cp sebesar 0,74 yang merupakan koefisien kalibrasi kaki pitot. Nilai ini cukup
berbeda dari nilai Cp referensi yang digunakan dalam EPA Method-2 sebesar 0,84.
Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan oleh ketepatan pengukuran tekanan dinamis
pada pitot standar dan pitot S yang merupakan faktor utama dalam menghitung nilai Cp.
Kesalahan dalam praktikum ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama,
lubang pada cerobong tidak tertutup sempurna ketika pengukuran tekanan dengan
menggunakan pitot dilakukan sehingga udara keluar dan mempengaruh pengukuran
tekanan gas oleh manometer. Pada titik
Kedua, ketidaktelitian pada pembacaan manometer oleh pengamat karena
perubahan tinggi yang tidak signifikan pada titik-titik pengamatan yang berbeda sehingga
mempengaruhi hasil perhitungan. Ketiga, pitot tidak berada tepat di koordinat titik yang
telah ditetapkan sehingga pembacaan tekanan udara tidak berada tepat di titik yang
dimaksud. Pitot juga dapat berada pada keadaan yang tidak stabil saat pembacaan
manometer dilakukan sehingga titik pengamatan pun menjadi tidak tepat.
b. APLIKASI DALAM BIDANG TEKNIK LINGKUNGAN
Dalam bidang Teknik Lingkungan, pengukuran kecepatan gas dalam pipa dapat
digunakan untuk mengukur kecepatan gas buangan industri, baik yang mengandung
partikulat maupun tidak. Apabila gas buangan tersebut mengandung polutan yang dapat
membahayakan penduduk di sekitar industri tersebut maupun pekerjanya, tingkat
penyebaran zat berbahaya tersebut dapat diukur dan diperkirakan seberapa besar
dampaknya.
Aplikasi dalam percobaan ini dapat juga digunakan untuk mencegah dan
mengontrol kecelakaan yang mengakibatkan pelepasan gas berbahaya. Setiap gas
memiliki karakteristik masing-masing sehingga mempengaruhi kecepatannya ketika

mengalir di sebuah saluran. Dengan memperhitungkan karakteristik tersebut, kecepatan


gas berbahaya dapat dihitung dan diambil tindakan preventif bila terjadi pelepasan
maupun kebocoran yang menyebabkan gas beracun keluar dari salurannya.
Model dari wind tunnel juga digunakan untuk tujuan validasi data, seperti pada
permodelan aliran udara pada landfill. Salah satu contohnya adalah uji yang dilakukan
oleh Wind Engineering and Building Aerodynamics Research Center (CRIACIV) dengan
menggunakan boundary layer wind tunnel (BLWT) di Prato, Italia. Metode ini digunakan
untuk mengukur konsentrasi dari emisi gas yang dikeluarkan oleh landfill.
Aplikasi De( diameter ekivalen) di bidang Teknik Lingkungan adalah untuk
menjadi acuan tinggi dari cerobong yang ideal. Tinggi cerobong yang ideal adalah 10 De.
Selain itu, De juga dapat digunakan untuk menentukan letak titik sampling yang benar,
yaitu berjarak 2 De dari ujung cerobong atau 8 De dari titik disturbansi.

Cerobong digunakan untuk mengurangi konsentrasi dari gas buangan pada suatu
pabrik. Jika tidak ada cerobong maka gas buangan industri langsung mengenai manusia
dan memiliki dampak bagi kesehatan. Maka dari itu diadakan cerobong agar ada
ketinggian yang menghasilkan kecepatan yang juga menyebabkan adanya plume rise
sehingga buangan memiliki area yang besar dan konsentrasi yang tidak melebihi baku
mutu effluent dan udara ambien. Jika kecepatan kecil, Plume Rise juga akan kecil
sehingga area persebarannya juga kecil yang menyebabkan konsentrasi gas buang
menjadi tinggi sehingga berbahaya bagi manusia jika terpapar gas buangan sisa industry
dalam konsentrasi yang tinggi.
VI.

KESIMPULAN
a. Metode pengukuran kecepatan aliran gas dalam cerobong menggunakan EPA
method-2, semacam SNI untuk Amerika. Metode pengukuran transverse point
b.

adalah EPA method-1.


Koefisien kalibrasi pitot S terhadap pitot standar (Cp) adalah sebesar 1,864 untuk
kaki A dan 0,74 untuk kaki B. Kaki yang dipilih adalah kaki B karena nilainya

paling mendekati 0,84.


c. Kecepatan dan debit aliran gas dalam terowongan angin adalah

Titik
1
2
3
4
5
6
7
8
9

VII.

Vs (m/s)

Q (m3/s)

3,690273919
3,8796402
3,78594641
4,059557632
4,232816766
3,970734093
3,490111116
3,879241124
3,785751696

15,23999853
16,02203854
15,63671287
16,7702313
17,48237646
16,39992281
14,41781987
16,0236868
15,63751712

DAFTAR PUSTAKA
http://www.epa.gov/ttn/emc/methods/method1.html diakses pada tanggal 26 November
2014
https://ginkgo7.wordpress.com/2009/02/10/pengukuran-kecepatan-dalam-cerobong/
diakses pada tanggal 26 November 2014
Wight, Gregory D. 1994. Fundamentals of Air Sampling. CRC Press.
Pfafflin, James R. dan Ziegler, Edward N. 2012. Encyclopedia of Environmental Science
and Engineering. CRC Press.
Finnemore, E. John.2002. Fluid Mechanics with Engineering Application. New York :
Mc Graw Hill.